umpu latl
Abstrak Penelitia1
Tem u llmiah Geriatri 2016 Hotel Le G randeur Jakarta
Besaran Risiko Hipoalbumin pada Pasien Geriatri dengan Skar Mini Nutritional Assessment Short-Form (MNA-SF) Rendah yang Dirawat di RSUP Prof.Dr.R.O Kandou Manado
Lestari N, Lasut P, Hendratta C , Rau E , Mandang V, Jim E D ivisi Geriatri, Bagian l l m u Penyakit Dalam Fakultas Kedoktera n U niversitas Sam Ratulangi Ma nado
Latar Belakang: Pasien geriatri yang menjalani rawat inap sering mengalami malnutrisi. Satu dari enam orang usia lanjut dapat mengalami malnutrisi (WH0,20 1 5 ) . Albumin serum merupakan prediktor malnutrisi protein dan indikator prognostik yang penting namun pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan. MNA-SF dapat menjadi deteksi dini untuk mengetahui apakah seorang usia lanjut mempunyai risiko mengalami malnutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah skor MNA-SF dapat menjadi prediktor hipoalbuminemia pada pasien usia lanjut.
Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan studi potong lintang. Sampel adalah pasien usia lanjut 2'..
60 tahun yang menjalani rawat inap di RSUP Prof.DR.RD.
Kandou Manado sejak bulan Juli 201 6 sampai Agustus 2016 dan bersedia mengikuti penelitian. Pasien dengan gangguan ko gnitif, gangguan mental dan koma, serta kesulitan berkomunikasi dieksklusi. Hubungan antara skor MNA-SF dengan albumin serum menggunakan uji korelasi Pearson sementara besaran resiko hipoalbumin dianalisa dengan uji Chi-Square.
Hasil: Dari 40 subjek penelitian didapatkan 24 (60%) subjek laki-laki dan 1 6 (40% ) subjek perempuan. Pada penelitian didapatkan usia rerata 70,12 ± 7,82, rerata indeks massa tubuh
21,64 ±6,51, rerata MNA 8,40 ± 2,78, dan rerata albumin 3,08
± 0,53. Berdasarkan skor MN A-SF diketahui risiko malnutrisi 52,5% dan sebesar 32,5% mengalami malnutrisi berat. Terdapat korelasi positif antara skor MNA-SF dengan nilai albumin serum (p=0,013, r=0,389) dengan risiko relatif hipoalbumin 7,714.
Simpulan: Terdapat korelasi positif antara skor MN A-SF dengan nilai albumin serum. Skar MN A-SF yang rendah dapat memprediksi besaran risiko hipoalbumin pada pasien geriatri.
Kata kunci: MN A-SF, Malnutrisi, Lansia, Albumin serum
Studi Epidemiologi Kerapuhan pada Usia Lanjut di Desa Pedawa, Kabupaten Buleleng Bali
I B Putrawan , I GP Suka Arya na, RA Tuty Kuswardhani, I Nyoman Asti ka, N i Ketut Roi Purnami Divisi Geriatri Bagian/SMF l l m u Penyakit Dalam FK U N U D/
RSU P Sanglah
Pendahuluan: Kerapuhan a tau frail didefinisikan sebagai sindrom multidimensi dan ditandai hilangnya cadangan fungsional tubuh termasuk energi, kemampuan fisik, kognitif dan kesehatan yang berkaitan dengan usia. Dengan adanya sindrom kerapuhan ini, seorang usia lanjut memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena luaran yang buruk. Saat ini, belum banyak studi yang dilakukan untuk mencari epidemiologi kerapuhan pada usia lanjut di Indonesia terutama di komunitas.
Metode: Penelitian ini menggunakan potong lintang.
Subyek penelitian adalah usia lanjut yang tinggal di Desa Pedawa dan dilakukan teknik stratified random sampling.
Kerapuhan dinilai berdasarkan kriteria Fried's Frailhj Phenohjpe.
Sampel juga dinilai status fungsionalnya dengan memakai Barthel's ActivihJ Daily Living dan kualitas hidupnya dengan memakai European Qualihj of Life Five Dimensions-Visual Analog Scale (EQ5D-VAS) Questionnaire.
Hasil: Seratus tujuh belas orang usia lanjut didapatkan sebagai sampel dengan 54 orang laki-laki (46,2%) dan 63 orang perempuan (53,8 %) dengan rerata usia 69.16 (60-97) tahun.
Berdasarkan kriteria Fried's Frailty Phenotype, didapatkan prevalensi frail sebesar 29,1 %, pre-frail sebesar 67,5% dan non-frail sebesar 3,4 % . Pad a frail dan pre-frail didapatkan perempuan lebih banyak daripada laki-laki yaitu masing
masing 61,8 % dan 51,9% sedangkan laki-laki lebih ban yak pada
non-frail dengan 75% . Sampel berusia < 75 tahun lebih ban yak mengalami frail dan pre-frail (58,8% dan 79,7%) dibandingkan dengan usia � 75 tahun (41,2% dan 20,3 %). Sebagian besar sampel dengan status fungsional mandiri, masing-masing 52,9% pada frail, 93,7% pada pre-frail dan 100% pada non
frail. Rerata nilai EQ5D-VAS pada kelompok frail adalah 63.82±12, pada pre-frail adalah 68,67±12.8 dan pada non-frail adalah73.75±4.8.
Kesimpulan: Prevalensi kerapuhan pada usia lanjut d i Desa Pedawa cukup tinggi d ibandingkan penelitian sebelumnya. Kerapuhan lebih banyak terjadi pada perempuan dengan sebagian besar masih memiliki status fungsional mandiri tetapi dengan kualitas hid up yang lebih rendah.
Kata Kunc i : kerapuhan, usia lanjut, Fried's Frailty Phenotype, ADL, EQ5D-V AS
Status Nutrisi Sebagai Prediktor Lama Rawat lnap pada Pasien Lanjut Usia di RSUP Sanglah
Made N opriantha*, IGP Suka Arya na**, N K R o i Purnami**, IB Putrawan**, I N Astika**, RA Tuty Kusward hani**
* Prog ra m Studi llmu Penyakit Dalam
** Divisi Geriatri, FK U N U D/RSUP Sanglah
Latar belakang: Penduduk lanjut usia rawan mengalami gizi kurang dan diperparah oleh adanya penyakit degeneratif.
Lansia yang menderita malnutrisi mengalami penurunan kekebalan tubuh sehingga lebih berisiko terkena infeksi, akibatnya lama perawatan menjadi lebih panjang. Disamping itu lansia dengan malnutrisi juga beresiko terhadap beberapa komplikasi penyakit yang mempengaruhi kualitas hid up dan meningkatnya risiko kematian.
Tuj u a n : Tujuan dari penelitian ini ada lah untuk mengetahui penggunaan status nutrisi dengan Mini Nutritional Assesmen t (MNA) sebagai prediktor lama rawat pada pasien
usia lanjut yang dirawat inap di RSUP Sanglah.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian berbasis rumah sakit dengan pendekatan Kohort retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien lansia (umur > 60) yang pernah dirawat inap oleh Divisi Geriatri Ilmu Penyakit Dalam RSUP Sanglah dari Januari 2016 sampai Mei 201 6. Data dari rekam medik dikumpulkan memuat informasi mengenai umur, jenis kelamin, diagnosis, tanggal masuk rumah sakit, tanggal keluar rumah sakit, lama rawat inap, status nutrisi dan faktor komorbid. Hubungan antara status nutrisi dengan lama rawat inap dievaluasi dengan menggunakan analisis survival dengan lama rawat > 15 hari sebagai luaran klinis.
Hasil: Prevalensi malnutrisi pada pasien geriatri yang dirawat inap di RSUP Sanglah sebesar 1 5 % . Terdapat perbedaan signifikan rata-rata rawat inap di RSUP Sanglah berdasarkan status nutrisi (p<0.001) . Status nutrisi (r=0.771, p=0.001) dan faktor komorbid terbukti (r=0.823, p=0.001) sebagai faktor risiko lama rawat inap namun tidak signifikan terhadap umur dan jenis kelamin. Dari kurva Kaplan-Meier terlihat survival rate pasien dengan malnutrisi paling rendah dibandingkan dengan status nutrisi lainnya.
Simpulan: Status nutrisi terbukti sebagai prediktor lama rawat inap pada pasien geriatri, dimana pasien dengan malnutrisi memiliki lama raw at inap paling lama.
Kata Kunci: status nutrisi, lansia, rawat inap, M ini Nutritional Assesment
Analisis Faktor Kelainan Kognitif pada Lansia di Dusun Polosiyo, Poncosari, Srandakan, Bantul, Daerah lstimewa Yogyakarta
Dimas Satya Hendarta Staf Akademi k Progra m Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedoktera n U niversitas Islam I ndonesia
Latar Belakang: Berdasarkan data Statistik Penduduk Lanjut Usia (Lansia) yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (2014), hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2014 menunjukkan bahwa jumlah lansia di Indonesia mencapai 20,24 ju ta orang atau sekitar 8,03%
dari seluruh penduduk. Menurut Departemen Kesehatan, jumlah tersebut termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah lansia terbanyak di dunia dan diperkirakan pada tahun 2025 nanti Indonesia akan menjadi negara dengan penduduk lansia terbesar di dunia dengan populasi mencapai 36 juta jiwa. Dengan peningkatan populasi tersebut, angka kejadian berbagai masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia dapat meningkat, diantaranya adalah kelainan kognitif. Untuk menunjang berbagai upaya pencegahan terjadinya kelainan kognitif yang dapat menyebabkan hambatan bagi kualitas hidup lansia, analisis faktor kelainan kognitif pada lansia perlu dilakukan
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelainan kognitif pada lansia di Dusun Polosiyo, Poncosari, Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Metode: Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional (belah lintang) terhadap populasi lansia d i Dusun Polosiyo, Poncosari,
Srandakan, Bantul, DIY. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square Test untuk mengetahui hubungan antara karakteristik subjek penelitian dengan kelainan kognitif.
Hasil : Proporsi kelainan kognitif lansia pada Dusun Polosiyo, Poncosari, Srandakan, Bantul, DIY sebesar 62,5% (25 dari 40 orang lansia). Sebanyak 22,5% (9 orang) diantaranya termasuk dalarn dugaan Mild Cognitif Impairment (skor MMSE 24-28), 20% (8 orang) termasuk dalam Probabilitas Kognitif Terganggu/Dugaan Demensia (skor MMSE 1 7-23), dan 20% (8 orang) sisanya mengalami Gangguan Kognitif Definitif (skor M MSE 0-1 6). Terdapat hubungan antara kelainan kognitif dengan tekanan darah (hipertensi) pada lansia (p=0,023, p<0,05).
Simpulan: Proporsi kelainan kognitif lansia pada Dusun Polosiyo, Poncosari, Srandakan, Bantu!, DIY sebesar 62,5% dari populasi lansia. Terdapat hubungan antara kelainan kognitif dengan tekanan darah (hipertensi) pada lansia (p=0,023, p<0,05).
Kata Kunci: Kelainan Kognitif, Lansia
Hubungan antara Sarkopenia dan Asupan Nutrisi dan Aktivitas Fisik Lansia di Desa Pedawa Kabupaten Singaraja Bali
Tjok Prima Dewi P. , I GA Suka Aryana, RA Tuty Kuswa rdhani, I Nyoman Astika, IB Putrawa n , N i Ketut Rai Purnami Divisi Geriatri Progra m Studi l l m u Penyakit Dalam U niversitas U d ayana/RSUP Sanglah Denpasar, Bali
Latar b elakang: Sarkopenia adalah suatu sindrom dengan karakteristik berupa penurunan secara progresif dan generalized dari massa otot skeletal dan kekuatan otot disertai dengan risiko terjadinya disabititas, penurunan kualitas hid up dan kernatian. Asupan nutrisi yang rendah dan aktivitas fisik kurang adalah faktor yang dihubungkan dengan sarkopenia.
Tujuan: Mengetahui hubungan anatara sarkopenia dan asupan nutrisi dan aktivitas fisik
Metode: Penelitian ini menggunakan potong lintang analitik. Subyek penelitian adalah usia lanjut yang tinggal di Desa Pedawa dan dilakukan teknik stratified random sampling. Sarcopenia dinilai dengan penurunan massa otot skeletal disertai dengan penurunan kekuatan otot dan atau penurunan perfoma statu . Penilaian massa otot dengan Bioimpedance Analysis (BIA) yaitu dengan nilai normal adalah 23,9-29,9%, dikatakan menurun jika nilai BIA kurang dari 23,9 % . Sedangkan kekuatan otot dinilai dengan Hand grip strength dengan nilai turun bila laki-laki dibawah 30 kg/
m2 dan perempuan dibawah 20 kg/ m2. Penilaian status performa menggunakan kecepatan berjalan yaitu lambat bila laki-laki kurang dari 7 detik dan perempuan kurang dari 6 detik. Asupan makanan dinilai dengan recall 24 jam
kemudian dianalisis dengan nutrisi survey dan terbagi menjadi protein, karbohidrat dan lemak dalam satuan gram dan kalori kemudian didapatkan kalori nutrisi total. Aktifitas fisik dengan recall 24 jam aktivitas yang terbagi menjadi bergerak, diam dan tidur dalam satuan jam. Lalu dihitung dengan menggunakan Metabolic Equivalent Task (MET). Data dianalisis menggunakan SPSS Vl6.0.
