Kami bertemu pertama kali di pasar tradisional. Waktu itu hari hampir gelap. Aku harus mempersiapkan makan malam, karena penyakit mag yang telah menggerogoti tubuhku. Sewaktu aku menerima uang kembalian dan mengambil barang-barang yang baru saja kubeli, saat itulah aku melihat dia.
Seorang lelaki tegap, berkepala botak, dengan bibir cukup tebal. Umurnya sekitar empat puluh tahun. Pandangan matanya tajam. Pakaiannya rapi dan bersih. Jam mewah melekat indah di pergelangan tangannya. Dia mendekatiku. Untuk mataku yang sudah terbiasa dengan hal-hal yang sederhana, penampilannya kali ini membuatku kagum. Dari penampilannya, aku mengira dia akan membeli seluruh isi pasar.
“Aku ingin menjemputmu. Sekaranglah saatnya!” katanya sambil menjabat erat tanganku. Aku kaget, merasa kehadirannya mewakili berpuluh-puluh polisi. “Kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Belum. Tapi aku sudah mengenalmu sebelumnya. Anggap saja aku semacam dukun yang tugasnya memonitor orang tidak berguna seperti kamu,” jawabnya dengan pelan dan berat.
Telinga dan hatiku sakit bagai dihantam sekepal tinju. Si kepala botak. Bukan. Si kepala porno sialan ini mengucapkan kalimat itu tanpa rasa berdosa sedikitpun. Gayanya berbicara membuatku mual, sama seperti kepalanya yang membuatku hampir muntah.
“Sudahlah, Gerson. Menjemputmu ini saja sudah membuang begitu banyak waktuku. Aku harap kamu bisa mengerti akan manfaat waktu. Kita harus berangkat. Sekarang!”
Aku semakin terkesima. Mungkinkah dia benar-benar seorang dukun yang memang bertugas memonitor orang-orang tidak berguna semacam diriku? Mengetahui namaku itu saja sudah cukup mewakili ‘kedukunannya’.
“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, bapa?” tanyaku lagi menyelidiki.
“Ha ha ha. Kita belum pernah bertemu sebelumnya, Gerson. Ini adalah pertemuan pertama kita. Dan satu lagi jangan panggil aku bapa. Panggil saja dengan menteri!”
“Menteri?”
“Ha ha ha. Sudahlah. Anggap saja kita sudah membuat janji pertemuan ini bertahun-tahun sebelumnya,” katanya santai. Lanjutnya, “Aku ingin membahas satu persoalan denganmu. Harimu akan lebih menyenangkan jika kauturuti saja permintaanku ini.”
Rasa lapar semakin menjadi. Ini di luar perencanaan. Tapi mudah-mudahan saja aku mendapatkan makanan yang enak di rumahnya. “Ke rumahmu? Sekarang?”
“Tentu saja sekarang. Aku ingin sekali memberikan beberapa alasan yang cukup kuat untuk mempertanggungjawabkan kelebihan-kelebihanku, sampai beberapa orang macam kamu merasa perlu didekati. Kamu paham maksudku, kan? Gerson, persoalan ini terasa amat penting untuk dibiarkan berlalu begitu saja.”
Aku ingin sekali menampar mukanya, mengetuk botaknya, mengambil pisau lalu menusuk perutnya. Aku ingin membunuhnya seketika sambil berteriak ‘kau bajingan’, dan menunjukkan kesadisan paling sadis kepadanya. “Baiklah,” itukah jawabanku.
***
Perjalanan dimulai. Aku mengira kami akan mengendarai mobil mewah dengan seorang sopir pribadi. Tapi rupanya, harapan itu terlalu mewah. Kuikuti saja langkahnya, membawaku pada ‘jalan‘ yang belum pernah kulalui. Entah berapa lama kami melakukan perjalanan sunyi ini. Momen pengembaraan paling panjang yang pernah kulakukan. Yang ada hanyalah dinginnya malam, semilir angin, dan lampu-lampu menerangi setiap sisi jalan. Jalan ini belum pernah kulewati dan memberiku rasa penasaran. Satu-satunya hal yang patut kusyukuri dari perjalanan sunyi ini adalah aku mulai melupakan lapar.
Ketika telah sampai di depan gerbang rumahnya, aku terkejut bukan main. Pagar rumahnya terbuat dari emas. Menyentuh pagar itu membuatku malu sekaligus nyaman tidak terkira. Kilauan emas itu begitu dekat di mata dan hati sebagai ‘sesuatu’ yang pernah menjadi kepunyaanku. Aku berharap dengan memasuki gerbang emas itu, wajah-wajah manusia sederhana yang pernah kukenal akan menyambutku dengan sorak-sorai.
Setelah menekan bel, gerbang itu terbuka sendiri. Dengan hati-hati, kuikuti langkahnya dan kembali terpesona. Beberapa puluh meter ke depan, terbentang halaman luas dan indah. Jalan setapak menuju pintu rumahnya, bening bagai kaca tembus
pandang. Silau di bawah kaca tembus pandang itu sungguh menakjubkan. Apakah kilauan butir-butir pada jalan setapak itu adalah intan? Ah, betapa indahnya! Jika aku berada di dunia mimpi, inilah mimpi dengan pemandangan paling indah dan mewah yang pernah kulihat. Gabungan antara keluasan dan keindahan rumahnya ini adalah simbol dari kemakmuran, kelelakian, kesuksesan, juga kemapanan. Semuanya itu -keluasan sekaligus keindahan- telah berhasil menghipnotis dan menghilangkan rasa laparku.
“Aku memilki semua yang aku impikan. Ini rumahku. Dan rumah ini dibangun dengan keringat banyak orang,” katanya sambil tersenyum. Aku yang mengikutinya hanya manggut- manggut saja.
Ketika kami telah sampai di depan pintu rumahnya, dengan sangat cepat dia membunyikan bel. Kembali pintu terbuka dengan sendirinya, seolah-olah seluruh bagian rumah ini telah menghamba pada keinginan si menteri.
“Silakan masuk,” katanya mempersilakan.
Kuturuti ajakannya. Setelah masuk dia mengunci pintu, kami lalu duduk di ruang tamu. Ada sofa yang panjang ditambah dua buah sofa lagi dengan ukuran lebih kecil, melingkari meja kaca tembus pandang. Kekontrasan antara ruang tamu yang begitu kecil dengan luasnya ruangan itu membuatku semakin penasaran. Lantai rumah bertaburan intan. Lampu bergantungan membuat langit-langit rumah begitu menawan. Pilar penyangga rumah terbuat dari batang pohon besar dan terukir indah. Pasti diambil dari hati hutan Borneo ataupun Papua.
Dinding rumah bersih bagai kapas tanpa pajangan gambar seni ataupun pemandangan alam.
“Seperti yang kamu lihat rumahku cukup besar. Pekerjaan menyelesaikan rumah ini cukup lama, dan banyaknya tangan orang yang menyentuh dasar sampai atap rumah membuat siapa saja akan terkejut. Emas didatangkan dari Pulau Cendrawasi, dan kayu-kayu besar ini dari Borneo. Awalnya aku berencana membangun sebuah istana, seperti yang selalu diinginkan setiap manusia luar biasa, tapi pada akhirnya rumah ini berdiri sebagai monumen semata. Pada bagian belakang rumah ini, terdapat hutan yang sangat luas. Jika kamu mau, kita bisa menghabiskan malam ini dengan bercerita tentang hutan. Tapi aku rasa membahas hutan tidak akan membuatmu nyaman. Kita membahas ‘rumahmu’ saja.”
Dia diam. Lalu lanjutnya, “Mau minum apa? Kopi? Teh? Kopi saja? Baik. Ina, hidangkan dua cangkir kopi!”
Selang beberapa saat, seorang perempuan cantik mendekat, langsung meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. Segalanya terasa begitu otomatis, terlalu cepat, dan tanpa disadari. Si Menteri berkepala porno itu kembali melanjutkan, “Karena kamu sudah mengenal isi rumahku, dan supaya kamu tidak kelihatan terlalu bingung seperti orang bodoh, kuceritakan saja perjalanan membangun rumah megah ini.”
Masih sepenuhnya diliputi rasa penasaran, aku hanya bisa mengangguk. Rasa lapar seolah telah pamit, lalu diganti dengan kenyamanan yang sungguh tidak kentara, karena membahas ‘rumah’ adalah kerinduan terpendamku selama ini. Sebagian
lampu tiba-tiba dipadamkan, tinggal beberapa bola berpijar, tampak seolah tak mampu menerangi ruangan super besar ini.
“Rumah yang indah, haruslah disentuh oleh banyak tangan. Dan rumah yang indah, haruslah dibutuhkan juga pengorbanan. Siapa saja yang berkorban itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah rumahnya,” katanya dalam setarik napas memecah keheningan.
***
“Aku mengenal seorang bocah bernama Tun, bocah penjual koran. Pada awal melihatnya, aku seolah melihat salah seorang dari saudara serahimku, dan padaku timbul rasa iba yang dalam. Dengan kesempatan yang ada, aku menggali setiap kisah yang melekat di matanya. Dari pertemuan itu pula, kusandingkan hidupku dengannya, mencoba menyerahkan segala imajinasi pada kehidupannya. Apa yang telah aku pelajari selama ini menghantarkanku pada sebuah gua yang dalam, yang mesti kusisiri. Dalam gua yang kusisiri itu, kutemukan diriku sebagai manusia,” kalimat yang panjang itu kuucapkan seperti pada diriku sendiri.
