• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN EKONOMI DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL APBN 2008

2.2. Perkembangan Ekonomi 2006-2007

2.2.1. Evaluasi dan Kinerja

2.2.1.2. Perekonomian Nasional

Kinerja perekonomian Indonesia dalam tahun 2006 sangat dipengaruhi oleh dinamika berbagai perubahan, baik yang bersumber dari eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal, kinerja ekonomi global yang semakin membaik, yang ditandai dengan kuatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya volume perdagangan dunia, dan tingginya aliran modal ke negara-negara berkembang telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perbaikan kinerja ekonomi nasional. Namun, beberapa faktor positif tersebut dibayang-bayangi pula dengan tingginya harga minyak mentah di pasar internasional, yang berimplikasi pada kinerja sektor usaha nasional.

Sementara itu, dari sisi internal kinerja ekonomi domestik sangat dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat pasca kenaikan harga BBM pada Oktober 2005 dan tingginya suku bunga. Selain itu, masih belum teratasinya berbagai permasalahan struktural seperti terbatasnya ketersediaan infrastruktur dan iklim investasi yang belum kondusif menjadi kendala bagi upaya peningkatan akselerasi kegiatan perekonomian nasional. Kondisi tersebut diperberat dengan terjadinya berbagai bencana alam di beberapa wilayah dan munculnya wabah penyakit seperti flu burung.

Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, pemerintah berupaya keras melakukan langkah-langkah dan kebijakan guna mengurangi tekanan lebih lanjut pada perekonomian. Stabilitas ekonomi makro secara bertahap dapat dipulihkan sejalan dengan diperlonggarnya kebijakan fiskal dan moneter untuk menciptakan ruang pertumbuhan yang lebih luas. Dalam tahun 2006, laju pertumbuhan ekonomi mencapai 5,48 persen. Dari sisi permintaan, terutama bersumber dari konsumsi pemerintah dan ekspor, sementara dari sisi penawaran (sektoral) lebih ditopang oleh sektor yang berbasis komoditas primer dan sektor jasa.

Pengeluaran konsumsi pemerintah dalam tahun 2006 tumbuh sebesar 9,6 persen, meningkat bila dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 6,6 persen terkait dengan kebijakan perbaikan penghasilan PNS, TNI/Polri, dan pensiunan serta meningkatnya belanja barang. Sementara itu, konsumsi masyarakat dalam tahun 2006 tumbuh sebesar 3,2 persen, melambat dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya yang sebesar 4,0 persen. Melambatnya konsumsi masyarakat antara lain diindikasikan oleh pertumbuhan kredit konsumsi yang sampai akhir tahun 2006 tumbuh sebesar 9,4 persen, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2005 yang tumbuh sebesar 36,7 persen. Sementara itu, konsumsi nonmakanan yang mencakup lebih dari 50 persen dari total konsumsi masyarakat, tercermin antara lain pada kinerja penjualan mobil dan motor dalam periode Januari–Desember 2006 masing-masing menurun sebesar 12,8 persen dan 40,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2005. Meskipun demikian,

yaitu dari 17,1 persen dalam tahun 2005 menjadi 7,6 persen dalam tahun 2006, sejalan dengan melemahnya permintaan domestik.

Dari sisi penawaran, laju pertumbuhan ekonomi tahun 2006 masih cukup tinggi terutama pada sektor-sektor

non-tradable, seperti sektor

pengangkutan dan komunikasi, sektor bangunan serta sektor jasa-jasa. Pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi meningkat dari 13,0 persen dalam tahun 2005 menjadi 13,6 persen, terutama didorong oleh subsektor komunikasi seiring dengan tingginya pertumbuhan jumlah pengguna telepon seluler. Sektor bangunan tumbuh sebesar 9,0 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan dalam tahun sebelumnya sebesar 7,4 persen. Peningkatan pertumbuhan sektor ini antara lain dipengaruhi oleh ekspektasi penurunan suku bunga dan adanya optimisme persepsi produsen terhadap prospek properti komersial sebagaimana tercermin pada pertumbuhan pusat perbelanjaan, apartemen, dan kondominium yang masih tinggi. Disamping itu, pertumbuhan sektor bangunan juga dipengaruhi oleh proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang sedang dalam tahap pembangunan, seperti jalan tol dan bandar udara.

