II.3. ASPEK PELAYANAN UMUM
II.3.2. FOKUS LAYANAN URUSAN PILIHAN
II.3.2.7. PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN A. INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH
Indikator hasil penanganan urusan industri dapat dilihat dari indikator kinerja berupa jumlah industri kecil dan menengah serta jumlah industri yang sudah memanfaatkan teknologi tepat guna. Capaian untuk tahun 2013 dibandingkan dengan target terlihat dalam tabel berikut:
Tabel II. 76 Capaian Kinerja Urusan Perindustrian Tahun 2013
NO INDIKATOR KERJA SATUAN TARGET
2013 REALISASI 1 Jumlah Industri Kecil dan 2013
Menangah (kumulatif) Unit 3.408 3.757
2 Jumlah Industri yang
memanfaatkan Teknologi Tepat Guna
Unit 700 750
Sumber: Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Walikota Bogor Tahun 2013
Pertumbuhan Industri Kecil dan Menengah berdasarkan jumlah unit usaha mengalami peningkatan 5,47 persen yaitu bertambah sebanyak 195 unit usaha dari 3.562 unit usaha pada tahun 2013 menjadi 3.757 unit usaha pada tahun 2013.
Penambahan unit usaha industri tersebut diantaranya pada bidang industri makanan sebanyak 170 unit usaha, bidang industri minuman sebanyak enam unit usaha, bidang industri kayu olahan dan rotan sebanyak tiga unit usaha, bidang industri kertas sebanyak empat unit usaha, bidang industri bahan galian non logam sebanyak satu unit usaha, bidang industri kimia sebanyak lima unit usaha, bidang industri logam sebanyak empat unit usaha, bidang industri kulit sebanyak dua unit usaha.
Selain dari segi jumlah unit usaha, pertumbuhan industri di Kota Bogor juga dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja yang terserap serta besar investasi pada sektor industri seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel II. 77 Tenaga Kerja dan Investasi Industri Tahun2012 – 2013
NO URAIAN SATUAN 2012 2013 PENINGKATA
N (%) 1 Tenaga
Kerja Orang 57.790 58.166 0,66
2 Investasi Rp. 746.591.054.659,- 753.468.545.912,- 1,00
Sumber: Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Walikota Bogor Tahun 2013
80
Pada tahun 2013 terdapat penambahan jumlah tenaga kerja pada sektor industri yaitu sebanyak 376 orang, yang terdiri dari 105 orang pada industri Menengah/besar, 149 orang pada industri kecil formal dan 122 orang pada industri kecil non formal.
Selain itu terdapat peningkatan investasi industri sebesar 6.877.491.253 rupiah yang terdiri dari 5.853.409.630 rupiah pada industri menengah/besar, 896.081.623 rupiah pada industri kecil formal dan 128.000.000 rupiah pada industri kecil non formal.
Perusahaan perdagangan di Kota Bogor dari tahun ke tahun semakin bertambah. Dari segi kuantitas, Usaha Perdagangan Kecil sampai dengan tahun 2012 masih mendominasi sektor perdagangan Kota Bogor. Pada tahun 2012, banyaknya perusahaan perdagangan kecil mencapai 8.216 pengusaha (83,02 %).
Pada 2011 perusahaan yang terdaftar sebanyak 1.366 perusahaan dan pada 2012 hanya 1.288 perusahaan. Perusahaan terbanyak yang mendaftar adalah perusahaan perorangan yaitu sebanyak 605 (46,97 %) dan perusahaan komanditer (CV) sebanyak 458 (35,56 %).
Tabel II. 78 Jumlah Perusahaan Perdagangan dan Nilai Investasi JENIS PERUSAHAAN
PERDAGANGAN NILAI INVESTASI (JUTA) JUMLAH PERUSAHAAN 2011 2012 Perusahaan Perdagangan Formal
Perusahaan Besar >Rp. 5.000,- 15 7
Perusahaan Menengah Rp. 500,- s/d Rp.
