BAB III PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
A. Perencanaan Pendidikan dan Pelatihan
Pada masa-masa awal sebelum pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (diklat) sertifikasi hakim lingkungan hidup, telah dibentuk sebuah kelompok kerja atau Tim Khusus yang bertugas untuk melakukan analisis kebutuhan pelatihan, menyusun kurikulum, materi ajar, metode pelatihan, serta bahan tes tertulis yang
merupakan bagian dari seleksi tahap akhir.47
Dengan adanya Tim Khusus tersebut, persiapan dan perencanaan untuk mengadakan sebuah pendidikan dan pelatihan harus dimulai dengan analisis kebutuhan pelatihan atau training
needs assessment (TNA), yaitu suatu langkah terpadu dalam
merancang pelatihan untuk memperoleh gambaran komprehensif tentang materi, alokasi waktu tiap materi, dan strategi pembelajaran yang kesemuanya akan diterapkan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan hakim lingkungan hidup. Dari analisis ini akan diketahui pelatihan apa saja yang relevan bagi suatu sistem sertifikasi hakim lingkungan hidup pada saat ini dan juga di masa yang akan datang. TNA tersebut merupakan road map untuk mencapai tujuan Sertifikasi hakim lingkungan hidup yang disebutkan dalam pasal 3 Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI, No.134/KMA/SK/IX/2011 tentang Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup, yaitu untuk meningkatkan efektivitas penanganan perkara-perkara lingkungan hidup di pengadilan sebagai bagian dari upaya perlindungan lingkungan hidup serta pemenuhan rasa keadilan.
47 Lihat: pasal 1 (6) Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI, No. 134/KMA/ SK/IX/2011 tentang Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup.
Pada tahap perencanaan dan pembentukan sistem sertifikasi hakim lingkungan hidup, terdapat empat tahap yaitu:
1. Tahap perumusan kompetensi hakim lingkungan hidup, yang mencakup aktivitas analisis tugas hakim lingkungan hidup berdasarkan data mengenai tugas yang diperoleh dari wawancara, observasi dan studi dokumen;
2. Tahap penentuan kriteria, tahapan proses, metode dan teknik seleksi;
3. Tahap pembuatan instrumen seleksi;
4. Tahap penentuan kriteria kelulusan dan pemberian sertifikat. Tahapan-tahapan tersebut merupakan langkah perencanaan yang tujuannya adalah menghasilkan sistem sertifikasi hakim lingkungan hidup, mencakup kompetensi hakim lingkungan hidup, kriteria seleksi, tahapan seleksi, instrumen seleksi, metode dan teknik seleksi, serta kriteria kelulusan sesuai ketentuan yang diatur dalam SK KMA tentang Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup. Hasil dari kajian metodologis ini akan digunakan sebagai dasar dari pelaksanaan seleksi dan pelatihan hakim lingkungan hidup untuk angkatan pertama.
Pada tahap perencanaan ini telah dapat dihasilkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melaksanakan proses berikutnya yaitu penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan hakim lingkungan hidup. Dokumen-dokumen tersebut adalah berupa:
1. Dokumen yang berisi rincian tugas hakim lingkungan hidup dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu rincian tugas pada pemeriksaan perkara pidana, perkara perdata dan perkara tata usaha negara, yang berisi analisis mengenai tugas hakim lingkungan hidup dalam tahapan proses pemeriksaan perkara lingkungan hidup sesuai masing-masing hukum acara pidana, hukum acara perdata dan hukum acara tata usaha negara, dengan disebutkan dasar hukum atau pedoman beracara, serta tugas-tugas hakim lingkungan pada tahap-tahap pemeriksaan.
2. Dokumen yang menguraikan hasil analisis tentang kompetensi hakim lingkungan yang dibutuhkan sesuai konteks sistem sertifikasi hakim lingkungan hidup yang mencakup perpaduan tiga komponen, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan ciri kepribadian di bidang:
Pengetahuan Dasar Ilmu Lingkungan dan Sumber Daya
Alam;
Etika lingkungan dan Sumber Daya Alam;
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan
Sumber Daya Alam;
Hukum Lingkungan dam Sumber Daya Alam;
Hukum acara untuk perkara lingkungan hidup dan Sumber
Daya Alam;
Integritas;
Judicial activism.
