• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perdagangan Internasional 1. Komoditas Tanaman Pangan

Sesuai dengan target swasembada berkelanjutan untuk padi dan swasembada untuk jagung dan kedelai dan berbagai upaya peningkatan produksi yang dilakukan oleh pemerintah, serta berdasarkan trend historis nilai ekspor dan nilai impor beberapa komoditas pangan selama 2000-2010, diproyeksikan bahwa selama periode 2011-2014 pertumbuhan nilai ekspor masih akan bertanda positip, sedangkan pertumbuhan nilai impor akan bertanda negatif. Artinya, nilai impor diharapkan akan berkurang meskipun neraca perdagangan masih tetap mengalami deficit karena nilai impor masih lebih besar daripada nilai ekspor.

Meskipun pemerintah mentargetkan mampu berswasembada jagung dan kedele pada tahun 2014, secara agregat neraca perdagangan komoditas pangan pada tahun 2014 diproyeksikan masih akan tetap negatif, terutama untuk kedelai. Tingginya defisit neraca perdagangan kedelai disebabkan impor kedelai yang sangat tinggi karena produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan. Selama ini rasio ketergantungan terhadap impor kedelai

dipenuhi melalui impor. Dengan melihat trend historis nilai ekspor dan nilai impor komoditas pangan utama yang sangat fluktuatif, maka lebih sulit untuk mendapatkan proyeksi yang akurat mengenai nilai ekspor, nilai impor dan neraca perdagangan.

Tabel 4.2.1. Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Pangan Utama, 2014.

Komoditas

Nilai Ekspor Nilai Impor Neraca 2014

Keterangan: Data proyeksi 2011-2014 diperlihatkan pada Lampiran 4.2.1.

Laju pertumbuhan nilai ekspor selama periode 2011-2014 diproyeksikan hanya akan mencapai 1,55%/tahun untuk beras, 3,18%/tahun untuk jagung, dan 2,13%/tahun untuk kedelai (Tabel 4.2.1). Ekspor kedelai Indonesia selama ini sebagian besar dalam bentuk kedelai olahan yaitu kecap, dan negara tujuan ekspor utama adalah Australia, Arab Saudi dan Belanda. Sementara nilai impor komoditas pangan pada periode yang sama diproyeksikan akan menurun karena upaya untuk mencapai target swasembada yang semakin gencar.

4.2.2. Komoditas Hortikultura

Proyeksi nilai ekspor dan impor komoditas buah-buahan dan sayuran utama tahun 2014 diperlihatkan pada Tabel 4.2.2. Total nilai ekspor buah-buahan dan sayuran pada tahun 2014 diproyeksikan masing-masing adalah sekitar US$ 15.3 juta dan US$ 31.3 juta, sementara total nilai impornya

masing-perdagangan komoditas buah-buahan dan sayuran pada tahun 2014 diproyeksikan akan mengalami deficit sekitar US$ 46.1 juta untuk buah-buahan, dan surplus sekitar US$ 4.9 juta untuk sayuran. Dengan kata lain, perdagangan buah-buahan dan sayuran pada tahun 2014 diproyeksikan akan mengalami defisit sekitar US$ 41.2 juta.

Tabel 4.2.2. Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Buah-buahan dan Sayuran Utama, 2014.

Komodiitas

Nilai Ekspor Nilai Impor Neraca 2014

Alpukat 21.15 149.3 0.97 -14.48 10.4 0.02 138.9 Durian 9.88 10.9 0.07 9.02 49,020.9 79.87 -49,010.0 Jb Biji 28.00 366.4 2.39 -26.62 22.5 0.04 343.8 Jeruk -41.27 28.4 0.19 -24.36 7,977.7 13.00 -7,949.4 Mangga 3.41 1,218.2 7.95 7.14 1,076.7 1.75 141.5 Nenas -20.92 16.1 0.10 17.77 102.7 0.17 -86.7 Pepaya 4.88 124.6 0.81 26.48 1,008.7 1.64 -884.0 Pisang -44.73 18.1 0.12 24.40 2,142.7 3.49 -2,124.6 Rambutan 2.96 381.1 2.49 -4.49 10.2 0.02 370.9 Manggis 10.41 13,010.4 84.91 -25.73 2.1 0.00 13,008.3 Total 15,323.5 100 61,374.7 100 -46,051.2 Kentang -10.59 1,550.1 4.96 10.79 21,986.3 83.34 -20,436.3 Ketimun 24.80 2,083.9 6.67 -26.18 14.6 0.06 2,069.3 Kol/Kubis -24.36 2,325.9 7.45 -9.85 433.8 1.64 1,892.1

Terung -75.76 0 0 20.33 0.6 0 -0.6

Tomat 17.44 6,397.1 20.48 -33.24 11.0 0.04 6,386.1 Wortel 26.13 15,717.9 50.32 10.62 0 0 15,717.9 Total 31,236.3 100 26,380.3 100 4,856.0 Sumber: Hasil proyeksi.

