• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan inflasi di Kalimantan sampai dengan Juli 2014 kembali menunjukan tren menurun. Tingkat inflasi Kalimantan pada Juli 2014 tercatat sebesar 5,16% (yoy) yang lebih rendah dari triwulan II 2014 sebesar 7,29% (yoy). Hilangnya pengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi pada tahun 2013 dan relatif terjaganya inflasi pada masa bulan Ramadhan dan Idul Fitri seiring peran aktif TPID dan Pemerintah Daerah memberikan pengaruh positif terhadap tingkat inflasi di Kalimantan. Meskipun demikian, tingkat inflasi di Kalimantan Barat pada awal triwulan III 2014 ini masih tercatat cukup tinggi yang disebabkan kenaikan tarif angkutan udara yang cukup signifikan.

Tekanan inflasi selama triwulan III 2014 lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan beberapa harga komoditas pangan seperti daging ayam ras dan telur ayam ras. Kenaikan harga pada dua komoditas tersebut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang melakukan pembatasan produksi DOC (Day Old

Chick), kenaikan permintaan pada periode Ramadhan dan perayaan Idul Fitri pada bulan Juni dan

Agustus 2014, serta efek peningkatan TTL untuk enam golongan listrik, khususnya untuk golongan rumah tangga (R1 – 1300 VA). Selain itu, pada periode ini banyak dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat dan tingginya penggunaan jasa transportasi udara. Kenaikan tarif angkutan udara ini bahkan menyebakan inflasi di Kalimantan Barat masih cukup tinggi kendati juga berada dalam tren yang menurun. Namun, secara keseluruhan, melimpahnya pasokan pangan seiring masuknya masa panen raya, serta relatif minimalnya kendala distribusi, cukup dapat mengimbangi kenaikan permintaan sehingga tekanan inflasi di Kalimantan cukup terkendali.

Sumber: BPS, diolah Sumber: BPS, diolah

Grafik II.2.7 Perkembangan Inflasi di Kalimantan Grafik II.2.8 Disagregasi Inflasi Wilayah Kalimantan

Koordinasi Pengendalian Inflasi

Menghadapi potensi kenaikan harga selama periode Ramadhan dan Idul Fitri, TPID di wilayah Kalimantan telah melakukan berbagai upaya untuk meredam peningkatan harga pangan. Berbagai bentuk kegiatan seperti koordinasi di level provinsi telah dilakukan semua TPID Provinsi di wilayah Kalimantan menjelang bulan Ramadhan. Selain itu, kegiatan pengendalian inflasi lainnya seperti 1) Pelaksanaan operasi pasar/pasar murah/pasar penyeimbang di semua provinsi untuk menekan harga pangan, 2) Melakukan sidak (inspeksi mendadak) pasar untuk memastikan tidak adanya kenaikan harga yang berlebihan di level pengecer dan mencegah penimbunan, 3) Melakukan himbauan kepada masyarakat agar lebih bijaksana dalam melakukan pembelian, 4) Memprioritaskan sandar kapal dan bongkar muat pelabuhan untuk barang-barang komoditas pangan strategis (Kalsel dan Kaltim), 5) Memprioritaskan pengisian BBM untuk truk yang mengangkut bahan pokok khususnya untuk operasi pasar, selama kendaraan tersebut telah didaftarkan terlebih dahulu (Kalsel).

STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN

Ketahanan Sektor Korporasi

Melambatnya pertumbuhan ekonomi wilayah Kalimantan pada triwulan II 2014 juga tercermin pada perlambatan pertumbuhan kredit di Kalimantan. Kredit yang disalurkan di wilayah Kalimantan pada triwulan II 2014 mencapai Rp220,13 triliun atau tumbuh 11,41% (yoy) menurun dari pertumbuhan kredit triwulan sebelumnya yang mencapai 17,03% (yoy). Menurunnya kinerja sektor pertambangan,sektor pertanian dan PHR memengaruhi penyaluran kredit pada sektor utama. Penurunan penyaluran kredit terutama terjadi di sektor pertambangan yang tercatat tumbuh negatif sebesar 26% (yoy) seiring melemahnya aktivitas di sektor pertambangan karena melemahnya permintaan ekspor dan penerapan kebijakan pengaturan ekspor mineral. Selain itu, penurunan kinerja pertanian terutama pada subkelompok tanaman bahan makanan dan perkebunan karet menyebabkan penurunan penyaluran kredit di sektor pertanian yang tercatat tumbuh 11,41% (yoy) menurun dibandingkan dengan triwulan I 2014 sebesar 17,03% (yoy). Dari sisi kualitas kredit, hampir semua sektor masih memiliki non performing loan (NPL) dibawah 5%, kecuali di sektor konstruksi yang cenderung menunjukkan kenaikan lebih tinggi.

Grafik II.2.9 Pertumbuhan Kredit Kalimantan Grafik II.2.10 NPL Kredit Perbankan Kalimantan

Ketahanan Sektor Rumah Tangga

Penyaluran kredit rumah tangga (konsumsi) di Kalimantan triwulan II 2014 tumbuh melambat dari 15,81% (yoy) menjadi 12,89% (yoy). Namun jika dilihat volume kredit/pembiayaan pada triwulan II 2014 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan triwulan I 2014, dari Rp59,11 triliun menjadi Rp60,76 triliun. Perlambatan terutama didisebabkan oleh penurunan kredit KPR dibawah type 70 dan kredit kendaraan bermotor (KKB), seiring diterapkannya kebijakan LTV yang ditetapkan pada pertengahan tahun 2013 dan kecenderungan naiknya suku bunga. Namun disisi lain, kredit multiguna mengalami peningkatan yang signifikan menjadi 10,3% (yoy) pada triwulan II 2014 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 0,7% (yoy). Dari sisi kualitas kredit, meskipun terjadi peningkatan Non Performaing

Loan dari 1,41% pada triwulan I 2014 menjadi 1,58% di triwulan II 2014, namun resiko kredit sektor

Grafik II.2.11 Pertumbuhan Kredit Rumah Tangga di Kalimantan

Grafik II.2.12 Pertumbuhan Kredit UMKM di

Kalimantan

Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Sejalan dengan penyaluran kredit perbankan secara keseluruhan yang tumbuh melambat, kredit untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pada triwulan II 2014 tercatat 18,14% (yoy), sedikit menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tumbuh 18,55% (yoy). Secara sektoral, penurunan kinerja penyaluran kredit UMKM ini terutama ditopang oleh menurunya realisasi kredit di sektor perdagangan hotel restoran (PHR) yang tumbuh sebesar 13,55% (yoy) lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 26,55% (yoy). Pembiayaan sektor UMKM di wilayah Kalimantan kedepan diprakirakan akan kembali meningkat, seiring dengan mulai beroperasinya Perusahaan Penjamin Kredit Daerah (PPKD) di Provinsi Kalimantan Tengah, sehingga telah ada 3 PPKD yang ada di Kalimantan (Kaltim, Kalteng dan Kalsel).

Pengembangan UMKM juga dilakukan oleh Bank Indonesia melalui berbagai kegiatan pemberdayaan UMKM dan edukasi kepada masyarakat umum terkait lembaga keuangan guna memperluas akses masyarakat kepada lembaga keuangan. Pengembangan UMKM yang dilaksanakan dalam aktivitas kewirausahaan dan pengembangan klaster seperti pelatihan kepada wirausaha kepada UMKM binaan (inkubator bisnis) serta klaster Kerajinan Bidai dan Anyaman Rotan di Kalimantan Barat. Pengembangan Klaster Padi, Cabe Merah dan Bawang Merah di Kalimantan Timur, Klaster Cabe, Padi Unggul, Sapi Pedaging dan Klaster Bawang Merah di Kalimantan Selatan, dan Klaster Rumput Laut dan Sarung Tenun Samarinda di Kalimantan Timur, lalu yang terakhir pengembangan klaster beras, cabai dan bawang merah di Kalimantan Tengah. Dalam setiap kegiatan klaster yang dilaksanakan juga dilengkapi dengan pemberian bantuan teknis dan penguatan kelembagaan UMKM pada klaster tersebut.

Kinerja Sistem Pembayaran

Perkembangan transaksi nontunai pada triwulan II 2014 masih tumbuh negatif, namun lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kondisi tersebut seiring dengan adanya perlambatan ekonomi wilayah Kalimantan pada triwulan I dan II 2014. Transaksi melalui RTGS pada triwulan II 2014 mencapai Rp279,40 triliun (tumbuh -6,0%, yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai Rp182,67 triliun (tumbuh -29,6%, yoy) . Pada transaksi kliring terlihat adanya peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan baik dari sisi nominal maupun jumlah warkat transaksi (lembar). Jumlah warkat yang dikliringkan pada triwulan sebelumnya sebesar 528.715 lembar dan pada triwulan II 2014 turun menjadi 313.382. Sedangkan volume transaksi kliring pada triwulan II 2014 sebesar Rp13,19 triliun, turun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar Rp21,80 triliun. Hal tersebut seiring dengan masih kecilnya transaksi pada awal tahun 2014 di wilayah Kalimantan.

Sementara itu, jumlah penolakan cek dan bilyet giro kosong yang ditemukan dalam transaksi kliring juga mengalami penurunan dari jumlah lembar warkat dan jumlah nominal sebesar Rp345 miliar pada triwulan II 2014 dari Rp701 miliar pada triwulan I 2014. Penurunan yang cukup signifikan dari nominal cek dan bilyet giro kosong tersebut berasal dari wilayah Kalimantan Selatan yang mengalami penurunan dari Rp386 miliar pada triwulan I 2014 menjadi Rp101 miliar pada triwulan II 2014.

Grafik II.2.13 Perkembangan Inflow Outflow Grafik II.2.14 Perkembangan Transaksi Non Tunai

Kinerja Pengelolaan Uang Tunai

Pengelolaan uang tunai di Kalimantan pada triwulan II 2014 mengalami Net Outflow di wilayah Kalimantan dibandingkan dengan triwulan I 2014. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan uang masyarakat menjelang masa libur sekolah dan pelaksanaan pemilu legislatif. Kegiatan pengelolaan uang tunai Bank Indonesia di wilayah Kalimantan pada triwulan II 2014 mencatat inflow sebesar Rp5,73 triliun, turun sebesar 25,45% dibandingkan triwulan sebelumnya. Sedangkan, outflow tercatat sebesar Rp8,68 triliun, mengalami peningkatan sebesar 78,80% dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan outflow dan penurunan inflow di wilayah Kalimantan menyebabkan terjadinya netflow negatif (net outflow) sebesar Rp2,95 triliun pada triwulan II 2014.

Selain itu, selama triwulan II 2014 rata-rata temuan uang kertas palsu di wilayah Kalimantan mengalami penurunan dari 532 lembar per bulan pada triwulan I 2014 menjadi 403 lembar per bulan pada triwulan laporan. Rasio temuan uang palsu dalam satuan lembar per 1 juta uang yang diedarkan mengalami penurunan pada triwulan II 2014 sebesar 0,113 dari 0,160 pada triwulan sebelumnya.

PROSPEK PEREKONOMIAN

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Perkembangan terkini mengindikasikan perekonomian Kalimantan untuk keseluruhan tahun 2014 diprakirakan tumbuh di kisaran kisaran 3,3%-3,7% (yoy) atau di bawah prakiraan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kinerja pertambangan yang masih terbatas seiring melemahnya permintaan barubara dari Tiongkok dan masih berlanjutnya konsolidasi di sektor tambang terkait dengan kebijakan pengaturan ekspor mineral yang berlaku sejak awal tahun 2014. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan diperkirakan lebih banyak ditopang oleh permintaan domestik, khususnya konsumsi, yang dipengaruhi oleh membaiknya daya beli masyarakat yang didorong oleh tingkat inflasi yang diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kegiatan investasi juga diperkirakan masih dapat tumbuh meningkat didukung pelaksanaan proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), upaya hilirisasi sektor perkebunan, pembangunan smelter dan pertambangan migas

yang masih berlanjut. Sementara itu, dari sisi sektoral, perekonomian Kalimantan masih didorong oleh tiga sektor utamanya, yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan serta sektor industri pengolahan; terutama meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan seiring bertambahnya pabrik CPO di Kalimantan Barat dan mulai beroprasinya pabrik pemurnian logam di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Selain itu, meningkatnya permintaan barubara dari dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan PLTU berpotensi untuk mengkompensasi penurunan permintaan batubara Tiongkok.

Kedepan, terdapat beberapa faktor risiko yang berpotensi semakin memperlambat laju pertumbuhan tahun 2014. Belum pulihnya perekonomian Tiongkok dengan kecenderungan memburuk dan adanya rencana penerapan beberapa ijin ekspor dan biaya royalti hasil tambang batubara, berpotensi untuk semakin menekan kinerja sektor pertambangan. Selain itu, resiko tidak beroperasinya pabrik pemurnian logam sesuai dengan target waktu akibat kendala pembangunan dan perijinan dapat semakin menekan sektor pertambangan dan menghambat kinerja sektor industri pengolahan. Untuk sektor pertanian, terjadinya El-Nino dengan intensitas moderat-tinggi pada semester II 2014 dapat mempengaruhi kinerja sektor pertanian.

Prospek Inflasi

Dengan mencermati perkembangan terakhir, tingkat inflasi tahunan di wilayah Kalimantan pada tahun 2014 diperkirakan masih dalam kisaran perkiraan sebelumnya yaitu 5,3%-5,7 % (yoy). Tingkat inflasi tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 8,7% (yoy). Tekanan inflasi pada semester II 2014 diperkirakan bersumber pada kelompok bahan makanan seiring berlalunya musim panen komoditas pangan strategis dan adanya potensi El-Nino yang dapat menghambat produksi pertanian. Selain itu, kebijakan kenaikan TTL, terutama golongan rumah tangga, yang dilakukan secara bertahap pada semester II 2014 akan membarikan tekanan inflasi dar kelompok administered price. Beberapa faktor risiko yang berpotensi memicu inflasi tahun 2014 menjadi lebih tinggi dari perkiraan terutama bersumber dari beberapa hal sebagai berikut: 1) kondisi cuaca yang relatif sulit diprediksi seperti sampai dengan pertengahan tahun masih sering terjadi hujan, yang akan berpengaruh pada produksi hortikultura (sayuran dan buah-buahan) dikarenakan menimbulkan wabah ulat dan meningkatnya rontok bunga sebelum berkembang menjadi buah, 2) kebijakan pembatasan penjualan BBM bersubsidi untuk mengamankan kuota APBNP 2014 yang mulai berlaku per 1 Agustus 2014, yang berpotensi untuk meningkatkan tarif angkutan barang dan orang, dan 3) rencana pemerintah untuk menyesuaikan tarif batas atas angkutan udara pasca-lebaran yang berpotensi akan semakin memberikan tekanan inflasi pada Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, yang tingkat inflasinya sangat dipengaruhi oleh tarif angkutan udara.

Tabel II.2.2. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Kalimantan

I II III IV Total I II IIIp IVp Totalp

PDRB (%,yoy) 5,0 4,8 2,9 3,5 3,8 3,8 3,5 3,8 3,3 3,4 3,3-3,7 3,3-3,7

Sisi Permintaan

Konsumsi 6,5 7,0 7,1 6,7 6,5 6,7 6,7 6,9 7,0 7,2 6,5-6,9 6,7-7,1

Konsumsi swasta 6,3 7,1 7,3 6,7 5,7 6,0 6,4 6,7 6,1 6,3 6,1-6,5 6,1-6,5 Konsumsi Pemerintah 7,3 6,5 6,6 6,5 9,2 8,8 7,8 7,5 9,9 10,3 7,8-8,2 8,7-9,1 Pembentukan Modal Tetap Bruto 7,9 9,8 7,9 6,4 5,7 5,9 6,5 4,9 5,5 6,9 6,8-7,2 5,9-6,3 Ekspor 5,2 3,0 4,7 3,9 7,1 4,3 5,0 (3,9) (3,8) (4,1) (3,8)-(3,4) (4,0)-(3,6) Impor 8,4 8,7 8,7 7,4 13,0 8,7 9,4 (3,7) (1,7) (2,7) (4,5)-(4,1) (3,3)-(2,9)

Sisi Produksi

Sektor pertanian 4,7 4,4 2,6 5,7 3,9 6,4 4,6 5,1 2,8 3,7 3,9-4,3 3,7-4,1

Sektor pertambangan & penggalian 6,7 4,8 0,7 1,4 0,2 0,1 0,6 0,4 (0,9) (0,1) 0,0-9,4 (0,3)-0,1

Industri pengolahan (3,7) (3,5) (3,1) (3,5) 0,9 (1,0) (1,7) 0,3 1,7 (0,4) (0,1)-0,3 0,2-0,6

Listrik, gas & air bersih 8,7 7,3 5,9 5,4 4,7 4,8 5,2 4,4 4,6 5,2 5,2-5,6 4,7-5,1

Bangunan 9,8 11,6 10,6 8,2 6,7 7,4 8,1 7,5 8,3 6,4 5,5-5,9 6,7-7,1

Perdagangan, hotel & restoran 8,5 8,2 5,2 6,6 7,2 6,8 6,5 6,6 5,9 6,9 6,3-6,7 6,3-6,7

Pengangkutan & komunikasi 8,9 9,2 7,4 7,4 8,2 8,2 7,8 7,8 7,7 7,6 7,1-7,5 7,4-7,8

Keuangan, persewaan dan jasa perush. 10,1 12,6 13,1 12,1 10,0 9,2 11,0 9,4 10,0 10,0 8,8-9,2 9,4-9,8

Jasa-jasa 8,5 8,5 7,6 6,6 8,9 8,4 7,9 7,8 6,3 6,8 6,5-6,9 6,7-7,1

Inflasi IHK (%,yoy) 5,3 5,8 6,0 6,3 8,4 8,6 8,6 7,3 7,6 5,0 5,3-5,7 5,3-5,7

Sumber: Badan Pus at Statis tik, diolah

p

proyeks i Bank Indones ia

Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi

Wilayah 2011 2012

Bagian II.3