BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Perbahasan
5.2.1. Pengetahuan mengenai Fisiologi Tubuh ketika Berolahraga
Dalam penelitian ini, telah dilakukan pembagian kuesioner yang telah valid yaitu dengan pertanyaan sebanyak 10 soalan untuk mengukur tingkat pengetahuan responden. Walaubagaimanapun, terdapat 3 pertanyaan yang menilai tingkat pengetahuan mahasiswa mengenai fisiologi olahraga. Ini bisa dilihat dari grafik 1, di mana 90.4% respoden mengetahui bahwa keringat yang keluar pada aktifitas olahraga, turut mengandungi elektrolit.
Pengetahuan mahasiswa adalah tinggi mungkin karena mereka telah mempelajari mengenai fisiologi olahraga ketika sesi perkuliahan bahwa didalam keringat turut terdapat elektrolit. Seperti yang dikemukakan oleh Primana(2000), beliau mengatakan bahwa di dalam keringat, terdapatnya sodium, magnesium, klorida dan potasium. Anion utama adalah klorida (Cl-) sedangkan kation utama dalam cairan tubuh adalah sodium (Na+) dan potasium (K+).
Berdasarkan hasil penelitian, hanya 68.7% responden mengetahui bahwa apabila natrium yang hilang tidak diganti atau diganti bukan dengan minuman isotonik, ini akan memberi efek hiponatremi(grafik 2). Ini mungkin karena, hal ini tidak digembar – gemburkan di media massa sehingga mahasiswa tidak
mengetahui akan hal ini. Kebanyakan iklan yang dipaparkan mengatakan mengenai manfaat konsumsi minuman isotonik pada aktifitas olahraga, bukan mengenai efek buruk jika tidak mengonsumsi minuman ini. Malah, menurut fahaman kebanyakan responden, pada aktifitas olahraga, walaupun terdapat elektrolit yang keluar termasuk natrium, ia tidak akan memberi efek sehingga bisa mengakibatkan terjadi hiponatremi. Walaubagaimanapun, Noakes (1992) jelas mengatakan bahwa pada olahraga yang berkepanjangan, jika sejumlah besar cairan atau minuman yang dikonsumsi mempunyai osmolalitas yang rendah, individu tersebut akan berisiko untuk mengalami intoksikasi cairan. Kondisi ini adalah berbahaya karena jumlah cairan yang besar dengan osmolaritas yang rendah akan menarik elektrolit dari darah masuk ke lambung dan usus halus, menyebabkan penurunan konsentrasi natrium dibawah 130 mEq/L; kondisi ini dinamakan hiponatremi.
Manakala pada grafik 3, mengenai efek penurunan kadar elektrolit yang akan mengakibatkan penurunan efisiensi kerja otot dan juga performans olahraga, sebanyak 81.9% responden mengetahui tentang hal ini. Kesemua responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa kedokteran. Oleh itu, sudah pasti mereka telah mendapat informasi tersebut ketika sesi perkuliahan mengenai adaptasi tubuh pada aktifitas olahraga endurans dan olahraga kekuatan. Jadi, adalah tidak menghairankan jika ramai mahasiswa mengetahui bahwa dengan penurunan kadar elektrolit akan mengakibatkan penurunan efisiensi kerja otot. Menurut David, et al, cadangan glikogen otot sangat terbatas, dan ini akan habis terpakai pada waktu olahraga berkepanjangan. Kekurangan glikogen otot berhubungan kelelahan. Oleh karena itu, suplemen bahan bakar eksogen seperti karbohidrat dapat meningkatkan performans sewaktu berolahraga. Malah, hal ini telah dibahas oleh Dietisi dari Kanada, bahwa konsumsi minuman isotonik yang mengandungi karbohidrat dan elektrolit ketika olahraga akan menyediakan tenaga yang cukup untuk otot, membantu mengekalkan glukosa darah, mekanisma haus dan menurunkan risiko dehidrasi atau hiponatremi.
5.2.2. Pengetahuan mengenai Minuman Isotonik
Berdasarkan grafik 4, sebanyak 68.7% mahasiswa mengetahui bahwa isotonik sesuai untuk dikonsumsi pada aktifitas olahraga. Ini mungkin karena memang telah menjadi suatu kebiasaan pada atlet atau individu yang berolahraga, mereka akan mengonsumsi minuman isotonik pada aktifitas olahraga. Oleh itu, kebanyakan mahasiswa bersetuju bahwa minuman ini sesuai untuk dikonsumsi pada aktifitas olahraga. Namun, ada segelintir mahasiswa, yaitu 20.5% ragu- ragu atau kurang pasti karena mereka hanya mengetahui dan menjadi kebiasaan untuk mengonsumsi minuman isotonik selepas melakukan olahraga, dan bukan sebelum atau semasa berolahraga. Jika ditinjau, menurut Irawan (2007), penting bagi atlet untuk dapat menjaga level hidrasi di dalam tubuh melalui pola konsumsi cairan secara rutin, baik pada sebelum, sedang berolahraga dan setelah berolahraga agar fungsi-fungsi tubuh dapat berjalan dengan baik terutama fungsi
pengaturan panas.
