• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN MONETER DAN PASAR KEUANGAN Perkembangan Moneter

Perkembangan Moneter

Nilai Tukar Rupiah

Sejak akhir triwulan III tahun 2017 hingga pertengahan triwulan II tahun 2018, pergerakan nilai tukar mata uang dolar AS terhadap rupiah terus menguat dan cukup berfluktuasi. Penguatan tersebut mendorong rupiah terdepresiasi, melampaui target yang ditetapkan pemerintah di dalam APBN 2018 sebesar Rp13.400 per USD. Penguatan USD tersebut didorong oleh sentimen positif pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS), normalisasi kebijakan moneter AS, hingga efek perang dagang AS. Sepanjang 2018, diprediksi Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan Federal Fund Rate (FFR) sebanyak empat kali. Hingga triwulan kedua 2018, The Fed telah menaikkan FFR sebanyak dua kali yaitu pada tanggal 21 Maret 2018 dan 14 Juni 2018 masing-masing sebesar 25 bps hingga menjadi 1,75 - 2,00 persen.

Untuk pertama kalinya pada tahun 2018, nilai tukar rupiah menyentuh level Rp14.000 per USD dan mencapai titik tertinggi pada 23 Mei 2018 sebesar Rp14.209 per USD (Gambar 37). Meskipun demikian, rupiah sempat menguat tipis mencapai Rp13.853 per USD pada 6 Juni 2018, sebelum akhirnya kembali terdepresiasi hingga Rp14.330 per USD pada akhir triwulan II tahun 2018. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, rupiah pada triwulan II mengalami pelemahan sebesar 2,82 persen (Lampiran 3). Pelemahan nilai tukar pada triwulan II dialami oleh hampir seluruh mata uang negara-negara emerging market, di mana dua mata uang yang mengalami pelemahan sangat signifikan (di atas 10 persen) adalah Lira-Turki dan Real-Brazil (Lampiran 3). Jika ditinjau dari kondisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup aman di tengah-tengah gejolak kondisi perkembangan ekonomi global. Hal tersebut diperlihatkan oleh: (i) pertumbuhan ekonomi triwulan II yang semakin membaik mencapai 5,27 persen; (ii) tingkat inflasi yang terkendali pada tingkat 3,12 persen di akhir Juni,

Pada akhir triwulan II tahun 2018, nilai tukar rupiah mencapai Rp14.330 per USD, melemah 2,82 persen jika dibandingkan posisi akhir triwulan sebelumnya.

122

serta (iii) realisasi defisit APBN sebesar 0,75 persen yang lebih rendah dari asumsi pemerintah dalam APBN yaitu 2,19 persen.

Gambar 37. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap USD (Rp per USD)

Sumber:Bloomberg, data diolah.

Selanjutnya, jika ditinjau dari indeks nilai tukar riil rupiah (Real Effective Exchange Rate/REER), REER Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara sekawasan ASEAN yaitu Filipina, Singapura, Thailand, dan Malaysia (Gambar 38). Rendahnya REER yang dimiliki Indonesia ini memiliki dampak positif terhadap daya saing ekspor dibandingkan negara-negara peers tersebut. Pada akhir triwulan II tahun 2018, nilai REER Indonesia sebesar 89,59. Nilai REER negara kawasan ASEAN tertinggi dimiliki oleh Singapura sebesar 107,63, disusul Thailand sebesar 106,76, Filipina sebesar 103,93, dan Malaysia sebesar 89,78.

Rp14.209 Rp13.853 Rp14.330 12800 13300 13800 14300 14800 Jan -17 Fe b -17 Mar-17 Ap r-17 Me i-17 Ju n -17 Ju l-17 A g u -17 Se p -17 O kt -17 N o v-17 De s-17 Jan -18 Fe b -18 Mar-18 Ap r-18 Me i-18 Ju n -18 US D -ID R ( Ru pi ah ) USD-IDR (Rp/USD) 23 Mei 2018 30 Juni 2018 6 Juni 2018

Nilai tukar riil rupiah (REER) masih merupakan yang terendah di antara negara-negara sekawasan ASEAN. REER rupiah pada akhir triwulan II tahun 2018 mencapai 89,59.

