• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM PADA PERIODE

B. Hukum Islam pada Periode Klasik, Pertengahan, dan Modern

3. Periode Modern (1800 M - Sekarang)

Periode ini berlangsung dari tahun 1800 Masehi sampai sekarang. Periode ini bisa dikatakan periode kebangkitan umat Islam setelah mengalami kemunduran dimasa pertengahan. Pada periode ini lahirlah beberapa gerakan pembaruan dalam beberapa bidang, seperti bidang ekonomi, agama, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bidang-bidang lainnya.52 Jatuhnya Mesir pada saat itu menjadi salah satu yang melatarbelakangi timbulan semangat dari umat Islam untuk bangkit kembali, karena mereka sadar bahwa dunia barat sudah jauh lebih maju dari dunia Islam. Hal ini berupa kebalikan dari zaman klasik, dimana pada zaman klasik, barat sangat kagum dengan kemajuan dunia Islam, sedangkan pada periode modern, kemajuan barat menjadi hal yang dikagumi oleh umat Islam.53

Pada masa ini pemikiran Islam mulai berkembang setelah mengalami kemunduran dan kelesuan dari semangat mengembangkan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Salah satu yang mulai mengalami kemajuan pada saat ini adalah dalam bidang pemikiran hukum Islam. Ini merupakan respon atau reaksi dari kebiasaan sikap taqlid yang sudah berabad-abad telah melekat dalam dunia pemikiran Islam. Upaya ini dimulai dari timbulnya gerakan-gerakan pembaruan Islam yang disebut dengan gerakan salaf. Gerakan ini berusaha untuk mengembalikan kemurnian ajaran agama Islam sesuai dengan zaman terdahulu.

Dalam gerakan ini ahli hukum Islam disarankan untuk kembali langsung kepada Alquran dan Hadits sebagai dasar hukum sesuai pada zaman terdahulu.54

52Rizem Aizid, Sejarah Peradabaan Terlengkap, h. 97

53Syamruddin Nasution, M.Ag, Sejarah Peradaban Islam, h. 7

54Abdul Quddus, Perbandingan Pemikiran Islam :Teologi, Fikih, dan Tasawuf, h. 102-103

Di samping itu, pada masa ini perkembangan ilmu pengetahun yang tidak merupakan gerakan salaf masih berjalan. Salah satu Ilmu yang berkembang adalah, ilmu fikih, ini dibuktikan lahirnya ulama-ulama fikih pada periode ini.

Fikih pada zaman ini biasanya disebut dengan fikih kontemporer. Bisa kita pahami bahwa fikih kontemporer adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat yang bersifat praktis yang di ambil dari dalil-dalil yang terperinci terhadap masalah-masalah yang terjadi pada zaman modern.55 Fikih komterporer merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum yang terjadi pada saat ini tetapi belum terjadi pada masa lalu. Ulama-ulama fikih kontemporer memiliki pengaruh besar dalam menyelesaikan persoalan-persoalan baru tersebut dengan melakukan ijtihad.

Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, fikih kontemporer memiliki relevansi dengan fikih klasik. Karena untuk membuat Islam menjadi maju dan mengantisipasi hal-hal yang timbul akibat perkembangan zaman, maka pola pemikiran sahabat dan ulama mazhab dalam mengambil hukum harus dikembangkan lagi. Sudah kita pahami bahwa ulama klasik dalam menetapkan suatu hukum, mereka langsung terikat dengan Alquran dan Hadits, faktor itu menjadi salah satu penyebab banyak lahirnya ijtihad yang kualitatif yang dilakukan dari kalangan sahabat seperti Umar bin Khattab sampai kalangan Imam Mazhab seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syâfi‟i dam Imam Hambali.

