BAB IV UPAYA HUKUM INTERNASIONAL DALAM
4.3 Perbuatan-Perbuatan Dalam Konflik Kejahatan
Pengadilan HAM Internasional
Perbuatan-perbuatan dalam konflik kejahatan dalam sebuah peperangan, anak berada di baris terdepan sebagai korban. Mereka mengalami berbagai tindak kekejian. Tak banyak yang bisa lolos dan menemukan kehidupan baru. Sebagian besar bertahan dengan beban psikologis yang dipikul sampai mati. Laporan investigasi PBB mencatat, anak-anak korban perang di Suriah mengalami kekerasan seksual di rumah tahanan pemerintah dan dipaksa bertempur. Sebagian dari anak-anak itu juga disiksa dan digunakan sebagai perisai hidup warga sipil.
Sedikitnya 10.000 anak tewas sejak konflik bersenjata pecah pada Maret 2011 di Suriah. Pelanggaran berat terhadap anak itu dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik. Lebih dari 100.000 orang tewas dan jutaan orang lainnya telantar. Laporan menyatakan, anak-anak mulai usia 11 tahun disekap di rumah tahanan pemerintah bersama orang dewasa. Menurut saksi mata, mereka disiksa agar anggota keluarga yang dicurigai punya hubungan dengan pihak
oposisi mengaku dan menyerah. Mereka mengalami ancaman dan tindakan pemerkosaan dan berbagai bentuk siksaan seksual, baik anak perempuan maupun laki-laki, serta siksaan fisik dan mental, termasuk dipaksa melihat kerabatnya disiksa.
Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dari kelompok oposisi utama merekrut anak sebagai combatant. Tuduhan itu ditolak oleh juru bicara dewan militer tertinggi pihak oposisi, sebagai contoh Omar Abu Leila (nama samaran). Namun, dikatakan, mungkin saja hal itu dilakukan pemberontak lain. Laporan itu membuktikan, kekejian terhadap anak dalam perang tak pernah menjadi masa lalu. Data PBB mencatat, sedikitnya 300.000 anak di dunia saat ini dipaksa menjadi combatant. Menurut para aktivis hak anak, Konvensi Hak Anak ataupun optional protocol-nya tak tegas dalam soal ini, terutama istilah combatant yang harus didefinisikan ulang. Anak-anak yang terlibat di dalamnya harus diperlakukan sebagai korban. Belum lagi beberapa anak yang mengalami kasus cuci otak atas nama ideology ataupun agama untuk dipaksakan menjadi combatant dan diturunkan di barisan depan untuk bertempur melawan musuh.
Pada 9 April 2014 di wilayah Maan puluhan warga sipil telah pula dibunuh secara brutal. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, mengatakan sedikitnya 25 anggota pemimpin sekte Alawit yang dikenal pro-Presiden Suriah Bashar al-Assad, dibunuh oleh para militan pemberontak di Provinsi Hama. Stasiun televisi Pemerintah Suriah melaporkan, 10 wanita menjadi bagian dari korban pembantaian itu.
Pada demonstrasi di kota Daraa di Suriah selatan kekerasan dilakukan oleh pemerintah dengan sedikitnya satu orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka, termasuk dua orang dalam keadaan kritis, ketika pasukan keamanan menggunakan rentetan peluru tajam terhadap ribuan demonstran pada hari ketiga langsung demonstrasi di kota tersebut. Sekurangnya enam orang tewas setelah pasukan keamanan menembaki para demonstran di luar sebuah masjid di kota Deraa, Suriah, Rabu. 23 Maret 2011 dikarenakan demonstrasi massa yang berpusat di dalam mesjid yang menentang pemerintahan rezim yang berkuasa. Selama proses represif pemerintahan rezim Suriah setidaknya telah jatuh 8000 korban wanita selama proses konflik berlangsung dimana sebagian dari korban wanita tersebut masih belum dewasa dan bahkan masih dikategorikan anak dan balita.
