• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAU PUSTAKA

4. Perhitungan Manfaat Asuransi (Uang Pertanggungan)

Asuransi Unit Link

Asuransi unit link memberikan manfaat kepada masyarakat luas yag ingin berinvestasi di saham, obligasi maupun deposito, yaitu dengan menerima manfaat meninggal. Biasanya manfaat meninggal minimum ditentukan oleh perusahaan, yaitu besarnya bervarisai antara 125% sampai 200% dari premi tunggal.

Manfaat meninggal dunia (MD) atau uang pertanggungan (UP) dapat dijelaskan dengan dua cara:17

1) MD-1: nilai unit direkeningkan pemegang polis (u) ditambah jumlah proteksi meninggal dunia yang diinginkan (v) atau MD-1 = u + v 2) MD-2: nilai unit direkeningkan pemegang polis (u) atau jumlah

proteksi meninggal dunia yang diinginkan (v), tergantung dari nilai mana yang lebih tinggi MD-2 = u atau v (tergantung nilai mana yang lebih tinggi).

17

Ketut Sendra, Konsep dan Penerapan Asuransi Jiwa Unit Link: Proteksi Sekaligus Berinvestasi, cet I (Yogyakarta: PPM), 2004, h.47

5. Manajemen Investasi

Manajemen investasi adalah manajemen professional yang mengelola beragam sekuritas atau surat berharga seperti saham, obligasi dan asset lainnya seperti property dengan tujuan untuk mencapai target investasi yang menguntungkan bagi investor. Investor tersebut dapat berupa institusi (perusahaan asuransi, dana pensiun, perusahaan dll) ataupun dapat juga merupakan investor perorangan, dimana sarana yang digunakan biasanya berupa kontrak investasi atau yang umumnya digunakan adalah berupa kontrak investasi kolektik (KIK) seperti reksadana.18

Lingkup jasa pelayanan manajemen investasi adalah termasuk melakukan analisis keuangan, pemilihan asset, pemilihan saham, implementasi perencanaan serta melakukan pemantauan terhadap investasi.

Diluar industry keuangan, terminology manajemen investasi merujuk pada investasi lainnya selain daripada investasi dibidang keuangan seperti misalnya proyek, merek, paten dan banyak lainnya selain daripada saham dan obligasi. Manajemen investasi merupakan suatu industry global yang sangat besar serta memegang peranan penting dalam mengelola dana.

Kegiatan usaha dari manajemen investasi ini terdiri dari berbagai bidang. Termasuk mempekerjakan manajer investasi professional, penelitian, menjalankan fungsi pesanan dan perdagangan, penyelesaian transaksi,

18

Enduardus Tandelili, Portofolio dan Investasi: Teori dan Aplikasi, Edisi Pertama, Penerbit KANISUS (Anggota IKAPI), Yogyakarta 2010, h. 8

pemasaran, audit internal, serta mempersiapkan laporan bagi nasabahnya. Perusahaan manajemen investasi seringkali bertindak sebagai agen atau perantara dari para pemilik saham dan perusahaan daripada memiliki secara langsung saham perusahaan. Secara teoritis, para pemilik saham memiliki kekuasaan yang amat besar untuk mengubah arah kebijakan perusahaan yang dimilikinya melalui hak suara dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) serta kemampuannya untuk mengontrol dan menekan manajemen perusahaan.

Namun dalam prakteknya para pemilik saham tersebut tidak mengunakan hak suara yang dimiliki secara kolektif tersebut ( sebab kepemilikannya masing-masing hanya terdiri dari jumlah yang kecil), dan institusi keuangan (selaku agen) kadang-kadang menggunakan hak suara tersebut. Telah menjadi suatu kepercayaan umum bahwa manajemen investasi selaku agen harus memiliki kemampuan untuk secara aktif memantau kinerja perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh nasabahnya.

Adapun dalam pengelolaannya usaha manajemen investasi memiliki beberapa kendala, antara lain19 :

1. Laba kotor yang diperoleh terkait langsung dengan valuasi nila pasar sehingga kejatuhan nilai pasar dari asset akan mengakibatkan penurunan drastis pada laba kotor relative terhadap biaya.