123

Gambar 38. Real 2Effective Exchange Rate ASEAN-5, Juni 2011 – Juni 2018 (2010=100)

Sumber:Bloomberg, data diolah.

Inflasi

Pada umumnya, periode April – Juni merupakan periode musiman dimana tingkat inflasi relatif lebih tinggi karena adanya peningkatan permintaan (demand pull inflation) pada masa bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Namun, realisasi tingkat inflasi pada triwulan II tahun 2018 lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Selama periode April – Mei tahun 2018, inflasi tahunan (YoY) masing-masing sebesar 3,41 persen, 3,23 persen dan 3,12 persen (Tabel 51). Selanjutnya, jika dilihat secara bulanan (MtM) selama triwulan II tahun 2018, pergerakan inflasi pada bulan April – Juni masing-masing sebesar 0,10 persen, 0,21 persen, dan 0,59 persen (Tabel 51). Di samping adanya intervensi kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) melalui Forum Tim Pengendalian Inflasi Nasional (TPIN), perkembangan inflasi yang terkendali ini juga merupakan dampak dari penurunan inflasi komponen administered prices yang lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Realisasi tingkat inflasi pada triwulan II tahun 2018 lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun – tahun

sebelumnya. Bahkan, inflasi pada akhir triwulan II merupakan yang terendah selama tujuh tahun terakhir sejak tahun 2011. 89,59 106,76 89,78 103,93 107,63 80 85 90 95 100 105 110 115 120 In d e ks

124

Tabel 51. Tingkat Inflasi Domestik Triwulan II Tahun 2018 Persentase (%)

April Mei Juni

Year-on-Year 3,41 3,23 3,12

Month-to-month 0,10 0,21 0,59

Tahun kalender 1,09 1,30 1,90

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah kembali

Secara tahunan (YoY) sepanjang periode April – Juni tahun 2018, inflasi administered prices terus menurun perlahan secara berturut-turut dari 4,04 persen, 3,61 persen, dan 2,88 persen (Tabel 52). Penurunan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengendalikan kebijakan yang dapat memengaruhi gejolak harga pada komoditas administered prices.

Selain mengendalikan inflasi komponen administered prices, pemerintah dan BI juga fokus pada pengendalian inflasi komponen volatile food dengan menjaga ketersediaan pasokan agar dapat mencukupi kebutuhan pasar serta mengatur kelancaran distribusi pasokan agar lebih efektif dan efisien. Pada periode triwulan II tahun 2018 secara bertahap inflasi komponen volatile food masing-masing sebesar 5,08 persen, 4,33 persen, dan 4,60 persen (YoY) (Tabel 52). Sementara itu, pergerakan inflasi inti cukup stabil secara tahunan yang mana masing-masing sebesar 2,69 persen, 2,75 persen, 2,72 persen (YoY) dan secara bulanan berturut-turut sebesar 0,15 persen, 0,21 persen, dan 0,24 persen (MtM) pada April – Juni 2018 (Tabel 52).

Tabel 52. Tingkat Inflasi Domestik berdasarkan Komponen, April-Juni 2018 (dalam %)

Komponen YoY (%) MtM (%)

April Mei Juni April Mei Juni

Inti 2,69 2,75 2,72 0,15 0,21 0,24

Bergejolak 5,08 4,33 4,60 -0,29 0,19 0,90

Diatur pemerintah 4,04 3,61 2,88 0,24 0,27 1,38

Sumber: Badan Pusat Statistik, data diolah

Penurunan inflasi triwulan II tahun 2018 cukup signifikan disumbang oleh komponen inflasi administered prices.

125

Berdasarkan kelompok pengeluaran, sumbangan inflasi terbesar pada triwulan II tahun 2018 diberikan oleh inflasi Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau dan Kelompok Bahan Makanan, selanjutnya diikuti oleh Kelompok Sandang dan Kelompok Kesehatan. Share terbesar dari kelompok-kelompok pengeluaran tersebut terjadi pada bulan Juni 2018, sehingga mendorong pembentukan inflasi yang relatif tinggi bulan pada Juni sebesar 0,59 persen (MtM) (Tabel 53).

