BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Hasil Wawancara
2.8 Perawatan Khusus
Suku Batak Toba mempunyai perawatan khusus dalam perawatan bayi baru lahir diantaranya yaitu maranggap, maresek-esek serta pemberian pasu-pasu
(berkat).
2.8.1 Maranggap
Maranggap adalah menjaga bayi dan ibu bergiliran, biasanya dari pihak keluarga atau pun tetangga terdekat. Menurut budaya Batak Toba selama tujuh hari bayi dan ibu harus dijaga karena banyak makhluk yang akan mengganggu dan agar tidak terjadi kebakaran dimana jika melahirkan dibuat martataring
“...ai lomo na do, lomo ni kaluarga, alai ipe biasana saminggu.” (Terserah, terserah keluarga, tetapi biasanya seminggu.)
(Partisipan A)
“Saminggu antong ingkon dianggapi poso-poso i mandongani, jadi bah ingkon ro do antong mandongani halak i. Bah molo adong hepeng ni iba, dibahen siallangan, tar sonari lampet molo najolo antong dang masa lampet, lomok-lomok do dibuathon, dilean ma tu tetangga-tetangga i. Papitu arihon dijou ma, manganma, jadi molo soadong antong hepengna dang pola binahen songoni antong. Ingkon parhepeng ma antong. Molo soadong bah songoni, holan panganggap-anggapi ma disi maraha, mandongan-dongani songoni do.”
(Selama seminggu bayi harus dijaga dan ditemani, jadi harus datang menemani mereka. Kalau ada uang, diadakan acara makan, misalnya kalau sekarang menyediakan kue, kalau dulu harus daginglah disediakan, diberi kepada tetangga. Hari ke tujuh tetangga dipanggil untuk makan, jadi kalau tidak berkecukupan, tidak harus mengadakan jamuan. Kalau itu, hanya orang yang sudah menjaga disitu menemani.)
(Partisipan B)
“Lahir ma anakkon ni iba nga ro tetangga ro mamereng, maranggap, maranggap do antong.”
(Ketika lahir maka tetangga akan datang melihat, menjagai secara bergilir.)
(Partisipan C)
“...maranggap do, ittor ro do angka simatuaku sude, angka orangtua na dekat dengan kita.”
(...menjaga bergilir, akan datang mertua, orang tua saya dan orang yang terdekat.)
(Partisipan C)
“...paling sedikit datang menjaga kita paling sedikit kalo aku dulu dua minggu aku dijaga tapi yang paling ketatnya tujuh hari tujuh malam dijaga.”
(Partisipan C)
2.8.2 Maresek-esek
Maresek-esek adalah menunjukkan rasa gembira karena kelahiran anak. Hasil wawancara menyatakan bahwa kelahiran seorang anak akan membawa kegembiraan bagi keluarga, maka diadakan jamuan makan bersama orang
sekampung. Hal ini menunjukkan rasa terima kasih bagi yang telah menjagai selama tujuh hari dan rasa sukacita karena kelahiran anak. Bagi keluarga yang kurang mampu hanya menyediakan makanan bagi orang-orang yang telah menjagai atau tidak sama sekali. Berikut pernyataannya:
“Ba najolo dihuta molo nga adong pitu ari natubu, dijou do parhuta i mangan. Esek-esek ni si usok ina molo baoa, molo boru esek-esek ni si butet ina. Jadi tubu ma anakkonna, las rohana. Adong sibahenonna, jae anggo soadong dang dibahen i. Aha bahenon molo songonna dang adong hepengna manuhor manuk sada sontona. Ale molo adong do, ba ima olo do dipotong babi, dangi. Ba ima.”
(Kalau sudah ada tujuh hari setelah kelahiran, sekampung akan dipanggil untuk makan. Hari gembira si Ucok katanya kalau laki-laki, kalau perempuan hari Gembira si Butet katanya. Jadi lahirlah anaknya, senang hatinya, ada yang mau diberinya, jadi kalau tidak ada tidak diadakan itu. Apa yang mau dibuat kalau tidak ada uangnya membeli seekor ayam contohnya. Tapi kalau ada, akan dipotong babi.)
(Partisipan A)
“Bah ido pitu ari pitu borngin paulak paranggap ma dibahenma esek- esekma, anggo iba nga boi binahen esek-esek ba, menghargai orang yang menjaga kita, dibahen ma on, molo iba tingki i kue do ni aha, pohul-pohul goarna. Jadi papituhon i mangalangma nyon na maranggap on, mangalang ma, minum kopi angka tetangga-tetangga on sude dipalean pohul-pohul ni si usok, tutup anggap si usok, inama muse iba nga halak” (Jadi hari ketujuh adalah malam untuk memulangkan penjaga yang sudah menjagai kita dan diadakan acara kegembiraan. Jadi setelah hari ketujuh akan diadakan jamuan makan. Maka akan menyediakan kue pohul-pohul, kue pohul-pohul dan kopi untuk seluruh tetangga.)
