• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Pertanian Kopi Desa Tamba Dolok

PERTANIAN KOPI DI DESA TAMBA DOLOK DAN PERKEMBANGANNYA

3.2 Perkembangan Pertanian Kopi Desa Tamba Dolok

Perkembangan pertanian kopi ini sangat pesat di Desa Tamba Dolok. Masyarakat semakin banyak yang membudidayakan tanaman kopi. Setelah 3 tahun masyarakat melakukan percobaan terhadap pertanian kopi, tanaman kopi pun berbuah dan menghasilkan hasil yang cukup maksimal. Hal ini menambah semangat masyarakat Desa Tamba Dolok untuk membudidayakan tanaman kopi lebih banyak lagi. Banyak masyarakat yang berlomba-lomba untuk menanam kopi di Desa Tamba Dolok. Sekalipun dalam proses penanaman kopi ini harus membutuhkan tenaga yang sangat banyak namun tidak menjadi masalah bagi masyarakat karena masyarakat melihat keuntungan yang didapat dari hasil pertanian kopi. Semakin lama, pertanian kopi semakin meningkat dan masyarakat sangat antusias untuk menanam kopi dan membuka lahan yang dulu tidak pernah dikerjakan oleh petani.

Alasan yang melatarbelakangi petani lebih banyak untuk menanam kopi Jember karena penanamannya lebih praktis dibandingkan dengan pertanian sebelumnya. Kemudian petani bisa memanen kopi satu kali dalam satu minggu jika pada panen raya. Jika tidak panen raya masyarkat memetik kopi satu kali dalam dua minggu. Hal yang paling unik yaitu ketika panen raya, masyarakat bisa memanen kopi menjadi setiap hari dalam bulan itu karena

ladang kopi tersebut tidak satu lahan. Lahan kopi masyarakat Desa Tamba Dolok ada di beberapa tempat dan masyarakat memetik kopi seperti rotasi (bergiliran). Panen raya kopi biasanya berlangsung pada bulan Oktober dan April, sehingga untuk setiap minggunya petani selalu mendapat penghasilan tetap, walaupun dalam setiap rumah tangga berbeda jumlah kopi yang dihasilkan sesuai dengan luas lahan yang diusahakan. Sekalipun demikian, hasil kopi ini sudah mampu memenuhi kebutuhan pangan para petani dan juga kebutuhan lainnya. Bahkan tidak sedikit petani yang menggantungkan kehidupan perekonomiannya pada kopi Jember ini.

Peningkatan pembudidayaan terhadap tanaman kopi oleh masyarakat Desa Tamba Dolok tentu berdampak pada jumlah tanaman kopi yang ditanam serta luas lahan yang bertambah digunakan. Peningkatan luas lahan ini dapat dilihat dari tabel dibawah ini :

Tabel 1

Perkembangan Luas Lahan yang Digunakan dari Tahun ke Tahun

No Tahun Luas lahan ( ha )

1 1992 6

2 1995 15

3 1997 25

4 1999 30

Sumber : Wawancara dengan Respita Tamba, Rustini Tamba,Kardinius Naibaho, Geloria Lumban Gaol, Edu Sitinjak,di Desa Tamba Dolok, serta data dari kantor Kecamatan Sitio-tio, di Sabulan (Maret 2013).

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hingga tahun 2001 masih terjadi perluasan lahan untuk penanaman kopi di Desa Tamba Dolok. Tabel diatas dikerjakan oleh 417 kepala keluarga pada saat itu. Kepemilikan lahan untuk pertanian kopi biasanya dimiliki oleh marga Tamba yang ada di desa tersebut. Ada masyarakat yang mempunyai lahan yang luas ada juga yang hanya sedikit, hal ini tergantung dengan warisan yang dimiliki setiap keluarga yang ada di desa ini. Tidak bisa diketahui secara pasti berapa banyak pohon kopi milik masyarakat per kepala keluarga karena luas lahan mempengaruhi berapa banyak pohon kopi dalam pertanian masyarakat.

Ketertarikan masyarakat Desa Tamba Dolok bukan hanya hasil yang cukup memuaskan tetapi juga karena kopi jenis ini memiliki banyak keunggulan, yakni lebih cepat berbuah setelah ditanam, cukup hanya memakan waktu sekitar 3 tahun. Setelah itu mulailah memetik hasilnya untuk waktu yang tidak singkat (mencapai 20 tahun), buahnya bisa dipetik secara rutin, yaitu sekali dalam dua minggu. Proses penjualannya juga tergolong mudah. Setelah bijinya memerah atau menua dan sudah bisa dipetik, kulit kopi kemudian dibuang dengan mesin penggiling. Setelah itu dijemur cukup dalam satu hari bila cuaca panas kemudian dijual dan menjadi uang. Tanaman kopi sangat jauh berbeda dengan proses pasca panen pada tanaman bawang yang sangat rumit. Pengelolaan kopi jember juga lebih mudah karena tidak terlalu banyak membutuhkan modal untuk penanamannya. Pengeluaran bisa

bertambah jika pemilik lahan kopi yang mempunyai uang lebih menggunakan pupuk kimia, di samping penggunaan pupuk organik (kompos ).

