• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN DAN ANALISIS BELANJA WAJIB (MANDATORY SPENDING)

Industri pengolahan dengan nilai penyaluran Rp2,79 triliun (36,96 persen) merupakan concern pemerintah sebagai leading sector dalam meningkatkan perekonomian, menempati urutan kedua setelah sektor sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum. Diperlukan kebijakan pemerintah daerah dalam mendukung kemajuan industri pengolahan dalam penyaluran KUR dengan memberikan intensif yang dapat berupa bantuan tambahan subsidi bunga.

Para pelaku usaha di sektor pertanian dapat diberikan KUR dengan kebijakan yang sesuai dengan usahanya. Misalkan dapat diberikan grass period, skema subsidi bunga yang berbeda atau pembayaran cicilan hutang disesuaikan dengan masa panen dapat menjadi alternative yang mendorong penyaluran KUR di sektor pertanian.

Pada tabel menunjukkan rincian penyaluran KUR per skema per Bank penyalur di wilayah Sulawesi Selatan Tahun 2019. Total nilai KUR melalui skema mikro mencapai Rp5,52 triliun, Ritel sebesar Rp2,0 triliun, TKI hanya sebesar Rp328,38 juta dan UMI sebesar Rp32,58 miliar. Sementara jumlah debitur dan nilai KUR mikro terbesar disalurkan oleh Bank BRI dengan total KUR sebesar Rp4,41 triliun dengan total debitur sebanyak 224.075 nasabah.

Pada tabel merinci penyaluran KUR per kab/kota di Sulawesi Selatan tahun 2019. Tiga daerah

penerima KUR terbesar yaitu Kota Makassar, Kab. Bone dan Kab Wajo.

Kota Makasar sebagai penerima KUR terbesar berbanding lurus dengan data penyaluran KUR per sektor terbesar di perdagangan besar dan eceran. Sebagai ibu kota provinsi dan juga sebagai kota jasa, perekonomian ditopang oleh sektor tersebut.

3.8. PERKEMBANGAN DAN ANALISIS BELANJA WAJIB (MANDATORY

SPENDING) DAN BELANJA INFRASTRUKTUR PUSAT DI DAERAH

3.8.1. Mandatory Spending di Daerah

a. Belanja Sektor Pendidikan

Realisasi anggaran maupun capaian output strategis bidang Pendidikan secara umum sangat baik dengan range 70-100 persen. Capaian realisasi dan output untuk Program Indonesia Pintar (PIP), hingga akhir tahun 2019 persentase penyerapan anggaran hanya sebesar Rp.867 juta dari pagu sebesar Rp.1,23 miliar (74,80 persen). Hal ini disebabkan karena jumlah siswa yang akan menerima bantuan PIP kurang dari yang

ditargetkan sehingga dana yang tersedia tidak terserap secara maksimal. Rendahnya capaian output juga terjadi pada output Siswa SDTK penerima BOS (0 persen), dikarenakan tidak adanya penerima BOS dimaksud yang terdaftar pada Kantor Kementerian Agama Kota Makassar karena tidak adanya siswa yang memenuhi persyaratan penerima bantuan. Kedepan diharapkan pendataan terhadap siswa penerima bantuan lebih baik untuk bantuan PIP mapun BOS sehingga tidak terjadi lagi kelebihan pengalokasian bantuan agar target output dapat tercapai.

Tabel III.10 Capaian Output Strategis Bidang Prioritas Pendidikan 2019

No Output Prioritas Pagu Realisasi Output

Nominal % Target Capaian %

1 Program Indonesia Pintar (PIP) Santri Diniyah Formal/PPST Tk. Ula Penerima Bantuan PIP 40.500.000 36.900.000 91,11% 90 82 91,11% Santri Diniyah Formal/PPST Tk. Wustha Penerima Bantuan

