• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perawat dan Pelayanan Keperawatan

2.1.1. Pengertian perawat

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan formal dalam bidang

keperawatan yang program pendidikannya telah disyahkan oleh pemerintah,

sedangkan perawat profesional adalah perawat yang mengikuti pendidikan

keperawatan sekurang-kurangnya Diploma tiga (III) keperawaatan. Keperawatan

sebagai profesi terdiri atas komponen disiplin dan praktik (Gartinah, 1999).

Karakteristik keperawatan sebagi profesi menurut Gillies (1996) yaitu:

1) memiliki ilmu pengetahuan tentang tubuh manusia yang sistemis dan khusus;

2) mengembangkan ilmu pengetahuan tentang tubuh manusia secara konstan melalui

penelitian; 3) melaksanakan pendidikan melalui pendidikan tinggi; 4) menerapkan

ilmu pengetahuan tentang tubuh manusia dalam pelayanan; 5) berfungsi secara

otonomi dalam merumuskan kebijakan dan pengendalian praktek profesional; 6)

memberikan pelayanan untuk kesejahteraan masyarakat diatas kepentingan pribadi,

berpegang teguh pada tradisi leluhur dan etika profesi serta; 7) memberikan

kesempatan untuk pertumbuhan profesional dan mendokumentasikan proses

2.1.2. Peran dan fungsi perawat

Gartinah (1999) mengemukakan bahwa: dalam praktek keperawatan,

Perawat melakukan peran dan fungsi sebagai berikut:

1) Sebagai pelaku atau pemberi asuhan keperawatan langsung kepada pasien dengan

menggunakan proses keperawatan.

2) Sebagai advokat pasien, perawat berfungsi sebagai penghubung pasien dengan

tim kesehatan yang lain, membela kepentingan pasien dan membantu klien dalam

memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan. Peran advokasi

sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator

dalam pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh

pasien atau keluarganya.

3) Sebagai pendidik pasien, perawat membantu pasien meningkatkan kesehatannya

melalui pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan

medik sehingga pasien dan keluarganya dapat menerimanya.

4) Sebagai koordinator, perawat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi

yang ada secara terkoordinasi.

5) Sebagai kolaborator, perawat bekerja sama dengan tim kesehatan lain dan

keluarga dalam menentukan rencana maupun pelaksanaan asuhan keperawatan

guna memenuhi kesehatan pasien.

6) Sebagai pembaharu, perawat mengadakan inovasi dalam cara berpikir, bersikap,

bertingkah laku dan meningkatkan keterampilan pasien atau keluarga agar

7) Sebagai pengelola, perawat menata kegiatan dalam upaya mencapai tujuan yang

di harapkan yaitu terpenuhinya kepuasan dasar dan kepuasan perawat melakukan

tugasnya.

2.1.3. Tanggung jawab dan lingkup kewenangan perawat

Secara umum perawat mempunyai tanggung jawab dalam memberikan asuhan

keperawatan, meningkatkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan diri sebagai profesi.

Tanggung jawab memberikan asuhan keperawatan kepada pasien mencakup aspek

bio-psiko-kultural-spiritual dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasarnya dengan

menggunakan proses keperawatan yang meliputi : 1) Membantu pasien memperoleh

kesehatannya; 2) Membantu pasien yang sehat untuk memelihara kesehatannya; 3)

Membantu pasien yang tidak bisa disembuhkan untuk menerima kondisinya; 4)

Membantu pasien yang menghadapi ajal untuk memperlakukan secara manusiawi

sesuai martabatnya sampai meninggal.

