• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Perencanaan Program

Perencanaan pada tahap pra produksi meliputi penuangan ide dan penulisan naskah. Konsep atau ide gagasan yang telah ditetapkan dan telah disepakati dituangkan dalam bentuk proposal program radio yang menjadi tanggung jawab produser. Dalam proposal tersebut diuraikan berbagai aspek mengenai konsep desain program yang akan diproduksi dalam sebuah acara program radio. Setelah ada konsep program, langkah selanjutnya adalah penulisan naskah. Naskah merupakan bagian dari hasil penuangan ide atau gagasan yang dikemas dalam bentuk menarik sesuai dengan desain program yang telah disepakati.

(2) Persiapan

Persiapan pada tahap pra produksi ini mencakup 2 hal yaitu persiapan perizinan seperti perizinan tempat liputan, termasuk surat menyurat dan segala bentuk proses administrasi yang dibutuhkan agar peliputan tidak terhambat. Selain perizinan, persiapan yang dilakukan yaitu persiapan peralatan. Peralatan menjadi bagian dari tahap pra produksi yang harus diperhatikan karena perlatan berguna untuk menunjang jalannya teknis program.

28

b) Produksi

Setelah tahap pra produksi selesai maka proses produksi dapat dilaksanakan. Proses produksi dilakukan dengan perekaman suara dari naskah menjadi bentuk rekaman suara yang dapat didengar oleh pendengar. Dalam tahap produksi harus memperhatikan beberapa hal yaitu:

(1) Kesesuaian jadwal selama bekerja (2) Pengelolaan alat yang digunakan (3) Pengelolaan kerabat kerja

(4) Kualitas suara hasil perekaman c) Pasca produksi

Tahap ini merupakan tahap akhir dari tahap proses produksi sebuah program radio. Tahap pasca produksi merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan setelah semua pengambilan suara dari semua materi dinyatakan selesai dan siap disiarkan. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam tahap pasca produksi yaitu editing dan mixing. Editing dan mixing ini berperan mengurangi dan menghilangkan noise yang terrekam selama perekaman suara, selain itu menambahkan efek dan musik sebagai pelengkapnya. Pada tahap pasca produksi ini juga tak luput dari evaluasi kerja yang dilakukan sebagai bahan perbaikan dari hasil produksi yang dikerjakan.

29

Pada proses produksi diperlukan tim produksi yang mengatur jalannya proses produksi. Sifatnya sementara selama produksi berlangsung. Personil yang mendukung juga berasal dari unit kerja yang ada pada struktur organisasi lembaga penyiaran. Setelah proses produksi selesai maka setiap personil kembali pada unit kerja asalnya (Djamal, 2011: 101). Adapun tugas-tugas dari tim produksi antara lain:

1) Produser/Program Director

- Bertanggung jawab atas produk yang dihasilkan - Menyediakan produk tepat pada waktunya - Mengkoordinir tim produksi

- Mengatur alur kerja tim produksi

- Menyediakan semua keperluan tim produksi - Menjadi jembatan tim dengan pihak lain. 2) Penulis naskah

- Menyediakan naskah sebagai bahan produksi/bahan siaran

- Menyediakan bahan tepat pada waktunya

- Memastikan keakuratan data dan pengayaan data melalui riset

3) Reporter

30

- Menyediakan naskah siap baca - Menyampaikan laporan lapangan 4) Direktur musik

- Menyediakan musik yang dibutuhkan - Memberikan masukan musik yang tepat - Melaksanakan tugas tersebut sesuai waktunya 5) Operator produksi

- Memproduksi sesuai perintah produser

- Me-mixing bahan mentah menjadi sebuah bahan layak siar

- Mengerjakan dalam tempo sesuai keperluan tim 6) Penyiar (announcer)

- Mengantar rekaman lagu atau musik dan program - Membacakan iklan-iklan (live commercial), layanan

publik, dan identifikasi stasiun

- Menyampaikan laporan atau informasi waktu dan lalu lintas

- Menjalankan peralatan control room. c. Eksekusi program

Menurut Morrisan (2009:302), eksekusi program merupakan kegiatan mencakup penayangan program sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan. Penayangan program harus ditata dan disusun sesuai dengan jadwal siaran baik itu program siaran on air maupun off air.