PIP 615.000.000 584.250.000 95,00% 820 779 95,00% Santri Diniyah Formal/PPST Tk. Ulya Penerima Bantuan PIP 570.000.000 246.000.000 43,16% 570 246 43,16% Total PIP 1.225.500.000 867.150.000 70,76% 1.480 1.107 74,80% 2 Bidik Misi Bidik Misi PTKI 26.093.400.000 26.087.400.000 99,98% 2.557 2.557 100,00% Mahasiswa miskin penerima Bidik Misi 3.376.800.000 3.376.800.000 100,00% 268 268 100,00% Total Bidik Misi 29.470.200.000 29.464.200.000 99,98% 2.825 2.825 100,00% 3 Tunjangan Profesi Guru Guru Non PNS Penerima Tunjangan Profesi 151.610.414.000 149.321.022.970 98,49% 6.049 6.225 102,91% Guru PAI Non PNS Penerima Tunjangan Profesi 23.654.452.000 19.688.752.000 83,23% 634 672 105,99% Guru PA Hindu Non PNS Penerima Tunjangan Profesi 37.200.000 34.784.400 93,51% 1 1 100,00% Dosen Non PNS Penerima Tunjangan Profesi 7.650.000.000 7.649.711.400 100,00% 205 205 100,00% Total TPG 182.952.066.000 176.694.270.770 96,58% 6.889 7.103 103,11% 4 Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Sisw MI Penerim BOS 58.517.600.000 57.540.861.622 98,33% 73.147 72.847 99,59% Siswa MTs Penerima BOS 101.674.000.000 101.589.637.124 99,92% 101.664 100.721 99,07% Siswa MA Penerima BOS 74.468.800.000 73.547.521.858 98,76% 53.419 52.965 99,15% Siswa SDTK Penerima BOS 45.600.000 - 0,00% 57 - 0,00% Siswa SMPTK Penerima BOS 61.000.000 55.000.000 90,16% 61 61 100,00% Siswa SMTK Penerima BOS 141.400.000 106.400.000 75,25% 101 76 75,25% Santri Diniyah Formal/PPS Tk Ula Penerima BOS 120.000.000 89.200.000 74,33% 150 118 78,67% Santri Diniyah Formal/PPS Tk Wustha Penerima BOS 1.500.000.000 1.448.500.000 96,57% 1.500 1.564 104,27% Santri Diniyah Formal/PPS Tk Ulya Penerima BOS 560.000.000 560.000.000 100,00% 400 400 100,00% Total BOS 237.088.400.000 234.937.120.604 99,09% 230.499 228.752 99,24% Sumber: SPAN dan MEBE (data diolah)

b. Belanja Sektor Kesehatan

Realisasi anggaran maupun capaian output strategis bidang Kesehatan untuk pencegahan Stunting dan pengendalian penyakit TBC sudah mencapai 100% target output meskipun dengan realisasi penyerapan anggaran yang belum maksimal. Namun untuk pengadaan Alat Kesehatan dan Obat-obatan belum dapat mencapai target penyerapan maupun target output, dikarenakan anggaran pengadaan Alat Kesehatan dan Obat-obatan yang sebagian besar dikelola oleh satker BLU tidak memiliki dana yang cukup akibat keterlambatan penggantian iuran BPJS yang menunggak. Di tahun anggaran berikutnya diharapkan agar penganggaran pengadaan alkes tidak lagi bertumpu dari

pendapatan BPJS agar proses pengadaan alkes untuk kebutuhan masyarakat dapat dilaksanakan.

3.8.2. Belanja Infrastruktur

Belanja Infrastruktur yang dilaksanakan oleh satuan kerja lingkup Kementerian Pekerjaan Umum memiliki kinerja penyerapan anggaran yang dibawah target realisasi yang ditetapkan yaitu 90 persen. Sampai dengan akhir tahun anggaran, penyerapan hanya mencapai 84,78 persen. Namun rendahnya penyerapan anggaran ditopang oleh kinerja capaian output strategis bidang Infrastruktur yang mencapai 95,61 persen untuk jalan dan masing-masing 100 persen untuk jembatan dan bendungan.

Dari output prioritas untuk bidang Infrastruktur jalan, hanya output Pembangunan Jalan yang hanya mencapai 77 persen dari target capaian output. Hal ini dikarenakan adanya hambatan dalam pembebasan lahan masyarakat sehingga mengakibatkan adanya pembangunan jalan yang tertunda di tahun ini. Diharapkan untuk tahun anggaran berikutnya agar pembebasan lahan masyarakat menjadi hal yang menjadi perhatian yang serius oleh pemerintah dan dinegosiasikan secepat mungkin sehingga tidak ada lagi permasalahan dalam pembangunan jalan.

Tabel III.12 Capaian Output Strategis Bidang Prioritas Kesehatan 2019

No Output prioritas Pagu Realisasi Output

Nominal % Target Capaian %

1 Jalan Pembangunan Jalan 94.934.127.000 77.497.712.483 81,63% 22 17 77,27%

Preservasi Pemeliharaan Jalan Rutin 88.949.259.000 88.558.795.365 99,56% 1.617 1.545 95,55% Pereservasi Rekonstruksi, Rehab

Jalan 321.228.163.000 246.040.007.270 76,59% 67 67 100,00%

Pelebaran Jalan Menuju Standar

250.968.758.000 249.586.619.544 99,45% 46 46 100,00% Total Jalan 756.080.307.000 661.683.134.662 87,51% 1.752 1.675 95,61% 2 Jembatan Preservasi Jembatan 5.855.577.000 5.855.559.934 100,00% 385 385 100,00% Penggantian Jembatan 43.075.288.000 43.061.733.686 99,97% 146 146 100,00% Pembangunan Jembatan 36.176.120.000 28.178.031.797 77,89% 1.098 1.098 100,00% Total Jembatan 85.106.985.000 77.095.325.417 90,59% 1.629 1.629 100,00% 3 Bendungan

Bendungan Dalam Tahap Pelaksanaan (on-going) 634.807.000.000 538.219.921.455 84,78% 2 2 100,00% Total Bendungan 634.807.000.000 538.219.921.455 84,78% 2 2 100,00%

P E R K E M B A N G A N D A N

A N A L I S I S P E L A K S A N A A N

A P B D

BAB IV

Satpol PP Kota Makassasar

"APBD TA 2019 Kabupaten/kota se Sulawesi Selatan surplus karena rendahnya penyerapan anggaran dari alokasi pagu sebesar Rp45,59 triliun hanya direalisasikan Rp40,57 triliun"

BAB IV PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD

4.1. APBD TINGKAT PROVINSI (KONSOLIDASI PEMDA)

Struktur APBD agregat Sulsel periode 3 tahun terakhir (2017 – 2019) selalu meningkat, hal ini

menunjukkan terdapat optimisme dari Pemda terhadap pencapaian APBD di 2019. APBD yang ditetapkan harus mampu menjadi kerangka dasar akselerasi pembangunan di daerah. Untuk TA 2019 ditetapkan target pendapatan daerah sebesar Rp46,90 triliun meningkat signifikan sebesar 12,32% dibandingkan 2018 yang sebesar Rp41,02 triliun. Realisasi pendapatan di 2019 sebesar Rp44,14 triliun dengan penyerapan sebesar 94,12%. Sementara itu, realisasi belanja sebesar Rp40,56 triliun atau 89% dari target yang ditetapkan. Oleh karena realisasi pendapatan lebih besar dibandingkan belanja maka terjadi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) sebesar Rp4,2 triliun, angka ini meningkat tajam dari 2018 yang sebesar Rp217,56 miliar. Besarnya angka Silpa tersebut mengindikasikan adanya permasalahan dalam perencanaan. Dalam pelaksanaan APBD, Pemda masih menganut sistem konvensional hanya memandang APBD sebagai instrument untuk menjalan roda birokrasi bukan untuk memberikan stimulus kepada perekonomian daerah. Hal ini terlihat dari rencana penggunaan Silpa sebagian besar digunakan sebagai penerimaan pembiayaan (idle cash) sedangkan untuk investasi dan pemberian pinjaman masih relatif rendah.