BAB III KEDUDUKAN RUPS DALAM PEMBELIAN KEMBALI
C. Perlindungan terhadap Perusahaan Publik dalam Aksi
Tujuan utama rilisnya Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan adalah untuk memberikan perlindungan kepada perusahaan-perusahaan yang telah go public untuk mengambil tindakan penyelamatan harga saham perusahaan yang cenderung menurun dikarenakan situasi perekonomian yang sedang krisis. Tindakan penyelamatan yang dimaksud adalah upaya Buyback saham dalam rangka menstimulus investor sebagai pemodal dan juga perusahaan untuk tetap menjaga nilai saham perusahaanya. Esensi mengapa saham yang telah beredar di pasar ditarik dengan cara dibeli kembali oleh perusahaan publik tersebut adalah untuk menjaga agar nilai saham tersebut tidak jatuh menurun, minimal menjaga agar harga saham tetap stabil.
Setiap lembar saham yang diperdagangkan di bursa itu mewakili perseroan yang harganya bisa naik turun sedangkan dalam kondisi riil penurunan harga saham tersebut bisa tidak sebanding dengan dengan nilai riil perusahaan dan jika tidak
dilakukan tindakan penyelamatan maka berpeluang perusahaan tersebut mengalami ketidakmampuan berproduksi yang mengakibatkan perusahaan tersebut bangkrut.140
Terhadap upaya stimulus ini, sebenarnya berlaku prinsip sederhana teori ekonomi yakni hukum penawaran dan permintaan. Apabila permintaan terhadap saham tersebut dalam waktu satu hari sangat tinggi, sementara saham yang beredar sedikit, maka secara otomatis harga saham tersebut cenderung meningkat. Begitulah maksud dari tindakan buybacksaham khususnya pada saat situas ekonomi krisis, saham-saham yang cenderung turun harganya di bursa saham, dapat diberikan aksi buybackini dengan tujuan memberikan proteksi atau perlindungan kepada perusahaan publik tersebut agar situasi permodalan perusahaan tetap stabil.
Peraturan yang dikeluarkan otoritas ini sangat membantu perusahaan untuk melakukan tindakan atau aksi perusahaan dengan memenuhi prinsip efisiensi, dikarenakan perusahaan tersebut tidak perlu bersusah-susah untuk terlebih dahulu menyelenggarakan RUPS sebagai organ utama suatu perseroan sebagaimana diatur dalam Pasal 38 UUPT bahwa apabila Perusahaan Publik hendak melakukan aksi Buyback saham, maka terlebih dahulu harus mendapat persetujuan RUPS.
Peraturan OJK ini berlaku di saat situasi perekonomian sedang krisis dimana kondisi pasar saham yang berfluktuasi secara signifikan yaitu indeks harga saham gabungan di Bursa Efek selama 3 (tiga) hari bursa berturut-turut secara kumulatif turun 15% (lima belas perseratus) atau lebih atau atau kondisi lain yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.
140http://www.accounting-corner.com/2014/03/keputusan-dan-dampak-treasury-stock.html (Akses tanggal 09 Desember 2016)
Sesuai dengan Pasal 1 angka 1 Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan. Maksud dari peraturan OJK ini pada intinya mengatakan bahwa kondisi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sejak 5 (lima) bulan terkahir (Februari-Juli 2015) mengalami tekanan serta kondisi perekonomian sedang mengalami perlambatan dan tekanan baik regional maupun nasional. Apabila kondisi pasar saham sedang berada dalam situasi krisis, maka setiap emiten memiliki kewajiban untuk mengambil tindakan sebagai langkah-langkah antisipasi atau pencegahan agar nilai harga saham perusahaan tidak menurun secara signifikan.141
Banyak alasan yang menyebabkan kondisi krisis di kuartal I Tahun 2015142 ini terjadi diantaranya yakni :menurunnya ekonomi Cina dan Singapura yang selama ini menjadi mitra dagang utama Indonesia. Kedua, turunnya harga minyak dunia, dan ketiga, menurunnya nilai ekspor akibat rendahnya harga komoditas seperti minyak sawit dan karet. 143 Selain ketiga faktor tersebut terdapat juga perlambatan disejumlah sektor, misalnya sektor pangan yang menurun akibat mundurnya periode tanam. Selain itu, produksi minyak mentah dan batu bara juga tercatat mengalami
141Pasar modal selalu sulit diperhitungkan.Pasar bisa membaik dalam hitungan menit dan bisa memburuk dalam waktu yang singkat.Harga-harga saham dapat mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan.Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut (Supply and demand).Supply and demand terjadi karena banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial politik dan faktor lainnya. (Dzakky Husein, Tinjauan Yuridis Pembelian Kembali (Buyback) Saham yang dikeluarkan oleh Emiten dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan- Studi Kasus PT. MNC Investama Tbk. Diponegoro Law Review, Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016, http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/)
143 https://m.tempo.co/read/news/2015/05/07/092664218/di-ambang-resesi-inilah-penyebab-ekonomi-ri-turun (Akses Tanggal 14 November 2016).
kontraksi atau turun. Selanjutnya, menurunnya suplai barang impor. Semua golongan barang konsumsi, bahan baku, bahan modal menurun. Kinerja konstruksi melambat terkait terlambatnya realisasi belanja infrastruktur.
Dari sisi pengeluaran ada beberapa faktor yang mempengaruhi perlambatan ekonomi tersebut, yaitu :
1. Semua komponen pengeluaran rumah tangga melambat kecuali makanan, minuman, tembakau;
2. Pengeluaran konsumsi pemerintah melambat;
3. Realisasi belanja modal pemerintah untuk infrastruktur leih rendah dibanding kuartal I-2014;
4. Impor barang modal turun terutama barang modal jenis alat angkutan dan mesin;
5. Ekspor barang terkontrasi karena turunnya harga komoditas dan melambatnya perekonomian negara mitra dagang Indonesia;
6. Melambatnya pertumbuhan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) dan turunnya rata-rata pengeluaran wisman.
Maksud dan tujuan dari buybacksaham ini pada saat situasi ekonomi normal antara lain adalah untuk meningkatkan likuiditas saham, memperoleh keuntungan dengan menjual kembali saham tersebut setelah harga mengalami kenaikan atau sebagai langkah untuk mengurangi modal disetor. Buyback juga merupakan salah satu cara untuk mendistribusikan cashflow yang dimiliki perusahaan kepada para pemegang sahamnya selain dalam bentuk deviden. Pada saat membeli kembali sahamnya, biasanya perusahaan akan membeli dengan harga di atas harga pasar.
Kelebihan atas harga pasar inilah yang menjadi keuntungan bagi para yang menjadi keuntungan bagi para pemegang saham yang dikenal dengan istilah capital gain.
Dalam kaitannya dengan perlindungan hukum terhadap perusahaan, jelas aksi korporasi Buyback saham merupakan langkah yang direstui oleh undang-undang untuk memberikan proteksi kepada perusahaan. Salah satunya dengan menyelamatkan nilai saham perusahaan agar tidak terlalu menurun secara drastis akibat dampak krisis ekonomi global.
Dasar hukum pelaksanaan aksi korporasi Buybacktersebut didasarkan pada Peraturan OJK Nomor 2 /POJK.04/2014 yang memberi kemudahan kepada perusahaan untuk melakukan aksi Buyback tanpa perlu disusahkan dengan urusan RUPS terlebih dahulu. Wujud proteksi atau perlindungan yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada perusahaan terkhusus perusahaan yang telah go public (emiten) tertuang dengan jelas di Pasal 5 Peraturan OJK Nomor:
2/POJK.04/2013 tentang Buyback Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan, dimana berdasarkan ketentuan Pasal tersebut telah ditentukan bahwa Buyback saham oleh Perusahaan dalam keadaan kondisi pasar sedang krisis, yakni paling banyak 20%
(dua puluh perseratus) dari modal disetor.
OJK sebagai otoritas independen berhak mengeluarkan kebijakan sebagai upaya preventif untuk mencegah jatuhnya harga saham dibursa, kebijakan tersebut semata-mata untuk memberikan perlindungan serta kepastian hukum bagi investor sekaligus juga bagi perseroan dari dampak krisis ekonomi global.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan atas permasalahan yang sudah dipaparkan, adapun yang menjadi kesimpulan dalam penelitian ini adalah :
1. Pengaturan mengenai buyback saham telah diatur di Bab mengenai Perlindungan Modal dan Kekayaan Perseroan, yakni Pasal 37 sampai Pasal 40 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Berdasarkan UUPT, perseroan dapat melakukan buyback saham yang telah dikeluarkan perseroan sebelumnya, dengan ketentuan bahwa buyback saham tidak menyebabkan kekayaan bersih perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal yang ditempatkan ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan perseroan, saham yang dibuyback perusahaaan tidak boleh melebihi 10 % dari jumlah modal ditempatkan dan harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Selain itu jangka waktu penguasaan saham yang dibuyback paling lama 3 (tiga) tahun dan tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan suara dalam RUPS serta tidak diperhitungkan dalam menentukan jumlah kuorum. Sedangkan ketentuan buyback berdasarkan Peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013 bersifat temporer, artinya hanya berlaku jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sampai 15% atau lebih selama tiga hari berturut-turut (kondisi krisis) dimana OJK memberi kesempatan bagi emiten atau perusahaan publik untuk membeli kembali sahamnya, maksimum 20% dari modal disetor.
Karena bersifat darurat, buyback diperkenankan tanpa melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Meski dibolehkan tanpa mekanisme RUPS, emiten yang ikut program buyback tetap diwajibkan sebelumnya untuk menyampaikan laporan keterbukaan informasi kepada OJK dan BEI, dilakukan paling lama tujuh hari bursa setelah terjadinya kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. Apabila harga saham di IHSG kembali normal (tidak berfluktuatif secara signifikan) maka ketentuan dari Peraturan OJK ini tidak dapat diterapkan, dan harus kembali kepada ketentuan UUPT, artinya apabila perseroan hendak melaksanakan aksi buyback, mekanisme RUPS wajib untuk diselenggarakan.
2. Kedudukan RUPS dalam aksi korporasi buyback saham berdasarkan ketentuan Pasal 4 Peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013 adalah ditiadakan, dalam rangka mengurangi dampak pasar saham di bursa yang berfluktuasi secara signifikan karena krisis. Tidak diperlukannya penyelenggaran RUPS dalam transaksi buyback berdasarkan peraturan ini, dikarenakan perusahaan perlu mengambil langkah yang efisien untuk membuat keputusan yang sifatnya mendesak dan urgent, oleh karena itu perusahaan harus tetap menjaga kepercayaan investor terhadap perusahaan dengan menerapkan secara komprehensif prinsip keterbukaan (disclosure principle) sebagaimana telah diatur di dalam Pasal 6 Peraturan OJK Nomor 2/POJK.03/2013 juncto.
Kemudian berdasarkan ketentuan Pasal 3 Peraturan OJK telah diatur bahwa transaksi buyback saham haruslah bersih dari tindak kejahatan di Pasar Modal cornering, misleading statement, dan insider trading. Kemudahan
yang diberikan OJK kepada perusahaan publik ini tidak serta merta dapat dieksekusi dengan mudah mengingat terdapat ketentuan permodalan yang wajib dipatuhi, keterbukaan informasi material dan juga mengingat buyback adalah aksi korporasi yang eksekusinya harus disertai dengan alasan yang cukup fundamental dan krusial dan pastinya pada saat diluar krisis, buyback saham membutuhkan persetujuan pemegang saham perusahaan melalui RUPS.
3. Otoritas Jasa Keuangan sebagai otoritas pasar modal telah mengeluarkan kebijakan yang memberikan perlindungan hukum terhadap investor dimana kebijakan tersebut tertuang di dalam Peraturan OJK Nomor 31 /POJK.04/2015 tentang Keterbukaan atas Informasi atau Fakta Material oleh Emiten atau Perusahaan Publik. Kunci utama perlindungan hukum kepada investor adalah prinsip keterbukaan (disclosure principle) oleh karenanya dengan diterbitkannya peraturan OJK ini maka penerapan prinsip keterbukaan dalam rangka perlindungan hukum terhadap investor dapat terakomodir dengan baik dan jelas, serta memberikan pedoman dan panduan kepada perusahaan publik yang telah listing di pasar modal dalam rangka memberikan ataupun memperoleh informasi materil perusahaan. Sedangkan perlindungan hukum terhadap perusahaan publik sangat terakomodir juga dengan diberlakukannya Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan perlindungan kepada perusahaan-perusahaan yang telah go public untuk mengambil tindakan penyelamatan harga saham perusahaan yang cenderung menurun dikarenakan situasi
perekonomian yang sedang krisis. Tindakan penyelamatan yang dimaksud adalah upaya buyback saham dalam rangka menstimulus investor sebagai pemodal dan juga perusahaan untuk tetap menjaga nilai saham perusahaanya. Esensi mengapa saham yang telah beredar di pasar ditarik dengan cara dibeli kembali oleh perusahaan publik tersebut adalah untuk menjaga agar nilai saham tersebut tidak jatuh menurun, minimal menjaga agar harga saham tetap stabil.
B. Saran
Berdasarkan pembahasan atas permasalahan yang sudah dipaparkan, maka saran yang dapat diberikan terkait dengan permasalahan tersebut di atas adalah :
1. Penerapan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 2/POJK.04/2013 ini sebaiknya bersifat optional dan bukan merupakan keharusan, artinya otoritas menyerahkan hak sepenuhnya kepada emiten atau perusahaan publik untuk mengambil kebijakan terkait kondisi perusahaannya. Otoritas bertindak sebagai fasilitator penyedia kebijakan yang dapat mengakomodir rencana emiten atau perusahaan publik untuk melakukan transaksi pembelian kembali saham dengan kemudahan berupa peniadaan mekanisme RUPS. Otoritas juga harus selalu memberikan perseroan kesempatan untuk melaksanakan buyback saham pada setiap saat, berdasarkan kondisi pasar namun transaksi buyback saham perseroan hanya akan dilakukan apabila hal tersebut memberikan keuntungan bagi perseroan dan para pemegang sahamnya seperti mencapai struktur permodalan yang efisien dan memungkinkan perseroan menurunkan keseluruhan biaya modal,
meningkatkan Earning per Share (EPS) dan Return on Equity (ROE).
Perseroan tidak seharusnya melaksanakan transaksi buyback saham perseroan bilamana berdampak negatif secara material pada likuiditas dan permodalan perseroan dan/atau pada status perseroan sebagai perusahaan terbuka.
2. Karena Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 2/POJK.04/2013 Tahun 2013 telah meniadakan mekanisme RUPS dalam aksi korporasi buyback, dimana hal peraturan tersebut cenderung mengalihkan hak dan kewajiban organ RUPS kepada organ perseroan lainnya yakni direksi dan komisaris sehingga kedua organ tersebut memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk mengambil keputusan yang sifatnya krusial bagi perusahaan. Oleh karena itu manajemen perusahaan harus terlebih dahulu melakukan analisis kinerja keuangan dengan cermat dengan memproyeksikan tujuan yang ingin dicapai perusahaan yakni tetap menjaga kewajaran dan kestabilan harga saham disituasi krisis ekonomi serta tetap memperoleh capital gain maupun dividendengan melihat laporan keuangan selama minimal 3 tahun untukperbandingan perhitungan keuntungan yang akan diperoleh apabila perusahaanmelakukan aksi korporasi yang dapat mempengaruhi jumlah saham yang beredar.
3. Otoritas Jasa Keuangan sebagai otoritas pasar modal harus terus mengawal dan mengawasi setiap transaksi buyback saham terutama ketika transaksi dilakukan dalam kondisi perekonomian mengalami krisis berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 2/POJK.04/2013 Tahun 2013.
Peniadaan RUPS dalam proses buybackberdasarkan ketentuan tersebut, menimbulkan potensi terjadinya tindak pidana pasar modal seperti insider trading, cornering, dan/atau misleading statement yang merugikan investor, oleh karena itu OJK harus meningkatkan perlindungan hukum kepada pemegang saham melalui pengawasan secara komprehensif terhadap pelaksanaan buyback yang dilakukan dalam kondisi pasar berfluktuasi secara signifikan. Apabila terdapat pelanggaran terhadap proses buyback dalam kondisi pasar berfluktuasi secara signifikan maka OJK harus menindak secara tegas agar tidak menimbulkan kerugian bagi para pemegang saham.
777
DAFTAR PUSTAKA BTiKU
Anwar, Jusuf, Seri i'asar Modal
2
:Penegcrkan Huhrm dan Pengai"'Lr\rlrl Pa.sar Modal lruiotrcsia, Bandung. P.T Alumni,2008.Budiharto, Agus, Kedudukart Hukurn Can Tanggttng Jat+'ab Pendiriutt l'erseroant Indonesicr..iiil.arta Sinar Grafika, 7002.
Dahlan dan Sanusi llintang, Pokok-Pokok Hukum Ekonomi dan Bis,ris, Bandung:
PT. CitraAriit,va Bakti, 2000
Fitri
Wahyuni, An,.:1i.sts Hukum terlndayt Buyback Saharn Sebagrti Betituk Pengambilolihan Perseroan '['erbukadan Go
Private Perusahaan,Pascasarjana FH USU, 2009.
Fuady, Munir, Doktrin-Doktrin.Modern dalant Corporate Law, Bandung . Pf. Citra Aditya Bakti, 2002 r
--, Pengantar Hukum lJisnis, Bandung Citra Aditya Bakti, 2002
--, Perseroon Terbatas
:
Paradigrna Bctnt, Bandung , PT. Citra Aditya Bakti, 2003.H. Salim, Nurbani,&Septiana, Erlies, Fenerapan Teori Httkum pada Penelitian Tesis dan Di.sertasl, Jakarta . PT. Rajagrafindo Persada, 2016.
Harahap, M. Yahya, Hukunt Perseroan Terbalas, Jakarta : Sinar Grahka, 2009.
Head. Johr W., Pengontar Umum Hukum l:konomi Edisi Bahasa hulorrcsia dan Ittggt is.
Fil-UI
Proyek Ellips, 2A02.I:
Henna, Harry G.
&
,qlexander, John R., Law Of Corporation (Hantlbook Series),1t.PaulMinn \Vest publisher Co, l9g3
lbrahim, Johnny, 1'eorr dan Metoctotogi Penelitian Normatif, Bandunq i'itra Aditya Bakti,2007
Komaeroll Siti, /iecr.cLsi Pasar T'erhadap peng3tmuman Buyback Salti:t: (fluyback) Pada Pc.rusohaan y,ang Terdaftar
di
BEItahut
2013-)t)it h.falang :Fakultas Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawif ava. 2015.
Lubis, M. Solly, T'eort Hukum,Medan. Madjoe Group, 2004.
Marzuki, Mahmud. Peter,
Huhtm
Bisni.;; Eksisrensi. permr:r:alahan danPengentbarrgannya, Jurnal Hukum Ekonomi, November, 199-5
Mulhadi, Hukum Perusahaan, Bogor : Ghalia Indonesia, 2010.
Nasaruddin, M.rrsan (et.
ql),
Aspek Huhtm pasar Modat Indone.Eia, Jakarta:Kencana, 2008.
Nasution, Bismar, Keterbukaan dalam pa.sar Modal, Jakarta. Fal;ultas Hukum Universitas Indonesi4program pascasarj ana, 200 1 .
Prasetya, Rudhi, Teori& Praktik Perseroan Terbatas, Jakarta : Sinar Grafika, 2011.
Purba, Marisi P., Aspek Ahtntasi undang-undang perseroan Terbatas
:
suatu Pembaha.san Kritis atcs (Jndang-(Jndang l,lomor 40 Taht.lr 2007 tentc*tg Perseroan Terbotas, yogyakarta : Graha Ilmu, 200g.Raharjo, Satjipto, Ilmu Hukurn, Bandung :
pr
citra Aditya Bakti, 2000Salman, otje dan Susanto, Teori Hukun, Bandung. Refika Aditama, 2oo4
Setiawan, Perdagangan dan Hukum '. Beberapa Pemikiran tentang Reforma.si Hukum Bisnis,Usahawan 3.
Sjahrir, r'injauan I'a.sur Modnl, Jakarta: pr. Gramedia pustaka Utama. 1995
Soekanto, Soerjono rianMamudji, Sri, Penelitian Hukum Normatif ; Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : PT. Raja Grafindo persada, 1995
Susanti,
Dyah
(.ii:irtorina danEfendi,A'an,
PenelitianHr&ttm
Q-egalResearch),lakarta : Sinar Grafika, ZAl4.
--& Bavu Seto, Aspek Hukum dari Perdagangan Beba.r, Bandung: pT.
Citra Aditya Bakti, 2003
Sutedi, Adrian, Good Corporate Governance,Jakarta :SinarGrafika, 201 l
Usman, Rachmadi. Dimensi Hukum Perseroan Terbatas, Bandung. PT. Alumni, 2004
widjaja, R.ai, Hukunt Perusahaan Perseroanr Terbatas, Bekasi . Megapoin ,2006.
widoatmojo,Sawidii, Pasar Modal Indonesia : Pengantar dan Sndi Kasrs, Bogor :
Ghaiia Indonesia, 2009
woon, walter, company Law,Longman Singapore publisher, pte Ltd, 199g Yasin, Muhammad, Tanya Jawab Hukum pentsahaan, Jakarta: visimedia, zcog.
Yusuf, Adiwijaya dan John W. Head, Course Topics Relating to Law and Economics Activities: A " Map/or Curriculum Developement, Jakarta: Elips Project, 1995.
PERUNDANG.UNDANGAN
Republik Indonesi a, Kitabundang- UndangHukurnperdata.
Republik Indonesia, Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106.
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756);
Republik Indonesia, Undang_Undang Nomor g Tahun l9g5 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 360g);
tentang Pasar Modal Nomor 64, Tambahan
undang-Undang Nonror
2l
rahun 20ll
tentang otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Repubiik lndonesia Tahun 2011 Nomor I11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5253);undang-Undang Nomor
g
rahun 1999 Tentang perrindungan Konsumen 14) undang-undangN.mor g
Tahun rggg rentang perrindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu. 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Repubrik Indonesia Nomor 3g21);Peraturan otoritas Jasa Keuangan Nomor
2l
poJK04/2013 teniang pembelian Kernbali saham yang. Dikeluarkan oleh Emiten atau perusahaan publik dalam Kondisi pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan;Peraturan oJK Nornor I/POJK.0 7/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan;
Peraturan oJK Nomor 32 rpoJK.o4/20r4 tentang Rencana dan penyerenggaraan Rapat Umum pemegang Saham perusahaan Terbuka;
Peraturan oJK Nomor 31 /POJK .04/2015 tentang
Keterbukaan atas Inlormasi atau Fakta Material oleh Emiten atau perusahaan publik;
Surat Edaran oJK Nomor 22/sEoIK 04/2015 tentang Kondisi Lain sebagai Kondisi Pasar yang Berflulcuasi secara Signifikan dalam pelaksanaa n Buyback Saham yang Dikeruarkan oleh Emiten atau perusahaan publik,
Surat Edaran oJK Nomor l/sEoJK.O7l2ol4 tentang pelaksanaan Edukasi dalam Rangka ir{eningkatkan Literasi Keuangan Kepada Konsumen atau
Masyarakar,
Surat Edaran oJK Nornor 2/sEoJK.07l20l4 tenrang pelayanan dan penyelesaian Pengaduar, Konsumen pada pelaku Usaha Jasa
Keuangan.
Keputusan Ketua iladan pengawas pasar Modal
dan
Lembaga Keuangan NomorKEI)- r 05/BL/2010 tentangpembelianKembali
Saham yangDikeluarkan oleh Emiten atau perusahaanpublik;
Keputusan Ketua Badan pengawas pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor KEP- 401/Bl/2008 tentangPembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi pasar yang Berpotensi Krisis;
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor KEp-4g/plwlgg6 Tentang
Pedonran Mengenai Bentuk dan Isi Pernyataan pendaftaran perusahaan Publik
Keputusan Ketua Badan pengawas pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor:
KEP-r22tBLr2oo9 tentang
Tata cara
pendaftaran dalam Rangka Penawaran UmumKeputusan Ketua Badan pengawas pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Nomor KEP- l79tBL/2oos tentang pokok-pokok Arggaran Dasar perseroan yang Melakukan Penawaran umum Efek Bersifat Ekuitas dan perusahaan Publik
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor KEp-60/pN4/1996 tentang Rencana dan pelaksanaan Rapat Umum pemegang Saham
JURNAL DAN ARTII(EL
Aulia' Rahma Mieta, stock Repurchase, Depok: Fakultas Ekonomi universitas
Indonesia, 2009
Danti Kristanti Natatia, Perlindungan Httktnrt \'erhadap penroelal Akbat prohik Manipurasi pasar
pada
Transaksi EfekDi
Bursa Efek,Marang :Universitas Brawijaya, 20 I 5.
Desy Arista
&
Astohar, Anarisis Fahor-
r,.aktor yang Mempengaruhi Returnsahant(Kasus pada perusahaan Manufahur yang Go pubric
di
BEI periode tdhun 20as-
2009, Jurnar Ilmu Manajemen dan AkuntansiTerapan, Vol 3 Nomor 1, Mei 2OlZ.
Husein, Dzakky, I.in1*uan yuridis pemberian Kembari (Buyback) saham ysng
dikeluarkan oleh Emiten dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secarct signrfikan- studi Kasus pT. MNC InvestamaTbk Diponegoro Law Review, Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016.
Hutchinson, Terry danDuncarq Nigel, Defining and Describing what rye
Do
: Doctrinar Legar Research, Deakin Law Review, volume l7 No.r,
zol2.Kurniawan
' Tanggung Jowab Pemegang saham Perseroan Terbatos Merrurut Hukum Positrf, Mimbar Hukum, yol. Z6Nomor l, Februari
2Ol4
Mufidah' Ana, Buybrtck sahqrn sebagai sebuah Alternarif Kebijakan,program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Jember -Jurnal Ekonomi AM Vol.
)il
No. 1/2013Nusantara, Agung, Selamatlmn Sefuor Riil Indonesia dalam Dinamila Keuurgan dan Perbankan,Pebruari200g, Hal. 39
-
46. Vol. 1 No. I.Rusbandi,Natasya&Heykal,Mohamad, pengaruh Buyback Saham
pr.
TelkamTerhadap Dividen Periode 2A05
-
2008, Falatltas Ekonomi dan Bisnis, Universitas B ina Nusantara.Shirazi,Javad K., The east Asian Crisis Financial Sector Restructuring : Progress &
Shirazi,Javad K., The east Asian Crisis Financial Sector Restructuring : Progress &