Pada Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau, Subkelompok Tembakau dan Minuman Beralkohol dan Subkelompok Makanan Jadi memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,69 persen dan 0,39 persen. Pada Kelompok Bahan Makanan, kontribusi inflasi terbesar bersumber dari Subkelompok Sayur-Sayuran sebesar 2,86 persen. Pada Lelompok Sandang, Subkelompok Sandang Anak-Anak menyumbang inflasi kelompok ini sebesar 0,76 persen. Selain itu, inflasi pada Kelompok Kesehatan kontribusi tertinggi sebesar 1,01 persen bersumber dari Subkelompok Jasa Perawatan Jasmani. Secara umum, jika dilihat dari komoditas yang dominan membentuk inflasi, inflasi pada bulan Juni 2018 disumbang oleh kenaikan harga pada komoditas ikan segar, daging ayam ras, ayam hidup, daging ayam kampung, daging sapi, ikan diawetkan, kacang panjang, petai, tomat sayur, tomat buah, bawang merah, cabai rawit, kelapa, nasi dengan lauk, rokok kretek, rokok kretek filter, tarif angkutan udara, tarif angkutan antarkota, tarif sewa rumah, dan tarif kereta api.

Tabel 53. Share Inflasi Kelompok Pengeluaran terhadap Pembentukan Inflasi Bulanan, April-Juni 2018

Kelompok Pengeluaran Persentase (%)

April Mei Juni

UMUM (headline) 0,10 0,21 0,59

Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 0,19 0,18 1,50

Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga 0,04 0,09 0,07

Kesehatan 0,22 0,21 0,27

Sandang 0,29 0,33 0,36

Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan bakar 0,16 0,19 0,13

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi pada triwulan II tahun 2018 disebabkan oleh kenaikan harga beberapa indeks kelompok pengeluaran yaitu Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau, Kelompok Bahan Makanan, Kelompok Sandang, dan Kelompok Kesehatan.

126

Kelompok Pengeluaran Persentase (%)

April Mei Juni

Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau 0,24 0,31 0,40

Bahan Makanan -0,26 0,21 0,88

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah kembali

Berdasarkan daerah, sepanjang bulan April – Juni 2018, inflasi bulanan (MtM) tertinggi dialami oleh Kota Merauke sebesar 1,32 persen pada bulan April dan Kota Tual sebesar 1,88 persen pada bulan Mei, dan Kota Tarakan sebesar 2,71 persen pada bulan Juni (Lampiran 2). Komoditas yang memberikan andil terhadap tingkat inflasi yang tinggi di Merauke adalah ikan kembung, kacang panjang, kangkung, bawang merah, rokok putih, dan rokok kretek filter. Pada Kota Tual, andil inflasi terbesar disumbang oleh komoditas ikan kembung, baronang, cakalang, kakap putih, momor, telur ayam ras, dan daun singkong. Sedangkan pada Kota Tarakan, andil inflasi terbesar disumbang oleh komoditas ikan segar, daging dan hasil-hasilnya, dan sayur-sayuran.

Sementara itu, inflasi terendah/deflasi kabupaten/kota pada triwulan II tahun 2018 dialami oleh Kota Tual sebesar -2,26 persen pada bulan April, Kota Pangkal Pinang sebesar -0,99 persen pada bulan Mei, dan Kota Medan serta Kota Pekanbaru sebesar 0,01 persen pada bulan Juni.

Indeks Harga Bahan Pokok Nasional

Pada triwulan II tahun 2018, beberapa komoditas bahan-bahan pokok nasional mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan (Gambar 39). Komoditas tersebut yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir, cabai merah biasa, dan cabai merah keriting. Kenaikan harga-harga komoditas tersebut umumnya disebabkan oleh ketersediaan pasokan yang tidak memadai. Ketidakcukupan pasokan tersebut salah satunya didorong oleh faktor kenaikan biaya produksi, sehingga produksi menurun. Misalnya saja pada komoditas daging ayam dan telur ayam ras yang mana mengalami kenaikan biaya produksinya akibat kenaikan harga pakan ayam yang disebabkan oleh impor bahan pakan jagung. Selain itu, komoditas cabai merah biasa dan cabai merah

Sepanjang triwulan II tahun 2018, secara MtM, tingkat inflasi kabupaten/kota tertinggi terjadi di beberapa daerah kawasan timur Indonesia yaitu Merauke, Tual, dan Tarakan.

Pada triwulan II tahun 2018, beberapa komoditas bahan-bahan pokok nasional mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir, cabai merah biasa, dan cabai merah keriting.

127

keriting juga mengalami gangguan pasokan yang disebabkan oleh faktor cuaca dengan curah hujan tinggi, sehingga banyak tanaman yang busuk maupun terjangkit hama dan penyakit tanaman.

Gambar 39. Perkembangan Indeks Harga Komoditas Bahan Pokok Nasional, Januari 2016-Juni 2018

Sumber: Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), 2018. Jumlah Uang Beredar

Secara umum, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh relatif stabil meski sempat mengalami perlambatan pada pertengah periode April – Juni 2018. Jika dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya, posisi M2 pada akhir triwulan II tahun 2018 tumbuh 5,91 persen (YoY) sebesar Rp5.533,7 triliun, lebih rendah dibanding posisi akhir triwulan I tahun 2018 yang tumbuh sebesar 7,53 persen (Gambar 40) tersebut bersumber dari seluruh komponennya (M1 dan uang kuasi) dan dipengaruhi oleh operasi keuangan pemerintah serta peningkatan aktiva luar negeri bersih di tengah perlambatan pertumbuhan aktiva dalam negeri.

M1 pada bulan Juni 2018 sebesar Rp 1.452,4 triliun atau tumbuh sebesar 8,24 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan Maret 2018 sebesar 11,95 persen (YoY). Penurunan pertumbuhan M1 dipengaruhi oleh penurunan uang kartal seiring dengan perlambatan konsumsi masyarakat pasca Hari Raya Idul Fitri pada pertengahan bulan 60 80 100 120 140 160

Jan-18 Feb-18 Mar-18 Apr-18 May-18 Jun-18

In d e ks Ha rg a

Minyak Goreng Curah Daging Sapi Daging Ayam

Telur Ayam Beras Medium Gula Pasir

Cabai Merah Keriting Cabai Merah Biasa Bawang Merah

Secara umum, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh relatif stabil.

M1 pada bulan Juni 2018 sebesar Rp 1.452,4 triliun atau tumbuh sebesar 8,24 persen (YoY).

128

Juni 2018. Namun demikian, perlambatan tersebut terhambat oleh peningkatan komponen M1 lainnya yaitu simpanan giro rupiah baik pada golongan nasabah korporasi maupun perseorangan.

Pada akhir triwulan II tahun 2018, uang kuasi tumbuh sebesar 5,19 persen (YoY), lebih rendah dibanding pertumbuhan pada akhir triwulan sebelumnya yaitu sebesar 6,21 persen (YoY) pada bulan Maret 2017. Pertumbuhan uang kuasi melambat disebabkan penurunan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Hal ini sejalan dengan tren penurunan suku bunga simpanan dan peningkatan kebutuhan masyarakat, komponen tabungan yang mengalami penurunan utamanya tabungan yang berdenominasi rupiah.

Dilihat dari faktor yang memengaruhi, terjadi peningkatan aktiva luar negeri bersih yang tercermin dari peningkatan tagihan luar negeri utamanya disebabkan oleh valuasi pada instrumen surat berharga asing sejalan dengan depresiasi nilai tukar Rupiah. Selain itu, penurunan aktiva dalam negeri bersih yang disebabkan perlambatan tagihan kepada pemerintah pusat, khususnya pada instrumen SPN juga memengaruhi perlambatan pertumbuhan uang beredar pada triwulan ini.

Gambar 40. Perkembangan Uang Beredar Triwulan II Tahun 2018

Keterangan: *) Angka sementara. Sumber: Bank Indonesia, data diolah.

7,53% 7,46% 6,04% 5,91% 11,95% 10,17% 10,09% 8,24% 6,21% 6,63% 4,78% 5,19% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% 18% 00 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000

Mar Apr Mei Jun*

Per tu mb u h an Yo Y ( %) R p Tr il iu n M2 (Rp triliun) M1 (Rp triliun)

Uang Kuasi (Rp Triliun) Pertumbuhan M2, %YoY Pertumbuhan M1, %YoY Pertumbuhan Uang Kuasi, %YoY

Pada akhir triwulan II tahun 2018, uang kuasi tumbuh sebesar 5,19 persen (YoY).

