• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERDAMAIAN: DAKWAH ISLAM DAN SYIAR ORANG BERIMAN

Dalam dokumen Panorama pemikiran Islam ulama Maroko (Halaman 140-158)

Said Bensaeed al-Alaoui

Berangkat dari hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan lain-lain: “Islam apakah yang paling baik?: memberi makan dan mengucapkan salam terhadap orang yang kamu kenal atau tidak kamu kenal”.

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta. Aku memuja-Nya sebagaimana harusnya bagi keagungannya. Aku bersyukur kepada-Nya karena segala anugerah dan karunia-Nya. Aku berdoa semoga rahmat dan salam senantiasa diberikan kepada makhluk-Nya yang termulia dan penutup para utusan-Nya, junjungan kami Muhammad dengan seutama-utama selawat dan sesempurna-sempurnanya salam. Maha suci Allah. Segala puji bagi Allah. Tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah.

Yang mulia Amir al-Mukminin, cucu nabi yang terpercaya...

Semoga Allah menjadikan hari-harimu dipenuhi kebaikan dan kebahagiaan, penuh dengan kemuliaan dan kebajikan. Semoga Allah melanggengkan majlismu yang agung sebagai mercusuar ilmu dan kiblat para ulama. Semoga ia membalas dengan kebaikan karena tradisi yang terpuji ini. Dengan melayani Durus Hassaniyah ini, engkau membela Islam, menjaga janji orang tuamu, semoga Allah mensucikan ruhnya dan memeliharamu sebagaimana Ia memelihara al-Qur’an al-Karim.

Presentasi ini – yang saya merasa terhormat menyampaikannya di hadapanmu, yang mulia—adalah buah pencerahan pemikiran

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 134 tentang makna hadits nabi yang kami telah kami sampaikan bahwa seseorang –ada yang mengatakan bahwa beliau adalah Abu Dzar al-Ghifari—bertanya kepada junjungan kita Rasulullah SAW :

“Islam apakah yang paling bagus?”. Jawab Nabi SAW, “engkau memberi makan (orang yang memerlukan) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal”.

Apa yang ingin kami gugah, sebagaimana Allah memudahkan kami untuk memahaminya, adalah bahwa jawaban Nabi –ketika kita merenunginya secara mendalam—adalah jawaban yang pada hakikatnya mengandung berbagai makna. Di antara makna-makna tersebut, apa yang dipahami secara langsung, makna yang berada dalam jangkauan orang awam. Ada juga makna yang tidak bisa dipahami secara langsung. Memahaminya menuntut usaha dan meneliti kemungkinan-kemungkinan makna ungkapan berbahasa Arab terhadap hakikat (makna sebenarnya) dan majaz (makna kiasan).

Ada juga makna –kategori ketiga—lebih jauh dan lebih samar.

Memahaminya memerlukan pendakian nalar ke tingkat yang tidak bisa digapai oleh kebanyakan orang. Bahwa ia –pada hakikatnya—

hanya mudah dipahami oleh mereka yang tanggung jawabnya menanjak ke tingkat tertinggi dari pengetahuan dan pemahaman.

Ini tidak mungkin kecuali bagi mereka yang berasal dari level sosial di posisi yang bagi mereka tampak jelas apa yang tidak jelas bagi selain mereka. Dengan demikian, wacana kenabian –dalam pemahaman pribadi dan taksiran saya yang rendah—dalam wacana yang lafadz dan ungkapan-nya satu, namun berbeda makna dan petunjuknya. Penjelasannya adalah bahwa kategori mereka yang diajak bicara (orang kedua) berbeda dan daya tangkap mereka juga berbeda, karena sesuatu yang telah Allah tentukan, dengan persamaan bahwa mereka bertemu dalam kemanusiaan di satu sisi dan tanggung jawab hukum di sisi lain.

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 135 Namun membicarakan panjang lebar tiga tingkat pemahaman yang kami sampaikan tadi memerlukan pengantar: yaitu dengan tiga premis yang akan kami sampaikan secara singkat sebagai berikut:

1. Premis pertama, bahwa hadits nabi, sebagaimana yang telah kami sampaikan, adalah hadits muttafaq alaih (disepakati oleh Bukhari-Muslim) teksnya dari para perawi terkemuka, yaitu Bukhari, Muslim, Ibnu Hanbal.