5.000,- 23 49
Perusahaan Kecil Rp. 50 s/d Rp. 500,- 150 192
Perusahaan Mikro <Rp. 50,- 213 94
Perusahaan Perdagangan Non
Formal - NA NA
Sumber: Kota Bogor Dalam Angka,2013
Tabel II. 79 Jumlah Penerbitan Tanda Daftar Perusahaan 2009-2012
PERINCIAN 2009 2010 2011 2012
Perusahaan Terbatas 255 299 346 213
Perusahaan Komanditer (CV) 288 370 432 458
Perusahaan Perorangan 364 496 580 605
Koperasi 23 12 6 11
Badan Usaha Lain 7 1 2 1
Jumlah 937 1.178 1.366 1.288
Sumber: Kota Bogor Dalam Angka, 2013
Layanan AMDAL diberikan kepada masyarakat dunia usaha yang membutuhkan rekomendasi dokumen lingkungan bagi kegiatan usaha yang akan dibangun. Data layanan Amdal, UKL-UPL dan SPPL dari tahun 2010 s.d.
2013 disajikan dalam tabel berikut.
Tabel II. 80 Layanan Amdal Tahun 2010 s.d. 2013 di Kota Bogor
NO JENIS KEGIATAN JUMLAH
2010 2011 2012 2013
1 Toko/Perkantoran 2 - -
-2 Industri - 1 -
-3 Sarana Pendidikan - - - 1
4 Pembangunan Jalan - 2 1
-5 TPPAS 1
6 Pusat Perbelanjaan 1 2
7 Terminal - - 1
Jumlah 2 3 2 5
Sumber: RENSTRA BPLH Kota Bogor 2015-2019
81
Tabel II. 81 Layanan UKL-UPL Tahun 2010 s.d. 2013 di Kota Bogor
NO JENIS KEGIATAN JUMLAH
2010 2011 2012 2013
1 Toko/Perkantoran - 2 5 3
3 SPBU 1 4 1 1
2 Rumah Makan 3 6 11 5
4 Bengkel - 2 4 9
3 Industri 5 3 1 1
5 Tower 5 - -
-4 Sarana Kesehatan/RS 1 4 4 4
6 Kantor/Perkantoran 2 5
5 Perumahan/Hotel/Apart 2 1 7 3
7 Laboratorium 1 - 1 2
6 IPAL 1 2 - 1
8 Sarana Pendidikan - - 1 2
9 Pasar - - 3
-10 Swalayan - 1 1 1
Jumlah 21 30 39 32
Sumber: RENSTRA BPLH Kota Bogor 2015-2019 B. INDUSTRI KREATIF
Departemen Perdagangan RI tahun 2009 telah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Dalam ekonomi kreatif terdapat 14 sub-sektoral ekonomi kreatif yang telah ditetapkan pemerintah sebagai fokus pengembangan ekonomi kreatif hingga tahun 2025, antara lain:
1. Periklanan;
2. Arsitektur;
3. Pasar seni dan barang antik;
4. Kerajinan;
5. Desain;
6. Fesyen;
7. Film, video, dan fotografi;
8. Permainan interaktif;
9. Musik;
10. Seni pertunjukan;
11. Penerbitan dan percetakan;
12. Layanan komputer dan piranti lunak;
13. Radio dan televisi;
14. Riset dan pengembangan.
Berdasarkan data “Kajian Ekonomi Tematik Potensi Ekonomi Kreatif di Kota Bogor”, untuk Kota Bogor jumlah ekonomi kreatif bertambah satu yaitu kuliner. Pembahasan kuliner yang diharapkan masuk dalam sub-sektoral ekonomi kreatif berdasarkan kesepakatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan seluruh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang akan mengusulkan kuliner sebagai sub-sektoral ekonomi kreatif kepada Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hal ini didasari oleh basarnya potensi kuliner sebagai keunggulan lokal di Jawa Barat.