Perkembangan pertanian kopi di Desa Tamba Dolok bisa dilihat secara kasat mata. Masyarakat semakin banyak menanam kopi. Ini ditandai dengan semakin banyaknya terlihat tanaman kopi yang diusahakan masyarakat. Pada tahun 1999 bisa dipastikan masyarakat semuanya melakukan pertanian kopi. Masyarakat menjadi petani kopi seluruhnya karena masyarakat sudah fokus ke pertanian kopi. Bahkan ada juga masyarakat yang tidak lagi mengerjakan sawah untuk pertanian padi karena masyarakat tersebut merasa lebih banyak keuntungan dengan melakukan pertanian kopi. Masyarakat tersebut mengubah persawahan menjadi ladang untuk menanam kopi. Hal inilah yang mengakibatkan sekarang ini banyak terlihat tanaman padi tumbuh bersebelahan dengan ladang kopi. Namun, ada juga masyarakat yang masih tetap mengusahakan persawahan untuk menanam padi untuk kebutuhan sehari-hari karena harga beras yang sangat tinggi. Untuk menghemat pengeluaran, ada masyarakat yang menanam padi supaya mereka tidak membeli beras dari pasar.

Dengan berkembangnya pertanian kopi yang semakin pesat di Desa Tamba Dolok ini mempengaruhi cara kerja serta tenaga kerja yang dibutuhkan masyarakat semakin banyak. Cara kerja yang dimaksud adalah semakin banyak yang bersemangat untuk bekerja di Desa Tamba Dolok, masyarakat juga belajar cara membudidayakan tanaman kopi dengan semakin baik. Tenaga kerja yang banyak dibutuhkan masyarakat terutama pada masa panen raya. Untuk masa penanaman sampai proses perawatan tanaman kopi masyarakat hanya memakai tenaga sendiri, seperti melubangi wadah tempat kopi ditanam, membersihkan lahan dari rumput liar. Masyarakat menggunakan tenaga sendiri sampai proses penanaman. Untuk

perawatannya, masyarakat menggunakan cara yang lebih praktis yaitu dengan menyemprotkan herbisida. Salah satu jenis herbisida yang sangat dikenal oleh masyarakat yang ampuh untuk membasmi rumput yaitu Round-up. Jadi pada saat penanaman sampai proses perawatan tanaman kopi, masyarakat menggunakan tenaga sendiri.

Tenaga yang dibutuhkan pada masa panen kopi di Desa Tamba Dolok sangat berbeda dengan tenaga pada saat menanam serta perawatan kopi. Masa panen merupakan hal yang sangat membahagiakan bagi masyarakat Desa Tamba Dolok sekaligus hal yang sangat melelahkan. Masa panen kopi biasanya dilakukan ketika kopi sudah berumur 3 tahun dan buah kopi sudah memerah. Kopi harus dipetik secara waktu beraturan. Jadi bisa dipastikan kegiatan masyarakat pada bulan tersebut hanya memetik kopi setiap harinya. Kopi harus dipetik setiap minggunya karena kalo tidak dipetik, kopi akan jatuh dan biasanya langsung dilakukan sitartari37.

Pada saat panen raya inilah tenaga kerja sangat banyak dibutuhkan. Pada masyarakat yang tinggal di pedesaan, tenaga kerja merupakan sumber daya manusia yang paling utama dalam pengolahan lahan pertanian. Untuk itu seluruh potensi dan sumber daya yang ada di dalam keluarga diusahakan untuk dapat dimaksimalkan penggunaannya. Keadaan ini juga sangat berpengaruh pada petani kopi Jember yang ada di Desa Tamba Dolok, mereka sangat mengandalkan tenaga keluarga untuk memetik pada saat panen raya. Bukan hanya orangtua yang pergi memetik kopi ke ladang, namun anak-anak juga ikut memetik kopi. Sepulang dari sekolah hampir semua anak-anak pergi ke ladang membantu orangtuanya memetik kopi.

37 Sitartari adalah bahasa daerah setempat yang artinya pekerjaan yang khusus untuk mengambil kopi yang jatuh dari pohonnya ke tanah. Baik itu jatuh karena terlewat pada saat memetik ataupun berjatuhan pada saat dipetik.

