4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Perkiraan Daerah Genangan
Pembuatan peta daerah yang terkena genangan digunakan sebagai dasar untuk jarak buffer (penyangga) untuk daerah penelitian. Berdasaran pengolahan data CU Sea Level Research Group (http://sealevel.colorado.edu) diperoleh kenaikan paras laut yang terjadi pada daerah pesisir Indramayu sebesar 5,20 mm/tahun. Pengolahan data dilakukan dengan skenario kenaikan paras laut selama 30 tahun, yaitu 54,60 mm, 106,59 mm dan 158,58 mm.
Kecamatan yang terancam akan terkena dampak kenaikan paras laut 10 hingga 30 tahun mendatang adalah Cantigi, Indramayu, dan Pasekan.
Kecamatan Cantigi memiliki luas daratan yang diperkirakan akan mengalami ancaman kenaikan paras laut yang paling kecil. Pada 10 tahun mendatang (2022) diperkirakan daerah seluas 3,41 ha akan tergenang dan pada 30 tahun berikutnya (2042) menjadi 10,01 Ha. Kecamatan yang mengalami dampak kenaikan paras laut yang paling besar adalah Pasekan. Daerah seluas 797,83 ha akan tergenang setelah 10 tahun mendatang, sedangkan pada 30 tahun mendatang diperkirakan akan tergenang daerah seluas 804,60 ha (Tabel 8).
Luas daerah yang tergenang apabila dibandingkan dengan luas daerah Indramayu sebesar 204.011 Ha (BPS Kabupaten Indramayu, 2010) adalah sekitar 0.4%. Hasil tersebut memang sangat kecil, tetapi apabila tidak ditanggulangi akan memiliki dampak terhadap wilayah Indramayu pada khususnya dan Pantura pada umumnya. Hal tersebut perlu diperhatikan mengingat pesisir Pantura memiliki topografi yang landai serta perairan yang relatif dangkal (Rositasari et al., 2010).
Tabel 8. Luas daratan yang diperkirakan terkena dampak dari kenaikan paras laut
No. Kecamatan 10 Tahun (Ha) 20 Tahun (Ha) 30 Tahun (Ha)
1. Balongan 2. Cantigi 3,41 3,50 3,59 3. Indramayu 9,78 9,90 10,01 4. Juntiyuat 5. Kandanghaur 6. Karangampel 7. Krangkeng 8. Losarang 9. Pasekan 797,83 801,22 804,60 10. Patrol 11. Sukra TOTAL 811,02 814,62 818,20
Hasil simulasi genangan kearah darat menunjukan bahwa air laut masuk sejauh ±1.570 meter dari garis pantai Indramayu (Gambar 7). Jarak tersebut berikutnya akan digunakan sebagai buffer untuk daerah pengamatan dengan asumsi jarak maksimal pengaruh dari kenaikan paras laut sejauh ±1.600 meter dari garis pantai.
4.2. Geomorfologi
Pada Gambar 8 dapat dilihat hasil identifikasi citra QuickBird berdasarkan Gornitz (1991). Pesisir Indramayu dikelompokan menjadi 9 jenis penutupan lahan, yaitu bangunan, delta, empang, hutan rawa, pasir pantai pemukiman, sawah tadah hujan, tambak dan tegalan/ladang. Sawah tadah hujan merupakan tutupan lahan yang paling luas pada pesisir Indramayu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan Kabupaten Indramayu didominasi oleh daratan alluvial (Lampiran 7).
Pengolahan parameter geomorfologi berdasarkan citra QuickBird
menunjukan bahwa sebagian pesisir geomorfologi Indramayu didominasi daratan alluvial, delta dan bangunan pantai (bangunan dan pemukiman). Berdasarkan kelas kerentanan pada Tabel 7, maka daratan alluvial dengan luas ±533,68 km2
dari luas total kecamatan pesisir ±674,15 km2 memiliki tingkat resiko rentan; delta dengan luas ±78,97 km2 memiliki tingkat resiko sangat rentan dan bangunan pantai dengan luas ±57,39 km2 memiliki tingkat resiko sangat rentan (Gambar 9).