“Membangun rumah itu pekerjaan yang mengasyikan, Gerson. Sebagian besar orang yakin bahwa membangun sebuah rumah adalah wujud nyata dari hukum semesta. Namun rumah ini, rumah yang kamu duduki sekarang ini, terbangun bukan karena hukum sialan itu. Pertemuan kita juga bukan lantaran pengaruh hukum tidak jelas itu. Oh, alangkah naifnya aku jika harus mengatakan ini padamu: rumah haruslah memiliki dasar yang kuat. Dasar yang tercampur antara zat-zat yang lembut dengan yang kasar.” Si Menteri berkepala porno itu melahap
kopinya. Dari caranya melahap kopi itu (yang bunyi seruputannya bisa didengar oleh orang-orang di luar rumah), terbuka kemungkinan bahwa aku bisa dengan sangat cepat meninju kepalanya.
Kulanjutkan gumamanku, “Maka kukenal dia sebagai bagian dari sari-sari rahim bunda yang mesti kunaungi. Tapi seberapa kuat aku akan membelanya? Di tanah ini, orang seperti Tun adalah hasil dari sebuah hukum semesta yang kekal. Ada penguasa dan ada budak. Hukum itu begitu kuat, nyaris menjadi dasar negeri ini. Sebagian orang tidak terlalu yakin dari hukum biadab itu. Namun apalah artinya berjuang di tanah yang payah ini? Setiap orang yang terjerumus dalam liang itu, telah dengan sendirinya memisahkan diri dari ayahnya.”
Si menteri berkepala botak itu melahap lagi kopinya. Rumah besar ini begitu sunyi, menjelmakan rupa malam dengan wajah yang sungguh asing. “Gerson, aku membangun rumah ini dengan uang yang banyak. Setiap orang yang sempat melihat, bahkan sedikit saja dari keseluruhan rumah ini, harus membayangkan sesuatu yang sama seperti aku bayangkan: uang. Apalah arti sebuah rumah jika tidak ada uang? Iya kan? Maka untuk membangun sebuah rumah yang nyaman, tempat di mana anak-anakmu menghabiskan sisa hidupnya, haruslah didahului dengan ‘uang’. Karena soalnya sederhana: uang bisa sekali menjawab semua kebutuhan dalam hidup.”
Entah muncul dari mana, cerita tentang dongeng dan syair beberapa penyair tua kembali menghinggapiku. Maka kututurkan saja apa yang muncul di kepalaku barusan itu. “Dongeng kepada anak-anak kita tidak lagi kita dengungkan. Penyair-penyair kita
harus mati di tanah yang subur ini, seolah-olah kita hidup dalam zaman yang penuh dengan keputusasaan. Anak-anakmu mestinya kamu dongengkan tentang leluhurnya, atau tentang penyair- penyair kita yang sekarang sebagian besar telah mati muda. Rumahmu yang indah ini mestilah dihiasi dengan beberapa lukisan, atau beberapa sajak dari penyair-penyair kita itu, bukan hanya menawarkan suatu aura kegersangan dalam nurani. Kecuali jika kamu ingin menjadikan anak-anakmu sebagai robot.”
***
Aku menarik napas. Keringat dingin kini memenuhi keningku. Kesenyapan tidak terganggukan sedikitpun oleh pembicaraan kami. Senyap kini menjadi semacam penjaga yang setia menemani kami berdua. Dengan cepat kuangkat cangkir yang ada di hadapanku, melahapnya tanpa sempat menikmati, lalu meletakkannya lagi.
Ketika aku ingin melanjutkan pembicaranku, kudengar si Menteri berkepala porno itu telah dahulu bersuara. “Yang aku resapi, pengeluaran harus lebih sedikit dari penghasilan. Kuajarkan itu kepada anak-anakku, seolah itu adalah wahyu agung dari Tuhan. Kuupayakan sebisa mungkin untuk membuat mereka meresapi itu seperti yang pernah kuresapi, hingga pada akhirnya mereka bisa menjadi manusia-manusia pekerja yang ulet tiada bandingan. Aku sama sekali tidak bisa menolerir imajinasi dan fantasi, karena itu tidak berguna banyak dalam membangun rumah semewah ini. Berpuluh-puluh tahun kututup pintu hatiku dari maraknya hasil imajinasi dan fantasi yang tidak berguna itu,
dan lihatlah hasilnya: sebuah rumah megah telah berdiri, tentu saja dengan uang yang banyak dan hitungan yang sangat akurat.”