Gartinah (1999) membagi kewenangan perawat menjadi lima, yaitu:

Melaksanakan pengkajian perawat terhadap status bio-psiko-sosio-kultural spiritual

pasien; 2) Merumuskan diagnosis keperawatan terkait dengan fenomena dan garapan

utama yaitu tidak terepenuhinya kebutuhan dasar pasien; 3) Menyusun rencana

tindakan keperawatan; 4) Melaksanakan tindakan keperawatan; 5) Melaksanakan

2.1.4.Pelayanan keperawatan rawat inap

Terbentuknya keperawatan sebagai suatu bidang profesi dapat terus di

kembangkan dan terintegrasi sepenuhnya dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan

Keperawatan diterima dan dilaksanakan sepenuhnya sesuai dengan kaedah suatu

profesi, sehingga profesi keperawatan mempunyai posisi yang sama pentingnya

dengan profesi lain yang ada di bidang kesehatan (Ismaini, 2001).

Menurut Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, bahwa

profesi keperawatan adalah merupakan profesi tersendiri yang setara dan mitra dari

disiplin profesi kesehatan lainnya. Dalam melakukan registrasi dan praktek

keperawatan, perawat diberi lisensi sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

647/Menkes/SK/IV/2000 (Ismaini, 2001).

Praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat professional melalui

kerjasama kolaborasi dengan klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan

asuhan keperawatan atau sesuai dengan lingkungan wewenang dan tanggung

jawabnya (Nursalam, 2001).

Standar praktik menurut PPNI yang dikutip Nursalam (2001) tersebut

dilaksanakan oleh perawat generalis maupun spesialis di seluruh tatanan pelayanan

kesehatan di rumah sakit, puskesmas maupun tatanan pelayanan kesehatan lain

dimasyarakat.

Praktik keperawatan menurut PPNI (Ali, 2002) adalah tindakan pemberian

asuhan perawatan profesional baik secara mandiri maupun kolaborasi, yang

keperawatan. Praktik keperawatan profesional mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1) Otonomi dalam pekerjaan; 2) Bertanggung jawab dan bertaggung gugat;

3) Pengambilan keputusan yang mandiri; 4) Kolaborasi dengan disiplin ilmu lain;

5) Pemberian pembelaan (advokasi) dan; 6) Memfasilitasi kepentingan pasien.

Keperawatan sebagai profesi merupakan salah satu pekerjaan dimana dalam

menentukan tindakannya didasari pada ilmu pengetahuan serta memiliki ketrampilan

yang jelas dalam keahliannya. Selain itu sebagai profesi keperawatan mempunyai

otonomi dalam kewenangan dan tanggung jawab dalam tindakan serta adanya kode

etik dalam pekerjaan dan juga berorientasi pada pelayanan dengan pemberian asuhan

keperawatan kepada individu, kelompok dan masyarakat (Alimul, 2004).

Profesi keperawatan merupakan salah satu profesi luhur bidang kesehatan,

pengertian pelayanan keperawatan sesuai Expert Commitee On Nursing dalam

Aditama (2003) adalah gabungan dari ilmu kesehatan dan seni melayani/merawat

(care), suatu gabungan humanistik dari ilmu pengetahuan, filosofi keperawatan,

kegiatan klinik, komunikasi dan ilmu sosial.

Pelayanan keperawatan (nursing service) menurut Anderson dalam Ali (2002)

mencakup bidang yang sangat luas, tetapi secara sederhana adalah upaya membantu

individu baik sakit maupun sehat, dari lahir sampai meninggal dunia dalam bentuk

peningkatan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki sehingga individu tersebut

dapat secara optimal melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

Pelayanan keperawatan rawat inap merupakan kegiatan dilakukan di ruang

pemulihan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan

kesehatan utama sesuai dengan wewenang, tanggung jawab dan kode etik profesi

keperawatan.

Menurut Nash et.al dalam Ali (2002), melaporkan penelitian yang dilakukan

oleh ANS (American Nurse’s Association) bahwa 60 % sampai 80 % pelayanan

preventif yang semula dilakukan oleh dokter, sebenarnya dapat dilakukan oleh

perawat dengan kemampuan profesional dan menghasilkan kualitas pelayanan yang

sama.