Kinerja sektor industri pengolahan menunjukkan pertumbuhan yang relatif sama dengan tahun sebelumnya sekitar 4,6 persen. Pertumbuhan sektor ini didorong oleh kegiatan subsektor industri migas yang mulai bangkit sejalan dengan mulai membaiknya permintaan pasar domestik dan adanya penurunan suku bunga, terutama sejak paro kedua tahun 2006, serta masih cukup tingginya permintaan pasar luar negeri.

Sementara itu, setelah mengalami perlambatan pertumbuhan dalam dua tahun sebelumnya, dalam tahun 2006 sektor pertanian tumbuh lebih tinggi, yaitu sebesar 3,0 persen. Peningkatan ini terutama bersumber dari subsektor tanaman bahan makanan dan tanaman perkebunan. Pada subsektor tanaman bahan makanan, peningkatan pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan produksi padi sejalan dengan kondisi iklim yang kondusif, sedangkan pada subsektor tanaman perkebunan didukung oleh peningkatan produksi komoditas kelapa sawit dan karet sejalan dengan peningkatan permintaan ekspor untuk kedua komoditas tersebut.

Di lain pihak, sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan lebih rendah dari tahun sebelumnya adalah pertambangan dan penggalian, yaitu dari 3,1 persen dalam tahun 2005 menjadi 2,2 persen dalam tahun 2006. Perlambatan pertumbuhan ini terjadi terutama akibat menurunnya produksi komoditas utama pertambangan bukan migas. Demikian pula dengan sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang tumbuh sebesar 6,1 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 8,4 persen sebagai akibat melambatnya pertumbuhan semua subsektor utama sektor ini. Perlambatan pertumbuhan juga terjadi pada sektor listrik, gas, dan air minum, yaitu dari 6,3 persen menjadi 5,9 persen, serta sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan, yaitu dari 6,8 persen menjadi 5,6 persen.

Grafik II.8

Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor

0 5 1 0 1 5 2 0 2 5 3 0 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2 004 2 0 05 2 006 Mi li a r U S D 0 1 0 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 Ju ta t o n

Nilai Ekspor Volume Ekspor

Masih lambatnya pertumbuhan investasi pada sisi permintaan dan belum kuatnya pertumbuhan sektor-sektor yang memiliki daya serap tinggi atas tenaga kerja pada sisi penawaran, seperti sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan, mempengaruhi lambatnya penurunan tingkat pengangguran di dalam negeri. Sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor bangunan serta sektor jasa, meskipun tumbuh tinggi, belum dapat mengurangi pengangguran secara signifikan karena karakteristik sektor-sektor tersebut yang relatif padat modal dan teknologi. Jumlah pengangguran pada bulan Agustus 2006 adalah 10,93 juta orang atau sekitar 10,3 persen dari jumlah angkatan kerja, yang menunjukkan peningkatan dibanding jumlah pengangguran pada Februari 2005 yang mencapai 10,9 juta orang atau sekitar 10,3 persen dari jumlah angkatan kerja.

Pertumbuhan ekonomi yang masih belum meningkat pesat juga menjadi salah satu penyebab terkendalanya upaya mengatasi perbaikan kesejahteraan masyarakat. Dalam tahun 2006, jumlah penduduk miskin meningkat sebanyak 4,2 juta orang, yaitu dari 35,1 juta orang (15,97 persen dari jumlah penduduk Indonesia) pada Februari 2005 menjadi 39,3 juta orang (17,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia) pada Maret 2006. Pemerintah akan terus melakukan upaya perbaikan kebijakan agar korelasi antara perbaikan ekonomi, penurunan angka pengangguran dan kemiskinan dapat makin nyata dan diperkuat. Dengan demikian tingkat pengangguran dan kemiskinan dapat terus ditekan seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi.

Stabilitas ekonomi makro dalam tahun 2006 tetap terpelihara dan bahkan menunjukkan kecenderungan yang makin baik. Hal ini terutama ditunjukkan oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung menguat, tingkat inflasi yang semakin rendah, dan suku bunga yang cenderung menurun. Dalam tahun 2006, rata-rata nilai tukar rupiah, baik secara point-to-point maupun secara rata-rata menunjukkan penguatan dengan pergerakan yang lebih stabil dan volatilitas yang menurun. Secara point-to-point rupiah menguat sebesar 8,2 persen, yaitu dari Rp9.830 per US$ pada akhir tahun 2005 menjadi Rp9.020 per US$ pada akhir tahun 2006. Sementara secara rata-rata, nilai tukar rupiah menguat sekitar 5,6 persen, yaitu dari Rp9.705 per US$ dalam tahun 2005 menjadi Rp9.164 per US$ dalam tahun 2006. Penguatan rupiah tersebut didukung oleh faktor

Grafik I I.9

Pertum buhan PDB m enurut Lapangan Usaha

2 ,8 2 ,7 3 ,0 -4 ,5 3 ,1 2 ,2 6 ,4 4 ,6 4 ,6 5 ,3 6 ,3 5 ,9 7 ,5 7 ,4 9 ,0 5 ,7 8,4 6 ,1 1 3 ,4 1 3 ,0 1 3 ,6 7 ,7 6 ,8 5 ,6 5 ,4 5 ,0 6 ,2 -10 -5 0 5 10 15 2004 2005 2006 Pe rs en ( y-o -y ) Pertanian Pertambangan

Industri Pengolahan Listrik, Gas, dan Air Bersih

Bangunan Perdagangan, Hotel, dan Restoran

Pengangkutan & Komunikasi Keuangan

fundamental ekonomi domestik yang membaik dan kondisi eksternal yang lebih kondusif. Dari sisi fundamental, penguatan nilai tukar selain ditopang oleh ketersediaan pasokan valuta asing (valas) yang cukup terkait dengan kinerja neraca pembayaran yang semakin kuat, juga didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang berhati-hati. Sementara dari sisi eksternal, penguatan rupiah didukung oleh keputusan The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga dari level 5,25 persen.

Penguatan nilai tukar rupiah diikuti pula dengan terus menurunnya inflasi. Hal ini tercermin pada tingkat inflasi IHK dalam tahun 2006 yang menjadi 6,6 persen (y-o-y), jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 17,11 persen (y-o-y). Penurunan inflasi IHK ini dipengaruhi oleh perkembangan faktor-faktor fundamental dan nonfundamental.

Dari sisi fundamental, penurunan inflasi IHK terutama didorong oleh ekspektasi inflasi yang tetap terjaga sebagai hasil dari kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah yang terkoordinasi dalam upaya meredam tekanan inflasi, perkembangan nilai tukar yang mengalami apresiasi sehingga mengurangi tekanan inflasi impor (imported

inflation), dan kondisi

permintaan agregat yang belum sepenuhnya pulih akibat daya beli yang masih lemah. Berdasarkan faktor fundamental ini, berkurangnya tekanan inflasi tercermin pada menurunnya laju inflasi inti (core inflation) dari 9,75 persen (y-o-y) pada tahun 2005 menjadi 6,03 persen (y-o-y) pada tahun 2006.

Dari sisi nonfundamental yang menyebabkan turunnya inflasi IHK adalah minimalnya dampak inflasi barang-barang yang harganya dikendalikan pemerintah (administered

prices) serta membaiknya perkembangan inflasi kelompok komoditas makanan

kebutuhan pokok (volatile foods). Minimalnya dampak inflasi administered prices terkait dengan tidak adanya penyesuaian harga komoditas bersifat strategis dan penundaan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), sehingga laju inflasi administered prices menurun dari 41,71 persen (y-o-y) dalam tahun 2005 menjadi 1,84 persen (y-o-y) dalam tahun 2006. Sementara itu, laju inflasi volatile foods mencapai 15,27 persen, sedikit lebih rendah dibanding tahun sebelumnya sebesar 15,51 persen, terutama karena pengaruh pasokan dan distribusi serta mundurnya masa tanam terkait dengan musim kemarau yang berkepanjangan.

Seiring dengan menguatnya nilai tukar rupiah dan menurunnya inflasi, suku bunga perbankan dalam tahun 2006 secara bertahap juga mengalami penurunan. Hal ini tidak terlepas dari langkah-langkah yang ditempuh Bank Indonesia dalam menurunkan suku bunga BI Rate secara bertahap, terukur, dan berhati-hati sejak Mei 2006. Langkah penurunan suku bunga yang ditempuh Bank Indonesia ini sekaligus menandai adanya

Grafik II.10 Laju Inflasi 2006 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

2006 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Umum Core Volatile Administered IHK (y -o-y )

perubahan posisi kebijakan moneter dari kebijakan sebelumnya yang cenderung ketat (tight

bias) menjadi sedikit

longgar (cautious easing). Pada akhir tahun 2006 BI

Rate mencapai 9,75 persen

atau mengalami penurunan sebesar 300

basis points dari 12,75 di

awal tahun. Penurunan BI

Rate ini diikuti oleh

menurunnya suku bunga SBI 3 bulan, yaitu dari 12,9 persen pada awal tahun 2006 menjadi 9,5 persen pada akhir tahun, atau terjadi penurunan 342 basis points (bps). Dengan perkembangan tersebut, rata-rata suku bunga SBI 3 bulan dalam tahun 2006 mencapai 11,7 persen.

Penurunan BI Rate dan suku bunga SBI tersebut diikuti pula dengan turunnya suku bunga kredit. Meskipun demikian, transmisinya masih terbatas, karena penurunan suku bunga kredit berlangsung lebih lambat daripada penurunan BI Rate dan SBI, sebagaimana terlihat pada suku bunga kredit modal kerja (KMK) yang menurun dari 16,3 persen pada Januari 2006 menjadi 15,1 persen pada Desember 2006. Demikian pula dengan suku bunga kredit investasi (KI), dalam periode yang sama juga mengalami penurunan dari 15,8 persen pada Januari 2006 menjadi 15,1 persen pada Desember 2006. Sementara itu, suku bunga kredit konsumsi (KK) dalam periode yang sama justru menunjukkan peningkatan, yaitu dari 17,1 persen menjadi 17,6 persen.

Dengan suku bunga perbankan yang menunjukkan kecenderungan menurun, berbagai indikator perbankan memperlihatkan kinerja yang semakin membaik. Hal ini antara lain tercermin pada pertumbuhan total aset, jumlah dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh perbankan dan jumlah kredit yang disalurkan. Total aset industri perbankan sampai bulan Desember 2006 meningkat menjadi Rp1.693,9 triliun, atau lebih tinggi 15,2 persen dari total aset tahun 2005. Sementara itu, DPK yang berhasil dihimpun mencapai Rp1.298,8 triliun, atau meningkat sekitar 14,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Demikian pula jumlah kredit yang disalurkan perbankan secara keseluruhan bertambah menjadi Rp787,1 triliun atau meningkat sekitar 14,1 persen. Penyaluran kredit yang terjadi

Grafik II.12

Perkembangan Suku Bunga Kredit

12 13 14 15 16 17 18 19 Ja n . Fe b. Ma r. Ap r. May . Ju n . Ju l. Au g. Se p. Oc t. No v. De c. Ja n . Fe b. Ma r. Ap r. May . Ju n . Ju l. Au g. Se p. Oc t. No v. De c. 2 00 5 2 00 6 Pe rs e n KMK KI KK

Su m ber : Ba nk In don esia

Grafik II.11

Perkembangan BI Rate dan SBI 3 Bulan, 2005 - 2007

6 8 10 12 14 pe rs en

BI Rate SBI 3 Bulan

B I R ate 7,4 2 7,4 37,4 47,77,9 5 8 ,2 5 8 ,4 9 9 ,51 10 11 12 ,312 ,812 ,812 ,712 ,712 ,712 ,512 ,512 ,311,8 11,310 ,810 ,39 ,759 ,59 ,2 5 9 9 8 ,75 8 ,50 8 ,2 5 8 ,2 5 8 ,2 5 SB I 3 Bulan7,3 7,2 77,3 17,51 7,8 1 8 ,0 5 8 ,4 5 9 ,2 5 9 ,2 512 ,1 12 ,812 ,812 ,912 ,912 ,712 ,712 ,712 ,212 ,212 ,212 ,212 ,29 ,5 9 ,59 ,58 ,138 ,138 ,13 7,8 37,8 3 7,8 3 7,8 37,8 3 J an. Feb . Mar. Ap r. May. J un. Jul. Aug . Sep . Oct. No v. Dec. Jan. Feb . M ar . Ap r. M ay. J un. J ul. Aug . S ep . Oct . No v. Dec. J an. Feb . Mar. Ap r. May. Jun. J ul. Aug . Sep .

2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7

tersebut masih di bawah potensi yang ada karena fungsi intermediasi perbankan masih belum sepenuhnya pulih, terlihat dari masih tingginya penempatan dana perbankan dalam portofolio SBI dan surat berharga lainnya. Posisi outstanding SBI melonjak hampir tiga kali lipat, yaitu dari Rp72,2 triliun pada akhir 2005 menjadi Rp207,4 triliun pada akhir 2006. Perkembangan ini selain mengindikasikan adanya kelebihan likuiditas dalam jumlah besar di dalam perekonomian, sekaligus menunjukkan bahwa sebenarnya potensi pembiayaan yang tersedia bagi sektor riil relatif masih besar. Peningkatan DPK meskipun dibarengi dengan peningkatan kredit perbankan menyebabkan LDR (loan to deposit ratio) pada akhir tahun 2006 tidak mengalami perubahan dibandingkan akhir tahun 2005, yaitu sebesar 64,7 persen. Perbaikan kinerja perbankan juga dapat dilihat dari kemampuan pengelolaan risiko yang semakin baik, yang antara lain tercermin pada rasio kredit bermasalah (nonperforming loans/NPLs) yang turun dari 7,4 persen pada akhir tahun 2005 menjadi 7,0 persen pada akhir tahun 2006. Demikian pula dengan indikator lainnya seperti rasio kecukupan modal bank (capital adequacy ratio/CAR), yang meningkat dari 19,3 persen pada akhir tahun 2005 menjadi 21,3 persen.

Semakin membaiknya kinerja berbagai indikator ekonomi makro yang diiringi dengan tetap terjaganya stabilitas ekonomi makro turut mempengaruhi optimisme dan meningkatnya kepercayaan investor terutama dari luar negeri, sehingga mendorong investor asing untuk meningkatkan portofolio dalam bentuk saham dan obligasi, khususnya surat utang negara (SUN) di Indonesia. Hal ini tercermin pada semakin besarnya posisi beli neto (net buying) asing atas saham SUN pada tahun 2006 yang masing-masing sebesar Rp17,3 triliun dan Rp27,3 triliun. Tingginya animo investor asing dalam perdagangan saham turut mempengaruhi pemodal lokal untuk melakukan hal yang sama, sehingga menyebabkan menguatnya indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan akhir Desember 2006 IHSG mencapai 1.805,5, atau naik 55,3 persen dibandingkan indeks pada akhir tahun 2005 sebesar 1.162,6. Peningkatan indeks ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah bursa saham Indonesia dan menjadikan BEJ sebagai salah satu bursa yang berkinerja terbaik sepanjang 2006 dibandingkan bursa-bursa saham di kawasan Asia Pasifik. Di pasar SUN, pembelian oleh asing yang cukup besar juga mempengaruhi perilaku investor domestik, seperti reksadana dan asuransi untuk menambah pembelian sehingga mendorong peningkatan harga SUN dan turunnya yield jangka menengah hingga mencapai 9,2 persen pada akhir tahun 2006. Seiring dengan meningkatnya harga SUN, volume perdagangan dan frekuensi transaksi juga terus meningkat, terutama didukung oleh tambahan penerbitan SUN yang dilakukan pemerintah sepanjang tahun 2006.

Grafik II.13

Perkembangan DPK, Kredit Perbankan, Outstanding SBI, dan LDR

0 2 00 400 600 800 1 000 1 2 00 1 400

Des Ja n Feb Ma r A pr Mei Ju n Ju l A g s Sep Okt Nov Des

2 0 0 5 2 00 6 Rp T ri li u n 50 52 54 56 58 60 62 64 pe rs en

DPK Kredit Posisi SBI LDR (aksis kanan)

Stabilitas perekonomian nasional dalam tahun 2006 juga dipengaruhi oleh harga minyak mentah di pasar internasional yang masih tinggi. Tingginya harga minyak mentah ini selain dipengaruhi oleh faktor fundamental akibat peningkatan permintaan yang lebih besar dibandingkan penawaran, juga dipicu oleh sentimen negatif yang muncul akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta isu nuklir Iran dan Korea Utara. Kondisi ini telah mendorong naiknya harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian

Crude oil Price/ICP) dari US$51,8 per barel dalam tahun 2005 menjadi US$63,8 per

barel. Sementara itu, realisasi lifting minyak mentah Indonesia dalam tahun 2006 mencapai 0,959 juta barel per hari, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi lifting minyak tahun 2005. Kecenderungan menurunnya volume lifting minyak yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir terkait dengan masih cukup tingginya natural

declining sumur-sumur

minyak mentah yang sudah tua yang diperkirakan berkisar antara 5 - 11 persen per tahun. Disamping itu masih belum dapat berproduksinya sumur-sumur minyak baru secara optimal menyebabkan sulitnya upaya penambahan jumlah produksi minyak mentah Indonesia.

Dari sisi eksternal, seiring dengan perkembangan ekonomi global dan domestik yang cukup kondusif, posisi neraca pembayaran Indonesia (NPI) dalam tahun 2006 memperlihatkan kinerja yang menggembirakan dengan mencatat surplus sebesar US$14.509 juta, jauh lebih tinggi dibanding surplus tahun sebelumnya sebesar US$446 juta (Tabel II.1). Peningkatan surplus NPI ini didukung oleh surplus transaksi berjalan serta transaksi modal dan finansial yang meningkat. Peningkatan surplus neraca transaksi berjalan dari US$278 juta (0,1 persen PDB) menjadi US$9.976 juta (2,7 persen PDB), terutama disebabkan oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang (trade

balance) yang jauh lebih tinggi daripada peningkatan defisit neraca jasa-jasa. Surplus

neraca perdagangan dalam tahun 2006 mencapai US$29.636 juta, atau meningkat sekitar 69,0 persen dibanding posisinya dalam tahun 2005, terutama didorong oleh meningkatnya ekspor dan melambatnya pertumbuhan impor.

Secara keseluruhan, ekspor mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah yaitu sebesar US$103.505 juta, atau meningkat 19,0 persen dibanding nilai ekspor tahun 2005, sedangkan impor mencapai US$73.869 juta atau meningkat sebesar 6,3 persen. Peningkatan ekspor terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh sebesar 20,7 persen hingga mencapai US$80.578 juta, akibat tingginya permintaan dunia dan naiknya harga komoditas di pasar internasional. Sementara itu, nilai ekspor migas mencapai US$22.927 juta, atau meningkat sebesar 13,3 persen dibanding tahun sebelumnya, jauh lebih rendah dibandingkan peningkatan tahun 2005 yang mencapai 24,3 persen.

Grafik II.14

Perkembangan Harga Minyak Dunia

30 40 50 60 70 80 De s Ja n Fe b Ma r Ap r Me i Ju n Ju l Ag st Se p Ok t No v De s Ja n Fe b Ma r Ap r Me i Ju n Ju l Ag st Se p Ok t No v De s 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 06 US $ /b ar re l

OPEC WTI Brent ICP

Penurunan ini terutama disebabkan oleh masih terbatasnya kemampuan eksplorasi di dalam negeri, sehingga volume ekspor lebih rendah meskipun dalam tahun 2006 harga minyak di pasar internasional relatif masih tinggi. Di sisi lain, pertumbuhan nilai impor dalam tahun 2006 relatif lebih lambat, akibat melambatnya pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal serta menurunnya konsumsi BBM di dalam negeri. Dalam pada itu, defisit neraca jasa-jasa mencapai US$19.660 juta, lebih tinggi sekitar 13,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, terutama disebabkan peningkatan pengeluaran transaksi jasa angkut terkait kegiatan impor (freight), naiknya biaya transportasi, dan peningkatan arus wisatawan Indonesia ke luar negeri termasuk perjalanan haji dan umrah serta peningkatan transfer keuntungan investasi asing.

