Fatwa merupakan sebuah solusi berupa jawaban atas sebuah problematika masyarakat Islam yang dikeluarkan oleh sebagian ulama atau seluruh ulama di masa dimana problematika itu muncul. Abdurrazaq ‘Abdullah Soleh membedakan antara jawaban dan fatwa dengan fatwa lebih khusus artinya daripada jawaban, dalam artian setiap fatwa pastilah sebuah jawaban dan tidak semua jawaban disebut fatwa.
Oleh karenanya fatwa hanya khusus menjawab peristiwa atau kasus hukum tertentu yang di alami masyarakat.1 Selain itu fatwa juga berfungsi sebagai alat dalam merespon perkembangan permasalahan yang bersifat kontemporer. Tanpa adanya fatwa, suatu permasalahan boleh jadi tidak dapat terpecahkan yang akhirnya membuat umat bisa mengalami kebingungan.2
Dari segi etimologi, kata fatwa berasal dari bahasa arab al-fatwa yang merupakan bentuk masdar (kata dasar) dari fi’il (kata kerja) fata-yaftu-fatwan/futyan. Menurut Ibnu Mandzur kata fatwan atau futyan berarti ifta’. Ifta’
adalah menjelaskan hukum-hukum yang sulit, oleh karenanya asli arti kata al-futya adalah al-fata yang artinya pemuda yang masih segar dan kuat sehingga orang yang mengeluarkan fatwa diyakini mempunyai kekuatan dalam memberikan penjelasan dan jawaban atas permasalahan yang dihadapinya sebagaimana kekuatan yang dimiliki oleh seorang pemuda.3 Dari akar kata fatwa ini dapat disimpulkan bahwa fatwa membutuhkan penjelasan dan peran seseorang yang menjadi subyek (mufti) bagi penjelasan tersebut, begitu juga penjelasan yang dikeluarkan oleh harus dengan kekuatan yang maksimal sehingga fatwanya sudah berdasarkan analisis yang matang.
Terminologi fatwa, menurut Sano Koutoub Moustapha bahwa fatwa adalah hukum-hukum yang dijelaskan oleh ahli fiqh dari permasalahan-permasalahan yang ditanyakan kepadanya. Hukum syar’i yang dipecahkan oleh seorang ahli fiqh yang berhak mengeluarkan fatwa untuk orang yang bertanya kepadanya tidaklah mengikat, dalam artian tidak wajib bagi mustafti (peminta fatwa) mengikuti fatwa
1 Abd al-Razzaq Abdullah Saleh bin Ghalib al-Kindy, al-Taisîr fi al-Fatwa:
Asbâbuhu wa Ḍawâbiṫuhu, ( Damaskus: Muassasah al-Risalah Nasyirun, 2008), h. 20
2 Ma’ruf Amin, Fatwa dalam Sistem Hukum Islam, (Jakarta: elSAS Jakarta, 2008), h. 8
3 Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arâb, ( Beirut: Dar Sadir, 1414 H) Vol. 15, h. 147
18
musfti tersebut, akan tetapi ia berhak bertanya kembali kepada musfti yang lain dan ia diperbolehkan mengambil fatwa mufti yang akhir selagi diketahui mufti yang akhir orang yang alim lagi mujtahid dan memenuhi syarat-syarat mengeluarkan fatwa.4
Dalam penelusuran kebahasaan dan praktiknya, fatwa pada dasarnya telah diungkap banyak dalam Alquran, dengan dua istilah yang menunjukkan keberadaannya, yaitu yas’alūnaka (mereka bertanya kepada kamu) dan yastaftūnaka (mereka meminta pendapatmu). Dalam beberapa kasus, kata-kata jadian lainnya dari akar kata yang sama dapat ditemukan dalam Alquran, seperti kata aftinā (berikan kepada kami atau berikan pemecahan kepada kami tentang masalah ini dan itu).
Istilah yas’alūnaka atau variasi lainnya terdapat di dalam Alquran tidak kurang dari 126 kali, dalam surat-surat Makkiyyah dan Madaniyyah.5
Menurut Hallaq, di dalam Alquran, istilah istiftā’ mengandung konotasi permohonan untuk memecahkan satu persoalan yang pelik. Dalam surat Yūsuf (12):
43, raja meminta kepada rakyat untuk menafsirkan (aftūnī fī) mimpi serius yang dialaminya. Ratu Balqis pun meminta pendapat (aftūnī fī) dari para pejabatnya ketika Nabi Sulaymān mengajaknya untuk masuk ke dalam Islam. Dalam surat Yūsuf (12) ayat 16, misalnya, Yūsuf diminta untuk menafsirkan (aftinā fī) sebuah mimpi yang rumit dan kompleks yang dirasa membingungkan para penafsir mimpi yang lain. Konotasi yang sama juga dapat ditemukan dalam ayat-ayat hukum, yang berkisar di seputar hak-hak perempuan dan kasus warisan yang begitu pelik.6 Jadi, dari perspektif Alquran, keberadaan fatwa dan iftā’ secara kebahasaan mendapatkan justifikasinya dalam Alquran dengan beragam ungkapan yang berbeda yang mempunyai konotasi yang sama.
