• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETERAMPILAN NEGOSIASI

5. Perilaku Negosiasi

Menurut Jackman (2005) memilih perilaku yang tepat pada saat bernegosiasi bisa menjadi faktor penentu keberhasilan atau kegagalan. Ketika

berhadapan dengan lawan negosiasi, ada empat macam perilaku yaitu: a) asertif, b) agresif, c) pasif) dan manipulatif.

5.1 Perilaku Asertif

Negosiator yang memilih berlaku asertif dalam negosiasi akan memperlakukan orang lain dengan hormat dan tulus. Berlaku asertif berarti menerima karakteristik diri, baik yang positif maupun negatif. Dengan berlaku demikian, Kita juga akan lebih mudah menerima keberadaan orang lain. Hasilnya, kita tidak perlu merasa mengalahkan lawan karena tidak merasa harus selalu menang. Perilaku asertif meliputi:

a. Bertanggung jawab atas pilihan dan perilaku sendiri

b. Menentukan batasan sehingga lawan mengetahui posisi mereka saat sedang bersama kita

c. Berkomunikasi dengan jelas

Berlaku asertif berarti memilih pendekatan yang positif dan proaktif. Perilaku ini berakar pada penghargaan yang tinggi terhadap diri sendiri. Berlaku asertif berarti mau berkompromi dan bernegosiasi untuk mencapai hasil win-win.

Saya berlaku aserif dalam negosiasi jika saya:

Mengatakan apa yang saya inginkan dengan jelas dan ringkas

Mengambil keputusan untuk diri sendiri

Tidak mudah patah semangat

Memperlakukan diri sendiri dan lawan negosiasi dengan hormat serta menjunjung tinggi kesetaraan

Menyadari sepenuhnya bahwa saya bertanggung jawab atas setiap tindakan dan perasaan saya

Meminta maaf jika merasa menyesal

Jika perlu, saya bisa bersikap tegas dan mempertahankan pendirian

Mengutarakan pendapat lawan dengan seksama

Bersikap tenang, santai, dan percaya diri

5.2 Perilaku Agresif

Perilaku agresif adalah perilaku yang kompetitif. Tujuan utama perilaku ini, baik yang terlihat maupun tidak, adalah untuk menjadi pemenang. Dalam kondisi ini harus ada seseorang yang kalah. Negosiator agresif biasanya mencapai tujuannya dengan mematahkan semangat lawan negosiasi atau mengabaikan perasaan, keinginan, dan hak mereka. Negosiator agresif tidak mau mempertimbangkan sudut pandang lawan. Ketika dihadapkan pada sebuah konflik atau konfrontasi, negosiator agresif akan menanggapinya dengan serangan balik secara terang-terangan. Perilaku agresif mengakibatkan reaksi emosional yang berlebihan. Ia memilih melakukan serangan verbal atau fisik, meninggalkan jejak perasaan sakit hati atau terhina. Orang yang berlaku agresif sering kali tidak yakin dengan diri mereka sendiri dan menggunakan agresi sebagai mekanisme pertahanan diri.

Agresi bukanlah perilaku yang efektif dalam negosiasi. Perilaku itu memungkinkan bagi negosiator agresif mencapai keinginan dalam jangka pendek. Namun, untuk jangka panjang, perilaku ini bisa membuat lawan memendam rasa kesal dan dendam. Sebagai akibatnya, negosiasi ini, cepat atau lambat akan membawa hasil win-lose.

5.3 Perilaku Pasif

Seseorang yang menunjukkan perilaku pasif bisa dianggap sebagai korban yang tidak berdaya. Tipe orang seperti ini target dari taktik agresif yang telah disebutkan sebelumnya.

Negosiator pasif kurang percaya diri dan memainkan peran yang hampir tidak terlihat selama negosiasi. Mereka akan menghindar dari keharusan mengambil keputusan karena merasa lebih mudah lepas tangan dan

Saya berlaku agresif dalam negosiasi jika:

Mengatakan apa yang saya inginkan, seringkali dengan sikap yang menuntut terus-menerus

Mengambil keputusan untuk lawan negosiasi

Menggertak, membujuk, dan memaksa

Menyalahkan dan menyerang

Melanggar hak lawan

Memperlakukan lawan dengan kurang hormat

Bertanggung jawab untuk tindakan lawan

Mengatakan “Maafkan saya, tetapi...”

Menyatakan pendapat saya sebagai fakta dan tidak mendengarkan sudut pandang lawan

Bersikap mendominasi, licik, dan kasar

Menggebu-gebu, penuh amarah, frustasi, dan menguasai

Menyela pembicaraan lawan

membiarkan lawan negosiasi melakukannya atas nama mereka.

Negosiator pasif memiliki cara pandang negatif. Hal itu membuatnya frustasi karena merasa tidak mempunyai kemauan atau mudah menyerah. Di dalam dirinya, selalu ada penyangkalan diri dan sikap mengasihani diri sendiri. kemungkinan timbulnya konfrontasi juga akan membuat mereka langsung menghindar dan melarikan diri. Perilaku pasif sering dipicu oleh kurangnya rasa percaya diri atau persiapan. Perilaku pasif bukanlah perilaku yang efektif untuk bernegosiasi karena negosiator seperti ini berpeluang sangat kecil untuk meraih yang diinginkan. Mereka seringkali harus menerima hasil lose-win. Untuk jangka panjang, negosiator pasif tidak akan diperhitungkan.