Hasil: Dari 117 orang usia lanjut didapatkan 54 orang laki-laki (46,2%) dan 63 orang perempuan (53,8%) dengan 64,1 % adalah usia 65 tahun keatas. Dari 117 sampel didapatkan prevalensi sarkopenia pada orang usia lanjut sebesar 70,9% . Terdapat perbedaan prevalensi sarkopenia pada umur < 65 tahun adalah 28,92% dan � 65 tahun adalah 70.08% (p=0,014).
Pada hasil penelitian didapatkan perbedaan prevalensi sarkopenia pada laki-laki sebesar 53,01 % dan perempuan 46,9 9 % (p=0,02) . Menggunakan uji Chi-square antara sarkopenia asupan nutrisi dengan nilai p adalah 0,032 dan nilai p adalah 0,037 antara sarkopenia dengan total kalori aktifitas fisik.
Simpulan: Terdapat hubungan antara sarkopenia dengan asupan nutrisi dan aktivitas fisik.
Kata kunci: sarkopenia, asupan nutrisi, aktivitas fisik, BIA, Handgrip strength
Ageism; Membudaya, Mendarah Daging, Diskriminatif
Leonard Kencana Bluecross Medi ka
Setiap pasien dan manusia memiliki hak hukum untuk bebas dari diskriminasi. Hak Pasien dalam UU No 44 / 2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 32 UU 44/ 2009) adalah memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya).1 Tahun 2011, 34,5% penduduk di negara-negara eropa mengalami diskriminasi di kategori usia. Ageism merupakan aplikasi diskriminasi stereotipe sistemik terhadap orang lain karena usia.3 Layaknya diskriminasi lain, ageism juga tegak dan merajalela karena adopsi stereotipe yang dianggap lazim di dalam kehidupan bermasyarakat.
Satu hingga tiga juga penduduk Amerika yang berusia lebih dari 65 tahun telah terluka, diekploitasi, a tau dilecehkan oleh seseorang yang mereka andalkan sebagai pelindung a tau penjaga. Kira-kita 2%-10% penduduk lansia mengalami abuse.
Bukankah sebagian besar penduduk muda yang mendukung diskriminasi pada penduduk usia tua akan menjadi tua suatu hari nanti dan kemudian ketika mereka tua diskriminasi yang mereka percaya akan menjadi senjata makan tuan? Jonson dan kawan-kawannya menemukan bahwa sebagian besar penduduk muda percaya bahwa ketika mereka tua, kualitas diri dan kualitas hidup mereka akan lebih baik daripada generasi penduduk tua saat ini.8
Salah satu cara mengenal praktek ageism dalam dunia kedoktran adalah melalui bahasa. Terdapat dua gaya bahasa yang menyudutkan dan merendahkan pasien usia tua yakni gaya bahasa infantilizing14 dan patronizing15. Infantilizing
merupakan gaya bahasa yang rnenempatkan lawan bicara dalarn spektrum dan kornpetensi anak-anak atau kekanakan.
Patronizing juga bisa diartikan sebagai gaya bahasa yang merninirnalkan superioritas pribadi atau ide atau perasaan atau keinginan lawan bicara. Caya bahasa Infantilizing dan patronizing seringkali dianggap sebagai sopan santun tanpa ditelisik makna tersirat dan konsekuensi perilaku akibat kalirnat-kalimatnya.
Komposisi Tubuh: D istribusi lndeks Massa Bebas Lemak (FFMI) dan lndeks Massa Lemak Tubuh (BFMI) Pada Usia Lanjut di Posyandu Lansia Kelurahan Pekauman Kota Banjarmasin.
