• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Nilai antar Lokasi

B. Air Tanah

2.3.3. Perbandingan Nilai antar Lokasi

2.3.3. Perbandingan Nilai antar Lokasi

Dari hasil pemantauan kualitas air sungai di Kota Surabaya yang mencakup parameter-parameter di atas, masih terdapat beberapa parameter yang melebihi baku mutu. Berikut merupakan penjelasan tentang kualitas air sungai ditinjau dari 3 (tiga) parameter yaitu DO, BOD, dan TSS :

 Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut adalah jumlah oksigen dalam miligram yang terdapat dalam satu liter air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas II ditunjukkan Gambar 2.11.

Gambar 2.11. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas II

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

II - 23

Kandungan oksigen terlarut pada badan air kelas II di Kota Surabaya di beberapa titik pengambilan sampel masih di bawah baku mutu yaitu 4 mg/L. Badan air kelas II yang memiliki kualitas paling baik dilihat dari parameter DO adalah Kali Surabaya pada titik pengambilan sampel di Jembatan Wonokromo yang diambil pada bulan November 2011 yaitu 7,32 mg/L. Kualitas paling buruk terjadi di Kali Surabaya pada titik pengambilan sampel di Kedurus yang dipantau pada bulan Januari 2011 yaitu berada di bawah limit deteksi alat pemantau. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas III ditunjukkan pada Gambar 2.12.

Gambar 2.12. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas III

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

Untuk badan air kelas III baku mutu parameter DO adalah sebesar 3 mg/L.

Beberapa badan air juga masih belum memenuhi baku mutu tersebut. Nilai DO terbaik dimiliki oleh Kali Jeblokan pada titik pengambilan sampel di Jl. Petojo pada pemantauan bulan Mei 2011 yaitu sebesar 7,51 mg/L, sedangkan kondisi DO terburuk terjadi di Kali Dami karena selama 5 bulan pemantauan dari bulan Juli hingga November 2011 nilai DO-nya berada di bawah limit deteksi alat. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas IV ditunjukkan Gambar 2.13.

Gambar 2.13. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas IV

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

II - 24

Sedangkan untuk badan air kelas IV baku mutu parameter DO adalah sebesar 0 mg/L, sehingga semua badan air yang dipantau telah memenuhi baku mutu tersebut. Nilai DO terbaik dimiliki oleh Kali Pegirian pada titik pengambilan sampel di Jl. Undaan pada pemantauan bulan Juni 2011 yaitu sebesar 5,8 mg/L.

 BOD (Biological Oxygen Demand)

BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorgasnisme untuk menguraikan bahan-bahan organik (zat pencemar) yang terdapat di dalam air secara biologis. BOD dan COD digunakan untuk memonitor kapasitas self purification badan air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri, dan untuk mendesain sistem-sisitem pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas II ditunjukkan Gambar 2.14.

Gambar 2.14. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas II

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

Kandungan BOD pada badan air kelas II di Kota Surabaya di beberapa titik pengambilan sampel masih belum memenuhi baku mutu yaitu 3 mg/L, bahkan hampir di semua titik pengambilan sampel. Hanya beberapa titik pada waktu pemantauan tertentu saja yang masih memenuhi baku mutu parameter BOD untuk Badan air kelas II, yaitu Kali Surabaya di semua titik pemantauan dan Kali Mas di titik Jembatan Kebon Rojo, hanya pada bulan November 2011.

Badan air yang memiliki kualitas paling buruk dilihat dari parameter BOD adalah Kali Surabaya pada titik pengambilan sampel di Kedurus yang diambil pada bulan Januari 2011 yaitu 13,95 mg/L. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas III ditunjukkan Gambar 2.15.

II - 25

Gambar 2.15. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas III

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

Untuk badan air kelas III baku mutu parameter BOD adalah sebesar 6 mg/L.

Beberapa badan air juga masih belum memenuhi baku mutu tersebut. Nilai BOD terendah dimiliki oleh Kali Jeblokan pada titik pengambilan sampel di Jl.

Petojo pada pemantauan bulan November 2011 yaitu sebesar 3,07 mg/L, sedangkan konsentrasi BOD tertinggi terjadi di Kali Dami pada pemantauan bulan Agustus 2011 yaitu sebesar 25,69 mg/L. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas IV ditunjukkan Gambar 2.16.

Gambar 2.16. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas IV

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

Sedangkan untuk badan air kelas IV baku mutu parameter BOD adalah sebesar 12 mg/L. Masih banyak badan air kelas IV yang belum memenuhi baku mutu ini. Konsentrasi BOD terendah dimiliki oleh Kali Wonorejo pada titik pengambilan sampel di Jembatan Kedung Baruk Utara pada pemantauan bulan Maret 2011 yaitu sebesar 2,56 mg/L, namun konsentrasi BOD tertinggi juga terjadi pada Kali Wonorejo titik sampling Jembatan Kedung Baruk Utara yaitu sebesar 15,39 mg/L.

II - 26

 TSS (Total Suspended Solid)

TSS adalah jumlah berat dalam mg/L kering lumpur yang ada dalam limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron (Sugiharto, 1987). Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui kekuatan pencemaran air limbah domestik, dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air (BAPPEDA, 1997). Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan.

Padatan tidak terlarut menyebabkan air berwarna keruh. Penetrasi cahaya matahari ke permukaan dan bagian yang lebih dalam tidak berlangsung efektif akibat terhalang oleh zat padat tersuspensi, sehingga fotosintesis tidak berlangsung sempurna. Apabila ini terjadi kehidupan mikroorganisme dalam air akan terganggu. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas II ditunjukkan Gambar 2.17.

Gambar 2.17. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas II

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

Kandungan TSS pada badan air kelas II di Kota Surabaya di beberapa titik pengambilan sampel masih belum memenuhi baku mutu yaitu 50 mg/L. Badan air yang memiliki kualitas paling buruk dilihat dari parameter TSS adalah Kali Mas pada titik pengambilan sampel di Jembatan Kebon Rojo yang diambil pada bulan Maret 2011 yaitu sebesar 793 mg/L. Sedangkan hasil pemantauan TSS terbaik diperoleh pada Kali Mas pada titik pemantauan di Jl. Ngagel sebesar 6 mg/L. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas III ditunjukkan Gambar 2.18.

II - 27

Gambar 2.18. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas III

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

Untuk badan air kelas III baku mutu parameter TSS adalah sebesar 400 mg/L.

Hanya satu badan air yang masih belum memenuhi baku mutu tersebut, yaitu Kali Kepiting pada waktu pemantauan bulan Januari 2011 yaitu sebesar 492 mg/L. Nilai TSS terendah dimiliki oleh Kali Jeblokan pada titik pengambilan sampel di Jl. Kedung Cowek dan Kali Dami pada pemantauan bulan Juni 2011 yaitu sebesar 2 mg/L. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas IV ditunjukkan Gambar 2.19.

Gambar 2.19. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas IV

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

Untuk badan air kelas IV baku mutu parameter TSS juga sebesar 400 mg/L.

Pada badan air kelas IV semua lokasi pemantauan telah memenuhi baku mutu ini. Konsentrasi TSS terendah dimiliki oleh Saluran darmo pada titik pengambilan sampel di Pompa Air Darmo Kali pada pemantauan bulan Mei 2011 yaitu sebesar 1 mg/L, sedangkan konsentrasi TSS tertinggi terjadi pada Kali Greges titik sampling Jembatan Jl. Dupak pada waktu pemantauan bulan Juli 2011 yaitu sebesar 365 mg/L.

II - 28

Dari hasil analisa tersebut, diketahui bahwa pada beberapa parameter justru badan air yang seharusnya merupakan badan air kelas III dan kelas IV memiliki kualitas yang lebih baik daripada badan air yang peruntukannya sebagai badan air kelas II. Hal ini disebabkan beban pencemaran yang masuk pada badan air kelas II tersebut kemungkinan lebih besar, sehingga degradasi kualitas airnya juga terjadi lebih cepat.

Berdasarkan Tabel 2.4 diketahui bahwa Boezem Morokrembangan merupakan boezem terbesar di Surabaya dengan luasan sebesar 80,50 ha dan mampu menampung air sebanyak 1.610.000 m3. Volume terkecil berada di Margorejo yang hanya mampu menampung limpasan air sebesar 2.080 m3. Hasil pemantauan terhadap kualitas air boezem dapat dilihat pada Gambar 2.20 sampai Gambar 2.22.

Gambar 2.20. Perbandingan Hasil Pemantauan Parameter DO

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

Untuk parameter DO, Boezem Kalidami memiliki kualitas terbaik, diikuti Boezem Wonorejo, dan Boezem Morokrembangan memiliki kualitas terburuk.

Gambar 2.21. Perbandingan Hasil Pemantauan Parameter BOD

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011 0.501

1.52 2.53 3.54 4.55

Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember

Bozem Kalidami

Waktu Pemantauan

Perbandingan Parameter DO

Konsentrasi (mg/L)

0 5 10 15 20 25 30

Bozem Kalidami

Waktu Pemantauan

Perbandingan Parameter BOD

Konsentrasi (mg/L)

II - 29

Sedangkan untuk parameter BOD, Boezem Wonorejo cenderung memiliki kualitas yang paling baik dengan kadar BOD relatif paling rendah, disusul Boezem Kalidami, dan yang terakhir Boezem Morokrembangan.

Gambar 2.22. Perbandingan Hasil Pemantauan Parameter TSS

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011

Untuk parameter TSS, Boezem Morokrembangan relatif paling rendah konsentrasinya, sedangkan Boezem Wonorejo pada bulan September 2011 konsentrasi TSSnya melebihi baku mutu yaitu sebesar 525 mg/L, dan Boezem Kalidami pada bulan Maret kadar TSS mencapai 920 mg/L.

Dokumen terkait