• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbankan Syariah dan Kegiatan Ekonomi

BAB II KOMPETENSI PERADILAN AGAMA

B. Perbankan Syariah dan Kegiatan Ekonomi

B. Perbankan Syariah dan Kegiatan Ekonomi Syariah.

Sistem ekonomi syariah telah menjadi alternatif pengembangan perekonomian global maupun regional. Negrara-negara barat seperti Inggris justru telah lebih dahulu mengembangkan sistem perbankan berbasis syariah dibanding negara-negara Asia. Saat ini sistem ekonomi syarian telah

berkembang pesat seiring dengan perkembangan perekonomian global. Indonesia mengambil langkah cepat dengan menerapkan sistem ekonomi syariah dibarengi dengan diterbitkannya berbagai regulasi perundang-undangan yang mendorong eksisnya sistem perbankan syariah dalam mendukung aktifitas kegiatan ekonomi makro maupun mikro.

Permodalan dan aktifitas ekonomi makro, dan mikro ekonomi kerakyatan berbasis syariah di Indonesia, sejatinya tidak bisa dipisahkan dari keberadaan perbankan syariah itu sendiri. Perbankan syariah sebagai salah satu subsistem ekonomi syariah, memiliki peranan penting dalam upaya pengembangan perekonomian nasional berbasis syariah dalam tugas pokok dan fungsi penghimpunan, penyaluran dan pelayanan jasa keuangan syariah.

Perkembangan perekonomian dan perdagangan berbasis syariah saat ini mengalami perkembangan pesat9. Sebagian besar permodalan perdagangan ekonomi makro maupun mikro kerakyatan nasional merupakan hasil pinjaman yang berasal dari lembaga perbankan syariah maupun lembaga pembiayaan syariah lainnya baik yang bersumber dari dalam negeri maupun luar negeri, terutama negara-negara Timut Tengah yang surplus devisa dan permodalan yang lebih memiliki kepercayaan untuk menanamkan modalnya pada perbankan syariah Indonesia10. Hal ini pada saatnya nanti akan berdampak pada permasalahan penyelesaian utang-piutang yang macet terhadap Akta Pengikatan Hak Tanggungan (APHT) di mana bank syariah diberi hak prioritas untuk menjual lelang guna memenuhi hutang nasabah yang tertunggak. Salah satu perangkat hukum yang penting dalam hukum acara adalah pelaksanaan eksekusi jaminan hak tanggungan syariah, karena sumber akadnya dibuat menggunakan sistem akad syariah.

9 Republika, tanggal 7 Nopember 2015.

Jaminan hak tanggungan mulanya diatur pada Pasal 1162-1232 KUHPerdata, dalam jaminan Gadai. Pasal 1150-1161 KUHPerdata untuk jaminan Hipotik. Hal-hal yang diatur dalam ketentuan tentang Hipotek, meliputi: ketentuan-ketentuan umum; pembukuan-pembukuan hipotek serta bentuk/cara pembukuannya; pencoretan pembukuan; akibat-akibat hipotek terhadap pihak ketiga yang menguasai benda yang tidak dibebani; hapusnya hipotek; dan pegawai yang ditugaskan menyimpan hipotek, tanggung jawab mereka, dan publikasi register umum.11

Ketentuan hukum jaminan hak tanggungan sekarang diatur tersendiri dalam beberapa peraturan perundang-undangan, yaitu:12 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-pokok

Agraria;

2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan;

3. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia;

4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 Tentang Pelayaran; Pembebanan hipotek hak atas tanah sudah tidak berlaku lagi karena telah dicabut oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, sedangkan hipotek atas kapal laut yang beratnya 20 m3 (dua puluh meter kubik) ke atas dan pesawat udara masih berlaku ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam KUHPerdata.

Namun apabila yang dijaminkan adalah benda bergerak tidak berwujud, yaitu rekening bank dalam hal ini rekening penampungan (escrow account), maka lembaga jaminan yang dapat digunakan adalah gadai, karena rekening penampungan tidak dapat didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia mengingat Pasal 10 ayat (1) dan

11 Salim HS, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), (Jakarta : Sinar Grafika, 2001), hlm. 11-12.

Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia bahwa benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Jaminan kebendaan mempunyai ciri-ciri “kebendaan” dalam arti memberikan hak mendahului di atas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat melekat dan mengikuti benda yang bersangkutan. Jaminan kebendaan dapat diadakan antara kreditor dengan debitor, tetapi juga dapat diadakan antara kreditor dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari si berutang (debitor). Jaminan yang bersifat kebendaan yaitu adanya benda tertentu yang dijadikan jaminan (zakelijk). Ilmu Hukum tidak membatasi kebendaan yang dapat dijadikan jaminan hanya saja kebendaan yang dijaminkan tersebut haruslah milik dari pihak yang memberikan jaminan kebendaan tersebut.13

Pemberian jaminan kebendaan selalu berupa menyendirikan suatu bagian dari kekayaan seseorang, si pemberi jaminan, dan menyediakannya guna pemenuhan pembayaran kewajiban utang dari seorang debitor. Kekayaan tersebut dapat berupa kekayaan si debitor itu sendiri atau kekayaan pihak ketiga atas dasar kekuatan sura kuasa yang dibuat melalui notaris. Pemberian jaminan kebendaan tertentu dari debitur kepada kreditor, adalah penyerahan hak privilege (hak istimewa) untuk menjamin pemenuhan kewajiban pembayaran hutang.

Jaminan kebendaan mempunyai ciri-ciri “kebendaan” yaitu memberikan hak mendahului di atas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat melekat dan mengikuti benda yang bersangkutan. Oleh karena itu suatu benda jaminan harus memenuhi syarat sebagai berikut:

13 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Harta Kekayaan: Hak

1. Bukan merupakan benda yang berpotensi menyulitkan atau melemahkan kekuatan pencari kredit, sehingga pencari kredit dalam hal ini debitor dapat terus melakukan usahanya, dan dapat tetap terus memenuhi kewajibannya kepada pihak pemberi kredit;

2. Memberikan kepercayaan dan keyakinan bagi kreditor, sehingga kreditor dapat merasa aman dan terlindungi dalam memberikan kredit kepada pihak yang memerlukannya;

3. Memberikan kepastian atas pengembalian utang debitor kepada kreditor. Benda jaminan hendaknya merupakan benda yang dapat dengan mudah dieksekusi setiap waktu, apabila diperlukan. Dapat dengan mudah dijual atau dialihkan dan diambil hasilnya untuk memenuhi kewajiban;

4. Memberikan perlindungan hak bagi kreditor pemegang benda jaminan terhadap kreditor lainnya. Sehingga, jika debitor melakukan cidera janji maka dalam jaminan kebendaan, maka kreditor mempunyai hak didahulukan (preferent) dalam pemenuhan piutangnya diantara keditor-kreditor lain dari hasil penjualan harta kekayaan milik debitor.

Dengan demikian jaminan kebendaan mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan jaminan perorangan. Ciri-ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut:14

1. Merupakan hak mutlak (absolute) atas suatu benda.

2. Kreditor mempunyai hubungan langsung dengan benda-benda tertentu milik debitor.

3. Dapat dipertahankan terhadap tuntutan oleh siapapun.

4. Selalu mengikuti bendanya di tangan siapapun benda itu berada (droit de suit).

14 Septian Fitrian, “Analisis Jaminan Kebendaan dan Ketentuan Pelaksanaan Lelang Eksekusi Terhadap Jaminan Gadai Rekening Bank”, Makalah, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2009, hlm. 16.

5. Mengandung asas prioritas, yaitu hak kebendaan yang lebih dahulu terjadi akan lebih diutamakan daripada yang terjadi kemudian (droit de preference).

6. Dapat dialihkan secara hipotik.

7. Bersifat perjanjian tambahan (accessoir).

Sebelum keluar Undang-Undang Jaminan Fidusia, tidak ada kejelasan mengenai bagaimana cara mengeksekusi objek Jaminan Fidusia. Karena tidak ada ketentuan yang mengaturnya. Akibatnya para praktisi hukum banyak yang menafsirkan bahwa eksekusi objek Jaminan Fidusia dengan memakai prosedur gugatan biasa melalui pengadilan dengan prosedur gugatan biasa yang rumit, lama, dengan biaya yang mahal serta melelahkan15. Lahirnya Undang-Undang Jaminan Fidusia telah memperjelas langkah yang harus ditempuh kriditur terhadap jaminan hak tanggungan yang debiturnya tidak mampu lagi memenuhi kewajiban membayar hutang, yaitu melalui pelaksanakan eksekusi jaminan hak tanggungan. Salah satu sebab diantaranya karena debitor (pemberi hak fidusia) cedera janji.16

Sejatinya pelaksanaan eksekusi jaminan hak tanggungan atas kebendaan yang tidak bergerak, maka pelaksanaan eksekusi objek jaminan Hak Tanggungan diatur dalam Pasal 6 jo. Pasal 20 Undang-Undang Hak Tanggungan. Demikian pula dalam pelaksanaan eksekusi benda yang dijadikan jaminan fidusia juga mudah dan pasti.17 Namun demikian, dalam prakteknya ternyata pelaksanaan eksekusi benda jaminan hak tanggungan tidak semudah peraturannya. Pelaksanaan eksekusi yang bermaksud untuk mendapatkan pembayaran kembali atau utang debitor banyak mendapatkan hambatan. Secara umum penjualan terhadap benda jaminan dapat dilaksanakan dengan parate eksekusi (tanpa keterlibatan pengadilan) melalui pelelangan umum. Akan tetapi

15 Rachmadi Usman , Aspek-Aspek Hukum Perbankan Di Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 200, hlm. 229.

16 Ibid.

dalam prakteknya saat ini lembaga lelang enggan untuk melakukan pelelangan secara langsung, dan Kreditor diharuskan mendapatkan putusan ataupun penetapan pengadilan terlebih dahulu, sehingga memerlukan keterlibatan pihak pengadilan. Dalam beberapa kasus, pihak debitor atau pihak ketiga melakukan perlawanan terhadap penetapan pengadilan yang menetapkan pelaksanaan eksekusi benda jaminan tersebut. Dengan demikian, timbullah ketidakpastian hukum untuk waktu yang cukup lama yang mengakibatkan kerugian di pihak kreditor khususnya perbankan syariah.

Bagi pihak bank syariah, kegiatan perkreditan adalah risk asset karena aset bank dikuasai oleh para debitor, dan atas kredit yang diberikan kepada para debitor melalui akad syariah atas produk perbankan syariah (misal: akad murabahah) selalu ada risiko timbulnya kredit bermasalah.18 Dengan adanya permasalahan ketidakpastian hukum di atas, maka risiko atas kredit yang dihadapi bank syariah menjadi bertambah. Padahal, bank syariah merupakan lembaga keuangan syariah yang mempunyai peran penting dalam ikut mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan merupakan sarana bagi pemerintah dalam menggalakkan pembangunan, khususnya di bidang material melalui kegiatan ekonomi syariah yang sangat menguntungkan bagi kedua pihak kriditur dan debitur.19

Ketidakpastian hukum ini menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi dalam pembangunan hukum di Indonesia dalam rangka memberikan perlindungan hukum bagi para pencari keadilan khususnya bank syariah. Perlindungan hukum tersebut seyogyanya dapat memberikan kepastian hukum yang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan perekonomian dan perdagangan nasional. Perlindungan hukum yang dapat mendukung perkembangan perekonomian dan perdagangan tersebut harus dapat

18 Sutarno, Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada Bank, Alfabela, Jakarta, 2003, hlm. 263.

19 Achmad Anwari, Bank Rekan Terpercaya dalam Usaha Anda, Balai Aksara, Cetakan Pertama, Jakarta, 1981, hlm. 15.

diperoleh secara cepat, tepat dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat, khususnya dunia usaha syariah di Indonesia. Peran dan wibawa lembaga peradilan agama menjadi pilar penting dalam memberikan upaya perlindungan hokum perdata Islam yang berbasis sistem syariah. Oleh karena itu peran dan fungsi lembaga peradilan agama sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman di bidang hukum ekonomi Islam dalam pembangunan hukum harus terus ditingkatkan dan diperbaiki.

Pihak perbankan syariah, untuk memitigasi risiko kredit, bank syariah melakukan berbagai upaya diantaranya melakukan proses seleksi dan evaluasi yang ketat dalam pemberian fasilitas jual-beli atau jasa perbankan kepada debitor, menuntut adanya asuransi terhadap kredit yang diberikan, hingga mensyaratkan adanya agunan kepada debitor sebagai jaminan atas fasilitas jual-beli kredit yang diberikan. Dalam praktek perbankan syariah sehari-hari, agunan tersebut dapat diikat dengan lembaga jaminan hak tanggungan terhadap objek jaminan berupa tanah atau benda tidak bergerak, dan lembaga jaminan Fidusia berdasarkan UU Fidusia apabila agunan tersebut merupakan benda bergerak.

Lembaga jaminan hak tanggungan syariah lebih disukai oleh bank syariah, karenan nilai agunan berupa tanah dan atau bangunan mempunyai nilai jual yang lebih stabil daripada lembaga jaminan lainnya. Nilai agunan berupa tanah dan bangunan biasanya akan mengalami peningkatan nilai jual (nilai ekonomis) dari tahun ke tahun terutama di kota-kota besar.20 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa secara umum, lembaga jaminan yang sering dipergunakan oleh lembaga perbankan syariah untuk memitigasi fasilitas jual-beli kredit yang diberikan adalah lembaga jaminan Gadai, Fidusia dan Hak Tanggungan.

20 Djuhaendah Hasan, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan Benda Lain

yang Melekat Pada Tanah dalam Konsepsi Asas Pemisahan Horizontal (Suatu Konsep Dalam Menyongsong Lahirnya Lembaga Hak Tanggungan)¸ Citra Aditya

C. Manfaat Eksekusi Jaminan Hak Tanggungan Melalui

Dokumen terkait