Bab 3: Pendapatan Per Kapita
3. Perhitungan pendapatan per kapita
Variable perhitungan pendapatan per kapita masyarakat, dapat dihitung dengan menggunkan rumus:
29 | P e n d a p a t a n N a s i o n a l Pendapatan per Kapita = J a P a a a Na a
J a P Contoh:
Negara X pada tahun 2015 pendapatan per kapita nominalnya Rp 1.000.000,-. Kemudian pada tahun 2006, pendapatan per kapita nominalnya naik tiga kali lipat menjadi Rp 3.000.000
Misalnya saja daya beli masyarakat yang meningkat setiap tahun tentu ikut menaikkan pendapatan perkapita, dengan begitu pendapatan perkapita riil masyarakat tidak berubah jadi bisa naik atau tidaknya tingkat kesejahteraan masyarakat bisa dilihat dari pendapatan perkapita riil bukan pendapatan per kapita nominal. Perhatikan tabel di bawah ini!
Misalnya, pada tahun 2015 penduduk Indonesia sebanyak 205 juta jiwa, maka besarnya pendapatan per kapita riil dan nominal adalah:
a. Pendapatan riil (berdasarkan harga konstan)
Pendapatan per Kapita = J a P a a a Na a J a P
= 373.073,6 miliar rupiah : 205.000.000 = Rp 0,001819871 miliar
Jadi, pendapatan per kapita riil Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 1.819.871,-
Pendapatan sebesar itu merupakan pendapatan rata-rata untuk satu tahun yang dimiliki orang Indonesia
Pendapatan per Kapita = J a P a a a Na a J a P
= 1.201.4278 miliar rupiah : 205.000.000 = Rp 0,005860623 miliar rupiah
= Rp 5.860.623,-
Dari perhitungan di atas, tampak bahwa pendapatan per kapita riil Indonesia pada tahun 2015 hanya sebesar Rp 1.819.871,- sedangkan pendapatan per kapita nominal sebesar Rp 5.860.623,- (jumlah ini tiga kali lipat dari
pendapatan per kapita riil).
Hubungan Pendapatan Nasional, Penduduk dan Pendapatan per Kapita
Indikator untuk mengukur peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah perkembangan PDB per kapita atau PNB per kapita atau sering juga dikatakan sebagai pendapatan per kapita. PDB per kapita atau PNB per kapita dihitung dengan cara sebagai berikut: PNB per kapita = PNB
P Atau,
PDB per kapita = PDB P
Pada umumnya, untuk melihat kesejahteraan masyarakat suatu negara digunakan PNB per kapita, mengingat yang diukur adalah tingkat kesejahteraan masyarakat/warga negara dari negara yang bersangkutan.
Pertumbuhan pendapatan per kapita merupakan hasil pertumbuhan ekonomi di suatu daerah dikurangi dengan laju pertumbuhan penduduknya.
Laju pertumbuhan penduduk yang pesat akan mengurangi laju pertumbuhan pendapatan per kapitanya.
Tabel 7: Perbandingan PDB dan PNB per Kapita negara-negara Asia-Pasifik, 1990
Negara PDB (Juta US$) PNB/Kapita (US$)
Jepang Korea Taiwan Hongkong Singapura Indonesia Urutan 2.942.890 1 236.400 4 144.820 5 59.670 8 34.600 12 107.250 6 Urutan 25.430 1 5.400 7 7.997 6 11.490 4 11.160 5 570 11
31 | P e n d a p a t a n N a s i o n a l Malaysia Thailand Filipina Australia Selandia baru China 42.400 11 80.170 7 43.860 9 296.300 3 42.760 10 364.900 2 2.320 8 1.420 9 730 10 17.000 2 12.680 3 370 12 Sumber: Das, Dilip K (1996), ed, emerging Growth Pole: The Asia Pacific Economy, Prentice-Hall, dalam (Soetjipto, 1998).