Bukhari meriwayatkannya di kitab Iman dan al-Isti’dzan di sahih-nya. Muslim meriwayatkan di sahih-nya dengan lafadz yang sama dan sanad yang berbeda. Ibnu Hanbal meriwayatkannya di banyak tempat di kitab Musnad-nya. Dengan lafadz dan sanad yang berbeda, para pemilik kitab sunan yang tiga: Ibnu Majah, an-Nasa’i dan Abu Daud juga meriwayatkanya. Tambahan juga, bahwa hadits ini adalah termasuk perkataan Rasul yang mulia yang tersebar luas, baik lafadz maupun maknanya di perpustakaan-perpustakaan keIslaman kita.

Ia masuk sebagai unsur pembentuk kebudayaan kita secara umum. Dari itu, ia memiliki pengaruh yang kuat pada perilaku seorang muslim. Singkatnya, hadits ini termasuk hadits nabi yang mengundangkan prinsip umum yang mengatur eksistensi sosial umat Islam. Ia yang menggambarkan untuk mereka horizon perbuatan dan perilaku di lingkaran eksistensi kemanusiaan secara umum.

2. Premis kedua berhubungan dengan sifat kata ‘khair’

(kebaikan) sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits.

Sebagaimana yang kita perhatikan, ia ; ‘kata ‘khair’

berbentuk idefinit (nakirah). Ini adalah persoalan yang harus diperhatikan. Karena nakirah dalam kaidah tata bahasa Arab berfungsi istighraq (mencakup semua satuan di bawahnya) sebagaimana dikatakan oleh para ahli tata bahasa, atau berfungsi kemencakupan (syumul) dan keumuman (ithlaq) sebagaimana kita pakai dalam

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 136 pergaulan keilmuan kita sekarang ini. Kadang-kadang menjadi jelas apa yang kita maksud, jika kita memperhatikan bahwa pertanyaan seseorang berbentuk lafadz yang berbeda di salah satu riwayat Muslim di kitab sahih-nya. Riwayat ini menyebutkan: “saya bertanya:

wahai Rasulullah : Islam apakah yang paling utama?. Rasul menjawab: “orang yang umat Islam selamat dari lidah dan tangannya”. Adalah jelas bahwa seorang muslim yang berada di kebaikan tingkat tinggi adalah yang lidah dan tangannya tidak menggangu orang lain, namun bentuk pertanyaannya mengingatkan kita pada kenyataan lain yaitu bahwa pertanyaan tentang sesuatu yang lebih utama meniscayakan adanya yang kurang utama di satu sisi dan yang jauh lebih utama di sisi lain. Sedangkan sifat “khair (lebih atau lebih baik)”: “Islam apakah yang paling baik?”

tidak meniscayakan kelebihutamaan namun ia meniscayakan kondisi stabil yang tidak berubah-ubah.

Sang penanya ingin tahu bagaimana seorang muslim menjadi muslim yang paling baik. Jawaban nabi ini muncul untuk mengusung makna kelengkapan, kemutlakan dan kebebasan dari segala pembatasan; “kepada orang yang kamu kenal atau tidak”. Dengan demikian, jawaban ini mencakup muslim dan non muslim. Ia dengan demikian menunjukkan pemuliaan syariat Islam terhadap nilai kemanusiaan pada diri manusia.

3. Premis ketiga berkaitan dengan kata “as-salam (perdamaian)” dalam semiotika arab. Sebab kata “as-salam” mengandung banyak arti; pengucapan sama dengan makna yang berbeda. Kata ini oleh ahli logika dan ushul (fiqh) disebut “al-asma’ al-musytarikah”.

Ketika kita mencari makna as-salam, kita akan menemukan bahwa artinya adalah: lawan kata perang, ketenangan, menerima Islam sebagai agama yang tidak

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 137 sampai pada tingkat iman yang kuat. “orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah:

"Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk'....” (Q.S. al-Hujurat, 49: 14). Dalam al-Qur’an, ada banyak makna as-salam. As-salam adalah titah Allah kepada para nabi dan utusan-Nya. “salamun ala Nuh fi al-alamin”. “salamun ala Ibrahim”. “salamun ala Musa wa Harun”. “salamun Ala al-mursalin”. As-salam adalah titah Allah kepada manusia-manusia pilihan-Nya. “qul alhamdulillah wa salamun ala ibadih al-ladzina sthafa”.

