• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tekstil merupakan salah satu komoditi yang diperdagangkan di luar negeri. Sehingga banyak perjanjian-perjanjian yang dilakukan untuk melindungi dan mempertahankan komoditi ini di pasar luar negeri. Berikut adalah beberapa perjanjian yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

4.3.1. Perjanjian TPT dalam Ketentuan MFA (Multi Fibre Arrangement) Sejak tahun 1974 perdagangan tekstil internasional sudah diatur oleh MFA. MFA (Multi Fibre Arrangement) merupakan persetujuan antara sejumlah negara maju yang mengimpor tekstil dan pakaian jadi dengan sejumlah negara

berkembang yang mengekspor TPT. MFA mengatur dalam memberi izin bagi negara-negara pengimpor seperti AS dan Uni Eropa untuk membatasi impornya. Tujuan MFA terdapat pada artikel MFA yaitu mendorong negara berkembang, meningkatkan perdagangan, mengurangi hambatan serta liberalisasi perdagangan secara bertahap. Tujuan utama MFA adalah menjamin perdagangan yang teratur dengan menghindari akibat pengrusakan pasaran dan produksi pada negara pengimpor dan pengekspor.

Ketentuan-ketentuan pokok MFA yaitu adanya kesepakatan bilateral di antara negara-negara pengimpor dan pengekspor TPT. Hal inilah yang mendorong pemerintah menandatangani perjanjian ini dan menyepakati perjanjian bilateral dalam perdagangan dengan AS, Eropa, Kanada, Norwegia, Swedia, dan Finlandia. Dengan ikut serta sebagai anggota MFA, Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya mempunyai wadah untuk saling membicarakan hal-hal terkait dengan negara pengimpor.

Perjanjian bilateral pada prinsipnya mengatur batas maksimum jumlah produk TPT yang disepakati dapat memasuki negara pengimpor dan ketentuan fleksibilitas serta tatacara dokumentasi dari pelaksanaan perjanjian bilateral tersebut. Penentuan kuota dasar pada prinsipnya ditentukan dari kinerja ekspor pada tahun sebelumnya dan ditetapkan oleh negara pengimpor. Kemudian terdapat tambahan yang berasal dari pertumbuhan kuota sebesar 6 persen dari tahun ke tahun.

4.3.2. Perjanjian TPT dalam Ketentuan GATT (General Aggrement on Tariff

and Trade)

General Aggrement on Tariff and Trade (GATT) sebagai wadah perdagangan luar negeri terus diperbaharui untuk mencapai persetujuan yang menunjang perkembangan perdagangan luar negeri. Berawal di Geneva 1947 dengan 23 negara anggota, GATT terus berusaha menurunkan tarif negara anggotanya untuk berbagai produk diantaranya produk tekstil. Prinsip utama dari isi perjanjian TPT adalah bahwa perdagangan TPT dunia yang selama ini diatur MFA yang memperbolehkan adanya pembatasan impor melalui sistem kuota akan dikembalikan ke dalam aturan GATT dengan masa peralihan 10 tahun sejak 1 Januari 1995. Setelah tahun kesepuluh perdagangan TPT dunia menjadi bebas dari sistem kuota. Pada tanggal 15 Desember 1993, GATT telah menghapus perjanjian MFA dan memasukkan perdagangan tekstil pada agenda GATT. Selanjutnya pada 15 April 1994 dalam pertemuan di Maroko kesepakatan ini ditandatangani. Pada saat ini telah disepakati bahwa ketentuan MFA tentang kuota akan dihapus.

Struktur Perekonomian Indonesia

Analisis tabel Input-Output 2003 dengan klasifikasi 11 sektor memperlihatkan gambaran mengenai struktur perekonomian Indonesia tahun 2003 yang meliputi beberapa aspek diantaranya struktur permintaan dan penawaran, struktur konsumsi masyarakat dan pemerintah, struktur investasi, struktur ekspor dan impor, struktur nilai tambah bruto, serta dampak pertumbuhan investasi sektor industri TPT terhadap perekonomian Indonesia.