5.4 Perilaku Manipulatif

Perilaku seperti ini kadang kala disebut sebagai agresi tidak langsung karena didasari oleh keinginan untuk menang dengan cara apa pun.Dibandingkan dengan taktik agresif yang mencolok, perilaku tidak langsung lebih samar dan tersembunyi. Negosiator manipulatif selalu menyimpan tujuan terselubung, yaitu menempuh cara sendiri. Kebutuhan untuk memanipulasi berakar dari rasa takut jika tujuan yang dirahasiakan terbongkar. Rasanya akan jauh lebih aman untuk mengontrol dan memanipulasi daripada harus menghadapi konfrontasi langsung.

Berlaku manipulatif berarti menipu diri sendiri dan lawan negosiasi.

Saya bersikap pasif dalam negosiasi jika:

Tidak mengatakan apa yang saya inginkan

Menerima dan mengikuti begitu saja keputusan lawan negosiasi

Membiarkan lawan menggertak, memaksa, dan mempermalukan saya

Menyangkal hak saya dan membiarkannya dilanggar oleh lawan

Tidak bisa menerima tanggung jawab atas apa yang sedang terjadi pada diri saya

Terlalu banyak mengatakan “maaf”

Merasa kesulitan mengungkapkan pendapat, kebutuhan, dan keinginan dengan jelas

Sering membiarkan diri patah semangat

Mengalami kesulitan dalam melakukan kontak mata dengan orang lain

Bersikap ragu-ragu atau gugup

Merasa frustasi, tidak berdaya, sedih, terluka, dan gelisah

Berlaku manipulatif juga berarti mendapatkan semua kebutuhan dengan cara licik, yaitu membuat lawan merasa bersalah jika tidak melakukan apa yang pelaku inginkan. Dari penampilan luarnya, karakter agresif tidak langsung mungkin tampak begitu menghormati lawan, tetapi sikap tidak sependapat yang tersembunyi sekali pun biasanya akan ketahuan. Orang yang berlaku manipulatif sering kali mematahkan semangat lawan dan menggunakan kata-kata sinis untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka. Usaha untuk memperjelas atau mengklarifikasi mereka tanggapi dengan penyangkalan, sehingga lawan bingung, buntu, dan merasa bersalah.

Perilaku manipulatif umumnya tidak efektif digunakan dalam negosiasi karena lawan tidak akan pernah benar-benar mempercayai negosiator seperti itu, sehingga tidak ingin bernegosiasi. Negosiator manipulatif akan mencapai hasil win-lose. Namun, biasanya mereka hanya akan berhasil satu kali dengan cara ini. Orang tidak suka dipermainkan atau dipaksa mencapai kesepakatan.

6. Trend

Berbagai ulasan baik riset experimen atau teoritis lebih banyak mengarahkan ke negosiasi menang-menang (win-win). Tracy dan Peterson (dalam Meiyanto & Soedarjo, 1999) dan Jackman (2005) menemukan bahwa pendekatan atau taktik negosiasi integratif (win-win) menunjukkan hasil yang lebih berguna dibandingkan dengan negosiasi distributif (win-lose). Negosiasi Integratif direkomendasikan karena memiliki potensi untuk memperluas alternatif dan meningkatkan hasil kedua belah pihak. Ditemukan pula bahwa dalam negosiasi integratif ditunjukkan betapa pentingnya hubungan saling percaya dan saling menghormati yang dibangun atas dasar kemurnian,

Saya berlaku manipulatif dalam negosiasi jika saya:

Bersikap tidak langsung dan berharap orang lain ‘mengetahui’ apa yang saya inginkan

Meninggalkan petunjuk

Membujuk, merayu, dan pura-pura memuji

Bersikap sarkastik

Memanipulasi lawan dengan mempermainkan perasaan mereka (biasanya perasaan bersalah)

Bersikap pasif dengan niat yang agresif

Merasa frustasi, marah, dan tidak berdaya

keterbukaan dan komitmen bersama.

Kreitner dan Kinicki (2004) menambahkan bahwa berdasarkan penelitian negosiasi diketahui bahwa ciri-ciri kepribadian dapat mempengaruhi keberhasilan bernegosiasi. Begitu pula dengan suasana hati baik dan buruk dapat berdampak positif atau negatif masing-masing pada rencana-rencana dan hasil-hasil negosiator. Serta kurang memahami pihak lain membuat negosiasi lintas budaya lebih sulit daripada negosiasi di dalam negeri.

REFERENSI

Jacman, A. 2005. How to Negotiate Teknik Sukses Bernegosiasi: Jadilah

Negosiator Ulung dan Raihlah Win-win Solution. Jakarta: Erlangga

Kreitner & Kinicki. 2004. Organizational Behavior. 6-th ed. Mc. Graw-Hill Companies, Inc.

Meiyanto, E & Soedarjo. 1999. Negosiasi Saat Ini: Semua Menang. Yogyakarta: Buletin Psikologi Universitas Gadjah Mada. Tahun VII, No. 2 Desember.

Robbins, S.P. 2003. Organizational Behavior. Jakarta: PT Indeks kelompok Gramedia.

BAB 11

Dokumen terkait