• Tidak ada hasil yang ditemukan

Periode V Masa Pencerahan Tasawuf (450 H-550 H)

Dalam dokumen Tasawuf Studies: Pengantar Belajar Tasawuf (Halaman 129-132)

Pada periode ini ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dibandingkan dengan kemajuannya pada periode ke-IV, sebab usaha maksimal para ulama tasawuf untuk mengembangkan ajaran tasawufnya telah menemukan momentumnya secara nyata. Tokoh-tokoh sufi yang hadir pada periode ini, antara lain: Musa al-Anshari, Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali, Abu Zaid al-Adami, Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab, dan lain-lain. Akan tetapi tokoh sufi yang sangat mashur pada saat itu, dan hingga kini masih sangat besar pengaruhnya dalam pergulatan pemikiran Islam adalah Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali.

Kedatangan Al-Ghazali telah memberikan harapan baru bagi masa depan tasawuf di saat tasawuf pada periode sebelumnya telah mengalami dinamika dan coraknya sendiri. Dengan hadirnya tokoh-tokoh sufi pada periode sebelumnya, seakan meinunculkan kesan bahwa tasawuf telah terbelah menjadi dua corak dan karakteristik-jika mengikuti klasifikasi tasawuf yang selama ini berkembang dalam dunia tasawuf-yaitu tasawuf Sunni, yang diwakili oleh Al-Junaid, Al­ Kalabadzi, Al-Qusyairi, dan lain-lain; dan tasawuf Falsafi, yang tampil sebagai tokohnya adalah Dzun Nun al-Misri, Al-Bisthami, Al-Hallaj, dan lain-lain.

KehadiranAl-Ghazali (450-505 H./1057-1111 M.) dalam panggung sejarah tasawuf, telah membawa tasawuf kepada corak dan karakteristik yang khas Sunni. Tasawuf yang selama periode sebelumnya seakan dipertentangkan dengan fikih,

ilmu kalam, dan bahkan dengan filsafat, maka atas peran Al-Ghazali, tasawuf dapat dipertemukan kembali dengan domain kajian Islam lainnya, khususnya dengan fikih dan kalam.

Sebagaimana yang sering dijumpai pada aspek tasawuf, penekanan yang paling penting adalah pada aspek mistik sehingga dalam waktu bersamaan seakan-akan aspek syariat diabaikan, dan lebih mementingkan aspek batin. Inilah yang membuat kaum Sunni marah karena dengan hanya mementingkan Shufiyah, him. 58. Keempat, Wali Nujaba', terdiri dari 40 orang wali yang berperan memberikan

pelayanan terhadap kesulitan yang dialami oleh makhluk Allah. Al-Qashani, Ishtilahat ash-Shufiyah,

114. Kelima, Wali Nuqaba', adalah berjumlah 300 orang wali, yang bertugas m�melihara rahasia

makhluk Allah. Al-Qashani, Ishtilahat ash-Shufiyah, 116.

aspek batin dan mengabaikan aspek syariat, berarti tidak lagi mengikuti ajaran Islam secara totalitas. Hal yang demikian itu dianggap telah menyimpang dari runtunan Islam-setidaknya menurut kaum Sunni. Hal ini juga yang kemudian menimbulkan suatu gerakan yang ingin mengintegrasikan dan membangun kesadaran mistik dengan syariat. 237 Di samping itu, juga ada yang merintis tradisi baru sufisme yang. dianggap moderat ini. Di sampirig as-Sarraj ath-Thusi dengan kitab al-Luma'-nya dan Al-Kalabadzi dengan kitabnya at-Ta'arruf Ii Mazhab Ahl at-Tashawwuf Kemudian diikuti Al-Qusyairi dengan ar-Risalat al-Qusyairiyah-nya pada tahun 438 H. Juga ada gerakan memuncak pada periode setelahnya, dengan tokoh besarnyaAl-Ghazali melalui karya monumentalnya Ihya' 'Ulum ad-Din",238

relah berhasil memberikan corak baru dalam tasawuf tidak mengabaikan aspek lainnya, yaitu aspek aqidah dan syariat.