129

Suku Bunga Kebijakan Bank Indonesia

Selama periode April – Juni 2018, BI meningkatkan suku bunga kebijakan BI 7-day Repo Rate di tingkat 5,25 persen (Tabel 54). Kebijakan tersebut merupakan langkah untuk menjaga daya saing pasar keuangan domestik di tengah perubahan kebijakan moneter yang dilakukan oleh berbagai negara lain dan ketidakpastian pasar global yang tinggi. Pengetatan kebijakan tersebut dilakukan dengan memperhatikan perkembangan ekonomi global serta mempertimbangkan risiko eksternal seperti perang dagang antara AS-Tiongkok, tren peningkatan harga minyak mentah, dan volatilitas harga komoditas ekspor utama. Dengan demikian keputusan menaikkan suku bunga kebijakanBI 7-day Repo Rate yang didukung dengan kebijakan intervensi di pasar valas dan di pasar Surat Berharga Negara merupakan langkah yang ditempuh sebagai bentuk komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sehingga dapat memberi sinyal positif kepada pasar keuangan. Kebijakan menaikkan suku bunga acuan diharapkan dapat menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta penguatan pelaksanaan reformasi struktural yang sejalan dengan upaya perkuatan koordinasi kebijakan antara BI dengan Pemerintah.

Tabel 54. Struktur Suku Bunga Operasi Moneter Reverse Repo (persen) April

Tenor 7 hari 2 minggu 1 bulan

Term Structure Operasi

Moneter 4,25 4,45 4,60

Mei Term Structure Operasi

Moneter 4,75 4,69 4,83

Juni Term Structure Operasi

Moneter 5,25 4,93 5,13

Sumber: Bank Indonesia.

Pada triwulan II tahun 2018, BI masih tetap menaikkan suku bunga kebijakan BI 7-day Repo Rate secara bertahap sebesar 100 basis poin, dari 4,25 persen menjadi 5,25 persen.

130

Respon Kebijakan Moneter

Pada kuartal kedua tahun 2018, pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih akan menghadapi berbagai risiko global maupun domestik, diantaranya:

i. Kenaikan harga beberapa komoditas strategis seperti harga minyak dan beras. Hal ini berpotensi memicu terjadinya inflasi yang berdampak pada penurunan daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat.

ii. Normalisasi kebijakan moneter AS seiring dengan prospek pertumbuhan ekonomi AS yang berpotensi mendorong peningkatan suku bunga acuan FFR hingga empat kali pada tahun 2018. Menurunnya perbedaan imbal hasil antara aset berdenominasi rupiah dan dolar AS menyebabkan terjadinya peningkatan arus keluar modal di Indonesia. Hal ini berpotensi memberi tekanan lanjutan pada nilai tukar Rupiah. Hal tersebut diperkirakan dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi domestik serta tingkat inflasi nasional.

iii. Berlanjutnya perang dagang antara AS dengan Tiongkok dan Uni Eropa yang dapat memengaruhi kinerja ekspor dan pertumbuhan ekonomi yang semakin menurun. Merespon kemungkinan risiko yang akan terjadi selama 2018, Pemerintah bersama BI akan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi, dengan cara: (i) optimalisasi suku bunga kebijakan untuk menjaga arus modal supaya tidak keluar; (ii) menjaga stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya, salah satunya dengan menahan impor barang-barang tertentu yang dapat meningkatkan permintaan dolar; (iii) meningkatkan koordinasi kebijakan dalam mengendalikan inflasi, (iv) melakukan intervensi di pasar keuangan, serta (v) mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, khususnya dengan memitigasi peningkatan risiko jangka pendek.

Merespon kemungkinan risiko yang akan terjadi pada pertengahan tahun 2018, Pemerintah dan BI akan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi moneter, khususnya dengan memitigasi peningkatan risiko dari pelemahan nilai tukar.