As-salam adalah kerja yang Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mensetiainya. “ya ayyuha al-ladzina amanu udkhulu fi silmi kaffah”. Di atas semuanya, as-Salam adalah salah satu nama Allah. Di dalam al-Qur’an kita membaca: “س ا ها موسااها دال ها نا إ هاهإ لاذاها نا “ . Dalam hadits yang dikeluarkan oleh al-Bukhari kita membaca bahwa nabi melarang orang yang mengatakan setelah selesai shalat: “assalamu ala Allah”. Nabi mengingatkannya dengan membaca ayat: س ام و و سا حها ياق

ىفطاا ا فذااها ذلدااب ىاال . Karena luasnya pembahasan tentang asma al-husna, as-salam adalah salah satunya, ulama ilmu kalam menulis buku khusus tentang masalah ini sebagaimana yang dilakukan oleh Fakhruddin ar-Razi, al-Baihaqi dan lain-lain. Dari bukunya “al-asma wa as-shifat” karya al-Baihaqi saya mengutip penjelasannya tentang makna as-salam, “as-salam adalah yang selamat dari segala cacat. Cacat tersebut tidak boleh disandang oleh zat yang maha dahulu. Ia boleh disandang oleh makhluk ciptaan karena ia memang adalah ciptaan”.

Pendapat ini didukung oleh mayoritas ahli tafsir sebagaimana yang kami temukan di tafsir dan lain-lain.

Apa yang kita raih dari premis ketiga ini adalah bahwa as-salam dalam rujukan kita –al-kitab dan as-sunnah—

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 138 merupakan konsep dengan makna dan petunjuk yang banyak. Oleh karena itu, ia memiliki eksistensi yang kuat dalam memori keislaman. Eksistensi ini dipenuhi dengan muatan sakralitas yang didengarkan oleh telinga umat untuk kemudian diterjemahkan berbeda sesuai dengan tingkat kemampuan daya tangkap, posisi tanggung jawab dan kedudukan dalam entitas sosial.

Setelah menjelaskan tiga premis tadi, kita akan berusaha untuk menarik tiga level yang diniscayakan oleh sabda rasul, yaitu:

1. Level pertama adalah level pemahaman langsung atau makna zahir yang tidak perlu tafsir atau takwil. Wacana nabi di sini adalah wacana umum yang ditujukan kepada seluruh orang mukallaf, bukan kalangan tertentu saja. Dalam Musnad Ibnu Hanbal, kita membaca riwayat tentang jawaban nabi terhadap orang yang bertanya tentang Islam terbaik dimana jawaban tersebut berbarengan dengan huruf syarat “an”. Beliau bersabda: اعطت ن

س ها نرات و سدعطها

راعت اه اع و هظر ع ىل : memberi makan, dan menyebut salam kepada orang yang kau kenal atau tidak. Seolah-olah beliau menjawab : kalau kamu ingin memperoleh sifat Islam terbaik, maka hendaklah engkau memberi makan dan seterusnya sampai akhir hadits. Jawaban nabi disini bisa dipahami dengan mudah sehingga ia masuk ke nalar dan hati manusia, menggugah perasaan mereka dan mendapat penguatan dari ayat-ayat al-Qur’an. Kita bisa membaca tentang bagaimana sifat orang-orang saleh: “dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 139 mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”. (Q.S. al-Insan, 76: 8-9).

Kita bisa mendapatkan diantara hukum dalam al-Qur’an, bahwa memberi makan orang lain melalui jalur sedekah kepada orang-orang fakir sebagai ganti dari puasa untuk menebus dosa dan memohon pengampunan dari Allah SWT. Memberi makan juga dimaksudkan untuk menebus pelanggaran sumpah: “maka tebusannya adalah memberi makan sepuluh orang miskin”. Memberi makan juga dilakukan untuk tebusan berbuka puasa Ramadlan secara sengaja: maka puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan enam puluh orang miskin. Memberi makan adalah juga salah satu cara untuk menebus pelanggaran salah satu kewajiban haji, bukan rukunnya. “maka membayar tebusan dengan puasa, sedekah atau menyembelih hewan kurban”. Al-Hadyu adalah menyembelih binatang untuk dagingnya dibagikan kepada orang-orang fakir atau bisa juga dengan memberikan sejumlah uang seharga sembelihan tersebut kepada mereka sebagai tebusan yang diharapkan oleh orang berhaji agar dengannya Allah menerima kesenangan (mut’ah) yang ia lakukan dalam rentang umrah dan haji ketika ia sudah pasang niat untuk melakukan keduanya sekaligus.

