BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Foto 2 :Obat Herbal Yang Terbuat Dari Alam Jamu,Minyak Jaitun, Obat
Sumber: Peneliti (tahun 2017) Golongan penyakit yang sering ditangani diantaranya:
- Penyait biasa yaitu sakit kepala, sakit pinggang,migren,
- Penyakit sedang yaitu asma,maag,asam lambung,lemah syahwat,keputihan,asam urat, darah tinggi,darah rendah,vertigo,sesak nafas,rematik,impotensi.
- Penyakitberatyaitustroke,lumpuh,jantung,ginjal,liver,kanker,tumor,kist a,mium,ketergantungan narkoba,HIV/AIDS.
BAB III
MEKANISME TERAPI TOTOK DARAH WALET PUTI
3.1. Perjalanan Seseorang Untuk Menjadi Terapis
Untuk menjadi seorang terapis totok darah Walet Puti dibutuhkan waktu yang sangat panjang bahkan memakan waktu bertahun-tahun.Bapak Rudi Sanjaya Rata (usia 55 tahun)merupakan salah satu terapis pertama atau penotok darah Walet Puti pertama dalam sebutan yang digunakan oleh perguruan Walet Puti sebagai perguruan silat, yang menaungi praktek kesehatan totok darah Walet Puti.Awal mula munculnya pengobatan totok darah Walet Puti ini adalah pada tahun 1981 di daerah Kisaran, berawal dari adanya aktifitas perguruan pencak silat perguruan Silat Walet Puti. Bapak Rudi sudah 6 tahun 6 bulan membuka praktek klinik di Kota Medan.Bapak Rudi 1981 sendiri sudah bergabung di Perguruan Silat Walet Puti dan menekuni totok darah Walet Puti sejak tahun 2000.
Bapak Rudi Sanjaya dahulunya adalah penganut agama Budha, dan kemudian masuk ke agamaIslam setelah mendalami totok darah Walet Puti.Alasan mengapa bapak Rudi masuk agama Islam juga karena panggilan dari hati beliau.Karena dalam pengobatan totok darah Walet Puti memakai ilmu spritual yaitu ilmu yang berasal dari agama Islam, yang mana pada sebelum melakukan totok darah penotok terlebih dahulu harus berzikir untuk mengeluarkan tenaga dalam dan mengantarkan aura panas kepada pasien.
Adapun hubungan antara zikir dengan terapi totok darah menurut bapak Rudi adalah secara tidak langsung menambah nur (cahaya) disamping zikir yang dilakukan guna memohon kepada Allah SWTagar dilancarkan setiap proses dalam
menyembuhkan pasien. Menurut bapak Rudi dengan berzikir maka dapat menguatkan diri dan iman kita baik sebagai terapis maupun sebagai manusia.Zikir dilakukan setelah sholat wajib maupun setelah sholat sunah dilakukan.Didalam berzikir juga bisa menambah tenaga dalam untuk memancarkan aura panas kepada pasien.
Apabila ada seseorang yang ingin menjadi penotok darah Walet Puti namun beragama non-Muslim maka ia tidak bisa diterima untuk menjadi penotok darah, karena dalam kegiatan penotok darah Walet Puti wajib memakai zikir-zikir dan doa dari agama Islam untuk memperkuatkan diri dan memohon kepada Allah SWT dalam penyembuhan. Maka siapapun yang ingin menjadi penotok maka iaharus masuk Islam terlebih dahulu seperti bapak Rudi Sanjaya yang dahulunya beragama Budha.
Fenomena pengobatan dengan menggunakan doa, zikir, mantra, ataupun zampi berdasarkan agama seperti yang dilakukan oleh Totok Darah Walet Puti bukan lah hal yang baru. Penelitian mengenai pengobatan tradisional telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti. Antara lain, Darojat (2005), “Terapi Ruqyah terhadap Penyakit Fisik, Jiwa, dan Gangguan Jin,” lebih banyak mengulas terapi ruqyah berdasar atas perspektif Islam. Darojat banyak menuangkan dalil-dalil yang bersumber dari Al-quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, terapi ruqyah tidak hanya bertujuan mengusir jin, melainkan juga untuk menyembuhkan penyakit fisik dan psikis. Metode pengobatannya adalah dengan cara meminumkan air kepada pasien setelah dibacakan doa-doa yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis.
