BAB IV : PERLINDUNGAN TERHADAP LELAKI DEWASA SEBAGAI
B. Perlindungan Hukum Yang Diberikan Bagi Lelaki Dewasa
Perkosaan terhadap lelaki dewasa memang masih sangat jarang diperbincangkan khususnya di Indonesia. Oleh sebab itu, pengaturan tentang perkosaan terhadap lelaki dewasa di Indonesia sendiri masih belum ada diatur.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia sendiri sudah
98 Ibid.,
99 Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2007), halaman 70.
dianggap terlalu tua dalam penyesuian dengan kondisi masyarakat sekarang karena hanya mengatur perkosaan pada perempuan saja karena pada faktanya, kaum homoseksual sudah sangat meraja rela dalam tindakan perkosaan sehingga tidak heran lagi dengan adanya kasus perkosaan yang korbannya adalah seorang lelaki baik dewasa maupun anak-anak
Lantas, timbul pertanyaan bagaimana jika perkosaan dilakukan oleh lelaki dewasa terhadap lelaki dewasa seperti kasus Reynhard Sinaga (seorang WNI) yang melakukan tindakan perkosaan terhadap puluhan lelaki dewasa? Apakah dia akan lolos dari jeratan delik perkosaan yang dirumuskan dalam KUHP Indonesia?. Jika Jaksa Penuntut Umum menuntutnya dengan rumusan Pasal 285 KUHP tentu saja ia akan bebas, sebab kasus Reynhard tidak memenuhi beberapa unsur dari KUHP yaitu:100
a Barangsiapa (terpenuhi): Sebab ia memenuhi syarat sebagai subjek hukum yang tunduk pada hukum positif Indonesia;
b Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan (terpenuhi): Reynhard disebut mencampurkan minuman alkohol dengan obat yang bernama GHB, disebut juga ekstasi cair, dan memberikannya kepada korban sehingga tidak berdaya.
Yang disamakan melakukan kekerasan itu, membuat orang menjadi pingsan atau tidak berdaya lagi (Pasal 89 KUHP);
c Memaksa (tidak terpenuhi): korban diajak untuk mengunjungi apartementnya (rekaman CCTV) tanpa ada unsur paksaan.
d Perempuan yang bukan isterinya (tidak terpenuhi): korban adalah lelaki dewasa;
e Bersetubuh dengan dia (tidak terpenuhi): bukan tindakan penetrasi antara penis dengan vagina.
100 https://m.cnnindonesia.com/international/20200207110441-134-463039/kronologi-aksi-predator-seks-reynhard-sinaga-terungkap diakses tanggal 12 Desember 2020
Hal tersebut akan berbeda jika Jaksa Penuntut Umum merumuskan Pasal 289 KUHP dalam penuntutan, maka ia akan dihukum sesuai pengaturan dalam Pasal 289 KUHP.
Tahun 2016, AW (22 tahun) melaporkan bahwa dirinya mengalami perkosaan yang dilakukan oleh SJ. Tetapi pelaku (SJ) hanya dituntut dengan pasal 289 KUHP yaitu 9 tahun penjara. Namun kasus ini tidak dapat berlanjut, sebab dari keterangan korban, kejadian ini dilakukan oleh pelaku (SJ) dua tahun yang lalu (ketika korban masih berumur 20 tahun). Oleh sebab itu, pasal yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah Pasal 292 KUHP yang mengatur tentang kejahatan homoseksual, yang mana unsurnya adalah pelaku merupakan orang dewasa, dan korbannya adalah anak dibawah umur.
Tahun 2010 di Surabaya, seorang pelaku diketahui telah memperkosa 38 orang lelaki yang diantanya adalah 13 anak lelaki sekolah dasar (SD), dan 25 lainnya adalah lelaki dewasa. Dari kasus tersebut, pelaku hanya dijerat Pasal 292 KUHP dan pasal 82 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara. Dari kedua pasal yang menjerat pelaku, maka dapat dilihat bahwa perbuatan pelaku terhadap perkosaan 25 lelaki dewasa telah lolos dari hukum.