Kecamatan Cantigi, Losarang dan Sukra merupakan kecamatan yang memiliki tingkat resiko kerentanan sedang hingga sangat rentan. Kecamatan Cantigi memiliki luas ±52,89 km2 dengan tingkat resiko sedang 0,36%, rentan 5,12% dan sangat rentan 3,34%. Kecamatan Losarang memiliki luas ±73,34 km2
dengan tingkat resiko sedang 0,31%, rentan 18,32% dan sangat rentan 0,05%, sedangkan kecamatan Sukra memiliki luas ±51,89 km2 dengan tingkat resiko sedang 0,42%, rentan 5,84% dan sangat rentan 1,12%. Kecamatan Pasekan memiliki daerah dengan tingkat kerentanan paling besar dengan luas 33,19km2.
Parameter geomorfologi sangat erat kaitannya antara tipe geomorfologi dan daya tahan terhadap erosi. Gornitz (1997) menyebutkan bahwa batuan memiliki daya tahan terhadap erosi yang lebih besar daripada tipe yang lain. Daya tahan terhadap erosi dipengaruhi oleh komposisi mineral dan ukuran butiran.
29 Gambar 8. Formasi geomorfologi Kabupaten Indramayu
30 Gambar 9. Kelas resiko berdasarkan parameter geomorfologi
4.3. Elevasi
Kabupaten Indramayu sebagian besar berada pada ketinggian antara 0-100 m di atas permukaan air laut dan sebagian besar wilayah (98,70%) berada pada ketinggian 0-3 m di atas permukaan air laut (Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat, 2007). Bagian utara Indramayu memiliki ketinggian yang rendah dan semakin tinggi ke arah selatan (Gambar 10).
Pengolahan data DEM menunjukkan bahwa sebagian besar daerah pesisir Indramayu dengan luas ±104,22 km2 memiliki tingkat resiko sangat rentan; ±41,10 km2 memiliki tingkat resiko rentan; ±6,21 km2 memiliki tingkat resiko sedang; ±0,22 km2 memiliki tingkat resiko tidak rentan dan ±0,02 km2 memiliki tingkat resiko sangat tidak rentan (Gambar 11). Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan wilayah pesisir Banten Utara (Cilegon, Serang dan Tangerang) yang sebagian besar terdiri dari dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 5 meter (Sujardwadi, 2010).
Berdasarkan parameter elevasi wilayah pesisir Indramayu didominasi oleh kelas sangat rentan, yaitu Indramayu (±26,20 km2), Sukra (±13,57 km2) dan Losarang (±11,35 km2). Kecamatan Sukra, Kandanghaur dan Juntinyuat memiliki beberapa daerah dengan luasan ±7,95 km2, ±7,74 km2 dan ±6,64 km2
yang termasuk dalam kelas rentan. Seluruh kecamatan pada kabupaten Indramayu memiliki wilayah dengan tingkat kerentanan sedang, diantaranya kecamatan Kandanghaur (±2,25 km2), Balongan (±1,01 km2), dan Krangkeng (±0,69 km2). Terdapat 5 kecamatan pesisir dengan tingkat kerentanan tidak rentan, yaitu Kandanghaur (±0,10 km2), Losarang (±0,05 km2), Cantigi (±0,04 km2), Krangkeng (±0,03 km2) dan Sindang (±0,01 km2). Kecamatan Losarang dan Cantigi memiliki luas kurang dari 1 km2 dengan tingkat kerentanan sangat tidak rentan (Gambar 11).
32 Gambar 10. Elevasi Kabupaten Indramayu
33 Gambar 11. Kelas resiko berdasarkan parameter elevasi
34 Ketinggian rata-rata pesisir Indramayu yang kurang dari 5 meter tersebut tentunya sangat berbahaya terhadap genangan air laut yang diakibatkan oleh kenaikan paras laut ataupun pasang surut. Genangan yang terjadi dalam waktu tertentu dapat menggangu persedian air minum karena tercemar oleh air laut (Dwarakish, 2009).
4.4. Perubahan Garis Pantai
Hasil analisis perubahan garis pantai dengan menggunakan citra Landsat TM tahun perekaman 2000 dan 2011 memperlihatkan bahwa sebagian besar pesisir Indramayu mengalami kemunduran (erosi). Erosi pantai tersebut berkisar antara 0,23 – 99,76 meter dengan kecepatan erosi -0.02 - -9,41 m/tahun
(Gambar 12).
