45
BAB IV
46
isteri.7 Kalimat yang digunakan harus jelas, misal kata talak, firaq, tasrih semua mengandung arti cerai. Apabila perceraian menggunakan kalimat sindiran harus disertai penjelasan.
Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian (Pasal 114 KHI). Berdasarkan Pasal 115 KHI bahwa Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
Pasal 116 KHI menjelaskan bahwa perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:
a. salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
b. salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
c. salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
d. salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
e. salah satu pihak mendapat cacat badab atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri;
f. antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
7 Sayid Sâbiq, Fiqh al-Sunnah, Juz II, hlm 241
47 g. suami melanggar taklik talak;
k. peralihan agama tau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.
Talak adalah ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan, dengan cara sebagaimana dimaksud dalam pasal 129, 130, dan 131 (Pasal 117 KHI). Berdasarkan hukum bisa kembali (rujuk) dan tidaknya, talak ada dua macam; yaitu talak raj‟i dan ba‟in.
Talak Raj`i adalah talak kesatu atau kedua, di mana suami berhak rujuk selama isteri dalam masa „iddah (Pasal 118 KHI).
Adapun talak ba‟in ada dua macam, yaitu talak ba‟in shughra dan ba‟in kubra. Pasal 119 KHI menjelaskan sebagai berikut:
1. Talak Ba`in Shughra adalah talak yang tidak boleh dirujuk tetapi boleh akad nikah baru dengan bekas suaminya meskipun dalam iddah.
2. Talak Ba`in Shughraa sebagaimana tersebut pada ayat (1) adalah :
a. talak yang terjadi qabla al dukhul;
b. talak dengan tebusan atau khuluk;
c. talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama.
Talak Ba`in Kubraa adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahkan kembali, kecuali apabila pernikahan itu dilakukan setelah bekas isteri, menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba`da al dukhul dan hadis masa iddahnya (Pasal 120 KHI). Perceraian itu terjadi terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang pengadilan
48
(Pasal 123 KHI). Li`an menyebabkan putusnya perkawinan antara suami isteri untuk selama-lamanya (Pasal 125 KHI).
Hukum Thalak
Hukum perceraian ada beberapa macam, yaitu:
a) Makruh yang cenderung ke haram, jika thalak tanpa ada sebab yang jelas berdasarkan hadis Rasulullah sebagai berikut:
ِْيَْغ ِتٓ اًق َلاَط اَهَجْوَز ْتَلَأَس ٍةَأَرْما اَُّيَأ َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص ِوَّللا ُؿوُسَر َؿاَق ٌـاَرَحَف ٍسْأَب اَم ةَّنَْلِا ُةَحِئاَر اَهْػيَلَع
وجام نباو دواد وباو دحْا هاور(
)يذمترلاو
Rasulullah bersabda: „”Siapa pun perempuan yang meminta cerai tanpa adanya alasan yang membolehkan, maka haram baginya bau surga.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)
b) Nadb/sunnah: jika Rumah Tangga tidak dapat dilanjutkan.
Misalnya, terjadi percekcokan di antara suami isteri dan tidak bisa didamaikan, maka perceraian merupakan sesuatu yang mesti dilakukan.
فِإآَهِلْىَأ ْنّْم اًمَكَحَو ِوِلْىَأ ْنّْم اًمَكَح اوُثَعْػباَف اَمِهِنْيَػب َؽاَقِش ْمُتْفِخ ْفِإَو اًيِْبَخ اًميِلَع َفاَك َللها َّفِإآَمُهَػنْػيَػب ُللها ِقّْفَوُػي اًحَلاْصِإآَديِرُي
{ }35
35. Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah
49
memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
c) Mubah/boleh: tidak ada pihak yang dirugikan tetapi ada manfaat. Misalnya, jika suami atau isteri tidak dapat menjalankan fungsinya dalam keluarga.
d) Wajib: jika suami meng-ila‟ dan tidak membayar kaffarat. Meng-ilaa' isteri maksudnya: bersumpah tidak akan mencampuri isteri. Dengan sumpah ini seorang wanita menderita, karena tidak disetubuhi dan tidak pula diceraikan. Dengan turunnya ayat ini, maka suami setelah 4 bulan harus memilih antara kembali menyetubuhi isterinya lagi dengan membayar kafarat sumpah atau menceraikan.
Dalam Surat Al-Baqarah, Allah berfirman:
ُُُروُفَغ َللها َّفِإَف وُءآَف ْفِإَف ٍرُهْشَأ ِةَعَػبْرَأ ُصُّبَرَػت ْمِهِئآَسّْن نِم َفوُلْؤُػي َنيِذَّلّْل ُُُميِحَّر
{ }226
ُُُميِلَع ٌعيَِسَ َللها َّفِإَف َؽَلاَّطلا اوُمَزَع ْفِإَو
{ }227
226. Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
227. Dan jika mereka ber-'azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
e) Haram jika mentalak isteri dalam keadaan haid atau suci setelah digauli (hubungan badan), berdasarkan hadis sebagai berikut:
50
ِوَّللا ِؿوُسَر ِدْهَع ِتْ ٌضِئاَح َىِىَو ُوَتَأَرْما َقَّلَط ُوَّنَأ 3 َرَمُع ِنْبا ِنَع
للها ىلص
ملسو ويلع ِوَّللا َؿوُسَر ُوْنَع ُوَّللا َىِضَر ِباَّطَْلْا ُنْب ُرَمُع َؿَأَسَف
للها ىلص
ملسو ويلع ِوَّللا ُؿوُسَر ُوَل َؿاَقَػف َكِلَذ ْنَع
-لع للها ىلص ملسو وي
ُهْرُم «3
ْفِإَو ُدْعَػب َكَسْمَأ َءاَش ْفِإ َُّتّ َرُهْطَت َُّتّ َضيَِتَ َُّتّ َرُهْطَت َّتََّح اَهْكُرْػتَيِل َُّتّ اَهْعِجاَرُػيْلَػف ّْنلا اََلِ َقَّلَطُي ْفَأ َّلَجَو َّزَع ُوَّللا َرَمَأ ِتََّّلا ُةَّدِعْلا َكْلِتَف َّسََي ْفَأ َلْبَػق َقَّلَط َءاَش ُءاَس
ِوْيَلَع ٌقَفَّػتُم »
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya dia mentalak isterinya yang sedang haidh di masa Rasulullah saw. Kemudian Umar bin al-Khaththab Ra. bertanya tentang masalah tersebut kepada Rasulullah saw. Selanjutnya, Rasulullah saw berkata kepada Umar:
“Perintahkanlah dia (Ibnu Umar) untuk merujuk isterinya, kemudian tahan sampai suci, kemudian haid lagi, kemudian suci lagi.
Selanjutnya jika mau, dia bisa pertahankan dan jika mau dia bis amenceraikannya sebelum disetubuhi. Itulah iddah yang Allah perintahkan talak kepada wanita“. (HR. Bukhari Muslim).
Thalak ditinjau dari keadaan isteri
Macam-macam thalak berdasarkan keadaan isteri ada dua macam, yaitu thalak sunni dan bidh‟i.
1. Talak sunni (yang sesuai dengan sunnah): QS. al-Thalaq/65:1
َّبَر َللها اوُقَّػتاَو َةَّدِعْلا اوُصْحَأَو َّنِِتَِّدِعِل َّنُىوُقّْلَطَف َءآَسّْنلا ُمُتْقَّلَط اَذِإ ِبَّنلا اَهُّػيَأاَي ْمُك
ِم َّنُىوُجِرُْتََلا ِللها ُدوُدُح َكْلِتَو ٍةَنّْػيَػبُم ٍةَشِحاَفِب َيِْتْأَي فَأ َّلآِإ َنْجُرَْيََلاَو َّنِِتِوُيُػب ن
اًرْمَأ َكِلَذ َدْعَػب ُثِدُْيَ َللها َّلَعَل يِرْدَتَلا ُوَسْفَػن َمَلَظ ْدَقَػف ِللها َدوُدُح َّدَعَػتَػي نَمَو
{ }1
51
Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru 2. Talak bid'ah (yang tidak sesuai dengan sunnah):
QS. al-Thalaq/65:1
• Talak tiga: QS. al-Baqarah/2:229
فَأ ْمُكَل ُّلَِيَ َلاَو ٍفاَسْحِإِب ُحيِرْسَت ْوَأ ٍؼوُرْعَِبِ ُُُؾاَسْمِإَف ِفاَتَّرَم ُؽَلاَّطلا َحاَنُج َلاَف ِللها َدوُدُح اَميِقُي َّلاَأ آَفاََيَ فَأ َّلآِإ اًئْيَش َّنُىوُمُتْيَػتاَء اَِّمّ اوُذُخْأَت ُدوُدُح َكْلِت ِوِب ْتَدَتْػفا اَميِف اَمِهْيَلَع ِللها َدوُدُح َّدَعَػتَػي نَمَو اَىوُدَتْعَػت َلاَف ِللها
َفوُمِلاَّظلا ُمُى َكِئَلاْوُأَف
{ }229
Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.
Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya[144]. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.
52
Kedua thalak di atas dijelaskan dalam KHI Pasal 121 dan Pasal 122.
Pasal 121 : Talak sunny adalah talak yang dibolehkan yaitu talak yang dijatuhkan terhadap isteri yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci tersebut.
Pasal 122 : Talak bid`i adalah talak yang dilarang, yaitu talak yang dijatuhkan pada waktu isteri dalam keadaan haid atau isteri dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri pada waktu suci tersebut.
Dasar Hukum tentang disyariatkannya talak adalah Al-Qur‟an dan sunnah.
1. QS. al-Baqarah/ 2:227 :
ٌميِلَع ٌعيَِسَ َللها َّفِإَف َؽَلاَّطلا اوُمَزَع ْفِإَو
{ }227
Dan jika mereka ber'azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
QS, al-Baqarah/ 2:229 :
اَِّمّ اوُذُخْأَت فَأ ْمُكَل ُّلَِيَ َلاَو ٍفاَسْحِإِب ُحيِرْسَت ْوَأ ٍؼوُرْعَِبِ ٌؾاَسْمِإَف ِفاَتَّرَم ُؽَلاَّطلا َّلآِإ اًئْيَش َّنُىوُمُتْيَػتاَء اَميِف اَمِهْيَلَع َحاَنُج َلاَف ِللها َدوُدُح اَميِقُي َّلاَأ آَفاََيَ فَأ
ُمُى َكِئَلاْوُأَف ِللها َدوُدُح َّدَعَػتَػي نَمَو اَىوُدَتْعَػت َلاَف ِللها ُدوُدُح َكْلِت ِوِب ْتَدَتْػفا َفوُمِلاَّظلا
{ }229
Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.
Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah
53
kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim
Lihat pula :QS. al-Baqarah /2:230, 2:232, 2:236, QS. al-Nisa 4:130, QS. al-Ahzab/33:49
Allah menetapkan hukum talak sebagai salah satu hukum dalam syari‟at walaupun tidak dikehendaki. Hikmah talak adalah menghindari terjadinya hal-hal yang lebih buruk dalam rumah tangga. Ketika terjadi perselisihan antara pasangan saumi isteri yang tidak bisa didamaikan maka perceraian merupakan alternative untuk menghindari terjadinya hal-hal yang lebih buruk, seperti penganiayaan yang terkadang membawa sampai kematian.
Upaya menghindari terjadinya thalak antara lain adanya hubungan harmonis antara suami isteri. Misalnya dengan selalu melakukan hubungan komunikasi yang baik.
Gambaran komunikasi yang baik adalah sebagai berikut:
َّرَس اَهْػيَلِإ َتْرَظَن اَذِإ ٌةَأَرْما ِءاَسّْنلا ُرْػيَخ اَهْػنَع َتْبِغ اَذِإَو َكْتَعاَطَأ اَهَػتْرَمَأ اَذِإَو َكْت
َكِلاَمَو اَهِسْفَػن ِتٓ َكْتَظِفَح )هيْغو ئاسنلا هاور(
“Sebaik-baik wanita adalah yang apabila kamu memandangnya kamu akan senang, apabila kamu perintah ia patuh kepadamu.
Apabila kamu beri bagian ia akan menerima, apabila kamu
54
pergi ia akan menjaga dirinya dan menjaga hartamu”. (HR.
Nasa‟i, dll).
Pasangan suami isteri hendaknya menjaga hubungan agart tetap harmonis. Apabila berkomunikasi hendaknya dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
• Berorientasi pada kebenaran (truth), jelas
• Jujur, tulus (sincerely)
• Ramah dan bersahabat
• Kesungguhan (seriousness)
• Ketenangan (poise)
• Mau mendengarkan dengan baik (good listener)
• Bisa menerima (responsif)
Akibat Putusnya Perkawinan
Pasal 149 menjelaskan Akibat Talak. Apabila perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib :
a. memberikan mut`ah yang layak kepada bekas isterinya, baik berupa uang atau benda, kecuali bekas isteri tersebut qobla al dukhul;
b. memberi nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas isteri selama dalam iddah, kecuali bekas isteri telah dijatuhi talak ba‟in atau nusyuz dan dalam keadaan tidak hamil;
c. melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya, dan separuh apabila qobla al dukhul;
d. memberikan biaya hadhanah untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun.
Bekas suami berhak melakukan ruju` kepada bekas istrinya yang masih dalam iddah (Pasal 150 KHI). Bekas isteri selama dalam „iddah, wajib menjaga dirinya, tidak menerima
55
pinangan dan tidak menikah dengan pria lain (Pasal 151 KHI).
Bekas isteri berhak mendapatkan nafkah iddah dari bekas suaminya kecuali ia nusyuz (Pasal 152 KHI).
„Iddah
„Iddah (al-„iddah atau al-ihshâ) menurut bahasa bermakna hitungan. Dinamakan demikian karena seorang wanita menghitung masa suci atau bulan secara umum dalam menunggu selesainya masa „iddah. Masa „iddah menurut istilah yaitu sebutan atau nama suatu masa dimana seorang wanita menanti atau menangguhkan perkawinan setelah dia ditinggal mati suaminya atau setelah diceraikan baik dengan menunggu kelahiran bayi atau berakhirnya beberapa quru‟
atau berakhirnya beberapa bulan yang telah ditentukan.
„Iddah ditetapkan syari‟at memiliki beberapa hikmah, yaitu:
1. Untuk memastikan apakah seorang wanita itu sedang hamil atau tidak.
2. Untuk menentukan kejelasan keturunan bagi seorang anak dalam kandungan apabila seorang perempuan dicerai.
3. Masa „iddah dapat digunakan untuk berenung bagi laki-laki dan perempuan yang hendak bercerai agar dapat kembali bersatu menghindari perceraian.
4. Masa „iddah ditetapkan untuk menjaga hak-hak janin berupa nafkah dalam masa „iddah jika ibunya dicerai.
Secara historis, istilah „iddah sudah dikenal sejak zaman jahiliyah. Kemudian Islam menetapkan hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah sebagai berikut:
56
ِتٓ ُللها َقَلَخاَم َنْمُتْكَي فَأ َّنَُلِ ُّلَِيََلاَو ٍءوُرُػق َةَثَلاَث َّنِهِسُفْػنَأِب َنْصَّبَرَػتَػي ُتاَقَّلَطُمْلاَو ْفِإ َكِلَذ ِتٓ َّنِىّْدَرِب ُّقَحَأ َّنُهُػتَلوُعُػبَو ِرِخَلأْا ِـْوَػيْلاَو ِللهاِب َّنِمْؤُػي َّنُك فِإ َّنِهِماَحْرَأ َرَأ ُللهاَو ٌةَجَرَد َّنِهْيَلَع ِؿاَجّْرلِلَو ِؼوُرْعَمْلاِب َّنِهْيَلَع يِذَّلا ُلْثِم َّنَُلَِو اًحَلاْصِإ اوُدا
ٌميِكَح ٌزيِزَع
{ }228
228. Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat di atas menjelaskan tentang (iddah bagi wanita ditalak dan belum haidh atau sudah putus dari haidh) yaitu tiga kali suci/ haidh. Adapun „iddah wanita yang ditalak saat hamil adalah sampai melahirkan berdasarkan Surat al-Thalaq/65 ayat 4 yang berbunyi:
ُهْشَأ ُةَثَلاَث َّنُهُػتَّدِعَف ْمُتْبَػتْرا ِفِإ ْمُكِئآَسّْن نِم ِضيِحَمْلا َنِم َنْسِئَي ىِئَّلااَو ىِئَّلااَو ٍر
ْنِم ُوَّل لَعَْيَ َللها ِقَّتَػي نَمَو َّنُهَلِْحْ َنْعَضَي فَأ َّنُهُلَجَأ ِؿاَْحَْلأْا ُتَلاْوُأَو َنْضَِيَ َْلَّ
اًرْسُي ِهِرْمَأ
{ }4
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan yang tidak haid. Dan
perempuan-57
perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.
Ayat di atas menyebutkan „iddah wanita yang sudah terputus dari hadih atau wanita yang tidak pernah haidh yaitu tiga bulan. Sementara wanita yang sedang hamil waktu „iddahnya sampai melahirkan.
„Iddah Wanita yang ditinggal mati adalah empat bulan sepuluh hari berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 234 yang berbunyi sebagai berikut :
ْشَأ َةَعَػبْرَأ َّنِهِسُفنَأِب َنْصَّبَرَػتَػي اًجاَوْزَأ َفوُرَذَيَو ْمُكنِم َفْوَّػفَوَػتُػي َنيِذَّلاَو اَذِإَف اًرْشَعَو ٍرُه
َو ِؼوُرْعَمْلاِب َّنِهِسُفنَأ ِتٓ َنْلَعَػف اَميِف ْمُكْيَلَع َحاَنُج َلاَف َّنُهَلَجَأ َنْغَلَػب اَِبِ ُللها
يِْبَخ َفوُلَمْعَػت
{ }234
234. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Dengan demikian „iddah wanita yang ditalak itu adalah sebagai berikut:
1. Tiga bulan
2. Tiga kali suci / haidh 3. Empat bulan sepuluh hari 4. Sampai melahirkan
58