5.1.1. Permintaan dan Penawaran Output

Berdasarkan tabel Input-Output 2003 klasifikasi 11 sektor, dapat dilihat bahwa permintaan barang dan jasa di Indonesia tahun 2003 sebesar Rp 4,66 triliun yang terdiri dari permintaan antara sebesar Rp 2,10 triliun dan permintaan akhir sebesar Rp 2,56 triliun. Industri TPT pada tabel Input-Output 2003 klasifikasi 11 sektor terdiri dari industri pemintalan dan industri tekstil, pakaian dan kulit. Tabel 5.1 memperlihatkan bahwa total permintaan sektor industri pemintalan sebesar Rp 62,70 miliar atau 1,35 persen terhadap perekonomian indonesia untuk memenuhi keperluan produksi dan konsumsi yang terdiri dari permintaan antara sebesar Rp 38,54 miliar dan permintaan akhir sebesar Rp 24,16 miliar. Permintaan antara sektor industri pemintalan sebesar Rp 38,54 miliar atau 1,84 persen dari total permintaan antara digunakan untuk memenuhi kebutuhan input sektor lainnya untuk keperluan produksi, sedangkan permintaan akhir sebesar Rp 24,16 miliar

atau 0,94 persen dari total permintaan akhir digunakan untuk memenuhi permintaan barang dan jasa untuk keperluan konsumsi.

Industri tekstil, pakaian dan kulit, memperlihatkan total permintaan yang lebih besar dari total industri pemintalan dalam memenuhi keperluan produksi dan konsumsi di Indonesia yaitu sebesar Rp 171,00 miliar atau sebesar 3,67 persen dari total permintaan di Indonesia. Dari total tersebut, dialokasikan untuk permintaan antara sekitar Rp 67,31 miliar atau sebesar 3,21 persen dari total permintaan antara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan input sektor lainnya untuk keperluan produksi dan permintaan akhir sebesar Rp 103,69 miliar atau 4,06 persen dari total permintaan akhir yang digunakan untuk memenuhi permintaan barang dan jasa untuk keperluan konsumsi langsung.

Tabel 5.1. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian Indonesia, Tahun 2003

Permintaan Antara Permintaan Akhir Total Permintaan

Sektor Jumlah (Juta

Rupiah)

Persen Jumlah (Juta

Rupiah)

Persen Jumlah (Juta

Rupiah) Persen Pertanian 285.482,222 13,62 199.857,747 7,81 485.339,969 10,43 Pertambangan 140.612,377 6,71 105.731,941 4,13 246.344,318 5,29 Industri Pemintalan 38.539,110 1,84 24.162,748 0,94 62.701,858 1,35 Industri tekstil, pakaian dan kulit 67.309,980 3,21 103.690,914 4,06 171.000,894 3,67 Industri lainnya 817.089,578 38,99 889.451,902 34,75 1.706.541,480 36,66

Listrik, gas dan

air bersih 44.518,202 2,12 25.912,816 1,01 70.431,018 1,51 Bangunan 25.990,943 1,24 305.103,901 11,92 331.094,844 7,11 Perdagangan, restoran dan hotel 264.473,036 12,62 344.482,972 13,46 608.956,008 13,08 Transportasi dan komunikasi 169.500,651 8,09 135.238,145 5,28 304.738,796 6,55 Keuangan,usaha bangunan dan jasa Perusahaan 161.451,573 7,71 130.340,637 5,09 291.792,210 6,27 Jasa-jasa 80.581,757 3,85 295.589,144 11,55 376.170,901 8,08 Total 2.095.549,429 100,00 2.559.562,867 100,00 4.655.112,296 100,00

5.1.2. Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi Pemerintah

Konsumsi rumah tangga di Indonesia berdasarkan tabel Input-Output 2003 klasifikasi 11 sektor adalah sebesar Rp 1,40 triliun. Dari total tersebut, konsumsi masyarakat terbesar adalah sektor industri pengolahan lainnya sebesar Rp 529,39 miliar atau sebesar 37,69 persen dari total konsumsi rumah tangga yang diikuti oleh sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar Rp 236,37 miliar atau sebesar 16,83 persen dari total konsumsi rumah tangga. Sedangkan angka yang terkecil adalah sektor bangunan, baik dari konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah menunjukkan angka nol karena hampir semuanya dialokasikan dalam pembentukan modal tetap bruto.

Tabel 5.2. Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi Pemerintah Sektor-sektor Perekonomian Indonesia, Tahun 2003

Konsumsi Rumah tangga Konsumsi Pemerintah

Sektor Jumlah (Juta

Rupiah)

Persen Jumlah (Juta

Rupiah) Persen Pertanian 183.784,310 13,08 0 0 Pertambangan 1.929,587 0,14 0 0 Industri Pemintalan 299,317 0,02 0 0 Industri tekstil,

pakaian dan kulit 54.400,891 3,87 0 0

Industri lainnya 529.390,291 37,69 0 0

Listrik, gas dan air

bersih 25.912,816 1,84 0 0

Bangunan 0 0 0 0

Perdagangan,

restoran dan hotel 236.367,605 16,83 0 0

Transportasi dan

komunikasi 121.764,952 8,67 0 0

Keuangan, usaha bangunan dan jasa

perusahaan 124.276,634 8,85 0 0

Jasa-jasa 126.554,569 9,01 163.701,240 100,00

Total 1.404.680,972 100,00 163.701,240 100,00

Berdasarkan Tabel 5.2 diketahui bahwa konsumsi rumah tangga sektor industri pemintalan hanya sebesar Rp 299,32 juta atau sebesar 0,02 persen dari total konsumsi rumah tangga, sedangkan industri tekstil, pakaian dan kulit sebesar Rp 54,40 miliar atau sebesar 3,87 persen dari total konsumsi rumah tangga. Dari Tabel 5.2 juga dapat dilihat bahwa dari total konsumsi pemerintah sebesar Rp 163 miliar, semuanya atau 100 persen dari total konsumsi pemerintah dialokasikan untuk sektor jasa-jasa yang meliputi jasa pemerintahan umum dan pertahanan, jasa sosial dan kemasyarakatan dan jasa lainnya.

5.1.3. Struktur Investasi

Investasi yang dimaksud dalam tabel Input-Output adalah penjumlahan dari pembentukan modal tetap bruto dengan kode 303 dan perubahan stok dengan kode 304. Pada tabel Input-Output 2003, terlihat bahwa jumlah investasi total dari seluruh sektor peerekonomian di Indonesia pada tahun 2003 adalah sebesar Rp 364,12 miliar. Jumlah tersebut terdiri dari pembentukan modal tetap bruto sebesar Rp 386,22 miliar dan perubahan stok sebesar Rp –22,10 miliar, nilai negatif menunjukkan bahwa perubahan stok mengalami penurunan sebesar Rp 22 miliar baik input untuk produksi maupun output yang diperdagangkan pada akhir tahun.

Tabel 5.3 memperlihatkan bahwa nilai investasi barang dan jasa sektor industri pemintalan hanya sebesar Rp 162 juta yang keseluruhannya berasal dari perubahan stok, angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan total investasi di Indonesia. Sedangkan untuk nilai investasi sektor industri tekstil, pakaian dan kulit sebesar Rp 1,10 miliar atau sebesar 0,30 persen dari total investasi di Indonesia. Secara keseluruhan, nilai investasi sektor-sektor

perekonomian di Indonesia tahun 2003 terserap pada sektor bangunan yaitu sebesar Rp 305,10 miliar atau sebesar 89,79 persen dari total investasi di Indonesia.

Tabel 5.3. Pembentukan Modal Tetap Bruto, Perubahan Stok, dan Investasi Sektor-sektor Perekonomian Indonesia, Tahun 2003

Pembentukan Modal Tetap Bruto

Perubahan Stok Investasi

Sektor Jumlah (Juta

Rupiah)

Persen Jumlah (Juta Rupiah)

Persen Jumlah (Juta

Rupiah) Persen Pertanian 1.162,547 0,30 -2.090,601 9,46 -928,054 -0,25 Pertambangan 246,757 0,06 -2.052,488 9,29 -1.805,731 -0,50 Industri Pemintalan 0 0 162 -0,00 162 0,00 Industri tekstil, pakaian dan kulit 234,875 0,06 864,675 -3,91 1.099,550 0,30 Industri lainnya 64.296,381 16,65 -21.104,292 95,48 43.192,089 11,86

Listrik, gas dan

air bersih 0 0 0 0 0 0 Bangunan 305.103,901 79,00 0 0 305.103,901 83,79 Perdagangan, restoran dan hotel 14.169,110 3,67 2.279,194 -10,31 16.448,304 4,52 Transportasi dan komunikasi 0 0 0 0 0 0 Keuangan, usaha bangunan dan jasa perusahaan 0 0 0 0 0 0 Jasa-jasa 1.005,463 0,26 0 0 1.005,463 0,28 Total 386.219,034 100,00 -22.103,350 100,00 364.115,684 100,00

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2003 (diolah)

5.1.4. Struktur Ekspor dan Impor

Nilai ekspor barang dan jasa di Indonesia pada tahun 2003 adalah sebesar Rp 627,06 miliar. Dari total tersebut, nilai ekspor barang dan jasa industri pemintalan sebesar Rp 23,86 miliar atau sebesar 3,80 persen dari total keseluruhan ekspor barang dan jasa di Indonesia, sedangkan nilai ekspor untuk industri tekstil, pakaian dan kulit sebesar Rp 48,19 miliar atau sebesar 7,69 persen

dari total ekspor Indonesia. Angka tersebut mengindikasikan bahwa industri TPT cukup berperan dalam perekonomian indonesia dari sisi ekspor barang dan jasa.

Dilihat dari sisi impor terhadap barang dan jasa, total impor Indonesia pada tahun 2003 mencapai Rp 471 miliar. Nilai impor industri pemintalan pada tahun 2003 sebesar Rp 12,21 miliar atau sebesar 2,59 persen dari total impor Indonesia, hal ini menjelaskan bahwa bahan baku kegiatan produksi pemintalan masih cukup bergantung pada produk impor. Sedangkan nilai impor barang dan jasa untuk industri tekstil, pakaian dan kulit sebesar Rp 3,99 miliar atau sebesar 0,85 persen dari total impor barang dan jasa di Indonesia pada tahun 2003, termasuk angka yang cukup kecil jika dibandingkan dengan nilai impor sektor lainnya.

Tabel 5.4. Ekspor dan Impor Sektor-sektor Perekonomian Indonesia, Tahun 2003

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2003 (diolah)

Ekspor (X) Impor (M) Selisih (X-M)

Sektor

Jumlah (Juta Rupiah)

Persen Jumlah (Juta

Rupiah) Persen Jumlah (Juta Rupiah) Persen Pertanian 17.001,491 2,71 21.253,679 4,51 -4.252,188 -2,73 Pertambangan 105.608,085 16,84 33.904,732 7,20 71.703,353 45,94 Industri Pemintalan 23.863,269 3,80 12.205,625 2,59 11.657,644 7,47 Industri tekstil,

pakaian dan kulit 48.190,473 7,69 3.994,243 0,85 44.196,230 28,32

Industri lainnya 316.869,522 50,53 285.194,532 60,55 31.674,990 20,30

Listrik, gas dan

air bersih 0 0 0 0 0 0 Bangunan 0 0 0 0 0 0 Perdagangan, restoran dan hotel 91.667,063 14,62 22.190,374 4,71 69.476,689 44,52 Transportasi dan komunikasi 13.473,193 2,15 36.683,881 7,79 -23.210,688 -14,87 Keuangan, usaha bangunan dan jasa perusahaan 6.064,003 0,97 37.533,758 8,39 -31.469,755 -20,16 Jasa-jasa 4.327,872 0,69 18.036,949 3,41 -13.709,077 -8,79 Total 627.064,971 100,00 470.997,773 100,00 156.067,198 100,00

Dari Tabel 5.4 juga dapat dilihat bahwa selisih total antara ekspor dan impor barang dan jasa di Indonesia pada tahun 2003 memperlihatkan angka yang positif atau mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 156,07 miliar. Untuk industri pemintalan dan industri tekstil, pakaian, dan kulit juga mengalami surplus perdagangan masing-masing sebesar Rp 11,66 miliar atau sebesar 7,47 persen dan Rp 44,20 miliar atau sebesar 23,32 persen terhadap total surplus Indonesia.