Konsep tasawuf Al-Junaid, A-Ghazali, dan lain-lain-sebagaimana disebutkan di atas-merupakan kritik yang menggugat radikalisme dan liberalisme tasawuf yang pernah dikembangkan Abu Yazid al-Bisthami (128 H/746-877 M) dan Husain Ibn Manshur al-Hallaj (244-309 H/858-921 M).239 Radikalisme dan liberalisme pemikiran tasawuf mereka sampai menafikan realitas konkret manusia

237. Fazlur Rahman, Islam (London: The University of Chicago Press, Ltd., 1979), Edition II, hlm. 137.

238. Rahman, Islam, him. 140. Ki tab Ihya' 'Ulum ad-Din adalah karya besar Al-Ghazali. Bahkan ada yang

mengatakan bahwa kekayaan Islam yang ditinggalkan Al-Ghazali yang dianggap lengkap setelah Al­ Quran dan Al-Hadis adalah Ihya · 'Ulum ad-Din (qad Ihya' yakunu Qy;r 'anan). Lihat Yusuf Qardlawi, al-Imam al-Ghazali baina Madihiyyah wa Naqidiyyah (Dar al-Wafa' Ii ath-Thiba'ah wa at0Tauzi' 'an Manshuriyyah, 1992), him. 96. Di sini tampak jelas adanya usaha yang dilakukan Al-Ghazali dalam mengintegrasikan aspek batin yang disebut mistik dengan aspek dhahir yang disebut syariat. Keduanya harus dijalankan secara bersama-sama, tidak berat sebelah. Hal ini tampak jelas pada uraian kitab Ihya' 'Ulum ad-Din yang dapat diilustrasikan sebagai berikut: Jilid I dan II berisi ajaran syariat dan akidah

disertai dasar-dasar ayat suci Al-Quran dan Al0Hadis beserta penafsirannya, dibahas pula b;igaimana tingkat-tingkat pengalaman syariat yang sempurna, baik lahir maupun batin. Pada jilid III dan IV khusus membahas tasawuf dan tuntunan budi luhur bagi kesempurnaan sebuah pengalaman syariat. Dimulai dengan membahas keajaiban hati beserta nafsu ammarah, lawwamah, dan muthmainnah,

yang ketiganya saling berebut untuk menguasai batin manusia. Kemudian dilanjutkan tentang ajaran

jihad akbar untuk menguasai hawa nafsu ammarah dan lawwamah, yaitu ajaran tentang penyucian

hati, yang dalam ajaran tasawuf diartikan memutuskan setiap persangkutan dengan dunia dan mengisi sepenuhnya hanya bagi Tuhan semata. Kemudian dilanjutkan tentang cara mengonsentrasikari seluruh kesadaran untuk berdzikir kepada Allah Swt. Hasil dari dzikir adalah Jana' dan ma'rifat kepada Allah.

LihatAbu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya' 'Ulum ad-Din (Surabaya: al-Hidayah, tt.); Ensiklopedi Islam No. 2, 1994, him. 179-181. Dalam kaitan ini, Harun Nasution memberikan komentar bahwa

sebenarnya Al-Ghazali-lah yang membuat tasawuf menjadi halal bagi kaum syariat, sesudah kaum ulama memandang sebagai ha! yang menyeleweng dari Islam. Lihat Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam Oakarta: Bulan Bintang, 1995), Cet. Ke-9, him. 78.

239. Kritik Al-Ghazali tentang paham yang dikembangkan kedua tokoh sufi tersebut dapat dilihat pada karya otobiografinya, al-Munqidz min adl-Dlalal wa ma'a Kimiya' 'as-Sa'adah wa al-Qawa'id al-'Asyrah wa al-Adab Ji ad-Din (Beirut: al-Maktabat asy-Sya'biyyah, tt.), him. 76.'

sendiri dalam konsep maqamat (tingkatan):fana' (kehancuran), baqa' (kekekalan), ittihad (kemanunggalan), dan Hulul (penitisan). Pada akhirnya membawa akibat terbunuhnya Al-Hallaj dengan hukuman mati dan Al-Bisthami dianggap sebagai orang gila yang ditinggalkan masyarakat.

Kritik Al-Junaid dan Al-Ghazali terhadap konsep tersebut adalah mencoba ingin meluruskan kembali konsep tasawuf dengan tetap berpijak pada .realitas konkret manusia sendiri. Mereka membatasi maqamat tasawuf hanya sampai 'kepada mahabbah dan ma'rifah.240 Suatu tahap maqamat yang masih tetap menempatkan manusia dalam kesadaran konkret dirinya' sendiri. Menurut Al­ Junaid, kesadaran tertinggi ialah untuk menerima derita (mu'lim) atau nikmat (ladzdzah). Dengan demikian, tetap adanya jarak antara manusia dengan T uhan. 241

Terkait dengan ini, diceritakan pernah ada semacam kejang ekstase dan tanda-tanda lain tentang pengalaman atau keadaan yang dianggap menyimpang. Al-Ghazali mengutip, bahwa satu kali Syekh al-Junaid yang Agung menegur seorang pemuda yang mengalami "ceracau/kegilaan" pada suatu pertemuan sufi. "Jangan pernah lakukan itu lagi, atau tinggalkan majelisku!" tandas Junaid kepadanya. Kepercayaan sufi adalah peristiwa semacam itu yang mungkin berasal dari perubahan-perubahan batin adalah semu atau emosional semata. Sementara pengalaman yang sejati tidak menimbulkan gejala fisik sedemikian itu, baik berupa "ungkapan secara lisan atau bergulir-gulir di lantai".242

Dengan demikian, Al-Ghazali adalah tokoh hebat yang berhasil mengembalikan kondisi umat di saat timat berada pada kondisi tidak menentu dalam pemahaman dan pengamalan keberagamaannya. Al-Ghazali telah berhasil meinbangun konsep keilmuan kajian Islam secara komprehensif dan integratif--antara aqidah (kalam), syariat (fikih), dan tasawu£ Konsepsi tersebut tidak hanya tercover dalarp. karya monumentalnya Ihya' 'Ulum ad-Din semata, namun juga melalui karya-karya besar lainnya, misalnya pada Minhaj al-:Abidin, al-Munqidz min adl-Dlalal Misykat

240. Mahabbah ialah cinta kepada Allah, sedang ma'rifah pengetahuan dengan mata hati tentang Allah.

Keduanya umumnya dianggap sebagai dua sejoli dalam maqamat tasawuf. Jalan untuk mencapai maqamat itu berliku-liku, panjang dan berat, Setidaknya ada tujuh maqamatyang harus dilalui, yaitu taubah, sabr, faqr, zuhud, tawakkul mahabbah, dan ma'rifah. Tiap maqam memerlukan waktu yang

panjang, berliku-liku dan tidak boleh terputus dalam melakukannya. Selanjutnya, lihat Abu Bakr Muhammad al-Kalabadzi, at-Ta'arruf Ii Madzhabi Ahl at-Tashawwuf (Beirut: Dar al-Ku tub al-'Ilmiyyah,

1993.); al-Ghazali, Ihya' U!um ad-Din (Surabaya: al-Hidayah, tt.); ath-Thusi, al-Luma'; dan Nasution, Fa!safat dan Mistisisme, him. 62.

241. Haidar, Nahd!atu! U!ama, him. 77-78.

242, Idries Shah, 1he Sufis, Introduction by Robert Graves (New York: A Division of Random House, Inc.,

al-Anwar, Mi'raj al-Qudus, Raudlat ath-lhalibin, Bidayat al-Hidayah, Mi'raj as­ Salikin, al-Arba'in fl Ushul ad-Din, Mizan al-'Amal, dan lain-lain.

Dalam dokumen Tasawuf Studies: Pengantar Belajar Tasawuf (Halaman 129-132)

Dokumen terkait