• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3. Analisis Shift Share

4.2.2. Periode Pasca Pembentukan Kota Banjar

Perubahan absolut PDRB Kabupaten Ciamis, Share Regional(SR), Proportional Shift (PS) dan Different Shift (DS) pada periode setelah Kota Banjar

berdiri disajikan dalam Tabel 4.8.

Tabel 4.8. Analisis Shift Share Klasik untuk Kabupaten Ciamis, 2003 dan 2008 (Juta Rupiah)

Sumber : BPS Propinsi Jawa Barat, diolah

Pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2008, PDRB Kabupaten Ciamis mengalami pertambahan absolut sebesar 1.342.868 juta rupiah. Jika dilihat kenaikan rata-rata tiap tahunnya, maka kenaikan PDRB pada periode 2003-2008 jauh lebih rendah dari kenaikan absolut periode 2000-2002. Kenaikan terbesar dialami oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu 468.188 juta rupiah atau sekitar 35

Share Proportionally Different

Regional Shift Shift

(SR) (PS) (DS)

1 Pertanian 601.841 -365.015 -2.640 234.186

2 Pertambangan dan penggalian 6.496 -9.907 7.018 3.608

3 Industri pengolahan 118.902 37.709 -65.039 91.573

4 Listrik, gas dan air bersih 10.847 -3.256 -1.068 6.523

5 Bangunan 106.105 100.226 -158.586 47.745

6 Perdagangan, hotel dan restoran 400.989 12.228 54.971 468.188

7 Pengangkutan dan komunikasi 135.553 -7.379 20.015 148.188

8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 94.307 -5.637 -15.276 73.395

9 Jasa-jasa 261.604 -37.470 45.328 269.463

besar setelah sektor Perdagangan,hotel dan restoran dalam kenaikan PDRB Kabupaten Ciamis adalah jasa-jasa yang mencapai kenaikan sebesar 269.463 juta rupiah atau sekitar 20 persen dari total kenaikan PDRB dan disusul oleh sektor pertanian sebesar 234.186 juta rupiah atau sebesar 17 persen dari total kenaikan PDRB.

Dari ketiga faktor yang mempengaruhi terciptanya pertumbuhan absolut PDRB maka faktor share regional memiliki kontribusi yang paling besar yaitu sebesar 1.736.645 juta rupiah. Namun di sisi lain faktor proportionally shift dan competitive effect memiliki kontribusi yang negatif. Hal ini berbeda dengan periode

sebelumnya dimana semua faktor yang mempengaruhi peningkatan PDRB memiliki kontribusi yang positif. Secara lebih rinci faktor-faktor yang mempengaruhi terciptanya pertumbuhan PDRB dapat dijelaskan dalam uraian sebagai berikut :

4.2.2.1. Analisis Share Regional (SR)

Pada hasil pengolahan data, diperoleh nilai share regional Kabupaten Ciamis pasca pembentukan Kota Banjar bernilai positif di setiap lapangan usaha. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat menunjukkan kenaikan dari tahun 2003 ke tahun 2008. Besarnya pengaruh tingkat pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat terhadap PDRB Kabupaten Ciamis adalah sebesar Rp. 1.736.645 juta yang lebih tinggi dari kenaikan PDRB secara absolut. Share regional yang lebih tinggi dibanding nilai kenaikan absolut PDRB Kabupaten Ciamis menunjukkan bahwa

rendah dibanding pertumbuhan ekonomi secara umum di Provinsi Jawa Barat. Hal ini sesuai dengan hasil yang diperoleh pada Model Rasio Pertumbuhan (MRP).

Berdasarkan klasifikasi lapangan usahanya, hanya ada tiga sektor yang memiliki pertumbuhan yang lebih baik dari kondisi di Provinsi Jawa Barat yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Dalam hal ini PDRB Jawa Barat menunjang iklim kenaikan output pada ketiga sektor tersebut, sehingga dapat mencapai perkembangan yang lebih baik dari kondisi di Jawa Barat.

Adapun kondisi sektor lainnya masih berada di bawah pertumbuhan Jawa Barat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat cukup baik, namun ternyata pasca pendirian Kota Banjar tidak mampu merangsang pertumbuhan ekonomi pada keenam sektor tersebut.

4.2.2.2. Analisis Proportionally Shift (PS)

Komponen kedua dari analisis shift share adalah proportionally shift yang mengukur perubahan relatif pertumbuhan atau penurunan ekonomi Kabupaten Ciamis dibanding perekonomian Provinsi Jawa Barat. Pengukuran ini dapat menunjukkan apakah perekonomian di Kabupaten Ciamis terkonsentrasi pada sektor-sektor yang tumbuh lebih cepat dibanding perekonomian Jawa Barat.

Pada Tabel 4.8. dapat diketahui bahwa secara umum hasil penghitungan Total PS sebesar -278.500 juta rupiah yang memperlihatkan pertumbuhan sektoral

Ciamis sebesar -278.500 juta rupiah. Nilai ini masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan periode sebelum pembentukan Kota Banjar yang memiliki kontribusi positif.

Menurut lapangan usaha dapat dilihat bahwa ada tiga sektor yang memiliki PS positif, artinya pertumbuhan sektoral di Jawa Barat lebih tinggi dari pertumbuhan total PDRB Jawa Barat. Ketiga sektor tersebut adalah sektor industri pengolahan, sektor bangunan, dan perdagangan, hotel dan restoran. Sedangkan keenam sektor lainnya menunjukkan nilai PS negatif yang dapat menunjukkan bahwa pada tingkat Provinsi keenam sektor tersebut memiliki pertumbuhan yang lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi rata-rata.

4.2.2.3. Analisis Different Shift (DS)

Penghitungan DS menunjukkan seberapa jauh daya saing suatu sektor di Kabupaten Ciamis dibandingkan sektor yang sama di Provinsi Jawa Barat. Jika pergeserannya positif , berarti sektor tersebut memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi daripada sektor yang sama di tingkat Provinsi Jawa Barat, sebaliknya jika nilai DS negatif berarti sektor tersebut memiliki pertumbuhan yang lebih rendah dengan sektor yang sama di Provinsi Jawa Barat.

Dari Tabel 4.8. dapat diketahui bahwa secara keseluruhan nilai DS di Kabupaten Ciamis negatif yaitu –115.277 juta rupiah, jauh lebih rendah dari DS sebelum Kota Banjar berdiri. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum pertumbuhan

pertumbuhan sektoral di Provinsi Jawa Barat. Pernyataan ini sejalan dengan nilai MRP yang menunjukkan pasca pemekaran Kota Banjar, Kabupaten Ciamis memiliki pertumbuhan yang lebih rendah dari Provinsi Jawa Barat.

Apabila dilihat tiap sektornya, maka hanya ada empat sektor yang memiliki DS positif yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, dan sektor jasa-jasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keempat sektor tersebut masih memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan sektor yang sama di Provinsi Jawa Barat. Sedangkan sektor yang memiliki DS negatif terbesar adalah sektor bangunan sebesar –158.586 juta rupiah. Ini menunjukkan bahwa sektor bangunan di Kabupaten Ciamis pada periode pasca pembentukan Kota Banjar merupakan sektor dengan pertumbuhan yang paling rendah jika dibandingkan dengan sektor yang sama Provinsi Jawa Barat.

Modifikasi yang dilakukan oleh Esteban-Marquillas (1972) mendefinisikan keunggulan kompetitif dari teknik shift share klasik sehingga mengandung unsur baru yaitu homothetic output di suatu sektor di suatu wilayah. Komponen keunggulan kompetitif yang dihasilkan berasal dari keunggulan kompetitif karena unsur homothetic output (C’ij) dan keunggulan kompetitif karena efek alokasi (Aij). Efek alokasi adalah komponen dalam shift share yang menunjukkan apakah suatu daerah terspesialisasi dengan sektor perekonomian yang ada dimana akan diperoleh keunggulan kompetitif. Semakin besar nilai efek alokasi semakin baik pendapatan

keunggulan masing-masing.

Tabel 4.9. Analisis Shift Share Modifikasi Esteban-Marquillas untuk Kabupaten Ciamis 2003 dan 2008 (Juta Rupiah)

Sumber : BPS Propinsi Jawa Barat, diolah

Secara agregat nilai keunggulan kompetitif yang dipengaruhi oleh homothetic output untuk Kabupaten Ciamis setelah pembentukan Kota Banjar adalah sebesar

– 342.976 juta rupiah dan nilai efek alokasi adalah sebesar 227.699 juta rupiah, sehingga total keunggulan kompetitif sebesar -115.277. Hal ini berarti setelah pembentukan Kota Banjar, Kabupaten Ciamis tidak memiliki keunggulan kompetitif karena homothetic output, namun masih memiliki keuntungan efek alokasi.

Efek alokasi adalah komponen dalam shift share yang menunjukkan apakah suatu daerah terspesialisasi dengan sektor perekonomian yang ada dimana akan diperoleh keunggulan kompetitif. Semakin besar nilai efek alokasi semakin baik

C'ij Aij Cij =C'ij+Aij

1 Pertanian -1.125 -1.516 -2.640

2 Pertambangan dan penggalian 70.356 -63.338 7.018

3 Industri pengolahan -406.492 341.453 -65.039

4 Listrik, gas dan air bersih -3.830 2.762 -1.068

5 Bangunan -70.768 -87.817 -158.586

6 Perdagangan, hotel dan restoran 46.371 8.600 54.971

7 Pengangkutan dan komunikasi 10.956 9.058 20.015

8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan -8.928 -6.348 -15.276

9 Jasa-jasa 20.483 24.845 45.328

-342.976 227.699 -115.277

JUMLAH

Komponen Keunggulan Kompetitif LAPANGAN USAHA

dengan keunggulan masing-masing. Jika dibandingkan antara sebelum dan setelah pemekaran Kota Banjar maka terlihat bahwa setelah pemekaran Kota Banjar nilai efek alokasinya lebih kecil dibanding sebelum pemekaran Kota Banjar. Artinya, setelah pemekaran Kota Banjar Kabupaten Ciamis mengalami penurunan distribusi pendapatan atau kesempatan kerja diantara sektor perekonomian.

Jika dilihat berdasarkan lapangan usahanya, terdapat lima sektor yang mengalami penurunan nilai efek alokasi yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor bangunan, sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Empat sektor lainnya mengalami kenaikan setelah pemekaran Kota Banjar.

Tabel 4.10. Perbandingan Efek Alokasi sebelum dan setelah pemekaran Kota Banjar (Juta Rupiah)

Sumber : BPS Propinsi Jawa Barat, diolah

Sebelum Pemekaran Setelah Pemekaran

1 Pertanian 53.119 -2.640

2 Pertambangan dan penggalian 4.009 7.018

3 Industri pengolahan -8.251 -65.039

4 Listrik, gas dan air bersih -2.827 -1.068

5 Bangunan -2.597 -158.586

6 Perdagangan, hotel dan restoran -19.339 54.971

7 Pengangkutan dan komunikasi 33.754 20.015

8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 4.454 -15.276

9 Jasa-jasa -56.037 45.328

6.286 -115.277

Efek Alokasi

JUMLAH LAPANGAN USAHA

Sumber : BPS Propinsi Jawa Barat, diolah

Keterangan Kode :

1. Tidak memiliki keunggulan kompetitif namun terspesialisasi (competitive disadvantage, specialized)

2. Tidak memiliki keunggulan kompetitif dan tidak terspesialisasi (competitive disadvantage, not specialized)

3. Memiliki keunggulan kompetitif namun tidak terspesialisasi (competitive advantage,not specialized)

4. Memiliki keunggulan kompetitif dan terspesialisasi (competitive advantage, specialized)

Pada Tabel 4.11, terlihat ada tiga sektor yang memiliki kode 4 yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa. Hal ini berarti ketiga sektor tersebut memiliki keunggulan kompetitif dan spesialisasi. Jika dibandingkan dengan periode sebelum pembentukan Kota Banjar, maka terjadi perubahan di beberapa sektor. Perubahan tersebut adalah :

1. Sektor Perdagangan, hotel dan restoran yang tadinya kode 1 menjadi kode 4, yang artinya sebelum pembentukan Kota Banjar sektor ini tidak memiliki

Efek Keuntungan

Alokasi Spesialisasi Kompetitif Kode (Juta Rp.) (Juta Rp.) (Juta Rp.)

1 Pertanian -1.516 1.073.638 -0,001 1

2 Pertambangan dan penggalian -63.338 -182.185 0,348 3

3 Industri pengolahan 341.453 -1.939.754 -0,176 2

4 Listrik, gas dan air bersih 2.762 -87.193 -0,032 2

5 Bangunan -87.817 182.578 -0,481 1

6 Perdagangan, hotel dan restoran 8.600 194.935 0,044 4

7 Pengangkutan dan komunikasi 9.058 190.641 0,048 4

8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan -6.348 121.777 -0,052 1

9 Jasa-jasa 24.845 445.563 0,056 4

LAPANGAN USAHA

Banjar memiliki keunggulan kompetitif dan terpesialisasi. Hal ini sama seperti yang terjadi di sektor jasa-jasa, yang berubah dari kode 1 menjadi 4.

2. Sektor pertanian dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang tadinya kode 4 berubah menjadi kode 1. Hal ini artinya sebelum pembentukan Kota Banjar sektor tersebut memiliki keunggulan kompetitif dan terspesialisasi, setelah pembentukan Kota Banjar kehilangan keunggulan kompetitifnya, namun masih tetap terspesialisasi. Hal ini dimungkinkan lapangan usaha di bidang pertanian serta keuangan, persewaan dan jasa perusahaan terkonsentrasi di Kota Banjar, sehingga setelah Kota Banjar berdiri sendiri, Kabupaten Ciamis kehilangan keunggulan kompetitifnya.

4.3.1.4. Penyatuan PS dan DS

Berdasarkan hasil PS dan DS yang sudah diperoleh pada periode setelah pemekaran Kota Banjar, dapat diplot suatu diagram dengan DS sebagai sumbu vertikal dan PS sebagai sumbu horizontal, sehingga diperoleh Gambar 4.4. sebagai berikut:

Gambar 4.4. Kategori sektor di Kabupaten Ciamis setelah pemekaran Kota Banjar Keterangan :

1. Pertanian 6. Perdagangan, hotel dan restoran 2. Pertambangan dan penggalian 7. Angkutan dan komunikasi

3. Industri pengolahan 8. Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 4. Listrik, gas dan air bersih 9. Jasa-jasa

5. Bangunan

Hasil pemetaan memperlihatkan bahwa ada satu sektor yang masuk kategori I yaitu perdagangan, hotel dan restoran. Hal ini berarti bahwa kedua sektor tersebut memiliki pertumbuhan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata di tingkat Provinsi juga sekaligus memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan sektor yang sama di tingkat Jawa Barat.

Pada kategori II diisi oleh tiga sektor yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor angkutan dan komunikasi dan sektor jasa-jasa. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sektor tersebut memiliki pertumbuhan yang lebih cepat

-90.000

sektoral di Jawa Barat tidak lebih cepat dari pertumbuhan rata-ratanya.

Pada kategori III yaitu PS positif DS negatif diisi oleh dua sektor, yaitu sektor industri pengolahan dan sektor bangunan. Hal ini berarti kondisi pertumbuhan sektoral di Jawa Barat lebih tinggi dari perekonomian rata-rata, namun tidak dapat mempengaruhi kenaikan pertumbuhan sektoral di Kabupaten Ciamis. Dengan demikian pertumbuhan yang diciptakan kedua sektor tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan sektor yang sama di Jawa Barat.

