IAIN PADANGSDIMPUAN T.A 2020/2021
3. Perbedaan antara Ma’had Al-jamiah IAIN Padangsidimpuan dan UIN Suska Riau
Tujuan ke tiga dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara dua Ma’had ini yaitu IAIN Padangsidimpuan dan UIN Suska Riau maka akan di jelaskan perbedaan keduanya. Perbedaan kedua Ma’had Al-jamiah ini di tinjau dari berbagai aspek yang meliputi penerapan biah lughoh arabiah. Untuk membedakannya peneliti menganalisa dari beberapa aspek, yaitu:
134 a. Latar belakang dan visi misi
Perbedaan antara Ma’had Al-jamiah IAIN Padangsidimpuan dan UIN Suska Riau dari segi latar belakang terletak pada sejarah lahirnya ma’had al-jamiah ini. Dimana IAIN padangsidimpuan sebagai Universitas Islam dibangun atas dasar untuk melahirkan generasi Islam yang mempunyai Keseimbangan Spiritualitas, emosional dan intlektualitas dendan wawasan keislaman dan bahasa yang universal.
Sementara UIN Suska Riau membangun generasi yang Integral antara ilmu agama dan ilmu umum sehingga melahirkan sarjana yang tidak hanya mempunyai wawasan keilmuan di bidangnya akantetapi harus mampu menjadi penerang di Masyarakat dalam membimbing ummat. Pada masalah latar belakang dan visi misi tentunya kedua Ma’had al-jamiah ini tidak begitu kelihatan dan berbeda karena sama-sama ingin mencetak generasi Islam yang berakhlakul karimah.
Pada hakikatnya semangat dari Universitas Islam yang ada di Indonesia adalah untuk melahirkan generasi Islam yang mampu menjadi Imam di Masyarakat luas sekaligus menjadikan dirinya sebagai kholifatun fil ardh. Semangat membangun generasi Islam di jelaskan dan di jabarkan pada buku pedoman Ma’had Al-jamiah tahun 2021 untuk :
a. Ta’aruf fi al-Din. Yaitu memperkenalkan dasar-dasar ilmu keagamaan Islam kepada mahasantri agar memiliki kemampuan keagamaan tingkat dasar sehingga mahasantri pada program ini dapat melanjutkan tahapan program ta’allum fi al-Din.
b. Ta’allum fi al-Din. Memberikan pemahaman ilmu-ilmu keagamaan Islam kepada mahasantri agar dapat memiliki kemampuan pemahaman keagamaan Islam secara mendalam serta menerapkan secara aktif dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.
c. Tafaqquh fi al-Din. Yaitu memberikan dan mengembangkan ilmu-ilmu keagamaan Islam secara lebih mendalam dan konfrehensif kepada mahasantri agar dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang di miliki secara konprehensif serta dapat menjadi pelopor atau pemimpin dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di masyarakat.
135
Dari tiga rincian materi keilmuan yang akan di capai oleh mahasantri/ah setelah keluar dari ma’had al-jamiah ini maka posisi biah lughoh atau materi bahasa arab mencakup kepada tiga aspek ini. Ta’aruf fi al-din, ta’allum fi al-din, dan tafaqquh fi al-din sama-sama membutuhkan bahasa arab sebagai alat untuk memahami materi-materi tersebut. Bahasa arab menjadi alat untuk mempelajari dan memahami materi-materi tersebut secara mendalam dan konprehensif karena sumbernya adalah al-quran dan al-hadist yang keduanya adalah bahasa arab.
b. Kebijakan
Melihat kebijakan yang ada pada dua Ma’had al-jamiah ini terhadap dukungan atau komitmen dalam menciptakan biah lughoh arabiah yaitu IAIN Padangsidimpuan menjadikan bahasa arab sebagai mata kuliah wajib yang harus di ikuti oleh mahasiswa dan di masukkan kedalam sistem kredit semester (SKS) sehingga semua mahasiswa yang masuk ke kampus tersebut harus mengikuti perkuliahan dengan baik. Bahasa arab sebagai mata kuliah mahasiswa mempelajari seluruh aspek bahasa arab baik teori maupun praktek pada kelas formal sehingga Ma’had al-jamiah hanya menjadi pembiasaan menggunakan bahasa arab sebagai alat komunikasi dala kehidupan sehari-hari. Kemudian kebijkan terkait dengan ini maka mahasiswa menjadi lebih merasa terpaksa mengikutinya dan serius karena menjadi beban perkuliahan sama dengan mata kuliah lainnya dari jurusan apapun.
Selain itu juga program ma’had adalah program yang wajib di ikuti oleh seluruh mahasiswa tanpa ada pengecualian. Selama dua semester atau satu tahun setiap mahasiswa harus di asramakan dan selama di asrama yang di pelajari adalah bahasa Arab, Inggris dan Al-qur an. Waktu dan materi yang cukup ini tentunya banyak yang dapat di lakukan sehingga prosesnya akan berjalan secara kreatif dengan berbagai metode dan strategi menjadikan mahasiswa mampu dalam menggunakan bahasa arab.
Sementara UIN Suska Riau dalam menerapkan biah lughoh arabiah di tetapkan dengan menjadikannya sebagai program utama di cantumkan pada buku panduan akademik Ma’had yang dibuat secara khusus. Biah lughoh di rancang dan di tetapkan sedemikin rupa terencana dan kontiniu. Pada sisi lain Ma’had al-jamiah
136
tidak di wajibkan kepada semua mahasiswa yang masuk ke dalam universitas ini karena jumlah mahasiwa yang mendaftar dan di terima sangat banyak, dan jika di asramakan semuanya maka tempat tinggal tidak memedai. Disisi lain program bahasa arab tidak menjadi sebuah kewajiban karena selama di asrama mahasiwa juga kuliah seperti biasa layaknya mahasiswa yang tidak berasrama.
UIN Suska Riau melaksanakan dari segi kebijakan sangat berbeda jauh karena pada hakikatnya UIN Suska Riau tidak menjadikan bahasa arab sebagai program utama kampus sehingga terkendala dalam mewajibkan mahasiswa menggunakan bahasa arab. pelaksanaan biah lughoh juga banyak terkendala akibat dari kegiatan fakultas yang begitu padat sehingga untuk menjalankan program bahasa tidak maksimal. Untuk membuat kebijkanpun tentunya sedikit kewalahan karena Ma’had bukanlah program yang di utamakan hanya sebagai unit pendamping untuk menwujudkan cita-cita atau visi misi kampus.
c. Kurikulum bahasa Arab Ma’had
Perbedaan dari segi kurikulum bahasa Arab ma’had IAIN Padangsidimpuan sangat kuat karena kurikulum bahasa arab menyatu dengan universitas. Secara aturan setiap mahasiswa wajib mengikuti perkuliahan bahasa arab. kurikulum bahasa arab disatukan dengan pusat pengembangan bahasa. Pusat pengembangan bahasa sebagai lembaga pelaksana pembelajaran dan Ma’had Al-jamiah sebagai pelaksana latihan bahasa arab. kedua lembaga ini mensinergikan kegiatan dalam mengajarkan bahasa arab sehingga prosesnya saling mendukung satu sama lain.
Sementara UIN Suska riau menjadikan kurikulum bahasa arab sesuatu yang terpisah dari kurikulum kampus, dimana bahasa arab di Ma’had tidak mejadi kewajiban SKS bagi mahasiswa. Dan secara kurikulum Ma’had Al-jamiah berjalan sendiri sendiri dan Pusat pengembangan Bahasa berjalan sesuai dengan kegiatannya masing-masing. Kewajiban bahasa Arab di kampus ini tidak terlalu kuat dan juga mahasiswa yang mengikuti Ma’had Al-jamiah hanya sekitar tiga ratus orang dari seluruh mahasiswa yang ada, jadi dapat di katakan jika di jadikan sebagai kurikulum wajib tentunya fasilitas tidak medukung. Disisi lainnya juga, kurikulum bahasa arab UIN Suska Riau mengajarkan seluruh aspek yang ada dalam bahasa
137
Arab baik dari istima’, kalam, qiroah dan kitabah pada lingkungan asrama karena tidak ada pemisahan dari dua institusi dalam hal bahasa arab.
d. Program Kegiatan Pendukung
Perbedaan pada program kegiatan pendukung pelaksanaan biah lughoh arabiah di lingkungan Ma’had Al-jamiah IAIN Padangsidimpuan dan UIN Suska Riau terletak dua jenis yaitu :
1. Pola pelaksanaan kegiatan. IAIN Padangsidimpuan melaksanakan program pendukung bahasa arab setiap hari sesuai dengan minggunya sementara UIN Suska Riau menerapkan program pendukung dengan menyatukan dalam satu minggu di bagi dua, tiga hari arab dan tiga hari Inggris.
2. Dari jenis kegiatan yang di laksanakan. Secara keseluruh kegiatan yang di laksanakan di dua Ma’had ini teridir dari Menghafal Mufrodat, Muhadasah, Muhawaroh, Mujadalah, Kompetisi Bahasa arab, pelayanan konsultasi bahasa , al-yaum al-arabi, shabah al-lughoh dan siaran dengan bilingual.
Perbedaan yang di temukan terletak pada kegiatan konsultasi bahasa Arab dan siaran bilingual.
e. Jenis-jenis Lingkungan Bahasa
Dari aspek jenis-jenis lingkungan bahasa Arab yang terdiri dari lima jenis yaitu Lingkungan pergaulan atau intraksi belajar mengajar dengan menggunakan bahsa arab, Lingkungan akademik, berupa kebijkan lembaga dalam mewajibkan kawajiban berbahasa arab pada hari-hari tertentu. Lingkungan Psikologis, yaitu lingkungan yang dibentuk dalam mencitrakan bahasa arab sebagai bahasa yang mudah, Lingkungan pandang dan penglihatan (Al-Biah al-marwiyah), Lingkungan pendengaran dan visual (Al-biah As-syam iyyah dan Al-marwiyah). Ada perbedaan yang sangat signifikan yaitu pada lingkungan bahasa arab, yaitu:
1. Lingkungan pergaulan atau intraksi belajar mengajar dengan menggunakan bahasa arab. IAIN padangsidimpuan menetapkan hukuman kepada pelanggar bahasa arab dan menyelenggarakan pembelajaran bahasa arab di kelas formal. Sementara di UIN Suska Riau
138
berdasarkan hasil observasi tidak dapat di laksanakan hukuman berbahasa karena pelaksanaan yang kurang maksimal karena banyak jadwal mahasiswa yang tabrakan dengan kegiatan Ma’had. Dan pemebelajaran bahasa arab tidak di laksanakan pada kelas formal.
2. Lingkungan pandang dan penglihatan (Al-Biah al-marwiyah). Pada lingkungan pandangan bahasa Arab kategori ini berbeda dimana UIN Suska Riau sangat kreatif dalam menerapkannya. Terlebih pada pembuatan pamplet berbahasa arab, pengumuman berbahasa arab, mading dan papan informasi.
3. Lingkungan pendengaran dan visual (biah As-syam iyyah dan Al-marwiyah). Penerapan lingkungan ini lebih kepada mengunggulkan fasilitas eletronik dan UIN Suska Riau mempunyai fasilitas yang memadai mendukung jenis lingkungan ini karena adanya fasilitas televisi, dan audio.
139 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian ini, peneliti menemukan beberapa temuan setelah melaksanakan pengambilan data dan di analisa, maka temuan dalam penelitian ini sebagai kesimpulan sebagai berikut :
1. Pelaksanaan biah lughoh arabiah di Ma’had Al-jamiah IAIN Padangsidimpuan. Berjalan secara integaratif yaitu menyatu dengan Pusat pengembangan bahasa dan mengambil peranan masing-masing, Ma’had al-jamiah sebagai pembiasaan bahasa dan Pusat pengembangan Bahasa sebagai tempat belajar secara teori dan praktek. Juga pelaksanaan biah lughoh agar tetap konsisten di berikan hukuman yang mendidik kepada pelanggar bahasa arab. pada sisi lain IAIN Padangsidimpuan mewajibkan kepada seluruh mahasiswa mengikuti program asrama dan bahasa Arab.
2. Pelaksanaan biah lughoh arabiah di UIN Suska Riau. Pelaksanaan biah lughoh pada UIN Suska Riau berjalan dengan efektif akantetapi kurang di dukung secara kebijakan dengan pewajiban asrama dan bahasa arab kepada seluruh mahasiswa. Pembelajaran juga terpisah dengan Pusat Pengembangan Bahasa sehingga tidak ada keterkaitan antar keduanya.
3. Perbedaan antara kedunya. Yang sangat membedakan dua Ma’had Al-jamiah ini adalah pada segi fasilitas, dimana UIN Suska riau dalam menjalankan biah lughoh sangat di dukung oleh fasilitas yang cukup sehingga terdukung pada lingkungan (biah As-syam iyyah dan Al-marwiyah).
140 B. Rekomendasi
Biah Lughoh Arabiah adalah lingkungan bahasa Arab yang di atur secara sadar oleh penggerak bahasa denga tujuan untuk menjadikan bahasa arab sebagai bahasa harian pada lingkungan lembaga pendidikan dalam hal ini Ma’had Al-jamiah.
Program Ma’had Al-jamiah sekarang sudah menjadi bagian yang sangat penting di Lingkungan PTKIN yang ada di Indonesia dan salah satu program utamanya adalah menjadikan bahasa arab sebagai bahasa yang di pakai di dalamnya. Maka dengan hadirnya penelitian ini akan membantu para pelakasana Ma’had Al-jamiah untuk menbentuk biah lughoh arabiah. Dan semoga hasil penelitian ini dapat membantu dalam membentuk lingkungan tersebut serta lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
maka dengan penelitian ini, peneliti merekomendasikan penelitian ini menjadi panduan dalam membentuk biah lughoh arabiah.
C. Saran-saran
Peneliti mengakui bahwa dalam penelitian ini masih banyak tedapat kekurangan dan kesalahan dari berbagai macam aspek. Maka peneliti berharap kepada peneliti selanjutnya:
1. Melakukan penelitian yang lebih luas tidak hanya pada dua lokasi akantetapi sebaiknya pada seluruh PTKIN yang menyelenggarakan Ma’had Al-jamiah sehingga hasilnya lebih variatif dan lengkap dan dapat digunakan berdaya guna.
2. Penelitian dilaksanakan dari berbagai sudut pandang terutama pada masa aktif belajar sehingga kelihatan jelas tentang kesharian yang dilaksanakan.
3. Biah lughoh seharusnya harus menjadi perhatian dari seleuruh pihak terutama pada lembaga-lembaga pendidikan yang menginginkan bahasa arab di sejajarkan dengan bahasa asing lainnya dan mampu digunakan oleh peserta didik.
D. Implikasi
Setelah melaksanakan penelitian ini, peneliti berharap akan perhatian besar dari seluruh pihak akan kegagalan lembaga pendidikan di Indonesia menhadirkan pondok pesantrean dan Universitas Islam menggunakan bahasa Arab. orientasi pembelajaran yang masih kurang jelas antara penguasaan bahasa Arab atau Ilmu
141
bahasa Arab sehingga sampai sekarang umur bahasa arab yang sudah sangat lama di Indonesia dan mayoritas ummat Islam seharusnya bahasa Arab sudah bahasa yang biasa digunakan. Maka lingkungan bahasa perlu :
1. Konsep yang baku dan sederhana untuk dilaksanakan dengan standar yang terukur.
2. Dukungan fasilitas dari lembaga pendidikan yang menginginkan bahasa arab sebagai bahasa harian
3. Kebijakan yang berpihak kepada bahasa arab baik secara luas pada aturan perundang-undangan dan juga kebijakan pada lembaga pendidikan
142