Bab 2 Kondisi Kependudukan Kota Yogyakarta
2.2 Komposisi Penduduk
2.2.6 Perkawinan Usia Anak
Kematian ibu dilaporkan meningkat 2-4 kali lipat pada kehamilan usia dini dibandingkan dengan kehamilan di atas usia 20 tahun. Badan Pusat Statistik melaporkan pada 2016, sekitar 26,16% perempuan yang melahirkan anak pertama mereka berada pada usia di bawah 20 tahun. Dengan kata lain, lebih dari seperempat perempuan usia subur di Indonesia, melahirkan pada usia di bawah 20 tahun.
Perkawinan usia anak merupakan masalah serius di mana akan berujung pada kehamilan anak, yang selanjutnya, anak akan melahirkan anak. Kehamilan atau persalinan pada usia sangat dini akan berisiko si ibu mempunyai anak terlalu banyak dan jarak antara kehamilan yang terlalu dekat. Ini terjadi karena mereka memiliki masa usia subur yang lebih panjang dibandingkan bila mereka menikah pada usia dewasa. Selain masalah kesehatan, pernikahan usia anak akan membawa dampak atau permasalahan dalam hal pemenuhan hak anak baik pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Tingginya angka perkawinan anak tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan, kemiskinan, norma sosial budaya dan
25
keluarga didominasi oleh peran ayah. Norma itu, misalnya, pemahaman atau rasa malu jika anak perempuan mereka terlambat menikah atau menikahkan cepat untuk menghindari perzinahan.
Tabel 2.12 Persentase Istri yang Menikah pada Usia < 21 Tahun dan Suami yang Menikah pada Usia < 25 Tahun Kecamatan Istri (<21 tahun) Suami (<25 tahun)
Mantrijeron 176 209
Kraton 357 398
Mergangsan 502 644
Umbulharjo 702 816
Kotagede 943 1.077
Gondokusuman 754 884
Danurejan 1.610 1.809
Pakualaman 647 742
Gondomanan 444 470
Ngampilan 810 925
Wirobrajan 545 591
Gedongtengen 1.026 1.187
Jetis 334 400
Tegalrejo 823 923
Kota Yogyakarta 9.673 11.075
Sumber: Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Yogyakarta, 2017
Berdasarkan Tabel 2.12, jumlah Pasangan Usia Muda yang menikah pada usia muda di Kota Yogyakarta pada tahun 2017 sebanyak 20.748 orang dengan rician untuk jumlah istri yang
26
menikah dengan usia di bawah 21 tahun sebanyak 9.673 orang dan suami yang menikah dengan usia di bawah 25 tahun sebanyak 11.075 orang. Pasangan Usia Subur dikatakan menikah pada usia muda, apabila istri menikah pada usia kurang dari 21 tahun dan suami menikah pada usia kurang dari 25 tahun. Istri yang menikah pada usia kurang dari 21 tahun di Kota Yogyakarta tertinggi di Kecamatan Danurejan yaitu sejumlah 1.610 orang. Sedangkan suami yang menikah pada usia kurang dari 25 tahun di Kota Yogyakarta data tertinggi juga di Kecamatan Danurejan, sejumlah 1.809 orang. Selain Kecamatan Danurejan, istri yang menikah pada usia kurang dari 21 tahun dan suami yang menikah pada usia kurang dari 25 tahun datanya tercatat tinggi juga di Kecamatan Gedongtengen dan Kecamatan Kotagede. Data untuk kecamatan Gedongtengen jumlah istri yang menikah pada usia kurang dari 21 tahun sebanyak 1.026 orang dan suami yang menikah pada usia di bawah 25 tahun sebanyak 1.187 orang, sedangkan untuk kecamatan Kotagede, jumlah istri yang menikah pada usia di bawah 21 tahun sebanyak 943 orang dan suami yang menikah pada usia di bawah usia 25 tahun sebanyak 1.077 orang.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi angka kelahiran adalah pemakaian alat kontrasepsi. Pemakaian kontrasepsi dapat mempengaruhi jumlah kelahiran dengan cara menghambat terjadinya konsepsi. Pasangan usia subur yang ingin mengendalikan kelahiran diharapkan menjadi peserta KB aktif dengan cara menggunakan alat kontrasepsi jenis tertentu sesuai pilihan kebutuhan. Ada berbagai macam/cara/obat yang dapat digunakan untuk menghambat konsepsi, seperti IUD, implant, suntik, pil, MOP, MOW dan kondom. Berdasarkan Tabel 2.13, jumlah PUS yang memilih menggunakan IUD dari tahun 2014 sampai 2018 cukup tinggi. Pada tahun 2014, pengguna KB suntik lebih tinggi dibandingkan kontrasepsi lain, yaitu sejumlah 11.309. Namun pada tahun 2015, pengguna IUD tercatat 10.926,
27
dan jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan PUS yang menggunakan kontrasepsi suntikan yang tercatat 10.729. Dari tahun 2015 sampai 2018, kontrasepsi suntik menjadi metode kedua yang banyak digunakan oleh PUS, dan metode ketiga setelah kontrasepsi suntik yang banyak digunakan oleh PUS adalah kondom. Tingginya minat dan kesadaran PUS untuk memakai alat kontrasepsi tertentu, khususnya IUD tidak terlepas dari faktor pelayanan yang memadai.
Tabel 2.13 Jumlah Peserta KB Aktif Per Mix Kontrasepsi di Kota Yogyakarta, 2014-2018
Jenis KB Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 IUD 10.885 10.926 10.614 9.817 9.130 MOW 2.115 2.030 1.910 1.832 1.797
MOP 219 217 209 200 198
Kondom 6.320 6.049 5.619 5.232 5.651
Implan 1.031 1.015 949 825 840
Suntikan 11.309 10.729 9.985 8.555 7.634 Pil 4.022 3.852 3.418 3.118 2.203 Jumlah 47.050 34.818 32.704 29.579 27.453 Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2015–2019
29
3 Kesehatan
Peningkatan kesehatan adalah salah satu indikator peningkatan kualitas penduduk. Salah satu tujuan pembangunan di bidang kesehatan adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta mengupayakan agar semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Untuk meningkatkan kualitas kesehatan penduduk, pemerintah berupaya menyediakan sarana dan prasarana kesehatan disertai tenaga kesehatan yang memadai baik kualitas maupun kuantitas.
3.1 Derajat Kesehatan Masyarakat
3.1.1 Angka Harapan Hidup (AHH)
Derajat kesehatan masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, diantaranya adalah angka harapan hidup saat lahir.
Indikator berikutnya yang menggambarkan derajat kesehatan masyarakat adalah Angka Harapan Hidup (AHH). AHH pada saat lahir (life expectancy at birth) adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu.
Selama periode 2015-2018, AHH Kota Yogyakarta menunjukkan perkembangan yang semakin meningkat. Pada tahun 2015 AHH
30
Kota Yogyakarta mencapai 74,25 tahun terus mengalami kenaikan hingga mencapai 74,45 tahun pada 2018.
Perkembangan AHH di Kota Yogyakarta dalam kurun waktu 2015-2018 menunjukkan peningkatan. Dari 74,25 di tahun 2015 meningkat menjadi 74,45 di tahun 2018. Angka 74,45 tersebut menggambarkan perkiraan rata-rata usia yang akan dijalani oleh seorang bayi yang lahir pada tahun 2018 hingga akhir hayatnya.
Capaian AHH dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu kesehatan, ekonomi, budaya dan pendidikan sehingga untuk mempertahankan dan meningkatkan capaian AHH diperlukan koordinasi dan sinkronisasi terhadap upaya-upaya dari berbagai faktor tersebut.
Indikator berikutnya adalah angka kesakitan. Angka kesakitan adalah penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan dan merasa terganggu dalam aktifitas sehari-hari (tidak dapat melakukan kegiatan secara normal seperti bekerja, sekolah atau kegiatan sehari-hari sebagaimana mestinya). Jika dilihat dari Gambar 3.3, angka kesakitan penduduk di kota Yogyakarta pada tahun 2018 adalah 13,04 persen. Sedangkan jika dilihat menurut jenis kelamin, angka kesakitan penduduk laki-laki tercatat 13,47 persen, nilai tersebut lebih tinggi dibanding angka kesakitan penduduk perempuan yaitu sebesar 12,38 persen.