Jumlah pelaku usaha ekonomi kreatif adalah 98 pelaku. Jika berdasarkan kecamatan, jumlah terbanyak berada di kecamatan Bogor Selatan sebanyak 27 pelaku atau 27,55 persen. Selanjutnya terbanyak kedua berada di Kecamatan Bogor Barat sebanyak 18 pelaku usaha atau 18,37 persen, disusul Kecamatan Bogor Utara sebanyak 15 pelaku atau 15,31 persen, Kecamatan Bogor Tengah
82
dan Tanah Sareal masing-masing 13 pelaku usaha atau 13,27 persen dan yang paling sedikit adalah Kecamatan Bogor Timur sebanyak 12,24 persen. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa secara jumlah pelaku usaha paling banyak berada di Kecamatan Bogor Selatan yang merupakan salah satu daerah sentra UKM. Secara lengkap jumlah pelaku usaha ekonomi kreatif per kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 82 Jumlah Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif Kota Bogor Tahun 2012
NO KECAMATAN JUMLAH PERSENTASE
1 Bogor Barat 18 18.37
2 Bogor Selatan 27 27.55
3 Bogor Tengah 13 13.27
4 Bogor Timur 12 12.24
5 Bogor Utara 15 15.31
6 Tanah Sareal 13 13.27
Total 98 100.00
Sumber: BPS Kota Bogor, 2012
Berdasarkan data dari “Kajian Ekonomi Tematik Potensi Ekonomi Kreatif di Kota Bogor”, dari 15 sub-sektoral ekonomi kreatif di Kota Bogor, ternyata yang teridentifikasi lima sub-sektoral yaitu: fesyen, kerajinan, kuliner, musik dan percetakan. Sub sektoral ekonomi kreatif yang paling banyak adalah kerajinan yaitu sebanyak 43 pelaku usaha atau 43,88 persen. Banyaknya pelaku usaha kerajinan memang sudah tidak diragukan lagi, Kota Bogor merupakan salah satu wilayah penghasil beragam jenis kerajinan, antara lain kerajinan dari kayu dan bambu, kerajinan yang berbasis kaca dan keramik, kerajinan berbasis daur ulang, kerajinan berbasis seni dan handycraft dan kerajinan logam dan kerajinan berbasis kain dan bordir.
Selanjutnya terbanyak kedua adalah kuliner yang berjumlah 26 atau 26,53 persen. Sebagaimana diketahui juga bahwa Kota Bogor terkenal sebagai salah satu kota wisata kuliner, sehingga sangat relevan ketika pelaku usaha kuliner merupakan salah satu yang terbanyak di Kota Bogor. Terbanyak berikutnya adalah sub-sektoral fesyen dengan jumlah 20 pelaku usaha atau 20,41 persen. Terbanyak selanjutnya adalah sub-sektoral penerbitan dan percetakan yang berjumlah lima pelaku usaha atau 5,10 persen, dan yang paling sedikit adalah sub-sektoral musik yang berjumlah empat pelaku usaha atau 4,08 persen. Dengan gambaran yang disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara jumlah pelaku ekonomi kreatif terbanyak adalah sektoral kerajinan. Secara jelas jumlah pelaku usaha berdasarkan sub-sektoral ekonomi kreatif Kota Bogor dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 83 Jumlah Pelaku Usaha Berdasarkan Sub-sektoral Ekonomi Kreatif
Sumber: BPS Kota Bogor, 2012
Kota Bogor memiliki objek dan sarana wisata yang memadai sehingga mengundang banyak wisatawan datang ke Kota Bogor. Hal ini menjadikan wilayah Kota Bogor lebih ramai lagi dan berpotensi bagi berbagai usaha untuk meningkatkan perekonomian. Selain kunjungan ke obyek-obyek wisata, aktivitas kunjungan wisata ke Kota Bogor juga tercermin dari keramaian di pusat-pusat perdagangan makanan jajanan dan buah-buahan serta factory outlet pakaian dan tas seperti di Jalan Suryakencana, Siliwangi, Pajajaran, dan Tajur terutama pada Hari Sabtu, Minggu dan hari-hari libur.
NO SUB-SEKTORAL JUMLAH PERSENTASE
1 Fesyen 20 20.41
2 Kerajinan 43 43.88
3 Kuliner 26 26.53
4 Musik 4 4.08
5 Penerbitan dan Percetakan 5 5.10
Total 98 100.00
83
Sektor industri kreatif yang selama ini telah berjalan di Kota Bogor dan memberikan kontribusi baik dalam aspek materi maupun citra terhadap Kota Bogor seperti Industri Kreatif Wayang Golek di Kelurahan Loji yang menjadi target kunjungan wisatawan mancanegara; Industri Kreatif Gong di Pancasan Kelurahan Pasir Jaya yang sudah mendunia dan menjadi target kunjungan rutin para wisatawan mancanegara; Industri Kreatif Pembuatan Kujang di Kelurahan Katulampa; Industri Kreatif Sepatu/sendal di Kelurahan Cikaret;
Industri Kreatif Batik Bogor dan sebagainya.
Adanya iklim usaha yang kondusif dan banyaknya jumlah perusahaan yang bergerak di bidang jasa akan mendorong Kota Bogor menjadi wilayah yang berkembang dengan mobilitas penduduk yang tinggi. Kondisi ini akan mengakibatkan roda perekonomian di Kota Bogor terus berkembang, sehingga berbagai jenis usahapun tumbuh subur dari usaha jasa sampai kuliner banyak berdiri di wilayah-wilayah strategis.