31

Seorang programmer harus menganalisi dan memilah-milah bagian waktu siaran untuk mendapatkan audien yang diinginkan karena pada jam berbeda maka audiennya pun juga berbeda-beda. Oleh karena itu pengelola program harus menyusun dan menata program sebaik mungkin. Hal tersebut dapat diamati pada Tabel 1.

Tabel 1. Ketersediaan Audien dan Pembagian Waktu Siaran

Bagian Hari Audien Tersedia

Pagi Hari (06.00-09.00) Anak-anak, ibu rumah tangga, pensiunan, pelajar, dan karyawan yang akan berangkat ke kantor Jelang Siang (09.00-12.00) Anak-anak pra sekolah, inu rumah

tangga, pensiunan, dan karyawan yang bertugas secara bergiliran (shift).

Siang Hari (12.00-16.00) Karyawan yang baru pulang dari tempat kerja, anak-anak dan remaja.

Sore Hari (Early Evening) (16.00-18.00)

Hampir sebagian besar audien sudah berada di rumah

Jelang Waktu Utama (Prime Acces) (19.00-20.00)

Seluruh audien tersedia pada waktu ini.

Waktu Utama (Prime Time) (20.00-23.00)

Seluruh audien tersedia pada waktu ini utamanya antara pukul 20.00-21.00. Namun setelah itu, audien mulai berkurang utamanya untuk audien anak-anak, para pensiunan, dan mereka yang harus tidur lebih cepat agar dapat bangun pagi-pagi Jelang Tengah Malam (Late

Fringe) (23.00-23.30)

Utamanya orang dewasa Akhir Malam (Late Night)

(23.30-02.00)

Orang dewasa termasuk karyawan yang bertugas secara giliran (shift). (Sumber: Peter K Pringle, Michael F. Starr, William E. McCavitt; Electronic Media Management, second edition, Focal Press, Boston-London, 1991) dalam Morissan (2009: 257)

32

Penyusunan program siaran juga perlu mempertimbangkan prime time, yaitu waktu terbaik khalayak dalam menikmati acara siaran yang ditayangkan dalam waktu sehari. Setaip program acara yang disiarkan menurut segmen khalayak tertentu akan memiliki waktu prime time yang berbeda.

Suatu program dapat disusun dengan runtut, rinci, dan terarah karena adanya panduan dalam operasionalisasi siaran yang disebut sebagai format clock, yaitu pola atau pedoman terhadap isi acara berbentuk diagram yang terdiri dari unsur-unsur isi/item materi siaran, keterangan durasi ucapan penyiar, jumlah lagu, jumlah iklan, bentuk-bentuk insert, serta keterangan lainnya (Triartanto, 2010: 104).

Selain dalam hal memperhatikan ketersediaan audien atau masyarakat pendengar dan jam tayang sebuah program, hal yang perlu diperhatikan adalah persiapan sebelum melaksanakan eksekusi sebuah program. Dalam melaksanakan eksekusi sprogram saat on air, terdapat dua konsep atau metode penyiar atau siaran sendiri dan siaran berdua atau lebih. Siaran sendiri yaitu penyiar bekerja sendiri baik bertutur, mengelola informasi, maupun mengoperasikan peralatan. Sedangkan siaran berdua atau lebih yaitu penyiar berpasangan baik dengan operator yang bekerja untuk mengoperasikan peralatan, maupun dengan sesame penyiar sehingga saling berbagi dalam bertutur atau melayani interaksi pendengar.

33

Setiap pelaksanaan siaran program, setiap penyiar dibekali dengan rencana siar yang diberikan oleh programmer. Menuruyt Theo Stokkink (1997: 33-34), lembar rencana siaran program memberikan informasi yang dibutuhkan untuk menggabungkan acara suaru program ke dalam susunan acara, yaitu:

1) Judul

2) Tanggal dan waktu rekaman persiapan 3) Tanggal dan waktu rencana penyiaran 4) Nama reporter (penulis)

5) Rencana siaran itu sendiri untuk dibacakan oleh penyiar 6) Beberapa kata pertama dan terakhir dalam rekaman 7) Durasi rekaman

Berdasarkan penjelasan tersebut, setiap radio memiliki rencana yang berbeda-beda dalam sekali pelaksanaan siaran, begitu juga dengan Jogja Belajar Radio. Rencana siar di Jogja Belajar Radio diberikan kepada penyiar sebagai panduan program siaran sehingga dapat mempermudah proses siaran program.

d. Pengawasan dan evaluasi program

Menurut Terry dalam Wahyudi (1994: 30), pengawasan dan langkah untuk menentukan apa yang telah dicapai, mengadakan evaluasi dan mengambil tindakan korektif bila diperlukan agar hasilnya sesuai dengan yang telah direncanakan.

34

C. Hubungan Pelaksanaan Program dengan Kawasan Teknologi Pendidikan Definisi Teknologi Pendidikan tahun 1994 adalah teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber belajar. Dalam definisi tersebut dirumuskan atas lima kawasan bidang garapan teknolog pendidikan, yaitu: Desain, Pengembangan, Pemanfaatan, Pengelolaan dan Penilaian (Evaluasi) (Seels dan Richey, 1994: 10-25).

Sedangkan menurut AECT (1997) adalah proses kompleks dan terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana, dan organisasi untuk menganalisis masalah, merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah belajar dan manusia.

AECT 2004 mendefinisikan Teknologi Pendidikan sebagai studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi.

Penjelasan singkat dari kawasan-kawasan Teknologi Pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Kawasan Desain

Desain adalah proses untuk menentukan kondisi belajar. Tujuan desain adalah untuk menciptakan strategi dan produk pada tingkat makro, seperti program dan kurikulum, dan pada tingkat mikro seperti pelajaran dan modul. Kawasan desain meliputi studi mengenai desain system

35

pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran, dan karakteristik pebelajar.

2. Kawasan Pengambangan

Pengembangan adalah proses penerjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fsik. Kawasan pengembangan mencakup banyak variasi teknologi yang digunakan dalam pembelajaran. Kawasan pengembangan diorganisasikan dalam empat kategori, yaitu teknologi cetak, audiovisual, teknologi berbasis komputer, dan teknologi terpadu.

3. Kawasan Pemanfaatan

Pemanfaatan adalah aktifitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Fungsi pemanfaatan ini memperjelas hubungan pebelajar dengan bahan dan system pembelajaran. Kawasan ini terdiri dari pemanfaatan media, difusi inovasi implementasi, dan institusionalisasi (pelembagaan), serta kebijakan dan regulasi

4. Kawasan Pengelolaan

Konsep pengelolaan merupakan bagian integral dalam bidang Teknologi endidikan dan dari peran teknolog pendidikan. Pengelolaan meliputi pengendalian Teknologi Pendidikan melalui perencanaan, pengorganisasian, dan supervise. Kawasan pengelolaan terdiri dari pengelolaan proyek, pengelolaan sumber, pengelolaan system penyampaian, dan pengelolaan informasi.

36

5. Kawasan Penilaian (Evaluasi)

Penilaian atau evaluasi adalah proses penentuan memenuhi tidaknya pembelajaran dan belajar. Kawasan evaluasi tumbuh bersamaan dengan pengembangan penelitian dan metodologi pendidikan. Menurut Scriven penilaian merupakan proses untuk menentukan kebaikan, manfaat atau nilai dari suatu proses atau produk, dan merupakan proses penelitian. Tujuan evaluasi adalah membantu pengambilan keputusan yang tepat, bukan untuk menguji hipotesa.

Proses penilaian atau evaluasi dimulai dengan analisis masalah. Hal ini merupakan langkah awal dalam pengembangan dan penilaian karena tujuan dan hambatan dijelaskan pada proses ini. Dalam kawasan evaluasi dibedakan menjadi penilaian program, penilaian projek, dan penilaian produk.

Hubungan antar kawasan dalam teknologi pendidikan tidak dapat dipisahkan karena bersifat sinergis. Setiap kawasan memberikan kontribusi terhadap kawasan yang lain dan kepada penelitian dan teori yang digunakan bersama oleh semua kawasan. Begitu pula dengan pelaksanaan program siaran radio juga memiliki keterikatan dengan kelima kawasan teknologi pendidikan khususnya dengan program-program siaran untuk pendidikan.

D. Tinjauan tentang Jogja Belajar Radio

Jogja Belajar Radio (JBRadio) adalah radio streaming milik Balai Tekkomdik Disdikpora DIY yang memberikan layanan pendidikan yang dikemas secara edutainment sejak tahun 2014. JBRadio memberikan layanan

37

informasi pendidikan yang dipadukan dengan hiburan yang mendidik. Sebagai radio pendidikan JBRadio dapat didengarkan kapan saja dan dimana saja secara streaming selama 18 jam dari pukul 06.00-24.00. Untuk dapat mendengarkan siaran JBRadio para pendengar dapat mengakses http:/www.JBRadio.jogjabelajar.org/.

Terdapat 6 program acara rutin JBRadio, yakni : 1. Selamat pagi

2. 1 Jam Bersama Artis Idola 3. Dendang Nusantara 4. Agenda Jogja 5. Lentera Hati 6. Jogja Hari Ini

Selain program acara rutin, JBRadio juga memiliki 8 program acara unggulan yakni: 1. Talkshow 2. Lumbung Budaya 3. Sosok Tokoh 4. Resensi Media 5. Ayo Belajar

6. Info IPTEK dan Sains 7. Bincang Santai 8. Resensi Warta Guru

38

Kegiatan JBRadio ini merupakan kegiatan yang terbilang baru di lembaga BTKP, meliputi kegiatan tentang seputar dunia pendidikan, info-info pendidikan, juga ada kegiatan yang mengundang narasumber dari pakar pendidikan sendiri. Kegiatan ini dilakukan setiap hari kerja.

E. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana asal-usul program Jogja Belajar Radio?

2. Bagaimana kegiatan perencanaan siaran program Jogja Belajar Radio? 3. Bagaimana kegiatan produksi program Jogja Belajar Radio?

4. Siapa saja yang terlibat dalam produksi program Jogja Belajar Radio? 5. Bagaimana kegiatan pengawasan dan evaluasi yang dilakukan terkait

39 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Suharsimi Arikunto (2005: 243), penelitian deskriptif adalah penelitian yan dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan yang apa adanya saat penelitian dilaksanakan. Penelitian deskriptif ini dilakukan dengan tujuan untuk mendskripsikan pelaksanaan program Jogja Belajar Radio yang dilaksanakan di Balai Teknologi dan Komunikasi Pendidikan.

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian secara holistik dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks, khususnya yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2007: 6). B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan Juni 2016. Lokasi penelitian dilakukan di Kantor Balai Teknologi dan Komunikasi Pendidikan Disdikpora Pemda DIY Jalan Kenari No. 2 Kota Yogyakarta. Adapaun tahapan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu sebagai berikut:

40

1. Tahap pengumpulan data awal

Peneliti melakukan observasi dan wawancara awal secara informal dan tidak terstruktur kepada pengelola Jogja Belajar Radio Balai Tekkomdik DIY. Bertujuan untuk mencari beberapa masalah yang ada dan fakta-fakta yang ditemukan selama pengumpulan data awal.

2. Tahap penyusunan proposal

Peneliti memulai menyusun proposal penelitian berdasarkan data-data awal yang telah dikumpulkan pada tahap pengumpulan data awal. Tahap ini bertujuan untuk menentukan instrumen dan teknik apa yang akan digunakan selama penelitian berdasarkan kajian teori yang ada.

3. Tahap perijinan surat penelitian

Peneliti mengurus surat perijinan penelitian untuk melakukan di Balai Teknologi dan Komunikasi Pendidikan Disdikpora Pemda DIY setelah proposal mendapat persetujuan oleh dosen pembimbing dan pihak fakultas.

4. Tahap pengumpulan data

Peneliti mulai melakukan penelitian di Balai Teknologi dan Komunikasi Pendidikan Disdikpora Pemda DIY yaitu dengan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan untuk penelitian. Data-data tersebut kemudian diolah dan dianalisis guna ditarik sebuah kesimpulan. 5. Tahap penyusunan laporan

41

Peneliti menyusun laporan penelitian berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan dan dianalisis sebelumnya. Data-data tersebut kemudian disajikan menjadi suatu laporan penelitian.

C. Subjek Penelitian

Subjek yang terdapat dalam penelitian ini adalah pihak-pihak yang terkait langsung dengan pengelolaan program Jogja Belajar Radio yaitu Program Director Jogja Belajar Radio, Kepala Bagian Layanan dan Promosi, kru radio, dan penyiar Jogja Belajar Radio. Pengambilan subjek penelitian dimaksudkan untuk menggali informasi sebanyak mungkin dan menjawab rumusan dan tujuan penelitian yang dilakukan.

D. Variabel Penelitian

Variabel penelitian dalam penelitian merupakan gejala yang menjadi fokus untuk diamati. Variabel penelitian adalah segala yang berbentuk apa saja yang diterapkan oleh peneliti kemudian dipelajari sehingga terkumpul informasi hal tersebut dan akhirnya ditarik keimpulannya (Sugiyono, 2008: 60).

Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal, yaitu dalam penelitian ini tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel lain dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lain (Sugiyono, 2008: 56). Variabel tunggal dalam penelitian ini adalah pelaksanaan program Jogja Belajar Radio di Balai Tekkomdik.

42 E. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini data yang dikumpulkan dikelompokkan menjadi dua, yaitu data utama (data primer) dan data pendukung (data sekunder). Data primer adalah data yang berupa teks hasil wawancara dan diperoleh melalui wawancara dengan subjek penelitian. Sedangkan data sekunder bersumber dari catatan tertulis, foto atau gambar, dokumen, dan hasil observasi serta informasi lain yang dapat mendukung dalam penelitian.

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data agar memperoleh data yang akurat dan lengkap, sehingga mengungkapkan secara detail pelaksanaan program Jogja Belajar Radio di Balai Tekkomdik. Dalam penelitian ini menggunakan tiga teknik dalam pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.

1. Observasi

Pada penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan non participant observation. Pengamatan non partisipan adalah dimana peneliti tidak ikut di dalam kehidupan orang yang akan diobservasi, dan secara terpisah berkedudukan selaku pengamat. Dalam hal ini peneliti hanya mengamati tanpa terlibat dalam segala aktivitas yang dilakukan oleh subjek dan informan. Segala aktivitas dari subjek dan informan merupakan sumber data penelitian ini.

43

Teknik wawancara ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur (semistructured interview). Wawancara semi terstruktur ini termasuk kategori in-depth interview yang pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dan pihak yang diajak wawancara diminta pendapatnya. Dalam melakukan wawancara peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan (Sugiyono, 2009: 233)

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, film dokumenter, dan data lain yang relevan. Dokumen menurut Guba dan Lincoln (1981) dalam Moleong (2007: 217) diartikan sebagai setiap bahan tertulis ataupun film, dengan diikutinya beberapa keuntungan yang menjadi alasan kegunaan yaitu:

a. Merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong, b. Berguna sebagai “bukti” untuk suatu pengujian.

c. Sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.

44

Dokumentasi digunakan untuk menggali informasi yang dalam serta berkaitan dengan pengelolaan Jogja Belajar Radio yang ada di Balai Tekkomdik. Informasi yang bersifat dokumentatif sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran dalam mendapatakan informasi yang lebih mendalam di lembaga.