Dari beberapa kasus diatas, menunjukkan bahwa perlindungan terhadap korban perkosaan tanpa memandang bulu sangatlah diperlukan, sebab kejahatan perkosaan merupakan kejahatan yang dapat terjadi pada siapapun. Di Indonesia sendiri, perlindungan yang ada pada lelaki dewasa sebagai korban tidaklah sama dengan apa yang di dapatkan oleh perempuan atau anak sebagai korban perkosaan. Berikut pembahasan perlindungan hukum terhadap lelaki dewasa sebagai korban perkosaan:
1 Pelindungan Hukum Berupa Penjatuhan Sanksi Bagi Pelaku Korban Pemerkosaan
Di dunia nyata, bukan tidak mungkin dapat kita jumpai perbuatan tidak menyenangkan, seperti kejahatan seksual yang dilakukan oleh seorang perempuan
terhadap lelaki dewasa. Namun karena dipandang laki-laki merupakan pihak yang lebih kuat dibandingkan perempuan, sehingga tidak mungkin seorang perempuan dapat memaksa laki-laki untuk berhubungan seksual dengannya.
Pengaturan terhadap perkosaan yang korbannya adalah lelaki dibawah umur telah dirumuskan dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Namun yang menjadi permasalahan adalah apabila korban perkosaan adalah seorang lelaki dewasa, maka tentu saja korban tidak akan mendapat perlindungan yang maksimal karena di Indonesia sendiri belum mengatur tentang perkosaan terhadap lelaki dewasa..
Seperti yang diketahui, lelaki dewasa tentu memiliki fisik yang lebih kuat.
Umumnya perbuatan yang terjadi adalah bentuk kejahatan terhadap kesopanan berupa percabulan atau yang lebih sering disebut dengan Dry-humping atau ‘dry sex’ yaitu kegiatan seks yang dilakukan pelaku untuk mencapai kepuasan tanpa perlu melepas pakaian dan melakukan intercourse (persetubuhan).
Pada dasarnya dry-humping dilakukan pelaku dengan cara menggesek-gesekkan badannya kepada korban dengan berfokus pada area pinggul. Dry humping juga dikenal sebagai frottage yaitu sebuah istilah untuk mengekpresikan gerakan seks untuk saling menggesek untuk meraih kenikmatan seksual tanpa sekalipun melakukan penetrasi. Karena tidak ada penetrasi, dry humping sering disamakan sebagai percabulan. Kalaupun terjadi kasus perempuan memaksa lelaki dewasa untuk bersetubuh dengannya dengan kekerasan atau ancaman kekerasan atau karena lelaki tersebut lebih lemah secara mentalnya, maka lelaki dewasa tersebut hanya mendapat perlindungan hukum dibawah pengaturan Pasal 289 KUHP (percabulan).
Perlindungan terhadap lelaki dewasa sebagai korban perkosaan dalam Hukum Pidana di Indonesia hanya sekedar perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai delik percabulan yang diatur Pasal 289 KUHP yaitu:
“Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang
untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.”
Dalam penjelasan KUHP menurut R.Soesilo, yang dimaksud dengan segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi kelamin. Misalnya: cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada, dan sebagainya. Yang dilarang dalam pasal ini bukan saja memaksa orang untuk melakukan perbuatan cabul, tetapi juga memaksa orang untuk membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul.101
Hukum Indonesia yang masih terlalu tertinggal khususnya dalam hal hukum pidana yang hanya mengatur kekerasan seksual dalam kategori percabulan (objek tidak dibatasi) dan perkosaan (objek adalah perempuan dan anak), namun sama sekali tidak mengatur mengenai perkosaan terhadap lelaki dewasa.
2 Pelindungan Hukum Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban Bagi Pelaku Korban Pemerkosaan Selama ini, sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa pengaturan delik perkosaan terhadap lelaki dewasa tidak pernah dirumuskan dalam delik perkosaan yang ada dalam KUHP. Perlindungan terhadap lelaki dewasa sebagai korban perkosaan hanya sebatas pada lelaki dewasa yang menjadi korban kekerasan seksual dalam lingkup rumah tangga menurut Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Adapun perlindungan yang ada dalam KUHP hanya sebatas perlindungan kepada lelaki dewasa sebagai korban percabulan (Pasal 289 KUHP).
Hakim Pengadilan Tinggi di Medan, Sumatera Utara Ronius, S.H., berpendapat bahwa mengingat tidak adanya pengaturan yang memandang bahwa lelaki dewasa
101 R.Soesilo, Op.Cit., halaman 212
dapat menjadi korban perkosaan, maka perlindungan terhadap lelaki dewasa sebagai korban perkosaan juga tidak ada. Apabila, lelaki dewasa tetap bersih keras untuk menuntut hak atas kejadian yang terjadi padanya sebagai korban perkosaan, maka tindak kejahatan tersebut dapat diproses berdasarkan yang telah diuraikan sebelumnya yaitu:
a Pelaku dijerat Pasal 289 KUHP tentang perbuatan percabulan;
b Korban yang juga berperan sebagai saksi pada pemeriksaan dapat memperoleh hak sebagai saksi sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Kedudukan korban tidak secara eksplisit diatur dalam KUHAP, kecuali terhadap korban perkosaan yang juga berkedudukan sebagai saksi, sehingga ketentuan dan jaminan perlindungan diberikan kepada korban yang juga menjadi saksi dalam setiap proses peradilan pidana.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) kedudukan saksi merupakan salah satu alat bukti yang sah sesuai ketentuan Pasal 184 KUHAP, dan sesuai ketentuan Pasal 1 KUHAP, saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang Ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.
Namun di sisi lain, KUHAP belum mengatur mengenai aspek perlindungan bagi saksi. Adapun pengaturan mengenai perlindungan saksi ditemukan dalam UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (UUPSK), sesuai ketentuan Pasal 4 UUPSK, perlindungan saksi dan korban bertujuan memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban dalam memberikan keterangan pada setiap proses peradilan pidana.
Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban mengatur perlindungan terhadap saksi dan/atau korban, baik itu terhadap korban yang juga menjadi saksi, korban yang tidak menjadi saksi dan juga anggota keluarganya. Sehingga, jaminan
perlindungan terhadap korban tindak pidana dan terutama terhadap korban pelanggaran HAM berat diatur sesuai ketentuan UUPSK serta peraturan pelaksana lainnya seperti PP No. 44 Tahun 2008 tentang Pemberian Kompensasi, Restitusi, dan Bantuan kepada saksi dan korban.
Adapun Perlindungan yang dimaksud UUPSK Pasal 5 berupa:
(1) Seorang Saksi dan Korban berhak:
a memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari Ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;
b ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan;
c memberikan keterangan tanpa tekanan;
d mendapat penerjemah;
e bebas dari pertanyaan yang menjerat;
f mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus;
g mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan;
h mengetahui dalam hal terpidana dibebaskan;
i mendapat identitas baru;
j mendapatkan tempat kediaman baru;
k memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan;
l mendapat nasihat hukum; dan/atau
m memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan berakhir.
(2) Hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Saksi dan/atau Korban tindak pidana dalam kasus-kasus tertentu sesuai dengan keputusan LPSK.
Hingga saat ini, lelaki dewasa belum dapat dikategorikan sebagai korban tindak
perkosaan sehingga kalaupun korban melaporkan apa yang terjadi padanya, besar kemungkinan upaya restitusi yang diberikan tidak sesuai yang dimaksud Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2008.
C. Perlindungan Hukum Yang Diberikan Bagi Lelaki Dewasa Korban Tindak Pidana Perkosaan Menurut Rancangan KUHP
Pengaturan tindak pidana perkosaan dalam Rancangan KUHP sendiri tidak jauh berbeda dengan KUHP yang hanya mencantumkan perempuan dan anak sebagai korban tindak pidana perkosaan. Bahwan rancangan KUHP mencantumkan secara jelas bahwa pelaku adalah lelaki dengan frasa “laki-laki”.
Akibat perumusan pasal yang mendeskriminasi tersebut, apabila lelaki dewasa mengalami kejahatan perkosaan pada dirinya saat rancangan KUHP berlaku, maka lelaki dewasa sebagai korban tidak akan mendapatkan perlindungan sebagaimana yang dicantumkan dalam Pasal 491 rancangan KUHP. Selayaknya perlindungan dalam KUHP sekarang ini, apabila seorang lelaki dewasa mengalami tindakan perkosaan, ia hanya dilindungi dengan Pasal 492 tentang Percabulan yang berbunyi:
”Setiap orang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul, dipidana karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.”
