• Tidak ada hasil yang ditemukan

mencapai kadar air 7%, sehingga hanya sedikit zat-zat yang terkandung dalam bunga knop yang terdegradasi. Kadar total fenol bunga knop segar paling tinggi (3.491 + 0.064 mg fenolik/g berat sampel kering) dibandingkan dengan ekstrak air bubuk hasil pengeringan baik dengan oven maupun matahari, hal ini mungkin karena bunga knop segar tidak mengalami pengeringan sehingga senyawa- senyawa yang terkandung di dalamnya tidak terdegradasi. Walaupun kadar total fenol ekstrak air bunga knop segar paling tinggi, tetapi tidak dipilih untuk penelitian selanjutnya karena salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bubuk hasil pengeringan bunga knop.

Tabel 8. Perbandingan aktivitas antioksidan pada 0 jam dan 24 jam antara ekstrak air masing-masing perlakuan dengan ekstrak bunga knop segar

mM trolox Mean SD p Perlakuan 0 jam 24 jam 0 jam 24 jam 0 jam 24 jam 0 jam 24 jam BKS1 19.803 39.836 BKS2 28.664 40.990 24.234 40.413 6.266 0.816 BKM1 61.080 39.750 BKM2 51.060 46.450 56.070 43.100 7.085 4.738 0.032* 0.999 BKO1 118.363 88.036 BKO2 98.329 89.575 108.345 88.806 14.166 1.088 0.000* 0.004*

Setelah penyimpanan ekstrak air selama 24 jam terjadi penurunan rataan kadar total fenol. Pada seduhan bubuk hasil pengeringan sinar matahari terlihat penurunan rataan kadar total fenol dari 2.239 + 0.055 mg fenolik/g berat kering sampel menjadi 1.908 + 0.179 mg fenolik/g berat kering sampel. Penurunan ini lebih besar dibandingkan dengan penurunan kadar total fenol ekstrak air bubuk hasil pengeringan oven dari 3.069 + 0.168 mg fenolik/g berat kering sampel menjadi 2.911 + 0.250 mg fenolik/g berat kering sampel (Gambar 11). Hal ini kemungkinan terjadi karena pengeringan bunga knop dengan sinar matahari memerlukan waktu yang lama untuk mencapai kadar air 7%, sehingga menurut Jayaraman dan Das Gupta (1995) terjadi pembusukan baik secara kimiawi, enzimatis atau mikrobiologis karena waktu pengeringan yang lama. Selain itu dapat terjadi penurunan mutu selama penyimpanan karena terjadi ketidakseragaman pengeringan (Imre 1995). Ekstrak air bunga knop segar juga

mengalami penurunan total fenol setelah penyimpanan yaitu dari 3.491 + 0.064 mg fenolik/g berat kering sampel menjadi 1.996 + 0.172 mg fenolik/g berat kering sampel.

Aktivitas antioksidan dalam ekstrak air bunga knop segar rataannya lebih rendah dari pada rataan aktivitas antioksidan dalam ekstrak air bubuk hasil pengeringan sinar matahari maupun ektrak air bubuk hasil pengeringan oven, yaitu TEAC sebesar 24.234 + 6.266 mM/g berat kering sampel (Tabel 8). Hal ini kemungkinan terjadi karena ada senyawa-senyawa fenol tertentu yang mempunyai sifat antioksidan lebih baik yang terbentuk karena adanya proses pemanasan.

Penelitian lainnya terhadap aktivitas antioksidan beberapa jenis buah-buahan dan sayuran memberikan hasil sebagai berikut. Buah berry TEAC 3700, sayur- sayuran TEAC 450-1400 serta buah-buahan TEAC 600-1700 (Miller et al. 2000). Bila dibandingkan dengan nilai TEAC terutama untuk sayuran, maka nilai TEAC ekstrak air bubuk daun kumis kucing cukup tinggi, terutama yang pengeringannya dilakukan dengan sinar matahari (1354 .756 + 1.515).