19

Enduardus Tandelili, Portofolio dan Investasi: Teori dan Aplikasi, Edisi Pertama, Penerbit KANISUS (Anggota IKAPI), Yogyakarta 2010, h. 25

2. Sulitnya mempertahankan kinerja pengelolaan investasi sehingga mencapai nilai di atas rata-rata dan nasabahnya biasanya menunjukan ketidak sabarannya saat kinerja investasi buruk.

3. Gaji manajer investasi sangat mahal dan memiliki kemungkinan dibajak oleh pesaing.

4. Pencapaian kinerja investasi di atas rata-rata adalah amat bergantung pada keunikan dari keahlian manajer investasi, namun nasabah tidak pernah memedulikan hal tersebut dan semata hanya melihat pada kesuksesan perusahaan yang dianggap bersumber pada filosofi dan disiplin internal.

5. Analisis yang memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan diatas rata-rata seringkali memiliki kondisi keuangan yang mapan sehingga mereka akan menolak tawaran pekerjaan yang ditawarkan perusahaan untuk mengelola portofolionya sendiri.

Alokasi investasi itu sendiri biasanya dari berbagai golongan asset seperti obligasi, property, derivative dan komoditi dimana manajer investasi dibayar jasanya untuk melaksanakan penempatan investasi pada berbagai asset ini. Berbagai golongan asset ini memiliki dinamika pasar yang berbeda-beda dan saling memengaruhi satu sama lainnya, sehingga penempatan dana investasi pada berbagai asset tersebut dapat membawa pengaruh signifikan pada performa investasi.

Banyak metode pendekatan yang berbeda dari cara pengelolaan investasi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan manajemen investasi, misalnya pertumbuhan (growth), nilai (value fund), pasar netral, kapitalisasi kecil, indeks dan lain-lain. Metode yang berbeda ini masing-masing memiliki fitur, penganut, lingkungan financial tertentu, sifat risiko khusus yang berbeda-beda.

6. Hak dan Ketentuan Nasabah

Sekalipun investasi dari produk unit link dilakukan secara hati-hati, professional atau beritikad baik, namun peluang untuk gagal masih tetap ada. jadi unsur spekulatif tetap ada, meskipun minimal. Oleh karena itu keberadaan pasal 8 ayat 1 huruf –a Undang-undang No. 8 tahun 1999

tentang perlindungan konsumen yang berbunyi: “pelaku Usaha dilarang

memproduksi dan atau memperdagangkan barang dan atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Berdasarkan ketentuan tersebut perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan unit link memberikan fleksibilitas kepada tertanggung atau pemodal untuk menempatkan, menarik ataupun menambahkan dana unit linknya.20

20

Ketut Sendra, Konsep dan Penerapan Asuransi Jiwa Unit Link: Proteksi Sekaligus Berinvestasi, cet I (Yogyakarta: PPM), 2004, h.147

Meskipun Nampak prospek bisnis asuransi jiwa unit link di Indonesia cerah, ada beberapa hal yang cukup krusial dalam pemasaran produk ini. Yaitu kemampuan para tenaga penjual (agen, financial consultant) perusahaan asuransi dapat menjelaskan manfaat dan risiko investasi dengan baik dan jelas. Sebab, tidak mustahil bisa terjadi salah komunikasi dan kesalahpahaman antara tenaga penjual dengan calon pemegang polis. Sesuai dengan ketentuan UU Usaha Perasuransian telah diatur bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh agen asuransi akan menjadi tanggungan perusahaan asuransi.

Calon investor wajib memperhatikan tingkat toleransinya terhadap resiko. Hal ini sangat penting, karena dalam berinvestasi tentunya investor menginginkan ketenangan. Selain itu tujuan serta jangka waktu investasi juga berperan dalam menentukan jenis investasi yang dapat dipilih. Semua return daripada investasi itu sendiri bergantung oleh manager investasinya.

Keputusan berinvestasi tidaklah mudah. Karena hal ini menyangkut dengan pengembalian yang akan diterima dimasa yang akan datang.