Anak-anak bisa bekerja karena kopi jember ini sangat pendek. Tinggi kopi tersebut sekitar 90 cm saat berumur 4 tahun, dan sampai pemetikan yang sudah berulang-ulang.

Pada saat panen kopi, di Desa Tamba Dolok ini selain menggunakan tenaga keluarga untuk tenaga kerja ada juga tenaga kerja upahan atau yang sering disebut dengan “gajian”38. Orang gajian ini berasal dari Desa Tamba Dolok itu juga, terutama ini adalah masyarakat yang tidak terlalu banyak memiliki ladang kopi. Biasanya orang gajian ini terkenal malas mengerjakan ladang sendiri. Jadi lebih suka bekerja dan langsung dapat upah saat itu juga. Biasanya orang yang kerja upahan ini bekerja tidak hanya bekerja kepada satu orang saja tetapi ada beberapa petani yang kekurangan tenaga untuk memetik kopi tersebut. Tergantung siapa yang bisa membayar lebih tinggi. Kerja upahan dilakukan oleh ibu-ibu serta anak-anak yang malas sekolah.

Selain tenaga kerja upahan, petani juga sering melibatkan kerabat untuk marsirippa di ladang mereka. Hal ini sering dilakukan pada saat pekerjaan sangat banyak biasanya pada saat panen raya dan sulit mendapatkan orang yang mau gajian. Tenaga kerja untuk memetik kopi harus banyak membutuhkan sumber daya manusia. Untuk memetik kopi tidak bisa digunakan dengan mesin ataupun suatu alat. Berbeda dengan pada saat penggilingan (pemisahan kulit dengan biji kopi). Biasanya masyarakat melakukan penggilingan kopi dengan mesin penggiling. Namun ada juga masyarakat yang masih memakai gilingan yang dikerahkan oleh tangan manusia. Penggunaan alat penggiling yang dikerahkan oleh tangan sangat rumit dan diperlukan tenaga yang kuat. Biasanya petani yang mengunakan alat ini adalah petani yang mempunyai ladang kopi yang sedikit. Masyarakat lebih banyak memilih

38 Gajian adalah tenaga kerja yang diberikan upah untuk bekerja memetik kopi di ladang masyarakat. Biasanya per hari upah nya sekitar 50.000.

penggiling mesin karena lebih praktis dan lebih cepat. Setelah mengumpulkan kopi dari beberapa ladang yang sudah dipetik, petani hanya memasukkan kopi ke bak gilingan dan mesinlah yang bekerja. Kapasitas kopi yang di giling juga lebih banyak dibanding penggiling yang dikerahkan oleh tangan. Setelah dilakukan penggilingan, masyarakat mendiamkan kopi selama satu malam supaya pada pagi harinya ketika mencuci kopi lebih mudah lepas dari lendir yang terdapat pada kopi. Penggilingan dilakukan pada sore hari setelah kopi sudah terkumpul dari beberapa ladang. Kemudian pada pagi harinya petani mencuci kopi yang sudah didiamkan selama semalam tersebut.

Ada keunikan di beberapa petani ketika mencuci kopi mereka. Ketika kopi dicuci akan mengeluarkan cairan seperti lendir, kemudian lendir tersebut diambil airnya dan diberikan untuk diminum hewan peliharaan karena manis. Masyarakat percaya bahwa rasa manis yang terdapat di kopi itu bisa menggemukkan hewan tersebut. Setelah pencucian kemudian kopi tersebut dijemur sekitar 1 jam. kemudian setelah kopi sudah kering, masyarakat akan menjualnya ke tauke langganan mereka. Untuk petani yang tidak terikat oleh utang kepada salah satu agen, biasanya para tauke akan datang ke rumah atau halaman dimana kopi tersebut dijemur untuk dibeli oleh tauke yang datang.

Dengan semakin berkembangnya pertanian kopi di Desa Tamba Dolok, pemasaran kopi juga berkembang. Lambat laun tauke kopi bermunculan di desa ini. Pada awalnya tauke kopi hanya dua orang di desa ini. Namun, seiring banyaknya produksi kopi dari daerah ini semakin banyak bermunculan para tauke kopi. Tempat memasarkan kopi di Desa Tamba dolok ini adalah yang paling utama pada agen/tauke yang ada di Desa Tamba Dolok. Kemudian tauke yang ada di desa ini memasarkan lagi kopi tersebut keluar dari desa ke agen

yang lebih besar untuk dilakukan penggilingan tahap kedua. Para petani tidak perlu jauh-jauh untuk memasarkan kopi mereka, karena tauke sendirilah yang mendatangi rumah-rumah penduduk untuk membeli kopi tersebut.

