Sudirman dan Natsir Nessa
Pendahuluan
Bagan merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan di seluruh perairan Indonesia. Alat tangkap ini menggunakan alat bantu cahaya untuk menarik perhatian ikan agar mendekati alat tangkap atau masuk ke areal penangkapan atau catchable area. Menggunakan waring dengan ukuran mata jaring yang sangat kecil yaitu 0,5 cm. Berdasarkan cara pengoperasiannya bagan dapat dikelompokkan kedalam kelompok jaring angkat (Von Brandt,1985). Bagan dalam operasi penangkapannya menggunakan cahaya sebagai alat bantu berkembang terus dan dapat diklasifikasikan mulai dari bagan tancap (fixed bagan), bagan apung (floated bagan), yang dapat dibagi kedalam 2 kelompok yaitu bagan rakit dan bagan perahu. Bagan perahu(canoe bagan) dapat pula diklasifikasikan menjadi bagan satu perahu (bagan with one canoe), bagan dua perahu (bagan with two
canoes) dan bagan dengan menggunakan mesin sendiri (bagan with engine boat)
Bagan tancap mulai beroperasi sejak tahun 1949 dan sampai sekarang alat tangkap tersebut masih eksis. Perkembangan terakhir adalah bagan raksasa atau biasa disebut dengan bagan rambo. Bagan apung berdasarkan ukurann plat formnya dapat dibagi atas 3 jenis yaitu: Bagan kecil (small bagan), biasanya berukuran 12 x12 m, bagan sedang (medium bagan) dan bagan raksasa (large bagan). Lampu yang digunakan juga berkembang, sesuai dengan perkembangan teknologi. Pada awalnya bagan yang hanya menggunakan lampu petromaks, kini bagan sudah menggunakan lampu mercury. Sejak tahun 1950 pemanfaatan lampu petromaks telah digunakan oleh para nelayan khususnya nelayan yang melakukan penangkapan di perairan Teluk Bone dan Selat Makassar. Selanjutnya pada tahun 1972, seiring dengan pemanfaatan listrik untuk kebutuhan industri dan rumah tangga, maka telah dimanfaatkan pula oleh para nelayan bagan. Lampu merkury mulai dimanfaatkan oleh para nelayan di Teluk Bone sejak tahun1987 pada alat tangkap bagan rambo dan berkembang terus sampai saat ini. Demikian halnya dengan lampu neon, sejak tahun 1992 telah dimanfaatkan oleh para nelayan bagan (Sudirman 2003; Sudirman dan Nessa, 2011).
Alat tangkap bagan sebagai salah satu alat tangkap yang menggunakan cahaya banyak digunakan oleh para nelayan di wilayah pesisir karena mempunyai
beberapa keunggulan-keunggulan. Keunggulan tersebut antara lain Secara teknis mudah dilakukan/diopersikan (khususnya bagan tancap), Investasinya terjangkau oleh oleh masyarakat, Merupakan perikanan rakyat yang telah digunakan oleh masyarakat di wilayah pesisir dan sekitar pulau-pulau kecil secara turun temurun, Tangkapannya selalu ada walaupun terkadang jumlahnya sedikit dan Menyerap banyak tenaga kerja (Sudirman dan Nessa 2011). Keunggulan-keunggulan tersebut membuat alat penangkapan bagan sampai saat ini masih digunakan oleh nelayan dihampir seluruh wilayah pesisir Indonesia.
Namun demikian terdapat pula beberapa kelemahan-kelemahan dan permasalahan dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan sehingga menimbulkan beberapa masalah antara lain: Selektivitasnya rendah sehingga dinilai kurang ramah terhadap lingkungan perairan, Untuk bagan perahu membutuhkan jumlah banyak kayu sebagai bahan dalam pembuatannya sehingga dapat menguras sumberdaya hutan di darat, Kadang-kadang beroperasi di daerah pelayaran, sehingga dapat mengganggu dan membahayakan aktivitas pelayaran di laut, Banyak beroperasi di sekitar daerah terumbu karang, sehingga dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem terumbu karang.
