Apa hal istimewa, sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan, yang harus dilakukan umat Israel sebelum mereka dapat menikmati pembebasan yang Allah akan segera laku-kan? Mereka harus melakukan suatu ritual, yang kemudian dinamakan Paskah, dengan iman. Sesuai dengan
instruksi di ayat 3-11, mereka harus mempersiapkan diri untuk perayaan Paskah di keluarga masing-masing, dalam keadaan yang siap untuk segera melakukan perjalanan. Satu hal yang penting dalam perayaan Paskah adalah mereka harus menorehkan darah kurban bakaran itu ke ambang pintu setiap rumah keluarga Israel (ayat 7).
Apa yang mereka lakukan itu kelak harus dilakukan ber-ulang-ulang sebagai peringatan atas apa yang Allah akan segera lakukan di hari terakhir itu (ayat 14). Yaitu bagaimana Tuhan
menghukum bangsa Mesir, yang memusuhi mereka, dengan cara membinasakan anak-anak sulung keluarga-keluarga Mesir (ayat 12). Sedangkan umat Tuhan diluputkan dari kematian anak sulung oleh karena darah yang ditaruh di ambang pintu rumah-rumah mereka (ayat 13). Jadi peringatan kebebasan sekaligus mengenang kedahsyatan Tuhan menghukum musuh. Perjamuan Paskah ini harus dirayakan secara berkala, lengkap dengan kelanjutannya, yaitu hari raya "roti tidak beragi" selama tujuh hari. Ritual yang diatur untuk perayaan Paskah maupun lanjutannya sangat penting untuk dihayati oleh generasi selanjutnya. Mereka yang tidak menyaksikan secara langsung bagaimana Tuhan membela dan berperang bagi umat-Nya, melalui ritual ini
menyelami, menghayati, bahkan mengulang kembali pengalaman nenek moyang mereka dalam memori bersama mereka.
Gereja merayakan Paskah setahun sekali dan Perjamuan Kudus secara berkala dalam rangka mengingat dan menggali ulang ingatan akan peristiwa sejarah keselamatan bagi umat manusia. Yaitu peristiwa Tuhan Yesus bertindak menebus umat-Nya dan mengalahkan musuh utama melalui kema-tian-Nya di kayu salib.
42 Kamis, 29 Januari 2009
Bacaan : Keluaran 12:21-30
(29-1-2009)
Keluaran 12:21-30
Karya penebusan Allah
Judul: Karya penebusan AllahApa yang menjadi tanda bahwa Tuhan akan melewati rumah-rumah keluarga Israel? Apa
jaminan bahwa tidak satu pun dari mereka yang akan terkena tulah terakhir yang mematikan ini? Yaitu darah yang dibubuhkan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu. Darah dari binatang yang dikurbankan menjadi tanda untuk keselamatan umat Tuhan. Sebaliknya semua rumah keluarga Mesir, yang tidak memiliki tanda darah tersebut terkena tulah dahsyat berupa kematian anak-anak sulung Mesir, tanpa pandang bulu.
Tergenapilah rencana Allah menyelamatkan bangsa Israel. Saat mereka dengan iman menaruh darah di ambang dan tiang pintu rumah mereka, mereka luput dari kematian anak sulung. Lebih dari itu, mereka mengalami pembebasan. Seruan minta tolong yang dahulu keluar dari mulut umat Tuhan yang tertindas kejam (Kel. 2:23) telah didengar dan dijawab Tuhan. Kini ratapan Israel digantikan oleh ratapan yang keluar dari mulut para musuh mereka yang sedang ditekan dan dihajar Tuhan melalui kematian anak-anak sulung mereka (ayat 29-30).
Inilah kelak yang harus menjadi ingatan yang terus menerus dikumandangkan kepada segenap keturunan Israel saat merayakan Paskah setiap tahun. Bahwa Tuhan dahulu telah meluputkan nenek moyang mereka saat musuh mereka dihukum dengan keras. Motivasi syukur dan kasihlah yang diharapkan muncul dari hati yang tulus karena menyelami kebesaran kasih Ilahi. Kasih itu sudah orang tua mereka alami dan yang kemudian menjadi dasar pengharapan mereka. Tuhan yang telah memerdekakan leluhur mereka dari penindasan kejam Mesir adalah Tuhan yang sama, yang tetap setia kepada umat-Nya dimasa kini.
Pembebasan Tuhan untuk kita di dalam Kristus juga seharusnya kita peringati terus menerus dengan hati yang bersyukur. Apakah perjamuan kudus sungguh merupakan perayaan iman? Melaluinya generasi demi generasi diundang menghayati dan mensyukuri karya penyelamatan-Nya.
43 Jumat, 30 Januari 2009 Bacaan : Keluaran 12:31-51
(30-1-2009)
Keluaran 12:31-51
Hari pembebasan
Judul: Hari pembebasanDapatkah Anda membayangkan suasana seperti apa yang terjadi saat umat Israel berbondong-bondong berangkat meninggalkan Mesir menuju tempat pembebasan mereka? Tentu suasana hiruk pikuk dan gegap gempita serta tergopoh-gopoh, bercampur aduk. Sebagian mungkin masih terheran-heran, seakan-akan hal itu merupakan mimpi yang sulit dicerna akal sehat. Namun orang lain dengan sigap mendorong untuk bergegas sehingga setiap waktu dimanfaatkan dengan efisien. Tidak ada waktu untuk beramah-tamah dengan tetangga mereka, orang-orang Mesir. Pertama, orang Israel didesak oleh Firaun dan rakyat Mesir agar segera meninggalkan Mesir. Orang Mesir tidak ingin tulah kematian menghantam lebih banyak orang dalam keluarga mereka. Agar orang Israel cepat pergi, dengan murah hati setiap keluarga Mesir memberikan emas, perak, dan berbagai bekal lainnya kepada orang-orang Israel sesuai permintaan mereka (ayat 35).
Kedua, segala persiapan yang sudah dilakukan sebelumnya (ayat 11) menjadi nyata kegunaannya. Tinggal ditambahkan dengan membungkus adonan roti yang belum sempat diragikan sebagai bekal makanan di perjalanan. Ini menunjukkan bagaimana Tuhan sendiri telah mempersiapkan mereka dengan tepat sebelumnya. Penulis kitab Keluaran mencatat secara teliti dan tepat waktu mereka keluar dari Mesir, yaitu 430 tahun setelah mereka dan nenek moyang mereka tinggal di Mesir. Pentarikhan ini penting karena menjadi tonggak sejarah bagi umat Tuhan agar mengingat bahwa Tuhan sudah menggenapkan janji yang Dia sampaikan melalui nenek moyang mereka, Abraham (Kej. 15:13-16). Bagian akhir perikop ini ditutup dengan perintah untuk terus mengingat peristiwa bersejarah itu dengan merayakannya.
Mari rayakan karya Allah dalam hidup kita saat Dia menebus kita dengan darah Kristus. Kiranya setiap kali kita mengingat kebaikan-Nya, hati kita semakin terdorong untuk membagikan berita Injil ini kepada orang lain yang masih hidup dalam belenggu dosa.
44 Sabtu, 31 Januari 2009
Bacaan : Mazmur 76