• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD

2.3. Kinerja Pelayanan SKPD

2.3.2 Perkembangan Sektor Pertanian

A. Keragaan Serangan OPT dan Bencana Alam

Dalam pelaksanaan pembangunan pertanian di Provinsi Banten, tidak terlepas dari berbagai faktor gangguan alam berupa serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang menyerang tanaman pertanian serta akibat dari Dampak Perubahan Iklim (DPI) seperti bencana alam yaitu banjir maupun kekeringan yang terjadi di Provinsi Banten selama tahun 2011.

51

Gangguan dan faktor penghambat tersebut berimplikasi terhadap produksi pertanian pada produksi pertanian. Dampak terbesar akibat serangan OPT dan bencana alam adalah gagalnya panen atau puso.

1. Bencana Banjir

Bencana Banjir merupakan salah satu dari bencana alam yang diakibatkan dari Dampak Perubahan Iklim (DPI) dimana cuaca dan iklim telah mengalami perubahan yang sangat signifikan dan berpengaruh nyata pada produksi pertanian khususnya tanaman pertanian. Adanya pergeseran rentang waktu musim hujan dan curah hujan yang abnormal mengakibatkan terjadinya banjir dalam skala luas yang mengenai hamparan lahan pertanian terutama tanaman pangan seperti padi. Tabel berikut menunjukan banjir yang terjadi pada beberapa kabupaten/kota di Provinsi Banten yang berdampak langsung pada produksi padi di tahun 2011.

Tabel 13. Dampak Banjir di kabupaten/kota Provinsi Banten tahun 2011

No KAB/KOTA TERKENA (Ha) PUSO (Ha) UMUR TANAMAN 1 SERANG 153 10-30 2 PANDEGLANG 10.366 407 30-95 3 LEBAK 95 2 7-92 4 TANGERANG 0 0 - 5 Kt. CILEGON 103 0 3-90 6 Kt. TANGERANG 0 0 - 7 Kt. SERANG 0 0 - JUMLAH : 10,717 409 -

52

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan bahwa bencana banjir di Provinsi Banten terjadi pada lahan pertanian seluas 10,717 Ha dengan puso padi seluas 409 Ha. Kabupaten Pandeglang merupakan daerah yang paling luas terkena kejadian banjir dengan luas lahan pertanian yang terkena banjir seluas 10,366 Ha dengan puso seluas 407 Ha. Dengan asumsi perhektar lahan sawah dapat menghasilkan 5,1 ton padi, maka kehilangan potensi produksi padi sebesar 2,086 ton padi pada tahun 2011 yang diakibatkan oleh bencana banjir.

Grafik 2. Bencana Alam Banjir Tahun 2011 di Provinsi Banten

2. Bencana Kekeringan

Bencana Kekeringan juga merupakan salah satu dari akibat dari Dampak Perubahan Iklim (DPI) yang terjadi. Bencana kekeringan terjadi akibat musim kemarau berkepanjangan dan mengalami pergeseran waktu sehingga mengganggu musim tanam. Kemudian curah hujan yang tidak merata juga turut ambil bagian dalam bencana kekeringan yang terjadi di Provinsi Banten pada tahun 2011. Dampak yang paling terlihat adalah lahan pertanian basah atau sawah yang

53

bukan sawah irigasi teknis atau tadah hujan yang sangat menggantungkan suplai air dari hujan.

Berdasarkan tabel yang terdapat di bawah, diketahui bahwa luas lahan sawah yang terkena dampak bencana kekeringan seluas 5,134 Ha dengan puso yang terjadi pada 879 Ha. Sedangkan daerah yang paling luas terkena dampak bencana kekeringan adalah Kabupaten Pandeglang seluas 2,201 Ha dengan puso seluas 203 Ha. Potensi kehilangan produksi padi dengan asumsi produktivitas padi adalah 5.1 ton/Ha sebanyak 4,483 ton akibat bencana kekeringan di Provinsi Banten.

Tabel 14: Bencana Kekeringan Tahun 2011 di Prov. Banten

No KAB/KOTA TERKENA (Ha) PUSO

(HA) UMUR TANAMAN 1 SERANG 1,190 404 15-90 2 PANDEGLANG 2,201 203 21-90 3 LEBAK 426 23 7-92 4 TANGERANG 1,267 221 15-panen 5 Kt. CILEGON 6 Kt. TANGERANG 7 Kt. SERANG 50 28 65-90 JUMLAH 5,134 879

54

Grafik 3. Bencana Alam Kekeringan Tahun 2011 di Provinsi Banten.

3. Serangan OPT Pangan Utama

Hama tanaman pertanian atau secara teknis disebut Organisme Pengganggu Tanaman atau OPT merupakan hewan atau serangga yang secara alamiah merupakan musuh utama bagi tanaman pertanian karena sumber makanan alamiah OPT adalah tanaman-tanaman pertanian. Gangguan OPT dapat mengakibatkan berbgai hal, mulai rusaknya daun hingga gagal panen. Dalam jumlah kecil dampak yang diakibatkan tidak signifikan, namun bila serangan OPT terjadi secara serentak dalam jumlah besar akan mengakibatkan gagalnya panen tanaman pertanian. Secara umum OPT dibagi dua, yaitu OPT Pangan dan OPT hortikultura. Pada OPT pangan terdapat delapan jenis OPT utama yang menyerang

tanaman pangan terutama tanaman padi, yaitu Penggerek

Batang,Wereng Batang Coklat, Tikus, Ulat Grayak, Walang Sangit, Siput Murbai, Tungro dan BLB atau Kresek. Serangan OPT utama penggerek batang menyerang pada setiap kabupaten/kota di Provinsi Banten seluas 7,727.5 Ha. Namun searangan tidak menyebabkan terjadi puso padi

55

dikarenakan mayoritas serangan penggerek batang terjadi dalam skala intensitas serangan ringan seluas 7,585,5 Ha dan intensitas sedang seluas 142 Ha. Serangan terbesar terjadi di Kabupaten Pandeglang dengan total luas serangan 3,218.5 Ha dengan skala intensitas ringan seluas 3,142.5 Ha dan intensitas ringan seluas 76 Ha. Pada tabel di bawah ini ditunjukan serangan OPT Penggerek batang secara rinci.

Secara umum, serangan OPT di Provinsi Banten tersaji pada tabel data dibawah ini. Berdasarkan tabel dibawah diketahui bahwa sepanjang tahun 2011 telah terjadi serangan OPT utama tanaman pangan seluas 33,022.80 Ha. Intensitas serangan OPT utama pangan di Provinsi Banten sebagian besar terjadi pada skala intensitas ringan yaitu 29,502.80 Ha, skala sedang 2,200 Ha dan skala berat 591 Ha. Sedangkan serangan yang mengakibatkan puso padi seluas 784 Ha.

Tabel 15. Serangan OPT Utama Tanaman Pangan Tahun 2011

No KAB/KOTA RINGAN SEDANG BERAT PUSO JUMLAH

(Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha)

1 SERANG 3,560 69 - 31 3,660 2 Kt. CILEGON 296 10 - - 306 3 PANDEGLANG 16,800.50 1,515 325 15 18,656 4 LEBAK 4,942 577 266 680 6,465 5 TANGERANG 3,123.30 7 - - 3,130 6 Kt. TANGERANG 199 - - - 199 7 Kt. SERANG 548 22 - 2 572 8 Kt. TANGSEL 34 - - - 34 JUMLAH 29,502.80 2,200 591 728 33,022.80

Serangan OPT utama pangan sebagian besar menyerang wilayah-wilayah yang merupakan sentra penghasil tanaman pangan khususnya padi seperti Kab Pandegang. Dengan luas lahan sawah sebanyak 54,739 Ha, Kab Pandeglang mengalami serangan OPT seluas 16,800,5 Ha

56

dengan puso sebanyak 15 Ha. Potensi kehilangan produksi padi akibat serangan OPT di Kab Pandeglang pada tahun 2011 sebanyak 76.5 ton.

Pada tahun 2011 diketahui bahwa akibat serangan OPT di Provinsi Banten, terjadi puso produksi padi seluas 728 Ha, dengan kejadian puso terbesar dialami Kab Lebak dengan luas lahan puso sebanyak 680 Ha. Serangan puso di Kab. Lebak diakibatkan serangan OPT Wereng Batang Coklat yang menyerang lahan sawah secara luas. Akibat dari serangan OPT ini, Provinsi Banten mengalami potensi kehilangan produksi padi sebanyak 3.713 ton pada tahun 2011.

Grafik 4. Serangan OPT Utama Tahun 2011 di Provinsi Banten

Berdasarkan grafik di atas, diketahui bahwa serangan OPT utama di tahun 2011 terjadi di setiap bulan. Namun serangan tertinggi terjadi di bulan Juni 2011 dengan tertinggi dilakukan oleh Wereng Batang Coklat

57

yang menyerang lebih dari 5000 Ha dan Penggerek Batang dengan serangan mencapai lebih dari 2000 Ha. Tingginya serangan kedua OPT ini di bulan juni dapat diakibatkan oleh kondisi cuaca dan iklim yang sedang pada puncak kemarau, dimana pertumbuhan kedua jenis OPT ini sedang dalam fase tertinggi sehingga mengakibatkan serangan terhadap komoditas tanaman pangan khususnya padi di bulan ini terjadi pada titik tertinggi

4. Serangan OPT Hortikultura

Pada tahun 2011, serangan OPT juga terjadi pada produksi tanaman hortikultura. Serangan OPT hortikultura ini menyerang pada komoditas utama produksi tanaman hortikultura utama di Provinsi Banten seperti manggis, durian, rambutan, melon, anggrek dan cabai.

Terdapat perbedaan antara tanaman hortikultura dan tanaman pangan. Perbedaan tersebut terletak pada areal pertanaman atau kawasan produksi. Pada setiap kabupaten/kota terdapat kawasan produksi tanaman pangan, sedangkan pada komoditas hortikultura hanya beberapa kabupaten/kota saja yang menjadi kawasan produksi komoditas utama hortikultura di Provinsi Banten. Hal tersebut dikarenakan produksi komoditas hortikultura berbasis pada potensi lokal yang dimiliki kabupaten/kota tersebut.

Wilayah produksi komoditas manggis terletak di Kab Lebak dan Pandeglang. OPT utama komoditas manggis adalah Becak Daun dan Kutu Putih. Serangan kedua OPT tersebut terdapat di Kabupaten Pandeglang Kecamatan Bojong. Total luas serangan mencapai 563 Ha dengan intensitas serangan skala ringan. Luas serangan Becak daun seluas 398 Ha dan Kutu Putih seluas 165 Ha.

Komoditas durian merupakan komoditas unggulan lokal Provinsi Banten dimana kawasan produksinya tersebar di Kab. Lebak, Serang dan

58

Pandeglang. Komoditas durian memiliki OPT utama sebanyak tujuh OPT yaitu jamur upas, kutu daun, kutu loncat, kutu putih, lalat buah, penggerek buah dan ulat daun. Total serangan ketujuh OPT tersebut pada pada kawan produksi durian seluas 811 Ha dengan intensitas serangan berskala ringan. Serangan tertinggi dilakukan oleh penggerek buah yang terdapat pada Kab Lebak Kec Gunung Kencana seluas 261 Ha dan kutu putih yang menyerang kawasan produksi di Kec Saketi Kab Pandeglang seluas 209 Ha.

Kawasan produksi komoditas rambutan tersebar di seluruh Kabupaten di Provinsi Banten. OPT utama komoditas rambutan diantaranya Lalat Buah, Penggerek Batang, Ulat daun dan kutu daun. Pada tahun 2011, serangan keempat OPT ini mencapai 2,210 Ha yang tersebar pada 4 kabupaten penghasil rambutan. Kawasan yang paling tinggi terserang OPT terletak di Kab Tangerang Kec.Cisauk dengan luas serangan 1,033 Ha dimana organisme penyerang tanaman adalah ulat daun dan Kec. Legok seluas 740 Ha terserang organisme penggerek batang. Seluruh serangan terhadap komoditas rambutan berskala intensitas rendah.

Kawasan produksi komoditas melon terdapat di Kabupaten Serang dan Kota Cilegon. OPT utama komoditas melon adalah Becak daun, trips dan oteng-oteng. Serangan ketiga OPT ini terjadi pada kawasan produksi melon di Kota Cilegon dengan total luas serangan 2,608 Ha yang tersebar di Kec Jombang oleh becak daun seluas 6 Ha, Kec Grogol oleh oteg-oteg seluas 1 Ha dan tertinggi di Kec Cibeber oleh hama trips dengan luas serangan 2,601 Ha. Intensitas serangan terhadap komoditas melon berskala rendah.

Sebaran kawasan produksi komoditas anggrek terdapat di Kota Tangsel dan Kota Tangerang. OPT utama komoditas anggrek adalah becak daun dimana serangan OPT utama terhadap komoditas anggrek terjadi di Kota Tangsel Kec Ciputat dengan luas serangan 50 Ha.

59

Produksi komoditas cabe tersebar di Pandeglang, Kab Serang dan Kota Cilegon. Serangan OPT utama komoditas cabe yaitu lalat buah, hama

trips dan Aphis.sp terjadi dengan total luas serangan sebanyak 52 Ha.

Serangan tertinggi dilakukan oleh Aphis,sp terdapat di Kab Pandeglang Kec Jiput seluas 14 Ha. Serangan hama trips tertinggi terdapat di Kab Pandeglang Kec Mandalawangi seluas 12 Ha dan serangan lalat buah terbesar terdapat di Kab Pandeglang Kec Mandalawangi seluas 12 Ha.

Tabel berikut menyajikan informasi secara rinci mengenai serangan OPT utama komoditas unggulan hortikultura di Provinsi Banten.

Tabel 16. Serangan OPT Utama Komoditas Unggulan Hortikultura Tahun 2011

KOMO

DITAS Jenis OPT Kab/Kota Kecamatan

Luas Total Serangan (Batang) R S B P JML Manggis Becak daun Kab. Pandeglang Bojong 398 0 0 0 398 Kutu putih Kab. Pandeglang Bojong 165 0 0 0 165 Durian Jamur upas

Kab. Lebak Gunung

Kencana

82 0 0 0 82

Kutu daun

Kab. Lebak Gunung

Kencana

51 0 0 0 51

Kutu loncat

Kab. Lebak Cigemblong 30 0 0 0 30

Kutu putih Kab. Pandeglang Saketi 209 0 0 0 209 Lalat buah

Kab. Serang Padarincang 86 1

2

0 0 98

Penggerek buah

Kab. Lebak Gunung

Kencana

261 0 0 0 261

Ulat daun

Kab. Serang Gunungsari 80 0 0 0 80

Rambuta n Lalat buah Kab. Tangerang 39 0 0 0 39 Penggerek batang

Kab. Lebak Banjarsari 17 0 0 0 17

Kab. Serang Cikesal 19 0 0 0 19

60

Ulat daun

Kab. Serang Cikesal 37 0 0 0 37

Kab. Tangerang Cisauk 1,03

3 0 0 0 1,03 3 Kutu Daun

Kab. Lebak 1.Malingping 9 0 0 0 9

2.Curugbitung Kab. Pandeglang 1.Angsana 316 0 0 0 316 2.Cigelis 3.Mekar Jaya Melon Becak daun

Kota Cilegon Jombang 6 0 0 0 6

Trips

Kota Cilegon Cibeber 2,60

1 0 0 0 2,60 1 Oteng-oteng

Kota Cilegon Grogol 1 0 0 0 1

Anggrek Becak daun

Kota Tangsel 1.Ciputat 50 0 0 0 50

2.Pamulang 3.Serpong 4.Serpong Utara 5.Setu 6.Ciputat Timur Cabe Lalat buah Kab. Pandeglang 1.Mandalawangi 12 0 0 0 12 2.Panimbang Trips Kab. Pandeglang 1.Mandalawangi 12 0 0 0 12 2.Jiput

Kab. Serang 1.Cikande 8 0 0 0 8

2.Petir

Kota Cilegon Cibeber 6 0 0 0 6

Aphis.sp Kab. Pandeglang 1.Jiput 14 0 0 0 14 2.Panimbang

Berdasarkan data di atas secara umum dapat diketahui bahwa serangan OPT utama hortikultura pada kawasan produksi komoditas unggulan hortikultura di Provinsi Banten seluas 6,294 Ha dengan intensitas serangan rendah seluas 6,282 Ha dan intensitas serangan sedang seluas 12 Ha.

61

B. Keragaan Produksi Pertanian dan Peternakan

Salah satu outcome ataupun dampak dari keberhasilan program kegiatan pembangunan pertanian adalah perkembangan produksi pertanian. Perkembangan produksi pertanian dapat dilihat dari berbagai sub sektor pertanian, yaitu Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan

1. Produksi Tanaman Pangan

Provinsi Banten merupakan salah sentra produksi pertanian tanaman pangan di Indonesia. Dengan beragam potensi yang dimiliki oleh Provinsi Banten, terdapat tujuh komoditas tanaman pangan utama yang dihasilkan oleh Provinsi Banten diantaranya komoditas padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Berikut keragaan produksi tanaman pangan di Provinsi Banten.

Tabel 17. Keragaan Produksi Tanaman pangan 2006 - 2011

Lapangan Usaha Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Padi Sawah - Produksi (ton) 1.659.640 1.727.047 1.710.894 1.740.953 1.915.996 1.884.446 - Produkstivitas (kw/ha) 52.51 52,98 52,36 52,32 52,06 50,29 - Luas Panen (ha) 316.040 325.953 326.776 332.776 368.009 374.717 Padi Ladang

- Produksi (ton) 91.828 89.093 107.272 108.056 132.051 65.267 - Produkstivitas (kw/ha) 28,36 28,88 29,91 32,39 34,39 29,26 - Luas Panen (ha) 32.374 30.850 35.861 33.362 38.402 22.304 Padi

- Produksi (ton) 1.751.468 1.816.140 1.818.166 1.849.008 2.048.047 1.949.714 - Produkstivitas (kw/ha) 50,27 50,90 50,14 50,50 50,39 49,11 - Luas Panen (ha) 348.414 356.803 362.637 366.138 406.411 397.021

Dari sektor tanaman pangan khususnya padi, provinsi Banten telah mampu mencapai surplus beras dari tahun ke tahun, terutama pada tahun 2010 tingkat produksi yang sebesar 2.048.047 ton Gabah Kering Panen (GKP) atau setara dengan 1.146.868 ton beras menunjukan jumlah

62

ketersedian beras yang lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi beras penduduk Banten yang sebesar 1,068 juta ton beras atau 89 ribu ton setiap bulan dari jumlah penduduk 10.661.100 jiwa. Untuk itu, atas keberhasilan pencapaian produksi padi di tahun 2010 ini pemerintah Republik Indonesia memberikan penghargaan Satyalencana Wira Karya

Bidang Pertanian terhadap Gubernur Banten

2. Produksi Hortikultura

Provinsi Banten merupakan penghasil komoditas hortikultura dengan produksi yang cukup besar. Produksi komoditas hortikultura di Provinsi Banten mencakup buah-buahan, tanaman hias dan biofarmaka atau tanaman obat.

Peningkatan produksi hortikultura diarahkan untuk memenuhi kebutuhan regional Provinsi Banten yaitu untuk konsumsi, bahan baku industri, peningkatan ekspor. Dengan demikian peningkatan produksi, mutu dan daya saing produk merupakan kegiatan utama yang senantiasa dilakukan dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi dibarengi dengan upaya pengembangan pasar dan promosi produk.

Kegiatan pengembangan produksi telah memberikan dampak positif pada penumbuhan ekonomi regional, penyediaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan petani/pelaku usaha. Secara keseluruhan

produksi hortikultura menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.

Peningkatan ini terjadi sebagai akibat pertambahan luas areal tanam sebelumnya, semakin banyaknya tanaman yang menghasilkan dari pertanaman sebelumnya, berkembangnya teknologi produksi yang diterapkan petani, semakin intesifnya bimbingan dan fasilitasi kepada petani dan pelaku usaha, semakin baiknya manajemen usaha, penerapan teknologi produksi melalu penerapan GAP/SOP hortikultura dan adanya penguatan kelembagaan agribisnis petani. Perkembangan produksi hortikultura 2007 – 2010 tersajikan pada data di tabel-tabel berikut ini.

63

Tabel 18. Perkembangan produksi hortikultura 2007 – 2010

Lapangan Usaha Tahun

2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Durian - Produksi (ton) 16.729 23.274 28.152 8.760 - Provitas (kg/pohon) 95,49 83,29 154,57 76,67 Mangga - Produksi (ton) 12.020 23.964 23.991 15.947 - Provitas (kg/pohon) 100,10 61,64 93,04 108,64 Manggis - Produksi (ton) 919 2.335 2.927 2.369 - Provitas (kg/pohon) 26,06 33,06 44,55 80,69 Rambutan - Produksi (ton) 9.841 19.668 23.541 19.653 - Provitas (kg/pohon) 74,69 53,68 62,26 56,93 Pisang - Produksi (ton) 131.258 114.471 194.835 234.887 - Provitas (kg/pohon) 40,73 30,83 43,95 54,03 Melon - Produksi (ton) 262 94 457 750 - Provitas (kg/pohon) 11,39 8,55 8,09 11,90

3. Populasi dan Produksi Peternakan

Hewan ternak secara umum diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu ternak besar, ternak kecil dan ternak unggas. Di Provinsi Banten komoditi utama hewan ternak besar yaitu kerbau dan sapi, sedangkan yang termasuk dalam komoditi utama hewan ternak kecil yaitu kambing dan domba. Ayam pedaging, ayam petelur, ayam buras dan itik termasuk dalam komoditi utama ternak unggas.

Pembangunan peternakan pada dasarnya senantiasa dilakukan karena sub sektor ini memiliki peranan yang penting. Hal ini setidaknya dapat dilihat pada 3 (Tiga) hal. Pertama, sub sektor ini diharapkan memperbaiki/meningkatkan konsumsi dan distribusi gizi/protein hewani. Kedua, untuk meningkatkan pendapatan petani/peternak yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga petani dan masyarakat. Ketiga, sebagai efek pengganda (multiplier effect) dari peningkatan nilai dan volume serta nilai tambah, yaitu dalam bentuk kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) ataupun pajak untuk negara.

64

Tabel 19. Perkembangan produksi peternakan 2008 – 2011

PRODUKSI DAGING (Kg) 2008 2009 2010 2011* Kerbau 2440718 1842203 3.694.115 5,055,790 Sapi Potong 25882398 5589767 20.326.424 25,629,797 Kambing 3770621 2171554 3.828.866 3,487,912 Domba 2567439 2036147 2.695.226 3,032,414 Ayam Buras 7843122 7186223 14.400.961 9,559,484

Ayam Ras Pedaging 69333363 26815440 86.089.067 111,669,673

Ayam Ras Petelur 2107691 1567075 1.558.310 2,547,016

Sumber : Verpal Distanak

Produksi peternakan secara general terbagi atas dua, yaitu produksi daging dan produksi telur. Produksi daging di Provinsi Banten meliputi produksi daging seluruh komoditas hewan yang diternakan. Produksi telur di Provinsi Banten terdiri dari produksi telur ayam petelur, ayam buras, itik, itik manila dan burung puyuh.

Berdasarkan angka sementara Verpal 2011, secara umum produksi daging di Provinsi Banten pada tahun 2011 mencapai 167,719,308 kg dan produksi daging di tahun 2011 mencapai 136,768,264 kg (Verpal 2010). Produksi daging di tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 22.63% atau setara 30,951,044 Kg. Produksi daging tertinggi pada tahun 2011 terdapat di Kota Tangerang dengan total produksi daging sebesar 42,757,892 Kg dimana sebagian besar produksi daging di Kota Tangerang berasal dari ayam pedaging sebesar 24,496,349 Kg.

Pada tahun 2011, produksi daging sapi potong mencapai 25,629,797 kg atau meningkat 26.1% dibandingkan produksi sapi di tahun 2011 yang mencapai 20,326,424 kg. Produksi daging kerbau pada tahun 2011 meningkat sebesar 36.86% dibandingkan tahun 2010. Produksi daging kerbau di tahun 2011 mencapai 5,055,790 kg dan pada tahun 2010

65

mencapai 3,694,115 kg. Produksi daging kambing di tahun 2010 mencapai 3,828,866 kg dan di tahun 2011 produksi daging kambing 3,487,912. Produksi daging kambing menunjukan penurunan sebesar (8.9%) di tahun 2011 dibandingkan produksi di tahun 2010.

Produksi daging domba di Provinsi Banten mengalami kenaikan sebesar 12.51% di tahun 2011. Produksi daging domba di tahun 2011 mencapai 3,032,414 kg sedangkan di tahun 2010 mencapai 2,695,226 Kg.

Produksi daging ayam pedaging di tahun mengalami peningkatan sebesar 29.71% dibandingkan produksi di tahun 2010. Pada tahun 2010 produksi daging ayam pedaging mencapai 86,089,067 Kg dan di tahun 2011 sebesar 111,669,673 kg.

Menurut angka sementara Verpal 2011, produksi telur di Provinsi Banten di tahun 2011 mengalami kenaikan mencapai 25,009,477 Kg atau 43.24% dibandingkan produksi daging di tahun 2010. Pada tahun 2010, berdasarkan verpal 2010, produksi telur mencapai 57,840,326 Kg dan meningkat di tahun 2011 hingga mencapai 82,849,803 Kg. Produksi telur terbesar di tahun 2011 terdapat di Kab. Tangerang dengan produksi telur mencapai 40,757,392 Kg. Ini dikarenakan Kabupaten Tangerang merupakan sentra peternakan ayam di Provinsi Banten terutama peternakan ayam petelur.

Produksi telur sebagian besar dihasilkan oleh ayam petelur dengan produksi mencapai 57,626,029 Kg paada tahun 2011. Produksi telur yang dihasilkan ayam petelur di tahun 2011 mengalami peningkatan 39% dibandingkan produksi di tahun 2010 yang hanya mencapai 41,580,623 Kg. Hal ini dapat disebabkan adanya kenaikan populasi ayam petelur pada tahun 2011.

Pada tahun 2010, produksi telur oleh ayam buras mencapai 5,996,698 Kg dan meningkat di tahun 2011 sebesar 6,892,161 Kg atau sebesar 15%.

66

Perkembangan Populasi Hewan Ternak

Populasi hewan ternak di Provinsi Banten secara umum mengalami penurunan. Penurunan ini nampak terlihat pada seluruh komoditas hewan ternak besar dan ternak kecil.

Berdasarkan angka sementara verpal 2011, populasi sapi potong di Provinsi Banten mencapai 49,600 ekor, angka ini mengalami penurunan dibandingkan populasi di tahun 2010. Menurut Verpal 2010, populasi di tahun 2010 mencapai 69,727 ekor. Penurunan populasi di tahun sebesar (33%) dibandingkan populasi di tahun 2010.

Begitu pula dengan populasi kerbau dimana berdasarkan angka sementara verpal 2011, populasi kerbau mencapai 123,143 ekor sedangkan populasi di tahun 2010 mencapai 153,204 ekor atau mengalami penurunan hingga (20%).

Populasi kambing pada tahun 2010, menurut verpal 2010, mencapai 790,524 ekor. Sedangkan menurut angka sementara verpal 2011, populasi kambing mencapai 774,629 ekor. Penurunan populasi kambing mencapai (2%) di tahun 2011 dibandingkan populasi di tahun 2010.

Sedangkan penurunan populasi domba di tahun 2011 tidak terlalu signifikan hanya sebesar (0.45%) dibandingkan populasi di tahun 2010. Menurut angka sementara verpal 2011, populasi domba mencapai 626,114 ekor dan populasi domba di tahun 2010, menurut verpal 2010, sebesar 628,926 ekor.

Namun pada populasi hewan ternak unggas mengalami peningkatan. Peningkatan populasi di tahun 2011 sangat nampak pada komoditas ayam pedaging dengan persentasi kenaikan hingga mencapai 27%. Menurut angka sementara verpal 2011 di tahun 2011, populasi ayam pedaging mencapai 52,272,333 ekor. Menurut verpal 2010 populasi ayam pedaging 41,146,851 ekor.

Pada komoditas ayam buras, menurut angka sementara verpal 2011 populasi di tahun 2011 mencapai 10,026,124 ekor. Sedangkan menurut verpal 2010 populasi ayam buras di tahun 2010 mencapai 9,784,326 ekor. Peningkatan populasi sebesar 2.47%.

67

Populasi ayam petelur di Provinsi Banten pada tahun 2011, menurut angka sementara verpal 2011, mencapai 5,373,125 ekor. Menurut verpal 2010, populasi ayam petelur mencapai 5,344,080. Peningkatan populasi ayam petelur di tahun 2011 mencapai 0.55%. Berdasarkan verpal 2010, produksi komoditas itik sebesar 2,157,189 ekor. Sedangkan populasi itik di tahun 2011 mencapai 2,226,442 ekor. Peningkatan populasi itik di tahun 2011 mencapai 3.21% Sementara itu populasi itik manila mengalami penurunan di tahun 2011 hingga mencapai (21.58%) dengan populasi di tahun 2011 sebesar 642,625 ekor dan populasi di tahun 2010 mencapai 819,437 ekor.

Dokumen terkait