Maka relevansinya fikih klasik dan kontemporer terletak di pola fiqhiyahnya walaupun produk yang dihasilkan dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Tetapi dalam pengambilan hukum, pemikiran kontemporer tidak harus terlihat kaku dengan pemikiran ulama klasik atau pertengahan, karena ada kemungkinan beberapa persoalan yang terjadi sekarang tidak relevan dengan perseoalan pada zaman dahulu.56

55Gibtiah, Fikih Kontemporer, (Jakarta: Prenadamedia, 2016, Cet. 1,) h. 7

56Muannif Ridwan, “Ijtihad pada Era Kontemporer (Konteks Pemikiran Islam dalam Fikih dan Maqaid al-Syariah)”, Jurnal Masohi, Vol. 1, No. 2 ( November 2020), h. 114-115

36

Dalam era modern, pengambilan keputusan dalam menetapkan sebuah hukum suatu persoalan, menggunakan konsep ijtihad. Konsep ijtihad di era modern ini lebih menggunakan dua konsep ijtihad. Pertama, ijtihad Intiqa‟i yaitu memilih pendapat yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat ulama terdahulu.

Cara kerja ijtihad ini dengan melakukan studi komparatif (membandingkan) pendapat-pendapat ulama terdahulu dengan meneliti dalil-dalil yang digunakan dalam pendapat tersebut baik itu dalil nash maupun dalil ijtihad sehingga nanti akan didapatkan pendapat yang lebih kuat. Yang kedua, ijtihad Insya‟i yaitu mengambil pendapat hukum baru karena dihadapkan dengan persoalan yang baru yang belum pernah terjadi pada masa dahulu atau belum ada ulama terdahulu mengeluarkan hukum terhadap persoalan tersebut.57

57Muannif Ridwan, “Ijtihad pada Era Kontemporer (Konteks Pemikiran Islam dalam Fiqih dan Maqaid al-Syariah)”, h. 116- 117

37 BAB IV

KONSEP NUSYUZ DALAM FIKIH KLASIK, PERTENGAHAN, DAN MODERN

A. Fikih Klasik

1. Kitab al-Umm Karya Imam Syâfi’i (150 - 204 H / 767 – 819 M)

Dalam kitab ini diawali dengan penjelasan Imam Syâfi‟i mengenai sanksi pukulan terhadap istri yang berbuat nusyuz. Disini dijelaskan bahwa sebelum surat an-Nisa‟ ayat 34, Nabi pernah melarang para suami untuk memukul istri, kemudian karena ada suatu kejadian Nabi pun membolehkannya.58 Sesuai dengan Hadits berikut:

Artinya: “Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari az-Zuhri dari Abdullah bin Abdullah bin Abu Dzubab, ia berkata: Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.” Ia melanjutkan: Umar bin Khattab menjumpai beliau dan bertanya, “ Ya Rasulullah, banyak perempuan yang berprilaku buruk kepada suami,” Beliau pun mengizinkan untuk memukul mereka. Kemudian banyak istri yang semuanya mengeluhkan suami mereka mendatangi istri-istri Muhammad. Kemudian Nabi saw bersabda “Malam ini ada tujuh puluh perempuan yang mengelilingi keluarga Muhammad saw. Mereka semua mengadukan suami-suami mereka. Kalian tidak mendapati suami-suami tersebut sebagai orang-orang yang terbaik di antara kalian.

Dari Hadits tadi dijelaskan bahwa Nabi pernah melarang suami untuk memukul istri, tetapi setelah itu Nabi membolehkan suami melakukan pemukulan terhadap istri ketika istri tidak berbuat baik kepada suaminya. Pada saat itu,

58Imam Muhammad bin Idris asy-Syâfi‟i, al-Umm Jilid 6 (Madinah: Dar al-Wafa‟ Li at-Thaba‟ah wa an-Nasyar wa al-Tauzi‟, t.th), h. 492