Sedangkan salam dalam pengertian penghormatan, perintah ketuhanannya adalah jelas yaitu kewajiban untuk membalasnya dengan setimpal atau dengan yang lebih baik. Sedangkan mengucapkan salam di depan pintu adalah perintah Allah untuk meminta izin kepada tuan rumah sebelum masuk ke

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 140 rumahnya; atau tidak masuk ke rumahnya jika memang tuan rumah tidak menghendakinya. Firman Allah SWT : “…janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya…” (Q.S. an-Nuur, 24: 27) adalah dalil pasti bahwa tempat tinggal adalah kehormatan yang harus tidak dilanggar kecuali karena ada alasan terpaksa seperti untuk menghentikan kezaliman atau menolak suatu bahaya. Oleh karena itu, meminta izin adalah untuk memberi ketenangan kepada hamba Allah atas diri, harta milik, menjamin keamanan mereka dan merealisasikan kedamaian secara umum. Alangkah tepat petunjuk hadits nabi yang di-takhrij oleh Ibnu Hanbal dalam Musnad-nya dimana Rasulullah SAW meMusnad-nyampaikan kepada kita, “sembahlah ar-Rahman, sebarkan salam, berilah makan, maka kalian akan masuk surga”.

Betapa membarengkan ibadah, memberi makan dan menyebarkan salam ini layak untuk direnungkan dan kaya akan kandungan makna. Cukuplah hadits ini sebagai dalil atas peringatan Islam bahwa perdamaian tidak akan terwujud kecuali mencakup keamanan yang komprehensif: keamanan jiwa, badan dan harta benda. Keamanan dalam pengertiannya yang komprehensif ini yang dibutuhkan realisasinya saat ini oleh kemanusiaan;

karena disitulah ia medapatkan apa yang diidamkannya, semakin lantang disuarakan di pertemuan-pertemuan internasional untuk mendapatkan bahwa dalam Islam ada prinsip umum dan kaidah pokok yang menanjak sampai pada level ibadah.

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 141 2. Sedangkan level kedua dari tingkat-tingkat

pemahaman hadits nabi yang menjadi tema kita menuntut –sebagaimana kami isyaratkan di muka-- menanjak ke pemahaman yang lebih tinggi dari tingkat pemahaman langsung; di atas makna hakikat yaitu makna metafor (majaz-kinayah). Ini karena pemahaman yang kita bicarakan menuntut pencarian makna tersembunyi di belakang aktivitas memberi makan dan mengungkap rahasia yang tersimpan dalam membaca as-salam (ucapan salam, perdamaian).

Jawaban yang muncul di benak kita adalah bahwa memberi makan merupakan aksi yang bertujuan untuk menggerakkan kesadaran akan adanya masyarakat dan memperhatikan orang fakir yang kekurangan; aksi yang mengundang spirit kasih sayang dan solidaritas sosial. Perasaan akan adanya masyarakat dan kebutuhan untuk bersolidaritas di dalamnya adalah dua persoalan dasar bagi komunitas manusia. Dengan keduanya masyarakat menjadi eksis dan menggapai kebahagiaannya, sebagaimana dijelaskan oleh para filosof dan ilmuwan sosial; sebagaimana hukum dan undang-undang berusaha untuk meletakkan aturan dan kaidah yang bertujuan untuk mewujudkan stabilitasnya.

Sedangkan menyebut salam, dalam level kedua ini bermakna menyebarkan perdamaian yaitu keamanan dan menjauh dari fitnah sehingga manusia mendapatkan ketenangan pada jiwa dan hartanya, sehingga mereka bisa menghadapi hidup tanpa dibayang-banyangi hantu peperangan dan

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 142 bayangan ketakutan dan kegelisahan. Ucapan salam dalam Islam (assalamualaikum) tidak lain bermakna seperti ini. Penghormatan ini saja menjadikan seseorang menghadirkan dunia inspirasi dan simbol: yaitu pengumuman kedamaian yang memberi ketenangan kepada pengucap dan komunitasnya. Ia adalah kesetiaan intrinsik untuk melanjutkan bekerja dengan perjanjian dan piagam baik antar dua pihak yang berjanji dengan suka rela atau dua pihak yang mengikat kontrak karena terpaksa; baik perjanjian yang berkaitan dengan entitas politik, ekonomi atau yang lain. Adalah jelas bahwa menghormati perjanjian adalah faktor yang kuat untuk mewujudkan perdamaian dan menjamin stabilitasnya; karena ketenangan jiwa terwujud oleh sebab penghormatan tersebut. Saling percaya dan keamanan antar bangsa lahir dari pemeliharaan terhadap perjanjian-perjanjian tersebut. Oleh karena luhurnya penghormatan terhadap perjanjian ini, Allah menjadikannya sebagai pembuka beberapa surat dalam al-Qur’an, yaitu surat al-Ma’idah ketika Allah SWT berfirman: “wahai orang-orang yang beriman penuhilah janji-janji kalian”. Al-uqud disini adalah al-‘uhud. Perintah ketuhanan adalah pengundangan prinsip-prinsip mulia yang mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan mereka; mengundangkan aturan umum interaksi antar bangsa; meletakkan dasar-dasar yang benar bagi hubungan antar negara, entitas politik, ekonomi dan perdagangan di dunia ini.

Yang mulia Amir al-Mukminin, penjaga agama…

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 143 Kita langsung ke level ketiga dari pemahaman hadits nabi ini. Yaitu pemahaman yang saya kira merupakan pemahaman tertinggi dan maksud terjauh dari sabda nabi ini. Usaha berpikir keras (ijtihad) kami adalah bahwa pemahaman ini melahirkan kewajiban-kewajiban yang, di satu sisi, mengikat kelompok tertentu khusus mereka yang menjabat posisi-posisi yang bertanggung jawab dalam mengatur urusan publik. Adalah jelas bahwa keterikatan dalam konteks ini disesuaikan dengan besarnya tanggung jawab dan luasnya ruang lingkup tanggung jawab tersebut.

Kesimpulan ini juga, di sisi lain, mengikat mereka yang memegang kendali dunia ekonomi dan keuangan dari kalangan pemilik perusahaan-perusahaan besar dan mereka yang bertugas untuk mendistribusi dan memproduksi sumber daya. Dan di sisi yang lain lagi, kesimpulan ini mengikat mereka yang bekerja untuk mengefektifkan peran masyarakat madani karena mereka memiliki kanal komunikasi dan massa; kemampuan untuk menggerakkan kegiatannya; dan terlibat secara aktif dalam beragam aktifitasnya. Saya kira ada tiga masalah besar yang dipikirkan oleh para teoritisi, menguras energi akal dan perasaan, mengisi entitas politik, sosial dan ekonomi di posisi tertinggi.

1. Masalah pertama berkaitan dengan kehormatan kemanusiaan dan segala apa yang bisa menjaganya tetap pada manusia. Ketika persoalannya berkaitan dengan menghasilkan makanan dan mata pencaharian, cara termulia untuk memperolehnya adalah dengan bekerja keras dengan imbalan harta untuk belanja keperluan diri dan keluarga. Adalah jelas bahwa berkerja untuk mencari makan hanya menjadi keharusan buat mereka yang sehat akal dan badannya dan mampu bekerja. Sedangkan mereka yang tidak

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 144 mampu bekerja karena sakit, tua atau cacat, penyediaan kebutuhan hidupnya adalah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat secara umum.

Yang mulia, kita tidak perlu menjelaskan lagi bagaimana Rasulullah SAW mendorong untuk bekerja, meninggalkan kemengangguran; memuji pekerjaan atau profesi dan orang yang menjadikannya sebagai mata pencaharian; memuliakan perdagangan dan para pedagang manakala mereka berhias dengan akhlak kejujuran dan amanah. Kita juga perlu menjelaskan bahwa beliau melarang seseorang untuk meminta-minta sementara ia mampu untuk bekerja; beliau melarang seseorang untuk hanya beribadah secara ekstrem dengan mengabaikan keluarga dan anak dan mengandalkan orang lain untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Bagaimanapun, bukanlah sesuatu yang terpuji, seseorang yang mampu bekerja tidak mau mencari mata pencaharian dari pekerjaan halal; bukanlah sesuatu yang terhormat kalau seseorang tidak mau bekerja karena melihat bahwa pekerjaan tersebut akan menurunkan gengsinya dan menyerah menjadi penganggur dan menunggu kesempatan yang dia sangka akan datang. Alangkah jauhnya kondisi orang ini dari perintah ketuhanan dan kenabian; alangkah jauhnya dia dari hakikat agama Islam. Tidaklah seorang anak Adam makan lebih lezat dari hasil usahanya sendiri. Alangkah bahagianya seseorang yang bisa membahagiakan orang lain dengan memberinya jalan pekerjaan. Perbuatannya ini membantu menghancurkan ketakutan dan menyebarkan keamanan dan perdamaian. Ia mengembalikan dan menghidupkan harapan kepada manusia. Barangsiapa yang