BKM BKO BKS 0.000 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000 50.000 55.000 60.000 65.000 70.000 75.000 80.000 85.000 90.000 95.000 100.000 105.000 110.000 115.000 120.000 m M /g b e ra t k e ri n g s a m p e l ( T E A C ) 0 Jam 24 Jam Lama Penyimpanan

*

p 0 .032

BKS : Bunga knop segar

BKM : Pengeringan dengan sinar matahari

BKO : Pengeringan dengan oven

Gambar 12 Perbandingan analisa aktivitas antioksidan

masing-masing perlakuan pada bunga knop

*

p 0 .000

*

p 0 .004

Penyimpanan ekstrak air selama 24 jam mempengaruhi aktivitas antioksidan. Setelah 24 jam, rataan aktivitas antioksidan untuk ekstrak air bubuk bunga knop hasil pengeringan matahari mengalami penurunan yaitu dari TEAC sebesar 56.070 + 7.085 mM/g berat kering sampel menjadi TEAC sebesar 43.100 + 4.738 mM/g berat kering sampel, sedangkan ekstrak air bubuk bunga knop hasil pengeringan oven juga mengalami penurunan rataan aktivitas antioksidan yaitu dari TEAC sebesar 108.345 + 14.166 mM/g berat kering sampel menjadi TEAC sebesar 88.806 + 1.088 mM/g berat kering sampel. Penurunan ini disebabkan adanya reaksi oksidasi selama penyimpanan dan kemungkinan juga terjadi perubahan pH seduhan. Rataan aktivitas antioksidan seduhan daun segar setelah penyimpanan selama 24 jam mengalami kenaikan dari TEAC sebesar 24.234 + 6.266 mM/g berat kering sampel menjadi TEAC sebesar 40.413 + 0.816 mM/g berat kering sampel, tetapi kenaikannya tidak bermakna (p>0.05).

Analisa Proksimat Bubuk Bunga Knop Hasil Pengeringan Dengan Oven Hasil analisa proksimat bubuk bunga knop hasil pengeringan dengan oven dapat dilihat pada Tabel 9. Dari hasil analisa bunga knop segar didapatkan kadar air yang cukup tinggi yaitu sebesar 73.13%, sehingga agar dapat disimpan dalam jangka waktu yang relatif lama diperlukan pengurangan kadar air sampai 7%. Penentuan ini berdasarkan SNI produksi teh dalam kemasan yang kadar airnya maksimum 8% (SNI 01-3836-2000).

Tabel 9. Hasil analisa proksimat bubuk bunga knop hasil pengeringan dengan oven Analisa Hasil (%) Kadar air 7.00 Kadar abu 7.18 Kadar lemak 0.83 Kadar protein 7.16

Pengujian Ekstrak Bunga Knop Terhadap Proliferasi Sel Limfosit dengan Metode MTT

Pengujian ekstrak bunga knop terhadap proliferasi sel limfosit memberikan hasil seperti terlihat pada Tabel 10 dan Gambar 13. Pemberian ekstrak bunga knop dengan konsentrasi 0.4115 mg/ml menaikkan rataan IS sel limfosit sebesar 1.011 + 0.082. Untuk bunga knop sampai 0.8230 mg/ml proliferasi sel limfosit masih meningkat 1.071 + 0.122 setelah itu peningkatan konsentrasi ekstrak bunga knop 1.646 mg/ml dan 3.292 mg/ml menghambat proliferasi sel limfosit berturut- turut sebesar 0.938 + 0.041 dan 0.789 + 0.142.

Tabel 10. Perbandingan indeks stimulasi antara kultur yang ditambah ekstrak bunga knop dengan mitogen (Con A, LPS dan PK ) dengan ekstrak bunga knop saja pada konsentrasi C1 (0.412 mg/ml), C2 (0.823 g/ml), C4 (1.646 mg/ml) dan C8 (3.292 g/ml) Indeks stimulasi Perlakuan 1 2 3 Mean SD Mean Diff p C1 1.095 1.008 0.931 1.011 0.082 C1+ConA 0.781 0.757 0.760 0.766 0.013 0.245 0.006* C1+LPS 0.945 0.974 0.815 0.911 0.085 0.1 0.877 C1+PK 0.976 0.976 1.016 0.989 0.023 0.022 1 C2 1.201 1.053 0.958 1.071 0.122 C2+ConA 0.718 0.794 0.691 0.734 0.053 0.336 0.000* C2+LPS 0.992 0.995 1.005 0.997 0.007 0.073 0.989 C2+PK 0.842 0.931 0.905 0.893 0.046 0.178 0.123 C4 0.974 0.894 0.945 0.938 0.041 C4+ConA 0.728 0.654 0.702 0.695 0.038 0.243 0.007* C4+LPS 0.900 0.884 0.873 0.886 0.014 0.052 1 C4+PK 0.868 0.934 0.887 0.896 0.034 0.041 1 C8 0.940 0.670 0.731 0.780 0.142 C8+ConA 0.562 0.562 0.633 0.586 0.041 0.195 0.063 C8+LPS 0.813 0.847 0.760 0.807 0.044 0.026 1 C8+PK 0.749 0.778 0.620 0.716 0.084 0.065 0.997

Bila dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, nilai % IS sel limfosit ekstrak air kayu secang (Caesalpina sappan Linn) sebesar sampai 150% (Puspaningrum 2003). Nilai % IS sel limfosit mencit sampel teh daun cincau (Cyclea) sebesar 141% dan bubuk gel cincau (Cyclea) sebesar 122% (Setiawati 2003). Nilai % IS filtrat bebas sel yang dipanaskan selama 20 menit 60oC dan diinkubasikan pada substrat kitosan DD 85% selama 1 jam sebesar 288.06% (Wahyuni et al 2004; Wahyuni et al 2005) dan nilai IS kitinase 0.1 IU/mg kitin

yang direaksikan selama 3 jam untuk pembuatan oligomer kitosan dengan konsentrasi 85 ì g/ml sampel sebesar 1.35 (Agustine 2005), maka nilai rataan I S tertinggi 1.071 + 0.122 (107.1% + 0.122) untuk penambahan ekstrak bunga knop dengan konsentrasi 0.8230 mg/ml menunjukkan bahwa ektrak bunga knop walaupun nilai rataan IS nya lebih kecil dari pada hasil-hasil penelitian lainnya tetapi mempunyai kemampuan menstimulasi proliferasi sel limfosit.

Gambar 13 Perbandinganindeks stimulasi antara kultur yang ditambah Ekstrak bunga knop saja dengan penambahan mitogen (Con A, LPS dan PK ) saja dan dengan ekstrak bunga knop ditambah mitogen

Pengujian ekstrak air dari Amaranthus sp. (famili bunga knop) terhadap sel splenosit dari mencit BALB/c menunjukkan kemampuan ekstrak ini untuk menstimulasi proliferasi sel splenosit. Sel B yang diisolasi dapat distimulasi juga oleh ekstrak ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak air Amaranthus sp. mempunyai aktivitas immunomodulator dengan secara langsung menstimulasi

Ekstrak + ConA Ekstrak + LPS

Ekstrak Ekstrak + PK 0.00 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600 0.700 0.800 0.900 1.000 1.100 1.200 Ind eks S ti m u la s i P K

*

p 0 .006

*

p 0 .000

*

p 0 .007 Konsentrasi Ekstrak Bunga Knop 0.412 mg/ml C on A LPS 0.823 mg/ml 1.646 mg/ml 3.292 mg/ml

aktivitas proliferasi sel B dan proliferasi subset sel T secara in vitro (Lin et al 2005). Dengan demikian peningkatan konsentrasi ekstrak bunga knop sampai 0.8230 mg/ml dapat menstimulasi proliferasi sel limfosit, dengan kata lain mempunyai fungsi sebagai immunomodulator.

Mekanisme yang mungkin terjadi adalah karena adanya efek immunomodulator dari antioksidan yang terkandung dalam ekstrak bunga knop terutama dari senyawa-senyawa fenol yang dikandungnya. Menurut Wu dan Meydani (1998) antioksidan dapat mempengaruhi produksi molekul-molekul seperti IL-2 yang berpengaruh terhadap pertumbuhan sel limfosit dan sangat penting untuk mengaktivasi sel limfosit. Senyawa-senyawa fenol spesifik yang dapat meningkatkan proliferasi sel limfosit belum diketahui.

