• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Ekspor Impor bulan Juni 2021

Dalam dokumen LAPORAN INFORMASI INDUSTRI (Halaman 53-63)

III. INFORMASI PERKEMBANGAN DAN PELUANG PASAR

3.1. Ekspor-Impor Tahun 2021

3.1.6. Perkembangan Ekspor Impor bulan Juni 2021

Setelah mengalami penurunan pada Mei lalu, ekspor industri pengolahan non migas pada Juni 2021 mengalami peningkatan. Data BPS menunjukkan, ekspor industri pengolahan non migas mencapai US$ 14,07 Miliar, naik 7,30% dibandingkan Mei 2021 atau naik 45,86% dibandingkan Juni 2020. Mulai turunnya penyebaran Covid-19 di beberapa negara mitra utama ekspor sejak akhir Mei 2021 mendorong pulihnya permintaan dunia yang berdampak pada peningkatan ekspor industri pengolahan non migas Indonesia.

110,50

Ekspor Industri Pengolahan Non Migas Juni 2021 (Miliar US$)

Hampir seluruh sektor industri pengolahan non migas mengalami kenaikan ekspor pada Juni 2021. Sektor dengan nilai pertumbuhan tertinggi dibandingkan Mei 2021 antara lain industri logam dasar naik US$ 680,48 Juta (naik 29,16%), industri pakaian jadi naik US$ 182,64 Juta (naik 36,54%), dan industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer naik US$ 151,06 Juta (naik 40,80%). Lebih detail, komoditas industri pengolahan non migas dengan nilai pertumbuhan tertinggi dibanding Mei 2021 antara lain besi baja (HS 72) yang naik US$ 486,36 Juta (naik 32,31%), kendaraan dan bagiannya (HS 87) naik US$ 217,94 Juta (naik 42,18%), mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) naik US$ 137,65 Juta (naik 15,83%), serta alas kaki (HS 64) naik US$ 121,58 Juta (naik 32,94%). Meskipun demikian, Ekspor industri pengolahan non migas masih didominasi oleh 3 sektor utama yaitu industri logam dasar (US$ 3,1 Miliar), industri makanan (US$ 2,84 Miliar) dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia (US$

1,54 Miliar).

Sebaliknya, industri mesin dan perlengkapan ytdl, industri mesin dan perlengkapan ytdl, industri pengolahan lainnya serta industri makanan mengalami penurunan ekspor. Walaupun industri makanan termasuk salah satu sektor dengan nilai ekspor terbesar, namun pertumbuhan ekspornya terus menurun. Pada Juni 2021, ekspor industri makanan turun US$ 673,29 Juta (turun 19,19%) dibandingkan Mei 2021. Penurunan ekspor industri makanan terbesar terjadi ke negara India dan Pakistan.

Ekspor industri makanan ke India turun 126,86 ribu ton atau turun US$ 139,81 Juta, dengan penurunan ekspor terbesar terjadi pada produk Crude palm oil (HS 15111000) sebesar US$

128,76 Juta (turun 82,44%). Menurut beberapa sumber penurunan ekspor CPO ke India pada bukanlah dikarenakan kenaikan kasus covid-19 melainkan terjadinya penurunan harga CPO dan diversifikasi negara penyuplai CPO di India seperti Thailand dan Malaysia. Saat ini Malaysia telah menggeser posisi Indonesia sebagai penyuplai CPO terbesar di India. The Solvent Extractors’ Association of India (SEA) mencatat ekspor CPO Malaysia ke India melonjak 238% menjadi 2,42 juta ton dalam tujuh bulan pertama tahun pemasaran 2020/21 dimulai pada 1 November 2020. Selama periode tersebut, pengiriman CPO Indonesia ke India turun 32% menjadi 2 juta ton. Penurunan tersebut dikarenakan Indonesia memberlakukan pajak yang lebih tinggi pada ekspor CPO sejak Desember 2020 guna mengumpulkan dana bagi program biodiesel berbasis sawit, yang bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan minyak nabati di dalam negeri. Akibatnya, pajak ekspor Indonesia berada pada level tertinggi selama lima bulan berturut-turut. Pajak ekspor CPO Indonesia sebesar US$ 255 per ton, dan sebagai perbandingan bea ekspor Juni 2021 di Malaysia hampir hanya sebesar US$ 90 dolar per ton.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Menteri Keuangan Indonesia pada tanggal 21 Juni 2021 mengatakan bahwa Pemerintah akan melakukan pemotongan pajak ekspor CPO dari US$ 255 menjadi US$ 175 per ton. Diharapkan hal tersebut dapat meningkatkan daya saing CPO Indonesia di pasar global. Serupa dengan India, ekspor industri makanan ke Pakistan turun sebesar 105,20 ribu ton atau US$ 103,12 Juta. Penurunan ekspor terbesar terjadi pada produk Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037) yang turun US$ 61,83 Juta (turun 49,36%).

Secara umum, jika dilihat dari negara tujuan ekspor industri pengolahan non migas, RRT dan Amerika Serikat masih menjadi mitra ekspor terbesar Indonesia. Total ekspor keduanya mencapai 34,26% atau naik 2,99% dari total ekspor industri pengolahan non migas Indonesia.

Sama seperti tren ekspor industri pengolahan non migas secara umum, ekspor industri pengolahan ke kedua negara tersebut juga mengalami peningkatan. Ekspor industri pengolahan non migas Indonesia ke RRT naik US$ 355,24 Juta (naik 15,02%) demikian pula ekspor ke Amerika Serikat naik US$ 364,34 Juta (naik 20,98 %) dibandingkan Mei 2021.

Dilihat dari produknya, ekspor terbesar industri pengolahan non migas Indonesia ke RRT pada Juni 2021 didominasi oleh produk logam HS 72 yaitu Oth than stainless steel in ingots/oth primary form,rectangular (oth than square)cross-section (HS 72189900) sebesar US$ 348,08 Juta (naik 308,97%(mtm)). Ekspor produk logam besi/baja ini kembali meningkat setelah bulan Mei sempat menurun. Penurunan ekspor logam besi/baja ke RRT pada Mei diduga merupakan dampak kebijakan RRT untuk mengoptimalkan produk besi/baja dalam negeri. Meskipun ekspor pada bulan Juni ini ekspor produk logam HS 72 meningkat, namun adanya kebijakan internal di mitra ekspor seperti RRT perlu diantisipasi. Kementerian Perindustrian perlu lebih aktif mencari informasi terkait kebijakan-kebijakan di negara mitra untuk mengantisipasi perubahan ekspor industri pengolahan non migas khususnya terkait produk-produk andalan ekspor industri pengolahan non migas.

Sedangkan untuk ekspor industri pengolahan Indonesia ke Amerika Serikat pada Juni 2021 didominasi oleh produk alas kaki, pakaian dan karet. Ekspor Sports footwear not fitted with spikes/bowling/wrstling/ weight lifting/the like w/upper leathers (HS 64031990) ke Amerika Serikat tercatat sebesar US$ 59,06 Juta (naik 85,44%). Pulihnya permintaan dari Amerika Serikat mendorong ekspor industri alas kaki ke Amerika Serikat kembali meningkat setelah pada bulan-bulan sebelumnya mengalami penurunan.

Jika dilihat dari negara mitra utama tujuan ekspor industri pengolahan non migas, Thailand menjadi negara tujuan ekspor dengan pertumbuhan tertinggi selama Juni 2021 diantara 9 negara lainnya. Pertumbuhan tersebut disumbang oleh peningkatan ekspor beberapa komoditas seperti Styrene (HS 29025000) naik US$ 17,29 Juta, Refined copper for cathodes and sections of cathodes (HS 74031100) naik US$ 9,13 Juta dan Ethylene dichloride (ISO) (1,2-dichloroethane) (HS 29031500) naik US$ 7,26 Juta. Styrene adalah salah satu monomer terpenting yang diproduksi oleh industri kimia saat ini. Styrene monomer adalah blok bangunan dasar industri plastik. Ekspor produk Styrene bukan merupakan ekspor rutin Indonesia ke Thailand. Berdasarkan data, ekspor produk ini ke Thailand terakhir dilakukan pada Januari tahun 2020 sebesar US$2,5 Juta, sebelum diekspor lagi pada bulan Juni 2021 sebesar US$

17,29 Juta.

Sama seperti ekspor, impor industri pengolahan non migas juga mengalami peningkatan. Data BPS mencatat impor industri pengolahan non migas pada bulan Juni sebesar US$ 13,63 Miliar naik sebesar 24,33% dibandingkan Mei 2021 atau naik 49,34% dibandingkan Juni 2020.

Peningkatan impor ini salah satunya dikarenakan pulihnya permintaan global yang mendorong ekspor, mengingat sebagian besar impor industri pengolahan non migas merupakan bahan baku dan penolong, meskipun nilai Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur bulan Juni 2021 mengalami penurunan menjadi 53,5 (turun 1,8 point dibanding Mei 2021).

(30,00)

10 Negara Utama Tujuan Ekspor Juni 2021

Jun-20 Mei-21 Jun-21 Pertumbuhan (mtm)

Persen(%)

Juta US$

Jika dilihat lebih detail, peningkatan impor industri pengolahan non migas terjadi pada seluruh sektor kecuali industri produk dari batu bara dan pengilangan minyak bumi. Peningkatan impor industri pengolahan non migas terbesar terjadi pada sektor industri logam dasar yang naik hingga US$ 518,26 Juta (naik 37,82%), industri mesin dan perlengkapan ytdl naik US$ 364,17 Juta (naik 23,56%), serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia naik US$ 307,28 Juta (naik 15,70%) dibandingkan Mei 2021.

Jika dilihat lebih detail, kenaikan impor tertinggi industri logam dasar terjadi pada kelompok HS 72 produk besi/baja yang naik baik secara volume sebesar 339,42 ribu ton (naik 38,09%) maupun nilainya sebesar US$ 257,32 Juta (naik 29,27%). Namun, jika dilihat dari komoditinya, kenaikan impor tertinggi terjadi pada produk Gold in lumps, ingots or cast bars (HS 71081210) yang meningkat hingga US$ 156,82 Juta (naik 176,71%) dibandingkan Mei 2021. Kenaikan tersebut dikarenakan meningkatnya permintaan emas untuk investasi di dalam negeri.

Sedangkan, kenaikan impor industri mesin dan perlengkapan ytdl terbesar terjadi pada Other automatic service-vending machines, electrically operated (HS 84798939) sebesar US$ 82,36 Juta (naik 523,72%), Machinery for processing material by heating, for themanufacture of PCB/PWB/PCA, electrically operated (HS 84198913) sebesar US$ 37,92 Juta (naik 432,74%), serta AC machines of cooling capacity <= 26.38kW fixed to window,wall, ceiling/floor, self-contained/split-system (HS 84151010) sebesar US$ 30,78 Juta (naik 98,90%). Kenaikan impor

108,24

Impor Industri Pengolahan Non Migas Juni 2021 (Miliar US$)

mesin AC tersebut merupakan komponen AC kendaraan bermotor yang meningkat sejalan dengan peningkatan ekspor kendaraan bermotor.

Dilihat dari negara asal impor, RRT masih menjadi mitra utama impor industri pengolahan non migas Indonesia. Kontribusi impornya masih mencapai 33,70% dari total impor industri pengolahan non migas dengan nilai impor mencapai US$ 4,59 Miliar (naik 20,98%) dibandingkan Mei 2021. Impornya masih didominasi oleh komponen transmisi, Part of transmission aparatus, portable receivers for (HS 85177021) sebesar US$ 175,66 Juta (naik 14,97%) walaupun secara volume impornya turun 570 ton (turun 49,59%) serta Vaccines for human medicine, Other than Tetanus toxoid & Pertussis, measles, meningitis or polio vaccines (HS 30022090) sebesar US$ 159,10 Juta (naik 43,06%), walaupun secara volume turun 20 ton (turun 52,69%). Kenaikan nilai impor dengan volume impor yang turun menunjukkan terjadinya kenaikan harga komoditas impor dari RRT. Hal tersebut terjadi akibat inflasi di RRT akibat terjadinya lonjakan harga komoditas global dan kenaikan harga produksi industri yang dipengaruhi oleh kenaikan tajam biaya minyak mentah, batu bara, serta produk terkaitnya.

Jika dilihat lebih detail, dari sepuluh negara mitra utama impor industri pengolahan non migas, kenaikan impor terjadi hampir pada seluruh mitra utama, hanya impor dari India yang mengalami penurunan.

Dari sepuluh negara mitra utama impor industri pengolahan non migas, impor dari Thailand mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Pada bulan Juni impornya naik hingga 50,99%

(10,00)

10 Negara Utama Asal Impor pada Juni 2021

Jun-20 Mei-21 Jun-21 Pertumbuhan (mtm)

Persen (%)

Juta US$

dibandingkan Mei 2021. Kenaikan impor tertinggi terjadi pada produk Motor vehicles for transport of good, diesel, g.v.w <= 5 tother lorries (trucks), not CKD (HS 87042129) sebesar US$ 20,73 Juta (naik 184,92%), AC machines of cooling capacity <= 26.38kW fixed to window,wall, ceiling/floor, self-contained/split-system (HS 84151010) sebesar US$ 17,37 Juta (naik 198,93%) dan Benzene (HS 29022000) sebesar US$ 15,69 Juta (naik 100%). Impor truk dari Thailand diduga merupakan lineup model truk besar Isuzu bernama King of Trucks, yang baru saja diluncurkan pada Mei 2021 untuk pasar ASEAN salah satunya Indonesia.

Selain sepuluh mitra utama tersebut, data menunjukkan terjadi kenaikan impor industri pengolahan non migas salah satunya dari Federasi Rusia. Impornya meningkat 225,76% (naik US$ 59,51 Juta) dibandingkan Mei 2021. Kenaikan nilai impor terbesar terjadi pada produk Semi-finish product iron/non-alloy steel slabs<0.25% carbon,cross-sect,measuring<twice the thickness (HS 72071210) naik US$ 35,96 Juta (naik 100%) atau secara volume naik 54,97 ribu ton (naik 100%) dibandingkan Mei 2021. Meskipun nilai kenaikan impornya tidak terlalu besar, namun perlu diwaspadai mengingat kenaikan impor tidak diikuti oleh kenaikan ekspor, akibatnya neraca perdagangan Indonesia – Rusia semakin tergerus. Pada Juni 2021, neraca perdagangan tercatat surplus US$ 59,94 Juta turun 45,14% dibandingkan Mei 2021. Saat ini Indonesia telah berupaya memperluas pasar ekspor dengan melakukan kerjasama dengan negara non tradisional, seperti bulan Juni 2021 telah dilakukan pertemuan-pertemuan bilateral untuk meningkatkan kerjasama dengan negara Eurasian Economic Union (EAEU) salah satunya Rusia, dan forum SPIRF 2021. Perlu penguatan daya saing produk industri pengolahan non migas agar Indonesia dapat memanfaatkan perluasan akses pasar tersebut.

Kinerja industri pengolahan non migas pada Juni 2021 dinilai kurang baik. Meskipun masih mengalami surplus pada Juni ini namun terjadi penurunan yang cukup signifikan dibandingkan Mei 2021. Kondisi tersebut selaras dengan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mengalami penurunan dibandingkan bulan lalu.

Pada Juni 2021, neraca perdagangan industri pengolahan non migas mencatatkan angka surplus sebesar US$ 0,52 Miliar, turun 79,33% dibandingkan Mei 2021 atau turun 14,81%

dibandingkan Juni 2020. Penurunan surplus tersebut secara umum didorong adanya peningkatan impor industri pengolahan non migas yang jauh lebih besar daripada ekspornya.

Impor industri pengolahan non migas pada Juni 2021 naik 24,33% sedangkan ekspornya naik 7,30% dibandingkan Mei 2021. Penurunan surplus terbesar industri pengolahan non migas terjadi pada industri makanan yang turun hingga US$ 809,88 Juta (turun 32,72%). Penurunan

surplus industri makanan tersebut disebabkan oleh penurunan nilai ekspor yang cukup signifikan dan kenaikan nilai impor yang cukup tinggi. Selain industri makanan, industri mesin dan perlengkapan ytdl, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, industri komputer, barang elektronik dan optik, industri alat angkutan lainnya, serta industri pengolahan lainnya menyumbang penurunan surplus yang cukup besar akibat peningkatan nilai impor yang cukup signifikan.

Dilihat dari kinerja kerjasama perdagangan dengan negara mitra, kinerja perdagangan Indonesia dan Philipina menyumbang peningkatan nilai surplus terbesar kedua setelah Amerika Serikat pada Juni 2021. Sebelumnya, kinerja perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-Philipina mengalami surplus sebesar US$ 314,29 Juta, namun pada Juni 2021 surplus perdagangannya meningkat 28,10% menjadi US$ 402,61 Juta. Peningkatan surplus ini didominasi oleh peningkatan ekspor industri pengolahan non migas Indonesia ke Philipina yang jauh lebih besar daripada peningkatan impornya. Ekspornya meningkat hingga US$ 125,73 Juta (32,13%) dibandingkan Mei 2021 atau meningkat US$ 227,90 Juta (78,8%) dibandingkan Juni 2020. Sedangkan impornya pada bulan Juni 2021 naik US$ 37,41 Juta (48,56%) dibanding Mei 2021 atau naik US$ 79,99 Juta (232,2%) dibandingkan Juni 2020. Peningkatan nilai ekspor terbesar terjadi pada kelompok kendaraan bermotor HS 87 sebesar US$ 78,77 Juta.