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 145 menghidupkan satu jiwa maka seolah-olah dia telah menghidupkan semua orang. Kemanusiaan dalam diri manusia adalah satu kesatuan yang tidak terpisah-pisah.

2. Persoalan kedua berkaitan dengan perolehan pengetahuan dasar dan ilmu yang bermanfaat.

Jalannya adalah bekerja dan jalurnya adalah kehormatan manusia. Sarananya adalah melaksanakan perintah syariat dengan memberi makan orang lain dan berusaha merealisasikan perdamaian. Adalah jelas bahwa buta huruf dan ketidakmampuan menulis, saat ini, masuk dalam kategori cacat; cacat yang menghalangi seseorang untuk bergerak, menghadapi hidup; menghalangi masyarakat untuk membangun dan berkembang.

Oleh karena itu, deklarasi perang terhadap buta huruf –dalam pengertian ini—adalah syarat keterpanggilan pertama terhadap perintah kenabian untuk memberi makan (ith’am at-tha’am). Itu dilakukan dengan, di awal, mempersiapkan orang-orang dengan menjauhkan kebodohan dari jalan yang mereka tempuh dan memungkinkan mereka untuk menempuh jalan cahaya yang kuncinya adalah kemampuan untuk memecahkan rumus-rumus tulisan dan bacaan; dan kemampuan untuk menterjemahkan apa yang tertera di atas kertas menjadi ilmu dan pengetahuan. Kalau kita fair, kita bisa mengatakan bahwa pekerjaan ini, meskipun bagian dari tanggung jawab negara, tetapi ia tidak akan bisa melakukannya sendirian, karena dalam hal ini harus ada partisipasi kolektif dari pelaku ekonomi di satu sisi dan masyarakat madani di sisi lain; masing-masing sesuai dengan kemampuan dan sumber dayanya

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 146 dan keduanya akan mendapatkan manfaat dari partisipasi ini. Apakah seseorang bisa membantah bahwa out put pekerja yang mengerti prinsip baca tulis lebih baik ketimbang pekerja yang tidak memahaminya? Kesimpulan dan perbandingan ini dikuatkan oleh hasil penelitian lapangan dan dikuatkan oleh pendapat para pemilik perusahaan, ditambah oleh perasaan gembira yang ditimbulkan oleh kelulusan dalam memerangi buta huruf. Peran lembaga-lembaga swasta atau masyarakat dalam memerangi buta huruf adalah sesuatu yang jelas. Hasil besar dari kerja bersama dalam bidang ini tidak lagi membutuhkan dalil dan bukti.

Kalau syarat menghilangkan buta huruf dari masyarakat terwujud sesuai dengan apa yang kita katakan; dan kerja bersama menjadi slogan yang mengarahkan pekerjaan ini, kita bisa mengatakan bersama ulama ushul fiqh bahwa kita telah mewujudkan syarat primer (dlaruri) dan kemudian kita berusaha untuk mewujudkan syarat sekunder (haaji); sedangkan syarat sekunder dalam persoalan kita, yang mulia, adalah pemungkinan, yaitu memberi kesempatan kepada anak-anak usia sekolah untuk mendapatkan pendidikan dasar dimana mereka mendapatkan pengetahuan dasar sebagai bekal mereka untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang menengah dan atas dimana kemampuan untuk melanjutkan ke tingkat itu berbeda dari orang ke orang. Sebagian memiliki kemampuan untuk melanjutkan ke tingkat tertinggi dan memperoleh ijazah tertinggi; sedangkan sebagian yang lain tidak didukung oleh kemampuan otak dan hanya mampu menyerap pendidikan yang berprespektif jangkan pendek atau menengah. Kedua baik.

Dalam dokumen Panorama pemikiran Islam ulama Maroko (Halaman 140-158)