Bayangan tentang dongeng dan sajak para penyair yang mati muda pun semakin kental di batok kepala. Karena tidak ada bahan lain yang muncul selain itu, maka kuteruskan saja gumaman tidak jelasku ini. “Sebagian besar penyair kita telah mati dengan sangat mengenaskan. Sedikit sekali yang bernasib baik, namun sebagian besar mereka mati muda, tanpa sempat diingat jejak- jejaknya. Bagai pohon yang tumbuh di musim panas, negeri ini terlalu kekurangan air untuk harus menyiramnya. Buang-buang air! Tapi pak Menteri, mengenal mereka membuatku yakin sebagai manusia. Jikapun kemudian kita harus hidup dengan mengasingkan diri dari imajinasi, meleburkan diri dalam rutinitas yang pasti, kita lambat laun akan berubah jadi hewan yang tidak memiliki perasaan. Pak Menteri, perasaan sangat penting untuk seorang bocah.”
***
Terdengar ketukan. Selang beberapa saat lampu dihidupkan kembali. Aku mencoba berdiri untuk membukakan pintu. Tapi niat itu pudar oleh sorot mata si menteri berkepala porno tersebut. Tatapannya berbicara ‘biarkan saja’. Ina tergesa- gesa membukakan pintu. Dua orang anak, laki dan perempuan, masih dalam pakaian seragam sekolah, beranjak masuk dan menghilang ke dalam rumah. Raut wajah mereka menggambarkan keletihan. Ina kembali ke belakang. Tidak lama, sebagian besar lampu kembali dipadamkan.
“Mereka adalah anak-anakku. Yang lelaki itu namanya Tono. Dia sekolah pilot. Aku menginginkan anak sulungku itu menjadi penyelamat dunia. Pelajaran-pelajaran ilmu pasti akan membuatnya cepat menjadi seperti yang aku inginkan. Tapi aku dengar dia sering berkelahi dengan teman-temannya. Beberapa laporan dari guru-gurunya, bahwa dia tidak terlalu menghargai mereka. Aku tidak terlalu mempersoalkan hal itu, toh dia masih muda. Iya kan?” Sejenak dia terdiam. Ungkapan hati tentang anaknya terasa begitu dingin, berat, dan seolah dipaksakan.
***
Setelah ungkapan hati terdalamnya terhadap anak sulungnya itu, dia diamkan diri beberapa saat. Kesunyian kembali menerpa kami. Dalam kesunyian itu, aku membayangkan bahwa kelak akupun pasti memiliki anak. Dua orang, laki dan perempuan, seperti si menteri inipun cukuplah. Bahagia sekali membayangkan mereka akan dibesarkan, disekolahkan, lalu mendapatkan pekerjaan yang cocok. Namun membayangkan wajah anak-anakku menjalani hidup dalam keseriusan, hanya karena mereka harus melaksanakan hukum Tuhan, aku akhirnya tak rela. Lamunan itu perlahan-lahan menjadi mimpi buruk. Kebisuan antara kami berdua yang terjadi cukup lama ini membuatku semakin tak nyaman.
Anak-anaknya mungkin saja sudah menyelesaikan makan malam dan sudah lelap di kasur empuk pada kamar masing- masing. Rasa lapar tiba-tiba menyerangku. Begitu susahnya menahan rasa lapar itu, sampai-sampai beranjak untuk ke kamar kecil saja hatiku enggan. Si Ina tidak lagi terdengar suaranya.
Si Menteri kembali melahap kopinya. Bunyi seruputannya membuatku semakin jengkel. “Yang bungsu itu namanya Tini. Dia sekolah kejuruan bergengsi di kota ini. Dia harus belajar ilmu penjualan penawaran karena tanpa itu dia akan menghabiskan sisa hidupnya tanpa arah yang jelas. Dia tidak boleh sama dengan ibunya, yang pergi ke mana saja sesuka hatinya, membuahkan kesepian yang dalam. Untunglah aku memiliki si Ina, yang siap membasuh kesepianku ini.” Dia tersenyum. “Anak-anakku harus mempelajari hal-hal pasti agar mereka menemukan kemujuran di hari-hari ke depannya. Humaniora dan syair akan membuat mereka bingung dan suka menghayal!”
Lapar kembali meninju perutku. Cangkir di hadapanku telah habis kuteguk. Kepalaku pening, diisi hal-hal mengerikan yang baru saja kudengar.
“Sudah larut. Kamu harus pulang,” katanya.
Ketika membukakan pintu gerbang emasnya, dia menatapku kecut sambil berujar, “Aku heran. Perjumpaan kita yang membuang waktu begitu banyak. Kamu tidak sekalipun mengeluarkan kata-kata. Tapi inilah rumahku. Sering-sering mampirlah kemari.”
Aku mengangguk.. Perutku terlalu lapar. Kutinggalkan rumah itu. Ketika aku menoleh sekedar memastikan tatapan si menteri berkepala porno itu, aku semakin takjub. Rumah indah itu telah rata dengan tanah.
SENANDUNG PEREMPUAN DI BUKIT CINTA