Sedangkan peningkatan nilai defisit perdagangan industri pengolahan non migas terbesar kedua setelah RRT terjadi pada perdagangan Indonesia-Thailand dimana defisitnya meningkat

2,26 2,93

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas Juni 2021 (Miliar US$)

US$ 172,06 Juta (naik 74,44 %) dibandingkan Mei 2021. Pada periode sebelumnya perdagangan dengan Thailand masih mencatatkan defisit sebesar US$ 231,15 Juta, dan pada Juni ini perdagangannya tercatat defisit US$ 403,21 Juta. Hal ini terjadi karena peningkatan impor industri pengolahan non migas hingga 50,99% , meskipun ekspornya masih tercatat naik 34,79% pada Juni 2021 dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan impor industri

Berdasarkan lima belas besar negara mitra utama industri pengolahan non migas bulan Juni 2021, rata-rata perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 17,93 Juta. Dari kelima belas mitra tersebut, RRT menyumbang defisit neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada Juni 2021 mencapai US$ 1,87 Miliar naik 30,84% dibandingkan Mei atau naik 81,8% jika dibandingkan Juni 2020. Sebaliknya, Amerika Serikat masih menjadi penyumbang surplus perdagangan tertinggi sebesar US$ 1,48 Miliar, naik 17,82% dibandingkan Mei 2021, atau naik 83,8% dibandingkan Juni 2020.

Lebih detail, peningkatan defisit perdagangan Indonesia- RRT pada Juni 2021 disebabkan kenaikan impor industri pengolahan non migas dari RRT yang lebih besar dibandingkan kenaikan ekspornya. Ekspor ke RRT naik sebesar 15,02%, sedangkan impornya naik 20,98%

dibandingkan Mei 2021. Peningkatan nilai impor dari RRT terbesar terjadi pada produk Other

(2.500,00) (2.000,00) (1.500,00) (1.000,00) (500,00) 500,00 1.000,00 1.500,00 2.000,00

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas pada 15 Negara Mitra Utama bulan Juni 2021*

Jun-20 Mei-21 Jun-21

*berdasarkan ekspor terbesar Juni 2021

automatic service-vending machines, electrically operated (HS 84798939) sebesar US$ 78,20 Juta (naik 768,64%).

Sama seperti perdagangan dari dan ke RRT, kinerja perdagangan Indonesia-Amerika Serikat dapat dikatakan meningkat. Neraca perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-Amerika Serikat naik dikarenakan nilai ekspor ke Indonesia-Amerika Serikat yang masih lebih besar dibandingkan impor dari Amerika Serikat. Jika dilihat dari persentasenya, diketahui bahwa kenaikan impor dari Amerika Serikat lebih besar yaitu 29,45% dibandingkan ekspor ke Amerika Serikat yang naik sebesar 20,98%.

Jika dilihat dari grafik diatas, Perdagangan Indonesia dengan Belanda dan Philipina juga menyumbang kenaikan surplus pada Juni 2021. Neraca perdagangan Indonesia-Belanda bulan ini menunjukkan surplus US$ 313,03 Juta, naik 12,44% dibandingkan Mei 2021 atau naik 154,9% dibandingkan Juni 2020. Namun demikian, kenaikan surplus tersebut lebih dikarenakan penurunan impor industri pengolahan dari Belanda yang lebih besar dibandingkan kenaikan ekspornya. Impor industri pengolahan dari Belanda tercatat turun 14,55% sedangkan ekspornya naik 6,9% dibandingkan Mei 2021. Demikian pula Neraca perdagangan Indonesia-Philipina bulan ini menunjukkan surplus US$ 402,61 Juta, naik 28,10% dibandingkan Mei 2021 atau naik 58,1% dibandingkan Juni 2020. Berbeda dengan Belanda, kenaikan surplus tersebut dikarenakan nilai ekspor ke Philipina yang jauh lebih besar dibandingkan nilai impornya. Ekspor industri pengolahan non migas ke Philipina pada Juni US$ 517,06 Juta (naik 32,13%), sedangkan impor dari Philipina pada Juni sebesar US$ 114,45 Juta (naik 48,56%) dibandingkan Mei 2021.

Dalam dokumen LAPORAN INFORMASI INDUSTRI (Halaman 53-63)