Penjelasan Pasal 492 RKUHP menjelaskan bahwa, yang dimaksud dengan perbuatan cabul adalah segala perbuatan yang melanggar rasa kesusilaan, atau perbuatan lain yang keji dan semuanya dalam kaitannya dengan nafsu birahi. Tindak pidana menurut ketentuan ini tidak hanya memaksa seseorang melakukan perbuatan cabul, tetapi juga memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul.
Adapun perlindungan yang diberikan kepada korban lelaki dewasa apabila dirinya diperkosa dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya hanyalah berupa
perlindungan terhadap percabulan yang dirumuskan dalam Pasal 493 huruf (a) tentang Percabulan yang berbunyi:
“Dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun setiap orang yang:
a Melakukan perbuatan cabul dengan seseorang yang dike-tahui orang tersebut pingsan atau tidak berdaya;
b Melakukan perbuatan cabul dengan seseorang yang dike-tahui atau patut diduga belum berumur 18 (delapan belas) tahun; atau
c Membujuk seseorang yang diketahui atau patut diduga belum berumur 18 (delapan belas) tahun, untuk dilakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul atau untuk bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.”
Dilihat dari penegakan sanksi dalam Pasal 492 dan Pasal 493 RKUHP yaitu maksimal 9 (sembilan) tahun penjara, hal ini tentu sangat tidak sebanding jika dibandingkan dengan penegakan sanksi dalam Pasal 491 yaitu maksimal 12 (dua belas) tahun penjara. Perbedaan beratnya sanksi dalam perkosaan terhadap perempuan dan lelaki dewasa dikhawatirkan akan menjadi celah bagi para predator untuk lebih tertarik memangsa lelaki dewasa sebagai korban.
Namun harapan akan adanya perlindungan hukum terhadap lelaki dewasa sebagai korban perkosaan tidaklah putus sampai disana. Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, adanya pengaturan khusus mengenai delik perkosaan yang dirumuskan dalam Rancangan Undang-Undang Pengehapusan Kekerasan Seksual.
Apabila melihat sifat keberlakuan RKUHP dan RUU PKS, dan kedua peraturan telah disahkan nantinya, RKUHP merupakan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang mengatur secara umum berbagai tindak pidana. Sehingga, RKUHP merupakan suatu ketentuan hukum yang bersifat Lex Generalis. Lain halnya
dengan RUU PKS, dimana dalam ketentuan hukum tersebut berisi bentuk-bentuk penjaminan hukum terkait kekerasan seksual. RUU PKS sendiri membahas satu topik, yaitu kekerasan seksual.
Melihat dari segi RKUHP, kekerasan seksual dibahas dalam satu sub bab diantara sub bab-sub bab lainnya, yaitu terkait Kejahatan Kesusilaan. Karena RUU PKS merupakan suatu peraturan perundang-undangan tersendiri, maka dapat dikatakan RUU PKS merupakan ketentuan hukum Lex Specialis.
Asas pemberlakuan ketentuan hukum yang bersifat umum dan khusus dikenal dengan asas “lex specialis derogat legi generalis”. Menurut Bagir Manan dalam bukunya yang berjudul Hukum Positif Indonesia, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam asas lex specialis derogat legi generalis, yaitu:
1. Ketentuan-ketentuan yang didapati dalam aturan hukum umum tetap berlaku, kecuali yang diatur khusus dalam aturan hukum khusus tersebut;
2. Ketentuan-ketentuan lex specialis harus sederajat dengan ketentuan-ketentuan lex generalis (undang-undang dengan undang-undang);
3. Ketentuan-ketentuan lex specialis harus berada dalam lingkungan hukum (rezim) yang sama dengan lex generalis. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sama-sama termasuk lingkungan hukum keperdataan (Tobing, 2012).
RKUHP lebih mengatur secara umum mengenai tindak pidana, sedangkan RUU PKS lebih mengatur tentang tindak pidana kekerasan seksual. Baik RKUHP dan RUU PKS merupakan peraturan yang sama-sama berbentuk undang-undang, sehingga keduanya dapat dikatakan sederajat. Baik RKUHP dan RUU PKS sama-sama mengatur tentang ketentuan dalam Hukum Pidana.