Wiwit Agung, I Dewa PutuPra mantara Prog ram Pendidika n Sp II Sub Divisi Geriatri/
Bagian Penyakit Dalam RSU P D r. Sardjito Yogya karta
Pendahuluan: Aging berhubungan dengan perubahan komposisi tubuh. Pada usia lanjut lean mass menurun dan lemak tubuh meningkat. Perubahan ini berpengaruh terhadap kesehatan dan fungsi fisik usia lanjut. Indeks massa tubuh berpengaruh terhadap risiko kesehatan dan kematian 1. Indeks massa tubuh rendah dan tinggi meningkatkan risiko kesehatan dan kematian, dan terdapat hubungan antara massa bebas lemak (Free Fat Mass/FFM) dan massa lemak tubuh (Body Fat/
BF). Pengukuran indeks massa bebas lemak (FFMI; kg/m2) dan indeks lemak massa tubuh (BFMI; kg/ m2) merupakan pengukuran komposisi tubuh yang lebih baik. FFMI dan BFMI terhadap usia, jenis kelamin dan populasi tertentu lebih tepat dan informatif2.
Tujuan: Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui gambaran FFM, FFMI, BF, BFMI dan pada subyek dengan BMI rendah, normal, overweight dan obesitas.
Metode: Kami mengukur kadar FFM dan BF terhadap 61 subyek di kota Banjarmasin. Pengukuran memakai BIA Tanita SC 330 untuk mengukur FFMI, BFMI, dan BF. Analisa statistik: data disajikan dengan uji deskriptif dan beda rerata dengan ANOV A.
Hasil: didapatkan 61 pasien, usia rata-rata perempuan
67,29+6.23 tahun (n.=42 =66,7%) dengan rerata usia laki-laki 68,74+5,57 (n=19=30,2% ). Rerata FFM perempuan: 31,95+4,63 kg, laki-laki: 39,71+5,52kg, rerata FFMI perempuan: 14,79+1,52 kg, laki-laki: 16.55+2.26 kg, rerata massa lemak (BF) perempuan 15,66+6,72 kg, sedang laki-laki 9,96+5,01 kg, hasil rerata BFMI:
indeks massa lemak perempuan: (kg/ m2) 7,26+3,08, laki-laki 4,19+2,16 kg. Rerata massa otot, M MI, FFM, FFMI, body fat dan BFMI menurun seiring dengan peningkatan BMI dengan p < 0,05.
S i m p u l a n : Terdapat penurunan massa oto t, FFM, FFMI, body fat, BFMI seiring dengan peningkatan BMI dan peningkatan usia. BMI berkorelasi kuat terhadap FFMI dan BFMI.
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penurunan Gromerular Filtration Rate (GFR) Pada Lanjut Usia
Parjaman R. *, Marfianti E .**
* Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran U niversitas Islam I ndonesia
** Departemen l l m u Penyakit Dalam, Progra m Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedoktera n U niversitas Islam I n donesia
Latar Belakang: Secara global populasi lanjut usia di dunia semakin meningkat. Beberapa fungsi organ mengalami kemunduran dengan bertambahnya usia. Fungsi ginjal rnenurun dengan bertambahnya usia, tetapi penurunan ini juga berhubungan dengan rneningkatnya prevalensi penyakit yang berperan sebagai faktor risiko penyakit ginjal. Fungsi ginjal yang rnenurun akan rneningkatkan morbiditas, rnortalitas, dan disabilitas dalam sosial. Seringkali Geriatri rnerniliki permasalahan kesehatan yang kornplek, sehingga faktor-faktor yang menyebabkan fungsi ginjal rnemburuk sating beririsan.
Tuj uan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penurunan GFR Gromerular Filtration Rate pada lanjut usia.
Metodologi: Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian potong lintang (cross-sectional study) . Penelitian dilakukan di Posyandu Lanjut Usia di Daerah Kecamatan Kotagede Yogyakarta. Waktu penelitian rnulai bulan 1 Juli sampai 1 September 2011. Subyek adalah orang lanjut usia di posyandu lanjut usia di wilayah kerja Kecamatan Kotagede Yogyakarta . Subyek dicatat data umur, jenis kelarnin, berat badan, tinggi badan, tekanan darah dan riwayat
diabetes melitus. Kemudian subyek diambil darahnya untuk dilakukan pemeriksaan kreatinin untuk pengukuran laju filtrasi glomerulus. Analisis statistik menggunakan chi-square.
Analisis dinyatakan bermakna bila P<0,05.
Hasil: Total subyek dalam penelitian adalah 35 pasien dengan usia rata-rata 67.66 tahun (68.6% laki-laki). Beberapa kategori yang dimasukkan sebagai faktor risiko adalah usia, jenis kelamin, tekanan darah, riwayat diabetes mellitus dan index masa tubuh. Selanjutnya, analisis dilakukan dengan menggunakan chi-square dan fisher exact test. Pada populasi dengan tekanan darah tinggi, didapatkan penurunan LFG yang lebih besar dibandingkan tekanan darah yang normal (OR 6.6, CI = 1 .18-37.03, P= 0.022). Sedangkan untuk kategori lain tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap penurunan LFG.
Simpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dari tekanan darah tinggi terhadap penurunan LFG. Sedangkan untuk kategori lain, seperti usia, jenis kelamin, IMT, dan riwayat diabetes mellitus tidak menunjukkan hubungan terhadap penurunan LFG.
Kata kunci: Faktor-faktor yang mempengaruhi - Laju Filtrasi Glomerulus - Lanjut usia
Hubungan antara Gangguan Fungsi Kognitif, Depresi dan Kualitas Hidup Penduduk Usia Lanjut di Desa Pedawa, Kabupaten Singaraja, Bali
Pande Made Juniarta*, IGP Suka Aryana**, Made Diah Lestari*** RA Tuty Kuswardhani**, N yoman Asti ka**, IB Putrawa n**, Roi Purnami**
**Divisi Geriatri Program Studi l lm u Penyakit Dalam,
***Prog ram Studi Psi kologi U niversitas Udaya na/RSUP Sanglah Denpasar, Bali
Latar B el ak ang: Gangguan fungsi kognitif banyak dijumpai pada penduduk usia lanjut (�60 tahun). Bertambahnya usia akan berdampak pada meningkatnya risiko penyakit, disabilitas, dan gangguan fungsional yang berasosiasi dengan fungsi kognitif dan rendahnya kualitas hid up pada penduduk usia lanjut. Selain itu depresi pada usia lanjut juga dilaporkan sering terjadi dan menimbulkan dampak negatif terkait angka mortalitas dan kualitas hidup.
Tujuan: studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gangguan fungsi kognitif, depresi dan kualitas hidup penduduk Desa Pedawa, Kabupaten Singaraja, Bali.
Metode: Studi ini merupakan studi cross-sectional yang dilakukan pada tanggal 13-14 Agustus 2016 pada penduduk Desa Pedawa, Kabupaten Singaraja, dengan sampel berjumlah 1 1 7 orang. Penilaian gangguan fungsi kognitif menggunakan kuis ioner A bbrevia ted Men tal Tes t (AMT) dan depresi menggunakan kuisioner Geriatric Depression Scale-15 (GDS-15). Sedangkan kualitas hidup dinilai menggunakan kuisioner EQ5D. Sampel diperoleh menggunakan metode consecutive sampling dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan SPSS versi 1 6.0.
Hasil: Karateristik sampel didapatkan sebanyak 54 orang (46,2%) pria dan sebanyak 63 (53,8 %) adalah wanita. Sampel dengan gangguan fungsi kognitif didapatkan pada 64 orang (54,7% ) dan tan pa gangguan kognitif sebanyak 53 orang (45,3%). Pada skrinning depresi didapatkan sampel dengan depresi sebanyak 24 orang (20,5 % ) dan tan pa depresi sebanyak 93 orang (79,5% ) . Sedangkan hasil analisis kualitas hid up sampel didapatkan sampel dengan kualitas hid up baik, sedang dan buruk berturut-turut sebanyak 35 orang (29,9% ), 66 orang (56,4 %), dan 16 orang (13,7%). Hubungan antara gangguan kognitif dan kualitas hidup dianalisis menggunakan uji Chi
Square dengan nilai p=0,03. Sementara hubungan antara depresi dan kualitas hid up dianalisis menggunakan uji Fisher dengan nilai p=0,52. Sedangkan hubungan antara gangguan kognitif dan depresi dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan nilai p=0,00.
S i m p u l a n : Terdapat hubungan bermakna antara gangguan fungsi kognitif dengan kualitas hidup dan depresi pada penduduk Desa Pedawa, Kabupaten Singaraja, Bali.