Jika pada pengobatan yang lebih tradisional si penyembuh lebih dikenal dengan sebutan dukun/saman, maka totok darah Walet Puti lebih dikenal dengan sebutan penotok atau terapis. Beberapa hal yang membuat peneliti sedikit menyamakan antara penotok dengan dukun adalah karena sama-sama meng-gunakan doa atau mantra pada proses pengobatan. Salah satu ciri pengobatan dukun adalah penggunaan doa-doa atau bacaan-bacaan, air putih, dan ramuan tradisional.Pengobatan maupun diagnosis yang dilakukan dukun selalu identik dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun yang memadukan antara kekuatan rasio dan batin (Agoes, 1996).Para dukun di Jawa menggunakan teknik-teknik ilmu gaib, ucapan mantra-mantra, dan memberikan jamu tradisional, untuk mengobati pasiennya (Koentjaraningkat, 1984).
Namun, peneliti disini lebih cenderung menggunakan istilah penotok, karena walaupun dalam proses pengobatan para penotok menggunakan doa dan ramuan, namun para penotok juga dibekali dengan pengetahuan saraf-saraf dalam tubuh yang sangat ilmiah. Proses pembelajaran mengenai sususan saraf-saraf ini nantinya akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya.
Dalam proses ingin menjadi seorang terapis totok darah Walet Puti tidak bisa sembarang orang. Calon terapis harus mengikuti silat terlebih dahulu karena dari silat lah akandipelajari dasar-dasar ilmu penotokan dan dari sisi kebatinannya pun sudah dalam keadaan siap karena sudah ditempa untuk menjadi penotok darah Walet Puti. Seorang calon terapis tidak bisa langsung menjadi terapis totok darah tanpa mengikuti pelatihan silat yang dilakukan oleh perguruan Walet Puti.Pada suatu kasus menurut bapak Rudi Ada juga yang ingin membayar mahal untuk bisa
menjadi seorang terapis totok darah, tetapi oleh Mahaguru tidak diperbolehkan, karena tidak mau mengikuti pelatihan Pencak Silat terlebih dahulu.
Jika seseoranginginmenjadi penotok darah Walet Puti ia harus ikut silat Walet Puti terlebih dahulu. Setelah masuk ketingkatan Sabuk Coklat (mandala) maka pada tahapan ini lah baru seseoarang bisa dibekali dan diajari cara-cara dalam totok darah yang tujuannya untuk mengantisipasi kalau ada murid-murid silat Walet Puti yang cedera dalam berlatih silat.Orang yang mengajarkan pertama kali ilmu-ilmu untuk menjadi seorang terapis adalah Mahaguru ataupun orang kepercayaan Mahaguru, namun proses pengesahan menjadi terapis totok darah Walet Puti wajib harus dilakukan olehMahaguru, seseorang yang sudah memiliki kemampuan menotok tidak bisa langsungmembuka usaha totok darah Walet Puti bila belum disahkan oleh Mahaguru.
Jenjang pelatihan yang dilalui oleh seseorang yang ingin menjadi terapis totok darah harus mengikuti beberapa tahapan. Diantaranya sebagai berikut :
1. Satria Mula ( Sabuk Putih ). Pokok Dasar- I., Pokok Dasar II.
Sambut Pukul Talitemali I
2. Satria Muda ( Sabuk kuning ) Pokok Dasar III. Pokok Dasar IV.
Sambut Pukul Talitemali II.
3. Dasar senjata Toya.
4. Satria Madya ( Sabuk hijau ) Jurus Awal I. Jurul Awal II. Jurus Toya II.
5. Sambut Pukul Talitemali III.
6. Satria Utama ( Sabuk Biru ) Jurus Awal III. Jurul Awal IV, Jurus Toya III. Sambut Pukul
7. Talitemali IV. Jurus Dasar Tekfi
8. Pendekar Muda ( Sabuk Coklat) Jurus Walet I . Jurus Walet II.
Jurus Dasar Double Stik.
9. Jurus Toya IV. Jurus Dasar Tekfi I
10. Pendekar Madya ( Sabuk Hitam ) Jurus Walet III. Jurus Walet IV.
Jurus Toya Pintu-I
11. Jurus Dasar Tekfi- II . Pengenalan Pengobatan.
12. Pendekar Utama Jurus-Jurus Tangan Kosong. Jurus-Jurus Senjata.
Pendalam Pengobatan Totok Darah.
13. Mandala-I- IV Program Khusus. Penyempurnaan Totok Darah.
Semua tahapan latihan silat tersebut harus dilalui oleh orang yang ingin menjadi terapis totok darah Walet Puti.Satu hal yang perlu dipelajari untuk menjadi seorang terapis yaitu harus mengetahui titik-titik saraf dan bagian yang mau ditotok.Pertama kali yang ditotok dalam pengobatan totok darah Walet Puti yaitu dibagian pinggang. Alasan pertama kali yang ditotok adalah bagian pinggang adalah karena pinggang merupakan bagian sentral utama sebelum menotok pada bagian lain. Proses untuk mempelajari titik-titik saraf ini memakan waktu selama 3 tahun dengan objek latihan adalah murid-murid pencak silat Walet Puti yang cidera atau kelelahan.
Dalam pengobatan totok darah Walet Puti, terapis juga harus mengetahui tentang ilmu medis karena untuk memeriksa dan mengetahui penyakit pasien terapis harus bisa mengetahui minimal gejala-gejala dari suatu penyakit, sehingga terapis bisa memprediksi si pasien terkena sakit apa tanpa menduga-duga dengan dasar yang tidak jelas. Akan tetapi untuk gejala penyakit-peenyakit tertentu terapis sering
menyarankan pasien untuk memeriksa ke dokter terlebih dahulu untuk megetahui lebih jelas penyakit apa yang sedang diderita oleh si pasien, sebab akan sangat beresiko bagi terapis apabila sembarangan menotok pasien tanpa tahu jelas apa penyekit yang sedang dideritanya. Untuk pengetahuan letak-letak syaraf, hal tersebut tidak diperbolehkan diberitahu kepada orang lain, hanya terapis totok darah Walet Puti saja lah yang boleh mengetahui titik-titik syaraf dalam penotokan totok darah Walet Puti.
3.2. Proses Totok Darah Walet Puti
Bapak Sutopo. S.E (53 tahun) adalah salah seorang terapis di totok darah Walet Puti. Pak Sutopo sejak tahun 1990 sudah menotok sebagai penotok darah walet puti.bapak Sutopo adalah seorang pensiunan Telkom tahun 2014. Setelah pensiun dari Telkom pada tahun 2014 kegiatan sehari-hari bapak Sutopo adalah bekerja sebagai terapis di klinik totok darah Walet Puti.bapak Sutopo sering dipangggil keluar Kota Medan untuk menotok darah untuk pasien yang sudah sulit untuk bergerak. Selain bekerja sebagai terapis totok darah, bapak Sutopo juga menjabat sebagai ketua DPP Perguruan Silat Walet Puti Provinsi Sumatera Utara.
Perguruan WaletPuti adalah ilmu beladiri warisan tunggal pusaka Tradisonal Indonesia yang utamanya belajar ilmu beladiri. Peneliti tertarik ingin mengetahui dan meneliti lebih dalam tentang perguruan Walet Puti ini karena di perguruan Walet Puti bukan hanya sekadar belajar ilmu beladiri tetapi dapat belajar dan mengembangkan pengobatan tradisonal totok darah. Peneliti ingin mengkaitkan warisan budaya leluhur totok darah Walet Puti dengan Antropologi kesehatan . Berdasarkan penuturan bapak Sutopo sebelumdilakukannya totok darah kepada pasien maka terlebih dahulu terapis akanmenanyakan keluhan si pasien. Terapis
tidak memeriksa pasien karena terapis hanya dibekali pengetahuan medis secara umum saja, bukan secara keseluruhan.Hanya sedikit saja terapis yang tahu tentang ilmu medis, dan pengetahuan tersebut sangat la terbatas. Terapis hanya akan bertanya pertanyaan umum seperti,sakit apa ?kalau si pasien memberitahu kepada terapis penyakit yang dideritanya maka baru lah taulah tahu langkah pengobatan apa yang harus dilakukan.