Pengelompokkan sektor di kategori IV yaitu PS dan DS negatif yang terdiri dari sektor pertanian, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan . Sektor ini pertumbuhannya lebih lamban dibandingkan rata-rata perekonomiannya di tingkat Jawa Barat sekaligus kondisi pertumbuhannya di Kabupaten Ciamis juga masih lebih rendah jika dibandingkan dengan sektor yang sama di Jawa Barat.

Dari ketiga analisis baik MRP, Klassen Typology, maupun shift share terlihat bahwa sektor pertanian adalah sektor yang tetap tumbuh, memiliki spesialisasi dengan kontribusi yang cukup besar meskipun Kota Banjar sudah terpisah dari Kabupaten Ciamis. Namun, karena tidak diimbangi dengan peningkatan dan pengembangan sektor industri pengolahan maka Kabupaten Ciamis masih termasuk daerah relatif tertinggal di Provinsi Jawa Barat. Padahal menurut Todaro dan Smith (2006) pola pembangunan seharusnya memperhatikan perubahan struktural terutama pada proses yang mengubah struktur ekonomi, industri dan kelembagaan secara bertahap sehingga memungkinkan tampilnya industri-industri baru untuk

ekonomi. Kuznet dalam Todaro (2006) juga menyebutkan bahwa perubahan struktur ekonomi atau transformasi struktural ditandai dengan adanya perubahan persentase sumbangan berbagai sektor-sektor dalam pembangunan ekonomi, yang disebabkan intensitas kegiatan manusia dan perubahan teknologi. Jadi kontribusi sektor industri pengolahan yang masih di bawah 10 persen seharusnya ditingkatkan untuk menggerakkan roda perekonomian di Kabupaten Ciamis.

Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa :

1. Dari perolehan nilai Model Rasio Pertumbuhan (MRP), Kabupaten Ciamis sebelum pemekaran Kota Banjar, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ciamis lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Namun pasca pemekaran Kota Banjar, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ciamis ternyata lebih rendah daripada laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.

2. Berdasarkan Klassen Typology, terdapat perubahan kategori Kabupaten Ciamis antara sebelum dan setelah pemekaran Kota Banjar. Pada periode sebelum pemekaran Kota Banjar, Kabupaten Ciamis termasuk kategori daerah sedang tumbuh, namun pasca pemekaran Kota Banjar Kabupaten Ciamis termasuk kategori relatif tertinggal. Hal ini disebabkan pada periode sebelum pemekaran Kota Banjar laju pertumbuhan Kabupaten Ciamis lebih tinggi daripada laju pertumbuhan Provinsi Jawa Barat, dengan PDRB per kapita Kabupaten Ciamis yang masih lebih rendah dibandingkan Jawa Barat.

Namun, pasca pemekaran Kota Banjar laju pertumbuhan dan PDRB per kapita Kabupaten Ciamis lebih rendah dari Provinsi Jawa Barat, sehingga Kabupaten Ciamis termasuk kategori daerah yang relatif tertinggal di Provinsi Jawa Barat.

3. Sektor pertanian dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan lapangan usaha yang tumbuh dan memiliki daya saing yang

daya saingnya.

4. Pada periode pasca pemekaran Kota Banjar, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor jasa-jasa merupakan sektor dengan keunggulan kompetitif dan spesialisasi yang lebih baik daripada sektor yang lain di Kabupaten Ciamis, maupun dibandingkan dengan sektor sama di Jawa Barat.

5. Sektor pertanian merupakan sektor yang tetap tumbuh dan menjadi pemusatan dari aktivitas penciptaan nilai tambah di Kabupaten Ciamis meskipun Kota Banjar telah berdiri terpisah dari bagian Kabupaten Ciamis.

5.2. Saran-saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka disarankan kepada pemerintah terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis agar :

1. Memberikan perhatian kepada peningkatan laju pertumbuhan dan menjadikannya sebagai prioritas pertama yang harus dicapai di Kabupaten Ciamis. Adapun langkah yang dapat ditempuh adalah pengembangan pariwisata, salah satunya adalah Pantai Pangandaran yang pada gilirannya akan meningkatan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Pengembangan pariwisata ini dapat dilakukan dengan promosi melalui berbagai media sehingga dapat menarik wisatawan domestik maupun manca negara.

2. Memberikan perhatian kepada peningkatan sarana maupun prasarana transportasi dan komunikasi yang mendukung pariwisata di Kabupaten Ciamis. Dengan demikian, letak Kabupaten Ciamis yang cukup strategis

mungkin. Hal ini sekaligus akan meningkatkan nilai tambah sektor Pengangkutan dan Komunikasi. Salah satu contohnya adalah dengan lebih memperhatikan lapangan terbang perintis yang terletak di bagian selatan Kabupaten Ciamis yaitu Nusawiru yang saat ini kurang terawat, sehingga dapat membuka lebih lebar peluang pariwisata (Pantai Pangandaran, Green Canyon dan sekitarnya) serta meningkatkan investasi di pesisir selatan.

3. Meningkatkan agrowisata di Kabupaten Ciamis, karena tenyata sektor pertanian masih tetap tetap tumbuh dan menjadi pemusatan dari aktivitas penciptaan nilai tambah di Kabupaten Ciamis meskipun Kota Banjar telah berdiri terpisah dari bagian Kabupaten Ciamis. Melalui agro wisata, keindahan sektor pertanian yang dominan di Kabupaten Ciamis dapat terekspos lebih baik, juga sekaligus dapat meningkatkan nilai tambah sektor yang lainnya.

4. Meningkatkan kontribusi sektor industri pengolahan terutama industri pengolahan hasil pertanian. Hal ini dilakukan karena melalui industri pengolahan, sektor pertanian dapat memiliki nilai tambah yang lebih baik.

Peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan hasil pertanian ini akan menyerap hasil pertanian, meningkatkan nilai tambah sektor perdagangan, sektor angkutan atau dengan kata lain memiliki backward dan forward linkage yang baik. Adapun cara yang dapat ditempuh adalah meningkatkan investasi dalam bidang industri pengolahan melalui kemudahan birokrasi maupun peningkatan sarana dan prasarana di Kabupaten Ciamis.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis, Kabupaten Ciamis Dalam Angka, Ciamis, berbagai edisi.

________________________________, PDRB Kabupaten Ciamis Menurut Lapangan Usaha , Ciamis, berbagai edisi.

Badan Pusat Statistik Kota Banjar, PDRB Kota Banjar Menurut Lapangan Usaha, Banjar, berbagai edisi.

Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Barat, PDRB Jawa Barat Menurut Lapangan Usaha, Bandung, berbagai edisi.

Boediono, 1992. Teori Pertumbuhan Ekonomi : Seri Sipnosis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 4, BPFE, Yogyakarta.

Ghufron, M. 2008. Analisis Pembangunan Wilayah Berbasis Sektor

Unggulan Kabupaten Lamongan Propinsi Jawa Timur [Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Herzog, H.W and. Olsen, R. 1977. Shift-Share Analysis Revisited : The Allocation Effect and The Stability of Regional Structure. OAK Ridge National Laboratory. Tennesse.

Kintono, M.A., 2003. Analisis Pergeseran Struktur Ekonomi dan Penentuan Sektor Unggulan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. [Skripsi].

Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta.

Richardson, H.W., 1991 Dasar-dasar Ilmu Ekonomi Regional, Paul Sitohang [penerjemah], Lembaga Penerbit FE UI, Jakarta.

Ropingi. 2004. Aplikasi Analisis Shift Share Esteban-Marquillas Pada Sektor Pertanian di Kabupaten Boyolali. Jurnal Penududuk dan Pembangunan, 4 : 1-13.

Savitri, D., 2008. Analisis Identifikasi Sektor Unggulan dan Struktur Ekonomi Pulau Sumatera. [Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Suparmoko, M. dan Irawan. 1995. Ekonomi Pembangunan. Edisi ke-5. Penerbit BPFE. Yogyakarta.

Sjafrizal. 1997. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional Wilayah Indonesia Bagian Barat. Prisma, No. 3, Tahun XXVI : 27-38, LP3ES, Jakarta

Soepono, P. 1993. Analisis Shift-Share “Perkembangan dan Penerapan” ,Jurnal Ekonomi dan Bisnis (JEBI). Nomor 1, Tahun III : 43-54, BPFE, Yogyakarta.

Sudarmo, Azis, 2000. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional Propinsi Bengkulu Periode 1988-1997, [Tesis]. Program Pasca Sarjana.

Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Sukirno, S. 2008. Mikro Ekonomi, Teori Pengantar. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Tambunan, Tulus, 2001, Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Todaro, Michael P, 2006. Pembangunan Ekonomi Jilid 1 dan 2. Edisi ke-9, Andri Yelvi [penerjemah], Erlangga, Jakarta.

Zaenudin, M., 1999. Kinerja Perekonomian Propinsi Jawa Tengah Analisis Shift Share Periode 1985-1995, [Tesis]. Program Pasca Sarjana.

Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Yusuf, M. 1999. “Model Rasio Pertumbuhan (MRP) sebagai salah satu Alat Analisis Alternatif dalam Perencanaan Wilayah dan Kota, Aplikasi Model : Wilayah Bangka-Belitung”. Jurnal Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Jakarta.

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

(2) (3) (4) (5) (6) (6) (7) (8) (9)

1 Pertanian 31,258,439 33,306,700 35,996,490 37,734,662 41,081,571 46,430,738 52,586,284 62,894,902 67,849,463 2 Pertambangan dan Penggalian 9,077,667 8,339,828 7,281,027 8,056,408 9,226,933 11,954,997 12,933,672 13,009,847 14,453,535 3 Industri Pengolahan 82,975,337 94,710,108 105,503,987 120,654,227 128,738,210 173,067,743 214,242,075 236,628,972 270,551,853 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 4,239,363 5,451,260 6,482,331 8,493,183 9,690,285 11,258,763 14,189,486 15,414,038 16,913,616 5 Bangunan 5,254,512 5,880,706 6,539,815 7,133,932 8,480,276 11,452,924 14,348,875 15,906,659 19,440,248 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 38,504,822 41,075,804 44,461,480 50,356,477 57,567,978 74,280,673 90,022,994 100,691,124 115,139,072 7 Pengangkutan dan Komunikasi 7,470,923 8,870,007 10,851,807 13,612,907 16,082,078 20,712,348 27,831,314 30,787,316 36,401,476 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 5,351,150 6,324,187 7,107,716 7,967,400 9,104,543 11,789,583 12,754,933 15,248,880 17,228,057 9 Jasa-jasa 11,810,793 14,566,617 17,244,285 21,712,485 25,731,528 28,296,885 34,277,658 36,027,027 44,443,235

195,943,005 218,525,216 241,468,939 275,721,681 305,703,402 389,244,654 473,187,293 526,608,765 602,420,555 Sumber : PDRB Jawa Barat

70

PDRB Lapangan Usaha

(1)

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

(2) (3) (4) (5) (6) (6) (7) (8) (9)

1 Pertanian 1,838,512 1,962,710 1,983,381 2,235,039 2,387,526 3,177,779 3,572,827 4,015,860 4,541,029

2 Pertambangan dan Penggalian 19,525 21,827 26,081 31,060 33,694 39,921 44,631 47,091 51,011

3 Industri Pengolahan 403,751 479,785 473,938 486,011 558,456 650,772 762,900 837,932 946,260

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 35,606 41,058 43,301 47,853 57,166 67,572 77,641 83,040 90,786

5 Bangunan 326,046 352,135 360,624 398,648 421,092 439,325 456,152 473,349 498,673

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 1,289,610 1,445,129 1,432,130 1,587,995 1,782,096 2,319,604 2,717,643 3,093,144 3,718,375 7 Pengangkutan dan Komunikasi 352,425 382,446 429,521 561,402 672,462 868,190 1,125,570 1,298,160 1,468,897 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 257,788 295,231 321,981 426,851 533,373 602,675 658,019 711,252 793,725

9 Jasa-jasa 794,196 870,276 900,042 1,127,713 1,369,174 1,431,810 1,774,517 2,055,760 2,392,124

5,317,458 5,850,597 5,970,998 6,902,571 7,815,039 9,597,649 11,189,899 12,615,589 14,500,880 Sumber : PDRB Kabupaten Ciamis

71

PDRB Lapangan Usaha

(1)

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

(2) (3) (4) (5) (6) (6) (7) (8) (9)

1 Pertanian 31,258,439 32,149,302 31,617,284 32,402,164 34,457,717 34,942,015 34,822,021 35,687,490 36,505,378 2 Pertambangan dan Penggalian 9,077,667 8,547,312 7,999,634 8,232,372 7,705,213 7,143,209 6,982,247 6,676,682 6,841,541 3 Industri Pengolahan 82,975,337 84,844,624 90,371,400 93,938,483 96,978,418 105,334,047 114,299,626 122,702,671 133,756,556 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 4,239,363 4,576,859 4,858,690 4,918,154 5,337,897 5,649,830 5,427,580 5,750,579 6,025,769

5 Bangunan 5,254,512 5,143,937 5,580,463 5,985,267 6,602,400 7,780,824 8,232,950 8,928,178 9,730,820

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 38,504,822 40,136,588 40,643,461 42,758,204 45,529,028 47,259,970 50,719,350 54,789,912 56,937,923 7 Pengangkutan dan Komunikasi 7,470,923 8,070,250 8,592,141 9,379,745 10,309,021 10,329,164 11,143,254 12,271,025 12,233,940 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 5,351,150 5,885,017 6,490,645 6,967,353 7,247,002 7,623,682 7,672,322 8,645,553 9,075,520 9 Jasa-jasa 11,810,793 12,777,494 13,577,471 14,943,479 15,836,801 16,821,141 18,200,096 18,728,218 19,063,682

195,943,005 202,131,383 209,731,189 219,525,221 230,003,496 242,883,882 257,499,446 274,180,308 290,171,129 Sumber : PDRB Jawa Barat

72

PDRB Lapangan Usaha

(1)

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

(2) (3) (4) (5) (6) (6) (7) (8) (9)

1 Pertanian 1,838,512 1,958,699 1,912,737 1,870,160 1,919,416 2,039,969 2,027,825 2,063,609 2,104,346

2 Pertambangan dan Penggalian 19,525 21,354 21,215 20,187 20,911 21,815 22,699 23,435 23,794

3 Industri Pengolahan 403,751 470,970 431,488 369,477 387,951 399,951 420,028 440,989 461,050

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 35,606 40,558 37,980 33,707 34,813 35,965 37,126 38,385 40,231

5 Bangunan 326,046 349,916 343,675 329,710 341,118 349,510 359,540 366,803 377,455

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 1,289,610 1,437,865 1,341,900 1,246,033 1,326,013 1,406,655 1,498,816 1,606,532 1,714,221

7 Pengangkutan dan Komunikasi 352,425 379,340 439,070 421,217 441,884 476,102 513,712 546,488 569,405

8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 257,788 291,368 317,137 293,051 313,536 322,794 327,669 343,691 366,446

9 Jasa-jasa 794,196 861,321 856,955 812,909 846,095 836,912 908,419 992,219 1,082,372

5,317,458 5,811,393 5,702,157 5,396,452 5,631,738 5,889,671 6,115,835 6,422,150 6,739,321 Sumber : PDRB Kabupaten Ciamis

73

PDRB Lapangan Usaha

(1)

Dokumen terkait