Pada tabel 7, PDB Indonesia menunjukan angka yang cukup baik dalam skala ekonomi Asia Pasifik yaitu posisi ke 6, namun karena jumlah penduduk yang sangat tinggi maka pendapatan per kapitanya hanya menempati posisi 11. Demikian pula halnya cina, peringkat PDBnya dan nomor PNB/kapitanya. Hal ini menunjukan bahwa tingginya penduduk dalam suatu negara sangat berpengaruh terhadap PDB. Tingginya angka PDB tidak dapat menjamin keseluruhan masyarakat dapat sejahtera karena faktor distribusi pendapatan individu juga sangat beragam ditambah lagi dengan berbagai masalah perekonomian atau bidang lain dalam suatu negara. Meski demikian, PDB juga tetap berperan sangat penting untuk melihat kondisi ekonomi secara lebih luas.
Penutup
Kesimpulan
Pendapatan negara merupakan istilah yang mencakup keseluruhan dari penghasilan negara. Pendapatan tersebut bersumber dari berbagai aspek, seperti: Pajak, pendapatan bukan pajak dan Hibah. Ketiga aspek tersebut memiliki macam cabang tersendiri, salah satu diantaranya bersifat memaksa dan sah secara hukum yaitu pajak. Dengan adanya upaya pemerintah dalam menaikan pendapatan negara, maka hal tersebut sepenuh-penuhnya untuk kepentingan masyarakat dan pemberdayaan sumber daya yang ada. Pendapatan tersebut secara keseluruhan terhitung dalam APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) untuk dikelola secara maksimal. Dalam prakteknya, pendapatan negara dapat mengalami perubahan, naik atau turun umumnya sangat dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dan moneter suatu negara.
Lebih spesifik dalam perhitungannya dan metode yang digunakan, maka istilahnya yaitu pendapatan nasional dimana seluruh metode perhitungan dari pendapatan negara, tata kelola baik itu secara keseluruhan maupun per daerah. Pendapatan nasional terbagi atas beberapa aspek yaitu: Produk Domestik Bruto, Pendapatan Netto, Pendapatan Disposabel, Pendapatan Personal (personal income) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Masing-masing memiliki cara perhitungan yang berbeda-beda tergantung pada kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah secara umum. Tujuan dari pendapatan nasional jika dari segi pemerintahan, maka hal tersebut dapat menjadi tolak ukur untuk terus mengembangkan potensi sumber daya yang ada dengan melihat setiap sektor dan menjadi bahan objektif sasaran pengembangan atau perbaikan perekonomian. Bagi pengusaha, hal tersebut dapat menjadi peluang dalam menjalankan strategi bisnis dan menjadi bahan pertimbangan jangka panjang melihat dari situasi dan kondisi perekonomian.
33 | P e n d a p a t a n N a s i o n a l
Glosarium
Amnesti Pajak = Penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenakan sanksi pidana bidang perpajakan
Devisa Negara = Sejumlah emas atau valuta asing yang bisa digunakan untuk transaksi pembayaran dengan luar negeri yang diakui dan diterima oleh negara
Repatriasi = Pemulangan seseorang dari luar negeri ke negara asal
Infrastruktur = layanan dan fasilitas yang disediakan oleh lembaga pemerintah atau swasta untuk menunjang berbagai kegiatan sosial, ekonomi dan bidang ilmu lain Realokasi Subsidi = Anggaran yang disalurkan melalui perusahaan atau lembaga terkait Dinamis = Berubah-ubah
Inflasi = Proses meningkatnya harga secara terus menerus yang disebabkan oleh berbagai faktor
Depresiasi = Alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dalam akuntansi Sektor Produksi = Daerah penghasil
Entrepreneur = Entrepreneur atau wirausaha, yaitu orang yang pandai dan berbakat untuk mengembangkan atau menciptakan suatu produk baru secara kreatif dan memiliki nilai dimata masyarakat. Biasanya wirausaha memulai dengan modal yang sedikit dan memiliki etos kerja yang tinggi
Industrial Origin = Sumber daya asal untuk mengelola produk industry (bahan mentah) Pengeluaran Agregat = Perbelanjaan yang akan dilakukan dalam perekonomian dalam waktu tertentu
Nirlaba = Tidak mementingkan keuntungan/profit dari barang dan jasa yang diberikan, biasanya dilakukan oleh organisasi sosial seperti : rumah sakit, sekolah dan panti asuhan
Volume Persediaan = Jumlah persediaan yang ada
Disparitas = Ketimpangang, perbedaan pembangunan antar suatu wilayah dengan wialayah lainnya secara vertical dan horizontal yang menyebabkan ketidak merataan pembangunan
Kunci Jawaban
Latihan 11. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun Anggaran 1994/1995 merupakan semua penerimaan dalam negeri dan penerimaan pembangunan yang digunakan untuk membiayai belanja negara
2. pajak merupakan konstribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak adalah salah satu kekuatan handal yang dapat membangun kemandirian suatu bangsa. 3. Pendapatan negara secara singkat dapat dikatakan sebagai kebijakan
penganggaran yang dilakukan oleh negara untuk membiayai seluruh belanja negara yang bersumber dari dalam maupun luar negeri. Naiknya pendapatan negara secara signifikan dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang lebih baik karena pemerintah dapat membiayai kebutuhan negara mulai dari
pembangunan daerah perkotaan hingga pelosok, dengan demikian potensi sumber daya yang ada dapat digunakan sepenuh-penuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Contohnya pembangunan jalan raya dan jembatan untuk mempermudah akses transportasi masyarakat.