(Partisipan C)
2.8.3 Pemberian pasu-pasu (berkat).
Perawatan khusus pada bayi yaitu pemberian pasu-pasu. Hasil wawancara menyatakan bahwa pasu-pasu (berkat) akan diterima setiap bayi lahir dari tulang
(saudara laki-laki ibu) dan opung (kakek/nenek). Pada anak pertama laki-laki juga akan dilakukan upacara untuk memangkas rambut oleh tulang. Tulang adalah
seorang yang dihargai karena merupakan sijaga tondi (menguasai roh) bayi tersebut. Pasu-pasu diberikan dengan mengunyah kemiri, sirih, dan lada, lalu menyembur ke kepala bayi. Tujuan pemberian pasu-pasu adalah agar bayi panjang umur, pir tondi (kuat batin), dan kelak menjadi anak yang berhasil. Berikut pernyataan dari partisipan:
“Gambiri, pining, hapur, dibursik, oppungna ma i tu sonna i dibursik.”
(Kemiri, pinang, kapur sirih, disembur oleh kakek/neneknya.)
(Partisipan A)
“Molo didokkon halak i, asa pir tondina. Asa olo pajjang umurna, ima hata natua-tua najolo molo diboan pe mamulus dang aha be, dang be songgot-songgot on jadi goarna pagar ma.”
(Kalau dikatakan orang, supaya kuat batinnya. Supaya panjang umurnya, itulah kata-kata orangtua yang dulu kalau ada pun setan yang lewat tidak terkejut lagi, inilah namanya penjaga.)
(Partisipan A)
“Molo anak pertama, baoa anak pertama ingkon tulangna ma antong mamangkas obutna on. Ba ido asa idokkon ama do tulang. Ima tandana, muse tulang do tondina antong.”
(Kalau anak pertama, laki-laki anak pertama harus tulangnya yang memangkas rambutnya. Ya itulah alasan dikatakan Ayah adalah Tulang. Itulah pertanda bahwa Tulang adalah penguasa roh bayi tersebut.)
(Partisipan A)
“Dibursikkon, dihilhilma demban, napuran baru lada, baru gambiri dibursik dibahenma buti tu dakdanak, sihapur dang dohot tahe gabbiri sihapur do, lada, pining, dibahen ma napuran i, dihilhil, dung dihilhil bah dibursik”
(Disembur, sirih dikunyah, sirih lalu lada, lalu kemiri disembur dibuat ke bayi tersebut, kapur sirih, kapur sirih, lada, pinang, dibuatlah sirih, dikunyah.)
(Partisipan B)
“Mmm, songon sinangkaning antong kan, tulangna do mamangkas i, ipe anak buha baju do, dibahen ma, adatna doi, asa digomgom tondi ni tulangna, hula-hulana aha nai poso-poso i. Ido i.’
(Tulangnya yang memangkas dan itu pun hanya anak pertama, dan itu menjadi adat, supaya roh bayi dikuasai oleh Tulangnya, hula-hula bayi tersebut.)
(Partisipan B)
“Molo anak pertama. Ima dilatih simatua ni iba on do kan, asa pir pahopungki asa na berhasil haduan, asa angka napistar haduan.”
(Kalau masih anak pertama kita masih diajari oleh mertua maupun orangtua, supaya kuat cucunya, berhasil di kemudian hari dan sehat.)
(Partisipan C)
“Pangke gabbiri dohot napuran. Dihilhilma gabbiri dohot napuran, jadi dibursikma. Ima. Ulu nai do dibursikma, molo nga diberi nama udah diberangkatkan lao semakin gagah muse on, dibahen ito ni iba, tulangna dipohol, disiburi dihilhilma gabbiri dohot napuran on, disiburima.”
(Dengan kemiri dan sirih. Kemiri dan sirih dikunyah, setelah itu disembur. Disembur di kepala dan kalau sudah diberi nama, udah diberangkatkan dan semakin gagah lagi, disembur oleh Abang saya, Tulangnya kemiri dan sirih.)
(Partisipan C)
“Molo i napuran, jarango, lada dibusikhon tu sonna i.” (Sirih, jarango, lada disembur ke kepalanya.)
(Partisipan D)
“Ehm, simburna on ma kan napuran, gambiri, jarango do. Gambiri, napuran.”
(Bahan semburnya sirih, kemiri, jarango.)
(Partisipan E)
“Dang molo sabulan, anak pertama ma paling, ipe ingkon tulangna ma. (Tidak harus sebulan, hanya anak pertama, dan itu pun harus tulang yang melakukan.)
(Partisipan E)
“Molo baru-baru i gelleng ni iba, tulangna do mambuat i. Bah ido inna, unang olo pangarimason, tulangna pangarimason dohot tulang sijaga tondi.”
(Jika masih anak pertama tulangnya yang memotong rambutnya. Ya itu yang dikatakan, supaya tulang tidak marah dan tulang dipercayai dapat menjaga roh bayi tersebut.)