5.1.5. Nilai Tambah Bruto

Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi. Nilai tambah bruto yang dimaksud dalam tabel Input-Output 2003 terdiri dari upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung. Dari seluruh komponen nilai tambah bruto yaitu sebesar Rp 2,06 triliun, surplus usaha memiliki kontribusi terbesar yaitu Rp 1,15 triliun. Upah dan gaji yang dibentuk sebesar Rp 627,21 miliar, penyusutan sebesar Rp 187,99 miliar, dan pajak tak langsung sebesar RP 99,27 miliar.

Sektor industri pemintalan memiliki kontribusi terhadap nilai tambah bruto sebesar Rp 17,67 miliar atau sebesar 0,86 persen dari total pembentukan nilai tambah bruto di Indonesia, yang terdiri dari upah dan gaji sebesar Rp 2,66 miliar, surplus usaha sebesar Rp 11,86 miliar, penyusutan sebesar Rp 2,19 miliar dan pajak tak langsung sebesar Rp 959,51 juta. Sedangkan nilai tambah bruto untuk sektor industri tekstil, pakaian dan kulit sebesar Rp 57,92 miliar atau sebesar 2,82 persen dari total pembentukan nilai tambah bruto di Indonesia, yang terdiri dari upah dan gaji sebesar Rp 24,18 miliar, surplus usaha sebesar Rp 24,38 miliar, penyusutan sebesar Rp 6,81 miliar dan pajak tak langsung sebesar Rp 2,54 miliar.

Nilai rasio pada Tabel 5.5 diperoleh dengan membagi antara upah dan gaji dengan surplus usaha yang menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima oleh pekerja. Nilai rasio yang kurang dari satu menunjukkan adanya ketidakseimbangan distribusi pendapatan antara surplus usaha yang diterima pemilik modal dengan gaji (upah) yang diterima oleh pekerja atau surplus usaha yang diterima oleh pemilik modal lebih tinggi dari upah dan gaji yang diterima oleh pekerja.

Tabel 5.5. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia, Tahun 2003

Nilai Tambah Bruto Sek-tor Upah dan Gaji /UG (Juta Rupiah) Surplus Usaha /SU (Juta Rupiah) Rasio (UG/ SU) Penyusutan (Juta Rupiah) Pajak Tak Langsung (Juta Rupiah) Jumlah (Juta Rupiah) Persen 1 82.749,067 250.530,331 0,33 8.072,820 5.185,870 346.538,088 16,86 2 19.323,187 139.698,727 0,14 8.430,841 2.082,776 169.535,531 8,25 3 2.655,122 11.862,146 0,22 2.193,867 959,508 17.670,643 0,86 4 24.178,500 24.381,919 0,99 6.813,812 2.540,861 57.915,092 2,82 5 140.084,957 263.313,333 0,53 53.521,949 45.823,875 502.090,734 24,42 6 4.463,355 8.412,986 0,53 9.296,734 1.035,266 18.468,004 0,90 7 53.999,216 43.079,940 1,25 9.776,945 5.074,440 111.930,541 5,45 8 95.337,332 199.760,174 0,48 22.167,493 23.391,741 340.656,740 16,57 9 29.941,287 49.907,104 0,60 34.424,305 4.049,052 118.267,330 5,75 10 91.708,726 122.053,781 0,75 17.911,975 5.843,637 237.518,119 11,55 11 82.769,327 33.612,010 2,46 15.382,754 3.283,060 135.047,151 6,57 Total 627.210,076 1.146.612,451 8,28 187.993,495 99.270,086 2.055.637,973 100,00

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2003 (diolah)

Keterangan :

1= Pertanian 7 = Bangunan

2= Pertambangan 8 = Perdagangan, restoran dan hotel

3= Industri pemintalan 9 = Transportasi dan komunikasi

4= Industri tekstil, pakaian dan kulit 10 = Keuangan,usaha bangunan dan jasa perusahaan

5= Industri Lainnya 11 = Jasa-jasa

6= Listrik, gas dan air bersih

Berdasarkan Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa industri pemintalan dan industri tekstil, pakaian dan kulit memiliki nilai rasio kurang dari satu, yang dapat diartikan bahwa kedua sektor tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan distribusi pendapatan antara surplus usaha terhadap upah yang diterima oleh para

pekerja. Begitupun dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia yang memiliki rasio kurang dari satu, kecuali sektor bangunan dan jasa-jasa.

5.1.6. Output Sektoral

Nilai Output Indonesia tahun 2003 berdasarkan tabel Input-Output sebesar Rp 4,66 triliun, nilai output tersebut merupakan nilai produksi barang dan jasa sektor-sektor perekonomian Indonesia tahun 2003. Dari Tabel 5.6 terlihat bahwa nilai output sektoral terbesar adalah sektor industri lainnya yaitu sebesar Rp 1,71 triliun atau sebesar 36,66 persen dari total output sektoral Indonesia, kemudian disusul oleh sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar Rp 608,96 miliar atau sebesar 13,08 persen dari total output sektoral Indonesia. Untuk industri pemintalan sendiri memiliki nilai output sektoral sebesar Rp 62,70 miliar atau sebesar 1,35 persen dari total output keseluruhan. Sedangkan industri tekstil, pakaian dan kulit memiliki nilai output sektoral sebesar Rp 171,00 miliar atau sebesar 3,67 persen dari total output Indonesia tahun 2003.

Tabel 5.6. Nilai Output Sektoral Perekonomin Indonesia, Tahun 2003

Sektor Nilai Output Sektoral (Juta Rupiah)

Persentase

Pertanian 485.339,969 10,43

Pertambangan 246.344,318 5,29

Industri Pemintalan 62.701,858 1,35 Industri tekstil, pakaian dan kulit 171.000,894 3,67 Industri lainnya 1.706.541,480 36,66 Listrik, gas dan air bersih 70.431,018 1,51

Bangunan 331.094,844 7,11

Perdagangan, restoran dan hotel 608.956,008 13,08 Transportasi dan komunikasi 304.738,796 6,55 Keuangan,usaha bangunan dan jasa

perusahaan 291.792,210 6,27

Jasa-jasa 376.170,901 8,08

Total 4.655.112,296 100,00

5.2. Analisis Keterkaitan

Analisis keterkaitan terdiri dari keterkaitan ke depan (forward linkage) dan keterkaitan ke belakang (backward linkage). Nilai keterkaitan langsung ke depan maupun langsung ke belakang akan diperoleh dari matriks koefisien teknis atau matriks Leontief yang dapat dilihat pada lampiran 2.

5.2.1. Keterkaitan Langsung ke Depan

Berdasarkan Tabel 5.7 dapat dilihat bahwa nilai keterkaitan langsung ke depan terbesar adalah sektor industri lainnya yaitu sebesar 1,72. Untuk industri pemintalan memiliki nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 0,42 yang berarti bahwa jika terjadi perubahan atau peningkatan terhadap permintaan akhir sebesar Rp 1 juta maka output sektor industri pemintalan akan meningkatkan output di sektor-sektor lainnya sebesar Rp 0,42 juta yang dialokasikan secara langsung kepada sektor lainnya termasuk sektor industri pemintalan itu sendiri. Sedangkan untuk industri tekstil, pakaian dan kulit memiliki nilai keterkaitan ke depan sebesar 0,34 dengan kata lain jika terjadi peningkatan permintaan sektor industri tekstil, pakaian dan kulit sebesar Rp 1 juta maka akan meningkatkan ouput sektor-sektor lainnya termasuk sektor-sektor industri itu sendiri sebesar Rp 0,34 juta. Nilai keterkaitan langsung ke depan sektor-sektor lainnya dapat dilihat pada Tabel 5.7

5.2.2. Keterkaitan Langsung ke Belakang

Berdasarkan Tabel 5.7, nilai keterkaitan langsung ke belakang terbesar adalah sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 0,74. Industri pemintalan memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang sebesar 0,64 yang berarti jika terjadi

peningkatan terhadap permintaan akhir sebesar Rp 1 juta di sektor industri pemintalan, maka akan meningkatkan permintaan input sebesar Rp 0,64 juta dari sektor-sektor lainnya yang menyediakan input secara langsung termasuk sektor itu sendiri. Sedangkan untuk sektor industri tekstil, pakaian dan kulit memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang sedikit lebih besar dari industri pemintalan yaitu 0,65. Tabel 5.7 juga memperlihatkan nilai keterkaitan langsung ke belakang sektor-sektor lainnya.

Tabel 5.7. Nilai Keterkaitan Output Sektor Perekonomian Indonesia, Tahun 2003

Sektor Keterkaitan Langsung

ke Depan Keterkaitan Langsung ke Belakang Pertanian 0,4466 0,2500 Pertambangan 0,6058 0.1882 Industri Pemintalan 0,4182 0,6395

Industri tekstil, pakaian dan kulit 0,3383 0,6523

Industri lainnya 1,7150 0,6403

Listrik, gas dan air bersih 0,2286 0,7378

Bangunan 0,0845 0,6619

Perdagangan, restoran dan hotel 0,6444 0,4194

Transportasi dan komunikasi 0,3886 0,5588

Keuangan,usaha bangunan dan jasa

perusahaan 0,4092 0,3370

Jasa-jasa 0,2748 0,4686

Total 5,5539 5,5539

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2003 (diolah)

5.3. Analisis Dampak Penyebaran

Analisis ini digunakan untuk melihat sejauh mana sektor industri TPT (pemintalan dan tekstil, pakaian dan kulit) memiliki distribusi manfaat terhadap sektor lainnya melalui mekanisme transaksi pasar input yang dapat dilihat dari koefisien penyebaran. Sedangkan untuk melihat kepekaan penyebaran sektor industri TPT terhadap sektor lainnya melalui mekanisme pasar output dapat dilihat dari nilai kepekaan penyebaran.

5.3.1. Koefisien Penyebaran

Tabel 5.8 menunjukkan nilai koefisien peyebaran terbesar berdasarkan klasifikasi 11 sektor adalah industri tekstil, pakaian dan kulit sebesar 1,23. Nilai koefisien yang lebih dari satu menunjukkan bahwa sektor industri tekstil, pakaian dan kulit memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya atau meningkatkan output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor industri tekstil, pakaian, dan kulit. Untuk nilai koefisien penyebaran terbesar kedua adalah sektor industri pemintalan yaitu sebesar 1,20.

Tabel 5.8. Nilai Koefisien dan Kepekaan Penyebaran Sektor Perekonomian Indonesia, Tahun 2003

Sektor Koefisien Penyebaran Kepekaan Penyebaran

Pertanian 0,7247 1,0974

Pertambangan 0,6604 1,0390

Industri Pemintalan 1,2016 0,8458

Industri tekstil, pakaian dan kulit 1,2292 0,7695

Industri lainnya 1,1155 2,3126

Listrik, gas dan air bersih 1,1146 0,6898

Bangunan 1,1818 0,5733

Perdagangan, restoran dan hotel 0,9032 1,1365

Transportasi dan komunikasi 1,0700 0,9232

Keuangan,usaha bangunan dan jasa

perusahaan 0,8248 0,8938

Jasa-jasa 0,9742 0,7191

Total 11.0000 11.0000

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2003 (diolah)

Nilai koefisien penyebaran merupakan keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang diboboti dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. Hal ini sesuai dengan hasil analisis yang telah dilakukan dimana sektor industri pemintalan dan industri tekstil, pakaian dan kulit memiliki nilai yang besar, baik dari keterkaitan langsung ke belakang maupun nilai koefisien penyebarannya.

5.3.2. Kepekaan Penyebaran

Kepekaan Penyebaran merupakan keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke depan yang diboboti dengan jumlah sektor yang ada kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. Berdasarkan Tabel 5.8 nilai kepekaan penyebaran terbesar adalah sektor industri lainnya sebesar 2,31. Nilai kepekaan penyebaran lebih dari satu menunjukkan bahwa sektor industri lainnya memiliki kemampuan untuk mendorong pertumbuhan produksi sektor hilirnya yang memakai input dari sektor ini. Hal tersebut juga sesuai dengan hasil dari keterkaitan langsung ke depan yang menunjukkan industri lainnya memiliki nilai yang terbesar.

Industri pemintalan dan industri tekstil, pakaian dan kulit sendiri memiliki nilai kepekaan penyebaran kurang dari satu yaitu masing-masing sebsar 0,85 dan 0,77. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa kedua industri tersebut kurang mampu dalam mendorong produksi sektor hilirnya yang menggunakan input dari kedua sektor industri tersebut.

5.4. Analisis Pengganda (Multiplier)

Analisis multiplier digunakan untuk melihat dampak perubahan atau peningkatan permintaan akhir industri TPT (pemintalan dan tekstil, pakaian dan kulit) terhadap semua sektor yang ada tiap satu-satuan perubahan jenis pengganda. Ada dua tipe multiplier yang akan dianalisis dalam penelitian ini yaitu multiplier tipe I dan Tipe II yang digunakan untuk analisis multiplier output, multiplier pendapatan dan multiplier tenaga kerja. Multiplier tipe I akan diperoleh dari pengolahan lebih lanjut dari matriks kebalikan Leontief terbuka (lampiran 3),

sedangkan untuk multiplier tipe II diperoleh dari matriks kebalikan Leontief tertutup (lampiran 4) yang memasukkan rumah tangga sebagai variabel endogenous. Pada Tabel 5.9 dapat dilihat bahwa nilai multiplier tipe II akan selalu lebih besar dari multiplier tipe I, hal tersebut dikarenakan pada multiplier tipe II sudah memperhitungkan konsumsi rumah tangga.

Tabel 5.9. Nilai Multiplier Output, Pendapatan dan Tenaga Kerja Tipe I dan II pada Sektor Perekonomian Indonesia, Tahun 2003

Multiplier Output Multiplier

Pendapatan

Multiplier Tenaga

Kerja

No Sektor

Tipe I Tipe II Tipe I Tipe II Tipe I Tipe II

1 Pertanian 1,4527 2,0312 1,3806 1,8644 1,1997 1,3565

2 Pertambangan 1,3239 1,5170 1,4565 1,7692 2,2790 3,6687

3 Industri

Pemintalan 2,4088 2,8567 3,8343 5,0730 12,6509 17,8720

4 Industri tekstil,

pakaian dan kulit 2,4641 2,9624 2,2767 2,7909 23,4541 34,9381

5 Industri lainnya 2,2362 3,4094 2,6225 4,3737 5,1124 8,8015

6 Listrik, gas dan

air bersih 2,2343 2,5502 3,0994 3,8460 6,6691 10,3687 7 Bangunan 2,3692 3,2764 2,1002 2,9334 3,2010 5,0710 8 Perdagangan, restoran dan hotel 1,8106 2,5883 1,7496 2,4666 1,6446 2,3125 9 Transportasi dan komunikasi 2,1450 2,7781 2,4907 3,3396 2,2391 3,1063 10 Keuangan,usaha bangunan dan jasa prshaan 1,6534 2,3346 1,4492 1,8478 4,4634 9,1789 11 Jasa-jasa 1,9530 2,7180 1,5107 1,8626 1,6003 2,0992

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2003 (diolah)

5.4.1. Multiplier Output

Nilai multiplier output tipe I dan tipe II dapat dilihat pada Tabel 5.9. Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai multiplier tipe I terbesar adalah industri tekstil, pakaian dan kulit yaitu 2,46 artinya jika terjadi peningkatan permintaan akhir di sektor industri tekstil, pakaian dan kulit sebesar Rp 1 juta maka output di seluruh sektor perekonomian akan meningkat sebesar Rp 2,46 juta. Untuk multiplier tipe

II, industri tekstil, pakaian dan kulit memiliki nilai sebesar 2,96 yang berarti jika terjadi peningkatan konsumsi rumah tangga yang bekerja pada sektor industri tekstil, pakaian dan kulit sebesar Rp 1 juta maka akan meningkatkan output diseluruh sektor perekonomian sebesar Rp 2,96 juta. Sedangkan untuk sektor industri pemintalan memiliki nilai multiplier output tipe I dan tipe II masing-masing sebesar 2,41 dan 2,86.

5.4.2. Multiplier Pendapatan

Tabel 5.9 juga memperlihatkan multiplier pendapatan, untuk nilai tipe I

Dokumen terkait