• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5. Peristiwa pasang purnama dan pasang perbani

Penentuan waktu terjadinya pasang purnama dapat dilihat dari nilai

tunggang pasut. Peristiwa pasang purnama ditandai dengan tunggang pasut yang

lebih besar, juga dikenal dengan pasang besar karena pada saat kejadian itu akan

dihasilkan pasang maksimum yang sangat tinggi dan pasang minimum yang

sangat rendah (Surbakti, 2007). Berikut data tinggi muka laut saat terjadinya

pasang purnama (Tabel 7).

Tabel 7. Data tinggi muka laut saat terjadinya pasang purnama di Muara Binuangeun Provinsi Banten, dari hasil pengukuran tanggal 17 Juli 2008 sampai dengan tanggal 31 Juli 2008

Tinggi muka Laut

Alat ukur Pasang maksimum

(cm) Surut minimum (cm) Tunggang pasut (cm) OTT PS 1 156 24 132 OWK 140 18 122 Kalesto 162 1 161

Dari hasil pengukuran oleh alat sensor tekanan OTT PS 1, diperoleh nilai

tunggang pasut terbesar adalah sebesar 132 cm. Pada waktu itu, tinggi muka laut

pasang maksimum sebesar 156 cm dan tinggi muka laut surut minimum sebesar

24 cm. Sedikit perbedaan dengan data hasil pengukuran oleh alat pelampung

OWK, diperoleh nilai tunggang pasut terbesar sebesar 122 cm, dengan tinggi muka laut pasang maksimum sebesar 140 cm dan tinggi muka laut surut minimum

nilai tunggang pasut terbesar sebesar 161 cm, dengan tinggi muka laut pasang

maksimum sebesar 162 cm dan tinggi muka laut surut minimum sebesar 1 cm.

Dari data yang diperoleh ini, terlihat perbedaan nilai tinggi muka laut yang

tercatat oleh ketiga alat ukur saat terjadinya peristiwa pasang purnama, dan

perbedaan signifikan terlihat pada alat radar Kalesto. Artinya error pengukuran

lebih terlihat pada alat radar Kalesto. Karena semua nilai tinggi muka laut yang

tercatat tersebut terjadi pada waktu yang bersamaan, sehingga perbedaan nilai

tinggi muka laut yang diperoleh dari ketiga alat ukur tersebut tidak berpengaruh

nyata pada analisis penentuan waktu terjadinya peristiwa pasang purnama.

Analisis data tinggi muka laut ketiga alat ukur, didapatkan hasil bahwa waktu

terjadinya pasang maksimum adalah pada tanggal 21 Juli 2008.

Sedikit berbeda dari teori, tidak terbukti bahwa saat terjadinya pasang

purnama dihasilkan pasang maksimum yang sangat tinggi dan surut minimum

yang sangat rendah. Nilai pasang maksimum dari pengukuran ketiga alat saat

peristiwa tersebut bukan merupakan pasang yang sangat tinggi dari semua data

pasang maksimum yang ada dan nilai surut minimumnya juga bukan merupakan

surut yang sangat rendah dari semua data surut minimum yang ada. Hanya surut

minimum yang tercatat oleh alat pelampung OWK saja yang merupakan surut

yang sangat rendah dari semua data surut minimum yang ada. Hal ini

mununjukkan keakuratan pengukuran oleh alat pelampung OWK cukup tinggi,

sedangkan perbedaan yang jauh dari data tinggi muka laut yang tercatat oleh radar

Kalesto, menandakan terjadinya error cukup besar pada alat radar Kalesto saat dilakukan pengukuran ketika air surut.

59

4.5.2. Pasang perbani (neap tide)

Peristiwa pasang perbani ditandai dengan tunggang pasut yang lebih kecil,

dikenal dengan pasang kecil karena pada saat peristiwa tersebut akan dihasilkan

pasang maksimum yang rendah dan surut minimum yang tinggi (Surbakti, 2007).

Berikut data tinggi muka laut saat terjadinya pasang perbani (Tabel 8).

Tabel 8. Data tinggi muka laut saat terjadinya pasang perbani di Muara Binuangeun Provinsi Banten, dari hasil pengukuran tanggal 17 Juli 2008 sampai dengan tanggal 31 Juli 2008

Tinggi muka laut Alat ukur Pasang maksimum (cm) Surut minimum (cm) Tunggang pasut (cm) OTT PS 1 139 51 88 OWK 140 48 92 Kalesto 150 49 101

Dari data hasil pengukuran yang dilakukan, diperoleh nilai tunggang pasut

terkecil yang diperoleh dari alat sensor tekanan OTT PS 1 adalah sebesar 81 cm.

Pada saat itu, tinggi muka laut pasang maksimum sebesar 139 cm dan tinggi muka

laut surut minimum sebesar 51 cm. Nilai tinggi muka laut yang diperoleh dari

alat sensor tekanan OTT PS 1 ini memiliki sedikit perbedaan jika dibandingkan

dengan alat ukur pelampung OWK dan radar Kalesto. Pengukuran dengan alat

pelampung OWK diperoleh nilai tunggang pasut terkecil sebesar 92 cm, dengan

tinggi muka laut pasang maksimum sebesar 140 cm dan tinggi muka laut surut

minimum sebesar 48 cm. Untuk pengukuran dengan alat radar Kalesto diperoleh

nilai tunggang pasut terkecil sebesar 101 cm, dengan tinggi muka laut pasang

maksimum sebesar 150 cm dan tingi muka laut surut minimum sebesar 49 cm.

berpengaruh nyata terhadap analisis penentuan waktu terjadinya peristiwa pasang

perbani, karena terjadi pada waktu yang bersamaan. Analisis data tinggi muka

laut ketiga alat ukur, didapatkan hasil bahwa waktu terjadinya surut perbani

adalah pada tanggal 28 Juli 2008.

Pada saat peristiwa pasang perbani tersebut, dari ketiga alat ukur diperoleh

nilai surut minimum yang tinggi. Hal ini sesuai dengan teori yang diberikan

sebelumnya, bahwa pada saat terjadinya pasang perbani akan dihasilkan pasang

maksimum yang rendah dan surut minimum yang tinggi. Sedikit berbeda dari

teori, bahwa pada peristiwa tersebut nilai pasang maksimumnya bukan merupakan

nilai yang terendah dari semua data pasang maksimum yang ada.

4.5.3. Pengaruh posisi bulan terhadap pengukuran

Pengaruh bulan terhadap pengukuran dapat dilihat dari nilai pengukuran

yang diperoleh saat terjadinya peristiwa pasang purnama dan pasang perbani.

Pada saat peristiwa pasang purnama, tarikkan massa air di bumi oleh matahari dan

bulan lebih besar, sehingga fluktuasi massa air di bumi juga semakin besar. Hal

ini menyebabkan perbedan tinggi muka air pasang maksimum dan surut minimum

lebih besar. Untuk peristiwa pasang perbani, gaya tarik menarik matahari dan

bulan terhadap massa air di bumi saling meniadakan, sehingga fluktuasi massa air

di bumi lebih kecil. Dalam hal ini, pengaruh posisi bulan ditentukan dari nilai

standar deviasi dan error pengukuran saat peristiwa tersebut. Hasil pengolahan

data tinggi muka laut saat terjadinya pasang purnama dan pasang perbani adalah

61

Tabel 9. Pengaruh posisi bulan terhadap pengukuran tinggi muka laut di Muara Binuangeun Provinsi Banten

Standar deviasi Error

Alat ukur Alat ukur

Bulan Juli 2008 tanggal

OTT PS 1 OWK Kalesto OTT PS 1 OWK Kalesto

17 29.841 30.014 31.133 0.786 0.791 0.820 18 34.448 32.367 35.122 0.908 0.853 0.926 19 35.442 34.081 35.352 0.934 0.898 0.932 20 36.543 35713 36.682 0.963 0.941 0.967 21 38.029 35.907 37.834 1.002 0.946 0.997 22 36.929 35.862 36.708 0.973 0.945 0.967 23 36.173 34.614 35.800 0.953 0.912 0.943 24 33.794 32.729 33.609 0.891 0.862 0.886 25 31.013 29.936 31.006 0.817 0.789 0.817 26 28.192 26.738 28.012 0.743 0.705 0.738 27 27.094 26.026 26.676 0.714 0.686 0.703 28 25.868 24.931 25.113 0.682 0.657 0.662 29 29.105 29.281 29.960 0.767 0.772 0.789 30 32.129 30.411 31.861 0.847 0.801 0.839 31 35.190 33.339 34.403 0.927 0.879 0.907

Peristiwa pasang purnama : Tanggal 21 Juli 2008 Peristiwa pasang perbani : Tanggal 28 Juli 2008

Dari analisis data yang dilakukan tersebut, dapat diketahui bahwa pasang

purnama dan pasang perbani dapat mempengaruhi data hasil pengukuran tinggi

muka laut oleh alat ukur yang digunakan. Standar deviasi dan error data hasil

pengukuran ketiga alat ukur saat terjadinya pasang purnama lebih besar. Hal ini

dapat terjadi karena saat terjadinya purnama, fluktuasi massa air semakin besar

sehingga data tinggi muka air yang terukur oleh alat lebih beragam dan memiliki

perbedaan yang besar. Untuk nilai standar deviasi dan error data hasil

pengukuran saat terjadinya pasang perbani lebih kecil dari nilai standar deviasi

saat peristiwa tersebut tidak terjadi fluktuasi massa air yang besar. Hal ini

menyebabkan data tinggi muka air yang terukur oleh alat tidak memiliki nilai

yang beragam, sehingga menghasilkan nilai standar deviasi dan error pengukuran

oleh alat menjadi lebih kecil.

Dokumen terkait