Dalam dokumen analisis kompetensi hakim lingkungan hidup tersebut diuraikan detail mengenai masing-masing sub bidang atau materi yang dibutuhkan bagi seorang hakim lingkungan hidup, yaitu dalam kolom pertama berisi apa saja pengetahuan yang harus dikuasai, baik pengetahuan materi hukum maupun pengetahuan lain yang dinilai sebagai kebutuhan untuk memenuhi kompetensi hakim lingkungan hidup, kemudian pada kolom berikutnya adalah menguraikan tentang keterampilan atau kemampuan (skill) yang harus dimiliki pada masing-masing subbidang/materi, dan kolom terakhir adalah menguraikan tolok ukur kepribadian yang disebutkan sebagai ciri kepribadian dan merupakan refleksi sikap tindak seorang hakim lingkungan hidup.
3. Dokumen ketiga adalah terbitnya Keputusan Ketua Mahkamah
Agung RI Nomor 178/KMA/SK/IX/2011, tentang
Pembentukan Tim Seleksi dalam Sistem Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup, sehingga untuk mempersiapkan tahapan
penyelenggaraan seleksi hakim lingkungan hidup agar lebih efektif dan efisien, dapat dipersiapkan oleh tim yang dibentuk berdasarkan SK KMA No.178/KMA/SK/IX/2011 tersebut. 4. Dokumen keempat adalah terbitnya Sistem Seleksi dan
Pengangkatan Hakim Lingkungan Hidup, berupa Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 26/KMA/SK/II/2013, tentang Sistem Seleksi dan Pengangkatan Hakim Lingkungan Hidup, pada tanggal 18 Februari 2013. Sehingga proses untuk menjaring para hakim sebagai calon peserta pelatihan sertifikasi hakim lingkungan harus dilalui secara sistematis, transparan dan terukur dengan metode yang baku dan mengikat.
5. Dokumen keempat adalah Pedoman Penanganan Perkara Lingkungan Hidup yang diberlakukan berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 36/KMA/SK/II/2013,
tentang Pemberlakuan Pedoman Penanganan Perkara
Lingkungan Hidup, pada tanggal 22 Februari 2013. Dengan tersedianya pedoman tersebut akan membantu tugas hakim dalam memeriksa dan mengadili perkara lingkungan hidup.
Dua dokumen yang pertama merupakan bagian penting sebagai hasil training needs assessment (TNA) dan tiga dokumen terakhir yang berupa Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung adalah merupakan produk kebijakan Mahkamah Agung yang akan menjadi dasar pijakan untuk bahan kajian pada langkah berikutnya terhadap perancangan model pelatihan yang tepat bagi sertifikasi hakim lingkungan hidup.
Evaluasi terhadap kompetensi hakim lingkungan hidup sebagai bagian dari analisis kebutuhan pelatihan penting untuk terus dilakukan, karena akan menentukan langkah selanjutnya, yaitu untuk melakukan penilaian terhadap hal-hal sebagai berikut:
Memastikan bahwa pelatihan memang merupakan salah satu
solusi untuk membentuk hakim lingkungan hidup yang kompeten;
Memastikan bahwa hakim yang mengikuti pelatihan benar-benar hakim dengan kualifikasi yang tepat;
Memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang
diajarkan selama pelatihan benar-benar sesuai dengan elemen-elemen kerja yang dituntut dalam suatu posisi sebagai hakim lingkungan hidup;
Mengidentifikasi bahwa jenis pelatihan dan metode yang dipilih
sesuai dengan tema atau materi pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup;
Memastikan bahwa penurunan kinerja ataupun masalah yang
ada adalah disebabkan karena kurangnya pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap kerja (sebagai cerminan kepribadian), bukan oleh alasan-alasan yang lain yang tidak bisa diselesaikan melalui pelatihan;
Memperhitungkan biaya pelaksanaan pelatihan sertifikasi
hakim lingkungan hidup, mengingat bahwa sebuah pelatihan pasti membutuhkan sejumlah anggaran negara yang harus disusun dan diajukan pada tahun anggaran sebelumnya.
B. Seleksi Peserta Diklat Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup