• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 5 Hasil dan Pembahasan

2. Pembahasan

2.3 Perkembangan Anak Prasekolah

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat dilihat bahwa mayoritas anak prasekolah di Taman Kanak-kanak Kasih Ibu PTPN IV AFD 8-9 memiliki perkembangan yang baik. Lebih dari jumlah seluruh anak prasekolah memiliki perkembangan yang baik yaitu sebanyak 26 anak dari responden (83,9%) dan minoritas anak prasekolah memiliki perkembangan yang kurang yaitu sebanyak 1 anak dari responden (3,2%). Penulis berasumsi bahwa hasil ini berhubungan dengan mayoritas ibu yang merupakan ibu rumah tangga (IRT).

Einon (2005) mengatakan bahwa mainan, buku, atau lingkungan fisik bukanlah hal yang paling penting bagi anak. Hal yang paling berharga adalah lingkungan sosialnya. Ibu bisa saja memenuhi rumah dengan mainan dan mengisi harinya dengan berbagai aktivitas. Namun bila ibu tidak terlibat dalam kegiatan si anak, maka sedikit sekali manfaat yang akan didapat. Harus diingat bahwa perkembangan kreativitas yang bersifat membangun adalah bagaimana interaksi dalam keluarga dan bagaimana anak membangun kepercayaan dirinya, bukan pada banyaknya mainan mahal di lemari. Ibu bisa saja memenuhi rumah dengan mainan dan mengisi harinya dengan berbagai aktivitas. Namun, bila anak tidak terlibat dalam kegiatan si anak, maka sedikit manfaat yang akan didapat.

Febry, Prawitasari, dan Yuriestien (2009) menyatakan dengan pendapat mereka bahwa perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh peranan lingkungan dan interaksi dengan orang tua. Tanpa disertai suasana hangat penuh kasih sayang yang mendasari terjalinnya hubungan batin dan kedekatan emosi antara orang tua dan si kecil, proses tumbuh kembang tidak akan berjalan optimal.

Interaksi antara anak dan orang tua, terutama peranan ibu sangat bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orang tua dapat segera mengenali kelainan proses perkembangan anaknya sedini mungkin dan memberikan stimulus pada tumbuh kembang anak yang

menyeluruh dalam aspek fisik, mental dan sosial (Hurlock, 1999 dalam Hakim, 2003).

Darsana (2009) juga menambahkan peran dan kehadiran orang tua sangat dibutuhkan pada masa awal-awal tumbuh kembang anak, mengingat sebagian besar waktu anak dihabiskan dilingkungan rumah. Tumbuh kembang anak tidak mengenal waktu, senantiasa membutuhkan stimulus, respon, dan arahan setiap waktu. Hal ini juga ditambahkan oleh Mutiah (2010) yang mengatakan bahwa peran aktif ibu terhadap perkembangan anak-anaknya sangat diperlukan terutama pada saat mereka masih berada di bawah usia lima tahun (batita).

Selain itu, penulis juga berasumsi bahwa hasil penelitian ini juga berhubungan dengan tingkat pengetahuan ibu yang dikatakan baik. Namun akan memungkinkan perkembangan anak akan terganggu jika ibu tidak mengetahui manfaat bermain terhadap anak. Menurut Gunarsa (2003), permainan pada masa anak dapat menyalurkan perasaan-perasaan yang disembunyikan, dan dimana ada perasaan persaingan, misalnya permainan pertandingan. Permainan dengan peraturan-peraturan tertentu yang harus dipenuhi dan permainan sederhana seperti ludo. Permainan juga memberikan suatu kesenangan di samping banyaknya aturan yang harus diingat. Melalui permainan, anak diperkenalkan pada lingkungan sosial yang baru. Anak akan belajar berkenalan dengan “social control” yang dilakukan bersama pengawasan pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan-peraturan. Anak akan lebih mengerti dan menerima tentang kekalahan ataupun kemenangan. Namun

jika seorang ibu tidak mengerti tentang manfaat bermain terhadap perkembangan anak maka ibu akan cendrung untuk tidak mendukung si anak bermain dan dikhawatirkan akan mengganggu perkembangan mental dan sosial anak tersebut.

2.4 Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Manfaat Bermain dengan Perkembangan Anak Prasekolah

Hasil analisa statistik pearson product moment dalam penelitian ini menunjukkan adanya hubungan sedang dan bermakna dengan arah korelasi positif antara (p=0,001, r=0,540). Hipotesa alternatif (Ha) dalam penelitian ini diterima. Dimana ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang manfaat bermain dengan perkembangan anak usia prasekolah. Dengan demikian disimpulkan bahwa semakin baik pengetahuan ibu tentang manfaat bermain, maka perkembangan anak dari ibu tersebut semakin positif. Sebaliknya, semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat bermain, maka perkembangan anak dari ibu tersebut semakin negatif atau rendah.

Sesuai dengan pendapat Mutiah (2010) bermain pada awalnya belum mendapat perhatian khusus karena kurangnya pengetahuan tentang psikologi bermain pada anak dan kurangnya perhatian terhadap perkembangan anak. Perkembangan bermain berhubungan dengan perkembangan kecerdasan seseorang, maka taraf kecerdasan seseorang anak akan mempengaruhi kegiatan bermainnya. Artinya bila anak mempunyai taraf perkembangan kecerdasan di

bawah rata-rata, kegiatan bermain mengalami keterbelakangan dibandingkan anak lain yang seusia.

Pengetahuan ibu merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003). Hal untuk mendukung tumbuh kembang anak melalui bermain adalah ibu di tuntut untuk memiliki pengetahuan tentang aktivitas bermain yang sesuai dengan usia dan tumbuh kembang anak (Hakim, 2008).

Pengetahuan ibu tentang manfaat bermain dapat dilihat dari tanggapan ibu tentang bermain. Bila tanggapan ibu tersebut baik, maka ibu akan mendukung anaknya bermain untuk meningkatkan perkembangan anaknya. Febry, Prawitasari, dan Yuriestien (2009) juga menambahkan bahwa keberatan ibu terhadap aktivitas bermain anak akan menghambat perkembangan anak khususnya kemampuan kreativitas untuk mengenal diri dan lingkungan hidupnya. Bermain merupakan salah satu stimulus (perangsang) dari lingkungan yang dapat membantu memaksimalkan tumbuh kembang dan kecerdasan anak. Melalui bermain, anak dapat mengoptimalkan semua kemampuannya. Tentu saja, ibu punya peran penting dalam memilihkan kegiatan bermain yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan pastilah hal ini membutuhkan pengetahuan yang baik tentang manfaat bermain tersebut.

Ibu sangat penting mengetahui manfaat stimulasi bermain agar dapat berperan dalam perkembangan anaknya. Kurniasih (2008) dalam menambahkan bahwa untuk menjadikan anak cerdas, faktor stimulus menjadi

sangat penting, baik yang berkaitan dengan fisik maupun mental/emosional anak. Orang tua dapat memberikan stimulasi sejak buah hatinya masih dalam kandungan, saat lahir, sampai dia tumbuh besar. Tentu saja dengan intensitas dan bentuk stimulasi yang berbeda-beda pada setiap tahap perkembangannya.

Mulawi (2007) juga menegaskan dalam pendapatnya bahwa pemberian stimulasi yang teratur dan terus menerus akan menciptakan anak yang cerdas, bertumbuh kembang dengan optimal, mandiri serta memiliki emosi yang stabil dan mudah beradaptasi, melalui stimulasi anak dapat mencapai perkembangan optimal pada penglihatan, pendengaran, perkembangan bahasa, sosial, kognitif, gerak kasar, gerak halus, keseimbangan, koordinasi dan kemandirian. Peran seorang ibu/orang tua dalam pemberian stimulasi pada anaknya sangat besar, karena itu diperlukan pemahaman yang besar mengenai bermain.

Seorang ibu harus memahami manfaat bermain terhadap perkembangan anak karena ibu lah orang pertama yang memberikan pandidikan dan memahami, serta berperan dalam perkembangan anak prasekolah, salah satunya adalah berperan dalam kegiatan bermain anak. Salah satu ciri kegiatan bermain adalah mempunyai kualitas pura-pura. Ciri ini merupakan ciri khas yang menjadi indikasi paling kuat bahwa seseorang anak usia prasekolah sedang melakukan kegiatan bermain. Permainan dan bermain bagi anak juga mempunyai beberapa fungsi dalam proses tumbuh kembang anak. Fungsi bermain terhadap sensoris motoris anak penting untuk mengembangkan otot- ototnya dan energi yang ada (Mutiah, 2010).

Bab 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait