BAB II TANGGUNG JAWAB NEGARA TERHADAP
B. Tanggung Jawab Negara atas Perlindungan Warga Negara di Medan Perang
1. Perlindungan terhadap Warga Sipil dalam Perang menurut Hukum
Perlindungan terhadap korban perang untuk pertama kalinya dituangkan dalam bentuk Konvensi pada tahun 1864, dalam Konvensi Jenewa 1864.
Konvensi ini menegaskan bahwa:60
1. Rumah sakit, tenaga medis, ambulans, dan personil-personil lainnya yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan harus dilindungi dan diakui sebagai pihak netral dalam suatu konflik bersenjata;
2. Warga sipil atau penduduk yang membantu orang-orang yang terluka harus dilindungi;
3. Kombatan yang terluka dan sakit harus dikumpulkan dan dirawat oleh pihak-pihak yang bersengketa;
4. Lambang palang merah dengan latar putih berfungsi sebagai lambing perlindungan untuk mengenali personil, perlengkapan, dan fasilitas kesehatan.
Konvensi Jenewa dengan jelas memberikan perlindungan secara menyeluruh kepada mereka yang terlibat langsung dengan perang atau disebut juga dengan korban perang (victim of war). Mereka yang dimaksud
59Pasal 50 AP I.
60Andika Esra, “Perlindungan terhadap Korban Perang dalam Perspektif Konvensi-Konvensi Internasional tentang Hukum Humaniter dan HAM”, Lex Crimen Vol. V Nomor 7, September 2016, hlm. 143.
adalah para kombatan maupun hors de combat atau kombatan yang berhenti bertempur, para tawanan perang, tenaga medis, dan warga sipil/penduduk.
Berikut adalah Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahannya:61
1. Konvensi Jenewa I tahun 1949 tentang Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Bersenjata yang Terluka dan sakit di Medan Pertempuran Darat (Geneva Convention for the Amelioration of the Condition of the Wounded and Sick in Armed Forces in the Field of 12 August 1949)
2. Konvensi Jenewa II 1949 tentang Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Bersenjata yang Terluka, Sakit, dan karam di Medan Pertempuran Laut (Geneva Convention for the Amelioration of the Condition of the Wounded, Sick, and Shipwrecked Members of Armed Forces at Sea of 12 August 1949)
3. Konvensi Jenewa III 1949 tentang Perlakuan terhadap Tawanan Perang (Geneva Convention Relative to the Treatment of Prisoners of War of 12 August 1949)
4. Konvensi Jenewa IV 1949 tentang Perlindungan Warga Sipil di Waktu Perang (Geneva Convention Relative to the Protection of Civilian Persons in Time of War of 12 August 1949)
5. Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Korban Perang pada Konflik Bersenjata Internasional (Protocol Additional to the Geneva Conventions of 12 August 1949, and
Relating to the Protection of Victims of International Armed Conflicts (Protocol I), of 8 June 1977)
6. Protokol Tambahan II Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Korban Perang pada Konflik Bersenjata Non-Internasional (Protocol Additional to the Geneva Conventions of 12 August 1949, and Relating to the Protection of Victims of Non-International Armed Conflicts (Protocol II), of 8 June 1977)
Perlindungan terhadap penduduk sipil telah diatur dalam GC IV, dan menurut konvensi ini perlindungan tersebut meliputi perlindungan umum (general protection) yang diatur dalam Bagian II. Sedangkan berdasarkan Protokol Tambahan perlindungan tersebut diatur dalam Bagian IV tentang penduduk sipil, dan meliputi perlindungan umum (general protection against the effect of hostilities), bantuan terhadap penduduk sipil (relief in favour of the civilian population), serta perlakuan orang-orang yang berada dalam salah satu kekuasaan pihak yang bersengketa (treatment of persons in the power of a party to a conflict), termasuk di dalamnya adalah perlindungan terhadap para pengungsi, orang yang tidak memiliki kewarganegaraan (stateless), anak-anak, wanita dan wartawan atau jurnalis.62
a. Perlindungan Umum
Perlindungan umum yang diberikan kepada penduduk sipil tidak boleh dilakukan secara diskriminatif. Dalam segala keadaan, penduduk sipil berhak atas penghormatan pribadi, hak kekeluargaan, kekayaan dan praktik ajaran
62Arlina Permanasari, Op.cit., hlm.170.
agamanya. Terhadap mereka tidak boleh dilakukan tindakan-tindakan sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 27-34, yaitu:
1. Melakukan pemaksaan jasmani maupun rohani untuk memperoleh keterangan;
2. Melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan jasmani;
3. Menjatuhkan hukuman kolektif;
4. Melakukan intimidasi, terorisme dan perampokan;
5. Melakukan pembalasan (reprisal);
6. Menjadikan mereka sebagai sandera;
7. Melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan jasmani atau permusuhan terhadap orang yang dilindungi.
Konvensi Jenewa juga mengatur mengenai pembentukan kawasan-kawasan rumah sakit dan daerah-daerah keselamatan (safety zones) dengan persetujuan bersama antara pihak-pihak yang bersangkutan.63 Pembentukan kawasan ini terutama ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada orang-orang sipil yang rentan terhadap akibat perang, yaitu orang yang luka dan sakit, lemah, perempuan hamil atau menyusui, perempuan yang memiliki anak-anak balita, orang lanjut usia dan anak-anak. Daerah keselamatan ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:64
1. Daerah-daerah kesehatan hanya boleh meliputi sebagian kecil dari wilayah yang diperintah oleh negara yang mengadakannya.
63Pasal 4 GC IV.
2. Daerah-daerah itu harus berpenduduk relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kemungkinan-kemungkinan akomodasi yang terdapat di situ.
3. Daerah-daerah itu harus jauh letaknya dan tidak ada hubungannya dengan segala macam objek-objek militer atau bangunan-bangunan industri dan administrasi yang besar.
4. Daerah-daerah seperti itu tidak boleh ditempatkan di wilayah-wilayah yang menurut perkiraan dapat dijadikan area untuk melakukan peperangan.
Di antara penduduk sipil yang harus dilindungi terdapat beberapa kelompok orang-orang sipil yang perlu dilindungi seperti:65
1. Orang asing di wilayah pendudukan
Pada saat perang terjadi antara negara yang warga negaranya berdiam di dalam wilayah negara musuh, maka orang asing ini merupakan warga negara musuh. Meskipun demikian, mereka tetap mendapatkan penghormatan dan perlindungan di negara di mana mereka berdiam.
Berdasarkan Pasal 35 GC IV, mereka harus diberi ijin untuk meninggalkan negara tersebut. Jika permohonan mereka ditolak, mereka berhak meminta agar penolakan tersebut dipertimbangkan kembali.
Permintaan tersebut ditujukan kepada pengadilan atau badan administrasi yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas itu.
Hukum yang berlaku bagi mereka harus sesuai dengan undang-undang yang berlaku di masa damai (hukum tentang orang asing). Perlindungan
65Arlina Permanasari, Op.cit., hlm. 172.
minimum atas hak asasi manusia mereka harus dijamin. Oleh karena itu mereka harus dimungkinkan untuk tetap menerima pembayaran atas pekerjaannya, menerima bantuan, perawatan kesehatan, dan sebagainya.
Sebaliknya, negara penahan juga diperbolehkan mengambil tindakan yang perlu seperti membuat laporan regular ke kantor polisi, atau menentukan tempat tinggal tertentu jika keadaan keamanan yang mendesak mengharuskan orang-orang asing ini untuk berpindah tempat tinggal.66 Mereka juga dapat dipindahkan ke negara asal mereka kapan saja dan apabila masih ada, mereka harus dipulangkan pada saat terakhir setelah berakhirnya permusuhan. Mereka dapat diserahkan melalui negara ketiga. Harus pula terdapat jaminan bahwa mereka tidak akan diajukan ke pengadilan karena keyakinan politik atau agama yang mereka anut.
2. Orang yang tinggal di wilayah pendudukan
Dalam wilayah pendudukan, penduduk sipil sepenuhnya harus dilindungi. Penguasa Pendudukan (occupying power) tidak boleh mengubah hukum yang berlaku di wilayah tersebut. Dengan kata lain, hukum yang berlaku di wilayah tersebut adalah hukum dari negara yang diduduki. Oleh karena itu perundang-undangan nasional dari negara yang diduduki masih berlaku (secara de jure), walaupun yang berkuasa atas wilayah pendudukan adalah Penguasa Pendudukan (secara de facto).
Sejalan dengan hal ini, maka Pemerintah Daerah di wilayah yang
diduduki, termasuk pengadilannya, harus diperbolehkan untuk melanjutkan aktivitas-aktivitas mereka seperti sedia kala.
Orang-orang sipil di wilayah ini harus dihormati hak-hak asasinya.
Penguasa Pendudukan bertanggung jawab untuk memelihara dinas-dinas kesehatan, rumah sakit dan bangunan-bangunan lainnya. Perhimpunan Palang Merah atau Bulan Sabit Merah Nasional harus tetap diperbolehkan untuk melanjutkan tugas-tugasnya. Penguasa Pendudukan juga harus memperhatikan kesejahteraan anak-anak serta menjamin kebutuhan makanan dan kesehatan penduduk, dan apabila Penguasa Pendudukan tidak mampu melakukan hal tersebut, maka mereka harus mengijinkan adanya bantuan yang datang dari luar negeri, sesuai dengan Pasal 59-61, dan sebagainya.
Sebaliknya, berdasarkan Pasal 64 Penguasa Pendudukan dapat membentuk peraturan perundang-undangan sendiri. Selain itu Penguasa Pendudukan juga dapat membentuk pengadilan militer yang bersifat non-politis. Namun adanya pembentukan tersebut tidak boleh melepaskan kewajiban Penguasa Pendudukan dalam melaksanakan kewajibannya untuk memelihara keamanan dan ketertiban, serta menjaga segala infra stuktur di daerah tersebut agar tetap dapat berfungsi sebagaimana sedia kala.
3. Interniran sipil
Penduduk sipil yang dilindungi dapat diinternir. Ketentuan tentang perlakuan orang-orang yang diinternir diatur dalam Pasal 79-135 GC IV.
Menurut Mochtar Kusumaatmadja, tindakan perampasan kebebasan dapat dilakukan apabila terdapat alasan keamanan yang riil dan mendesak. Tindakan untuk menginternir penduduk sipil pada hakikatnya bukan merupakan suatu hukuman, namun merupakan tindakan pencegahan administratif.67 Oleh karena itu, walaupun penduduk sipi diinternir, tetapi mereka tetap memiliki kedudukan dan kemampuan sipil mereka dan dapat melaksanakan hak-hak sipil mereka.
Orang-orang sipil yang dapat diinternir adalah:68
1. Penduduk sipil musuh dalam wilayah pihak yang bersengketa yang perlu diawasi dengan ketat demi kepentingan keamanan.
2. Penduduk sipil musuh dalam wilayah pihak yang bersengketa yang dengan sukarela menghendaki untuk diinternir, atau karena keadaan menyebabkan ia diinternir.
3. Penduduk sipil musuh dalam wilayah yang diduduki, apabila Penguasa Pendudukan menghendaki mereka perlu diinternir karena alasan mendesak.
4. Penduduk sipil yang telah melakukan pelanggaran hukum yang secara khusus bertujuan untuk merugikan Penguasa Pendudukan.
Selanjutnya, para interniran sipil ini tidak boleh ditempatkan di dalam daerah-daerah yang sangat terancam bahaya perang. Bila kepentingan militer memerlukan, tempat interniran ini harus ditandai dengan huruf
“IC” (TI = Tempat Interniran; IC = Internment Camps), atau sistem
67Mochtar Kusumaatmadja, Op.cit., hlm. 104.
penandaan lainnya yang disepakati. Pengurusan para interniran, harus dilakukan oleh Negara Penahan, termasuk meliputi layaknya tempat interniran, makanan dan pakaian, kebersihan dan pengamatan kesehatan, serta kegiatan-kegiatan keagamaan. Setiap tempat interniran, harus ditempatkan di bawah kekuasaan seorang perwira yang bertanggung jawab, yang dipilih dari anggota angkatan bersenjata tetap atau pemerintahan sipil biasa dari Negara Penahan.
Para interniran sipil, walaupun dilindungi sepenuhnya oleh Konvensi Jenewa, tetap dapat dijatuhi sanksi pidana dan sanksi disipliner. Asal penjatuhan sanksi-sanksi tersebut harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di daerah yang diinternir tersebut.
Segera setelah permusuhan berakhir, interniran sipil harus dipulangkan kembali ke negara asal mereka. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk melakukan tindakan-tindakan serupa selama berlangsungnya permusuhan antara para pihak yang bersengketa.
b. Perlindungan Khusus
Di samping perlindungan umum yang diberikan kepada penduduk sipil dalam sengketa bersenjata, terdapat pula sekelompok penduduk sipil tertentu yang dapat menikmati perlindungan khusus. Mereka umumnya adalah penduduk sipil yang tergabung dalam suatu organisasi sosial yang melaksanakan tugas-tugas yang bersifat sosial untuk membantu penduduk sipil lainnya pada waktu sengketa bersenjata. Mereka adalah penduduk sipil
yang menjadi anggota Perhimpunan Palang Merah Nasional dan anggota Perhimpunan Penolong Sukarela lainnya, termasuk anggota Pertahanan Sipil.
Pada saat melaksanakan tugas-tugas yang bersifat sosial, biasanya mereka dilengkapi dengan sejumlah fasilitas, contohnya transportasi dan bangunan khusus, maupun lambing-lambang khusus. Apabila sedang melaksanakan tugasnya, mereka harus dihormati (respected) dan dilindungi (protected).
Dihormati berarti mereka harus dibiarkan untuk melaksanakan tugas-tugas sosial mereka pada waktu sengketa bersenjata, sedangkan dilindungi berarti mereka tidak boleh dijadikan sasaran serangan militer.
C. Tanggung Jawab Negara terhadap Jurnalis di Medan Perang menurut