Sementara itu, surplus neraca transaksi modal dan finansial meningkat dari US$345 juta dalam tahun 2005 menjadi US$2.536 juta dalam tahun 2006, terutama karena masih tingginya arus modal masuk (capital inflows), baik pada sektor publik maupun sektor swasta. Arus modal masuk pada sektor publik terutama dalam bentuk pinjaman dan investasi portofolio, sementara pada sektor swasta lebih didominasi oleh direct

investment. Tingginya arus modal masuk ini terutama dipicu oleh semakin membaiknya

persepsi para investor terhadap stabilitas ekonomi makro dan masih menariknya imbal hasil penempatan dana di Indonesia.

Peningkatan surplus neraca transaksi berjalan serta neraca transaksi modal dan finansial tersebut telah mendorong upaya percepatan pelunasan seluruh sisa utang kepada IMF sebesar US$7,6 miliar, termasuk pembayaran utang sesuai jatuh tempo sebesar US$1,1 miliar. Percepatan pelunasan ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan

2005

Realisasi Realisasi APBN APBN-P A. Transaksi Berjalan 278 9.976 6.654 9.706

Neraca Perdagangan 17.534 29.636 29.003 30.712

a. Ekspor, fob 86.996 103.505 101.740 111.860

b. Impor, fob -69.462 -73.869 -72.737 -81.148

Neraca Jasa-jasa, neto -17.256 -19.660 -22.349 -21.006

B. Neraca Modal dan Finansial 345 2.536 -584 2.401 Sektor Publik, neto 4.311 2.320 238 2.174

a. Penerimaan pinjaman dan bantuan 7.756 8.404 6.275 8.212

1. Bantuan program dan lainnya 1.583 1.850 4.144 2.133

2. Bantuan proyek dan lainnya 6.173 6.554 2.131 6.079

b. Pelunasan pinjaman -3.445 -6.084 -6.037 -6.038

Sektor Swasta, neto -3.966 216 -822 227

a. Penanaman modal langsung, neto 5.271 2.853 842 1.918

b. Investasi portfolio -636 -342 1.843 216

c. Lainnya, neto -8.601 -2.295 -3.507 -1.907

C. Total (A+B) 623 12.512 6.070 12.107 D. Selisih Yang Belum Diperhitungkan -176 1997 0 -510 E. Keseimbangan Umum 446 14.509 6.070 11.597 F. Pembiayaan -446 -14.509 -6.070 -11.597

Perubahan cadangan devisa 661 -7.428 -4.079 -11.597

Cadangan devisa 34.724 42.586 43.583 54.183

Transaksi berjalan/PDB (%) 0,1 2,7 1,8 2,4

Sumber: Bank Indonesia (diolah)

*) Tanda negatif berarti penambahan devisa dan tanda positif berarti pengurangan devisa

Tabel II.1

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA, 2005-2007 (US$ Juta)

pada tanggal 30 Juni 2006 sebesar US$3,7 miliar dan tahap kedua pada tanggal 12 Oktober 2006 sebesar US$3,0 miliar. Meskipun dilakukan percepatan pelunasan utang, cadangan devisa masih tetap dalam posisi aman dan cukup memadai, yaitu US$42.586 juta atau setara dengan 4,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

2.2.2. Proyeksi 2007

Kinerja perekonomian Indonesia dalam tahun 2007 diperkirakan akan semakin membaik dengan akselerasi pertumbuhan yang lebih tinggi dengan tetap terpeliharanya stabilitas ekonomi makro. Perbaikan kinerja ekonomi ini didukung oleh faktor-faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, meskipun perekonomian global diperkirakan tumbuh melambat dan harga komoditas dunia baik migas maupun nonmigas cenderung menurun, namun masih memberikan peluang yang kondusif bagi perkembangan ekspor nasional. Sementara dari sisi internal, perbaikan kinerja ekonomi Indonesia didukung oleh rendahnya suku bunga, nilai tukar yang stabil, serta pulih dan menguatnya daya beli masyarakat. Kondisi ini juga didukung oleh terjaganya koordinasi bauran kebijakan (policy mix) yang ditempuh pemerintah di bidang fiskal, moneter, dan sektor riil. Pertumbuhan ekonomi tahun 2007 diperkirakan mencapai 6,3 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi 2006 yang sebesar 5,48 persen. Akselerasi pertumbuhan ekonomi ini terjadi seiring dengan meningkatnya kegiatan konsumsi, investasi, dan ekspor.