• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II INDUSTRI MINYAK GORENG SAWIT DI INDONESIA

C. Perkembangan Industri Minyak Goreng Sawit

Indonesia merupakan konsumen terbesar CPO yang pada tahun 2001 mencapai 3,7 juta ton atau 42% (empat puluh dua persen) dari total produksi CPO nasional atau 15,6% (lima belas koma enam persen) konsumsi CPO dunia.

36

Dibandingkan dengan kondisi tahun 1998,37

terjadi peningkatan konsumsi tetapi persentase terhadap produksi nasional dan dunia menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan konsumsi tidak sebanding dengan kenaikan produksi atau laju pertumbuhan produksi lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan konsumsi. Besarnya kebutuhan konsumsi minyak goreng sawit membutuhkan peningkatan produksi minyak sawit mentah (CPO).

Pada kurun waktu tahun 1990-1993, konsumsi CPO untuk industri minyak goreng jauh lebih besar dibandingkan produksi CPO dalam negeri. Oleh karena itu, untuk memenuhinya maka industri minyak goreng banyak mengimpor CPO dari negara lain seperti Malaysia sebagai produsen terbesar dunia. Laju pertumbuhan konsumsi dan produksi per tahun pada kurun waktu tersebut rata-rata adalah 5,9% (lima koma sembilan persen).38

Baru pada tahun 1994 produksi CPO melampaui dari kebutuhan CPO untuk industri minyak goreng, yang berarti sebagian bisa diekspor ke negara lain. Pada tahun 1998 konsumsi CPO Indonesia mencapai 2,8 juta ton (56% (lima puluh enam persen)) dari total produksi CPO Indonesia atau 16% (enam belas persen) dari konsumsi dunia yang mencapai 17,3 juta ton.39

Perkembangan industri minyak goreng sawit pada 10 tahun terakhir mengalami peningkatan karena beralihnya pola konsumsi masyarakat dari minyak goreng kelapa menjadi minyak goreng kelapa sawit. Konsumsi per kapita minyak goreng Indonesia mencapai 16,5 kg per tahun dimana konsumsi untuk minyak

37

Endang Tjitroresmi, Op.Cit., hlm. 156.

38

Ibid., hlm. 157.

39

goreng sawit sendiri mencapai 12,7 kg per tahun. Berdasarkan peningkatan konsumsi untuk keperluan rumah tangga dan industri, maka total konsumsi minyak goreng dalam negeri pada tahun 2005 mencapai 6 (enam) juta ton dimana 83,3% (delapan puluh tiga koma tiga persen) terdiri dari minyak goreng sawit.40

Pada tahun 2000, jumlah unit usaha minyak goreng mencapai 58 (lima puluh delapan) perusahaan yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. 27,8% (dua puluh tujuh koma delapan persen) industri minyak goreng sawit berada di Sumatera, 19% (sembilan belas persen) di Riau, 17% (tujuh belas persen) di Jakarta, 14,9% (empat belas koma Sembilan persen) di Jawa Timur dan 21,3% (dua puluh satu koma tiga persen) di daerah lainnya.41

Pada tahun tersebut, kapasitas industri minyak goreng seluruhnya adalah sebanyak 8,2 juta ton, namun produksi yang dihasilkan baru mencapai 3,5 juta ton, dimana 40% (empat puluh persen) nya adalah untuk pasaran ekspor.

Pada tahun 2011, para pebisnis kelapa sawit yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan produksi CPO pada 2011 meningkat 1 juta-1,5 juta ton.42

Produksi CPO tersebut hanya tumbuh 4,7% (empat koma tujuh persen) dibandingkan tahun 2010. Menurut perhitungan Gapki, realisasi produksi CPO tahun 2010 lalu mencapai 21 juta ton. Pada untuk pasar ekspor, Gapki memperkirakan total ekspor CPO tahun 2010

40 Ibid., hlm. 158. 41 Ibid. 42

Herlina, KD, Produksi Minyak Sawit Tumbuh 4,7%, dapat diakses di

http://industri.kontan.co.id/news/produksi-minyak-sawit-tumbuh-47-1, terakhir diakses tanggal 13 Juni 2012.

mencapai 15,15 juta ton-15,6 juta ton. Volume ekspor ini naik tipis ketimbang total ekspor tahun 2009 yang sebesar 15,3 juta ton.43

Kelapa sawit ternyata berhasil menjadi komoditas yang dapat “menembus” daerah yang selama ini tidak memilikinya, seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan provinsi lain di luar Aceh, Sumatera Utara, dan Lampung. Pertumbuhan tanaman kelapa sawit “cukup bersahabat” dibandingkan tanaman lain dan lebih tahan dalam menghadapi berbagai kendala dan masalah.44

Pada saat ini, sejumlah industri minyak goreng kelapa sawit mentah (CPO) berencana untuk berinvestasi membangun pabrik baru minyak goreng. Ekspansi produsen CPO ini diwujudkan untuk untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng di dalam negeri yang terus meningkat. Ini juga sekaligus memanfaatkan fasilitas yang akan diberi pemerintah untuk pengembangan industri hilir CPO nasional. Untuk industri hilir CPO dan turunannya ada tiga hingga empat investor yang sudah menyatakan kesanggupannya. Wilmar Group, merupakan salah satu perusahaan CPO besar di Indonesia yang menyatakan akan menambah investasi untuk industri hilir CPO sebesar 500 (lima ratus) juta dolar AS.45

Perusahaan ini menyatakan akan membangun pabrik minyak goreng dan produk turunan CPO lainnya di gresik.

Sementara itu, Sinar Mas Group sudah membangun pabrik baru minyak goreng di Indonesia. Pabrik industri minyak goreng tersebut sedang diuji coba

43

Ibid.

44

Maruli Pardamean, Panduan Lengkap Pengelolaan Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit,

Op.Cit., hlm. 3.

45

Kementerian Perindustrian, Industri Hilir CPO: Pabrik minyak goreng bertambah, dapat diakses di http://www.kemenperin.go.id/artikel/1367/Industri-hilir-CPO:-Pabrik-Minyak-Goreng-Bertambah, terakhir diakses tanggal 3 Mei 2012.

dengan produksi minyak goreng sekitar 800 (delapan ratus) ton per hari. Selanjutnya, Sinar Mas juga akan menyelesaikan pembangunan pabrik baru minyak goreng di Tarjun, Kalimantan Selatan. Pabrik minyak goreng ini dengan kapasitas produksi 340.000 ton per tahun dengan investasi sekitar Rp. 600 (enam ratus) miliar. Bahkan, kapasitas pabrik Tarjun ini juga akan dilipatgandakan produksinya pada tahun 2012. Selain pabrik minyak goreng yang baru, Sinar Mas saat ini sudah memiliki pabrik minyak goreng di Pulo Gadung, Jakarta, dengan kapasitas 100.000 ton per tahun. Selain itu juga di Surabaya sebanyak 470.000 ton per tahun dan Belawan (Medan) 470.000 ton per tahun.46

Seluruh produksi minyak goreng tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa perkembangan industri minyak goreng sawit di Indonesia semakin terus bertambah seiring dengan semakin tingginya konsumsi masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun. Hal yang sangat mempengaruhi semakin tingginya konsumsi masyarakat di Indonesia akan minyak goreng sawit adalah tipe makanan yang dimakan oleh penduduk Indonesia itu sendiri yang membutuhkan dilakukan penggorengan terlebih dahulu. Dengan semakin tingginya kebutuhan dan keinginan masyarakat Indonesia akan minyak goreng sawit, maka hal ini akan menjadi faktor penting dalam perkembangan industri minyak goreng sawit itu sendiri, dan di Indonesia kebutuhan akan minyak goreng sawit semakin meningkat dari tahun ke tahun, dan hal ini yang akan memicu semakin berkembang dan bertambahnya industri minyak goreng sawit di Indonesia.

46

BAB III

KARTEL SEBAGAI PERJANJIAN YANG DILARANG BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999

A. Pengertian Perjanjian Yang Dilarang

Perikatan dan perjanjian menunjuk pada dua hal yang berbeda.47 Perikatan berasal dari bahasa Belanda verbitennis atau bahasa Inggrisnya binding, dan dalam bahasa Indonesia selain diterjemahkan sebagai perikatan juga ada yang menerjemahkan sebagai “perutangan”.48 Perikatan adalah suatu istilah atau pernyataan yang bersifat abstrak, yang menunjuk pada hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaan antara dua atau lebih orang atau pihak, dimana hubungan hukum tersebut melahirkan kewajiban pada salah satu pihak yang terlibat dalam hubungan hukum tersebut. Perikatan adalah suatu hubungan hukum yang terjadi baik karena perjanjian maupun karena hukum.

Meskipun bukan paling dominan, namun pada umumnya perikatan yang lahir dari perjanjian merupakan yang paling banyak terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Eksistensi perjanjian sebagai salah satu sumber perikatan dapat kita temui landasannya pada ketentuan Pasal 1233 KUHPerdata yang menyatakan bahwa tiap-tiap perikatan dilahirkan, baik karena perjanjian baik karena Undang-Undang.49 Ketentuan tersebut dipertegas lagi dengan rumusan ketentuan Pasal 1313 KUHPerdata, yang menyatakan bahwa suatu perjanjian

47

Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian,

(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 1. 48

Hardijan Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1993), hlm. 26.

49

adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih.50

Kata perjanjian secara umum dapat mempunyai arti luas dan sempit. Dalam arti luas, suatu perjanjian berarti setiap perjanjian yang menimbulkan akibat hukum sebagai yang dikehendaki (atau dianggap dikehendaki) oleh para pihak, termasuk di dalamnya perkawinan, perjanjian kawin dan lain-lain. Dalam arti sempit, perjanjian hanya ditujukan kepada hubungan-hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan saja.51

Pada umumnya perjanjian tidak terikat pada suatu bentuk tertentu, dapat dibuat secara lisan dan andaikata dibuat secara tertulis maka ini bersifat sebagai alat bukti apabila terjadi perselisihan. Untuk beberapa perjanjian tertentu, Undang-Undang menentukan suatu bentuk tertentu, sehingga apabila bentuk itu tidak dituruti maka perjanjian itu tidak sah.52 Dengan demikian suatu perjanjian itu tidak mutlak disyaratkan harus dalam bentuk tertulis, hanya dalam hal tertentu, bentuk perjanjian yang tertulis itu akan menjadi syarat adanya suatu perjanjian tersebut.

Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No.5 Tahun 1999 menyebutkan defenisi perjanjian yaitu suatu perbuatan satu atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis.53 Berdasarkan perumusan pengertian tersebut, dapat

50Ibid., hlm. 2.

51

J. Satrio, Hukum Perikatan ; Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Buku 1,

(Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995), hlm. 28. 52

Mariam Darus Badrulzaman, dkk., Kompilasi Hukum Perikatan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 65.

53

disimpulkan unsur-unsur perjanjian menurut konsepsi Undang-Undang No.5 Tahun 1999 meliputi:

1. Perjanjian terjadi karena suatu perbuatan;

2. Perbuatan tersebut dilakukan oleh pelaku usaha sebagai para pihak dalam perjanjian;

3. Perjanjian dapat dibuat secara tertulis atau tidak tertulis; 4. Tidak menyebut tujuan perjanjian.54

Dengan demikian, sungguhpun mungkin sulit dibuktikan, perjanjian lisan secara hukum sudah dapat dianggap perjanjian yang sah dan sempurna. Unsur adanya perjanjian tetap disyaratkan, dimana perjanjian lisan dianggap sudah cukup memadai untuk menyeret si pelaku untuk bertanggung jawab secara hukum.55

Para ahli menganggap rumusan perjanjian menurut Pasal 1313 KUHPerdata selain kurang lengkap juga terlalu luas. Perjanjian lahir karena ada persetujuan atau kesepakatan di antara para pihak, bukan persetujuan sepihak saja. Pengertian perbuatan di sini juga tidak terbatas, mencakup perbuatan secara sukarela dan perbuatan yang bersifat melawan hukum. Dengan demikian, baik KUHPerdata maupun Undang-Undang No.5 Tahun 1999 sama-sama merumuskan pengertian perjanjian dalam pengertian yang luas.

Menurut Undang-Undang No.5 Tahun 1999, subjek hukum di dalam perjanjian tersebut adalah “pelaku usaha”. Pasal 1 angka 5 Undang-Undang No.5

54

Rachmadi Usman, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 37.

