• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROFIL ARIFIN C. NOER

B. Perilaku Masyarakat Urban

Analsis perilaku dapat diketahui melalui analisis intrinsik yang telah dilakukan, yakni analisis mengenai tokoh dan penokohan. Analisis tersebut telah menjelaskan bagaimana perilaku tiap tokoh dalam menyikapi hidup mereka sehingga berpengaruh terhadap kemiskinan yang mereka alami. Sedangkan analisis selanjutnya menekankan pada perilaku yang terbentuk dalam masyarakat urban menggunakan teori paradigma perilaku dalam buku Zamroni, berikut bentuk-bentuk perilaku masyarakat urban dalam drama Mega,mega.

1. Proposisi keberhasilan

Semakin sering suatu tindakan mendapatkan ganjaran, maka akan semakin sering pula tindakan dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Mengacu pada teori tersebut maka yang masuk ke dalam proposisi ini adalah Koyal. Meskipun Koyal dikenal sebagai orang yang gila dan cenderung disepelekan, akan tetapi apa yang dilakukan oleh Koyal juga sering mendapat respon positif dari orang sekitarnya. Respon positif yang selalu diberikan

adalah dari Mae. Mae selalu memanjakan Koyal dan memberi perhatian lebih pada Koyal. Hal tersebut terlihat melalui kutipan berikut,

Retno & Hamung: (hampir bersamaan) Kau menang? Koyal : (tersenyum bangga) hampir!

Retno : ha?

Koyal : (tersenyum bangga) Hampir! Cuma beda sedikit. Beda satu (tertawa).

Retno : edan.

Hamung : Biasa. Kepala penjol otaknya ya penjol. Mae : (riang) anakku dapat lotre!

Koyal : (bangga) hampir Mae. Mae : Syukur. Syukurlah. Hampir.51

Berdasarkan kutipan tersebut dapat terlihat bagaimana respon yang diberikan Mae sangat berbeda dengan lainnya. Hamung dan Retno cenderung menganggap Koyal benar-benar sudah edan karena uang. Sehingga semua yang dilakukan Koyal berpusat kepada uang untuk menjadi kaya akan tetapi usahanya mustahil menjadikannya kaya, sedangkan Mae cenderung mendukung apapun yang Koyal lakukan. Respon dari Mae ini dapat menyebabkan tindakan Koyal kembali diulang, sebab ia merasa bahwa yang ia lakukan bukanlah tindakan yang salah, justru ia merasa bahwa tindakannya ini merupakan cara yang tepat untuk dapat menjadi kaya secara cepat.

Panut : Makan pun tak mau ia urunan seperti kita-kita ini. Dia cuma makan. Bayar tidak mau.

Retno : (tertawa) Dan edannya uang hasil minta-mintanya ia belikan lotre. Entah sudah berapa puluh lembar lotre dibelinya. Satu kalipun belum pernah ia menang.

Mae : biarkan ia tidak urunan. Ini permintaan Mae. Mae bilang, kalau kalian semua yang Mae masakkan boleh Mae anggap sebagai anak-anak Mae…52

Sikap Mae yang selalu memanjakan Koyal merupakan salah satu faktor yang menyebabkan Koyal semakin malas untuk bekerja. Selain itu

51

Arifin, Op.Cit., h. 28 52Ibid.,

respon yang sering Mae tunjukan kepada tindakan Koyal yang selalu memimpikan uang menunjukan bahwa apa yang Koyal lakukan merupakan hal yang wajar. Mae juga justru cenderung mengingatkan yang lainnya agar sama-sama menghargai apa yang Koyal lakukan, meski pada kenyataannya Koyal merupakan orang yang gila.

Perilaku yang terjadi pada Koyal ini merupakan bentuk perilaku negatif dari masyarakat urban yang tidak mau berusaha untuk mengubah hidupnya melalui cara bersaing dengan lainnya untuk mendapat pekerjaan. Perilaku Koyal juga cenderung dilakukan secara berulang untuk mencapai kepuasaan bagi dirinya sendiri.

2. Proposisi stimulus

Proposisi ini menekankan jika stimulus tertentu merupakan kondisi di mana tindakan mendapat ganjaran, maka jika muncul stimulus yang serupa makin besar kemungkinannya untuk mengulang tindakan seperti sebelumnya. Perilaku ini digambarkan oleh Retno, ia merupakan seorang wanita yang bekerja sebagai wanita tunasusila. Tindakan bekerja sebagai wanita tunasusila tidak akan diulangi jika ia tidak mendapat respon yang menguntungkan dirinya, yakni mendapat respon dari laki-laki dan ganjaran berupa uang atas apa yang telah dilakukan.