Ifta’ (pemberian fatwa) sendii merupakan sebuah institusi yang sangat tua usianya dalam peradaban Islam sebagaimana tuanya usia Agama Islam itu sendiri.
Karena posisi Nabi SAW sebagai kepala Negara sekaligus pemimpin umat Islam saat itu menjadi bukti bahwa beliaulah mufti pertama dalam sejarah. Munculnya problematika di tengah para sahabat waktu itu mendorong mereka untuk bertanya langsung dan meminta solusi kepada Nabi Muhammad SAW yang kemudian penjelasan dan jawaban beliau terhadap pertanyaan tersebut menandai awal munculnya institusi pemberian fatwa.7 Selain Nabi SAW, sebagian sahabat juga memberikan fatwa semasa hidup Nabi SAW, bahkan di kota Nabi SAW sendiri.
4 Sano Kuotoub Mousthafa, Mu’jam Musțalahat Usŭl Fiqh, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2000), h. 312
5 Wael B. Hallaq, “From Fatwās to Furū’: Growth and Change in Islamic Substantive Law.” Islamic Law and Society. vol. 1, no. 1 (1994), h. 64, lihat juga Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, al-Mu‘jam al-Mufahrāṡ li Alfāẓ al-Qur’ān alKarīm (Kairo:
Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1364 H), h. 336-337.
6 Rusli, Tipologi Fatwa di Era Modern, Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 8, No.
2, Desember 2011, h. 272
7 Niki Alma Febriana Fauzi (2015), Fatwa di Indonesia: Perubahan Sosial, Perkembangan dan Keberagaman, Jurnal Hukum Novelty, Vol. 8, No. 1, Februari 2017, h.109.
19
Sebagai contoh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid bahwa suatu hari kami disisi Nabi SAW, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan berujar :”Saya bersumpah atas nama Allah kepadamu, putuskanlah perkara diantara kami dengan kitabullah.” Lantas berdirilah lawan sengketanya yang lebih faqih dari dia dan berkata; “Putuskanlah diantara kami dengan kitabullah, dan izinkanlah aku untuk bicara." Nabi berkata; "bicaralah". Lanjutnya; “Anakku menjadi pekerja laki-laki ini, kemudian anakku berzina dengan isterinya, maka aku menebusnya dengan seratus ekor kambing dan satu pembantu, kemudian aku bertanya kepada beberapa ahli ilmu, mereka mengabariku bahwa anakku berkewajiban didera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedang isterinya harus dirajam.” Maka Nabi SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, aku akan memutuskan diantara kalian dengan kitabullah yang agung sebutan-Nya. seratus ekor unta dan pembantu dikembalikan kepadamu, anakmu di cambuk sebanyak seratus kali dan disaingkan selama setahun, dan pergilah Unais Al Aslami ke istri orang ini, jikalau dia mengakuinya, maka rajamilah dia." Unais akhirnya pergi menemui istri orang tersebut, dan dia mengakuinya, maka ia merajamnya.8 Imam Nawawi menjelaskan dalam hadits ini bahwa diperbolehkan meminta fatwa kepada selain Nabi sewaktu Nabi masih hidup karena berdasarkan hadits ini Nabi tidak mengingkari fatwa salah satu ahli ilmu yang juga sahabat Nabi.9 Walaupun Nabi mempunyai otoritas berfatwa, tapi sebagian sahabat juga diberikan otoritas berfatwa dengan dikukuhkan oleh Nabi sendiri.
Kemudian sepeninggal Nabi SAW, para sahabat terbagi menjadi dua kelompok.
Diantaranya terdapat sahabat yang mengeluarkan fatwa atas masalah-masalah yang ditanyakan kepadanya, sebagian sahabat yang lain tidak berani berfatwa dan fatwa diarahkan kepada sahabat lain yang dinilai lebih mumpuni dalam memberikan fatwa.
Seiring berjalannya waktu, fatwa juga dikeluarkan oleh para sahabat, tâbi’în, tâbi’u al-tâbi’în hingga sampai kepada para imam mujtahid. Karena fatwa tidak terlepas dari permasalahan ijtihad yang membuat seorang mufti atau pihak yang memberi fatwa harus mampu berijtihad atau mencari jawaban dengan mengikuti pendapat para mujtahid sebagai jawaban atas mustafti atau pihak yang meminta fatwa. Maka tidak asing jika menurut mayoritas ulama istilah mufti merupakan sinonim daripada mujtahid.10 Hanya saja mujtahid mengeluarkan hukum dengan diminta oleh pihak lain ataupun tidak, sedangkan mufti tidak megeluarkan fatwanya kecuali diminta oleh pihak peminta fatwa (muftasti).
8 Sahih Bukhari hadits ke-2724, Sahih Muslim hadits ke-4435, Musnad Ahmad hadits ke 17038, lihat Abd Razzaq Abdullah Saleh bin Ghalib Kindy, Taisîr fi al-Fatwa: Asbâbuhu wa Ḍawâbiṫuhu, ( Damaskus: Muassasah al-Risalah Nasyirun, 2008), h.
32.