Oleh karena itu, sebelum berinvestasi ada baiknya calon investor menelaah dengan cermat manajer investasi yang mengelola investasi dana tersebut

Berikut adalah faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan calon investor dalam melilih manajer investasinya (MI):21

1. Perizinan MI

Untuk memastikan apakah MI sudah mengantongi izin dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), tidak ada salahnya calon investor mengecek situs Bapepam-LK di

www.bapepam.go.id. Dalam situs ini dapat digali berbagai macam

informasi, mulai dari peraturan pasar modal sampai perusahaan yang dibekukan izin usahanya.

2. Pengalaman MI

Tidak ada salahnya calon investor memeriksa kualitas manajer investasi. Cek latar belakang kepemilikan dan manajemen perusahaan yang bersangkutan, serta jam terbang dan tingkat pengalaman dari para pengelola dana (fund manager) di perusahaan tersebut. Ketahui berapa lama perusahaan MI sudah berdiri dan apa saja kegiatan bisnisnya. Selain itu, perhatikan pula track record perusahaan

3. Kekuatan financial dan dukungan grup perusahaan

Hal ini perlu untuk meyakinkan calon investor bahwa MI yang akan dipilihnya akan berumur panjang. Semakin besar dukungan dan komitmen dari grupnya semakin baik prospek kelangsungan bisnis

21

http://www.lspdp.or.id/memilih-manajer-investasi-pengelola-reksa-dana/, Blog diakses pada tanggal 20 november 2014.

sang MI. jika MI memiliki kondisi financial yang kuat dan sehat, nasabah akan yakin terhadap kelangsungan dana anda yang dikelolanya. Apakah perusahaan tersebut merupakan bagain dari suatu grup perusahaan yang kuat dan sehat? Jangan sampai jika terjadi masalah dalam perusahaan tersebut dana investasi anda ikut terganggu. 4. Kinerja historis MI

Walaupun kinerja masa lampau tidak bisa dijadikan patokan untuk meramalkan kinerja masa mendatang, calon investor bisa melihat kemampuan MI mengelola dana investasi dari kinerja historis investasi yang dikelolanya. Peerhatikan bagaimana hasil kinerja jangka panjang, tingkat konsistensi, filosofi investasi yang diadopsi, serta jumlah asset yang dihimpun dan dikelola.

Selain mampu membentuk portofolio yang terdiversifikasi dengan baik dan memberikan imbalan hasil yang mengalahkan imbalan hasil tolok ukurnya, manajer investasi yang handal juga mampu menjaga konsistensi kinerjanya. Dalam melihat kinerja historis, calon investor tidak boleh hanya terpaku pada imbal hasil; ia juga perlu mempertimbangkan risiko. Untuk mengukur risiko ini calon investor bisa memperhatikan fluktuasi keuntungan. Jika fluktuasinya tinggi, maka risikonya juga tinggi. Sebaliknya jika fluktuasinya kecil, atau kinerjanya cenderung stabil,berarti risikonya rendah,

5. Gaya investasi MI

Ketika memilih MI, tidak sedikit calon investor yang cenderung mencari MI yang bisa memberikan imbal hasil tertinggi. Padahal, investor juga perlu mengenal gaya investasi MI tersebut karen siapa tahu, imbal hasil yang tinggi itu diperoleh dengan gaya investasi yang terlalu berani alias dengan berisiko yang tinggi. Dengan mengetahui gaya investasi MI, calon investor kemudian dapat menimbang apakah gaya tersebut sesuai dengan tujuan investasi serta profil risiko pribadinya.

Gaya investasi MI dapat dipelajari dari isi portofolio yang dilampirkan dalam laporan keuangan reksa dana yang tercantum dalam prospectus. Yang perlu diperhatikan adalah jenis obligasi atau saham yang ada adidalam portofolionya. Obligasi korporasi misalnya, memang memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi dari obligasi pemerintah (SUN) karna bunga kupon yang ditawarkan memang lebih tinggi. Tapi di lain sisi obligasi korporasi biasanya lebih tidak likuid dibandingkan dengan SUN, sehingga jika MI banyak memiliki obligasi korporasi dalam portofolio reksadananya maka jika terjadi penjualan kembali (redeption) besar-besaran, tidak tertutup kemungkinan MI dapat mengalami kesulitan manjual kembali obligasi korporsi tersebut sehingga berujung dengan kegagalan MI melunasi redemption.