Retno : (tertawa lalu meludah). Hanya orang banci saja yang lewat sini tanpa sekerlingpun melihat pinggang saya.

Mae : Memang kau cantik.

Retno : Tidak Cuma itu. montok. (tertawa lalu meludah). Kadang-kadang saya ingin berpodato di alun-alun ini. pidato di hadapan berjuta-juta laki-laki. Telanjang. Kalau tidak-sebentar! Pemuda itu berdiri saja di pojok di jalan itu. (membetulkan letak kutangnya) rejeki tidak boleh terbang percuma begitu saja. (pergi menyusup gelap).53

Meskipun tindakan yang dilakukan sering mendapat stimulus respon yang menguntungkan baginya, akan tetapi perilaku Retno ini dapat dikatakan

53Ibid., h. 3

sebagai perilaku negatif, sebab melanggar norma yang berlaku dalam masyarakat secara umum. Perilaku Retno juga dapat dikatakan sebagai perilaku yang cacat moral.

Pekerjaan yang Retno lakukan pada dasarnya untuk mendapatkan uang demi mencukupi kehidupannya, akan tetapi perilaku yang terbentuk tidak dapat mendorong perubahan ekonominya menjadi lebih baik. Ia juga tidak memiliki pemikiran untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menguntungkan dirinya dan mendapat penghasilan lebih baik dan banyak.

Perilaku Retno ini menggambarkan bagaimana kemiskinan moral dan mental seseorang dapat membentuk perilaku negatif. Selain itu rendahnya pendidikan yang didapat dan minimnya keterampilan juga menyebabkan sulitnya seseorang bersaing dalam masyarakat untuk memperoleh pekerjaan. 3. Proposisi nilai

Menurut proposisi ini jika seseorang dihadapkan pada alternatif beberapa pilihan, maka seseorang akan memilih tindakan yang paling menguntungkan, dilihat dari segi waktu, nilai hasil, dan berdasar berbagai kemungkinan pencapaian hasil. Seperti halnya yang dipikirkan Tukijan dan Hamung, kemudian merekapun dihadapkan pada pilihan untuk tetap tinggal di Yogyakarta dengan kemiskinan yang terus melilitnya atau pergi ke Sumatera yang menjajikann lahan untuk dapat mereka olah guna mendapat penghasilan. Meskipun Tukijan mengambil pilihan untuk menunda keberangkatan ke Sumatera dengan alasan untuk membujuk Retno, tetapi Tukijan tetap pada pilihan awalnya untuk pergi ke Sumatera bersama Retno.

Tukijan : Saya juga tidak suka menjanjikan apa-apa. Semuanya masih bakal. Yang saya miliki hanya kemauan. Dan lagi kita hanya mendengar bahwa tanah di seberang penuh kekayaan yang masih terpendam. Sangat luas. Segalanya masih terpendam. Segalanya. Di dalam tanah dan di dalam diri kita. Kalau kita sungguh-sungguh

menghendaki, kita harus mengangkatnya ke permukaan hidup kita. Saya kira begitu.54

Dari kutipan tersebut Tukijan mengatakan bahwa apa yang benar-benar kita yakini kelak sesuatu itu akan terwujud melalui tekad dan kerja keras. Tukijan merasa usahanya hidup di Yogyakarta belum dapat memenuhi kebutuhan, maka iapun harus berpikir kembali bagaimana caranya agar ia bisa mendapat kehidupan yang layak. Jalan yang harus ia tempuh untuk mewujudkannya adalah dengan cara merantau ke tempat lain. Ia berharap dengan bekal tekad yang dimiliki dan kesungguhan untuk ingin berusaha mengubah hidupnya, maka semua dapat terwujud.

Hamung : barangkali saya akan nguli di sana. Atau kembali ke pekerjaan lama. Lama. Tapi saya akan berusaha jadi calo. Kau harus membesarkan otot di Sumatera. Musuhmu bukan saja binatang tapi juga batang pohon raksasa…saya tak punya apa-apa tapi saya ingin punya apa-apa kalau sudah lama saya tinggal di Jakarta. Saya kira saya harus banyak belajar pada orang-orang batak…Saya pikir begitu. Saya harus seperti mereka. Kalau ukuran mereka mati saya pun harus demikian. Saya tidak punya apa-apa.55

Sama halnya dengan Tukijan yang merasa perlu mengubah hidupnya dengan pergi ke daerah lain untuk mendapat penghasilan yang lebih dari cukup. Hamung juga memiliki pemikiran demikian. Jika dengan bekerja apapun bisa menguntungkan dan dapat memenuhi kebutuhanya, maka Hamung akan bekerja semampunya untuk bisa mendapat apa-apa yang ia inginkan. Keuntungan yang dihasilkan dari kerja serabutannya di Yogya belum di rasa cukup untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga ia merasa perlu mencari pilihan lain supaya dapat memberikannya keuntungan yang lebih besar, salah satunya dengan merantau ke Jakarta.

Perilaku yang ditunjukan Hamung dan Tukijan merupakan salah satu wujud semangat dan tekad untuk dapat memanfaatkan sesuatu yang ada.

54

Ibid., h. 41 55Ibid.,

Hamung yang selalu berusaha mencari pekerjaan apapun untuk memenuhi hidupnya agar bisa mendapatkan apa-apa yang ia inginkan selama ini meski dengan kondisi fisik yang cacat. Dan Tukijan merupakan salah satu gambaran dari masyarakat tuna karya yang memiliki keyakinan bahwa apabila kita ingin mendapatkan sesuatu untuk kebutuhan hidup yang lebih baik, dapat dengan cara memanfaatkan alam yang ada dengan sebaik-baiknya.

4. Proposisi kejenuhan-kerugian

Semakin sering seseorang menerima ganjaran yang istimewa maka ganjaran tersebut akan menjadi kurang bermakna.

Tukijan : Saya mengerti. Bukan kau saja yang mencintainya. Banyak orang mencintainya. Kita semua berhutang budi kepada Mae. Dengan sayang ia mengurus kita. Paling tidak saya tidak bisa melupakan masakannya. Kita selalu tidak percaya bahwa dengan bahan-bahan yang kacau kita dapat menikmati makanan yang luar biasa lezatnya…tapi apa kau pikir demikian picik Mae sehingga Mae mengharapkan balasan dari setiap yang dilakukannya untuk kita? Mae orang tua. Orang tua tidak pernah mengharapkan apa-apa. Mereka Cuma mengharapkan anak-anaknya senang dan bahagia. Jauh lebih senang daripada dirinya.

Tukijan: betul-betul kau tidak punya kepala. Apa kau akan makan tanah karena perempuan tua bangka itu?.56

Kutipan tersebut menggambarkan bahwa ganjaran istimewa yang sering kita dapatkan akan menjadi kurang bermakna jika ganjaran tersebut sering diberikan. Seperti sikap Tukijan yang merasa bahwa tindakan Mae menyayangi dan mengurus mereka merupakan tindakan wajar yang sudah seharusnya dilakukan orang tua terhadap anaknya. Padahal pada kenyataannya Tukijan dan yang lain bukan anak kandung Mae, akan tetapi Mae mengurus mereka dengan kasih sayang bagai anaknya sendiri. Dalam hal ini dapat terlihat bagaimana Tukijan menganggap bahwa tindakan Mae bukanlah sesuatu yang istimewa lagi, sebab tindakan istimewa Mae sering diberikan kepada mereka yang Mae anggap anaknya, termasuk Tukijan.

56

Mae : (sekonyong-konyong menubruk dan memeluk Tukijan)Jan! (dalam isak) Jan! (dalam isak) kenapa sama sekali kau tudak punya rasa terima kasih? Tapi siapa yang memilikinya? Tapi kau anakku. Kalau sama sekali kau tak punya apa-apa namun paling sedikit kau harus punya rasa terima kasih. Sekarang kau diam saja serupa patung-patung di musium. Kau tak melihat saya dalam memandang saya. Sebab itu gampang kau tinggalkan ibumu sendiri di alun-alun ini.57

Sesuatu yang menambah rasa sedih Mae adalah karena Tukijan tidak memperlihatkan kasih sayangnya kepada Mae, meskipun itu hanya diwujudkan lewat ucapan terima kasih. Pada akhirnya kekecewaan Mae ia

sembunyikan melalui caranya sendiri dengan mengucapkan kalimat “kalau

saya muda pasti saya tak akan mengucapkan kata-kata itu58

Perilaku tersebut menandakan bahwa hubungan kasih sayang antara anak dan orang tua tidak hanya diwujudkan lewat tindakan saja, akan tetapi ucapan singkat pun dapat menunjukan bentuk perhatihan seseorang kepada orang lain. Seperti halnya ucapan terima kasih yang Mae tunggu dari Tukijan. Gambaran kasih sayang Mae dengan Tukijan dan Tukijan kepada Mae tersebut seolah-olah menunjukan bahwa kualitas hubungan berkomunikasi dalam sebuah keluarga dan ajaran yang diberikan dapat membentuk perilaku seseorang.