Tabel 3.1 Perkembangan Angka Harapan Hidup di Kota Yogyakarta tahun 2015-2018
Tahun Angka Harapan Hidup
2015 74,25
2016 74,30
2017 74,35
2018 74,45
Sumber: Kota Yogyakarta Dalam Angka 2016-2019
31
Gambar 3.1 Grafik Angka Kesakitan Penduduk menurut Jenis Kelamin
Sumber: Susenas 2018
Tabel 3.2 Presentase Penduduk yang Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir di Kota Yogyakarta 2018 Tempat Berobat Jalan Persentase
RS Pemerintah 8,89
RS Swasta 28,29
Praktik Dokter/Bidan 9,71
Klinik/Praktik Dokter Bersama 12,32
Puskesmas/Pustu 43,23
Lainnya 3,46
Sumber: Susenas 2018
Jika dilihat dari data Tabel 3.2, penduduk Kota Yogyakarta pada tahun 2018 lebih banyak berobat jalan ke Puskesmas/Pustu,
32
setelah itu ke Rumah Sakit Swasta, dan ketiga ke Klinik/Praktik Dokter bersama. Penduduk yang berobat jalan ke Puskesmas/Pustu sebanyak 43,23 persen dari keseluruhan penduduk kota Yogyakarta, sedangkan untuk penduduk yang berobat jalan ke Rumah Sakit Swasta sebanyak 28,29 persen dan penduduk yang berobat jalan ke Klinik/Praktek Dokter Bersama sebanyak 12,32 persen. Penduduk yang berobat jalan ke Sakit Pemerintah menduduki peringkat ke empat yaitu sebesar 8,89 persen menjadi. Ada juga penduduk yang berobat ke tempat lain selain fasilitas kesehatan yang sudah disebutkan, sebanyak 3,46 persen.
Tabel 3.3 Persentase Penduduk yang Pernah Dirawat Inap dalam Setahun Terakhir menurut Tempat Rawat Inap di Kota Yogyakarta Tahun 2018
Tempat Rawat Inap Persentase
RS Pemerintah 26,03
RS Swasta 66,59
Puskesmas/Pustu 2,90
Praktik Dokter/Bidan 4,50
Sumber: Susenas 2018
Jika dilihat dari Tabel 3.3, penduduk lebih memilih untuk rawat inap di rumah sakit swasta dibanding rumah sakit pemerintah pada tahun 2018. Prosentase penduduk yang rawat inap di rumah sakit swasta sebanyak 66,59 persen, dan penduduk yang rawat inap di rumah sakit pemerintah sebanyak 26,03 persen.
Penduduk yang dirawat inap di puskesmas sebanyak 2,90 persen menduduki peringkat terakhir setelah praktik dokter/bidan yang tercatat 4,50 persen.
33
Tabel 3.4 Jumlah Kelurahan yang Memiliki Sarana Kesehatan menurut Kecamatan pada tahun 2018
Kecamatan Rumah
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka, 2019
Tabel 3.4 menunjukkan bahwa kecamatan yang memiliki rumah sakit terbanyak adalah Kecamatan Umbulharjo dan Kecamatan Gondokusuman, masing-masing memiliki 3 rumah sakit.
Kecamatan Wirobrajan memiliki 2 rumah sakit, dan kecamatan Mergangsan, Danurejan, Pakualaman, Gondomanan dan Tegalrejo masing-masing memiliki 1 rumah sakit. Untuk Rumas sakit bersalin, kecamatan Mantrijeron, Kotagede dan Danurejan
34
memiliki 2 rumah sakit bersalin. Untuk poliklinik terbanyak di kelurahan Gondokusuman sebanyak 5 poliklinik. Ada 2 kecamatan yang memiliki 2 puskesmas yaitu kecamatan Kotagede dan Gondokusuman, sedangkan untuk 12 kecamatan lain masing-masing memiliki 1 puskesmas. Untuk puskesmas pembantu terbanyak di kecamatan Umbulharjo dan kecamatan Tegalrejo yang masing-masing memiliki 2 pustu. Dan terakhir untuk apotek, kecamatan yang memiliki apotek terbanyak yaitu sebanyak 6 apotek adalah kecamatan Umbulharjo, diikuti olek kecamatan Gondokusuman yang memiliki 5 apotek dan urutan ketiga adalah kecamatan Tegalrejo yang memiliki 4 apotek.
Tabel 3.5 Banyaknya Dokter Spesialis, Dokter Umum, dan Dokter Gigi Spesialis di Sarana Pelayanan Kesehatan Kota Yogyakarta 2018
Unit Kerja Dokter
Spesialis Dokter
Umum Dokter Gigi
Dokter Gigi Spesialis
Puskesmas 0 77 32 1
Rumah Sakit 669 268 112 52
Sarana Kesehatan Lain 31 301 65 56
Total 700 646 209 109
2017 669 573 161 80
2016 593 460 134 78
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka, 2019
35
Tabel 3.6 Banyaknya Rumah Sakit, Puskesmas, menurut Kecamatan di Kota Yogyakarta 2018
Kecamatan RSU
Pus-kesmas
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka, 2019
Tabel 3.5 menunjukkan banyaknya dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi dan dokter gigi spesialis di kota Yogyakarta.
Untuk tahun 2018, jumlah terbanyak untuk dokter spesialis di kota Yogyakarta, yaitu sejumlah 700 dokter, dengan rincian 669 dokter di Rumah Sakit dan 31 dokter di sarana kesehatan lain, dan tidak ada dokter spesialis yang bertugas di Puskesmas. Dokter
36
terbanyak kedua di Kota Yogyakarta setelah Dokter Spesialis adalah Dokter Umum, yaitu sejumlah 646 dokter, dengan rincian 268 dokter umum yang bertugas di rumah sakit, 77 dokter umum bertugas di puskesmas, dan tertinggi adalah Dokter Umum yang bertugas di sarana kesehatan lain yaitu sebanyak 301 dokter umum. Untuk jumlah dokter ketiga terbanyak di Kota Yogyakarta adalah Dokter Gigi, yaitu sejumlah 209 dokter gigi, dengan rincian 112 dokter gigi bertugas di rumah sakit, 32 dokter gigi bertugas di puskesmas dan 65 dokter gigi di sarana kesehatan lain.
Tabel 3.7 Banyaknya Rumah Sakit, Puskesmas di Kota Yogyakarta 2015-2018
Tahun RSU Puskesmas Puskesmas
Pembantu Klinik/Balai Kesehatan
2014 9 18 11 39
2015 9 18 9 76
2016 20 18 9 85
2017 21 18 8 64
2018 21 18 8 92
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka, 2015–2019
Tabel 3.6 menunjukkan banyaknya fasilitas kesehatan berupa Rumah Sakit Umum, Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Klinik/Balai Kesehatan per kecamatan di Kota Yogyakarta.
Sedangkan Tabel 3.7 menunjukkan banyaknya Rumah Sakit Umum, Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Klinik/Balai Kesehatan per tahun 2015–2018 di Kota Yogyakarta. Fasilitas kesehatan terbanyak pada tahun 2018 di Kota Yogyakarta adalah Klinik/Balai Kesehatan sebanyak 92 klinik/balai kesehatan, dan kecamatan yang memiliki Klinik/Balai Kesehatan terbanyak adalah kecamatan Gondokusuman, yang memiliki 29 klinik/balai
37
kesehatan. Kecamatan dengan Klinik/Balai kesehatan kedua terbanyak adalah Kecamatan Jetis yang memiliki 10 klinik/balai kesehatan. Sedangkan untuk Kecamatan Mantrijeron dan Mergangsan, masing-masing memiliki 9 klinik/balai kesehatan.
Fasilitas kesehatan kedua terbanyak di Kota Yogyakarta adalah Rumah Sakit Umum, yaitu sebanyak 21 rumah sakit. Ada 2 kecamatan yang memiliki Rumah Sakit terbanyak yaitu sebanyak 2 rumah sakit, masing-masing Kecamatan Umbulharjo dan Gondokusuman. Kecamatan Wirobrajan mendduduki urutan kedua dengan 3 rumah sakit, setelah itu Kecamatan Kotagede yang memiliki 2 Rumah Sakit.
Banyaknya fasilitas kesehatan, selain Puskesmas dan Pustu, dari tahun ke tahun semakin bertambah. Jika dilihat dari Tabel 3.7, jumlah puskesmas dari tahun 2014–2018 tetap sama yaitu 18 puskesmas, sedang untuk Pustu mengalami penurunan, tahun 2014 kota Yogyakarta memiliki 11 pustu, berkurang menjadi 9 Pustu pada tahun 2015 dan 2016, berkurang lagi menjadi 8 Pustu pada tahun 2017 dan 2018. Fasilitas kesehatan yang banyak mengalami perubahan adalah klinik/balai kesehatan, pada tahun 2014 Kota Yogyakarta memiliki 39 klinik/balai kesehatan, meningkat lagi pada tahun 2015 menjadi 76 klinik/balai kesehatan, bertambah lagi pada tahun 2016 menjadi 85 klinik/balai kesehatan, sempat turun pada tahun 2017 menjadi 64 klinik/balai kesehatan, dan pada tahun 2018 jumlah klinik/balai kesehatan bertambah semakin banyak yaitu sejumlah 92 klinik/balai kesehatan. Jumlah Rumah Sakit Umum cenderung bertambah dari tahun 2014 ke 2018. Tahun 2014 dan 2015, Kota Yogyakarta memiliki 9 RSU, bertambah lagi pada tahun 2016 menjadi 20 RSU, dan pada tahun 2017 dan 2018, Kota Yogyakarta memiliki 21 RSU.
38
Tabel 3.8 Banyaknya Dokter Praktek menurut Kecamatan dan Bidangnya di Kota Yogyakarta 2018
Kecamatan Spesialis Umum Gigi Jumlah
Mantrijeron 8 9 3 20
Kraton 0 8 2 10
Mergangsan 2 6 2 10
Umbulharjo 8 18 15 41
Kotagede 7 5 6 18
Gondokusuman 3 11 22 36
Danurejan 6 3 6 15
Pakualaman 9 3 2 14
Gondomanan 0 3 3 6
Ngampilan 0 2 1 3
Wirobrajan 1 2 23 26
Gedongtengen 0 0 2 2
Jetis 14 8 2 24
Tegalrejo 4 4 3 11
Kota Yogyakarta 62 82 92 236
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2019
Dari Tabel 3.8 dapat dilihat bahwa Kota Yogyakarta pada tahun 2018 memiliki jumlah dokter praktek sebanyak 236 orang dokter, dengan jumlah dokter praktek terbanyak yaitu dokter gigi sebanyak 92 dokter, kemudian dokter umum sebanyak 82 dokter dan dokter spesialis sebanyak 62 dokter. Kecamatan yang memiliki jumlah dokter praktek terbanyak adalah kecamatan Umbulharjo, yaitu sebanyak 41 dokter, dengan rincian 18 dokter umum, 15 dokter gigi dan 8 dokter spesialis. Kecamatan yang memiliki jumlah dokter praktek kedua terbanyak adalah Kecamatan Gondokusuman yaitu sebanyak 36 dokter, dengan 22
39
dokter gigi, 11 dokter umum dan 3 dokter spesialis. Dan yang memiliki jumlah dokter praktek ketiga terbanyak adalah Kecamatan Wirobrajan, dengan 23 dokter gigi, 2 dokter umum dan 1 dokter spesialis. Dari keseluruh Kecamatan di Kota Yogyakarta, kecamatan yang memiliki dokter praktek paling sedikit adalah Kecamatan Gedongtengen yang memiliki 2 dokter yang keduanya adalah dokter gigi.
Tabel 3.9 Banyaknya Dokter Praktek menurut Bidangnya di Kota Yogyakarta 2014–2018
Tahun Spesialis Umum Gigi Jumlah
2014 67 106 54 227
2015 85 98 59 242
2016 60 69 55 184
2017 61 84 98 243
2018 62 82 92 236
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2015-2019
Tabel 3.10 Banyaknya Tempat Tidur, Pasien Rawat Jalan dan Pasien Rawat Inap pada Rumah Sakit Negeri dan Rumah Sakit Swasta di Kota Yogyakarta, 2018
Status Rumah Sakit Kapasitas
Tempat Tidur Pasien Rawat
Jalan Pasien Rawat Inap
Rumah Sakit Negeri 273 200.028 12.318
Rumah Sakit Swasta 1.394 1.092.775 66.195
Jumlah 1.667 1.292.803 78.513
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2019
40
Jika dilihat dari dokter praktek menurut bidangnya per kecamatan, dokter spesialis terbanyak ada di Kecamatan Jetis yang tercatat memiliki 14 dokter praktek. Untuk dokter umum terbanyak ada di Kecamatan Umbulharjo yaitu sebanyak 18 dokter praktek, dan prakter dokter gigi terbanyak ada di Kecamatan Gondokusuman.
Jika dilihat perkembangan banyaknya dokter praktek di Kota Yogyakarta dari tahun ke tahun, dari tahun 2014 sampai 2018, pada tahun 2014 jumlah dokter praktek di kota Yogyakarta sebanyak 227 dokter, dengan jumlah terbanyak adalah dokter umum sebanyak 106 dokter. Kemudian pada tahun 2015 jumlah dokter praktek meningkat menjadi 242 dokter, dan dokter praktek terbanyak juga dokter umum sebanyak 98 dokter. Pada tahun 2016, jumlah dokter praktek di Kota Yogyakarta turun menjadi 184 dokter, dan jumlah dokter terbanyak adalah dokter umum yaitu sebanyak 69 dokter. Pada tahun 2017 jumlah dokter praktek kembali bertambah menjadi 243 dokter dan dokter terbanyak pada tahun ini adalah dokter gigi yaitu sebanyak 98 dokter. Pada tahun 2018 jumlah dokter praktek kembali menurun menjadi 236 dokter, dan dokter praktek terbanyak untuk dokter gigi yaitu 92 dokter.
Pada tahun 2018, kapasitas tempat tidur di Rumah Sakit Negeri di Kota Yogyakarta sebanyak 273 buah, sedangkan untuk kapasitas tempat tidur di Rumah Sakit Swasta di Kota Yogyakarta jumlahnya 5 kali lebih banyak dibandingkan Rumah Sakit Negeri yaitu sebanyak 1.394 buah. Untuk pasien rawat jalan di Kota Yogyakarta yang berobat di Rumah Sakit Neger sebanyak 200.028 pasien, dan pasien rawat inap sebanyak 12.318 pasien. Sedangkan untuk pasien rawat jalan di Rumah Sakit Swasta di Kota Yogyakarta yaitu sebanyak 1.092.775 dan pasien rawat inap sebanyak 66.175. Dari perbedaan yang sangat fantastis, untuk jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap, antara Rumah Sakit
41
Negeri dan Rumah Sakit Swasta ini menunjukkan bahwa kebanyakan penduduk Kota Yogyakarta lebih memilih untuk melakukan pengobatan rawat jalan dan rawat inap di Rumah Sakit Swasta dibandingkan ke Rumah Sakit Negeri.
Tabel 3.11 Banyaknya Tempat Tidur, Pasien Rawat Jalan dan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Negeri dan Rumah Sakit Swasta di Kota Yogyakarta, 2014–2018
Tahun Kapasitas
Tempat Tidur Pasien Rawat
Jalan Pasien Rawat Inap
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2019
Sedangkan jika dilihat perkembangannya dari tahun ke tahun mulai dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2018, kapasitas tempat tidur baik di rumah sakit swasta dan rumah sakit negeri mengalami naik turun jumlahnya. Tahun 2014 jumlah kapasitas tempat tidur di rumah sakit swasta dan rumah sakit negeri sebanyak 1.656, turnun menjadi 1.611 pada tahun 2015, naik cukup banyak pada tahun 2016 menjadi 1.811, pada tahun 2017 juga mengalami kenaikan dengan jumlah kapasitas tempat tidur menjadi 1.862, namun pada tahun 2018 jumlahnya turun kembali menjadu 1.667. Untuk jumlah pasien rawat jalan terbanyak yaitu pada tahun 2016, sebanyak 1.366.413 pasien berobat ke rumah sakit swasta dan negeri di Kota Yogyakarta, dan paling sedikit pada tahun 2017, sebanyak 35.911 pasien rawat jalan di rumah sakit swasta dan negeri di Kota Yogyakarta. Pasien rawat inap di
42
rumah sakit swasta dan negeri di Kota Yogyakarta terbanyak juga pada tahun 2016 sebanyak 91.607 pasien rawat inap, dan paling sedikit pada tahun 2017 sebanyak 8.073 pasien rawat inap.
Tabel 3.12 Banyaknya Apotek dan Toko Obat menurut Kecamatan di Kota Yogyakarta, 2018
Kecamatan Apotek Toko Obat
Mantrijeron 19 1
Kraton 5 0
Mergangsan 8 1
Umbulharjo 26 1
Kotagede 17 1
Gondokusuman 15 7
Danurejan 2 1
Pakualaman 5 0
Gondomanan 3 5
Ngampilan 5 2
Wirobrajan 9 0
Gedongtengen 5 3
Jetis 8 0
Tegalrejo 6 0
Jumlah 133 22
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2019
43
Tabel 3.13 Banyaknya Apotek dan Toko Obat di Kota Yogyakarta, 2014-2018
Tahun Apotek Toko Obat
2014 119 23
2015 128 25
2016 127 27
2017 130 29
2018 133 22
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2018–2019
Pada tahun 2018, sesuai Tabel 3.13, Kota Yogyakarta memiliki 133 apotek dengan apotek terbanyak beraa di Kecamatan Umbulharjo, sebanyak 26 apotek, jumlah apotek kedua di bawah Kecamatan Umbulharjo adalah Kecamatan Mantrijeron sebanyak 19 apotek, dan ketiga adalah Kecamatan Kotagede yang memiliki 17 apotek.
Kecamatan yang memiliki jumlah apotek paling sedikit adalah Kecamatan Danurejan yang memiliki 2 apotek. Untuk toko obat, Kota Yogyakarta pada tahun 2018 memiliki 22 toko, yang terbanyak ada di Kecamatan Gondokusuman sebanyak 7 toko obat, terbanyak kedua di Kecamatan Gondomanan sebanyak 5 toko obat, dan terbanyak ketiga ada di Kecamatan Gedongtengen yaitu sebanyak 3 toko obat. Untuk perkembangannya dari tahun ke tahun, jumlah apotek di Kota Yogyakarta dari tahun 2014 ke 2015 meningkat dari 119 apotek menjadi 128 apotek, kemudian berkurang menjadi 127 apotek pada tahun 2016, bertambah lagi menjadi 130 apotek pada tahun 2017 dan pada tahun 2018 Kota Yogyakarta memiliki 133 apotek. Sedangkan untuk perkembangan toko obat dari tahun ke tahun, Kota Yogyakarta
44
memiliki 23 toko obat pada tahun 2014, kemudian bertambah menjadi 25 toko obat pada tahun 2015, bertambah lagi menjadi 27 toko obat pada tahun 2016, bertambah menjadi 29 toko obat pada tahun 2017, dan pada tahun 2018 toko obat di Kota Yogyakarta berkurang menjadi 22 toko obat.
Tabel 3.14 Jumlah Kasus HIV/AIDS, DBD, Diare, TB dan Malaria menurut Kecamatan di Kota Yogyakarta, 2018
Kecamatan HIV*) AIDS*) DBD Diare TB Malaria
Mantrijeron 0 0 7 749 31 0
Kraton 0 0 1 370 40 0
Mergangsan 0 0 10 601 38 0
Umbulharjo 0 0 25 1619 110 0
Kotagede 0 0 20 590 34 0
Gondokusuman 0 0 11 638 59 0
Danurejan 0 0 1 798 31 0
Pakualaman 0 0 0 398 11 0
Gondomanan 0 0 5 338 30 0
Ngampilan 0 0 10 442 25 0
Wirobrajan 0 0 6 518 35 0
Gedongtengen 0 0 6 796 34 0
Jetis 0 0 5 916 43 0
Tegalrejo 0 0 6 984 43 0
Bukan KTP Yogyakarta 0 0 0 0 379 0
Kota Yogyakarta 161 13 113 9757 943 0
*) Hanya tersedia data total
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2016-2019
45
Tabel 3.15 Jumlah Kasus HIV/AIDS, DBD, Diare, TB dan Malaria di Kota Yogyakarta, 2014–2018
Kecamatan HIV AIDS DBD Diare TB Malaria
2018 161 13 113 9.757 943 0
2017 157 4 414 9.299 939 0
2016 168 40 1.705 11.105 1.001 0
2015 59 22 1.564 10.151 355 0