Untuk kekerasan sipil yang berlangsung selama konflik bersenjata ini, setidaknya pemerintahan Suriah dikenakan pasal-pasal dalam Konvensi Jenewa Keempat yang mengatur mengenai perlindungan orang sipil di masa perang termasuk protocol tambahan II (1977) yang dengan jelas mengatur mengenai perlindungan korban konflik bersenjata non-internasional yang dengan sengaja telah dilanggar selama konflik bersenjata di Suriah berlangsung.
Dalam konflik Suriah ada bukti lain yang memberikan informasi bahwa komandan satuan tidak hanya memerintahkan pembunuhan tetapi juga turun tangan langsung membunuh masyarakat sipil. Seperti yang dikatakan oleh Afif, seorang pegawai karir yang melayani Pengawal Presiden dan ikut serta dalam unjuk rasa di Nawa, mengatakan bahwa kekuatan baru kelompok militer diturunkan termasuk Batalyon 171 Brigade 112, ketika protes dimulai kembali di
kota pada awal Agustus. Afif mengatakan ia melihat, Kolonel Ali Abdulkarim Sami, membakar pengunjuk rasa dari Kalashnikov dan membunuh satu orang berumur 16 tahun Omran Riad Salman. Human Rights Watch terakhir rekaman diposting di YouTube yang dimaksudkan untuk menunjukkan tubuh seorang pemuda yang kemudian diidentifikasi sebagai Omran Riad Salman yang terbunuh pada 3 Agustus di Nawa. Rangkaian tindakan pasukan keamanan dan militer Suriah di atas jelas dan pasti tidak dapat diterima oleh akal sehat dan nurani kemanusiaan.
Penganiayaan sistematis dilakukan tentara Suriah terhadap warga sipil di Homs, termasuk menyiksa dan membunuh. Ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan," tegas HRW dalam pernyataannya. HRW mengatakan, tentara Suriah telah menewaskan sedikitnya 104 orang di Homs sejak 2 November lalu. Padahal, saat itu Pemerintah Suriah yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad seharusnya sudah menghentikan aksi kekerasan itu, sesuai proposal Liga Arab yang telah disepakatinya.
Beberapa fakta yang dipaparkan di atas memberikan kesimpulan bahwa semua tindakan itu adalah tergolong sebagai Kejahatan terhadap Kemanusiaan. Dalam hukum internasional Kejahatan terhadap Kemanusiaan merupakan salah satu jenis/bentuk pelanggaran HAM berat sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC).
Menurut Hukum Internasional HAM berlaku baik dalam situasi damai maupun situasi konflik sehingga secara hukum memiliki kekuatan mengikat terhadap negara termasuk Angkatan Militernya. Suriah terikat secara hukum pada
ketentuan hukum internasional ini, sebab Suriah merupakan negara pihak dari beberapa konvensi HAM Internasional diantaranya Konvensi Internasional tentang hak sipil dan politik, hak ekonomi, sosial dan budaya, the Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (CAT); the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW); the International Convention on the Elimination of Al Forms of Racial Discrimination (ICERD); and the Convention on the Rights of the Child (CRC) and its Optional Protocol on the involvement of children in armed conflict, dan bahwa Suriah sebagai bagian dari masyarakat internasional seharusnya ikut serta dalam pengkampanyean, perlindungan dan penegakan HAM. Hal ini menurut penulis bahwa sudah seharusnya kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang dipaparkan di atas dibawa ke International Criminal Court (ICC) untuk diadili sesuai ketentuan yang berlaku.
Penekanan dari ICC adalah untuk mengadili individu baik sebagai bagian dari sebuah rezim maupun sebagai bagian dari gerakan pemberontakan, sehingga kegagalan masyarakat internasional untuk mengadili pelaku Pelanggaran HAM berat dan tidak ada lagi pelaku yang tidak dihukum tidak terulang kembali. Akan tetapi dalam kasus ini, Suriah belum meratifikasi Statuta Roma sehingga ini menjadi masalah. Akan tetapi tampaknya para perancang Statuta Roma sudah sejak awal menyadari akan timbulnya masalah seperti ini, sehingga secara tegas menurut pasal 13 huruf b Statuta Roma telah diatur bahwa, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa DK PBB berdasarkan kewenangannya menurut Bab VII Piagam PBB, berhak untuk menyerahkan kepada Mahkamah melalui Jaksa
Penuntut atas kejahatan yang terjadi di wilayah yang belum atau tidak meratifkasi Statuta.