59Imam Muhammad bin Idris asy- Syâfi‟i, al-Umm, h. 492

38

walaupun pemukulan dibolehkan, Nabi pun bersabda “Orang-orang yang terbaik di antara kalian tidak akan memukul.” Maka bisa dipahami, bahwa larangan Nabi untuk memukul istri tersebut hanya besifat himbauan. Selanjutnya, setelah diturunkan ayat tentang bolehnya suami memukul istri ini, nabi pun membolehkan para suami untuk memukul isrtri mereka ketika istri mereka berbuat nusyuz.60

Perlu dipahami juga, bahwa sanksi pemukulan terhadap istri ini hanya bersifat mubah (boleh). Berarti boleh dilaksanakan atau ditinggalkan. Pemahaman ini bisa diambil dari sabda Nabi Muhammad “Orang-orang yang terbaik di antara kalian tidak akan memukul.” Maka untuk para suami dianjurkan untuk tidak langsung memberikan sanksi pemukulan terhadap istri ketika istri berbuat nusyuz.61

Dalam kitab ini, untuk tahapan penyelesaian kasus nusyuz istri sesuai dengan ayat 34 surat An-Nisa‟ dapat dipahami bahwa ketika suami khawatir istrinya berbuat nusyuz maka langkah pertama yang harus dilakukan oleh suami adalah menasehati istri, karena hukum dari menasehati istri itu adalah mubah.

Ketika istri tidak menuruti nasehat dari suaminya dan melakukan perbuatan nusyuz, maka suami boleh lanjut ke tahap selanjutnya yaitu memisahkan tempat tidur atau mendiamkan istri di tempat tidur sampai istri meninggalkan perbuatan nusyuznya. Apabila tahapan kedua tadi tidak berhasil, maka suami boleh memberikan sanksi pemukulan kepada istri dengan pukulan yang tidak menyakiti istri karena tujuan pemukulan itu hanya memberi pembelajaran. Selain dari tiga tahap di atas, suami boleh tidak memberikan hak nafkah kepada istri akibat dari perbuatan nusyuz yang dilakukan oleh istrinya tersebut.62

60Imam Muhammad bin Idris asy- Syâfi‟i, al-Umm, h. 492

61Imam Muhammad bin Idris asy- Syâfi‟i, al-Umm, h. 492-493

62Imam Muhammad bin Idris asy- Syâfi‟i, al-Umm, h. 493

2. Kitab al-Mughni Karya Imam Ibnu Qudâmah (541-629 H / 1146 – 1232 M)

Dalam kitab ini dijelaskan bahwa secara bahasa kata nusyuz berasal dari kata nasyz yang artinya naik. Maka dapat dipahami nusyuz berarti istri yang merasa tinggi atau menyombongkan diri kepasa suami. Maka nusyuz bermakna perbuatan durhaka yang dilakukan oleh istri kepada suami dengan meninggalkan kewajibannya sebagai istri yaitu patuh atau taat kepada suaminya.63

Dalam kitab ini juga dijelaskan, bahwa ketika istri mulai menampakan tanda-tanda perbuatan nusyuznya seperti istri merasa keberatan ketika dia diajak tidur oleh suami dan tidak menghiraukan panggilan suaminya, maka ketika itu suami berkewajiban untuk menasehati isrtrinya supaya meninggalkan perbuatan tersebut. Nasehat yang disampaikan suami bisa berupa ajakan kepada istri untuk mentaati perintah Allah kembali, dan menakut-nakuti istri dengan ancaman dosa ketika istri tetap berbuat salah. Suami juga bisa juga mengancam untuk tidak memberikan istri nafkah jika istri tetap berbuat nusyuz.64

Selanjutnya, ketika istri telah nyata atau sudah terbukti berbuat nusyuz, seperti istri menolak ketika suami mengajak bersetubuh dan istri secara bebas keluar rumah tanpa izin dari suami, maka tindakan yang harus dilakukan suami adalah memisahkan tempat tidurnya dengan istri. Sesuai dengan perintah Allah dalam surat an-Nisa‟ayat 34 yang artinya “Dan pisahkanlah mereka ditempat tidur mereka”. Ketika masa perpisahan ranjang tersebut, suami tidak boleh mendiamkan istri lebih dari tiga hari karena itu dilarang oleh agama sesuai dengan Hadits nabi yang artinya “Tidak boleh bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.65

Dalam kitab ini juga disebutkan juga perbedaan pendapat tentang boleh atau tidaknya memukul istri ketika istri hanya satu kali bebuat nusyu z. Pendapat pertama yaitu pendapat al-Kharqi yang mengatakan ketika perbuatan nusyuz yang

63Ibnu Qudâmah al-Maqdisi, al-Mughni Jilid 10 (Riyad: Darul „Alam al-Kutub, 1997), h. 259

64Ibnu Qudâmah al-Maqdisi, al-Mughni, h. 259

65Ibnu Qudâmah al-Maqdisi, al-Mughni, h. 259.

40

dilakukan oleh istri baru satu kali, maka pada saat itu suami tidak boleh memukul istrinya. Maka maksud dari al-Kharqi ini adalah suami terlebih dahulu menasehati istri supaya tidak mengulangi kesalahanya lagi. Pendapat yang kedua mengatakan suami boleh langsung memukul walaupun istrinya itu baru satu kali berbuat nusyuz. Munculnya pendapat ini dikarenakan adanya riwayat yang mengatakan “ Apabila seoarang istri berbuat nusyuz (durhaka) kepada suaminya, maka suami boleh memukul istri dengan pukulan yang tidak meyakitkan”. Bisa dipahami dari riwayat tersebut bahwa suami sudah boleh memberikan sanksi pemukulan kepada istri ketika istri sudah terbukti berbuat nusyuz walaupun itu perbuatan nusyuz pertama yang dilakukan oleh istri.66

Dalam pemukulan terhadap istri, suami harus memperhatikan beberapa hal, di antaranya:67

a. Suami tidak memukul istri dengan pukulan yang menyakiti istri.

b. Suami tidak memukul istri pada bagian wajah dan vital istri, karena tujuan dari sanksi pukulan ini adalah memberi pembelajaran bukan untuk merusak fisik istri.

c. Suami tidak boleh memukul istri lebih dari 10 pukulan cambuk. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw yang artinya “Janganlah salah seorang dari kalian mendera lebih dari 10 dera, kecuali dalam hukuman had. (Mutafaq Alaih).

Dalam kitab ini juga disinggung sedikit mengenai perbuatan nusyuz yang dilakukan oleh suami. Di dalam kitab ini dikatakan bahwa, ketika istri takut suaminya berbuat nusyuz dan tidak lagi acuh kepadanya yang bisa disebabkan suaminya tidak lagi menyukainya, maka keadaan seperti itu bisa diselesaikan dengan perdamaian antara suami dan istri. Perdamaian yang dilakukan bisa

66Ibnu Qudâmah al-Maqdisi, al-Mughni, h. 259-260

67Ibnu Qudâmah al-Maqdisi, al-Mughni, h. 260-261

dengan cara istri mau merelakan haknya tidak diberikan oleh suaminya68. Persoalan perdamaian ini disebutkan dalam Alquran surat an-Nisa‟ ayat 128

ا ًذْهُص آًَََُُْٛت اَذِه ْصُٚ ٌَْر آًََِْٛهَع َحاَُُج َلََف اًظر َشْعِإ َْٔأ رًص ُْٕشَُ آَِهْعَت ٍِْي ْدَفاَخ ٌجَأَشْيِر َٔ

Artinya: “Dan jika seorang seorang wanita yang khawatir akan sikap nusyuz dan tidak acuh suaminya, Maka tidak apa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya.” (QS. an-Nisa‟: 128)

Ayat di atas dijelaskan oleh Aisyah dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhâri, yang mana pada Hadits itu Aisyah berkata “Yaitu seorang istri yang berada dalam rumah suaminya tapi tidak lagi diperhatikan dan hendak diceraikan agar suaminya menikah lagi, lalu istrinya mengatakan “Pertahankanlah aku dan jangan ceraikan aku dan menikahlah dengan selain aku, maka kamu tidak usah memberi nafkah dan tidak perlu menggilirku.”. Riwayat ini menjelaskan ketika istri mengajak suaminya untuk berdamai dengan catatan istri merelakan hak nafkahnya baik itu nafkah lahir maupun batin tidak diberikan oleh suami, maka tindakan seperti itu diperbolehkan.69

3. Kitab Tafsir athThabari karya Muhammad bin Jarir athThabari (224 -310 H / 838 -923 M)

Dalam kitab ini juga dijelaskan mengenai nusyuz. Kata nusyuz berasal dari kata al-irtifa‟ yang berarti meninggi. Disebut dengan nasyz karena menunjukan tempat yang tinggi. Selain itu nusyuz dimaknai dengan kedurhakaan istri kepada suaminya yang bisa berupa sikap istri yang tidak melaksanakan lagi kewajibannya sebagai istri seperti tidak mau menerima ajakan suami ke tempat tidur.70

Dalam kitab ini juga dijelaskan bahwa terrdapat beberapa langkah dalam upaya penyelesaian nusyuz istri. Pertama, menasehati istri dengan mengingatkan dan manakut-nakuti istri dengan dosa yang akan dia terima jika dia tidak

68Ibnu Qudâmah al-Maqdisi, al-Mughni, h. 262-263

69Ibnu Qudâmah al-Maqdisi, al-Mughni, h. 263

70Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jâmi‟ul Bayân an Ta‟wîli al-Qurâni jilid 2, (Beirut:

Muassasah ar-Risalah, 1994) h. 452

42

melaksanakan kewajibannya sebagai istri yaitu mematuhi suami. Kedua, memisahkan ranjang dengan istri. Langkah ini merupakan langkah yang dilakukan jika istri tidak menerima nasehat dari suaminya. Pisah ranjang disini juga bisa dimaknai dengan suami tidak menggauli istrinya.. Ketiga, memukul istri. Ketika langkah yang pertama dan kedua tidak berhasil, maka suami boleh melakukan langkah yang ketiga yaitu suami boleh memukul istrinya. Tetapi harus menjadi catatan bahwa disini suami tidak memukul istri dengan pukulan yang akan melukai istrinya, karena pukulan ini hanya semata-mata memberikan istri pelajaran.71

Dalam kitab ini juga disinggung mengenai nusyuz suami yang terdapat dalam penafsiran surat an-Nisa‟ ayat 128. Nusyuz suami disini dapat pahami dengan sikap egois suami kepada istri. Sikap suami ini bisa sebabkan karena suami tidak lagi menyukai istrinya yang tidak lagi cantik dan muda. Maka ketika ini terjadi, istri yang takut suaminya berbuat nusyuz dan bersikap tidak acuh kepadanya, maka istri melakukan perdamaian dengan suaminya demi mempertahankan keutuhan keluarga mereka. Dalam perdamaian itu boleh disepakati bahwa istri tidak akan menerima hak-haknya dari suami, ini lebih baik dari pada terjadinya perceraiaan.72

B. Fikih Pertengahan

1. Kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya Imam Nawawi (631-676 H / 1234 – 1277 M)

Dalam kitab ini dijelaskan bahwa kata nusyuz secara bahasa berasal dari kata nasyaz yang merupakan kalimat masdar. Kata ini terdapat di bab yang sama dengan kata dharaba dan qa‟ada. Bisa dilihat dari kalimat “Nasyazat al-mar‟atu min zaujiha” yang bermakna istri yang mendurhakai dan menolak untuk

71Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jâmi‟ul Bayân an Ta‟wîli al-Qurâni jilid 2, h. 452-453

72Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jâmi‟ul Bayân an Ta‟wîli al-Qurâni jilid 2, h. 571-572

mentaatin suaminya. Dan dari kalimat “Nasyaza ar-rajulu min imra‟atihi” yang bemakna suami meninggakan dan menjauhi istrinya.73

Dalam kitab ini dijelaskan tentang pendapat Syâfi‟i mengenai nusyuz Syâfi‟i menjelaskan bahwa potongan surat an-Nisa‟ ayat 34 yang artinya,

“wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya…” maknanya adalah hanya bersifat kemungkinan yaitu ketika suami baru hanya melihat adanya tanda-tanda perbuatan istri yang mengarah kepada perbuatan nusyuz. Maka kekhawatiran itu bisa diselesaikan hanya dengan cara menasehati istrinya. Dalam arti kata keadaan tersebut suami belum boleh melakukan tahapan yang lain seperti mendiamkan atau pisah ranjang, dan memukul istri. Tetapi jika istri telah jelas melakukan perbuatan nusyuz, maka suami boleh berpisah ranjang dengan istri, dan ketika istrinya beberapa kali berbuat nusyuz, maka sanksi pemukulan boleh dilakukan.

Tetapi Syâfi‟i juga mengatakan jika yang dikhawatirkan oleh suami itu adalah istri berbuat nusyuz secara terus-menurus, maka pada keadaan ini suami boleh menasehat, mendiamkan dan memukul istrinya.74

Maka bisa kita pahami disini, bahwa pemberian sanksi nusyuz itu dilakukan secara bertahap, ini dikarenakan menasehati istri merupakan hal yang mubah bagi suami, sedangkan berpisah ranjang atau mendiamkan istri tidak boleh dilakukan kecuali istri sudah nyata berbuat nusyuz, karena mendiamkan atau tidak berbicara dengan istri dengan tanpa alasan nusyuznya istri tidak boleh dilakukan lebih dari tiga hari. Selanjutnya, sanksi pemukulan hanya boleh dilakukan jika istri telah terbukti melakukan perbuatan nusyuz.75

Dalam kitab ini Syâfi‟i juga menegaskan bahwa ketika istri tidak lagi berbuat nusyuz atau istri sudah mulai berusaha untuk meninggalkan perbuatan nusyuznya, maka suami tidak boleh lagi mendiamkan dan memberikan sanksi

73Abu Zakariya Muhiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu‟ Syarah al-Muhadzdzab Jilid 18, (Jeddah: Maktabah Irsyad, t.th.), h. 134

74Abu Zakariya Muhiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu‟ Syarah al-Muhadzdzab, h. 135-136

75Abu Zakariya Muhiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu‟ Syarah al-Muhadzdzab, h. 136

44

pukulan kepada istri. Karena sesuai yang telah disebutkan di awal, bahwa sanksi mendiamkan dan pukulan terhadap istri hanya boleh dilakukan ketika istri terbukti berbuat nusyuz. 76

Tanda-tanda perbuatan nusyuz istri bisa dilihat dari perkataan maupun perbuatan istri. Tanda-tanda nusyuz dari segi perkataan bisa dilihat ketika istri tidak lagi berkata sopan kepada suami. Karena seharusnya sebagai istri , istri harus selalu berkata sopan dan baik kepada suaminya. Tanda-tanda nusyuz dari segi perbuatan juga bisa dilhat ketika istri menolak ajakan suami untuk pergi ke tempat tidur dan dari cara pelayanan istri yang kurang baik terhadap suami, seperti selalu bermuka masam kepada suami. Karena seorang istri seharusnya melayani suaminya dengan baik dan tidak boleh menolak ajakan suami. Maka keadaan seperti ini, menurut pendapat yang masyhur, suami hanya boleh menasehati istrinya dan tidak boleh mendiamkan dan memukul istrinya. Tetapi pendapat yang lain mengatakan dalam keadaan ini suami boleh menggabungkan dua sanksi sekaligus yaitu menasehati dan mendiamkan istrinya77

Apabila istri hanya sekali melakukan perbuatan nusyuz, maka tindakan yang boleh dilakukan oleh suami adalah mendiamkan istrinya, untuk tindakan pemukulan terdapat dua pendapat:78

a. Suami tidak boleh memukul istrinya ketika istrinya baru satu kali berbuat nusyuz. Dengan alasan tidak setaranya sanksi dengan kesalahan istri. Karena dalam penyelesaian nusyuz terdapat beberapa tahapan.

b. Suami boleh memukul istrinya ketika istrinya baru satu kali berbuat nusyuz, ini merupakan pendapat yang lebih kuat dari kalangan ulama-ulama syâfi‟iyah.

Dalam kitab ini juga dijelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan tindakan penyelesaian nusyuz istri. Pertama,

76Abu Zakariya Muhiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu‟ Syarah al-Muhadzdzab, h. 136

77Abu Zakariya Muhiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu‟ Syarah al-Muhadzdzab, h. 136-137

78Abu Zakariya Muhiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu‟ Syarah al-Muhadzdzab, h. 137

dalam menasehati, suami meminta istri untuk kembali kepada jalan yang benar yaitu taat kepada Allah dan taat kepada suami. Kedua, dalam kegiatan hujraan (memisahkan), suami memisahkan tempat tidurnya dengan istri, dalam arti kata suami tidak menemani istrinya saat tidur. Pada saat itu suami tidak boleh mendiamkan istrinya, apabila suami tetap mendiamkan istrinya dengan beberapa alasan, maka tidak boleh mendiamkan lebih dari tiga hari dikarenakan itu dilarang oleh agama (berdosa). Sebagaimana dalam Hadits yang artinya “Bahwa Nabi saw melarang seseorang mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari”.79

Ketiga, dalam tindakan memukul, suami dilarang melakukan pukulan mubarrih yaitu pukulan yang menyakitkan, yang akan mengancam keselamatan jiwa. Tidak boleh juga dengan pukulan mudmiyan yaitu pukulan yang menyebabkan luka dan berdarah pada tubuh. Selanjutnya, tidak boleh juga melakukan pukulan mudminan yaitu pukulan yang dilakukan di satu area secara terus-menerus. Selain ketiga pukulan tadi, suami juga dilarang melakukan pukulan pada bagian wajah istri dan bagian vital istri. Semua pukulan tadi dilarang dikarenakan tujuan sebenarnya dari pukulan itu adalah memberikan pembelajaran kepada istri supaya dia tidak lagi berbuat nusyuz.80

Untuk persoalan berapa jumlah pukulan yang boleh dilakukan oleh suami kepada istri yang nusyuz, terdapat perbedaan pendapat. Pendapat yang pertama, Syâfi‟i mengatakan jumlah pukulan tidak boleh lebih dari had. Pendapat yang kedua, jumlah pukulan itu tidak boleh melampaui empat puluh deraan, karena empat puluh deraan itu merupakan deraan untuk had orang yang meminum khamar. Ini merupakan pendapat sebagian ulama Syâfi‟iyah. Sedangkan pendapat yang ketiga mengatakan jumlah pukulan itu tidak boleh lebih dari dua puluh, dikarenakan dua puluh deraan itu merupakan had untuk budak.81

79Abu Zakariya Muhiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu‟ Syarah al-Muhadzdzab, h. 137-138

80Abu Zakariya Muhiddin bin Syaraf an-Nawawi al-Majmu‟ Syarah al-Muhadzdzab, h. 138

80Abu Zakariya Muhiddin bin Syaraf an-Nawawi al-Majmu‟ Syarah al-Muhadzdzab, h. 138