Di Desa Tamba Dolok ini ada sistem pemasaran yang terikat. Ada semacam kewajiban masyarakat untuk menjual hasil panen kopi nya kepada tauke tertentu. Hal ini terjadi karena ada kesepakatan antara petani kopi dengan tauke tersebut. Dalam hal ini, keterikatan petani kopi dalam sistem pemasaran terjadi karena peminjaman modal awal serta biaya untuk hidup sebelum petani panen kepada tauke itu. Kewajiban petani untuk menjual hasil pertaniannya karena petani kekurangan modal untuk membeli pupuk serta untuk membiayai sekolah maupun sehari-hari ketika kopi belum bisa dipanen. Untuk para petani tersebut ada yang memasarkan hasil panen kopinya kepada salah seorang tauke karena ada unsur untuk balas budi. Selain itu, keterikatan pada seorang tauke juga bukan hanya karena peminjaman yang dilakukan petani namun karena ada hubungan kerabat. Sekalipun kerabatnya tersebut tidak mempunyai utang terhadap tauke itu. Persaudaraan dan kekerabatan di Desa Tamba Dolok ini masih sangat kental. Misalnya yang semarga, atau pun masih mempunyai ikatan darah kepada tauke tersebut.

Sekali pun sudah ada sistem pemasaran yang terikat di desa ini, tetapi masih ada masyarakat yang masih mau menyimpan sebagian kopinya untuk dijual ke agen lain. Karena jika semuanya dijual ke tauke yang punya kesepakatan dengannya maka akan dipotong utang. Petani diam-diam menjual sebagian kopinya ke tauke lain. Hal inilah yang mengakibatkan keretakan hubungan tauke dengan petani tersebut. Jika ketahuan menjual diam-diam maka si tauke akan meminta dibayar lunas utang petani. Namun, ada juga petani

kopi yang tidak mendapat sanksi yang jelas dari si tauke. Hal ini terjadi karena si tauke juga perlu petani untuk kelangsungan usahanya. Dari hasil penelitian,tauke banyak meraup keuntungan dari usaha menjadi tauke kopi dibandingkan tauke pada usaha yang lain seperti bawang.

Dengan semakin berkembangnya pertanian kopi di Desa Tamba Dolok ini maka semakin mudah untuk memasarkan kopi dan muncul banyak tauke-tauke kecil di desa ini. Perkembangan pertanian kopi ini juga diakibatkan harga kopi yang melonjak mengakibatkan masyarakat tidak memproduksi kopi untuk diminum melainkan untuk dipasarkan saja. Masyarakat tidak mempunyai waktu untuk mengolahnya karena masyarakat lebih fokus ke pertanian kopi dan juga perawatan kopi tersebut.

Petani di Desa Tamba Dolok seluruhnya menanam kopi Jember, namun hal yang unik adalah tidak ada satu pun dari masyarakat Desa Tamba Dolok yang berniat untuk melakukan usaha pengolahan biji kopi menjadi bubuk kopi yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat sehari-hari. Masyarakat Desa Tamba dolok memang mengkonsumsi kopi untuk minuman, tetapi mereka tidak mengolahnya sendiri. Biasanya masyarakat yang bersuku Batak Toba mempunyai kebiasaan lebih suka mengonsumsi minuman kopi daripada teh ataupun yang lainnya39. Para petani untuk mengonsumsi kopi, cukup membelinya di pasar tanpa harus mengolah sendiri karena menurut petani mereka tidak punya waktu untuk mengolahnya serta tidak mempunyai alat untuk menggiling biji kopi tersebut menjadi bubuk

39 Sri Ulina Girsang, Kopi Sigalar Utang: Kehidupan Sosial Ekonomi Keluarga Petani Kopi di Dusun Sibangun Mariah Desa Bangun Mariah, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun. Skripsi, Medan : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik USU, 2009, hal 71.

kopi yang siap untuk dikonsumsi. Warung kopi juga tidak ada dijumpai di Desa Tamba Dolok.

Masyarakat lebih suka mengonsumsi kopi dirumahnya sendiri. Namun, jika ada pesta adat maka bermunculan warung kopi dadakan untuk meraup keuntungan. Karena masyarakat di Desa ini sepertinya tidak bisa lepas dari mengonsumsi kopi. Hal ini juga yang unik di Desa Tamba Dolok, sekalipun masyarakat bertani kopi dan menghasilkan kopi yang cukup banyak tetapi di desa ini tidak ada kedai yang menyiapkan kopi siap saji. Kalaupun ada kedai, itu hanyalah kedai untuk kebutuhan sehari-hari. Bukan untuk tempat berkumpul untuk minum kopi atau jenis minuman lain seperti teh, susu, dll.

BAB IV

PENGARUH PERTANIAN KOPI BAGI MASYARAKAT DESA TAMBA

Dokumen terkait