Keterangan: Data proyeksi 2011-2014 diperlihatkan pada Lampiran 4.2.2 dan Lampiran 4.2.3.

mempunyai pangsa nilai ekspor hampir 85% sedangkan mangga menempati urutan kedua dengan pangsa nilai hampir 8%. Sementara komoditas impor utama adalah durian yang mempunyai pangsa nilai impor hampir 80%, dan urutan kedua ditempati jeruk dengan pangsa nilai 13%.

Untuk sayuran, komoditas ekspor wortel yang pada tahun 2014 diproyeksikan akan merupakan komoditas yang menonjol dengan pangsa nilai ekspor lebih dari 50%, sedangkan tomat menempati urutan kedua dengan pangsa nilai lebih dari 20%. Komoditas lainnya yang patut diperhitungkan adalah bawang merah, kubis/kol dan ketimun dengan pangsa nilai masing-masing-masing 7.6%, 7.5% dan 6.7%. Sementara komoditas sayuran impor utama adalah kentang dengan pangsa nilai impor lebih dari 83%, dan urutan kedua ditempati bawang putih dengan pangsa nilai hampir 7%.

Dilihat dari neraca perdagangan (nilai ekspor dikurangi nilai impor), komoditas yang mendatangkan surplus terbesar adalah manggis untuk buah-buahan dan wortel untuk sayuran. Sementara komoditas yang mempunyai sumbangan deficit terbesar adalah durian untuk buah-buahan dan kentang untuk sayuran. Posisi surplus/deficit perdagangan komoditas-komoditas lainnya, baik buah-buahan maupun sayuran ditunjukkan pada Tabel 4.2.2 tersebut di atas.

Komoditas tanaman obat dan tanaman hias juga diekspor dan/atau diimpor oleh Indonesia. Namun dari sekian banyak jenis tanaman obat dan tanaman hias hanya beberapa jenis saja yang ada datanya, yaitu jahe, kunyit dan temulawak untuk tanaman obat serta krisan, mawar dan anggrek untuk tanaman hias. Temu lawak pada tahun 2014 sudah tidak diekspor lagi.

Pada tahun 2014, total nilai ekspor dan impor tanaman obat diproyeksikan masing-masing adalah sekitar US$ 2.9 juta dan US$ 4.1 juta, yang berarti deficit US$ 1.2 juta (Tabel 4.2.3). Sementara total nilai ekspor dan impor tanaman hias masing-masing adalah sekitar US$ 6.0 juta dan US$ 0.4 juta, yang berarti surplus sekitar US$ 5.6 juta. Total nilai perdagangan tanaman obat dan tanaman hias diproyeksikan akan mengalami surplus US$ 4.4 juta

tersebut, hanya jahe yang mengalami defisit perdagangan, sedangkan lima komoditas lainnya mengalami surplus.

Tabel 4.2.3. Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Tanaman Obat dan Tanaman Hias Utama, 2014.

Komoditas

Nilai Ekspor Nilai Impor

Neraca

Jahe 6.68 1,694 58.64 21.70 3,993 96.75 -2,299 Kunyit 8.69 1,195 41.36 19.48 134.3 3.25 1,061

Temulawak 0 0 0 0 0 0 0

Total 2,889 100 4,127 100 -1,238

T. Hias:

Krisan 17.81 2,693 44.86 33.93 146 39.27 2,547 Mawar 24.94 2,286 38.09 13.97 225 60.63 2,061 Anggrek 3.68 1,024 17.06 -15.26 0.4 0.10 1,024

Total 6,003 100 371 100 5,632

Sumber: Hasil proyeksi.

Keterangan: Data proyeksi 2011-2014 diperlihatkan pada Lampiran 4.2.4 dan Lampiran 4.2.5.

4.2.3. Komoditas Perkebunan

Total nilai ekspor dan impor komoditas perkebunan pada tahun 2014 diproyeksikan akan mencapai masing-masing sekitar US$ 49.8 juta dan US$ 2.4 juta, yang berarti mengalami surplus yang cukup besar yaitu sekitar Rp 47.4 juta (Tabel 4.2.4). Komoditas ekspor yang memberikan sumbangan devisa terbesar adalah kelapa sawit dengan pangsa nilai lebih dari 67%, sementara urutan kedua adalah karet dengan pangsa hampir 21%. Kakao dan kopi masing-masing mempunyai pangsa sekitar 5.6% dan 2.1%.

Untuk impor, komoditas utama adalah gula dengan pangsa nilai impor hampir 52% pada tahun 2014. Komoditas lainnya yang menempati urutan kedua dan ketiga masing-masing adalah tembakau dan kakao dengan pangsa nilai impor masing-masing 25.7% dan 10.4%.

tembakau yang mengalami deficit nilai perdagangan, utamanya gula yang mencapai lebih dari US$ 1.1 juta. Sementara delapan komoditas lainnya adalah pencipta devisa negara.

Tabel 4.2.4. Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Perkebunan Utama, 2014.