Mae : kalau kau anak say, kuping mu saya jewer. Urat-uratmu masih keras dan bulat. Tubuh masih utuh. Kau akan meminta-minta serupa si tua-bangka yang tersia sebatang kara. Panut, Panut. Astaga. Dagingmu akan busuk kalau tak kau manfaatkan dengan kerja.

Panut : ngemis juga kerja kan? Dikiranya ngemis itu enteng? Kan makan tenaga juga? Soalnya bukan itu. soalnya sial saya ini. dan lagi soal makan, bukan soal perasaan.59

Sedangkan kutipan di atas menunjukan ajaran dalam keluarga dapat berpengaruh dalam pembetukan perilaku seseorang. Mae mencoba memberikan nasehat kepada Panut, akan tetapi dalam pikiran Panut telah

57 Ibid., h. 103 58 Ibid., h. 103 59Ibid., h. 8-9

tertanam bahwa Mae bukanlah orang tua yang melahirkannya, sehingga ia merasa tidak punya kuwajiban untuk menuruti nasehatnya. Seperti terlihat pada kutipan berikut,

Panut : Mae juga saya beri Mae : jangan.

Panut : ini uang saya. Uang saya sendiri Mae : tapi kau anak saya

Panut : tapi kau bukan ibu saya.60

Dalam kutipan tersebut dapat dilihat bagaimana Panut sangat tidak menghormati kehadiran Mae yang telah mengurus dan memberinya makan. Paling tidak, meskipun ia tidak dilahirkan dari rahim Mae sendiri tapi Panut juga harus menjaga perasaan Mae dan menghormati Mae sebagai orang tua yang telah mengurusnya. Dari perilaku Panut tersebut menunjukan rendahnya kualitas moral yang ia miliki dikarenakan kurangnya pendidikan dari keluarga inti yang ia dapatkan dan rendahnya pendidikan formal yang bisa memberikan pelajaran dalam bersikap.

5. Proposisi persetujuan-perlawanan

Apabila tindakan seseorang mendatangkan ganjaran yang ia inginkan, maka ia akan merasa senang dan menimbulkan persetujuan terhadap sikap tersebut Namun, jika seseorang tidak mendapat ganjaran seperti yang ia inginkan, maka besar kemungkinan ia akan menjadi marah dan menimbulkan perlawanan.

Sikap yang muncul pada Retno merupakan bentuk persetujuan yang ia terima dari permohonan Tukijan untuk mengajaknya merantau dan memperistrinya. Persetujuan sikap Retno ini juga dilatarbelangi oleh dorongan Mae yang mengizinkannya pergi bersama Tukijan. Selain itu munculnya asumsi dari Mae yang mengatakan bahwa ia akan dapat memperbaiki hidup dengan cara menjadi istri Tukijan dan berhenti menjadi

60Ibid., h. 113

wanita tunasusila menyebabkan munculnya keputusan untuk menerima ajakan Tukijan. Sebagai wanita urban yang termasuk dalam golongan tuna karya karena wujud dari kerawanan sosial sehingga ia memilih bekerja sebagai wanita tunasusila, maka Retno merasa perlu kualitas hidupnya harus berubah dengan cara yang menurutnya tidak akan merugikannya, yakni menjadi istri Tukijan.

Tukijan : Kau telah menghina saya, Yal. Kamu telah mengejek saya. Berapa kali telah saya katakan tentang ini semua? Kamu boleh, boleh, boleh melakukan apa saja dengan dia. Siapa bisa melarang? Memang dia lonte. Saya tahu, Yal. Dia lonte. Karena itu tidak ada yang bisa melarang kau berbuat apa saja dengan dia. Tidak peduli kau tidak waras. Tapi jangan di depan muka saya. Berapa kali telah saya katakan? Jangan di muka saya. Semua kawan mengerti. Tapi diam-diam rupanya kamu memancing-mancing amarah saya.61

Dari kutipan di atas terlihat adanya perlawanan dari Tukijan melihat tindakan Koyal yang ia anggap sebagai bentuk penghinaan Koyal terhadap dirinya. Bentuk perlawanan tersebut ditunjukan Tukijan melalui ucapan dan tindakan. Ia memarahi Koyal karena Koyal berusaha melampiaskan nafsunya kepada Retno meski tanpa sepengetahuan Retno. Tukijan juga menempeleng Koyal hingga menyebabkan Koyal meraung kesakitan. Bentuk perlawanan yang ditunjukan Tukijan merupakan gambaran seseorang yang tidak bisa mengontrol pikirannya untuk menerima setiap tindakan yang tidak ia sukai.

Tukijan : Jangan menangis. Kau bukan anak kecil. Kalau kau tetap menangis kau tak akan pernah mendapatkan uang yang banyak itu kecuali angka-angka.

Koyal :Kau jahat. (bangkit takut-takut mengancam Tukijan).62

Meskipun ia terlihat keras dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi, tetapi Tukijan merupakan seseorang yang sangat realistis dalam menjalani kehidupan. Bentuk perlawanan sikap Tukijan terhadap Koyal ini

61

Ibid., h. 93 62Ibid.,

seolah ingin menunjukan bahwa ia ingin mengubah pemikiran Koyal, bahwa untuk mendapatkan uang dan kekayaan bukan dengan cara membeli angka-angka akan tetapi diwujudkan dengan kerja keras dari diri sendiri. Pemikirannya realistis yang bertentangan dengan Koyal inilah yang terkadang menimbulkan persepsi orang lain bahwa tindakannya terlihat keras dan kasar.

Tukijan : Kenapa kau jadi marah-marah? Retno : (marah) siapa yang mulai?

Tukijan : Saya marah karena kau berubah sikap lagi.

Retno : Saya marah karena saya ingin marah. Belum apa-apa sudah berani marah-marah. Akan kau jadikan apa aku ini di tanah seberang sana jadi babu? Seenaknya saja. Apa kau pikir saya akan mati kelaparan kalau tetap tinggal di sini? (tiba-tiba menangis) Saya jadi bingung.

Tukijan : Tentu saja kau bingung. Sudah saya bilang yang harus kau lakukan sekarang adalah berpikir bukan merasakan.63

Tukijan cenderung mudah menunjukan bentuk sikapnya terhadap sesuatu yang bersangkutan dengan dirinya. Hal tersebut terlihat salah satunya saat ia menyuruh Retno untuk memikirkan apa yang seharusnya ia pikirkan untuk langkah hidupnya ke depan. Menurut Tukijan dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan pertimbangan, yang harus dilakukan adalah berpikir untuk menemukan pilihan sebagai jalan keluar, bukan sekedar menghayati melalui perasaan-perasaan yang tidak menghasilkan keputusan.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka dapat diketahui perilaku yang muncul dari masyarakat urban dalam Mega,mega. Perilaku tersebut antara lain ditunjukkan oleh Koyal, yakni melalui proposisi keberhasilan, perilaku negatif Koyal bermain lotre dan menjadi pengemis cenderung tidak berubah. Hal tersebut salah satunya dikarenakan respon dari Mae yang cenderung membiarkan perilaku Koyal tersebut sebagai bentuk kasih sayangnya terhadap Koyal. Selain itu tidak adanya usaha Koyal untuk

63Ibid., h. 117

berpikir agar ia bisa keluar dari kemiskinannya melalui bekerja dengan memanfaatkan kemampuan dirinya.

Perilaku lain ditunjukan oleh Retno yang bekerja sebagai wanita tunasusila. Ia mendapatkan stimulus respon dari orang lain yang menurutnya dapat menguntungkan bagi dirinya. Akan tetapi pada kenyataannya dari respon yang ia dapatkan tidak bisa mengubah keadaan ekonomi Retno. Faktor lain yang menyebabkan Retno masih hidup dengan kemiskinan adalah kualitas moral yang rendah dan tidak adanya usaha Retno untuk berpikir mencari kerja yang lebih menjanjikan demi mendapat kualitas hidup yang lebih baik.

Berdasarkan proposisi nilai dapat terlihat melalui Hamung dan Tukijan. Mereka sama-sama memiliki pandangan hidup yang realistis sehingga muncullah rasa ingin yang kuat untuk dapat memiliki apa-apa untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Keinginan kuat tersebut mendorong adanya pilihan alternatif untuk pergi merantau ke daerah lain.

Secara garis besar perilaku yang muncul dalam masyarakat Mega,mega adalah perilaku negatif, yaitu menjadi pengemis, pencuri, dan wanita tunasusila. Munculnya perilaku tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor diantaranya: akibat dari urbanisasi itu sendiri yang memunculkan masyarakat tuna karya akibat gagalnya mereka dalam bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di kota, sehingga muncullah kerawanan sosial yakni kesenjangan sosial sebagai masyarakat miskin. Faktor lain yaitu tidak adanya tekad mereka yang kuat guna memperbaiki kualitas hidup dengan cara menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu rendahnya kualitas moral akibat kurangnya pendidikan yang didapat baik pendidikan dalam keluarga maupun pendidikan formal, sehingga mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi persaingan hidup yang keras.

Dokumen terkait