Pasal 13 huruf b ICC merupakan landasan yuridis yang kuat dan legal untuk melegitimasi DK PBB dalam mengambil kebijakan untuk menyerahkan kasus pelanggaran HAM berat dalam konflik Suriah ke ICC. Adapun landasan yuridis lain adalah bahwa Suriah merupakan Negara Pihak (State Party) dari beberapa konvensi HAM internasional berdasarkan asas hukum Pacta Sun Servanda. Sehingga dengan demikian, maka secara teoritis terjadinya impunitas bagi pelaku pelanggaran HAM berat tidak ada lagi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan Rumusan Masalah dan Pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya maka kesimpulan yang dapat penulis simpulkan adalah sebagai berikut:
1. Bahwa dalam konflik Suriah telah terjadi Pelanggaran HAM berat (Gross Violation of Human Rights) yang dalam hal ini adalah Kejahatan terhadap Kemanusiaan (Crimes Against Humanity) sebagaimana diatur dalam pasal 7 ICC.
2. Selain melanggar hal tersebut para pelaku juga dengan sengaja melanggar pasal-pasal dalam Konvensi Jenewa Keempat yang mengatur mengenai perlindungan orang sipil di masa perang termasuk protocol tambahan II (1977) yang dengan jelas mengatur mengenai perlindungan korban konflik bersenjata non-internasional yang dengan sengaja telah dilanggar selama konflik bersenjata di Suriah berlangsung.
3. Bahwa para pelaku Kejahatan terhadap Kemanusiaan dalam konflik Suriah, wajib diadili berdasarkan ketentuan hukum internasional yang dalam hal ini adalah ICC.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang telah paparkan sebelumnya penulis merasa perlu untuk memberikan saran untuk ungkapan dan kesempurnaan penulisan skripsi ini. Adapun saran yang penulis berikan adalah sebagai berikut: 1. Oleh karena serangkaian tindakan pasukan keamanan dan intelijen dalam
konflik Suriah yang kemudian dikategorikan sebagai Kejahatan terhadap kemanusiaan bersifat sistematis dan meluas, baik dari segi korban dan tempatnya maka penulis menyarankan kepada PBB untuk menugaskan beberapa orang pemantau di Suriah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Human Right Watch dan Amnesty Internasional.
2. Bahwa berhubung karena Suriah bukan merupakan Negara Pihak (State Party) dalam ICC maka Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations Security Council) wajib untuk mengeluarkan satu Resolusi untuk menyerahkan pengajuan para pelaku kejahatan terhadap Kemanusiaan dalam konflik Suriah ke ICC oleh Jaksa Penuntut (The Prosecutor) ICC. 3. Agar seluruh Negara anggota PBB mendesak DK PBB untuk secepatnya
mengambil keputusan sebagaimana dimaksud oleh poin 2 di atas.
4. Agar PBB dan Liga Arab mengintensifkan komunikasi guna percepatan penyelesaian konflik di Suriah dan percepatan pengajuan para pelaku kejahatan kemanusiaan di konflik Suriah ke ICC.
BAB II
TINJAUAN UMUM TERHADAP PELANGGARAN HAM PADA KEJAHATAN KEMANUSIAAN
2.1. Pengertian HAM
HAM adalah hak fundamental yang tak dapat dicabut yang mana karena ia adalah seorang manusia. Jack Donnely, mendefinisikan hak asasi tidak jauh berbeda dengan pengertian di atas. Hak asasi adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia dan hak itu merupakan pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa. Sementara menurut John Locke, Hak Asasi Manusia adalah hak yang dibawa sejak lahir yang secara kodrati melekat pada setiap manusia dan tidak dapat diganggu gugat. John Locke menjelaskan bahwa HAM merupakan hak kodrat pada diri manusia yang merupakan anugrah atau pemberian langsung dari Tuhan Yang Maha Esa. secara filosofis, pandangan menurut hak asasi manusia adalah, "jika wacana publik masyarakat global di masa damai dapat dikatakan memiliki bahasa moral yang umum, itu adalah hak asasi manusia." Meskipun demikian, klaim yang kuat dibuat oleh doktrin hak asasi manusia agar terus memunculkan sikap skeptis dan perdebatan tentang sifat, isi dan pembenaran hak asasi manusia sampai di jaman sekarang ini. Memang, pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan "hak" itu sendiri kontroversial dan menjadi perdebatan filosofis terus.14
14
Shaw Malcolm N, International Law. Cambridge University Press, New York, 2008. hal. 67.
Hak asasi manusia (HAM) sebagai hak dasar yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia. Hak-hak tersebut melekat pada dirinya sebagai makhluk insani. Hak asasi manusia adalah unsur yang amat penting yang tidak bisa ditawar-tawar lagi mengenai pelaksanaannya, baik hukum maupun politik tidak boleh melanggar martabat seseorang atau sekelompok orang sebagai manusia.
Hak asasi manusia memang merupakan unsur yang amat penting yang pelaksanaannya harus dilakukan baik oleh masyarakat sendiri ataupun oleh pemerintah atau Negara, tapi dengan hal tersebut bukan berarti tidak ada pelanggaran terhadap pelaksanaan hak asasi manusia. Pelanggaran hak asasi manusia terus berlangsung sepanjang kehidupan umat manusia.
Pelanggaran hak asasi manusia merupakan ancaman besar terhadap perdamaian, keamanan dan stabilitas Negara. Pelanggaran hak asasi manusia tidak hanya dilakukan oleh masyarakat baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat, tetapi pelanggaran tersebut juga bisa dilakukan oleh Negara maupun melalui aparat Negara atau pemerintahnya, biasanya pelanggaran oleh Negara sering mengarah ke pelanggaran Hak Asasi Manusia berat.
Permasalahan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat bukanlah suatu hal yang baru. Sejak Peradilan Nuremberg 1946 dan Peradilan Tokyo telah jelas bahwa pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh aktor Negara atau pejabat Negara yang terbukti kesalahannya pun dapat ditindak dan diadili melalui pengadilan.
Pengertian Hak Asasi Manusia di Indonesia secara tertuang pada UU No 39/1999, “HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.” Kebebasan yang dimiliki manusia secara kodratnya melekat pada diri manusia dan membuat manusia sadar akan keinginannya untuk hidup bahagia. Akal budi dan nuraninya, mendapat kebebasan untuk memutuskan sendiri apa yang diinginkannya. Yang kemudian diimbangi rasa tanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kebebasan dasar dan hak-hak dasar itulah yang disebut Hak Asasi Manusia yang secara kodratnya melekat pada diri manusia sejak manusia dalam kandungan yang membuat manusia sadar akan jatidirinya dan membuat manusia hidup bahagia. Setiap manusia dalam kenyataannya lahir dan hidup di masyarakat. Dalam perkembangan sejarah tampak bahwa Hak Asasi Manusia memperoleh maknanya dan berkembang setelah kehidupan masyarakat makin berkembang khususnya setelah terbentuk Negara.
Kenyataan tersebut mengakibatkan munculnya kesadaran akan perlunya Hak Asasi Manusia dipertahankan terhadap bahaya-bahaya yng timbul akibat adanya Negara, apabila memang pengembangan diri dan kebahagiaan manusia menjadi tujuan. Berdasarkan penelitian hak manusia itu tumbuh dan berkembang pada waktu Hak Asasi Manusia itu oleh manusia mulai diperhatikan terhadap serangan atau bahaya yang timbul dari kekuasaan yang dimiliki oleh Negara. Negara Indonesia menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia dan kewajiban dasar
manusia. Hak secara kodrati melekat dan tidak dapat dipisahkan dari manusia, karena tanpanya manusia kehilangan harkat dan kemanusiaan. Oleh karena itu, Republik Indonesia termasuk pemerintah Republik Indonesia berkewajiban secara hokum, politik, ekonomi, social dan moral untuk melindungi, memajukan dan mengambil langkah-langkah konkret demi tegaknya Hak Asasi Manusia dan kebebasan dasar manusia.
Hak asasi manusia yang dikenal saat ini dalam berbagai piagam atau konstitusi sesungguhnya telah diperjuangkan sejak abad ke 13 di inggris. Pada masa raja Inggris John Lackland (1199-1216) memerintah secara sewenang- wenang telah timbul protes keras dikalangan para bangsawan. Protes tersebut melahirkan sebuah piagam agung yang dikenal dengan nama Magna Charta. Di dalam piagam ini pengertian hak asasi belum sempurna karena terbatas hanya memuat jaminan perlindungan terhadap hak-hak kaum bangsawan dan gereja. Pada tahun 1628 di Inggris pula terjadi pertentangan antara raja Charles I dengan parlemen yang terdiri dari utusan rakyat (The House of Commons) yang menghasilkan petition of rights. Petisi ini membuat ketentuan bahwa penetapan pajak dan hak-hak istimewa harus dengan izin parlemen, dan bahwa siapapun tidak boleh ditangkap tanpa tuduhan-tuduhan yang sah. Perjuangan hak asasi manusia yang lebih nyata terjadi pada tahun 1689 ketika Raja Willem III revolution. Revolusi ini besar mengawali babak baru kehidupan demokrasi di Inggris dengan suatu perpindahan kekuasaan dari tangan raja ke parlemen. Pemikiran John Locke mempengaruhi Montesquieu dan Rousseau, sehingga mereka menentang kekuasaan mutlak raja. Montesquieu menyusun teori trias
politica, yaitu konsepsi pemisahan kekuasaan antara legislatif, eksekutif dan yudikatif. Sedangkan dalam hukum du contract social Rousseau menyatakan bahwa Negara dilahirkan bebas yang tak boleh dibelenggu oleh manusia lain termasuk oleh raja. Pandangan demikian ini menmbulkan semangat bagi rakyat tertindas ,khususnya di prancis ,untuk memperjuangkan hak asasinya.
Pemerintahan raja yang sewenang-wenang dan kaum bangsawan yang feodalistik menimbulkan kebencian di kalangan rakyat Perancis. Pada masa pemerintahan Raja Louis XVI yang lemah, rakyat Perancis baru berani membentuk Assemblee Nationale, yaitu dewan nasional sebagai perwakilan bangsa Perancis. Pada masa pemerintahan Raja Louis XVI yang lemah, rakyat Perancis baru berani membentuk Assemblee Nationale, yaitu dewan nasional sebagai perwakilan bangsa Perancis. Masyarakat Perancis baru berani mengubah strukturnya dari feodalistis menjadi lama (kerajaan)n dihapuskan dan disusunlah pemerintah baru.
Istilah Hak Asasi Manusia merupakan terjemahan dari; droits de L’homme (Perancis), human rights (Inggris), dan menselijke rechten (Belanda). Di Indonesia, hak asasi umumnya lebih dikenal dengan istilah ‘hak-hak asasi’ sebagai terjemahan dari basic rights (Inggris), grond rechten (Belanda), atau bisa juga disebut sebagai hak-hak fundamental (fundamental rights, civil rights) Menurut Usman Surur,15
15
Usman Surur, Dasar-dasar HAM, bahan Kuliah Diklat HAM. Jakarta: Direktorat Jenderal HAM, 2008, hal. 29.