131

Perkembangan Perbankan

Gambar 41. Perkembangan Kinerja Bank Umum Konvensional di Indonesia 2016 – 2018

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (diolah)

Pada triwulan II tahun 2018, perkembangan sektor jasa keuangan relatif terjaga dengan ditopang kinerja subsektor perbankan yang cukup baik. Rasio kecukupan modal perbankan yang tercermin dari rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) sebesar 22,01 persen, sedikit menurun dibandingkan dengan posisi triwulan I tahun 2018. Namun demikian, rasio tersebut masih berada jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan yaitu 8 persen. Oleh karena itu, rasio kecukupan modal masih mencerminkan ketahanan perbankan dalam mengatasi tekanan di perekonomian.

Sementara dari sisi likuiditas, kondisi likuiditas perbankan pada triwulan II tahun 2018 semakin ketat, yang tercermin dari peningkatan rasio LDR (Loan to Deposit Ratio). Percepatan pertumbuhan kredit di tengah perlambatan pertumbuhan DPK mendorong peningkatan rasio tersebut. Rasio LDR meningkat pada triwulan II tahun 2018, yaitu menjadi 92,76 persen, dari yang sebelumnya sebesar 90,19 persen.

Meskipun pertumbuhan kredit mengalami peningkatan, risiko kredit macet yang tercermin melalui rasio NPL (Non Performing Loan) justru membaik.- Rasio NPL pada triwulan II tahun 2018 sebesar 2,67 persen, lebih rendah jika

Perkembangan sektor jasa keuangan pada triwulan II tahun 2018 relatif terjaga, dengan ditopang oleh kinerja subsektor perbankan. Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 2016 2017 2018 LDR (%) 89,60 91,19 90,04 90,70 89,12 89,31 88,74 90,04 90,19 92,76 CAR (%) 22,00 22,56 23,26 22,93 22,88 22,74 23,25 23,18 22,65 22,01 NPL (%) 2,83 3,05 3,22 2,93 3,19 2,96 2,93 2,59 2,75 2,67 0 5 10 15 20 25 86,0 87,0 88,0 89,0 90,0 91,0 92,0 93,0 94,0 CA R d an N PL (% ) Lo an t o De p o si t Rat io (% )

132

dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,75. Penurunan rasio tersebut menggambarkan adanya peningkatan kualitas penyaluran kredit perbankan.

Gambar 42. Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Konvensional di Indonesia Tahun 2016 –2018

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan

Total Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada triwulan II tahun 2018 sebesar Rp5.398,82 triliun, atau mengalami pertumbuhan sebesar 6,99 persen (YoY). Namun demikian, pertumbuhan ini sedikit melambat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, dan hal ini utamanya didorong oleh perlambatan pertumbuhan deposito yang sangat signifikan. Pada triwulan II tahun 2018, pertumbuhan deposito sebesar 2,68 persen (YoY), jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 12,0 persen (YoY). Tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan deposito, pertumbuhan giro pada triwulan II tahun 2018 juga mengalami perlambatan. Pertumbuhan giro sebesar 10,56 persen (YoY) atau sedikit melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 10,9 persen (YoY).

Sementara itu, tabungan justru mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan tabungan mengalami peningkatan cukup signifikan pada triwulan II tahun 2018. Tabungan tercatat tumbuh sebesar 11,52 persen (YoY), jauh

0% 5% 10% 15% 20% 25% 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 2016 2017 2018 Pertu m b u h an DP K (% ) DPK (T ri liun Rup iah )

DPK (Rp T) Pertumbuhan DPK Growth Tabungan Growth Deposito Growth Giro

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan mengalami sedikit

perlambatan pada triwulan II tahun 2018.

133

lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh hanya sebesar 6,37 persen.

Gambar 43. Perkembangan Kredit Bank Umum Konvensional di Indonesia Tahun 2016–2018

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan

Meskipun terjadi perlambatan pada pertumbuhan DPK pada triwulan II tahun 2018, pertumbuhan total kredit perbankan justru mengalami peningkatan. Total kredit perbankan sebesar Rp5.028,75 triliun, atau tumbuh sebesar 11,1 persen (YoY), lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan I tahun 2018 sebesar 8,8 persen (YoY). Peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan pertumbuhan kredit investasi dan kredit modal kerja.