55

Munir Fuady, Hukum Anti Monopoli; Menyongsong Era Persaingan Sehat, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 51.

Tahun 1999 menyatakan, yang dimaksudkan dengan “pelaku usaha” adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi.56 Dengan demikian, berdasarkan perumusan yang diberikan Pasal 1 angka 5 tersebut, subjek hukum di dalam perjanjian bisa berupa perseorangan atau badan usaha yang berbadan hukum atau bukan badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara.

Badan usaha dimaksud adalah badan usaha yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan usaha dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia. Dengan kata lain, badan usaha asing tidak dapat dijerat dengan Undang-Undang No.5 Tahun 1999. Pasalnya, hanya badan usaha yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan usaha dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia yang dapat dijerat dengan Undang-Undang No.5 Tahun 1999. Demikian pula, baik batang tubuh maupun penjelasan Undang-Undang No.5 Tahun 1999 tidak menjelaskan lebih lanjut apakah orang perseorangan di sini juga harus berkedudukan atau melakukan kegiatan usaha (bisnis) di dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia atau tidak.

Perjanjian yang dirumuskan dalam Pasal 1 angka 7 tersebut adalah perjanjian sepihak. Namun, tidak berarti hanya perjanjian sepihak yang terkena Undang-Undang No.5 Tahun 1999. Jangkauan berlakunya sangat

56

menguntungkan. Pengertian perjanjian sepihak menurut Undang-Undang No.5 Tahun 1999 dianggap mempunyai kelemahan. Kelemahan pengertian perjanjian menurut Undang-Undang No.5 Tahun 1999 tidak bisa dianggap tidak penting, karena ia akan memungkinkan lebih mudahnya orang terkena pidana di dalam perjanjian-perjanjian yang per se illegal. Kalau perjanjian sepihak tidak dilarang, keadaan ini akan disalahgunakan, sehingga akan terjadi perjanjian sepihak yang ditaati oleh pihak-pihak yang sebenarnya tidak terikat yang akhirnya merusak persaingan. Hal ini bisa diatasi dengan menambah suatu ketentuan lain, seperti persekongkolan. Dengan ini, walaupun pasal perjanjian tidak bisa diberlakukan, mereka akan terkena ketentuan persekongkolan tersebut.

Sebagai akhir dari pengertian perjanjian yang dilarang ini, maka perlu lagi diketahui bahwa pengertian yang defenitif mengenai perjanjian yang dilarang tidak diberikan dan tidak diatur dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1999. Dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1999 hanya diberikan dan ditekankan saja mengenai pengertian perjanjian semata, namun tidak ada ditekankan mengenai pengertian perjanjian yang dilarang.

B. Jenis-Jenis Dari Perjanjian Yang Dilarang

Dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1999 terdapat 11 (sebelas) macam perjanjian yang dilarang untuk dibuat oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain, sebagaimana diatur dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 16. Dilarangnya jenis-jenis perjanjian itu disebabkan karena dapat mengakibatkan terjadinya praktik

monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Adapun jenis-jenis perjanjian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Perjanjian Oligopoli (Pasal 4)

Dari perumusan Pasal 4 Undang-Undang No.5 Tahun 1999 dapat dilihat bahwa suatu perjanjian yang menimbulkan oligopoli dilarang jika terpenuhinya unsur-unsur sebagai berikut:

1. Adanya suatu perjanjian.

2. Perjanjian tersebut dibuat antarpelaku usaha.

3. Tujuan dibuatnya perjanjian tersebut adalah untuk secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaan barang atau jasa. 4. Perjanjian tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan

persaingan curang.

5. Praktek monopoli atau persaingan curang patut diduga telah terjadi jika dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar dari satu jenis barang atau jasa.57 Dalam Pasal 4 ini tidak menjelaskan apakah penguasaan pangsa pasar sebesar 75% (tujuh puluh lima persen) itu ditentukan jangka waktunya, misalnya tidak boleh terjadi dalam waktu satu bulan, satu tahun dan sebagainya. Begitu juga tidak dijelaskan cakupan pasar yang dimaksud. Misalnya apakah pangsa pasar yang dikuasai itu berskala nasional, provinsi, kabupaten dan sebagainya.58 Berdasarkan Pasal 4 ini, perjanjian oligopoli dilarang apabila dapat merugikan

57

Munir Fuady, Op.Cit., hlm. 53-54. 58

Insan Budi Maulana, Catatan Singkat UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 18-19.

persaingan, jadi bersifat rule of reason bukan per se illegal. Hal ini karena larangan oligopoli hanya dimasukkan dalam kategori perjanjian yang dilarang, yang dapat mempersempit cakupan larangan tersebut mengingat keterbatasan arti perjanjian.59

Dalam penerapannya, harus diteliti dengan seksama apakah suatu perjanjian oligopoli itu merupakan tindakan yang dilarang atau tidak, karena tidak semua oligopoli merupakan pelanggaran. Untuk itu harus diperhatikan unsur-unsur:

1. Apakah tindakan tersebut terjadi pada suatu pasar yang tertentu baik pasar produk maupun pasar geografis;

2. Selidiki pula apakah pelaku atau para pelaku usaha tersebut memiliki kekuatan untuk menguasai pasar tersebut;

3. Kemudian harus diperhatikan apakah pelaku atau para pelaku usaha tersebut dalam melakukan praktek monopoli tersebut mempunyai niat atau kesengajaan untuk melakukan praktek monopoli.

Bila ketiga unsur ini dipenuhi barulah pelaku atau para pelaku usaha tersebut dapat dikenakan pasal ini.60

2. Perjanjian Penetapan Harga (Pasal 5)

Yaitu dimana pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas mutu suatu barang atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama. Sebenarnya, adanya penetapan harga ini merupakan ancaman bagi para pendatang

59

Rachmadi Usman, Op.Cit., hlm. 43. 60

Asril Sitompul, Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; Tinjauan Terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), hlm. 45.

baru dalam suatu bisnis, karena hal tersebut dapat mematikan persaingan, karena dengan penetapan harga ini kemungkinan pendatang baru tidak dapat untuk mengikutinya. Persetujuan untuk menetapkan harga ini merupakan pelanggaran, baik yang dilakukan dengan penetapan harga tertinggi, maupun penetapan harga terendah, karena pada hakikatnya tujuan larangan ini adalah untuk menciptakan harga yang kompetitif, bukan semata-mata harga yang paling murah. Dengan adanya larangan ini para pelaku usaha diharuskan untuk berhati-hati, karena dalam praktek hal ini banyak sekali terjadi.61

Akan tetapi undang-undang memberikan pengecualian terhadap larangan membuat perjanjian tentang pelaku usaha ini, yaitu jika perjanjian penetapan harga tersebut dibuat dalam hal suatu usaha patungan atau didasarkan pada Undang-Undang yang berlaku (Pasal 5 ayat (2)).62

3. Diskriminasi Harga (Pasal 6)

Pada pasar tertentu, produsen dapat menetapkan harga yang mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk suatu produk.63 Hal ini dilakukan karena mungkin produsen dapat menghasilkan laba jauh lebih tinggi dibandingkan jika produsen hanya menetapkan satu harga untuk semua konsumen.64

61

Asril Sitompul, Op.Cit., hlm. 47-48. 62

Munir Fuady, Op.Cit., hlm. 56. 63

Knud Hansen, dkk., Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, (Jakarta: Katalis, 2002), hlm. 157.

64

Ada tiga jenis dan tingkatan diskriminasi harga, yaitu:65

1. Diskriminasi harga sempurna, dimana produsen menetapkan harga yang berbeda untuk semua konsumen. Dalam hal ini setiap konsumen akan dikenakan harga yang tertinggi menurut kesanggupannya untuk membayar.

2. Pada situasi dimana produsen tidak dapat mengindentifikasi berapa harga maksimum yang dibayar oleh konsumen, maka produsen dapat menerapkan diskriminasi harga tingkat kedua, yaitu menerapkan harga yang berbeda untuk setiap pembeli berdasarkan jumlah barang yang dibeli. Makin sedikit kuantitas barang yang dibeli oleh konsumen maka harga semakin tinggi.

3. Diskriminasi harga yang diterapkan berdasarkan pembedaan karakteristik kelompok konsumen yang akan membeli juga berdasarkan perbedaan demografis kelompok konsumen tersebut. Misalnya suatu swalayan yang memberikan potongan harga untuk siswa sekolah, atau hotel yang memberikan potongan harga bagi penginap yang lanjut usia.66

4. Perjanjian Penetapan Harga di Bawah Harga Pasar

Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang No.5 Tahun 1999, perjanjian penetapan harga di bawah biaya marjinal yang dilarang adalah perjanjian yang dibuat pelaku usaha dengan pelaku usaha pesaingnya dengan tujuan menetapkan harga di bawah pasar, yang membawa akibat timbulnya persaingan usaha tidak sehat dan terjadinya praktek monopoli. Sebenarnya apabila produsen menetapkan

65

Ibid., hlm. 49-50. 66

Ayudha D. Prayoga, dkk., Persaingan Usaha dan Hukum yang Mengaturnya di Indonesia, (Jakarta: Partnership for Business Competition, 2001), hlm. 76-77.

harga yang rendah bahkan sampai dibawah harga pasar, hal tersebut tidak langsung menyebabkan implikasi negatif. Karena pada awalnya justru memberi keuntungan pada konsumen dalam jangka pendek, tetapi di pihak lain akan sangat merugikan pesaing (produsen lain).

Akan tetapi, hal ini dapat mengakibatkan produsen lain tidak mampu bersaing dan terpaksa keluar dari pasar. Demikian pula produsen lainnya yang akan masuk ke dalam pasar akan mengurungkan niatnya karena hanya akan berdampak kerugian baginya. Jika kondisi ini terjadi maka para produsen yang mengadakan perjanjian menetapkan harga di bawah harga pasar itu akhirnya tidak mempunyai pesaaing lagi. Sehingga pada gilirannya mereka akan leluasa menaikkan harga setinggi-tingginya demi meraih kompensasi dari kerugiannya selama ini dan akhirnya untuk mencapai keuntungan yang maksimum.67

5. Perjanjian Penetapan Harga Jual Kembali

Dalam Pasal 8 Undang-Undang No.5 Tahun 1999, pelaku usaha (supplier) dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha (distributor) untuk menetapkan harga vertikal (resale price maintenance), dimana penerima barang dan atau jasa selaku distributornya tidak boleh menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang telah diterimanya dari supplier tersebut dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang telah diperjanjikan sebelumnya antara supplier dan distributor, sebab hal ini akan dapat menimbulkan persaingan usaha tidak sehat.68 Penetapan harga jual kembali apakah dalam harga yang maksimum atau minimum

67

Knud Hansen, dkk., Op.Cit., hlm. 161-162. 68

dapat di samping mengandung argumentasi efisiensi juga dapat berakibat pada persaingan usaha yang tidak sehat.

6. Perjanjian Pembagian Wilayah

Pasal 9 Undang-Undang No.5 Tahun 1999 melarang pelaku usaha untuk mengadakan perjanjian pembagian wilayah (market allocation), baik yang bersifat vertikal atau horizontal. Perjanjian ini dilarang karena pelaku usaha meniadakan atau mengurangi persaingan dengan cara membagi wilayah pasar atau alokasi pasar.69 Wilayah pemasaran disini dapat berarti wilayah negara Republik Indonesia atau bagian wilayah negara Republik Indonesia. Membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar itu berarti membagi wilayah untuk memperoleh atau memasok barang, jasa atau barang, dan jasa tertentu.

Sebenarnya larangan pembagian wilayah yang dilarang oleh Pasal 9 dari Undang-Undang No.5 Tahun 1999, hanya sebagian saja dari pelarangan pembagian pasar seperti biasanya dilarang oleh hukum anti monopoli. Dalam ilmu hukum antimonopoli, dikenal berbagai macam pembagian pasar (secara horizontal) yang secara yuridis tidak dibenarkan, yaitu:70

1. Pembagian Pasar Teritoreal

Dalam hal ini yang dibagi adalah teritoreal dari pasar, misalnya seorang pelaku usaha mendapat hak untuk beroperasi di pasar Jakarta Utara dan Jakarta Pusat, sementara pelaku kompetitornya mendapat hak untuk beroperasi di Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan.

69

Rachmadi Usman, Op.Cit., hlm. 53. 70

Dokumen terkait