• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KEADAAN UMUM PROVINSI JAMBI

4.5. Perkembangan Sektor Kehutanan dalam Perekonomian

Sebagaimana umumnya wilayah-wilayah yang memiliki kawasan hutan yang cukup luas, sektor kehutanan merupakan pendukung utama bagi perekonomian provinsi Jambi. Dukungan itu ditandai dengan tingginya produksi kayu logs dan kayu olahannya yang secara kongruen mendorong perkembangan sektor lainnya. Sejak dibukanya investasi ke dalam sektor kehutanan secara nasional pada tahun 1960-an melalui UU No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) dan UU No. 6 tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), beberapa unit usaha kehutanan mulai berkembang pesat. Pada tahun 1985 luas kawasan hutan di provinsi Jambi yang dikelola HPH mencapai 2.388.000 hektar dan meningkat menjadi 2.662.000 hektar di tahun 1990.

Sektor kehutanan di provinsi Jambi turut menjadi pendorong penting bagi perekonomian provinsi Jambi. Kayu-kayu logs yang dihasilkan dari hutan alamnya mampu membuka perekonomian daerah dengan terbentuknya sentra- sentra ekonomi baru, membuka lapangan kerja baru, membuka daerah-daerah terisolir dan memberikan pendapatan bagi daerah provinsi Jambi.

Sampai dengan tahun 2001 sebagian besar (63.07 persen) perusahaan kelompok industri besar dan menengah di provinsi Jambi merupakan industri hasil hutan. Industri hasil hutan tersebut mempekerjakan secara langsung tidak kurang 23.297 orang atau 74.5 persen total tenaga kerja pada industri besar dan menengah

97

yang ada. Dengan kata lain, selama lebih dari tiga dasawarsa hutan dan hasil hutan provinsi Jambi menjadi sumber penggerak bagi pembangunan provinsi Jambi.

Dalam perkembangannya kontribusi sektor kehutanan semakin meredup, hal ini ditandai dengan jumlah HPH, luas areal HPH yang dikelola, produksi kayu bulat dan kayu olahannya yang kian menurun. Pada tahun 1995, jumlah HPH yang beroperasi di provinsi Jambi mencapai 23 unit dengan luas areal yang dikelola mencapai 2.1 juta hektar, setahun berikutnya berkurang menjadi 16 unit dengan areal yang dikelola 1.4 juta hektar. Pada tahun 1997, unit HPH yang masih beroperasi tinggal 15 unit dengan luas areal kelola 1.1 juta hektar dan pada tahun 2004, hanya 7 unit HPH yang beroperasi dengan areal kelola 445.549 hektar, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Perkembangan HPH di Provinsi Jambi

No Tahun Jumlah Unit HPH Luas Areal Kelola

(hektar) 1 1995/1996 23 2.154.689 2 1996/1997 16 1.447.779 3 1997/1998 15 1.153.499 4 1998/1999 14 1.113.499 5 1999/2000 13 859.984 6 2000 13 859.984 7 2001 13 792.594 8 2002 8 545.559 9 2003 8 545.559 10 2004 7 445.549 11 2005 6 384.349

Sumber : Departemen Kehutanan, 2005

Selama sepuluh tahun terakhir produksi logs dan kayu olahan pun cenderung menurun. Apabila pada tahun 1995 produksi kayu logs masih mencapai 918.311 m3 maka pada tahun 2001 turun menjadi 436.815 m3, sedangkan produksi logs pada tahun 2002 kembali berkurang menjadi 211.526 m3 dan pada tahun 2004 produksi logs hanya mencapai 175.365 m3.

98

Tabel 14. Perkembangan Produksi Komoditi Kehutanan Provinsi Jambi

Tahun KOMODITI Kayu Bulat (m3 Kayu Ger gajian (m ) 3 Plywood ) Block board (m3 Pensil Slate ) Wood working (m3 Pulp (ton) ) Olahan lainnya 1994/1995 887.129 173.018 550.222 71.784 9.610 68.075 300 000 361.486 1995/1996 918.311 203.699 703.614 83.499 11.673 65.161 525 005 651.703 1996/1997 662.354 264.660 726.972 93.773 12.771 86.252 525 000 711,266 1997/1998 720.569 201.973 683.975 85.781 13.214 66.868 532.207.0 774.960 1998/1999 546.055 146.039 649.351 102.233 7.797 62.041 442.228.8 240.630 1999/2000 567.378 161.306 669.461 106.566 7.628 76.671 583.491.9 303.983 2000 436.141 160.100 504.447 79.614 6.085 66.432 437.598.2 255.883 2001 436.815 185.361 695.557 109.395 5.557 100.752 617.549.5 54.687 2002 211.526 95.698 678.690 6.990 6.116 103.794 652.883.0 132.513 2003 198.230 236.902 551.421 105.180 5.006 111.537 627,079.0 378.720 2004 175.365 131.209 158.210 56.916 2.473 52.021 612,499.0 27.403 2005 130 644 101 225 364 748 100 097 NA 41 808 642.750.0 NA