Oleh karena itu sudah selayaknya pengelola rumah sakit menciptakan suatu

kondisi yang memungkinkan tenaga keperawatan memberikan kontribusi yang

maksimal dengan kualitas profesional, misalnya dengan meninjau kembali struktur

organisasi rumah sakit yaitu memberi tempat yang setara dengan profesi kesehatan

lainnya (Alimul, 2002).

Alimul (2004) menyatakan bahwa: sistem pelayanan perawatan rawat inap

menurut Kelompok Keperawatan CHS (1989) terdiri dari:

1) Masukan yaitu perawat, pasien dan fasilitas perawatan.

2) Proses yaitu intervensi keperawatan, interaksi tenaga perawat-pasien meliputi:

keramahan, sopan santun, kepedulian, ketrampilan dan sebagainya. Kemudian

fasilitas keperawatan meliputi efisiensi, kenyamanan dan keamanan.

3) Keluaran yaitu berupa kualitas pelayanan keperawatan meliputi kebutuhan yang

terpenuhi, aman, nyaman, pasien puas, sesuai kaidah bio-psiko-sosio-spiritual.

Pelaksanaan tindakan keperawatan merupakan langkah keempat dari proses

keperawatan. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan perawat harus bekerja sama

dengan sesama anggota keperawatan lain dan dengan pasien/keluarga dan petugas

kesehatan lain. Perawat mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan pada

pasien tertentu. Perawatan dan pengobatan dirancang untuk membantu pencapaian

satu atau lebih dari tujuan perawatan sehingga dapat mengurangi, mencegah dan

menghilangkan masalah pasien (Ali, 2002).

Dalam memberikan pelayanan menurut Ali (2002), perawat harus

melaksanakan dengan:

1) Disiplin yaitu mengikuti tata tertib, norma-norma, kode etik sesuai dengan

disiplin ilmu yang telah dikuasai.

2) Inovatif. Perawat harus berwawasan luas dan harus mampu menyesuaikan diri

dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berdasarkan

kepada iman dan taqwa (IMTAQ).

3) Rasional. Perawat harus berfikir dan bertindak secara rasional demi keselamatan

pasien yang dirawat.

4) Integral. Perawat harus mampu bekerja sama dengan sesama profesi, tim

kesehatan lain, pasien atau keluarga pasien berdasarkan azas kemitraan.

5) Mampu dan mandiri. Perawat harus mampu dan mandiri serta kompeten.

2.1.5. Proses keperawatan

penyebab utama tidak terpenuhi kebutuhan dasar manusia, penentuan diagnosis

keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan pengevaluasian.

Seluruh proses diatas disebut proses keperawatan. Sasaran pengkajian ini meliputi

kebutuhan dasar biologis, psikologis dan sosial (Nursalam, 2001).

Menurut Lismidar (1990) dalam menyatakan

bahwa: proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan pelayanan

asuhan keperawatan dan juga sebagai alat dalam melaksanakan praktek keperawatan

yang terdiri dari lima tahap yang meliputi: pengkajian, penentuan diagnosa

keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan.

Pengkajian di lakukan dengan cermat untuk mengenal masalah klien, agar dapat

memberi arah kepada tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat

tergantung pada kecermatan dan ketelitian dalam tahap pengkajian. Tahap pengkajian

terdiri dari tiga kegiatan yaitu : pengumpulan data, pengelompokan data, perumusan

diagnosa keperawatan.

a. Pengumpulan data

Secara tehnis pengumpulan data di lakukan melalui anamnesa baik pada klien,

keluarga maupun orang terdekat dengan klien. Pengumpulan data meliputi:

1) Identitas klien meliputi: nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan,

agama, suku bangsa, pendidikan, alamat, tanggal/jam MRS dan diagnosa medis.

3) Riwayat penyakit dahulu.

4) Riwayat kesehatan keluarga.

5) Riwayat psikososial.

6) Pola - pola fungsi kesehatan, meliputi: a) Pola persepsi dan tata laksana hidup

sehat; b) Pola nutrisi dan metabolisme; c) Pola eliminasi; d) Pola aktivitas; e) Pola

tidur dan istirahat; f) Pola hubungan dan peran; g) Pola persepsi dan konsep diri;

h) Pola sensori dan kognitif; i) Pola reproduksi seksual; j) Pola penaggulangan

stress; k) Pola tata nilai dan kepercayaan.

7) Pemeriksaan fisik, meliputi: (a) Inspeksi; (b) Palpasi; (c) Perkusi dan;

(d) Auskultasi.

8) Hasil pemeriksaan medik dan laboratorium.

b. Analisa data

Setelah data di kumpulkan kemudian dikelompokkan menurut data subjektif

yaitu data yang didapat dari pasien sendiri dalam hal komunikasi atau data verbal dan

objektif yaitu data yang didapat dari pengamatan, observasi, pengukuran dan hasil

pemeriksaan radiologi maupun laboratorium. Dari hasil analisa data dapat

disimpulkan masalah yang di alami oleh klien.

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah merupakan suatu pernyataan dari masalah klien

yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yang

3. Perencanaan keperawatan

Perencanaan keperawatan menurut adalah menyusun rencana tindakan

keperawatan yang akan di laksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan

diagnosa keperawatan yang telah di tentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan

klien.

4. Pelaksanaan

Yaitu perawat melaksanakan rencana asuhan keperawatan. Instruksi

keperawatan di implementasikan untuk membantu klien memenuhi kriteria hasil.

Komponen tahap implementasi:

a. Tindakan keperawatan mandiri.

b. Tindakan keperawatan kolaboratif.

c. Dokumentasi tindakan keperawatan dan respon klien terhadap asuhan keperawatan.

5. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang di amati dengan kriteria hasil

yang di buat pada tahap perencanaan, komponen tahap evaluasi adalah:

a. Pencapaian kriteria hasil.

b. Keefektifan tahap-tahap proses keperawatan.

c. Revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan.

Adapun tugas dan fungsi perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum

Daerah (RSUD) Kabupaten Pidie adalah sebagai berikut:

1) Melaksanakan tugas administrasi meliputi: a) Menerima pasien baru sesuai

c) Menyediakan administrasi seperti: Surat izin pulang; Surat keterangan

istirahat; Petunjuk diet dan lain-lain.

2) Melaksanakan fungsi teknis meliputi : a) Memelihara kebersihan ruangan dan

lingkungan; b) Memelihara peralatan keperawatan dan medis agar selalu dalam

keadaan siap pakai; c) Melakukan pengkajian keperawatan menentukan diagnosa

keperawatan sesuai batas wewenang; d) Menyusun rencana keperawatan sesuai

dengan kemampuannya; e) Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien

sesuai kebutuhan dan batas kemampuannya antara lain : Melaksanakan tindakan

pengobatan sesuai program pengembangan; dan Memberikan penyuluhan

kesehatan kepada pasien dan keluarga mengenai penyakitnya; f) Melatih dan

membantu pasien untuk melakukan gerak; g) Melakukan tindakan darurat kepada

pasien ( panas tinggi, kolaps, pendarahan, keracunan, henti nafas, henti jantung)

sesuai protap yang berlaku, selanjutnya segera melapor ke dokter jaga;

h) Melakukan evaluasi tindakan keperawatan sesuai batas kemampuan;

i) Mengobservasi kondisi pasien selanjutnya melakukan tindakan yang tepat

berdasarkan hasil observasi; j) Berperan serta dengan anggota tim lainnya dalam

membahas kasus dan upaya meningkatkan mutu askep; k) Melakukan tugas pagi,

sore, malam dan hari libur secara bergilir sesuai jadwal dinas; l) Mengikuti

pertemuan berkala yang akan diadakan oleh kepala ruang rawat; m) Memberikan

penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya sesuai dengan keadaan dan

kebutuhan pasien; n) Melatih pasien menggunakan alat bantu yang di butuhkan;

Dokumen terkait