Peningkatan konsentrasi ekstrak bunga knop lebih besar dari 0.8230 mg/ml menurunkan proliferasi sel limfosit atau bersifat toksik terhadap sel limfosit. Hal ini kemungkinan terjadi karena pada konsentrasi tersebut senyawa-senyawa fenol dalam bunga knop menunjukkan aktivitas prooksidan. Sifat yang tidak diinginkan ini menurut Kessler et al. (2003) dapat dijadikan penjelasan terhadap toksisitas dari beberapa flavonoid secara in-vivo. Senyawa-senyawa fenol spesifik yang menyebabkan terjadinya toksisitas ekstrak bunga knop terhadap limfosit belum diketahui. Salem et al. (2004) melakukan penelitian terhadap daun bunga knop yang diinokulasi dengan virus Prunus Necrotic Ringspot Virus (PNRSV). Hasil inokulasi ini menunjukkan ketahanan daun bunga knop terhadap virus tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa daun bunga knop mengandung anti virus atau bersifat toksik terhadap virus. Senyawa ini kemungkinan terdapat juga dalam bunganya yang kemungkinan dengan konsentrasi tertentu dapat menghambat proliferasi sel limfosit.

Pada Gambar 13 dapat dilihat rataan IS untuk perlakuan kombinasi antara penambahan ekstrak bunga knop dan mitogen lipopolisakarida (LPS), concanavalin A (Con A) dan pokeweed (PK). Ekstrak bunga knop yang ditambah dengan mitogen semua menghambat proliferasi sel limfosit bila dibandingkan dengan perlakuan penambahan ekstrak bunga knop saja, tetapi yang berbeda bermakna menghambat proliferasi hanya penambahan concanavalin A (p<0.05) Hal ini kemungkinan terjadi karena kondisi sistem imun dalam tubuh responden

yang sedang kurang baik, sehingga mempengaruhi pula terhadap proliferasi limfositnya, selain itu kemungkinan karena adanya reaksi yang menyebabkan ketidakcocokan mitogen untuk berpasangan dengan reseptor, karena menurut Paraskevas dan Foerster (1999) aktivasi oleh mitogen memerlukan reseptor yang cocok, yang merupakan tahap awal dari aktivasi limfosit.

Penambahan LPS saja mempunyai indeks stimulasi yang lebih tinggi dari pada untuk penambahan concanavalin A (Con A), dan pokeweed (PK) saja (Gambar 13). Pada penambahan LPS peningkatan konsentrasi ekstrak bunga knop dari 0.4115 mg/ml ke 0.8230 mg/ml meningkatkan IS. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kultur tersebut ekstrak bunga knop yang berperan meningkatkan IS. Setelah itu peningkatan konsentrasi ekstrak bunga knop dengan penambahan LPS, Con A maupun pokeweed dengan konsentrasi yang sama menurunkan IS. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi penambahan bunga knop bersifat menghambat proliferasi sel limfosit dan bersama-sama dengan LPS, Con A dan pokeweed sinergis menghambat proliferasi sel limfosit. Selain itu, Con A sendiri menurut Stites (1991) dapat mengaktifkan sel Ts yang dengan demikian dapat menghambat proliferasi sel limfosit di dalam kultur tertentu.

Tabel 11. Perbandingan hasil penelitian ekstrak daun kumis kucing dengan bunga knop

Daun Kumis kucing Bunga knop (Orthosiphon stamineus Benth) (Gomphrena globosa L.)

Metode pengeringan sinar matahari oven Terbaik

Senyawa kimia yang orthosiphon glikosida(1), tanin(2) Gomphrenin I,II,III,V,VI(15), dikandung minyak atsiri(3) ,minyak lemak(4) , amaranthin(16), saponin(17) saponin(5), sapofonin(6), minyak atsiri(18), flavon(19) garam kalium (0.6-3.5%)(7),

myoinositol(8), sinensetin(9). Eupatorin(10), Polymethoxylated flavonoid (11) turunan caffeic acid(12), hydroxy-5,6,7,4’tetramethoxyflavone.(13), Flavonoid aglikon(14)

Aktivitas biologis mencegah dan mengobati asam urat(20) anti bakteri(25) mencegah batu yang mengandung asam urat(21) anti inflamasi(26), pelarut batu ginjal dan batu kandung kemih(22) obatbatuk(27),

efek diuretikum(23), anti bakteri(24) obat sesak(28), penurun panas(29),

disentri(30)

Kadar total fenol 123.220 3.068 Tertinggi

(mg fenolik/g bk)

Aktivitas antioksidan 2339.822 108.343 tertinggi

(mM/gr bk (TEAC))

Konsentrasi ekstrak 1.203, 2.406 dan 4.812 0.412, 0.823, 1.646 dan yang diuji mg/ml 3.292

Konsentrasi ekstrak (mg/ml) 4.812 0.823 dengan Indeks Stimulasi (IS) 2.4 1.071 tertinggi

(1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8), (9), (15), (16), (17), (18) dan (19) Mahendra dan Fauzi (2005)

(10), (11), (12) Olah et al. (2003)

(13), (14) Loon et al. (2005)

(25) Ferreira et al. (2004)

(26) Stalinska et al. 2005)

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan :

1. Metode pengeringan terbaik untuk daun kumis kucing adalah pengeringan dengan sinar matahari sedang untuk bunga knop adalah pengeringan dengan oven

2. Peningkatan konsentrasi ekstrak daun kumis kucing yang ditambahkan berturut-turut dari 1.203 mg/ml, 2.406 sampai 4.812 mg/ml meningkatkan IS. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun kumis kucing sampai konsentrasi setara 4.812 mg/ml masih aman untuk dikonsumsi karena masih bersifat meningkatkan proliferasi sel limfosit.

3. Peningkatan konsentrasi bunga knop yang ditambahkan berturut turut dari 0.4115 mg/ml sampai 0.8230 mg/ml meningkatkan IS. Peningkatan konsentrasi selanjutnya sebesar 1.646 mg/ml sampai 3.292 mg/ml menghambat proliferasi sel limfosit. Konsentrasi ekstrak bunga knop yang aman untuk dikonsumsi adalah sampai konsentrasi 0.8230 mg/ml, karena masih bersifat meningkatkan proliferasi sel limfosit.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui peningkatan sel NK, CD4 (penanda permukaan untuk Th) dan Tc. Peningkatan ketiganya menunjukkan adanya peningkatan proliferasi sel limfosit yang menunjukkan pula keamanan terhadap sel limfosit, baik sel B maupun sel T dalam sistem imun dengan adanya penambahan ekstrak daun kumis kucing. Mekanisme imunomodulator dengan adanya penambahan ekstrak daun kumis kucing ke dalam kultur sel juga perlu diteliti lebih lanjut.

Untuk bunga knop, terjadi penghambatan proliferasi sel limfosit dengan adanya penambahan ekstrak bunga knop ke dalam kultur sel. Hal ini menunjukkan adanya sifat sitotoksik dari ekstrak bunga knop tersebut. Untuk mengetahui mekanisme penghambatan proliferasi sel limfosit atau adanya aktivitas anti inflamasi dengan penambahan ekstrak bunga knop ke dalam kultur sel perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Materi Pelatihan Profesional Tanaman Obat (Kelas Profesional Tanaman Obat 2). 2005. Edisi Baru. Jakarta : Yayasan Pengembangan Tanaman Obat Karyasari Mengabdi Bagi Pengembangan Tanaman Obat Indonesia.

Anonim. 2000. GomphrenaglobosaL.

http://kambing.ui.edu/bebas/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku3/3-

041.pdf#search=’bunga%20knop’ [8 Februari 2005].

Agustine H. 2005. Pengujian aktivitas immunoenhancing oligomer kitin yang diproduksi secara enzimatik [skripsi]. Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Apriyantono A, Fardiaz D, Puspitasari NL, Yasni S, Budiyanto S. 1989. Analisis Pangan. Bogor : PT Penerbit IPB (IPB Press).

Baratawidjaja KG. 2000. Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Beaux D, Fleurentin J, Mortier F. 1999. Effects of extract of Orthosiphon stamineus Benth, Hieracium pilosella L. Sambucus nigra L. and Arctostaphylos uva-ursi (L.) Spreng in rats. Phytother Res 13(3):222-5.

Cai Y, Sun M, Schliemann W, Corke H. 2001. Chemical stability and colorant properties of betaxanthin pigments from Celosia argentea. J Agric Food Chem 49(9):4429-35.

Cai Y, Sun M, Corke H. 2001. Identification and distribution of simple and acylated betacyanins in the Amaranthaceae. J Agric Food Chem 49(4):1971-8.

Cai Y, Sun M, Corke H. 2003. Antioxidant activity of betalains from plants of the Amaranthaceae. J Agric Food Chem 51(8):2288-94.

.

Cai Y, Luo Q, Sun M, Corke H. 2004. Antioxidant activity and phenolic compounds of 112 traditional Chinese medicinal plant associated with anticancer. Life Sci 74(17):2157-84.

Casadebaig-Lafon J, Jacob M, Cassanas G, Marion C, Puech A. 1989. Adsorbed plant extract, use of extracts of dried seeds of Orthosiphon stamineus Benth. Pharm Acta Helv 64(8):2204.

Dalimartha S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid ke-2. Jakarta: Trubus Agriwidya.

Dean JH, Cornacoff JB, Rosenthal GJ, Luster MI. 1989. Immune system : evaluation of injury. Di dalam : Hayes AW, editor. Principles and Methods of Toxicology. New York : Raven Press Ltd. Hlm 741-760.

De Padua LS,Bunyaprahatsara N, Lemmens RHMJ, editor. 1999. Medicinal and poisonous plants 1. plant Resources of South-East Asia 12(1):368-371. Duthil GG, Gardner PT, Kyle JA. 2003. Plant polyphenols : are they the new magic bullet ?. Proc Nutr Soc 62: 599-603.

Ferreira EO, Salvador MJ, P ral EM, Alfieri SC, Ito IY, Dias DA. 2004. A new heptasubstituted (E) - aurone glucoside and other aromatic compounds of Gomphrena agrestis with biological activity. Z Naturforsch [C] 59(7-8):499-505.

Finley JW, Robinson SF. 1992. Food safety assessment : introduction. Di dalam Finley JW, Robinson SF, Amstrong DJ, editor. Food Safety Assessment. Washington DC : Library of Congress Cataloging –in -Publication Data. Hlm 2-7.

Frehsney RI . 1995. Introduction to basic principles. Di dalam : Freshney RI, editor. Animal Cell Culture : A Practical Approach. Ed ke-2. Oxford : Oxford University Press. hlm 1-14.

Fukumoto LR, Mazza G. 2000. Assessing antioxidant and prooxidant activities of phenolic compounds. J Agric Food Chem 48(8):3597-604. Garnadi Y. 1998. Perbandingan potensi diuretic antara infusa daun dan batang tumbuhan kumis kucing (Orthosiphon aristatus BI. Mig.) pada kelinci secara oral [skripsi]. Bandung : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran.

Halliwell B. 2002. Food –derived antioxidant : how to evaluate their importance In food and in vivo. Di dalam : Cadenas E, editor. Handbook of Antioxidants. New York : Marcel Dekker Inc. hlm 1-33.

Harlow E, Lane D. 1988. Antibodies A Laboratory Manual. Cold Spring Harbor : Cold Spring Harbor Laboratory.

Imre L. 1995. Solar drying. Di dalam : Mujundar AS, editor. Handbook of Industrial Drying. Volume ke-1. Ed ke-2. New York: Marcel Dekker, Inc. hlm 373-451.

Isparyanto W. 1999. Pengaruh infusa daun kumis kucing (Orthosiphon Aristatus BI. Mig.) terhadap asam urat darah tikus putih [skripsi]. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada.

Jaffe HS, Sherwin SA. 1991. Immunomodulators. Di dalam : Stites DP, Terr AI, editor. Basic and Clinical Immunology. Edisi ke-7. New Jersey : Prentice-Hall International Inc. hlm 780-785.