Hak Asasi Manusia terdiri dari rangkaian tiga buah kata, yaitu :
1. Hak berasal dari bahasa Arab yang artinya kebenaran, dalam kamus bahasa Indonesia juga diartikan dengan kebenaran, dan yang berkaitan dengan kepemilikan, kekuasaan atau kewenangan
2. Asasi berasal dari bahasa Arab Asasiyyun artinya bersifat prinsip, maksudnya sesuatu yang prinsip itu adalah hal yang amat mendasar dan tidak boleh tidak ada
3. Manusia dalam pengertian umum adalah makhluk yang berakal budi, orang Jawa menyebut Manungso (Manunggaling Raso), baru disebut manusia kalau memahami perasaan orang lain, atau dalam bahasa Arab digunakan Nas dari kata Anasa yang artinya melihat, mengetahui atau meminta ijin. Berdasarkan rangkaian kata tersebut, maka yang dimaksud Hak Asasi Manusia adalah sejumlah nilai yang menjadi ciri khas manusia yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi
Menurut Prof. Mr. Koentjoro Poerbapranoto (1976), hak asasi adalah hak yang bersifat asasi, artinya hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sehingga sifatnya suci. Jadi, hak asasi dapat dikatakan sebagai hak dasar yang dimiliki oleh pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. Hak asasi itu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri
Berdasarkan pandangan Para tokoh seperti John Locke, Aristoteles, Montequieu dan J.J. Rousseau, dapat ditarik kesimpulan bahwa hak asasi mencakup :
1. Hak kemerdekaan atas diri sendiri 2. Hak kemerdekaan beragama
3. Hak kemerdekaan berkumpul
4. Hak menyatakan kebebasan warga negara dari pemenjaraan sewenang-wenang (bebas dari rasa takut)
5. Hak kemerdekaan pikiran dan pers
Menurut Brierly, pada dasarnya hak asasi manusia dapat dibagi menjadi: 1. hak mempertahankan diri (self preservation)
2. hak kemerdekaan (independence) 3. hak persamaan pendapat (equality) 4. hak untuk dihargai (respect)
5. hak bergaul satu sama lain (intercourse)
Menurut Drs. H. Inu Kencana Syafiie, M.Si., beberapa macam hak asasi dibedakan menjadi sebagai berikut :
1. hak untuk diperlakukan dengan baik, biasanya dikenal dengan tata karma sesuai anutan budaya yang bersangkutan
2. hak untuk mengembangkan diri, biasanya dikenal dengan harkat untuk mewujudkan keberadaan
3. hak untuk memilih dan dipilih serta terpakai tenaganya dalam pemerintahan, biasanya dikenal dengan demokrasi
4. hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam penerapan peratuaran, biasanya dikenal dengan persamaan di dalam hukum
5. hak untuk memiliki, membeli, menjual dan memanfaatkan sesuatu, biasanya dikenal dengan persamaan di dalam perlakuan ekonomi
6. hak untuk beribadah dan menjalankan syariah agama, biasanya dikenal dengan kebebasan beragama
7. hak untuk menuntut ilmu dan melakukan penelitian serta pengembangan pengetahuan, biasanya dikenal dengan kebebasan ilmiah
8. hak untuk mengeluarkan keterangan pernyataan, biasanya dikenal dengan kebebasan berpendapat
Budiyanto menyimpulkan dan membedakan hak-hak asasi manusia, yaitu sebagai berikut : hak-hak asasi pribadi atau personal rights, yang meliputi ; kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan memeluk agama, kebebasan bergerak, dan sebagainya hak-hak asasi ekonomi atau property rights, yaitu hak untuk memiliki sesuatu, membeli, dan menjual, serta memanfaatkannya hak-hak asasi politik atau political rights, yaitu hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih (dipilih dan memilih dalam suatu pemilihan umum, hak untuk mendirikan partai politik, dan sebagainya hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan atau rights of legal equality hak-hak asasi sosial dan kebudayaan atau social and culture rights, seperti hak untuk memilih pendidikan, hak untuk mengembangkan kebudayaan, dan sebagainya hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan atau procedural rights, seperti adanya peraturan dalam hal penggeledahan, penangkapan, penahanan, peradilan, dan sebagainya.
2.2. Kejahatan Kemanusiaan
Kejahatan terhadap umat manusia adalah istilah di dalam hukum internasional yang mengacu pada tindakan pembunuhan massal dengan penyiksaan terhadap tubuh dari orang-orang, sebagai suatu kejahatan penyerangan
menggambarkan "kejahatan terhadap umat manusia" sebagai tindakan yang sangat keji, pada suatu skala yang sangat besar, yang dilaksanakan untuk mengurangi ras manusia secara keseluruhan. Biasanya kejahatan terhadap kemanusiaan dilakukan atas dasar kepentingan politis, seperti yang terjadi di Jerman oleh pemerintahan Hitler serta yang terjadi di Rwanda dan Yugoslavia. Diatur dalam Statuta Roma dan diadopsi dalam Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang pengadilan hak