Pada grafik 5, dapat dilihat bahwa lebih dari 80% responden bersepakat bahwa minuman yang sesuai untuk dikonsumsi samada sebelum, semasa atau selepas melakukan aktifitas olahraga adalah minuman isotonik. Penggunaan minuman isotonik pada aktifitas olahraga adalah meluas dan bukan lagi perkara yang janggal atau pelik. Media massa seperti televisyen, radio dan majalah sering memaparkan mengenai penggunaan minuman isotonik di kalangan atlet, khususnya. Jadi, adalah tidak menghairankan apabila banyak mahasiswa yang mengetahui bahwa minuman isotonik adalah minuman yang ideal untuk dikonsumsi pada aktifitas olahraga. Ini bersesuaian dengan penelitian oleh Gisolvi, et al (1992), di mana beliau turut mendemonstrasikan bahwa absoprsi air oleh usus halus adalah meningkat 6 kali lipat dengan adanya 60g karbohidrat/L dan elektrolit (20 mEq Na+ dan 2.6 mEq K+) di dalam minuman, dan ia adalah asas untuk rekomendasi pengambilan minuman elektrolit dengan rendah karbohidrat ketika olahraga.
Dengan mengonsumsi air putih biasa, atlet yang berolahraga pada intensitas rendah selama 90-110 menit, akan menginduksi terjadinya dehidrasi
dengan hilangnya cairan 2,3% berat badan dan volume plasma tidak kembali pada nilai semula setelah 60 menit. Namun, sebaliknya pada penambahan elektrolit yaitu larutan natrium 0,45%, volume plasma akan membaik setelah 20 menit(Damayanti, 2000). Malah, berdasarkan penelitian yang dibuat oleh Ronald, beliau mengatakan bahwa kelompok dengan rehidrasi air putih (biasa) tidak menunjukkan pengaruh yang bererti untuk memulihkan kemampuan fungsional. Sedangkan pada kelompok dengan rehidrasi cairan elektrolit, menunjukkan pengaruh yang berarti untuk memulihkan kemampuan fungsional. Ini menunjukkan bahwa rehidrasi dengan menggunakan cairan elektrolit lebih efektif untuk memulihkan kemampuan fungsional dibandingkan dengan rehidrasi dengan memakai air putih ( biasa) sahaja.
Sebanyak 54.2% responden bersetuju bahwa minuman isotonik dapat meningkatkan masa kelelahan(grafik 6). Ini mungkin karena banyak responden tidak memahami maksud pertanyaan yaitu “masa kelelahan”. Malah, ini mungkin karena bagi mahasiswa sendiri, mereka tidak mengetahui bagaimana konsumsi minuman isotonik dapat meningkatkan masa kelelahan dan mereka tidak pernah melakukan uji coba dengan membandingkan masa kelelahan ketika mengonsumsi minuman isotonik dan ketika mengonsumsi minuman lain. Fakta ini telah dikemukakan oleh Byars (2010), di mana beliau menyimpulkan bahwa performans aerobik, terutama penggunaan maksimal oksigen, masa kelelahan, dan estimasi persentasi penggunaan substrat lemak yang bukan protein adalah meningkat secara signifikan setelah konsumsi minuman isotonik 30 menit sebelum olahraga.
Bagi pertanyaan mengenai manfaat minuman isotonik dapat meningkatkan performans olahraga, 54,2% responden bersetuju(grafik 7). Manfaat minuman isotonik dalam meningkatkan performans olahraga seseorang, secara rata-rata telah diketahui umum, samada melalui iklan, pembacaan atau melalui bahan kuliah. Namun, 15,7% responden tidak bersetuju. Hal ini mungkin karena bagi mahasiswa, performans olahraga tidak dipengaruhi oleh minuman yang dikonsumsi sebaliknya kemampuan dan kebolehan individu itu sendiri. Sedangkan, menurut Nicholas (1995), terdapat bukti bahwa konsumsi minuman
isotonik ketika olahraga dapat meningkatkan pencapaian (performans) ketika olahraga sub – maksimal, intermiten dan intensitas tinggi.