Sumber: Departemen Kehutanan, 2005; Statistik Dinas Kehutanan, 2005

Keadaan yang sama terjadi pada produksi kayu olahannya, setiap tahun memiliki kecenderungan untuk menurun. Kayu gergajian misalnya, bila pada tahun 1995 masih mampu memproduksi 203.699 m3, maka pada tahun 2000 turun menjadi 160.100 m3 dan angka tersebut kembali turun 131.209 m3 pada tahun 2004. Produksi plywood juga secara signifikan mengalami penurunan dari 703.614 m3 pada tahun 1995, turun menjadi 695.557 m3 pada tahun 2001, setahun berikutnya produksi plywood turun menjadi 678.690 m3 dan pada tahun 2004 produksi plywood hanya mencapai 158.210 m3

Peningkatan jumlah pengelola unit kehutanan justru terjadi pada unit HTI. Pada sektor kegiatan penanaman yang ditunjukkan untuk mensuplai industri kehutanan ini, mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dari 1 unit HTI dengan areal kelola seluas 9.400 hektar meningkat menjadi 4 unit dengan areal

99

kelola 108.765 hektar pada tahun 1996. Jumlah itu pada tahun 1997 bertambah menjadi 9 unit HTI dengan mengelola areal 172.454 hektar. Pada tahun 1999 unit HTI bertambah kembali menjadi 12 unit dengan areal kelola 471.704 hektar. Pada tahun 2004 unit pengelola HTI telah mencapai 14 unit dengan areal kelola 780.528 hektar sebagaimana terlihat pada Tabel 15.

Tabel 15.Perkembangan Jumlah HTI di Provinsi Jambi

No Tahun Jumlah Unit

HTI

Luas Areal Kelola (hektar) 1 1995/1996 1 9.400 2 1996/1997 4 108.765 3 1997/1998 9 172.454 4 1998/1999 9 172.454 5 1999/2000 12 471.704 6 2000 12 471.704 7 2001 12 471.704 8 2002 12 471.704 9 2003 12 471.704 10 2004 14 780.528 11 2005 14 780.528

Sumber Data Startegis Departemen Kehutanan, 2005

Unit HTI tersebut terdiri dari 3 HTI pulp dengan areal kelola 353.072 hektar dan 11 HTI kayu pertukangan dengan areal kelola 427.456 hektar. Hutan Tanaman Industri pulp merupakan jenis hutan tanaman yang tanaman pokoknya ditujukan sebagai bahan baku industri pulp, sedangkan HTI kayu pertukangan adalah hutan tanaman yang jenis tanaman pokoknya digunakan bagi bahan baku industri kayu pertukangan atau jenis industri lainnya.

Seiring dengan peningkatan pengelolaan hutan tanaman, produksi pulp beberapa tahun terakhir memiliki kecenderungan terus meningkat. Produksi pulp provinsi Jambi pada tahun 1997 mencapai 532.207 ton. Meskipun turun pada tahun 1998 menjadi 442.228.8 ton, tetapi meningkat kembali menjadi 583.491.9 ton pada tahun 1999, sedangkan pada tahun 2000 produksi pulp turun pada angka

100

437.598.2 ton dan produksi pulp meningkat dari 617.549.5 ton pada tahun 2001 menjadi 652.883 ton pada tahun 2002 dan menjadi 642 750 ton pada tahun 2005.

Namun peningkatan pengelolaan hutan tanaman ini belum mampu menahan penurunan sektor kehutanan, dimana sektor kehutanan selama sepuluh tahun terakhir mengalami penurunan. Kecenderungan penurunan kinerja sektor kehutanan ini berimplikasi pada penurunan kontribusi sektor kehutanan terhadap perekonomian provinsi Jambi.

Dari data statistik yang ada (Tabel 16) terlihat bahwa kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB provinsi Jambi menunjukkan kecenderungan yang terus menurun. Pada tahun 1997 sektor kehutanan mampu memberikan kontribusi 19.11 persen terhadap PDRB provinsi Jambi, angka ini diperoleh dari produksi hasil hutan sebesar Rp. 165.3 milyar atau sekitar 5.06 persen dari PDRB provinsi Jambi dan industri hasil hutan sebesar Rp. 459.4 milyar atau sekitar 14.05 persen dari PDRB provinsi Jambi. Setahun berikutnya, kontribusi hasil hutan dan industri kehutanan menurun menjadi 18.7 persen terhadap PDRB provinsi Jambi meskipun masih mampu memberikan kontribusi masing-masing Rp. 169.2 milyar dan Rp. 391.9 milyar. Pada tahun 2001, kontribusi sektor kehutanan kembali menurun dengan kontribusi 15.70 persen terhadap PDRB provinsi Jambi dan tahun 2003 kontribusi sektor kehutanan hanya 12.87 persen dibandingkan setahun sebelumnya yang mencapai 13.61 persen.