Kata kunci: Gangguan fungsi kognitif, Depresi, Kualitas hidup, Usia Lanjut.
Prediktor Terhadap Status Fungsional Pasien di Poliklinik Geriatri RSUD
Makiyatul M, Yudhi H N, Bayu BW, Fatichati B Divisi Geriatri l l m u Penyakit Dalam FK Universitas Sebelas Maret/RS D r. Moewardi Solo
Latar belakang: Populasi lanjut usia yang terns meningkat dengan problem mutipel patologi menyebabkan status fu ngsional menj a d i fokus pentin g dalam melakukan tatalaksana baik di raw at inap ataupun rawat jalan. Beberapa hal terkait dengan status fungsional, misalnya usia, penyakit multipel yang diderita, pengobatan sampai pada dukungan sosial dan lingkungan perlu dievaluasi dalam tatalaksana pasien di poliklinik geriatri.
Tujuan: Mengetahui prediktor terhadap status fungsional pada pasien di poliklinik geriatri RSUD Dr.Moewardi.
Metode: Penelitian ini dengan jumlah sampel 159 pasien rawat jalan poliklinik geriatri. Metodologi penelitian dengan kohort retrospektif.
Hasil: Usia rata-rata 68,843 ± 6,421 , dengan status fungsional mandiri 132 pasien (83,02% ). Kualitas hid up dengan instrumen EQSDSL 0,819 ± 0,319. Hasil analisis univariat menunjukkan hubungan bermakna status fungsional dengan jenis kelamin laki-laki (OR=0,613, p= 0,153), domisili di luar kota (OR =l,142, p= 0,010), pasangan hidup yang sudah meninggal (OR=0,740, p= 0,1 36), lama berobat lebih dari 2 tahun (OR= 0,281, p= 0,178), interval kontrol poli lebih lama dari satu bulan (OR=l,194, p=0,028), berpendapat bahwa poliklinik geriatri nyaman (OR=0,288, p=0,248), kepatuhan meminum obat (OR=l,875, p=0,027), jumlah penyakit lebih dari 2 (OR=0,727, p=0,101), status fungsional sebelumnya
(OR= 2,839, p= 0,000), kualitas hidup (OR=2,097, p =0,000) serta visual analoge scale (VAS) (OR=0,097, p=0,000). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status fungsional sebelumnya (OR =4,497, p=0,000), pasangan hidup yang sudah meninggal (OR= 3,511, p= 0,032), dan VAS (OR=0,196, p=0,002) merupakan prediktor status fungsional pasien di poliklinik geriatri.
Simpulan. R iwayat status fungsional sebelumnya, pasangan hid up yang sudah meninggal dan VAS merupakan prediktor status fungsional pada pasien poliklinik geriatri.
Kata Kunci: prediktor, status fungsional, geriatri
Preliminary Report Profil Resistensi Antibiotik Pada Usia Lanjut Rawat lnap di RSUP Sanglah Denpasa r Periode Juli-September 20 1 6
J effry l * IGP Suka Aryana*, Roi Purnami*, I B putrawan*, I Nyoman Asti ka*, RA Tuty Kusward hani*, Dwi Fatmawati**, Sri Budayanti**
* Divisi Geriatri, Bagian/SMF l l m u Penyakit Dalam,
** Bagia n/SMF Mikrobiologi Fakultas Kedoktera n U niversitas Udaya na/
RSUP Sa nglah Denpasar
Pendahuluan: Penyakit infeksi lebih sering dialami oleh pasien usia lanjut karena pada populasi usia lanjut memiliki kerentanan terhadap infeksi yang lebih tinggi dibandingkan pasien lain, namun infeksi pada usia lanjut sulit dikenali, sehingga penggunaaan antibiotik menjadi lebih tinggi. Inilah yang menjadi dasar besarnya angka resistensi antibiotik pada usia lanjut. Penelitian ini sebagai laporan awal yang menggambarkan profil resistensi antibiotik pada usia lanjut.
Metode: Penelitian ini bersifat observasional potong lintang. Populasi adalah pasien geriatri yang berumur lebih dari 60 tahun terdiagnosis infeksi (sepsis, infeksi saluran kemih, pneumonia, dan dasar Iuka) yang menjalani rawat inap di RSUP sanglah dan dilakukan kultur dan uji resistensi antibiotik sebelum diberikan antibiotik periode Juli-September 2016.
