V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Perilaku Makan
5.4.3 Perilaku lain
perilaku rusa sambar di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) cenderung lebih terlihat bersifat soliter dan jarang dapat ditemukan dalam kelompok besar di alam (Gambar 16). Hal ini diketahui dengan hanya ditemukannya 1 individu dalam satu kali perjumpaan yakni sebanyak 14 kali (66,67%). Selain itu rusa sambar juga ditemukan dalam kelompok kecil dengan ditemukannya 2 individu
dan 3 individu dalam satu kali perjumpaan dengan masing-masing sebesar 4 kali (19,05 %) dan 3 kali (14,28 %). Hal ini sesuai dengan pernyataan Karant & Sunquist (1992) bahwa rusa sambar di India cenderung hidup secara soliter.
Gambar 16 Tingkat perjumpaan rusa sambar berdasarkan jumlah individu yang ditemukan di Resort Teluk Pulai, TN Tanjung Puting.
Rusa sambar sebenarnya cenderung membentuk kelompok kecil kecuali pada saat muda. Pejantan rusa sambar biasanya pada saat makan akan berjalan di depan, sedangkan betina akan mengikuti pergerakan pejantan dibelakangnya kira- kira dengan rentang jarak 100 m. Jika betina tersebut memiliki anak pejantan yang berumur kurang dari 1 tahun, maka anak rusa tersebut akan mengikuti induknya dan selalu berada di dekat induk betinanya dengan jarak kira-kira 50 m. Akan tetapi jika anaknya betina, maka jarak antara induk betina dan anaknya akan cukup jauh yakni sekitar 100 m. Hal ini dapat dibuktikan dengan perbedaan waktu ditemukannya 3 individu rusa sambar yang terdiri dari pejantan tua, betina tua dan betina anak dalam satu kelompok pada tanggal 17 September 2010 (data terlampir). Oleh karena jauhnya jarak antar individu di dalam kelompok kecil tersebut, maka seringkali hanya dijumpai 1 atau 2 individu saja. Selanjutnya, dikarenakan tingginya tingkat kewaspadaan yang dimiliki rusa sambar menyebabkan ketika salah satu individu yang teramati mengetahui keberadaan manusia, maka individu lain tidak akan terdeteksi keberadaannya. Hal inilah yang menyebabkan rusa sambar cenderung disebut sebagai satwa soliter. Hasil pengamatan yang sama juga diperoleh Subagyo (2000) bahwa rusa sambar di Resort Way Kanan, Taman Nasional Way Kambas, Lampung diketahui paling banyak dijumpai secara soliter (25%), sedangkan sisanya dijumpai dalam
kelompok kecil (2−3 individu dalam satu kelompok). Akan tetapi dalam
67% 19% 14% 1 individu 2 individu 3 individu
penelitian Subagyo (2000) juga ditemukan 17,3% rusa sambar ditemukan dalam jumlah besar (lebih dari 10 individu dalam satu kelompok). Adanya penemuan dalam jumlah besar ini tidak ditemukan di Resort Teluk Pulai. Hal ini dikarenakan padang rumput yang merupakan penyedia pakan utama di kawasan Resort Way Kanan lebih besar (lebih dari 139 ha) jika dibandingkan di Resort Teluk Pulai yang hanya 3,17 ha. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi ketersediaan dan kemampuan penyediaan pakan bagi rusa sambar.
Kondisi ini sesuai dengan pernyataan Mattielo et al. (1997) bahwa ketika waktu makan rusa sambar kadang-kadang membentuk kelompok besar dan bergabung dengan betina dari kelompok lain. Hal ini karena strategi berkelompok memiliki keuntungan bagi rusa yakni dapat memperkecil resiko terhadap ancaman predator, efisiensi dalam mendapatkan makanan sebagai hasil strategi mencari makan bersama-sama (Manning & Dawkins 1998). Akan tetapi dengan berkelompok maka akan terjadi kompetisi intraspesifik juga berpengaruh terhadap kecepatan makan satwa (Krebs et al. 1997). Oleh karena itu pada saat musim kering ketika hijauan pakan terbatas, maka rusa sambar akan cenderung membentuk kelompok kecil meskipun dalam mencari makan (Ahmed & Sarker 2002). Hal ini dilakukan untuk mengurangi kompetisi antar individu.