Dari penjelasan ini, terjadinya penurunan kontribusi sektor kehutanan di provinsi Jambi lebih didasarkan pada penurunan kemampuan sumberdaya hutan dalam memasok kayu bulat (logs) bagi industri kehutanan yang berbasis hutan alam, setiap tahun produksi kayu bulat terus menurun. Kemerosotan kemampuan

101

hutan dalam menghasilkan kayu bulat tidak saja disebabkan karena tidak terkendalinya pemanfaatan hutan (penebangan liar) tetapi juga diakibatkan maraknya perambahan dan pengalihan fungsi hutan oleh masyarakat dan pemerintah untuk kegiatan non kehutanan, seperti perkebunan, transmigrasi serta pertambangan.

Tabel 16. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi dan Kontribusi Sektor Kehutanan Berdasarkan Harga Konstan Tahun 1993

Tahun

PDRB (juta rupiah) Persentase terhadap Total

PDRB ( persen)

Total Hutan Ind. Hasil Htn Hutan Ind. Hasil Htn

1997 3 268 453.27 165 256.41 459 347.43 5.06 14.05 1998 2 994 539.02 169 172.98 391 873.23 5.65 13.09 1999 3 181 314.00 119 406.00 410 056.42 3.75 12.38 2000 3 368 572.00 118 011.00 417 033.00 3.50 12.38 2001 3 501 779.00 119 750.00 430 044.00 3.42 12.28 2002 3 707 171.67 61 517.81 443 038.50 1.66 11.95 2003 3 872 379.67 60 948.02 437 607.52 1.57 11.30 2004 11 953 885.47 271 999.16 976 616.40 2.28 8.17 2005 12 619 972.18 265 755.77 997 908.42 2.11 7.91

Sumber: Jambi Dalam Angka Tahun 2002, 2003, 2004 dan 2005

Karena keterbatasan lapangan pekerjaan yang dapat menampung perkembangan angkatan kerja di pedesaan sekitar hutan, maka masyarakat menjadikan kawasan dan hutan sebagai lokasi kegiatan dan sasaran jangka pendek untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Masyarakat menduduki kawasan hutan dan mengalihkannya menjadi areal perkebunan atau budidaya pertanian lainnya karena dengan cara demikian mereka dapat menguasai lahan dan mendapat manfaat yang lebih besar daripada ketika areal tersebut berupa hutan.

Jumlah industri pengolahan kayu di provinsi Jambi pada tahun 2002 dilaporkan, tidak kurang dari 470 unit dengan kebutuhan bahan baku kayu sebesar 3.8 juta m3, sedangkan kemampuan hutan menghasilkan bahan baku kayu secara lestari hanya mencapai 1.2 juta m3. Sebagian besar industri hasil hutan di provinsi

102

Jambi khususnya industri penggergajian kayu (355 unit) adalah industri tanpa ijin dan tanpa dukungan penyediaan bahan baku dari sumber yang tetap dan legal. Oleh sebab itu, apabila industri tersebut beroperasi dengan kapasitas optimal atau penuh akan diperlukan pasokan bahan dari luar provinsi. Karena keterbatasan pasokan kayu maka sebagian besar industri harus menyesuaikan diri dengan bahan baku yang ada atau bahkan banyak diantaranya yang tutup, tidak beroperasi lagi atau pindah ke provinsi lain.

Secara formal pada tahun 2004, hampir 300 unit industri kayu telah ditutup karena kesulitan bahan baku dan menjadi masalah karena setidaknya hampir 35.ribu orang menganggur dan bilamana tidak segera dilakukan pembangunan hutan tanaman untuk pemasok lestari, semua industri bisa tutup.

Gambar 23. Peta Penyebaran Industri Primer di Jambi

Pada tahun 2005 di Jambi tercatat ada 91 industri permanen hasil hutan terdiri dari 25 unit sawmill dengan kapasitas lebih dari 6000 m3/tahun, 55 unit sawmill berkapasitas kurang dari 6000 m3/tahun, 9 unit kayu lapis/veener/LVL, 1 unit MDF, 1 unit pulp. Pada tahun 2008 dilaporkan yang beroperasi tinggal 30

103

unit terdiri dari 25 sawmill berkapasitas lebih dari 6000 m3/tahun maupun yang kurang dari 6000 m3/tahun, 3 unit kayu lapis, 1 unit MDF dan 1 unit pulp. Penyebaran industri primer hasil hutan di Jambi dapat dilihat pada Gambar 25. Sebagian besar kayu lapis, MDF terletak di daerah perkotaan, sedangkan sawmill berada di perdesaan.

Dokumen terkait