Hasil analisa perubahan garis pantai berdasarkan pengolahan citra landsat tahun 2000 dan 2011 memperlihatkan daerah pesisir Indramayu seluas ±47,52 km2 (±31,34 %) mengalami erosi dengan kecepatan lebih dari -2,0 m/tahun yang termasuk dalam kelas sangat rentan. Daerah pesisir dengan kecepatan erosi antara -1,1 sampai dengan -2,0 m/tahun termasuk kelas rentan dengan luas daerah sebesar ±74,03 km2 (±48,82 %), sedangkan daerah seluas ±28,33 km2
(±18,68 %) termasuk dalam kelas sedang karena mengalami penambahan dan pengurangan garis pantai dengan kecepatan antara -1,1 sampai dengan 1,0 m/tahun termasuk dalam kelas sedang.
Pada beberapa daerah masih dapat ditemukan penambahan garis pantai (akresi). Daerah dengan luas ±1,58 km2 mengalami akresi dengan kecepatan antara 1,0 sampai dengan 2,0 m/tahun termasuk kelas tidak rentan, sedangkan daerah seluas ±0,15 km2 termasuk kelas sangat tidak rentan karena mengalami akresi dengan kecepatan lebih dari 2,0 m/tahun (Gambar 13).
Gambar 12. Hasil analisa perubahan garis pantai Indramayu dengan menggunakan citra Landsat tahun perekaman 2000 dan 2011 Kec. Losarang Kec. Cantigi Kec. Krangkeng Kec. Pasekan Kec. Kandanghaur Kec. Sukra Kec. Patrol K iyuat Kec. Indramayu Kec. Karangampel Kec. Balongan ec. Junt 108°30'0"E 108°30'0"E 108°25'0"E 108°25'0"E 108°20'0"E 108°20'0"E 108°15'0"E 108°15'0"E 108°10'0"E 108°10'0"E 108°5'0"E 108°5'0"E 108°0'0"E 108°0'0"E 107°55'0"E 107°55'0"E 6° 10 '0 "S 6° 15 '0" S 6° 15 '0" S 6° 2 0 '0" S 6° 2 0 '0" S 6° 25 '0 "S 6° 25 '0 "S 6° 30 '0" S 6° 30 '0" S
¬
0 2.5 5 10 15 20Kilometer 6° 35 '0" STANGGAL PENCITRAAN (mm/dd/year) :
10/09/2000 05/17/2011 G INDRAMAYU BALONGAN 35
Gambar 13. Kelas resiko parameter perubahan garis pantai
37 Kecamatan yang terdapat pada pesisir Indramayu mengalami perubahan garis pantai yang berbeda-beda mulai dari kelas sangat rentan hingga sangat tidak rentan. Kecamatan Sukra (±11,57 km2), Indramayu (±7,13 km2), Juntinyuat (±5,70 km2) dan Cantigi (±4,94 km2) merupakan empat kecamatan dengan kelas kerentanan sangat rentan yang paling luas. Kecamatan Indramayu merupakan daerah dengan tingkat kerentanan rentan seluas ±17,58 km2 yang diikuti dengan kecamatan Kandanghaur (±11,16 km2), Sukra (±9,85 km2) dan Krangkeng (±7,68 km2). Kecamatan Kandanghaur (±6,45 km2), Indramayu (±5,03 km2), Juntinyuat (±4,41 km2) dan Balongan (±3,30 km2) memiliki daerah dengan kelas kerentanan sedang yang paling besar.
Kelas kerentanan tidak rentan terdapat pada enam kecamatan, yaitu Losarang (±0,93 km2), Indramayu (±0,16 km2), Balongan (±0,15 km2), Krangkeng (±0,14 km2), Kandanghaur (±0,13 km2) dan Cantigi (±0,07 km2). Hasil
pengolahan parameter perubahan garis pantai memperlihatkan empat kecamatan dengan luas kurang dari ±0,10 km2. Kecamatan tersebut adalah Losarang (±0,06 km2), Balongan (±0,05 km2), Krangkeng (±0,03 km2) dan Cantigi (±0,01 km2).
Perubahan garis pantai yang didominasi oleh kelas sangat rentan, rentan dan sedang tersebut disebabkan karena kurangnya tanaman mangrove sebagai penghambat gelombang pada daerah pesisir. Aktifitas manusia seperti
perikanan budidaya (tambak) yang dibangun pada daerah yang tidak semestinya serta penambangan pasir juga turut serta mempengaruhi bahkan mempercepat proses erosi. Dampak dari aktifitas manusia tersebut dapat menyebabkan erosi dengan kecepatan lebih dari 2 m/tahun. Setiap tahunnya garis pantai Indramayu mengalami erosi dengan kecepatan 1 sampai dengan 3 m/tahun (Hadikusumah, 2009).
38
Citra dengan resolusi menengah (20-30 m/pixel) menyediakan akurasi posisi yang cukup baik untuk penerapan aplikasi pemantauan dinamika perubahan garis pantai global. Penggunaan citra resolusi menengah
memberikan dua keuntungan utama, yaitu ketersediaan data berseri (Landsat telah beroperasi sejak tahun 1980) dan mengurangi biaya apabila dibandingkan dengan data resolusi tinggi (tracking). Namun, metode ini masih memiliki kelemahan seperti algoritma yang belum pasti (not definitive) dan harus direvisi untuk memperbaiki kesalahan sistematis yang diproyeksikan menuju ke laut (Ruiz et al., 2007).
4.5. Pasang Surut
Posisi pengambilan data pasang surut pada 107°59'15.00"E dan
6°16'47.30"S. Tunggang pasut yang diperoleh dari survei lapang adalah sebesar 0,75 m. Pasang tertinggi setinggi 1 meter terdapat pada tanggal 23 dan 25 November 2010, sedangkan surut terendah sebesar 0,25 meter terdapat terdapat pada tanggal 23 - 26 November 2010 dan 5 – 8 Desember 2010 (Gambar 14).
Tunggang pasut yang diperoleh berdasarkan hasil permodelan perangkat lunak MIKE21 pada koordinat pengambilan data pasut lapang sebesar 0,52 m. Pasang tertinggi berdasarkan hasil permodelan sebesar 0,35 m pada tanggal 3 Desember 2010, sedangkan surut terendah diperoleh sebesar -0,18 m pada tanggal yang sama (Gambar 14). Perbedaan besar tunggang pasut hasil pengukuran lapang dan permodelan pasang surut MIKE21 dapat disebabkan karena ketelitian alat pengukuran pasut dan konstanta pasut pada perangkat lunak MIKE21.
Berdasarkan hasil permodelan pasang surut dengan menggunakan perangkat lunak MIKE21 diperoleh pasang tertinggi selama setahun (2010)
39
Hadikusumah (2009) menyatakan tunggang pasut di Eretan paling besar terdapat pada bulan Febuari 2006 berkisar antara 0,2 – 1,4 m dibandingkan dengan bulan Mei (0,2 – 0,9 m) dan bulan Agustus (0,1 – 0,8 m). Kondisi pasang di pantai Indramayu lebih lama apabila dibandingkan dengan kondisi surutnya dengan tipe pasang surut diurnal campuran. Perbedaan waktu dari pasang dan surut tersebut tentunya berhubungan dengan lamanya air laut masuh ke daratan. Hal ini tentunya sangat berbahaya terhadap bahaya genangan yang dapat ditimbulkan seperti masuknya air laut ke daerah estuari atau lapisan air tanah (Gornitz, 1991).
sebesar 0,36 m, sedangkan surut terendah berada pada posisi 0,26 m, sehingga tunggang pasut yang diperoleh sebesar 0,62 m. Nilai tunggang pasut sebesar 0,62 m termasuk ke dalam kelas resiko sangat tidak rentan karena berada di bawah 1 m (Gambar 15). 11/24/10 11/27/10 11/30/10 12/3/10 12/6/10 12/9/10 Tanggal -0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Ti ng gi ( m ) .2 0 Pasut Lapang 11/24/10 11/27/10 11/30/10 12/3/10 12/6/10 12/9/10 Tanggal -0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Ti ng gi ( m ) .2 0 Pasut Mike
Gambar 15. Kelas resiko parameter pasang surut
41
4.6. Tinggi Gelombang
Hasil analisa rata-rata tinggi gelombang signifikan berdasarkan data AVISO untuk daerah pesisir Indramayu berkisar antara 1,47-1,55 m (Gambar 16). Tinggi gelombang rata-rata tersebut termasuk ke dalam kelas kerentanan sangat tidak rentan (Gornitz, 1991). Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil pengukuran yang dilakukan pada bulan Febuari 2006 di Eretan dengan tinggi gelombang berkisar antara 0,19-1,23 m (Hadikusumah, 2009).
Pengukuran tinggi gelombang signifikan tersebut seharusnya memiliki hasil yang tidak jauh berbeda sepanjang pantai Utara Jawa. Namun hasil yang
berbeda diperoleh pada pantai Banten yang berada di utara pulau Jawa yang menyebutkan bahwa, tinggi gelombang signifikan di sepanjang pantai Banten berkisar antara 0,381 sampai 0,499 m dengan rata-rata sekitar 0,440 m (Sujarwadi, 2010). Perbedaan hasil dari penelitian tersebut kemungkinan disebabkan perbedaan kecepatan angin, fetch, kedalaman air dan kemiringan dasar (Triadmojo, 1999).
4.7. Kenaikan Paras Laut
Pada Gambar 17, memperlihatkan peta sebaran kenaikan paras laut relatif di perairan Indonesia. Peta tersebut dibuat berdasarkan data kombinasi satelit Topex/Poseidon (T/P), Jason-1, Jason-2 dan Envisat mulai dari Oktober 1992 hingga September 2011 yang diunduh melalui situs AVISO
(http://www.aviso.oceanobs.com). Data tersebut telah mengalami koreksi tekanan atmosfer, pola musiman, pengaruh pada permukaan laut (angin, gelombang dan pasang surut). Kenaikan paras laut relatif yang terjadi pada perairan Indonesia bekisar antara 2,308 – 11,175 mm/thn.
42 Gambar 16. Kelas resiko gelombang
43
Hasil yang tidak jauh berbeda diperoleh dari University of Colorado (http://sealevel.colorado.edu) yang menunjukan bahwa kenaikan paras laut sebesar 5,0607 mm/thn (Gambar 19). Kenaikan paras laut yang lebih dari 5mm/thn menyebabkan seluruh pesisir kabupaten Indramayu termasuk ke dalam kelas kerentanan sangat rentan (Gambar 20).
Data kenaikan paras laut yang diperoleh dari kombinasi satelit
Topex/Poseidon, Jason-1, Jason-2 dan Envisat mulai dari Oktober 1992 hingga September 2011 dari AVISO memperlihatkan adanya perubahan tinggi paras laut sebesar 4,695 – 5,199 mm/thn pada daerah pesisir Indramayu. Kenaikan paras laut sebesar 4,695 – 5,199 mm/thn pada pesisir Indramayu berdasarkan Gornitz (1991), menjadikan daerah tersebut menjadi kelas kerentanan sangat rentan (Gambar 18).
Gambar 17. Peta tren kenaikan paras laut relatif (mm/thn) di perairan Indonesia dari Oktober 1992 – September 2011.
Kenaikan paras laut tersebut memiliki hasil yang lebih besar dari hasil penelitian Gornitz (1991) yang menyatakan bahwa, kenaikan paras laut global akibat mencairnya es di kutub utara sebesar 0,5 – 3,0 mm/thn. Penelitian mengenai kenaikan paras laut yang dilakukan oleh Sujarwadi (2010) di pesisir Utara Banten menyatakan kenaikan paras laut sekitar 4,06 mm/thn.
44
Gambar 18. Peta tren kenaikan paras laut relatif (mm/thn) di perairan Indramayu dari Oktober 1992 – September 2011.
(Sumber data : http://www.aviso.oceanobs.com)
Gambar 19. Tren kenaikan paras laut (1993 – 2011) (Sumber : http://sealevel.colorado.edu) Kenaikan Paras Laut = 5.0607 (mm/ ‐300 ‐200 ‐100 0 100 200 300 400 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 Sea Level Anomaly (mm/thn) Tahun thn) 2012 Linear (Data Kombinasi T/P, Jason‐1, Jason‐2, Envisat) Data Kombinasi T/P, Jason‐1, Jason‐2, Envisat
45 Gambar 20. Kelas resiko parameter kenaikan paras laut