Kelapa Sawit 25.61 33,393 67.04 19.82 88.0 3.60 33,305 Karet 11.43 10,302 20.68 21.43 92.8 3.80 10,209

Kakao 16.57 2,793 5.61 13.47 254 10.38 2,539

Kopi 9.19 1,035 2.08 25.66 83.5 3.42 951

Kelapa 8.49 835 1.68 -44.82 0.2 0.01 835

Tembakau 17.12 561 1.13 10.94 628 25.69 -66

Lada 24.55 536 1.08 25.03 5.6 0.23 530

Teh 6.79 212 0.43 14.95 29.3 1.20 183

Tebu/gula 19.69 136 0.27 5.28 1,260 51.56 -1,124

Cengkeh -19.97 5 0.01 21.23 2.6 0.11 2.1

Total 49,807 100 2,444 100 47,364

Sumber: Hasil proyeksi.

Keterangan: Data proyeksi 2011-2014 diperlihatkan pada Lampiran 4.2.6.

4.2.4. Komoditas Peternakan

Komoditas peternakan yang diperdagangkan terdiri dari daging (sapi, kambing/domba, babi, ayam), hati/jeroan, ternak hidup (sapi, kerbau, babi, kambing), telur konsumsi dan produk susu. Pada tahun 2010 sudah tidak ada lagi ekspor daging sapi, babi dan ayam, sehingga pada tahun 2014 diproyeksikan tetap tidak ada lagi ekspor jenis daging tersebut (Tabel 4.2.5).

Ekspor daging kambing/domba (kado) tahun 2014 diproyeksikan masih akan ada yaitu US$ 349 ribu. Nilai impor daging sapi dan daging kado masih akan meningkat, sedangkan nilai impor daging babi dan ayam menurun. Pada tahun 2014 diproyeksikan bahwa perdagangan semua jenis daging akan mengalami deficit dengan jumlah defisit terbesar pada impor daging sapi.

Komoditas

2. Hati/jeroan 9.93 33,059 16.24 0.66 108,573 5.76 -75,514

3. Ternak: 5. Produk susu 7.68 135,123 66.38 5.34 776,826 41.23 -641,703

Total 203,545 100 1,883,989 100

-1,680,444 Sumber: Hasil proyeksi.

Keterangan: Data proyeksi 2011-2014 diperlihatkan pada Lampiran 4.2.7.

Untuk perdagangan hati/jeroan, pada tahun 2014 diproyeksikan bahwa nilai impor akan mencapai sekitar US$ 33.1 ribu, sedangkan nilai impornya jauh lebih besar yaitu sekitar US$ 108.6 juta. Karena itu, perdagangan hati/jeroan akan mengalami deficit dengan jumlah besar yaitu sekitar US$ 75.5 juta.

Untuk ternak hidup (ternak pedaging), Indonesia hanya melakukan ekspor babi dan kambing, sedangkan ternak sapi dan kerbau tidak diekspor.

Pada tahun 2014, nilai ekspor ternak babi dan kambing akan mencapai masing-masing sekitar US$ 34.6 juta dan US$ 145 ribu. Sementara itu, impor ternak hidup hanya untuk sapi, kerbau dan kambing potong dengan ternak sapi sebagai komponen impor utama yang nilainya pada tahun 2014 diproyeksikan akan mencapai sekitar US$ 562.3 juta sehingga jumlah deficit perdagangan akan sebesar itu juga karena tidak ada ekspor. Defisit perdagangan akan dialami juga oleh ternak kerbau, sementara surplus perdagangan akan terjadi pada ternak babi dan kambing.

tahun 2014, nilai ekspor dan impor telur konsumsi mencapai masing-masing US$ 289 ribu dan US$ 6.7 juta, sehingga akan terjadi deficit sekitar US$ 6.3 juta. Sementara untuk produk susu, pada tahun yang sama nilai ekspor dan impornya akan mencapai masing-masing sekitar US$ 135.1 juta dan US$ 776.8 juta sehingga akan terjadi deficit sekitar US$ 641.7 juta.

Total nilai ekspor dan impor seluruh komoditas peternakan pada tahun 2014 diproyeksikan akan mencapai masing-masing sekitar US$ 203.5 juta dan US$ 1.88 milyar, sehingga akan terjadi deficit perdagangan sangat besar yaitu sekitar US$ 1.68 milyar. Penyumbang nilai ekspor terbesar adalah produk susu yaitu 66.38%, sementara penyumbang nilai impor utama adalah juga produk susu, disamping ternak sapi bakalan dan daging sapi, yaitu masing-masing 41.23%, 29.84% dan 22.28%. Dengan demikian, maka ketiga komoditas tersebut juga merupakan penyumbang utama deficit perdagangan komoditas peternakan. Hanya perdagangan ternak babi dan kambing yang mengalami surplus, namun jumlahnya jauh lebih kecil dibanding nilai deficit pada perdagangan jenis-jenis komoditas lainnya.