Kredit investasi mengalami pertumbuhan sebesar 9,4 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2018, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,9 persen (YoY). Menurut Survei Bank Indonesia, peningkatan kredit investasi tersebut terutama terjadi pada sektor Konstruksi, khususnya terjadi pada subsektor konstruksi gedung di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Timur. Peningkatan pertumbuhan kredit investasi juga terjadi pada sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan.

Selain kredit investasi, kredit modal kerja juga berkontribusi mendorong peningkatan pertumbuhan total kredit pada triwulan II tahun 2018. Kredit Modal Kerja tumbuh sebesar 11,5 persen (YoY), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 8,8 persen

0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 2016 2017 2018 Pertu m b u h an Kredi t (% ) Kre d it Perba n ka n (Rp T)

Kredit (Rp T) Pertumbuhan Total Kredit Pertumbuhan KI

Pertumbuhan KMK Pertumbuhan KK Meskipun terjadi perlambatan pada pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di triwulan II tahun 2018, kredit perbankan justru mengalami peningkatan pertumbuhan.

134

(YoY). Menurut survei Bank Indonesia, peningkatan kredit modal kerja tersebut utamanya didorong oleh akselerasi penyaluran KMK pada sektor perdagangan, hotel, restoran, dan sektor industri pengolahan.

Sementara itu, kredit konsumsi justru melambat, dari 11,5 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2018, menjadi 10,7 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2018. Perlambatan tersebut disebabkan oleh perlambatan KPR, KKB, dan Kredit Multiguna.

Tabel 55. Perkembangan Kredit Bank Umum Konvensional di Indonesia Tahun 2017 – 2018 (Miliar Rp)

Sektor 2017

2018

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

Pertanian, Perburuan dan Kehutanan 284.462 296.652 298.092 317.379 319.600 334.522

Perikanan 9.784 10.287 10.323 11.273 10.639 11.214

Pertambangan dan Penggalian 124.803 122.472 116.336 113.622 104.750 113.514

Industri Pengolahan 756.530 784.685 775.039 824.109 793.325 843.890

Listrik, gas dan air 138.226 127.074 131.216 146.133 154.238 164.681

Konstruksi 215.283 234.149 241.637 258.931 254.714 277.219

Perdagangan Besar dan Eceran 836.519 845.293 844.023 885.454 885.838 930.037

Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum

94.402 96.725 96.504 97.886 97.367 97.773

Transportasi, pergudangan dan komunikasi 171.076 173.979 169.827 182.628 192.105 214.226

Perantara Keuangan 196.330 212.049 205.687 214.185 211.490 230.761

Real Estate, Usaha Persewaan, dan Jasa Perusahaan

206.866 211.334 211.447 221.923 225.520 229.839

Admistrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

22.639 22.194 23.126 21.822 21.981 22.528

Jasa Pendidikan 8.887 9.247 9.336 10.104 10.166 10.750

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 16.565 17.447 17.542 19.092 19.799 19.351

Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan dan Perorangan lainnya

58.494 60.218 61.627 72.377 70.715 72.154

Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga 2.642 2.678 2.652 2.744 2.703 2.717

Badan Internasional dan Badan Ekstra Internasional Lainnya

191 162 157 156 152 112

Kegiatan yang belum jelas batasannya 2.394 3.250 3.090 2.752 3.488 2.890

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan

Pada triwulan II tahun 2018, penyaluran kredit perbankan mengalami peningkatan hampir di semua sektor. Dari 18 sektor, peningkatan penyaluran kredit terjadi pada 15 sektor, kecuali 3 sektor lainnya yaitu: (1) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, (2) Badan Internasional dan Badan Ekstra

Pada triwulan II tahun 2018, penyaluran kredit

perbankan mengalami peningkatan hampir di semua sektor.

135

Internasional lainnya, serta (3) Kegiatan yang belum jelas batasannya.

Sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi merupakan sektor yang mengalami peningkatan terbesar yaitu sebesar Rp21,1 triliun atau tumbuh sebesar 11,5 persen jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (QtQ). Di sisi lain, penyaluran kredit pada Badan Internasional dan Badan