Jayaraman KS, Das Gupta DK. 1999. Drying of fruits and vegetables. Di dalam: Mujundar AS, editor. Handbook of Industrial Drying. Volume ke-1. Ed ke-2. New York: Marcel Dekker, Inc. hlm 643-690. Kang DG, Yun C, Lee HS. 2003. Screening and comparison of antioxidant activity of Solvent extracts of herbal medicines used in Korea. J Ethnopharmacol 87(2) : 231-6.

Kapiszewska M, Soltys E, Visioli F, Cierniak A, Zajac G. 2005. The protective ability of the Mediterranean plant extracts against the oxidative DNA damage. The role of the radical oxygen species and the polyphenol content. J Physiol Pharmacol 56 Suppl 1:183-97.

Kessler M, Ubeaud G, Jung L. 2003. Anti- and pro- oxidant activity of rutin and quercetin derivatives. J Pharm Pharmacol 55(1):131-42. Koesitoresmi A. 2002. Kapasitas antioksidan ekstrak batang dan daun cincau hijau (Cyclea barbata L. Miers) pada sel limfosit manusia secara in vitro [skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Koleva II, van Beek TA, Linssen JP, de Groot A, Evstatieva LN. 2002. Screening of Plant extracts for antioxidant activity : a comparative study on three testing methods. Phytochem Anal 13(1):8-17.

Kresno SB. 1991. Imunologi. Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kubo IN, Masuoka P, Haraguchi H. 2002. Antioxidant activity of dodecyl gallate. J Agric Food Chem 50:3533-3539.

Lin BF, Chiang BL, Lin JY. 2005. Amaranthus spinosus water extract Directly stimulates proliferation of B lymphocytes in vitro. Int Immunopharmacol 5(4):711-22.

Loon YH, Wong JW, Yap SP, Yuen KH. 2005. Determination of flavonoids from Orthosiphon stamineus in plasma using a simple HPLC method with ultraviolet detection. J Chromatogr B Analyt Technol Biomed Life Sci 816 (1-2):161-6.

Mahendra B, Fauzi RH. 2005. Kumis Kucing, Pembudidayaan dan Pemanfaatan Untuk Penghancur Batu Ginjal. Jakarta: Penebar Swadaya.

Miller HE, Rigelhorf F, Marquat L, Prakash A, Kanter M. 2000. Antioxidant Content of whole grain breakfast cereal, fruits and vegetables. J Am Coll Nut 90003(19):3128-3198.

Nirdnoy M, Muangman V. 1991. Effects of Folia orthosipohonis on urinary stone promoters and inhibitors. J Med Assoc Thai 74(6):318-21.

Nurrahman. 1998. Pengaruh konsumsi sari jahe terhadap perlindungan limfosit dari stres oksidatif pada mahasiswa pondok pesantren Ulil Albaab di Bogor [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Olah NK, Radu L, Mogosan C, Hanganu, D, Gocan S. 2003. Phytochemical and pharmacological studies on Orthosiphon stamineus Benth. (Lamiaceae) hydroalcoholic extracts. J Pharm Biomed Anal 33(1):117-23.

Pandoyo AS. 2000. Pengaruh aktivitas ekstrak tanaman cincau hijau (Cyclea barbata L. Miers) terhadap proliferasi sel limfosit darah tepi manusia secara in vitro [skripsi]. Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Paraskevas F, Foerster J. 1999. The lymphatic system. Di dalam : Lee GR, Foerster J, Lukens J, Paraskevas F, Greer JP, Rodgers GM, editor. Wintrobe’s Clinical Hematology. Ed ke - 10. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. hlm 430-465.

Pomilio AB, Buschi CA, Tomes CN, Viale AA. 1992. Antimicrobial constituents of Gomphrena martiana and Gomphrena boliviana. J Ethnopharmacol 36(2):155-61.

Pranoto BA. 2003. Aktivitas antitumor dan immunomodulator dari produk cincau hijau Cyclea barbata L. Miers dan Premna oblongifolia Merr. terhadap pertumbuhan tumor kelenjar susu mencit C3H [tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Puspaningrum R. 2003. Pengaruh ekstrak kayu secang (Caesalpinia sappan Linn) terhadap proliferasi sel limfosit limpa tikus dan sel kanker K- 562 (Chronic Myelogenous Leukimia) secara in vitro [skripsi]. Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Roitt IM. 1991. Essential Immunology. Edisi ke - 7. Oxford : Blackwell Scientific Publication.

Sari PW. 1985. Efek penyuntikan campuran infus daun Meniran (Phyllanthus niruri Linn) dan daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus BI. Mig.) terhadap jumlah tetes urine kelinci terbius. Laporan penelitian. Yogyakarta : Lembaga Penelitian Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada.

Senchina DS, McCann DA, Asp JM, Johnson JA, Cunnick JE, Kaiser MS, Khut ML. 2005. Changes in immunomodulatory properties of Echinacea spp. root infusions and tintures stored at 4 degrees C for four days. Clin Chiom Acta 355(1-2):67-82.

Setiawati R. 2003. Pengaruh produk daun cincau hijau Cyclea barbata L.Miers dan Premna oblongifolia Merr, terhadap kapasitas antioksidan limfosit mencit C3H bertumor kelenjar susu [skripsi]. Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Shank FR, Carson KL. 1992. What is safe food?. Di dalam : Finley JW, Robinson SF, Amstrong DJ, editor. Food Safety Assessment. Washington DC : Library of Congress Cataloging –in -Publication Data. hlm 26-34.

Shetty K, Curtis OR, Levin RE, Witkowsky R, Ang W. 1995. Prevention of vitrication associated with in vitro shoot culture of oregano (Origanum vulgare) by Pseudomonas spp. J Plant Physiol 147: 447-451.

SNI 01- 3836- 2000. Teh kering dalam kemasan. Jakarta : Badan Standardisasi Nasional.

Sofiani YS. 2003. Isolasi, pemurnian dan uji aktivitas antibakteri senyawa Sinensetin dari daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus BI. Mig.) [skripsi]. Bogor : Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Sokhansaj S, Jayas DS. 1995. Drying of foodstuffs. Di dalam : Mujundar AS, editor. Handbook of Industrial Drying. Volume ke -1. Edisi ke -2. New York : Marcel Dekker, Inc. hlm 589-625.

Stalinska K, Guzdek A, Rokicki M, Koj A. 2005. Transcription factors as targets of the anti-inflammatory treatment. A cell culture study with extracts from some Mediterranean diet plants. Physiol Pharmacol 56 Suppl 1:157-69. Stintzing FC, Kammerer D, Schieber A, Adama H, Nacoulma OG, Carle R.

2004. Betacyanins and phenolic compounds from Amaranthus spinosus L. and Boerhavia erecta L. Z Naturforsch [C] 59(1-2):1-8.

Stites DP. 1987. Clinical laboratory methods for detection of cellular immunity. Di dalam : Stites DP dan Terr AI, editor. Basic and Clinical Immunology. Edisi ke-7. New Jersey : Prentice-Hall International Inc. hlm 263-283 Strack D,Vogt T, Schliemann W. 2003. Recent advances in betalain research. Phytochemistry 62(3):247-69.

Tejasari. 2000. Efek proteksi komponen bioaktif oleoresin rimpang jahe (Zingiber officinale Roscoe) terhadap fungsi limfosit secara in vitro. [disertasi]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Tejasari, Zakaria FR, Sayuthi D. 2002. Aktivitas stimulasi komponen rimpang Jahe (Zingiber officinale Roscoe) pada sel limfosit B manusia secara in vitro. J Teknologi dan Industri Pangan 13(1):47-53.

Tzianabos AO. 2000. Polysaccharides immunomodulators as therapeutic agents : structural aspects and biological function. Clin Microb Rev. 13(4):523-33. Wahyuni S, Zakaria FR, Witarto AB, Syah D, Suhartono MT. 2004. Aktivitas oligomer kitosan sebagai immunoenhancer. Seminar Nasional PATPI. Jakarta, Desember 2004.

Wahyuni S, Zakaria FR, Witarto AB, Syah D, Suhartono MT. 2005. Aplikasi oligomer kitosan sebagai anti kanker. Seminar Nasional PERSADA

Dokumen terkait