6. Dana kelolaan MI

Ibarat mesin produksi yang bisa mengsilkan barang lebih murah bila jumlah yang diproduksi bertambah banyak, dalam bisnis jasa pengelolaan asset juga berlaku norma economies of scale: makin besar asset yang dikelola manajer investasi, makin efisien pengelolaan dananya dan potensi imbal hasilnya juga makin baik. Karena makin besar asset, makin kuat posisi tawar MI untuk mendapatkan harga lebih baik saat bertransaksi, menekan biaya transaksi khususnya untuk instrumen pasar uang dan pendapatan tetap.

7. Nasabah yang sudah berinvestasi di MI

Bisnis MI adalah kepercayaan, sehingga jumlah nasabah bisa menjadi indikator tingkat kepercayaan terhadap sang MI. selain mengelola reksa dana, banyak MI yang juga mengelola portofolio nasabah secara terpisah (discretionary fund). Nasabah discretionary fund umumnya merupakn nasabah besar seperti dana pensiun atau perusahaan asuransi.

8. Struktur biaya

Dalam prospectus reksa dana ada bab khusus yang memuat uraian tentang alokasi biaya dan imbalan jasa reksa dana. Alokasi biaya ini biasanya terbagi dalam 3 kelompok. Diantaranya:

a) Biaya yang menjadi beban reksa dana b) Biaya yang menjadi beban MI

c) Biaya yang menjadi beban pemegang unit penyertaan

Dalam hal ini yang relevan untuk dipertimbangkan adalah biaya yang menjadi beban reksa dana karena komponen biaya ini menjadi pengurang dalam perhitungan Nilai Aktifa Bersih (NAB) reksa dana, sehingga mempengaruhi potensi imbal hasil reksa dana.

Untuk biaya yang menjadi beban pemegang unit penyertaan, perhatikan berapa besar biaya pembelian (subcripion) dan biaya penjualan kembali (redemption). Selama ini prospectus hanya tercantum maksimumnya, maka investor masih bisa menegosiasikan kedua biaya ini. Biasanya untuk nasabah institusi biayanya bisa ditekan mengingat besarnya jumlah dana yang diinvestasikan. Untuk biaya penjualan kembali beberapa MI malah membebaskan investor dari biaya ini jika investor sudah berinvestasi lebih dari kurun waktu tertentu.

9. Kualitas layanan MI

Bagi MI yang melayani investor ritel secara langsung, calon investor juga bisa mencari informasi mengenai kualitas layanan sang MI, misalnya bagaimana MI merespon kebutuhan investor, seberapa cepat dan akurat layanan MI, dan lain sebagainya. Bagi nasabah institusi, kebanyakan MI memiliki divisi institutional sales yang melayani nasabah institusi secara langsung. Dalam hal ini kualitas layanan bisa dilihat dari:

a) Kualitas informasi.

Dalam hal ini perikasa juga kualitas informasi yang diberikan oleh manajer informasi, dalam hal ketepatan, kemutakhiran, serta kelengkapan informasi.

b) Kualitas layanan nasabah (client service)

Dalam hal ini, perhatikan apakah mereka memberi kemudahan berinteraksi, berdiskusi, serta langkah-langkah apa saja yang diambil dalam menangani nasabah.

Atas dasar tersebut, perusahaan asuransi diwajibkan mengikat kontrak dengan agen penjualnya. Di lain pihak, calon pemegang polis sendiri harus tetap cermat dalam memilih produk asuransi jiwa. Meskipun asuransi jiwa unit link menjanjikan tingkat return investasi dan pilihan pertangungan yang menarik, namun calon pemegang polis harus mengetahui persis seberapa besar tingkat risiko yang dapat ditanggungnya.

Transparansi dalam pengelolaannya menjadi salah satu ciri asuransi unit link. Pemegang polis dapat secara leluasa memantau perkembangan harga unit setiap saat melalui media cetak seperti Bisnis Indonesia atau link website dari perusahaan asuransi yang mengeluarkan produk unit link tersebut. Setiap pemegang polis mendapatkan laporan dari besarnya asuransi yang harus dibayarkan

ditahun pertama serta hasil investasi yang diperoleh selama satu tahun berjalan.

Dokumen terkait