H asil : Didapatkan sebanyak 51 sampel yang terdiri atas 29 pasien sepsis, 15 pasien ISK, 11 pasien pneumonia, 3 pasien Iuka dan 6 pasien infeksi lain (meningoencefalitis, ophtalmitis). Pada pasien sepsis didapatkan jenis bakteri terbanyak adalah Staphylococcus sp, Bacillus sp. Antibiotik
yang sensitif didapatkan Vancomicin, Tetrasiklin, Linezolid,.
Antibiotik yang resisten didapatkan Levofloxacin, Gentamicin, Eritromicin. Pada pasien ISK, jenis bakteri terbanyak adalah Acinetobacter Baumanii, Staphylococcus aureus, Eschericia coli, Enterococcus faecalis. Antibiotik yang sensitif didapatkan Amikacin, Gentamicin dan Ciprofloxacin. Antibiotik yang resisten didapatkan Ampicillin, Trirnetoprirn/Sulfametoksazol.
Pada pasien pneumonia, jenis bakteri terbanyak adalah Staphylococcus sp, Pseudomonas aeruginosa, Pneumonia spp. Antibiotik yang sensitif didapatkan Cefixime, Amikacin.
Antibiotik yang resisten didapatkan Ampicillin. Pada pasien dengan dasar Iuka, jenis bakteri yang ditemukan adalah Staphylococcus sp, Proteus hauseri. Antibiotik yang sensitif diantaranya Ceftriaxone, Levofloxacin. Pada pasien infeksi lainnya, jenis bakteri yang ditemukan Serratia rubidaea, Streptococcus viridian Alpha Hem. Antibiotik yang sensitif diantaranya ceftazidime.
S i m p u l a n : Pada pasien sepsis didapatkan bakteri Staphylococcus sp sebagai agen penyebab terbanyak, dengan hasil uji resistensi antibiotik, antibiotik yang sensitif adalah Vancomicin dan antibiotik yang resisten eritromicin. Pada pasien ISK didapatkan sebagai bakteri penyebab terbanyak adalah Acinetobacter baumanii, antibiotik yang sensitif adalah Ciprofloxacin dan antibiotik yang resisten adalah Trimetropim/ Sulfametoksazol. Pada pasien pneumonia didapatkan bakteri Pseudomonas aeruginosa, antibiotik yang sensitif adalah Amikacin dan antibiotik yang resisten adalah ampicillin.
Kata kunci: geriatri, antibiotik, resistensi, kultur, infeksi
Gambaran Kadar Natrium Awai Pasien Usia Lanjut dengan Pemakaian Naso Gastic Tube (NGT) di Ruang Rawat lnap Geriatri RSCM
Dhi Ajeng Kusuma Wicitra S.Gz, RD l nstalasi Gizi RSU PN Ci pto Mangunkusumo
Latar Belakang: Pada usia lanjut yang sehat terdapat penurunan natrium sekitar l mEq/ L per dekade dari nilai rata-rata 140 mEq/ L pada usia dewasa muda. Sering kali hiponatremia merupakan pertanda dari penyakit berat yang mendasari dengan prognosis buruk dan mortalitas tinggi.
Kadar natrium serum rendah mempengaruhi angka kematian selama pemantauan 30 hari paska infark miokard akut secara tidak bermakna. Banyak pasien yang mendapat dukungan nutrisi melalui NGT akan mengalami hiponatremia intermitten atau persisten karena rendahnya kandungan natrium dalam diet terse but.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kadar natrium awal pasien usia lanjut dengan pemakaian NGT di Ruang rawat inap Geriatri RSCM
Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan pengambilan sampel secara consecutive sampling.
Subjek penelitian adalah semua pasien usia lanjut yang masuk untuk di rawat di ruang rawat akut geriatri RSCM pada bulan Mei - Agustus 2016 dengan pemakaian NGT.
Hasil: Didapatkan 68 subjek usia lanjut yang terdiri atas 27 (39.8% ) subjek laki-laki dan 41 (60.2%) subjek perempuan yang menggunakan NGT. Sebagian besar subjek (69,1 % ) termasuk dalam kriteria usia lanjut (60-74 tahun) dan hanya 30.9%
termasuk dalam kriteria usia lanjut tua (75-90 tahun). Nilai