Berdasarkan pemenuhan syarat-syarat sesuai dengan yang dipaparkan di atas, maka baik RKUHP dan RUU PKS saling memenuhi asas “lex specialis derogat legi generalis”. Pasal 63 ayat (2) dari KUHP mengatur jika suatu perbuatan masuk dalam
suatu aturan pidana yang umum, diatur pula dalam aturan pidana yang khusus, maka hanya yang khusus itulah yang diterapkan.
Berdasarkan asas “lex specialis derogat legi generalis”, ketentuan hukum yang bersifat khusus harus diberlakukan lebih utama daripada ketentuan hukum yang bersifat umum. Sehingga, Pemberlakuan ketentuan-ketentuan mengenai kekerasan seksual dalam RUU PKS lebih didahulukan daripada yang diatur dalam RKUHP.
Pengaturan yang jauh lebih spesifik terkait kekerasan seksual dalam RUU PKS pun dapat mengatur pemidanaan yang tidak tercantum dalam RKUHP. Selain itu, perbedaan definisi dalam RKUHP dan RUU PKS terkait tindak-tindak pidana kekerasan seksual yang sama-sama diatur dalam kedua peraturan pun akan membuat pengacuan terhadap definisi lebih berkaca pada RUU PKS, dimana dalam pendefinisiannya tidak memiliki keterbatasan dimensi dan lebih general ditujukan terhadap setiap orang, tanpa memandang jenis kelamin.
Lain halnya dalam RKUHP, dimana pengaturan terkait tindak pidana kekerasan seksual masih melihat jenis kelamin mana yang menjadi pelaku maupun korban.
Sehingga, pemberlakuan RUU PKS tidak hanya dapat menjaminkan hak-hak korban yang merupakan perempuan terhadap pelaku yang merupakan lelaki dewasa, seperti yang diatur pada RKUHP, namun kekerasan seksual yang dilakukan terhadap lelaki dewasa dengan pelaku perempuan atau kekerasan seksual yang dilakukan terhadap lelaki dewasa dengan pelaku lelaki dewasa maupun kekerasan seksual yang dilakukan terhadap perempuan dengan pelaku perempuan dan sebagainya.
Selain itu, pemberlakuan RUU PKS tidak hanya akan mengatur tentang tindak pidana kekerasan seksual saja, namun juga mengatur Hukum Acara dalam penanganan perkara kekerasan seksual, bahkan perlindungan saksi maupun korban. Hal ini dapat mengisi kekosongan ketentuan mengenai pemberlakuan Hukum Acara yang tidak bias gender dan tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana maupun Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman
Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan Dengan Hukum.
Selain itu, terkait dengan perlindungan saksi dan korban, RUU PKS dapat mengisi kekosongan ketentuan hukum yang tidak diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Adapun bentuk-bentuk perlindungan tambahan yang diakomodir dalam RUU PKS diantaranya tertuang dalam pasal-pasal berikut:
Pasal 22
(1) Hak Korban meliputi:
a. hak atas Penanganan;
b. hak atas perlindungan;
c. hak atas pemulihan
Pasal 23: Hak atas Penanganan berupa;
(1) Hak Korban atas Penanganan sebagaimana disebut dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a meliputi:
a. hak atas informasi terhadap seluruh proses dan hasil Penanganan, perlindungan, dan pemulihan;
b. hak mendapatkan dokumen hasil Penanganan;
c. hak atas Pendampingan dan bantuan hukum;
d. hak atas penguatan psikologis;
e. hak atas pelayanan kesehatan meliputi pemeriksaan, tindakan dan perawatan medis; dan
f. hak atas layanan dan fasilitas sesuai dengan kebutuhan khusus Korban.
(2) Penanganan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dilakukan dengan proses pemantauan secara berkala terhadap kondisi Korban.
Pasal 24: Hak atas Perlindungan berupa;
(1) Ruang lingkup Hak Korban atas Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b meliputi:
a. penyediaan informasi mengenai hak dan fasilitas Perlindungan;
b. penyediaan akses terhadap informasi penyelenggaraan Perlindungan;
c. Perlindungan dari ancaman atau kekerasan pelaku dan pihak lain serta berulangnya kekerasan;
d. Perlindungan atas kerahasiaan identitas;
e. Perlindungan dari sikap dan perilaku aparat penegak hukum yang merendahkan dan/atau menguatkan stigma terhadap Korban;
f. Perlindungan dari kehilangan pekerjaan, mutasi pekerjaan, pendidikan, atau akses politik; dan
g. Perlindungan Korban dan/atau pelapor dari tuntutan pidana atau gugatan perdata atas peristiwa Kekerasan Seksual yang ia laporkan.
(2) Dalam rangka penyelenggaraan Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, kepolisian dapat mengeluarkan perintah Perlindungan sementara.
Pasal 25
(1) Pelaksanaan hak atas Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 diselenggarakan oleh aparat penegak hukum dalam setiap proses
peradilan pidana.
(2) Dalam keadaan tertentu, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan Korban, Korban dapat meminta Perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.
Pasal 26: Hak atas Pemulihan
Hak Korban atas Pemulihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf c meliputi Pemulihan:
a. fisik;
b. psikologis;
c. ekonomi;
d. sosial dan budaya; dan e. Ganti Kerugian.
Pasal 28: Pemulihan sebelum dan selama proses peradilan meliputi;
a. penyediaan layanan kesehatan untuk Pemulihan fisik;
b. penguatan psikologis kepada Korban secara berkala;
c. pemberian informasi tentang Hak Korban dan proses peradilan;
d. pemberian informasi tentang layanan Pemulihan bagi Korban;
e. Pendampingan hukum;
f. pemberian bantuan transportasi, biaya hidup atau biaya lainnya yang diperlukan;
g. penyediaan tempat tinggal yang layak dan aman;
h. penyediaan bimbingan rohani dan spiritual untuk Korban dan keluarganya;
i. penyediaan fasilitas pendidikan bagi Korban atau anak Korban;
j. penyediaan dokumen kependudukan dan dokumen pendukung lainnya yang dibutuhkan oleh Korban;
k. pelaksanaan penguatan psikologis kepada Keluarga Korban dan/atau Komunitas terdekat Korban; dan
l. penguatan dukungan masyarakat untuk Pemulihan Korban.
Pasal 29: Pemulihan setelah proses peradilan meliputi;
a. pemantauan, pemeriksaan dan pelayanan kesehatan fisik dan psikologis Korban secara berkala dan berkelanjutan;
b. pemantauan dan pemberian dukungan lanjutan terhadap Keluarga Korban;
c. penguatan dukungan Komunitas untuk Pemulihan Korban;
d. Pendampingan penggunaan Ganti Kerugian;
e. penyediaan dokumen kependudukan dan dokumen pendukung lainnya yang dibutuhkan oleh Korban;
f. penyediaan layanan jaminan sosial berupa jaminan kesehatan, perumahan dan bantuan sosial lainnya;
g. penyediaan fasilitas pendidikan bagi Korban atau anak Korban, termasuk untuk Korban yang merupakan orang dengan disabilitas atau berkebutuhan khusus lainnya;
h. pemberdayaan ekonomi; dan
i. penyediaan kebutuhan lain berdasarkan hasil identifikasi Pendamping dan/atau PPT.
Meskipun RKUHP tidak dapat mengakomodir keseluruhan penjaminan hukum terkait kekerasan seksual, namun dengan adanya RUU PKS, apabila diberlakukan secara bersamaan, maka RUU PKS yang tetap menjadi patokan untuk mencapai keadilan.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan dan Saran
1 Pengaturan tindak pidana perkosaan dalam hukum positif diatur dalam 3 Pengaturan hal ini didasarkan pada siapa korban yang mengalami kejahatan perkosaan:
a Pasal 285 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana : Apabila korban adalah perempuan (dewasa) yang diperkosa oleh lelaki (dewasa) yang bukan suaminya yang sah
b Perppu 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak : Apabila korban adalah seorang anak (batasan dewasa ditentukan menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak) yang subjek atau pelakunya adalah lelaki ataupun perempuan
c Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Rumah Tangga : Perkosaan yang dilakukan oleh lelaki maupun perempuan kepada pasangannya atau anggota keluarganya yang lain dalam lingkup rumah
c Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Rumah Tangga : Perkosaan yang dilakukan oleh lelaki maupun perempuan kepada pasangannya atau anggota keluarganya yang lain dalam lingkup rumah