Pada grafik 8, hanya 21.7% responden yang mengetahui bahwa minuman isotonik dapat mengurangkan pengeluaran urin. Malah, 55.4% responden tidak bersetuju/ tidak mengetahui bahwa minuman ini bisa mengurangkan pengeluaran urin. Ini mungkin disebabkan oleh bagi mahasiswa, konsumsi minuman isotonik tidak akan memberi efek terhadap pengeluaran urin. Secara umumnya, kebanyakan mahasiswa menyimpulkan bahwa apabila mengonsumsi cairan, pasti akan menyebabkan pengeluaran urin tanpa mempertimbangkan komponen yang terdapat dalam minuman tersebut.
Jika diperhatikan kepada hasil penelitian yang dilakukan oleh Irawan (2007), beliau mengatakan bahwa konsumsi air putih secara berlebihan dapat menyebabkan terjadinya penurunan konsentrasi plasma natrium dan osmolalitas plasma secara cepat. Penurunan konsentrasi ini kemudian dapat mengurangi peredaran kandungan vasopressin dan aldosteron di dalam darah sehingga mengurangi penyerapan air di dalam ginjal dan meningkatkan pengeluaran urin. Sebaliknya, dengan adanya komponen karbohidrat dan elektrolit di dalam minuman yang dikonsumsi, ia akan menyebabkan terjadinya retensi air dan sekaligus mengakibatkan pengeluaran urin berkurang.
Selain dari itu, berpandukan grafik 9, hanya 47% responden mengetahui waktu yang sesuai untuk mengonsumsi minuman isotonik, yaitu setelah 1 jam berolahraga. Berdasarkan jawapan responden untuk pertanyaan ini, dapat dilihat bahwa lebih dari separuh mahasiswa tidak mengetahui setelah berolahraga berapa lama, mereka harus mengonsumsi minuman isotonik. Hal ini mungkin karena info mengenai kapan waktu yang sesuai untuk mengonsumsi minuman setelah berolahraga adalah kurang. Bahkan, ketika sesi perkuliahan juga, hal ini tidak dijelaskan. Walaubagaimanapun, hal ini telah dijelaskan oleh Applegate, et al (1997), bahwa minuman isotonik sebaiknya diminum sebanyak 6 ons hingga 12 ons setiap 15 atau 20 menit setelah berolahraga lebih dari 1 jam.
Berdasarkan grafik 10, 92.8% responden mengetahui mengenai komponen yang terdapat di dalam minuman isotonik. Ini menunjukkan bahwa, mahasiswa
dapat mengidentifikasi kriteria minuman yang disebut isotonik dengan benar. Pastinya, ini adalah karena minuman isotonik telah dijual secara meluas dimana- mana, seluruh dunia dan kandungan yang terdapat dalam setiap minuman dapat diketahui dengan mudah dari label/ kemasan minuman. Apatah lagi, minuman isotonik telah diwar-warkan secara meluas, baik di televisyen atau di bahan bacaan(seperti majalah) mengenai kandungan/komponen minuman tersebut dalam rangka mempromosi minuman isotonik di mata dunia. Bersesuaian dengan Primana (2000), mereka mengetahui bahwa di dalam minuman isotonik, terdapat 5-7% karbohidrat dan elektrolit (20 mEq Na+ dan 2.6 mEq K+) .
Jika diperhatikan, walaupun terdapat ramai mahasiswa yang mengetahui teori dan fisiologi tubuh pada aktifitas olahraga, namun jika dilihat dan dianalisa berdasarkan frekuensi/persentase jawaban bagi setiap pertanyaan yang dijawab, mereka kurang mengetahui mengenai kegunaan serta manfaat minuman isotonik terutama dalam mengurangkan pengeluaran urin. Mahasiswa kedokteran umumnya telah didedahkan dengan maklumat dan informasi mengenai perubahan fisiologis tubuh pada aktifitas olahraga.
Begitu juga mengenai keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, ia telah dibahaskan pada sesi perkuliahan. Jadi, adalah tidak menghairankan jika pengetahuan mahasiswa adalah baik. Namun, bagi pertanyaan mengenai manfaat minuman isotonik, mahasiswa yang menjawab dengan benar hanyalah kira 50- 60%. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak dapat mengintegrasikan pengetahuan yang didapat dari sesi perkuliahan dengan kehidupan sehari-hari dan tidak dapat memahami dengan benar tentang manfaat mengonsumsi minuman isotonik pada aktifitas olahraga. Kebanyakannya lebih terpengaruh dengan media massa atau persekitaran.