PARIWISATA SYARIAH DI NEGARA-NEGARA ASEAN
4.2. PARIWISATA SYARIAH DI INDONESIA
4.1.2. PERKEMBANGAN PARIWISATA SYARIAH DI INDONESIA
dilaksanakan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di NTB, nama “wisata syariah” menurut Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya, dinilai tidak terlalu menjual di pasar wisata Indonesia. Nama yang sempat ditawarkan oleh Menteri Pariwisata adalah universal tourism (UT), karena didalamnya melekat ketentuan dan nilai-nilai syariah dalam muatsan paket dan kemasan wisata syariah sehingga bisa digunakan oleh wisatawan lain selain wisatawan muslim. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh salah satu anggota Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Sapta Nirwandar, bahwa penggunaan branding wisata syariah masih debatable dan penggunaannya kerap diidentikkan dengan radikalisme.
Sehingga perlu adanya perumusan konsep branding yang tepat untuk pengembangan jenis wisata syariah di Indonesia.
4.1.2.PERKEMBANGAN PARIWISATA SYARIAH DI INDONESIA
Tantangan bagi Indonesia dewasa ini adalah bagaimana mengelola kebijakan ekonomi untuk melewati periode krisis ekonomi global. Krisis ini memberi pelajaran penting bagi Indonesia, termasuk kebutuhan untuk memperkuat permintaan domestik. Oleh karena itu, Indonesia melihat peluang baru pada sektor pariwisata sebagai kanal devisa alternatif yang direncanakan pada tahun 2019 bisa mencapai 20 juta wisatawan asing dengan target pemasukan devisa Rp 260 triliun.
Negara-negara berkembang yang relatif baru masuk ke dalam pusaran kompetisi global memiliki posisi rendah. Sebagian besar negara berkembang tersebut, termasuk Indonesia, memiliki daya saing yang lemah pada tujuh dari delapan indikator yang digunakan oleh WTTC. Perkembangan konsep wisata syariah berawal dari adanya jenis wisata jiarah dan religi (pilgrims tourism/spiritual tourism). Dimana pada tahun 1967 telah dilaksanakan konferensi di Cordoba,
Spanyol oleh World Tourism Organization dengan judul “Tourism and Religions: A Contribution to the Dialogue of Cultures, Religions and Civilizations”.
Wisata ziarah meliputi aktivitas wisata yang didasarkan atas motivasi nilai religi tertentu seperti Hindu, Budha, Kristen, Islam, dan religi lainnya. Seiring waktu, fenomena wisata tersebut tidak hanya terbatas pada jenis wisata jiarah/religi tertentu, namun berkembang ke dalam bentuk baru nilai-nilai yang bersifat universal seperti kearifan lokal, memberi manfaat bagi masyarakat, dan unsur pembelajaran. Dengan demikian bukanlah hal yang mustahil jika wisatawan muslim menjadi segmen baru yang sedang berkembang di arena pariwisata dunia.
global jumlah penduduk muslim dunia sangat besar seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Turki, dan negara-negara Timur Tengah dengan tipikal konsumen berusia muda/usia produktif, berpendidikan, dan memiliki disposable income yang besar.
Menurut Pew Research Center (kelompok jajak pendapat di Amerika Serikat), bahwa jumlah penduduk muslim pada tahun 2010 sebesar 1,6 miliar atau 23 persen jumlah penduduk dunia. Jumlah penduduk muslim tersebut merupakan urutan kedua setelah umat Kristiani sebesar 2,2 miliar atau 31 persen penduduk dunia sebagaimana disebutkan dalam Worldaffairsjournal. Dan diperkirakan hingga tahun 2050, penduduk muslim mencapai 2,8 miliar atau 30 persen penduduk dunia. Perkembangan Pariwisata Syariah di Indonesia.
Berbagai upaya dilakukan untuk mempersiapkan produk pariwisata ini bersama pemangku kepentingan, salah satu cara memperkenalkan wisata syariah di Indonesia kepada masyarakat dan dunia internasional, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia menyelenggarakan Global Halal Forum bertema Wonderful Indonesia as Moslem Friendly Destination pada 30 Oktober 2013 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta.
Pentingnya dikembangkan potensi wisata syariah disampaikan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat peluncuran Gerakan Ekonomi Syariah (GRES) di kawasan silang Monas, tanggal 17 November 2013. Presiden Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan bahwa Indonesia mempunyai banyak alasan untuk mengembangkan potensi wisata syariah, antara lain keberadaan ekonomi syariah penting untuk mengurangi kerentanan antara system keuangan dengan sector riil, sehingga menghindari pengglembungan ekonomi, menghindari pembiayaan yang bersifat fluktuatif, dan dapat memperkuat pengaman sosial.
Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengembangkan wisata syariah adalah mempersiapkan 13 (tiga belas) provinsi untuk menjadi destinasi wisata syariah, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Bali. Namun dari ke-13 provinsi tersebut yang dinyatakan siap yaitu Jakarta, Jawa Barat, NTB, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
a. Produk
Pengembangan produk harus berdasarkan kriteria umum dan standarisasi yang diterapkan untuk usaha pariwisata syariah dan daya tarik.
b. SDM dan Kelembagaan
Kompetensi profesi Insan Pariwisata Syariah juga harus ditunjang dengan training dan pendidikan yang sesuai dengan sasaran standar kompetensi yang dibutuhkan wisatawan muslim.
c. Promosi
Bentuk promosi dan jalur pemasaran disesuaikan dengan perilaku Wisatawan Muslim, World Islamic Tourism Mart (WITM), Arabian Travel Mart, Emirates Holiday World, Cresentrating.com, halaltrip.com, etc.
Walaupun konsep halal sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian besar penduduk Indonesia, namun wisata halal kurang berkembang di Indonesia dikarenakan fasilitasi, tidak mudah memastikan makanan halal, sertifikasi halal, dan promosi yang kurang. Hal tersebut tampak dari hasil laporan lembaga riset dan pemeringkat industri pariwisata halal Cresentrating.com bersama MasterCard, Global Muslim Travel Index (GMTI) 2015.
Indonesia berada di urutan keenam tujuan wisata halal dunia, di bawah Malaysia dan Thailand.
Cresentrating.com menilai Indonesia harus berusaha lebih keras jika ingin melangkahi Malaysia dan Thailand dalam mengembangkan wisata halal. Menurut pendiri dan CEO Cresentrating.com
Fazal Bahardeen bahwa Indonesia belum begitu agresif dalam mempromosikan wisata halal seperti negara tetangga Malaysia dan Thailand. Indonesia juga belum mengintegrasikan promosi pariwisata halal ke dalam program pariwisata nasional, dan membuat paket khusus wisata halal.
Indonesia ini adalah Negara mayoritas muslim, namun jika kita melihat Thailand, Negara ini justru dikenal sebagai Negara dengan pariwisata halal yang semua serba buatan. Masjid dan Musholla di Thailand itu dibangun, sementara di Indonesia sudah tidak perlu lagi membangun Masjid maupun
2019 ada kewajiban semua produk harus halal. Pariwisata halal adalah mutiara yang belum diasah.
Setiap daerah kita berpotensi menjalankan Pariwisata Halal seperti Lombok, Makassar, Padang dan hampir semua terkecuali Ambon, Papua, dan sebagian daerah lainnya. Pariwisata halal itu sebenarnya Islamic Friendly ketika kita mau sholat, mushollanya ada tersedia, makanan ditunjukan mana yang halal. Berbagai daerah di Indonesia disulap menjadi Pariwisata Halal itu sangat mudah.
Di Bali, desa Pariwisata Syariah ditolak warga karena memang target Bali sejak awal bukan kaum muslim, namun lebih universal. Bali jika dibuat syariah akan kontraproduktif. Marketing itu 2 (dua) aspek, Target Market dan Destinasi. Indonesia by default 88 persen bisa jadi Pariwisata Syariah.
Secara branding, Indonesia itu sudah baik sebagai Negara Muslim Terbesar. Jepang dan Inggris sedang berjuang membangun pariwisata Syariah. Thailand potensinya tidak ada namun dibelain untuk bisa jadi destinasi pariwisata syariah. Kunjungan Wisman Indonesia dibandingkan dengan Thailand
¼, dengan Malaysia ½. Gejala jika setiap daerah membuka pariwisata syariah juga tidak cukup postif untuk bangsa karena akan menyeragamkan. Hakikatnya setiap daerah memiliki potensi yang berbeda-beda. Tidak hanya infrastruktur, tapi SDM yang muslim yang menciptakan suasana Islam.
Kementrian pariwisata belum membuat RUU Pariwisata Syariah. Destinasi kadang berfikir semuanya harus dijual, maka kementrian ini sedang fokus pada 10 destinasi. Jadi harus berimbang antara pariwisata syariah dan pariwisata konvensional. UU produk halal juga besar dampaknya terhadap pariwisata syariah di Indonesia.
4.1.3. MODEL PARIWISATA SYARIAH DI INDONESIA
Terminologi wisata syariah di beberapa negara ada yang menggunakan istilah seperti Islamic tourism, halal tourism, halal travel, ataupun as moslem friendly destination. Menurut pasal 1 Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia No. 2 Tahun 2014 tentang pedoman penyelenggaraan usaha hotel syariah, yang dimaksud syariah adalah prinsip-prinsip hukum islam sebagaimana yang diatur fatwa dan/atau telah disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia. Istilah
syariah mulai digunakan di Indonesia pada industri perbankan sejak tahun 1992. Dari industri perbankan berkembang ke sektor lain yaitu asuransi syariah, pengadaian syariah, hotel syariah, dan pariwisata syariah.
Definisi pariwisata syariah adalah kegiatan yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah yang memenuhi ketentuan syariah. Pariwisata syariah dimanfaatkan oleh banyak orang karena karakteristik produk