V. HASIL DAN PEBAHASAN
5.4. Perbandingan Karakteristik Core dan Edge habitat
Berdasarkan hasil AKU, core dan edge habitat memilki persamaan dan perbedaan karakteristik. Persamaan karakteristik ini dinilai menjadi prasyarat utama keberadaan habitat musim dingin SMA, sedangkan perbedaan karakteristik dinilai menjadi komponen khusus yang menyusun kedua tipe habitat tersebut. Diagram persamaan dan perbedaan karakteristik lanskap habitat musim dingin SMA tersaji pada Gambar 22.
Keterangan :
KUnce : Komponen n untuk core dan edge habitat
KUnc : Komponen n untuk core habitat
KUne : Komponen n untuk edge habitat
Gambar 22. Diagram Persamaan dan Perbedaan Karakteristik Lanskap Habitat Musim Dingin SMA
5.3.1 Persamaan Karakteristik
Komponen pertama (KU1) yaitu jarak terdekat ke elevasi lebih dari 300 meter dan jarak terdekat ke hutan lahan kering, komponen kedua (KU2) yaitu
KU1ce
KU2ce
KU5ce
KU3c
KU4c
KU6c
KU7c
Edge habitat Core habitatKU3e
KU4e
KU6e
KU7e
KU8e
Persamaan karakteristik Perbedaan karakteristik Perbedaan karakteristikkemiringan lahan dari agak datar ke bergelombang, dan komponen kelima (KU5) yaitu jarak terdekat ke hutan rawa gambut merupakan persamaan karakteristik yang ditemukan pada core dan edge habitat. Ketiga karakteristik utama ini merupakan karakteristik dasar yang menentukan keberadaan habitat musim dingin SMA. Ketiga persamaan karakteristik ini memiliki tingkat kepentingan yang sama dalam menyusun karakteristik baik pada core maupun edge habitat.
Hutan lahan kering dan hutan rawa gambut memiliki peranan penting bagi SMA karena struktur lanskapnya yang terdiri dari spesies-spesies tanaman yang menjadi habitat lebah madu. Sebagai contoh, Koompassia excelsa, Koompassia malaccensis, dan Shorea sp. adalah jenis spesies penting bagi SMA yang berada pada kawasan tersebut. Spesies ini disebut sebagai pohon madu (bee tree). SMA umumnya menyerang sarang lebah yang berada di pohon-pohon yang terletak di hutan untuk memakan lebahnya secara langsung. Selain itu, faktor kemiringan lahan juga menjadi karakteristik utama yang berada pada core maupun edge habitat. Kemiringan lahan mempengaruhi variasi bentukan lahan yang kemudian akan mempengaruhi pergerakan angin.
5.3.2 Perbedaan Karakteristik
Karakteristik ketiga (KU3), keempat (KU4), keenam (KU6), ketujuh (KU7), dan kedelapan (KU8) mempunyai perbedaan karakterististik dilihat dari komponen variabel lingkungannya pada core dan edge habitat. Perbedaan ini secara utama ditunjukkan pada perbedaan posisi dari KU, yang berhubungan erat dengan tingkat kepentingan dari masing-masing KU yang menyusun karakteristik lanskap core dan edge habitat. Perbedaan karakteristik ini dibagi menjadi dua tipe perbedaan.
a. Karakteristik yang sama tetapi memiliki urutan KU yang berbeda.
Badan air ditemukan pada KU4 di core habitat sedangkan badan air di
edge habitat ditemukan pada KU8. Hal ini menunjukkan bahwa badan air memiliki tingkat kepentingan yang lebih tinggi pada core dibanding edge habitat. Adapula, karakteristik kemiringan lahan 15-25% (berbukit), 25-40% , dan >25-40% (pegunungan) ditemukan pada KU6 di core habitat
b. Karakteristik yang berbeda tetapi memiliki urutan KU yang sama.
KU3 pada core habitat terkait pada jarak terdekat ke lahan terbuka, sawah dan semak belukar rawa sedangkan KU3 pada edge habitat adalah karakteristik dengan jarak terdekat ke lahan terbuka, sawah, dan pertanian/perkebunan/semak. KU7 pada core habitat berhubungan dengan karakteristik elevasi rendah (kurang dari 300 meter), sedangkan KU7 pada
edge habitat adalah kombinasi antara jarak terdekat ke elevasi rendah (kurang dari 300 meter) dan kemiringan datar. Hal ini menunjukkan bahwa struktur lanskap yang ditunjukkan oleh komposisi penutupan lahan pada
core habitat yang lebih rendah dari edge habitat dikarenakan oleh tipe penutupan lahan yang berada pada edge habitat yang lebih bervariasi dibanding core habitat.