9 Abd al-Razzaq Abdullah Saleh bin Ghalib al-Kindy, al-Taisîr fi al-Fatwa:
Asbâbuhu wa Ḍawâbiṫuhu, h. 32.
10 Hasan Salih, Ḍawâbiṫ Fatwâ fi Syarâ’ah Islâmiyyah, (Mamlakah al-Su’udiyah al-‘Arabiyyah, Maktabah Nizar Mustafa al-Bayan, 2007), h. 113.
20
Dalam perkembangannya, fatwa masih bersifat fardi atau personal. Terbukti sejak periode Rasulullah sebagai mufti pertama dalam Islam hingga abad ke 4 Hijriyyah belum terbentuk lembaga resmi yang dikategorikan sebagai fatwa jama’i atau kolektif. Tetapi setelah abad ke 4 Hijriyyah sampai masa Khalifah Usmaniyyah para ulama sudah mulai menjadikan fatwa sebagai suatu keilmuan tersendiri, walaupun masih belum terbukukan sebagai koleksi fatwa-fatwa. Sebagai contoh kitab Âdâb al-Muftĭ wa al-Mustafti karya Ibn Salah al-Syafi’i (643 H), kitab Adab Fatwa wa Mufti wa Mustafti karya Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (676 H) dan kitab Sifat al-Mufti wa al-Mustafti karya Ahmad bin Hamdan al-Hambali (695 H).11
Menurut Rusli, sebelum kekuasaan Usmani yakni di era kekuasaan Mamluk, Sultan (Negara) telah mendirikan satu dewan khusus yang terdiri dari para mufti dan memberikan nama al-ifta Dar al-‘Adl. Para penguasa Mamluk mengangkat mufti dari 4 madzhab untuk masuk kedalam dewan baru tersebut seraya menempatkan mereka dalam posisi yang sama.12 Sedangkan di era kekuasaan Usmani mengembangkan sebuah administrasi keagamaan hirarkis dengan dikepalai oleh seorang mufti yang disebut Syeikhul Islam. Fatwa-fatwa Syeikh al-Islam ini berpengaruh di pengadilan lantaran sering dirujuk sebagai putusan-putusan hukum yang dikeluarkan hakim. Ini menunjukkan bahwa sampai era kekuasaan Usmani fatwa individual yang diwakili oleh salah satu ulama masih mempunyai kedudukan yang sentral di mata masyarakat.
Sementara di zaman modern, fatwa personal dikeluarkan oleh banyak ulama, diantaranya fatwa Syaikh al-Maraghi (w. 1952), fatwa Syaikh Muhammad Syaltut (w. 1963), fatwa Syekh al-Sya’rawi (w. 1998), fatwa Syekh Sa’id Ramadan al-Buti (w. 2013), fatwa Yusuf al-Qardhawi, fatwa Syekh Ali Jum’ah dan lainnya.13 Sedangkan fatwa kolektif diprakarsai oleh himpunan fatwa Dār al-Iftā di Kairo yang terdiri atas lebih dari 130 volume. Koleksi fatwa ini memiliki pengaruh yang sangat luas, terbukti lembaga tersebut telah memuat fatwa selama satu abad lebih sejak 1895 hingga sekarang.14 Seorang mufti menjadi pelayan public diangkat oleh kepala Negara dan mendapat julukan Mufti al-Diyar al-Misriyyah (Mufti Wilayah Mesir) kemudian diganti menjadi Mufti al-Jumhuriyyah (Mufti Republik).15 Sedangkan di Saudi Arabia, para mufti terkumpul dalam Lajnah Daimah li Buhus al-Ilmiyyah wa al-Ifta yang diangkat oleh Negara. Figur penting yang mewarnai lembaga fatwa ini adalah ‘Abd al-Aziz ibn Baz yang terikat dengan madzhab
11 Muhammad Yusri Ibrahim, al-Fatwa : Ahammiyyâtuhâ, Ḍawâbiṫuhâ, Âtsâruhâ, (t.t, 2007), h. 142
12 Rusli, Tipologi Fatwa di Era Modern: Dari Offline ke Online, Jurnal Hunafa:
Jurnal Studia Islamika, Vol. 2 No. 8 Desember 2011, h. 280
13 Rohadi Abdul Fatah, Analisis Fatwa Keagamaan dalam Fiqih Islam, ( Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2006), h.158
14 Syamsul Anwar, Kata Pengantar untuk buku Tanya Jawab Agama, (Yogyakarta:
Suara Muhammadiyah), Jilid 5, h. ix-x.
15 Jacob Skovgaard-Petersen, Defining Islam for the Egyptian State: Muftis and Fatwas of the Dar al-Ifta (Leiden: Brill, 1997), h. 101-103
21
Hanbali dan ajaran-ajaran Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab yang begitu kuat. Selain itu terdapat juga Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah al-Azhar di Mesir, Majma’ al-Fiqh al-Islami (Lembaga Fikih Islam) yang berpusat di Jedah, Majelis Fatwa Eropa dan Amerika Utara dan lain-lain.
B. Kemunculan Fatwa Kolektif (Jama’i) dan Fatwa Individual (Fardi) di