2014 96 29 418 10.634 501 0
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2016-2019
Tabel 3.14 dan Tabel 3.15 menunjukkan jumlah kasus penyakit HIV/AIDS, DBD, Diare, TB dan Malaria di Kota Yogyakarta. Pada tahun 2018, jumlah kasus penyakit terbanyak yaitu untuk penyakit diare, sebanyak 9.757 kasus, dan paling sedikit untuk Malaria dengan 0 kasus. Untuk HIV dan AIDS hanya tersedia data total, untuk tahun 2018 kasus HIV di Kota Yogyakarta total sebanyak 161 kasus, sedangkan AIDS total 13 kasus. Dari total 113 kasus DBD pada tahun 2018 di Kota Yogyakarta, kecamatan dengan kasus penyakit DBD terbanyak adalah Kecamatan Umbulharjo sebanyak 25 kasus, terbanyak kedua di Kecamatan Kotagede sebanyak 20 kasus, dan terbanyak ketiga di Kecamatan Gondokusuman. Sedangkan untuk kasus diare di Kota Yogyakarta, kecamatan terbanyak yang mengalami kasus penyakit ini adalah Kecamatan Umbulharjo sebanyak 1.619 kasus, terbanyak kedua berada di Kecamatan Tegalrejo sebanyak 984 kasus, dan terbanyak ketiga di Kecamatan Jetis sebanyak 916 kasus.
Kasus kedua terbanyak di Kota Yogyakarta pada tahun 2018 adalah kasus TB, terbanyak adalah kasus untuk penduduk Bukan KTP Kota Yogyakarta, sebanyak 379 kasus, terbanyak kedua ada
46
di Kecamatan Umbulharjo sebanyak 110 kasus, dan terbanyak ketiga di Kecamatan Gondokusuman sebanyak 59 kasus.
Tabel 3.16 Jumlah Klinik Keluarga Berencana (KKB) dan Pos Pelayanan Keluarga Berencana Desa (PPKBD) Menurut Kecamatan di Kota Yogyakarta, 2018
Kecamatan KKB PPKBD
Mantrijeron 2 3
Kraton 1 3
Mergangsan 3 3
Umbulharjo 8 7
Kotagede 6 3
Gondokusuman 9 5
Danurejan 4 3
Pakualaman 1 2
Gondomanan 2 2
Ngampilan 4 2
Wirobrajan 3 3
Gedongtengen 1 2
Jetis 2 3
Tegalrejo 5 4
Jumlah 51 45
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2019
Untuk perkembangan kasus penyakit di Kota Yogyakarta dari tahun ke tahun, mulai dari tahun 2014, kasus HIV sebanyak 96
47
kasus, kasus AIDS sebanyak 29 kasus, kasus DBD sebanyak 418 kasus, diare sebanyak 10.634 kasus, TB sebanyak 501 kasus, dan untuk khusus untuk penyakit Malaria, tidak ditemukan kasusnya dari tahun 2014 sampai tahun 2018. Pada tahun 2015, kasus HIV turun sangat signifikan menjadi 59 kasus, AIDS juga menurun kasusnya menjadi 22 kasus, untuk kasus DBD di tahun ini naik 3 kali lipat menjadi 1.564 kasus, kasus diare sedikit turun menjadi 10.151 kasus, TB turun menjadi 355 kasus. Pada tahun 2016,
kasus, kasus AIDS sebanyak 29 kasus, kasus DBD sebanyak 418 kasus, diare sebanyak 10.634 kasus, TB sebanyak 501 kasus, dan untuk khusus untuk penyakit Malaria, tidak ditemukan kasusnya dari tahun 2014 sampai tahun 2018. Pada tahun 2015, kasus HIV turun sangat signifikan menjadi 59 kasus, AIDS juga menurun kasusnya menjadi 22 kasus, untuk kasus DBD di tahun ini naik 3 kali lipat menjadi 1.564 kasus, kasus diare sedikit turun menjadi 10.151 kasus, TB turun menjadi 355 kasus. Pada tahun 2016,