Karakteristik lanskap dari jarak terdekat ke hutan mangrove (KU8) ditemukan hanya pada edge habitat dikarenakan oleh perbedaan jumlah KU antara core dan edge habitat. Oleh karena itu, satu karakteristik akan ditemukan pada edge habitat, yaitu hutan mangrove. Hutan ini digunakan sebagai habitat musim dingin karena hutan ini memiliki pohon Sonneratia caseolaris yang menjadi pohon inang bagi koloni lebah (Harmonis et al., 2006).Alasan utama dari migrasi SMA ini adalah untuk mencari tempat dengan ketersediaan makanan yang cukup. SMA memakan lebah dan tawon (MacKinnon 1990). Habitat musim dingin SMA mengacu pada preferensi habitat lebah, khususnya habitat dimana ditemukannya pohon untuk sarang lebah.
Alasan utama dari migrasi SMA ini adalah untuk mencari tempat dengan ketersediaan makanan yang cukup. Pakan SMA adalah lebah dan tawon (MacKinnon 1990). Habitat musim dingin SMA mengacu pada preferensi habitat lebah, khususnya habitat dimana terdapat pohon untuk sarang lebah. Salah satu spesies lebah yang umumnya dapat ditemukan di Kalimantan adalah Apis dorsata. Koloni lebah jenis Apis dorsata didapati bersarang pada beberapa jenis pohon seperti Banggeris (Koompassia exelsa), Rambai Laut (Sonneratia caseolaris), Lomu/Jelemu (Canarium dichotomum), Nyawai (Ficus variegata), Meranti (Shorea sp.), Kapur (Dryobalanops sp.), Keruing (Dipterocarpus sp.), Bangkirai (Shorea laevifolia), Rengas (Gluta renghas), Kapuk (Ceiba petandra), Karet
(Hevea brasiliensis), Laban (Vitex pubescens), Perupuk (Lophopetalum sp.), Putat (Planchonia valida), Damar (Agathis sp.), Kayu Ipo‟ (Antiaris toxicaria), Bekai (Pycnarrhena sp.), Nyeliwai (Quercus gemelliflora), Jelutung (Alstonia anqustiloba), Kejawi dan panggang (Harmonis et al., 2006). Berdasarkan hasil survei, kebanyakan jenis vegetasi ini berada di dalam core dan edge habitat di Kalimantan Selatan.
Umumnya lebah dan tawon hidup di daerah hutan yang dekat dengan aktivitas manusia seperti pertanian dan perkebunan (Gambar 22). Hal ini dikarenakan kebutuhan lebah dalam mencari nektar yang digunakan untuk memproduksi madu di sarangnya. Nektar dapat ditemukan di perkebunan dan lahan pertanian yang umumnya memiliki vegetasi berbunga.
Selain itu, studi pada Mate‟-mate‟ (masyarakat Dayak) melaporkan bahwa ada enam spesies pohon yang menjadi habitat bagi lebah madu termasuk beberapa tanaman dipterocarpus seperti Shorea laevifolia, tetapi spesies pohon yang paling penting adalah Koompassia excelsa dan Kompassia malaccensis (De Jong, 2000). Kedua spesies ini secara luas disadari sebagai pohon yang dominan yang bisa ditemukan di Kalimantan dan banyak masyarakat yang tinggal di hutan melindungi dan bergantung pada pohon madu ini. Banggeris merupakan pohon inang yang paling dominan dan pohon ini dikenal sebagai pohon madu (bee trees). Rambai laut merupakan pohon inang untuk koloni di sekitar daerah pesisir terutama kawasan dengan tipe hutan bakau atau mangrove (Harmonis, 2006). Hutan mangrove juga menjadi salah satu penutupan lahan yang cukup penting untuk dijaga (Gambar 23).
Gambar 23. Sketsa dan Foto Lanskap Core Habitat SMA : Kombinasi Lahan Pertanian dengan Hutan Lahan Kering
Menurut Ferguson et al. (2005), habitat dari SMA ini berada di tepi hutan ekuatorial dan lahan terbuka. Habitat ini juga kaya vegetasi berkanopi pada hutan tropis, subtropis, hutan kayu, dan savana dengan kerapatannya yang tidak terlalu padat. Habitat ini memiliki ketinggian sekitar 1.000 meter, 1.500 meter sampai 2.000 meter di atas permukaan laut.
Karakteristik lanskap habitat musim dingin Sikep Madu Asia ini memiliki persamaan dengan karakteristik Satoyama. Satoyama merupakan istilah kata yang berasal dari Jepang, dalam bidang kehutanan berarti hutan sekunder bersamaan dengan pemukiman penduduk yang memanfaatkan pertanian secara berkelanjutan. Istilah ini tidak hanya digunakan di Jepang saja, namun telah menyebar ke berbagai negara yang memiliki lanskap perdesaan yang terdiri dari beberapa ekosistem di antaranya: hutan sekunder, lahan pertanian, kolam irigasi, dan padang rumput, sekaligus pemukiman (Takeuchi K. Brown RD, Washitani I, Tsunekawa A, Yokohari M, 2003). Bentuk satoyama ini dapat ditemukan di Jepang yang menjadi breeding habitat bagi SMA. Tujuan dari SMA bermigrasi musim dingin adalah mencari kawasan yang memiliki ketersediaan pakan baginya selama musim dingin. Habitat musim dingin SMA memiliki kesamaan karakteristik dengan habitat asalnya (breeding habitat) yang didasari oleh preferensi makanan bagi SMA.