Terdapat perbedaan waktu yang sangat signifikan antara induk dan anak saat perjumpaan. Betina dan betina anaknya memiliki selang waktu hampir 45 menit (data terlampir) dalam satu kelompok. Sedangkan dengan anak jantannya selang perjumpaan hanya 25 menit. Hal ini menunjukkan adanya perilaku diskriminatif oleh induk betina terhadap anaknya terutama betina. Hal ini dikarenakan sistem perkawinan ungulata adalah poligini (Hewison et al. 2005). Hal ini pula yang menjelaskan bahwa sangat jarang ada induk betina yang masih mengasuh anak betinanya melebihi satu tahun. Karena perilaku diskriminatif tersebut maka umumnya anak betina lebih mengadopsi teritori induknya sehingga terkadang terdapat tumpang tindih teritori hingga betina tersebut menemukan pejantan yang menjadi pasangannya (Mathews & Porter 1993).
Aktivitas lain yang teramati sewaktu rusa sambar melakukan aktivitas makan adalah berjalan, mengawasi, minum, menggaruk badan, berkubang dan bersuara (Gambar 17). Aktivitas berjalan (100%) dan mengawasi (94%) adalah
aktivitas terbanyak yang dilakukan hampir selalu bersamaan dengan aktivitas makan. Aktivitas berjalan menjadi sangat penting karena rusa jantan akan mencari makanan dan kemudian akan diikuti oleh betina dan anaknya. Oleh karena itu rusa jantan akan lebih cepat makannya dan memiliki aktivitas berjalan yang lebih lama jika dibandingkan rusa betina. Hal ini karena selain untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, rusa jantan juga harus menyediakan pakan bagi betina dan anaknya. Hal ini juga terjadi di penangkaran bahwa rusa jantan adalah rusa yang pertama makan, kemudian betina dan anak akan mengikuti dan memakan bekas dari makanan pejantan (Semiadi 2006). Sedangkan aktivitas mengawasi rusa sambar diketahui dengan cara mengangkat kepalanya dan melihat kondisi sekitar meskipun mulut tetap mengunyah makanan. Hal ini karena berjalan dan mengawasi merupakan strategi rusa sambar agar tidak mati akibat tertangkap oleh predatornya. Kondisi ini juga telah dilaporkan oleh Laundrea et al. (2001) bahwa aktivitas berjalan dan mengawasi dapat mengurangi resiko kematian hingga 35 % jika dibandingkan hanya berkonsentrasi untuk makan.
Gambar 17 Tingkat perjumpaan aktivitas rusa sambar selain makan ketika merumput.
Selama pengambilan data tercatat sebanyak 21 individu rusa sambar (67.74%) yang melakukan aktivitas bersuara. Suara yang khas dan melengking merupakan bentuk komunikasi dengan rusa sambar yang lain dengan tujuan agar kelompoknya lari dan masuk ke dalam hutan karena adanya keberadaan manusia atau predator. Semakin kecil lengkingan suara sebenarnya rusa sambar berada dekat dari sumber bahaya dan kebalikannya, semakin keras lengkingan suara
31 29 10 2 4 21 0 5 10 15 20 25 30 35
Berjalan Mengawasi Minum Menggaruk badan Berkubang Bersuara T in gka t P er jum pa a n Aktivitas Lain
tersebut berarti rusa sambar telah lari jauh dari sumber bahaya. Selain bersuara diketahui bahwa selama makan rusa sambar menunjukkan kewaspadaannya dengan mengangkat kepala mereka untuk memeriksa lingkungan sekitar saat makan. Subagyo (2000) menyatakan bahwa ada empat cara sistem komunikasi oleh rusa sambar, yaitu: melalui suara, penglihatan, gerakan dan bahan kimia (feromon). Suara atau alarm call juga dilakukan oleh rusa-rusa lain seperti rusa merah (C. elaphus), rusa sika (C. nippon), dan rusa timor (C. timorensis) (Altendrof et al. 2001).
Ketika merumput rusa sambar menggunakan waktu makan lebih banyak (51%) jika dibandingkan aktivitas lain seperti berjalan (21%) dan mengawasi (13%) (Gambar 18). Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan pernyataan Benhaiem et al. (2008) bahwa waktu mengawasi (47%) lebih banyak jika dibandingkan waktu makan ketika rusa sedang merumput (25%). Selain itu pada siang hari rusa rusa juga menggunakan waktunya lebih banyak untuk mengawasi keadaan sekitar (38%) jika dibandingkan dengan makan (33%) (Hopewell et al.
2005). Selanjutnya Berger dan Cunningham (1988) menyatakan bahwa sebanyak 95 % waktu makan dihabiskan untuk mengawasi kondisi sekitar. Perbedaan ini dikarenakan pada perbedaan waktu pengamatan. Penelitian Benhaiem et al.
(2008) diketahui dilakukan pada musim berburu sehingga mengharuskan rusa untuk lebih waspada. Sedangkan pada penelitian ini lokasi yang digunakan adalah di kawasan zona inti taman nasional sehingga gangguan lebih sedikit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fortin et al. (2004) bahwa rusa hanya akan lebih waspada jika terdapat rangsangan eksternal terutama ketika risiko tinggi.
Gambar 18 Persentase alokasi waktu dari beberapa aktivitas yang dijumpai ketika rusa sambar merumput.
21% 13% 51% 1% 1% 10% 3% Berjalan Mengawasi Makan Minum Menggaruk Badan Berkubang Bersuara
Faktor lain yang juga mempengaruhi adanya waktu mengawasi yang hanya 13 % adalah sering terdapat tumpang tindih waktu antara perilaku makan dan mengawasi dalam pengamatan perilaku makan. Hal inilah yang menyebabkan waktu dalam mengawasi lebih rendah jika dibandingkan waktu yang digunakan oleh rusa sambar untuk makan. Hal ini menunjukkan bahwa kewaspadaan memainkan peran utama dalam perilaku makan. Perilaku anti predator kebanyakan terjadi selama periode makan (Whittingham et al. 2004) dan secara luas berpotensi meningkatkan kesehatan serta mengurangi risiko kematian (Watson et al. 2007). Akan tetapi, perilaku ini secara tidak langung mengurangi tingkat konsumsi pakan karena waktu yang digunakan oleh satwa dalam mencari makanan akan berkurang (Illius & Fitzgibbon 1994). Hal ini berarti dalam jangka panjang kesehatan satwa akan terganggu apabila banyak gangguan, sehingga kemungkinan waktu dan tenaga untuk menjaga kewaspadaan lebih tinggi jika dibandingkan dengan kegiatan mencari makanan. Namun, tingkat kewaspadaan satwa herbivora dapat dikurangi karena mereka memiliki kemampuan untuk menampung pakan dalam lambungnya (Illius & Fitzgibbon 1994). Hal ini memungkinkan herbivora hanya membutuhkan sedikit waktu untuk mencari pakan dan mengunyahnya di tempat yang lebih aman (Spalinger & Hobbs 1992).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa jantan tua lebih sering mengetahui keberadaan pengamat. Sebanyak 4 kali dari 12 perjumpaan (data terlampir) dengan pejantan tua (33%) rusa jantan mengetahui bahwa mereka sedang diamati dan ini menyebabkan akan terdengar suara lengkingan (alarm call) yang menandakan bahwa terdapat gangguan yang mengharuskan rusa menghindar. Hal ini di dukung pernyataan Laundrea et al. (2001) yang menyatakan bahwa kewaspadaan terhadap predator lebih besar ditunjukkan oleh pejantan jika dibandingkan dengan betina. Subagyo (2000) juga menyatakan bahwa rusa jantan memiliki respon yang lebih cepat jika dibandingkan dengan betina meskipun bukan sebagai pemimpin kelompok. Menurut Poole (1985) komunikasi melalui suara efektif digunakan ketika signaller berada pada jarak yang jauh. Suara dapat digunakan sebagai penunjuk keberadaan individu. Hal inilah yang digunakan rusa agar individu lain atau anggota kelompoknya mengetahui asal bahaya dan dapat menghindar. Akan tetapi ketika mendengar
suara seperti itu, maka betina tualah yang terlebih dahulu lari. Hasil penelitian Semiadi (1996) menunjukkan bahwa ditingkat penangkaran kelompok rusa betina akan menjadi pemimpin dan pengambil inisiatif ketika ada bahaya yang mengancam.