4. Perbedaan kebijakan fiskal dan moneter
Kebijakan fiskal hasil keputusan antara pemerintah dan DPR terkait dengan APBN terutama dalam sektor perpajakan dan kebijakan moneter dikendalikan sepenuhnya oleh Bank Sentral sebagai otoritas moneter dalam menjaga kestabilan nilai rupiah
Kebijakan fiskal mengatur penerimaan, pengeluaran dan pinjaman negara dalam anggaran APBN dan kebijakan moneter mencakup nilai tukar rupiah, suku bunga, APBN dan GDP, kurs dollar, tujuan perekonomian jangka panjang dan mencakup dalam cakupan ekonomi makro yang lebih luas.
5. Salah satu bentuk aplikasi nyata dalam memberikan konstribusi yaitu dengan ketaatan membayar pajak karena alokasi dana dari pembayaran pajak digunakan sepenuhnya untuk membangun negara demi kepentingan bersama. Dengan demikian, sebagai warga negara yang baik kesadaran akan pentingnya membayar pajak dapat mendukung upaya pembangunan.
35 | P e n d a p a t a n N a s i o n a l Latihan 2
1. Tujuan Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional dapat mengukur jumlah seluruh produksi yang dihasilkan oleh suatu negara. Karena itu, pendapatan nasional berperan penting dalam melihat kinerja atau tingkat kemakmuran suatu negara. Dengan mengetahui pendapatan nasional Indonesia, masyarakat secara luas dapat mengetahui kinerja perekonomian yang ada di Indonesia dan berapa jumlah yang mampu dihasilkan oleh sektor produksi Indonesia Mengingat pendapatan nasional dihitung setiap tahun, masyarakat dapat
membandingkan kinerja tahun sekarang dengan dengan tahun sebelumnya maupun sesudahnya, apakah mengalami peningkatan yang artinya Indonesia cukup produktif dalam menghasilkan sektor produksi atau malah mengalami penurunan ekonomi yang juga dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti inflasi, dan hal lainnya.
Dengan melihat pendapatan nasional dari berbagai negara, masyarakat secara luas dapat membandingkan kinerja Indonesia dengan negara lain. Contohnya, dari beberapa negara di ASEAN, Indonesia adalah negara yang kaya dengan berbagai sumber daya alam (tanah, air, tambangg, minyak bumi, dan sebagainya) serta mempunyai keunggulan penduduk (tenaga kerja yang tersedia sangat banyak, upah yang relatif murah dan tersedianya pasar).
Bagi kepentingan perusahaan sebagai pelaku ekonomi dalam sektor produksi, angka PDB atau PDRB dapat dimanfaatkan untuk menentukan jenis produk yang dapat diserap oleh pasar. Misalkan, jika pendapatan suatu negara tinggi, pengusaha dapat menjual barang-barang mewah kepada masyarakat secara umum.
2. Jenis-jenis pendapatan nasional Produk Nasional Bruto (PNB)
Produk Nasional Neto (Net National Product) Pendapatan Nasional
Pendapatan Personal (Personal Income) Pendapatan Personal Diposabel
Produk Domestik Bruto Produk Regional Bruto
3. Model Circular flow membagi perekonomian menjadi empat sector
Sektor rumah tangga (Households sector), yang terdiri atas sekumpulan individu yang dianggap homogen dan identik#
Sektor perusahaan (firms sector), yang terdiri atas sekumpulan perusahaan yang memproduksi barang dan jasa
Sektor pemerintah (Government sector), yang memiliki kewenangan politik untuk mengatur kegiatan masyarakat dan perusahaan
Sektor luar negeri (Foreign sector), yaitu sektor perekonomian dunia. Dimana perekonomian melakukan transaksi ekspor impor.
4. Hasil PNB yaitu:
Maka, PDB (GDP) yaitu:
= Pendapatan Jojon + Pendapatan Tejo + Pendapatan Christian = Rp. 15.000.000 + Rp. 20.000.000 + Rp. 20.000.000
= Rp. 55.000.000 Penghasilan Neto:
= Pendapatan Muklis + Pendapatan Christian – Rpp.20.000.000 = Rp. 10.000.000 + Rp. 20.000.000 – (Rp. 20.000.000)
= Rp. 30.000.000 – Rp. 20.000.000 = Rp. 10.000.000
Dengan menerapkan rumus di atas dapat kita ketahui PNB adalah: PNB (GNP) = PDB + Penghasilan Neto
= Rp. 55.000.000 + Rp. 10.000.000 = Rp. 60.000.000
Tabel 1
CARA MENGUKUR PENDAPATAN NASIONAL DENGAN HARGA KONSTAN
PDB dengan Harga Berlaku (Milyar Rp) Indeks Harga Soal : Tahun 1 Rp. 60.000 200 Tahun 2 Rp. 65.000 205 Tahun 3 Rp. 70.000 210 Antara Tahun 1 dan Tahun 2 PDB meningkat 10 persen. Namun, harga-harga meningkat 5 persen selama 3 periode yang sama.
Jawaban:
Nilai PDB Tahun ke 3 dengan harga konstan Tahun 2 adalah: = 55.000 X
5 = 56.341,46 milyar
37| p e n d a p a t a n n a s i o n a l
Daftar Pustaka
Curatman, A. (2010). Teori Ekonomi Makro. Yogyakarta: Swagati Press. Retrieved from https://books.google.co.id/books?id=LPo5DAAAQBAJ&pg=PA21&dq=PDB+berdasa rkan+metode+pendapatan&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwic5PSut6LZAhUY3o8KHaCe DWcQ6AEINjAC#v=onepage&q=PDB berdasarkan metode pendapatan&f=false Dia a, N., Da pak, A., Fiskal, K., Pe dapata , T., Arofah, N. D., Wila tari, R. N., …
Jember, U. (2015). Analisis Dampak Kebijakan Fiskal Terhadap Pendapatan
Nasional di Indonesia ( Analysis of Fiscal Policy Impact toward the National Income in Indonesia ), 1–4.
Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. (2006). Dengan Pajak Kita Wujudkan Kemandirian Bangsa (1st ed.). Jakarta: Panitia Lomba Karya Tulis Perpajakan 2005 d.a Bagian Organisasi & Tatalaksana Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan RI.
Indonesia, D. S. E. M. B. (n.d.). Pendapatan Domestik Bruto (pp. 85–88).
Manurung, P. R. & M. (2017). Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikro Ekonomi dan Makro Ekonomi) (3rd ed.). Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Riphat, H. S. dan S. (Ed.). (2004). Kebijakan Fiskal. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara. Setiawan, I. (2009). Analisis Dampak Kebijakan Moneter terhadap Perkembangan Inflasi
dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia, 1(1), 15–31.
Soetjipto, H. S. dan W. (1998). Pemandu Belajar Ekonomi. (B. Sarwiji, Ed.) (2nd ed.). Jakarta: Erlangga.
Sukwiaty, S. J. & S. S. (2009). Ekonomi. (E. Gafar, Ed.) (1st ed.). Jakarta: Yudhisthira. Retrieved from
https://books.google.co.id/books?id=tVpq4O3DydQC&pg=PA145&dq=pendapatan
+per+kapita&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiCsqvb-6XZAhUJQY8KHV4vB444ChDoAQgoMAA#v=onepage&q=pendapatan per kapita&f=false