F. Instrumen Pengumpulan data

Instrumen pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, panduan wawancara, dan checklist.

1. Lembar observasi

Rangkaian kegiatan yang terdapat di Jogja Belajar Radio merupakan data yang kaya. Guna mencatat segala kegiatan dan hal menarik lain selama penelitian berlangsung, penelitian ini dibekali dengan lembar observasi yang sudah disiapkan sebelum penelitian dilaksanakan.

Tabel 2. Kisi-kisi Lembar Observasi

No. Aspek Yang Diamati

1. Proses perencanaan program

- Proses penentuan tujuan program - Cara memilih jenis penayangan - Cara menentukan isi program

- Langkah-langkah penetapan strategi siaran 2. Proses produksi program siaran

- Penentuan dan pembuatan konten - Kegiatan siaran program radio 3. Proses eksekusi program siaran

- Persiapan dan penayangan program

2. Panduan wawancara

Wawancara ini dilakukan untuk mengkonfirmasi temuan dan asusmsi peneliti. Jenis wawancara yang dilakukan adalah wawancara

45

terbuka. Berlangsung secara informal dan santai namun terus fokus mencari benang merah dari masalah penelitian. Panduan wawancara hanya membuat garis besar pokok-pokok, topik, atau masalah yang dijadikan pegangan dalam wawancara.

Tabel 3. Kisi-kisi Panduan Wawancara

No. Aspek Yang Diamati

1. a. Latar belakang program b. Tujuan program

c. Kebutuhan program

d. Standard dan prosedur pengelolaan Jogja Belajar Radio 2. a. Kriteria/kualifikasi pengelola

b. Target/sasaran program c. Jenis program yang ada d. Sarana prasarana

3. a. Prosedur pengelolaan siaran JB Radio

b. Kegiatan produksi untuk program live maupun rekaman c. Kegiatan produksi iklan dan info ringan

d. Pengawasan program siaran Jogja Belajar Radio 4. a. Respon Pendengar

b. Pencapaian program Jogja Belajar Radio

3. Checklist

Menurut Sobry Sutikno (2009: 134), checklist adalah suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang akan diamati. Ada bermacam macam aspek yang dicantumkan dalam checklist, kemudian observer tinggal memberikan tanda cek pada tiap-tiap aspek tersebut sesuai dengan hasil pengamatannya. Digunakan untuk memudahkan peneliti mencari data tambahan terkait buku, dokumen, dan informasi dari internet. Lembar checklist dipersiapkan sebelum penelitian berlangsung.

46 G. Teknik Analisis Data

Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dimana analisis ini digunakan untuk menganalisis data yang tidak dapat dibaca dengan angka atau berbentuk paparan tentang suatu peristiwa.

Miles dan Huberman (Sugiyono, 2008: 21) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisi data yaitu:

Gambar 1. Komponen Analisis Data Model Kualitatif 1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Peneliti melakukan analisis terhadap data yang didapat, jika merasa data tersebut belum memuaskan, maka terus digali dan hingga diperoleh data yang dianggap kredibel.

2. Reduksi Data

Reduksi data, data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci seperti telah dikemukakan, makin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan makin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan

Reduksi data Sajian data

Penarikan kesimpulan/verifikasi

47

analisis data melalui reduksi dara. Mereduksi data berarti merangkum, memilah hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dalam mereduksi data peneliti dipandu oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama adalah pada temuan oleh karena itu apabila peneliti dalam melakukan penelitian menemukan segala sesuatu yang dipandang asing, tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus dijadikan perhatian peneliti dalam reduksi data. Dalam mereduksi data peneliti mendiskusikan pada orang yang dipandang ahli sehingga melalui diskusi tersebut wawasan peneliti akan terus berkembang.

3. Data Display

Data display atau penyajian data setelah direduksi maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Dalam hal ini, Miles

Dokumen terkait