Bab I Administrasi Publik
3. Perkembangan Studi Administrasi Publik
Sejarah perkembangan studi ilmu administrasi publik di Indonesia dapat ditelusuri sejak kapan dan siapa yang terlibat dalam pekermbangannya. Berikut ini perkembangan studi ilmu administrasi publik di Indonesia:
▪ Pada tahun 1954, studi ilmu administrasi publik mulai dirintis oleh lembaga pendidikan swasta, kemudian dua tahun kemudian diikuti pendirian fakultas/ jurusan studi ilmu administrasi negara di kampus swasta maupun pendirian perguruan tinggi khusus studi ilmu administrasi negara.
Perguruan tinggi yang memiliki studi administrasi publik diawal, antara lain:
- Fakultas Praja, Universitas Krisna Dwi Payana, di Jakarta;
- Fakultas Tata Praja, Universitas 17 Agustus, di Makassar;
dan
- Perguruan Tinggi Ketatanegaraan dan Ketataprajaan, di Jakarta.
▪ Pada 5 Mei 1957, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN-RI) didirikan. Lembaga ini memiliki fungsi pokok untuk memajukan ilmu administrasi negara di Indonesia, untuk pengembagan sebagai ilmu pengetahuan maupun pengembangan dalam dunia praktis atau prakteknya.
▪ Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik membuka Jurusan Ilmu Usaha Negara.
▪ Pendirian Balai Pembinaan Administrasi (BPA) di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan pendirian Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM).
▪ Pendirian berbagai pendidikan tinggi (unibersitas, sekolah tinggi, institut maupun akademi) di seluruh Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan formal ilmu admistrasi negara baik negeri maupun swasta.
Bab II Governance
2.1. Konsep Governance
Governance banyak dipergunakan sebagai padanan untuk menggantikan istilah “administrasi publik” atau setidak tidaknya merujuk pada padanannya cukup banyak (Lan dan Rosenbloom, 1992; Peters dan Savoie, 1995; Salamon, 1989). Istilah
“governance” sebagai bentuk kata ganti dari “government”, pemahaman ini sangat umum ditemukan akan tetapi perlu dipahami bahwa “governance” bukanlah sinonim dari
“government”. Governance memiliki perhatian terhadap pentingnya keterlibatan para pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan, hal ini disebabkan dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaannya sudah semakin kompleks akan tantangan dan masalah yang dihadapi (Dwiyanto, 2018).
Menurut Roderick Arthur William Rhodes, mengatakan bahwa governance merujuk pada perubahan dari tata kelola pemerintahan yang bermakna lebih luas meliputi sebuah proses baru pengaturan (new process of governing), perubahan kondisi kaidah pengaturan (a changed condition ordered rule), atau sebuah metode baru dimana masyarakat diatur (new method by which society is governed) (Rhodes, 1996).
Governance secara umum dapat di pahami bentuk peralihan dalam “penyelenggaraan kebijakan publik” yang tidak hanya pada berpusat pada pemerintah, namun melibatkan aktor lain
untuk turut berpartisipasi baik dari masyarakat, swasta, dan lainnya.
2.2. Karakter Governance
Roderick Arthur William Rhodes menjelaskan beberapa karakter dominan dari governance dari hasil penelitian yang dilakukannya (Rhodes, 1996). Karakter tersebut terdiri dari 4 (empat), meliputi:
1. “governance” bermakna lebih luas daripada government dengan melibatkan aktor non-negara yang menjadikan ada hubungan saling ketergantungan antar organisasi;
2. keberlanjutan hubungan interaksi antar anggota karena dilatarbelakangi kebutuhan pertukaran sumber daya dan negosiasi untuk membagi bersama;
3. berakar pada hubungan saling percaya dan diregulasikan dengan peraturan akibat dari negosiasi dan kesepakatan antar aktor; dan
4. memiliki derajat signifikan untuk terlepas atau otonom dari pemerintah.
Pada dasarnya karakteristik sebuah governance akan berbeda pada siapa yang memiliki pengaruh/ kekuatan untuk mengatur dan mengoordinasikan sebuah kebijakan, program, dan proyek, atau lebih khusus mengenai lagi: bagaimana dasar hukum dan peraturan yang ada; orientasi demokratis; hubungan prinsipal antara anggota/ agen; proses implementasi; dan bentuk/ kondisi akuntabilitasnya (Hanberger, 2004).
Klasifikasi model “karakteristik governance” administrasi publik atau kebijakan dapat dibagi menjadi: (1) terkoordinasi oleh negara (state-coordinated); (2) terkoordinasi oleh pemerintah daerah (local government coordinated); dan (3) terkoordinasi oleh multi-aktor (multi-actor-coordinated).
Karakteristik setiap model dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2. 1.
State decisions Local government, (state, province Principal State Local government,
(state, province)
Tame/ gentle Wicked/ complex Wicked/ complex Implementation
Sumber: Hanberger (2004), “Democratic Governance and Evaluation”
State-coordinated merupakan model yang paling banyak dikenal dan masih mungkin paling umum di temui di beberapa negara. Model ini biasanya melibatkan banyak aktor, akan tetapi pengelolaan masih seperti pemerintahan konvensional.
Governance dimulai dengan “keputusan negara”, yang dibuat oleh perwakilan rakyat atau elit politik (Dryzek, 1996). Dengan kata lain, negara adalah pelaku utama dan pemerintah/ aktor di tingkat bawah adalah perantaranya. Masalah-masalah kebijakan yang sifatnya masih “tidak terlalu rumit/ tidak rumit” dapat ditangani dengan cara ini secara efektif. Proses implementasi kebijakan bersifat top-down dan menuntut adanya kontrol manajemen yang kuat agar dapat berjalan dan bekerja dengan baik. Keuntungan dari model ini adalah bahwa akuntabilitas lebih
jelas, yaitu politisi dan pejabat dapat dianggap bertanggung jawab atas tindakan yang diambil atau tidak diambil.
Local government coordinated merupakan model dimana pemerintah daerah telah mengambil peran atau diberi peran.
Keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah adalah landasan hukumnya, atau dapat pula dimulai dari mandat keputusan yang diambil di tingkat pusat/ provinsi kemudian didelegasikan kepada pemerintah daerah. Kekuasaan dan tanggung jawab atau koordinasi pelaksanaan suatu program di rumuskan dengan bentuk desentralisasi. Model ini pada dasarnya adalah dari demokrasi representatif atau elitis.
Program dan tindakan dapat dilegitimasi melalui proses perwakilan nasional atau daerah atau berorientasi pada konsep demokrasi diskursif (deliberatif). Model ini dapat dilakukan ketika berhadapan dengan masalah sosial yang kompleks dan kondisi setempat sangat bervariasi; kebutuhan akan penyesuaian daerah/ lokal sangat besar. Proses implementasi dapat digambarkan sebagai proses gabungan dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas di mana niat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setempat baik dari atas maupun dari bawah.
Hubungan antara negara dan pelaksana biasanya rumit dalam model ini karena terdapat berbagai tingkat pemerintahan terlibat dalam pembuatan dan implementasi kebijakan publik.
Ketika kekuasaan dan tanggung jawab dibagi, kondisi untuk akuntabilitas dapat menjadi tidak jelas.
Multi-actor coordinated mewakili suatu situasi dimana pemerintah pusat dan daerah hanya dua di antara beberapa aktor yang berusaha mengarahkan dan mengoordinasikan sumber daya secara kolektif. Landasan hukum dari model ini adalah perjanjian dan atau kontrak antara aktor yang berpartisipasi. Bergantung pada ruang lingkup dan kedalaman governance dan kolaborasi, orientasi dapat berupa partisipatif atau diskursif (deliberatif). Mirip dengan local government
coordinated, anggota yang utama tidak begitu jelas dalam model ini. Konsep principal-agent (utama-pelaksana) tidak relevan diterapkan karena para peserta dapat menjadi principal-agent sekaligus, di mana program dikembangkan dan diimplementasikan dalam bentuk kolaborasi. Model ini dapat dilakukan dalam situasi di mana masalah yang dihadapi sifatnya
“rumit atau sangat rumit”, di mana para aktor perlu mendiskusikan dan sampai pada bagaimana penilaian publik tentang masalah tersebut dan apa yang perlu dilakukan untuk mengatasinya. Akuntabilitas adalah titik lemah dalam model ini.
Semua peserta bertanggung jawab atas “tindakan bersama” atau
“tidak bertindak”, dan pada saat yang sama setiap aktor juga bertanggung jawab kepada organisasi yang diwakilinya, tetapi dalam skenario terburuk, tidak ada yang bertanggung jawab dan karenanya tidak dapat juga dimintai pertanggungjawaban.
Model ketiga adalah model di mana otoritas pemerintah nasional dan lokal didistribusikan naik, turun atau keluar dan karenanya merupakan model yang dapat berfungsi sebagai tolok ukur untuk analisis empiris tanpa memberikan bias kepada lembaga dan aktor publik.
2.3. Isu Studi Governance
Studi governance umumnya memiliki perhatian setidaknya pada 3 (tiga) isu penting, yang membedakannya dengan tradisi administrasi publik yang konvensional (Dwiyanto, 2018). Isu tersebut antara lain pada:
1. Dimensi kelembagaan dipahami sebagai sebuah sistem administrasi yang melibatkan banyak pelaku, baik dari pemerintah maupun di luar pemerintah (Dwiyanto, 2003).
Isu tentang kelembagaan menjadi tema yang cukup banyak dikaji khususnya pada bagaimana memetakan atau mengidentifikasi para pemangku kepentingan yang terlibat dalam suatu kegiatan. Kajian tentang pemangku kepentingan
cukup banyak diteliti dari berbagai sudut keilmuan termasuk kebijakan publik. Studi tentang pemangku kepentingan awalnya berasal dari studi ilmu manajemen dan administrasi bisnis (Brugha dan Varvasovszky, 2000), tetapi studi ini kemudian berkembang diaplikasikan dalam kajian keilmuan yang lebih luas, misalnya dalam ilmu politik, kebijakan publik, studi pengembangan dan studi lingkungan. Billgren dan Holmén berpendapat bahwa konsep maupun pengertian pemangku kepentingan akan sangat tergantung pada kepentingan akademis atau persepsi ilmuwan yang mengkajinya (Billgren dan Holme, 2008). Christopher Stoney dan Diana Winstanley berpendapat bahwa para peneliti harus mengklarifikasi posisinya sehubungan dengan keyakinan dan posisi mereka tentang siapa yang dapat dipandang sebagai pemangku kepentingan yang valid agar tidak terjadi bias dalam kajiannya (Stoney dan Winstanley, 2001).
2. Dimensi nilai adalah dasar dalam penggunaan kekuasaan.
Mengenal nilai apa yang sebaiknya dipergunakan bisa berbeda antara ruang dan waktu tergantung pada sejarah dan pengalaman masing-masing negara. Nilai yang menggambarkan local wisdom dalam praktik governance kemudian tergusur ketika model birokrasi Weberian dengan segala karakteristiknya dilembagakan (Dwiyanto, 2018).
Pada pemahaman lainnya, dimensi nilai dipandang sebagai seperangkat keyakinan atau prinsip perilaku yang telah mempribadi dalam diri seseorang atau kelompok masyarakat tertentu yang ketika berpikir atau bertindak. Umumnya, nilai dipelajari sebagai hasil dari pergaulan atau komunikasi antar individu dalam kelompok seperti keluarga, himpunan keagamaan, kelompok masyarakat atau persatuan dari orang orang yang satu tujuan (Adisusilo, 2014). Nilai dapat dibedakan atas nilai subtantif dan nilai prosedural.
Nilai substantif adalah keyakinan yang telah dipegang oleh seseorang dan umumnya hasil belajar, bukan sekedar menanamkan atau menyampaikan informasi semata. Setiap orang memiliki keyakinan atau pendapat yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinannya tentang sesuatu hal, sedangkan nilai prosedural merupakan nilai yang perlu dilatih atau dibelajarkan antara lain: nilai kemerdekaan, toleransi, kejujuran, menghormati kebenaran dan menghargai orang lain. Nilai-nilai kunci ini merupakan nilai yang menyokong masyarakat demokratis, seperti: toleran terhadap pendapat yang berbeda, menghargai bukti yang ada, kerja sama, dan menghormati pribadi orang lain.
Salah satu kajian tentang nilai sosial yang ada di tengah masyarakat mengenai nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) atau nilai modal sosial (social capital) yang dimiliki oleh masyarakat.
3. Dimensi ketiga ialah dimensi proses, yang coba menjelaskan bagaimana berbagai unsur dan lembaga memberi respons terhadap berbagai masalah publik yang muncul di lingkungannya (Dwiyanto, 2018).
Proses merupakan mengambarkan urutan pelaksanaan atau kejadian yang saling terkait yang bersama-sama mengubah masukan menjadi keluaran. Pengertian lainnya menyebutkan bahwa proses adalah serangkaian langkah sistematis, atau tahapan yang jelas dan dapat ditempuh berulangkali, untuk mencapai hasil yang diinginkan. Jika ditempuh, setiap tahapan itu secara konsisten mengarah pada hasil yang diinginkan (Eades, 2003).
Contoh proses dalam kajian kebijakan yang diungkapkan Thomas R. Dye dalam bukunya “Understanding Public Policy”
yakni melalui tahapan: (1) Identifikasi masalah kebijakan; (2) Penyusunan agenda; (3) Perumusan kebijakan; (4)
Pengesahan kebijakan; (5) Implementasi kebijakan dan (6) Evaluasi kebijakan (Dye, 1987; Parsons, 2008).
Bab III Collaborative Governance
3.1. Pemahaman tentang Collaborative Governance
Istilah collaborative governance merupakan cara pengelolaan pemerintahan yang melibatkan secara langsung pemangku kepentingan di luar pemerintahan atau negara, berorientasi pada konsensus dan musyawarah dalam proses pengambilan keputusan kolektif yang bertujuan untuk membuat atau melaksanakan kebijakan publik serta program-program publik (Ansell dan Gash, 2008).
Kolaborasi yaitu suatu kegiatan yang secara fundamental terletak pada pengelolaan jaringan sosial. Jaringan sosial yakni hubungan simpul-simpul komunikasi para pemangku kepentingan. Atas pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa teori kolaborasi yakni analisis dari proses tata kelola dengan sudut pandang pada jaringan sosial. Model tata kelola kolaboratif mengharuskan seluruh pemangku kepentingan terlibat dalam dialog, dimana para pemangku kepentingan ini mewakili diri mereka sendiri dalam mengungkapkan kepentingannya (Booher dan Innes, 2002).
Fokus collaborative governance ada pada kebijakan dan masalah publik. Institusi publik memang memiliki orientasi besar dalam pembuatan kebijakan, tujuan dan proses kolaborasi adalah mencapai derajat konsensus diantara para pemangku kepentingan. Collaborative governance menghendaki terwujudnya keadilan sosial dalam memenuhi kepentingan
publik. Menurut O’Leary dan Bingham (Sudarmo, 2015) kolaborasi merupakan konsep yang menggambarkan proses memfasilitasi dan pelaksanaan yang melibatkan multi organisasi untuk memecahkan masalah yang tidak bisa atau tidak dengan mudah dipecahkan oleh sebuah organisasi secara sendirian.
Pendapat ini didukung oleh Bardach (Sudarmo, 2015) yang mendefinisikan collaboration sebagai bentuk aktivitas bersama oleh dua institusi atau lebih yang bekerja sama ditujukan untuk meningkatkan “public value” ketimbang bekerja sendiri-sendiri.
Collaborative governance adalah serangkaian pengaturan dimana satu atau lebih lembaga publik yang melibatkan secara langsung Pemangku kepentingan “non-state” di dalam proses pembuatan kebijakan yang bersifat formal, berorientasi konsensus dan deliberatif yang bertujuan untuk membuat atau mengimplementasikan kebijakan publik atau mengatur program publik atau aset (Ansell dan Gash, 2008).
Edward DeSeve (Sudarmo, 2015) mendefinisikan collaborative governance adalah sebagai sebuah sistem yang terintegrasi dengan hubungan yang dikelola melintasi batas-batas organisasi formal dan informal dengan prinsip-prinsip organisasi yang direkonsepsi dan definisi kesuksesan yang jelas.
Selanjutnya Agrawal dan Lemos (Subarsono, 2011) mendefinisikan collaborative governance tidak hanya berbatas pada pemangku kepentingan yang terdiri dari pemerintah dan non-pemerintah tetapi juga terbentuk atas adanya “multi-partner governance” yang meliputi sektor privat/ swasta, masyarakat dan komunitas sipil dan terbangun atas sinergi peran pemangku kepentingan dan penyusunan rencana yang bersifat
“hybrid” seperti halnya kerja sama publik-privat-sosial. Sejalan dengan itu Balogh dkk (Subarsono, 2011) mendefinisikan collaborative governance sebagai sebuah proses dan struktur dalam manajemen dan Perumusan keputusan kebijakan publik yang melibatkan aktor-aktor yang secara konstruktif berasal dari
berbagai level, baik dalam tatanan pemerintahan dan atau instansi publik, instansi swasta dan masyarakat sipil dalam rangka mencapai tujuan publik yang tidak dapat dicapai apabila dilaksanakan oleh satu pihak.
Robertson dan Choi (2010) mendefinisikan collaborative governance sebagai proses kolektif dan egalitarian dimana setiap partisipan di dalamnya memiliki otoritas dalam pengambilan keputusan dan setiap pemangku kepentingan memiliki kesempatan yang sama untuk merefleksikan aspirasinya dalam proses tersebut. Bovaird mendefinisikan kemitraan antara pemerintah dan swasta secara sederhana sebagai pengaturan pekerjaan berdasarkan komitmen timbal balik, melebihi dan di atas yang diatur dalam setiap kontrak antara satu organisasi di sektor publik dengan organisasi di luar sektor publik (Dwiyanto, 2011).
Dari definisi yang dikemukakan oleh Bovaird, jelas dikatakan bahwa kemitraan melibatkan bentuk kerja sama yang lebih dari sekadar kontrak kerja sama. Kerja sama yang dijelaskan dalam konsep kemitraan antara sektor publik dan swasta adalah kerja sama masing-masing pihak yang memiliki keprihatinan di luar apa yang tertulis dalam kontrak.
Kemitraan antara pemerintah dengan swasta berbeda dengan bentuk kerja sama lainnya, seperti kontrak kerja, swastanisasi dan outsourcing. Tipe kerja sama seperti itu lebih merupakan kerja sama antar pemerintah dan swasta untuk menyelesaikan masalah dari satu pihak, bukan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah bersama dari kedua pihak (Dwiyanto, 2011)
Kemitraan yang dilakukan oleh pemerintah dengan institusi di luar pemerintah dapat dibagi menjadi beberapa arena kemitraan, yaitu: (1) kolaborasi antara institusi pemerintah (internal), (2) kolaborasi antara institusi pemerintah dan institusi
bisnis; dan (3) kemitraan antara pemerintah dan lembaga masyarakat sipil.
Kolaborasi antara institusi pemerintah (internal) dalam pelaksanaan penyelesaian permasalahan, pemerintah memiliki departemen-departemen yang fokus terhadap satu sektor, tetapi ada pula instansi pemerintah yang menangani pelayanan publik secara bersama-sama (lintas sektor) dikarenakan diperlukannya keterlibatan antar instansi.
Kolaborasi antara lembaga pemerintah dan lembaga bisnis, banyak literatur mengatakan bahwa kemitraan antara lembaga pemerintah dan bisnis pertama kali dikembangkan sebelum kemitraan antara lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat.
Lembaga bisnis sering dianggap memiliki tradisi dan nilai efisiensi dan inovasi yang lebih baik daripada lembaga pemerintah.
"Positive Image" yang dimiliki oleh bisnis sering disebut sebagai pertimbangan pemerintah untuk berkolaborasi dengan institusi bisnis. Selain menjadi instrumen kebijakan untuk meningkatkan efisiensi dan daya tanggap pemerintah, kemitraan antara keduanya sering merupakan simbol politik untuk menunjukkan kepedulian pemerintah terhadap upaya meningkatkan efisiensi pemberian layanan publik. Melalui kemitraan ini mereka berharap bahwa mereka akan dievaluasi secara positif oleh warga, misalnya, mereka dianggap memiliki upaya serius untuk menjadi lebih efisien, responsif dan mampu memberikan layanan publik yang baik. Di sisi lain, motivasi utama bagi lembaga bisnis untuk melakukan kemitraan, secara umum, adalah untuk mengakses sumber daya pemerintah. Melalui kemitraan, mereka dapat mengakses sumber daya yang tersedia di lembaga pemerintah yang dapat digunakan untuk mengatasi sejumlah masalah publik yang sering terjadi di sekitar mereka.
Kemitraan antara pemerintah dan institusi masyarakat sipil.
Pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa pemerintah seringkali memfasilitasi munculnya institusi
masyarakat sipil karena pertimbangan tertentu. Beberapa istilah yang digunakan menurut Selsky dan Parker untuk menyebut institusi masyarakat sipil atau plat merah adalah “manufactured civil society”, “shadow state”, atau “the third party of government”, yang semuanya menunjuk pada institusi masyarakat sipil yang inisiatif pendiriannya dan pembiayaannya setidaknya pada awalnya berasal dari pemerintah (Dwiyanto, 2011).
Kemitraan antara pemerintah dan lembaga masyarakat sipil dapat mencakup kedua jenis lembaga dalam masyarakat, baik yang independen atau yang menjadi binaan pemerintah.
Perbedaan sifat dari kedua jenis lembaga dan masing-masing dari keduanya juga memiliki perbedaan dalam beberapa cara, seperti motif untuk kerja sama, sifat kerja sama, bidang kerja sama dan sebagainya. Kemitraan antara pemerintah dan lembaga masyarakat sipil yang pembentukannya di sponsori oleh pemerintah cenderung lebih terlibat dalam kegiatan yang menyangkut pemerintah. Dengan berkolaborasi dengan lembaga yang pendiriannya (di sponsori), pemerintah berharap untuk memberdayakan lembaga dan menjadikannya perpanjangan pemerintah dalam menanggapi masalah-masalah tertentu atau dalam menyebarluaskan nilai-nilai dan kepentingan pemerintah.
Kerja sama antara lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat sipil independen biasanya didorong oleh keyakinan dalam mewujudkan pemberian layanan publik dan kegiatan pemerintah partisipatif, yang bertujuan memberdayakan warga negara, atau pada pertimbangan etis yang penting adalah keyakinan bahwa penyelenggara kegiatan pemerintah dan layanan publik harus menempatkan warga negara dan pengguna layanan sebagai subjek yang perlu terlibat aktif dalam seluruh proses pelaksanaan kegiatan ini.
Dilihat dari dampaknya dalam meningkatkan citra dan kepercayaan publik pada lembaga pemerintah, kemitraan antar
pemerintah dan lembaga masyarakat independen tentu memiliki kontribusi yang lebih besar daripada lembaga masyarakat sipil plat merah.
Burgess mengemukakan bahwa amat mungkin untuk membawa atau melibatkan lebih banyak pihak dalam pembuatan kebijakan dan beragam dispersi kepentingan publik untuk menghasilkan secara bersama kebijakan publik, proses musyawarah deliberatif ini berupaya menggabungkan perspektif sosial yang luas dan secara eksplisit melibatkan publik dalam keputusan kunci (Burgess dan Curry, 2014). Selanjutnya, proses musyawarah yang melibatkan publik mampu menjadi dimasukkan ke dalam struktur pemerintahan untuk meningkatkan kapasitas untuk merespons isu-isu yang muncul dengan tingkat keterlibatan publik yang proporsional. O‟doherty (2012) menekankan pula pentingnya keterlibatan banyak kelompok kepentingan yang dimaksudkan untuk mewakili publik, untuk berdebat sebagai legitimasi proses musyawarah, setiap anggota sidang harus memposisikan forum di luar kepentingan partisan. Untuk menerapkan forum Public Deliberative, O‟doherty memandang perlu memperhatikan beberapa aspek penting, antara lain: representation (keterlibatan dan legitimasi peserta), framing (penekanan isu kebijakan), forum design (desain pertemuan) dan upaya memfasilitasi percakapan.
Sementara itu, Winkler mengemukakan beberapa alasan sehingga terjadi partisipasi efektif, antara lain: (1).
memperdalam sentralisasi pengambilan keputusan; (2). fokus pada manajemen kinerja; dan (3) peran yang kuat dari politik dalam perencanaan. Tanpa kemauan politik (political will) yang diperlukan untuk menjamin hak-hak warga negara tidak hanya untuk berpartisipasi dalam perencanaan tetapi juga untuk mengubah kebijakan, potensi transformatif kewarganegaraan aktif tetap belum dapat di realisasi.
Untuk menghadirkan tata kelola yang sehat di masa datang (Johnston, 2010) Governance Infrastructures in 2020 mencatat beberapa kunci, antara lain: sistem yang dinamis, adaptif dan kompleks yang harus dilihat sebagai suatu keseluruhan organik, termasuk orang yang beragam, teknologi, aturan dan hubungan.
Jon Coaffee dan Deas (2008) menekankan pentingnya Inovasi
“local governance” di Inggris yaitu pada formalisasi kerangka kerja partnership. Hal ini dapat terlihat dalam bentuk koordinasi antar instansi pemerintah yang lebih efektif secara vertikal, pemerintah pusat maupun daerah serta horizontal di badan dan diagonal dengan masyarakat sipil.
Definisi dan konsep yang dijelaskan oleh banyak ilmuwan tersebut di atas dapat dirumuskan menjadi beberapa kata kunci yang menekankan pada enam karakteristik, yaitu:
1. Forum tersebut di inisiasi atau dilaksanakan oleh lembaga publik maupun aktor-aktor dalam lembaga publik;
2. Peserta di dalam forum tersebut juga termasuk aktor non-publik;
3. Peserta terlibat secara langsung dalam pembuatan dan pengambilan keputusan dan keputusan tidak harus merujuk kepada aktor-aktor publik;
4. Forum terorganisir secara formal dan pertemuan diadakan secara bersama-sama;
5. Forum bertujuan untuk membuat keputusan atas kesepakatan bersama, dengan kata lain forum ini berorientasi pada konsensus; dan
6. Kolaborasi berfokus pada kebijakan publik maupun manajemen publik.
Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan, maka dapat dipahami collaborative governance merupakan cara pengelolaan “sesuatu hal” yang melibatkan semua pemangku
kepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung, berorientasi dan terjadi musyawarah dalam proses pengambilan keputusan kolektif, dalam rangka mencapai tujuan bersama.
kepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung, berorientasi dan terjadi musyawarah dalam proses pengambilan keputusan kolektif, dalam rangka mencapai tujuan bersama.