Berdasarkan atas keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh perikanan bagan serta permasalah-permasalahan yang ditimbulkannya, maka terbuka peluang-peluang pengaturan yang dapat dilakukan seperti mengatur daerah penangkapan bagan, sehingga tidak mengganggu alur pelayaran dan daerah-daerah terumbu karang. Membatasi jumlah unit yang beroperasi dalam suatu areal penangkapan, serta memperbaiki selektivitas mata jaring yang digunakan.
Penangkapan
Prinsip penangkapan ikan pada bagan adalah menarik perhatian ikan dengan bantuan cahaya buatan atau lampu agar ikan masuk ke areal penangkapan
(catchable area), selanjutnya jaring yang berada di bawah bagan akan ditarik ke
permukaan sehingga ikan akan terkumpul pada jaring atau tertangkap. Fungsi jaring pada bagan bukanlah sebagai alat untuk menjeratnya ikan, akan tetapi sebagai tempat berkumpulnya ikan-ikan yang berkumpul dibawah cahaya. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah semua jenis ikan dapat tertangkap dengan bagan?. Ikan yang tertangkap pada bagan umumnya adalah ikan-ikan yang dapat tertarik oleh cahaya atau phototaxis positif. Ikan yang phototaksis positif memiliki sel kon yang terangsang jika ada sumber cahaya disekitarnya, dengan kata lain akan mendekati cahaya atau lampu yang sedang menyala. Tingkah laku ikan yang mendatangi cahaya tersebut dimanfaatkan oleh nelayan untuk melakukan penangkapan khususnya pada alat tangkap bagan.
Mengenal Ragam Bagan
Bagan tancap merupakan bagan yang dipasang secara menetap di perairan, terdiri dari rangkaian bambu yang dipasang secara membujur dan melintang. Bambu merupakan komponen utama dari bangunan bagan tancap. Bahan tersebut mudah diperoleh nelayan dan harganyapun tergolong murah. Jumlah bambu yang digunakan bergantung pada kedalaman perairan bagan tersebut beroperasi. Semakin dalam perairan maka jumlah bambu yang digunakan semakin banyak karena bambu tersebut harus disambung. Secara umum jumlah bambu bervariasi antara 135-200 batang. Bambu tersebut merupakan komponen utama dalam menopang berdirinya alat tangkap bagan tancap di perairan. Komponen lain yang digunakan adalah waring. Waring dipasang pada bagian tengah bagan yang berfungsi untuk menangkap ikan yang masuk ke catchable area. Ukuran bagan tancappun bervariasi mulai dari ukuran 7 x 7 m sampai 9 x 9 m, bergantung kedalaman perairan tempat bagan tersebut dioperasikan. Umumnya nelayan menggunakan ukuran 8 x 8 m. Photo salah satu bagan tancap diperairan disajikan pada Gambar 1 dan 2. Sejalan dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi serta kemajuan yang telah dicapai oleh masyarakat maka desain dan konstruksi bagan semakin berkembang.
Gambar 1. Bagan tancap di perairan Teluk Bone beroperasi pada kedalaman perairan 5-10 m.
Gambar 2. Operasi penangkapan bagan tancap di Selat Makassar pada malam hari.
Selain bagan Tancap, terdapat pula bagan Perahu.Menurut beberapa sumber informasi mengatakan bahwa bagan apung mulai beroperasi pada tahun 1960 dengan menggunakanan model 2 perahu. Model ini terus berkembang. Perkembangan terakhir dari alat tangkap bagan adalah bagan raksasa atau disebut juga dengan bagan rambo. Alat tangkap bagan rambo pertama kali diperkenalkan di perairan Luwu Teluk Bone pada tahun 1987. Dua tahun kemudian (1989) alat tangkap ini telah berkembang di perairan Barru Selat Makassar (Mallawa et al.
1992). Dari wawancara dengan beberapa nelayan di perairan Kabupaten Barru diperoleh informasi bahwa alat tangkap ini sudah mulai beroperasi di perairan Kabupaten Barru sejak tahun 1987 tetapi ukurannya masih lebih kecil (22 m x 21 m) dari yang ada sekarang ( 33 m x 31 m).
Rancang bangun alat tangkap bagan rambo berbeda dengan bagan biasa. Komponen-komponennya lebih kompleks dengan konstruksi yang lebih kuat dan spesifik berdasarkan tujuan penangkapan. Satu unit bagan rambo terdiri dari beberapa komponen yang saling berhubungan. Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut (Sudirman,2003; Sudirman dan Made,2005).: (1) perahu; (2) rangka (3) jaring (4) bingkai jaring (5) roller (6) generator set (genset); (7) lampu merkuri (8) rumah bagan (Sudirman dkk, 2005)
Alat-alat lain yang ada pada alat tangkap bagan rambo adalah alat bantu dalam memperlancar kegiatan operasional bagan rambo, antara lain radio komunikasi, keranjang, peti dan serok. Radio komunikasi digunakan untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berhubungan dengan hasil tangkapan, harga ikan, fishing ground, antara juragan laut dan juragan darat (punggawa laut dan
punggawa darat) dan antara sesama nelayan bagan rambo. Keranjang merupakan
tempat hasil tangkapan setelah disortir. Sebuah keranjang mempunyai diameter 45 cm dengan tinggi 26 cm. Setiap bagan rambo mempunyai minimal 30 keranjang. Peti merupakan tempat penyimpanan hasil tangkapan sebelum dibawa ke darat. Ikan yang ada dalam peti telah dicampur dengan es untuk mengawetkan hasil tangkapan. Serok ini mempunyai ukuran panjang 3,5 m dengan diameter bukaan mulut 52 cm, tinggi jaring 60 cm dengan mesh size 1 cm.
Pemanfaatan Bagan untuk Penangkapan Ikan
Dalam pengoperasian satu unit bagan rambo dibutuhkan 16-20 orang ABK yang dipimpin oleh seorang juragan laut atau disebut dengan punggawa laut. Juragan laut memimpin dan bertanggungjawab terhadap seluruh operasi penangkapan ikan yang dilakukan. Tugas masing-masing personil di atas bagan rambo pada saat operasi dapat dibagi atas: satu orang yang mengatur pencahayaan lampu, 1 orang mengatur tali jangkar pada saat hauling, 2 orang bertugas untuk mengangkut hasil tangkapan dan selebihnya 14 orang bertugas untuk memutar roller dan menggiring ikan ke salah satu sisi perahu yang berfungsi sebagai kantong jaring. Proses penangkapan dimulai dengan terlebih dahulu menentukan fishing ground. Penentuan fishing ground antara lain ditentukan dengan melihat hasil tangkapan nelayan bagan rambo pada malam sebelumnya. Jika ada bagan rambo yang mendapatkan hasil tangkapan yang menonjol maka bagan rambo akan terkonsentrasi pada suatu fishing ground tertentu. Sebaliknya jika hasil tangkapan merata antara setiap unit alat tangkap maka fishing groundnya akan menyebar. Penentuan fishing ground ini sepenuhnya berada pada juragan laut. Lama waktu yang dibutuhkan dari satu fishing ground ke fishing ground lainnya antara 1-7 jam, bergantung pada jarak lokasi dan keadaan cuaca. Setelah melalui pengecekan dasar perairan (sebaiknya lumpur dan dekat dengan daerah terumbu) maka fishing
ground ditentukan, yang dilanjutkan dengan penurunan jangkar.
Pada saat menjelang senja hari (pukul 18.10 WIT) penurunan jaring mulai dilakukan (setting) setelah semua ikatannya pada bingkai telah terikat dengan baik, selanjutnya dilakukan penyalaan lampu (lighting). Roller batu yang berfungsi sebagai penahan jaring dari arus terlebih dahulu diturunkan. Dua sampai empat jam setelah lampu dinyalakan dilakukan pemadaman lampu. Pemadaman lampu dilakukan secara bertahap untuk menghindari kagetnya ikan dan usaha untuk
menggiring ikan ke tengah jaring. Lampu yang pertama dipadamkan adalah seluruh lampu bagian pinggir rangka bagan, dimana setiap lampu mempunyai kekuatan 400 W yang bejumlah 10 buah. Bersamaan dengan itu lampu konsentrasi mulai dinyalakan. Lima menit kemudian lampu yang berada di bagian tiang utama dipadamkan. Pada saat ini lampu yang menyala hanyalah lampu yang berada di rumah bagan dan seluruh lampu yang berada di bawah
platform rangka bagan.
Pemadaman lampu di bawah platform rangka bagan juga dilakukan secara bertahap yang dimulai dibagian luar rangka bagan, sehingga gerombolan ikan semakin mendekat ke bagian tengah kapal. Pada akhirnya lampu yang menyala hanyalah lampu konsentrasi yang terletak pada sisi kiri dan kanan perahu. Lampu konsentrasi ini diredupkan secara perlahan selama 10 –15 menit. Penarikan jaring dimulai ketika juragan laut telah memberikan isyarat bahwa jaring sudah mulai ditarik. Keputusan penarikan dilakukan ketika juragan laut setelah mengamati secara visual gerombolan ikan yang terdapat di bawah platform rangka bagan khususnya yang berada di daerah sekitar lampu fokus atau lampu konsentrasi. Pemutaran roller jaring dilakukan dengan cepat agar gerombolan ikan pada catchable area tidak meloloskan diri. Waktu yang dibutuhkan untuk menarik jaring sampai kepermukaan air bergantung pada kecepatan arus dan kedalaman perairan, umumnya berkisar 8-10 menit.
Proses selanjutnya adalah menggiring ikan ke bagian sisi jaring (berfungsi sebagai kantong). Jika ikan sudah berkumpul, maka diangkat ke atas perahu dengan menggunkan serok, dilanjutkan dengan penyortiran hasil tangkapan dan setting
tahap berikunya. Ikan yang sejenis di kelompokkan kedalam satu basket dan dimasukkan kedalam peti dan mencampur dengan es. Proses ini dilakukan 1 – 4 kali dalam semalam. Jika tangkapan pada malam tersebut tidak memuaskan maka pada pagi harinya akan dilakukan perpindahan fishing ground, dan sebaliknya tetap pada fishing ground itu jika tangkapan memuaskan.
Waktu yang dibutuhkan dalam penyalaan lampu berbeda-beda bergantung pada waktu hauling, musim ikan, waktu kedatangan ikan kedalam catchable area, periode bulan, dan keadaan cuaca. Hauling pertama dan ke 2 relatif waktunya sama, masing-masing 4 jam, sedangkan hauling ke 3 hanya 3 jam. Kegiatan pengoperasian dilakukan hampir setiap malam, namun demikian pada saat bulan terang atau bulan baru jika hasil tangkapan kurang memuaskan maka digunakan oleh para nelayan bagan rambo untuk istirahat sambil melakukan perbaikan- perbaikan kapal dan jaring, biasanya 3 - 5 hari. Pada saat itu terjadi pasang tertinggi dan surut terendah sehingga perahu bagan dapat disandarkan di fishing
base, sehingga pembersihan dan pengecetan bagian bawah kapal dapat lebih
mudah dilakukan.
Saat permulaan operasi penangkapan maka bagan rambo di tarik ke fishing ground
dengan towing boat. Jarak fishing ground dari fishing base antara 4 sampai 17 mil laut. Selanjutnya dilakukan proses penangkapan seperti yang dikemukakan di atas. Dalam uraian tersebut di atas nampaknya perlu pula dikemukakan bagaimana proses tertangkapnya ikan pada bagan bagan rambo.
Penangkapan Dengan Prinsip Keberlanjutan
Terdapat perbedaan dan persamaan daerah penangkapan bagan tancap dan bagan apung atau bagan perahu, khususnya yang beroperasi di perairan Sulawesi Selatan. Untuk memperoleh tangkapan yang maksimal, para nelayan bagan tancap sudah mengetahui daerah-daerah penangkapan yang sangat baik untuk memasang alat tangkap bagan tancap. Disepanjang perairan Makassar, Maros dan Pangkep umumnya nelayan bagan memasang alat tangkapnya pada daerah-daerah yang berdekatan dengan hutan mangrove atau tidak jauh dari daerah terumbu karang pada kedalaman 5-9 m. Daerah tersebut merupakan daerah subur akan unsure hara.
Dengan demikian maka ikan-ikan yang tertangkap juga adalah ikan-ikan yang menghuni daerah-daerah tersebut. Fishing ground bagan tancap di perairan Kabupaten Pangkep dikelilingi oleh pulau-pulau kecil dengan dasar perairan berlumpur dan berpasir. Disekitar pulau-pulau tersebut merupakan daerah terumbu karang dan padang lamun yang kaya akan sumberdaya ikan. Tidak jauh dari daerah penangkapan bagan tancap tersebut, terdapat muara sungai (estuaria) yang ditumbuhi oleh hutan bakau yang subur pula. Komponen-komponen ekosistem tersebut turut memberikan kesuburan di daerah penangkapan bagan tancap, karena adanya suplai bahan organik.
Pada bagan apung di Selat Makassar, operasi penangkapnnya berhubungan erat dengan adanya terumbu karang disekitarnya. Jumlah hasil tangkapan akan banyak jika bagan apung tersebut beroperasi disekitar daerah terumbu karang. Hal ini disebabkan karena banyak ikan-ikan pelagis kecil mencari makan disekitar daerah terumbu karang. Perbedaannya dengan bagan tancap hanyalah karena bagan apung dapat berpindah-pindah dari satu fishing ground ke fishing ground lainnya. Dengan demikian agar marine protected area tidak terganggu oleh alat tangkap bagan, maka sebaiknya alat tangkap tersebut tidak beroperasi disekitar marine protected area.
Hasil Tangkapan Dorong Kesejahteraan Nelayan
Berdasarkan hasil penelitian Sudirman dkk (2012) menunjukkan bahwa jumlah spesies yang ditemukan pada bagan tancap yang beroperasi di Perairan Pangkep Sulawesi Selatan sebanyak 32 spesies. Dengan rincian, tangkapan utama (primary
catch) adalah 13 spesies, tangkapan sampingan (by catch) 13 spesies dan tangkapan
buangan (discard)
sebanyak 6 spesies (Tabel 1). Komposisi hasil tangkapan berdasarkan berat (kg) pada bagan tancap selama penelitian menunjukkan berturut-turut adalah tangkapan utama 78%, tangkapan sampingan 11 % dan tangkapan buangan 11 % (Gambar 4). Komposisi ini memberikan gambaran bahwa keadaan bagan tancap memberikan hasil tangkapan yang baik bagi pendapatan nelayan. Umumnya hasil tangkapan bernilai ekonomi yang dapat memberikan kesejahteraan kepada nelayan. Hanya 11% hasil tangkapan merupakan hasil tangkapan buangan yang umumnya tidak dikonsumsi oleh masyarakat. Namun demikian hasil tangapan buangan tersebut masih dapat dijual dengan harga yang sangat rendah (Rp 1000/Kg), sebagai makanan ternak ataupun sebagai makanan ikan di tambak. Tangkapan sampingan umunya dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi di rumah tangga nelayan bagan.
Gambar 4. Komposisi tangkapan hasil tangkapan bagan tancap di Selat Makassar (Sudirman dkk, 2012)
Terdapat 5 species hasil tangkapan dominan pada bagan tancap selama penelitian (Sudirman dkk, 2012), berturut-turut adalah ikan cumi-cumi (25%), tembang (23%), peperek (22%), teri (20%) dan beronang (10%) (Gambar 5). Cumi-cumi, tembang dan ikan teri dapat dilihat secara langsung berenang dekat permukaan air, di bawah lampu. Sebaliknya ikan peperek dan ikan baronang tidak muncul kepermukaan air. Kedua species tersebut berada di bagian dasar. Keberadaan ikan baronang disekitar bagan diduga karena fishing ground dari bagan tancap yang beroperasi disekelilingya adalah merupakan daerah terumbu karang yang merupakan habitat dari dari ikan baronang.
N= 1913,6
Gambar 5. Komposisi tangkapan utama lima jenis ikan hasil tangkapan bagan tancap di Selat Makassar (Sudirman dkk, 2012)
Terdapat beberapa jenis ikan yang kecil yang hidup di daeah karang tertangkap dengan alat tangkap bagan tancap, seperti ikan baronang ukuran kecil (Gambar 6), ikan kwe, ikan buntal dan ikan lepu dan jenis ikan karang lainnya (Gambar 7)
Gambar 6. Ikan baronang kecil yang tertangkap dengan bagan tancap di Selat Makassar
Gambar 7. Variasi hasil tangkapan pada bagan tancap di Perairan Pangkep
Komposisi jumlah hasil angkapan pada bagan apung berbeda dengan pada bagan tancap baik jumlah maupun jenisnya (Gambar 8).
Gambar 8. Komposisi hasil tangkapan bagan apung di Selat Makassar (Sudirman, 2003)
Jumlah dan komposisi jenis hasil tangkapan selama penelitian (Figure 4.14) menunjukkan bahwa jenis ikan yang dominan tertangkap berturut-turut adalah teri (Stolephorus spp) 30,5 %, layang (Decapterus sp) 26,2 %, kembung (Rastrelliger
sp) 18,1 %, selar (Selar spp) 7,2 %, tembang (Sardinella spp) 7,1 %, japuh
(Dussumieria acuta) 3,1 % dan cumi-cumi (Loligo spp) 2,4 %, (total tangkapan
56.152 kg). Jumlah jenis ikan yang tertangkap selama penelitian pada alat tangkap bagan rambo adalah 59 spesies . Jenis ikan yang dominan tertangkap adalah ikan pelagis kecil dan moluska sebanyak 94,7 % yang terdiri dari : teri hitam (Stolephorus insularis), teri (Stolephorus indicus), teri merah (Stolephorus buccaneri), teri putih (Stolephorus heterolobus), teri (Stolephorus tri), layang (Decapterus ruselli), layang deles
(Decapterus macrosoma), kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), kembung perempuan
(Rastrelliger brachysoma), selar bentong (Selar crumenopthalmus), selar kuning (Selaroides
leptolepis), Selar tetengkek (Megalaspis cordyla), tembang (Sardinella fimbriata),
tembang (Sardinella sp), sardin (Sardinella sirm), japuh (Dussumieria acuta), cumi- cumi (Loligo edulis), cumi-cumi (Loligo duvaucalli), cumi-cumi (Loligo chinensis), cumi- cumi (Architeuthis sp) dan cumi-cumi (Sebroteithis lessoniana) (Gambar 9).
Selain kelompok ikan-ikan pelagis kecil dan moluska, jenis ikan lainnya yang ikut tertangkap namun dalam jumlah yang relatif sedikit sebanyak 5,3 % yang terdiri dari; peperek (Leiognathus aureus, Leiognahtus berbis dan Leiognathus blochii), ikan bulan (Mene maculata), alu-alu (Sphyraena genie dan Sphyraena jello), kucul (Sphyraena
obtusata), cakalang (Katsuwonus pelamis), tenggiri (Scomberomorus commerson), beloso
laut (Saurida tumbil), biji nangka (Upeneus molluccensis, dan Upeneus tragula), terbang
Teri (Anchovy) 30,5% Kembung(In dian mackerel) 18,1% Tembang 7,1% Layang (Russell`s scad) 26,2% Selar (Big eye scad) 7,2% Japuh(Othe r sardine) 3,1% Cumi-cumi (Squids) 2,4% Lain-lain (Others) 5,3% 63
Cypsilurus poecilopterus), tongkol (Auxis thazard), ikan platu (Pseudobalistis sp, dan
Aluterus sp), ikan leweri batu (Anomalops sp), cendro (Tylosorus crocodilus), julung- julung (Hemirhamphus far), kerong-kerong (Therapon theraps), bulan – bulan merah dan hitam (Priacantus sp), baronang kuning (Siganus virgatus), lingkis (Siganus canaliculatus) lolosi biru (Caesio coerulaureus), lolosi merah (Caesio chrysozona), ekor kuning (Caesio erythrogaster), layur (Trichiurus savala), buntal (Arothron hispidas), buntal duri (Diodon holacanthus), buntal tanduk (Lactoria cornuta), gemih (Echenies naucrates), rambeng (Dipterygonosus sp) bawal putih (Pampus argenteus), bawal hitam
(Formio niger), gurita (Octopus sp) dan ikan peseng-peseng atau samu-samu
(Rabdania sp).
Gambar 9. Variasi hasil tangkapan pada bagan apung di Selat Makassar
Gambar 10. Jenis ikan karang yang tertangkap pada bagang apung di Selat Makassar yang bernilai ekonomis.
Gambar 11. Jenis ikan karang yang tertangkap pada bagang apung di Selat Makassar yang tidak bernilai ekonomis dan merupakan discards.
Banyak jenis-jenis ikan yang tertangkap pada bagang apung hanya merupakan tangkapan sampingan. Jenis tersebut merupakan salah satu rantai dalam ekosistem terumbu karang atau di perairan laut.
Ancaman Terhadap Kelestarian Marine Proteced Area
Daerah penangkapan ikan alat tangkap bagan baik bagan tancap maupun agan perahu, sebagian besar berhubungan dengan daerah terumbu karang. Karena daerah penangkapannya berada disekitar terumbu karang ersebut. Bagan rambo di Selat Makassar masih tergolong daerah pantai karena kedalaman perairannya 25 – 70 m. Ikan-ikan yang bermigrasi ke pantai karena faktor lingkungan seperti arus, salinitas, temperatur air, musim, pasang surut, topografi, makanan dan lain-lain mungkin menyebabkan daerah tersebut menjadi fishing ground bagan.
Ikan-ikan yang mencari makan, apabila tersedia makanan akan tinggal lama di dearah iluminasi cahaya untuk makan dan sebaliknya akan segera meninggalkan daerah tersebut jika tidak tersedia makanan. Ikan-ikan yang pototaksis positif akan memilih cahaya yang disenanginya. Berenang di atas atau di bawah jaring dan berdiam lama disekitar iluminasi cahaya. Ikan yang pototaksis positif dan mencari makan akan melakukan keduanya berada didaerah iluminasi sambil melakukan aktivitas makan (feeding activity).
Dari data komposisi hasil tangkapan menunjukkan bahwa lebih dari 94% hasil tangkapan bagan rambo didominasi oleh teri, layang, kembung, selar, tembang, japuh dan cumi-cumi. Selebihnya adalah ikan-ikan predator, by-catch dan discard
catch yang umum adalah ikan-ikan karang. Walaupun jumlah spesies yang
tertangkap dengan alat tangkap bagan rambo cukup banyak namun masih didominasi oleh spesies tersebut di atas. Sebagai konsekuensi dari daerah tropis
maka jumlah spesies sangat beragam. Namun dari hasil tangkapan tersebut tidak ditemukan spesies langka yang dilindungi tertangkap oleh bagan rambo sehingga di duga tidak membahayakan biodiversity. Terdapat berbagai jenis ikan karang yang tertangkap dengan alat tangkap bagan, walaupun jumlahnya tidak dominan. Pada alat tangkap bagan tancap, tangkapan ikan baronang kecil sebanyak 10% dari total hasil tangkapan adalah suatu hal yang sangat mengkhawatirkan akan kelestarian ikan-ikan tersebut, karena mempengaruhi populasinya. Sebaiknya hasil tangkapan tersebut dikembalikan ke alam dalam keadaan hidup. Sebab jika tidak maka ancaman yang ditimbulkan adalah mempengaruhi rantai ekosistem yang ada diterumbu karang, yan pada akhirnya akan mempengaruhi kesehatan ekosistem terumbu karang.
Penutup
Dari data yang disajikan di atas menunjukkan bahwa alat tangkap bagan banyak menangkap ikan-ikan kecil (juvenile) dan berpengaruh terhadap kelestarian ekosistem perairan termasuk ekosistem terumbu karang. Disamping itu alat tangkap tersebut menangkap ikan disekitar areal terumbu karang, sehingga sebagian ikan-ikan karang juga tertangkap, walaupun prosentasenya sedikit. Oleh sebab itu, dalam rangka keberlanjutan sumberdaya perikanan khususnya menjaga
marine protected area, jumlah unit alat tangkap bagan yang diizinkan beroperasi
disetiap perairan harus dikontrol dengan baik, guna menjaga kelestarian sumberdaya perikanan secara berkelanjutan, sebagai bagian dari implementasi UU.No.34 th 2004 dan sebagai implementasi dari Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF).
DAFTAR PUSTAKA
Mallawa, A, Sudirman, M. Palo, dan Musbir 1992: Studi Mengenai Perikanan Bagan rambo di Perairan Barru Selat Makassar . Laporan Proyek Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang. 40 hal.
Nadir, M., 2000. Teknologi Light Fishing di Perairan Barru Selat Makassar: