DAFTAR PUSTAKA
B. Faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Keragaan Usahatani Konservasi
II. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat
2. Perlakuan Waktu Simpan
Secara umum bahan cabutan tidak dapat disimpan dalam jangka waktu terlalu lama, sehingga usaha perbaikan metode penyimpanan untuk mengurangi penurunan daya tumbuhnya menjadi sesuatu yang penting.
Melalui perlakuan lama waktu simpan diharapkan akan tercapai suatu keadaan cabutan pada berbagai tingkat ketersediaan cadangan karbohidrat.
Hasil uji lanjut untuk mengetahui rata-rata persen hidup terbaik pada perlakuan ini ditampilkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Uji lanjut perlakuan waktu simpan
No Perlakuan Rata-Rata Persen Hidup (%) Taraf 5% Grouping
1. 2 hari 93,33 A 1
Keterangan : Nilai-nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 95%
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa waktu simpan untuk cabutan meranti putih terbaik adalah selama 2 hari (93,3 %) dan terus mengalami penurunan hingga waktu simpan selama 21 hari (1,67 %). Hasil uji lanjut tersebut juga menyatakan bahwa waktu simpan hingga 13 hari menghasilkan nilai yang tidak berbeda nyata dengan waktu simpan sebelumnya.
Secara fisiologis pertumbuhan dapat diartikan sebagai pertumbahan ukuran dan berat kering. Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan cabutan dapat dikategorikan sebagai faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam terdiri dari umur cabutan, cadangan makanan, dan kandungan air dalam cabutan. Sedangkan faktor luar terdiri dari cahaya, suhu dan kelembaban.
Perlakuan penyimpanan akan berpengaruh nyata terhadap kondisi fisiologi dan biokimia suatu tumbuhan, sehingga akan didapat titik kritis pada waktu tertentu untuk dapat mempertahankan daya hidup (Rohandi
90| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
dan Widyani, 2010). Cabutan yang disimpan akan mengalami stres air karena transpirasi tetap berlangsung dengan menggunakan air yang ada dalam sel, sehingga akan mengalami defisit air. Selama penyimpanan cabutan aktif melakukan metabolisme, energi yang digunakan untuk kegiatan tersebut berasal dari cadangan yang terdapat dalam akar. Semakin lama tanaman disimpan, maka energi dan cadangan makanan yang digunakan akan semakin banyak, sehingga saat penyapihan terdapat cabutan yang telah kehilangan daya tumbuh akibat kekurangan energi atau cadangan makanan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1. Perlakuan penyungkupan berpengaruh nyata dalam teknik pembibitan jenis meranti putih.
2. Perlakuan pemotongan daun memberikan pengaruh secara nyata pada kondisi lingkungan tanpa penyungkupan, sedangkan pada kondisi dengan penyungkupan perlakuan pemotongan tidak memberikan pengaruh yang nyata.
3. Penyimpanan cabutan meranti putih lebih dari 13 hari tidak dianjurkan karena semakin menurunkan persen hidupnya (dibawah 70 %).
B. Saran
Perlu dilakukan teknik penyimpanan cabutan meranti putih (S.
assamica) menggunakan beberapa media penahan kelembaban (kapas, serbuk gergaji, sabut kelapa, kertas koran, atau pelepah pisang) untuk meningkatkaan lama waktu simpan cabutan.
DAFTAR PUSTAKA
Adman, B. 2011. Pengaruh bahan kemasan dan waktu penyimpanan bahan stek terhadap persentase berakar stek Shorea johorensis dan S. smithiana. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman8(20):97-109.
Atmoko, T. 2011. Potensi regenerasi dan penyebaran Shorea balangeran (korth.) Burck di Sumber Benih Saka Kajang, Kalimantan Tengah. JURNAL PENELITIAN DIPTEROKARPA5(2):21-36.
Badan Meteorologi dan Geofisika Kota Manado. 2011. Laporan Tahunan Curah Hujan.
Daniel, T., John, W., dan Helms, A., 1978. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Marsono, D.
(penerjemah). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Halawane, J. E. (2010). Pengaruh sungkup sederhana terhadap keberhasilan cabutan anakan eboni (Diospyros pilosanthera dan Diospyros sp.) di persemaian.
Sintesis Hasil Penelitian Hutan Tanaman2010, 375 - 378.
Teknik Pembibitan Meranti Putih…….
Arif Irawan dan Ady Suryawan Hendromono & R. Effendi. 2002. Pembangunan Persemaian Dipterocarpaceae.
Manual Persemaian Dipterocarpaceae. Badan Litbang Kehutanan. Jakarta.
Irwanto .2006. Pengaruh Perbedaan Naungan terhadap Pertumbuhan Semai Shorea sp.di Persemaian.[Tesis].Institut Pertanian Bogor.
Kemenhut dan JICA.2014. Panduan Teknis Restorasi di Kawasan Konservasi. Jakarta Martawijaya, A., I. Kartasujana, K. Kadir dan S.A.Prawira. 2005. Atlas Kayu Indonesia
Jilid I. Departemen Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.
Nurhasybi, Hero Dien PK, M. Zanzibar, Dede J. Sudradjat, Agus A. Prmono, Buharman, Sudrajat, dan Suhariyanto. 2010. Atlas Benih Tanaman Hutan Indonesia. Bogor: Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor.
Omon, R. M. 2006. Pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza terhadap pertumbuhan stek meranti merah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 3(2):129 -138.
Pitopang, R. Khaerruddin, I. Tjoa, A. Burhanuddin, I,F. 2008. Pengenalan Jenis-Jenis Pohon yang Umum di Sulawesi. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah &
Herbarium Celebence Universitas Taduluko
Rayan. 2008. Pengaruh sungkup setengah lingkaran dan sungkup kotak terhadap persentase hidup cabutan anakan alam jenis Dipterocarpaceae di persemaian.
JurnaL DIPTEROKARPA VOL 2(1).
Rohand, A dan Widyan, N. 2010. Dampak penurunan kadar air terhadap respon fisiologis dan biokimia propagul Rhizophora apiculata Bl. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 7(4):167-179.
Smits.W.T.M. 1990. Pedoman Sistem Cabutan Bibit Dipterocarpaceae. Asosiasi Panrl Kayu Indonesia. Jakarta.
Yasman, I dan W.T.M. Smits, 1988. Metode Pembuatan Stek Dipterocarpaceae.
Balai Penelitian Kehutanan. Samarinda.
92| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
Lampiran 1. Rata-rata kelembaban, suhu dan intensitas cahaya di dalam dan luar sungkup.
Di dalam sungkup Di luar sungkup
Kelembaban
Sumber Keragaman db Jumlah
Kuadrat F hitung
Keterangan : * = berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 5%
tn = tidak berpengaruh nyata
Peran Persemaian Permanen Kima Atas…….
Ady Suryawan dan Arif Irawan
Peran Persemaian Permanen Kima Atas
dalam Rehabilitasi Lahan melalui Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat1
Ady Suryawan dan Arif Irawan2
ABSTRAK
Sulawesi Utara memiliki lahan kering kritis mencapai 776.913 ha (53 %).
Rehabilitasi secara vegetatif perlu dilakukan karena dinilai memiliki keuntungan secara ekonomi dan ekologis. Kebijakan revitalisasi sektor kehutanan telah menempatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan.
Adanya Persemaian Permanen Kima Atas memiliki tujuan meningkatkan minat masyarakat untuk menanam. Tujuan tulisan ini untuk memaparkan data-data kuantitatif dan deskripsi tentang peran persemaian permanen terhadap kegiatan rehabilitasi di Sulawesi Utara. Data diperoleh dengan merekapitulasi produksi dan distribusi bibit. Hasil kajian menyimpulkan beberapa poin antara lain : 1) Produksi dan distribusi bibit mencapai 2.500.015 didominasi dengan jenis tanaman lokal unggulan, 2) Diperkirakan sedikitnya 2.008,04 ha lahan milik pribadi dan areal perlindungan setempat telah dilakukan penanaman, 3) Keberadaan persemain permanen menjadi sumber referensi di Sulawesi Utara tentang pembibitan tanaman hutan, lokasi pendidikan lingkungan dan study banding, 4) Masyarakat lokal telah berinisiatif mengembangkan penanaman campuran. Hal ini dapat menurunkan laju erosi tanah dan meningkatkan infiltrasi.
Kata Kunci : rehabilitasi, hutan rakyat, persemaian permanen.
I. PENDAHULUAN
Hasil rekapitulasi lahan agak kritis hingga sangat kritis di Sulawesi Utara mencapai 776.913 ha (53 %) (Wahyuni, 2012). Kondisi berkurangnya tutupan lahan baik di hutan negara maupun lahan milik masyarakat telah menyebabkan bencana banjir, longsor dan kekeringan. Selain itu kontribusi
1 Makalah ini disampaikan dalam Seminar Rehabilitasi dan Restorasi Kawasan Hutan Menyongsong 50 Tahun Sulawesi Utara, diselenggarakan oleh Balai Penelitian Kehutanan Manado, Manado 9 Oktober 2014
2Balai Penelitian Kehutanan Manado; Jl. Tugu Adipura Raya Kel. Kima Atas Kec. Mapanget Kota Manado; Telp : (0431) 3666683 e-mail : [email protected]
94| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
Sektor Kehutanan dalam pembangunan nasional mengalami penurunan akibat pasokan bahan baku industri yang berkurang. Arah kebijakan dalam pengelolaan hutan dan kehutanan saat ini adalah rehabilitasi lahan terdegradasi dan konservasi sumberdaya hayati dengan mengikutsertakan masyarakat secara aktif dalam setiap kegiatan. Rehabilitasi secara vegetatif memiliki keuntungan antara lain dapat melindungi struktur tanah dan kinetik hujan, melindungi terhadap aliran permukaan, dan memperbesar kapasitas infiltrasi (Njurumana et al., 2008).
Visi revitalisasi sektor kehutanan berprinsip pada 3 (tiga) prinsip utama yaitu pro poor untuk mengentaskan kemiskinan, pro job untuk menciptakan lapangan pekerjaan, dan pro growth untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sejak tahun 2007 Kementerian Kehutanan mencanangkan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) mana implementasinya diatur dalam Kepmenhut No.
P.55/Menhut-II/2011. Program ini berjalan mulus pada beberapa daerah, namun sebagian lain mengalami kendala baik teknis maupun secara administrasi. Hutan rakyat memegang peranan penting dalam kegiatan rehabilitasi dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan kayu rakyat (Widiarti dan Prajadinata, 2008)
Upaya BPDAS PS dalam meningkatkan minat masyarakat untuk menanam yaitu dengan memberikan kemudahan akses untuk mendapatkan bibit yang berkualitas melalui pembangunan 50 persemaian permanen yang tersebar di Indonesia (BPDAS, 2013). Salah satunya yaitu Persemaian Permanen Kima Atas yang dibangun pada tahun 2011. Persemaian ini merupakan hasil kerjasama antara Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tondano dan Balai Penelitian Kehutanan Manado.
Tujuan tulisan ini untuk memaparkan data-data kuantitatif dan deskripsi tentang peran persemaian permanen terhadap kegiatan rehabilitasi di Sulawesi Utara. Diharapkan dapat menjadi acuan dalam mereboisasi dan rehabilitasi lahan khususnya di Sulawesi Utara.
II. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian di Persemaian Permanen Kima Atas dan Kabupaten Minahasa Utara. Waktu Penelitian Januari 2012 sampai dengan Agustus 2014.
B. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah Berita Acara Serah Terima (BAST) distribusi bibit, produksi bibit dan tanaman dilapangan di Kabupaten
Peran Persemaian Permanen Kima Atas…….
Ady Suryawan dan Arif Irawan Minahasa Utara. Sedangkan alat yang digunakan antara lain Tally Sheet dan Kamera.
C. Prosedur Kerja
Penelitian diawali dengan melakukan rekapitulasi jumlah bibit yang diproduksi dan didistribusi berdasarkan berita acara serah terima (BAST) bibit. Berdasarkan BAST, dilakukan peninjauan lapangan terhadap bibit yang telah didistribusikan ke masyarakat untuk mengetahui kondisi tanaman dilapangan. Peninjauan atau monitoring dilakukan terhadap 30 masyarakat yang telah mengambil bibit dalam 2 tahun terakhir di Kabupaten Minahasa Utara. Kajian dilakukan secara deskriptif berdasar data yang diperoleh.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN