• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permainan Kecil: Bagaimana Prinsip Pengembangannya?

Dalam dokumen PERMAINAN KECIL TEORI DAN APLIKASI (Halaman 93-115)

Untuk mengatur prinsip-prinsip desain permainan

pendidikan, banyak penulis telah menggunakan perspektif yang holistik. Ini berarti bahwa prinsip-prinsip desain harus dilihat dalam konteks koherensi lingkungan fisik dan sosial masyarakat. Prinsip-prinsip desain yang berhubungan dengan dunia di mana

permainan ini akan dilaksanakan. Hal ini berarti

mengintegrasikan pemikiran, perasaan, pemahaman, berperilaku, kebudayaan, dan konteks dari traiblazer permainan. Yang paling penting dalam mengembangkan prinsip-prinsip desain untuk permainan pendidikan adalah bahwa permainan yang baik melibatkan siswa dan guru, dan interaksi antara bermain permainan, siswa dan guru menciptakan beberapa peluang

pembelajaran yang dinamis dan berkelanjutan (Bjoerner & Hansen, 2011:279).

1. Menjaga unsur kenyamanan dan keselamatan anak

Unsur kenyamanan dalam keselamatan bagi anak sebagai pertimbangan mutlak bagi guru/ fasilitator dalam tahap penyusunan permainan kecil. Pada saat bergerak atau bermain anak harus dalam situasi dan kondisi yang tidak membahayakan dirinya untuk mengoptimalisasi kegiatan fisik anak. Intensitas gerak yang dominan dan tinggi, maka potensi terjadinya cidera pun relatif tinggi jika tidak dilakukan persiapan terhadap lingkungan (sarana dan prasarana permainan) dan kondisi fisik anak (warming-up).

Gambar 3.2

Contoh permukaan lapangan yang aman dan nyaman untuk melaksanakan kegiatan permainan kecil

Prasarana (lapangan) yang dipilih untuk melaksanakan permainan kecil, sebaiknya dicarikan lapangan dengan

Fo to _J us uf B le g u r_U K A W _2 0 1 4

permukaan yang relatif aman, misalnya di atas tanah yang berumput. Sebaliknya tidak melaksanakan permaianan ini permukaan yang keras dan kasar misalnya di aspal, dipermukaan berkerikil, atau di lantai berkeramik yang licin. Selain prasarana, sarana untuk kegiatan permainan, hendaknya dipilih yang tidak membahayakan anak. Misalkan dalam permainan pelempar jitu versi 3 media lembing yang digunakan tidak seideal lembing yang diperlombakan dalam olahraga lempar lembing (besi) ataupun lembing yang digunakan dalam kebudayaan pasola (kayu). Jika lembing yang digunakan demikian (besi atau kayu) sudah tentu anak- anak akan mengalami cidera yang serius. Untuk itu, guru/ fasilitator harus dapat memodifikasi lembing yang terbuat dari bahan plastik atau karet yang tidak membahayakan anak. Model implementasi permainan pun (peraturannya) perlu digaris bawahi secara baik selain sarana dan prasarana pendukung kegiatan motorik anak. Misalnya dalam peraturan permainan hitam-hijau jika regu yang namanya disebutkan, maka harus berlari lurus sesuai dengan lintasan yang disiapkan, namun jika anak berlari sesuai keinginannya (random), maka potensi cidera sangat tinggi. Karena jika

demikian, secara spontanitas anak berlari secara random dan

saling berbenturan atau bertabrakan satu dengan yang lainnya karena masing-masing anak berusaha menghindari tangkapan dari regu lawan.

2. Sesuai karakteristik anak

Pada saat mendesain dan mengembangankan

permainan, guru/ fasilitator harus secara baik memperhatikan dan mempertimbangkan karakteristik anak. Karakteristik anak mempengaruhi tingkat paritisipasinya dalam permainan

serta meminimalisir cidera otot pada anak. Karakterikstik anak dalam suatu komunitas sangat bervariatif antara satu dengan yang lainnya, ada anak yang secara fisik prima, ada juga yang tidak, ada yang memiliki masalah pada kesehatan dan ada juga yang normal, dsb. Anak akan optimal, jika permainan yang dilaksanakan sesuai atau berada dalam kesanggupan anak untuk melaksanakan.

Gambar 3.3

Karakteristik anak dari Lang dan Evans (Musfah, 2011:34) Baik kondisi fisik, gaya belajar, modal belajar, kesehatan, kebudayaan, agama, jenis kelamin, dan usia antara setiap anak sangat beragam atau bervariasi (lihat gambar 3.3).

Gaya belajar Modal belajar Pengaruh keluarga Pengaruh agama Kese- hatan Pengaruh budaya Status ekonomi Pilihan seksual Jenis kelamin Ras Kema- mpuan Pengaruh Usia Asal geografis Pengaruh lainnya Karakterisitik anak

Dari kebergaman ini, guru/ fasilitator harus dapat mendesain permainan yang mampu mengekualisasi keberagaman tersebut sehingga mendorong anak-anak untuk terlibat aktif

dalam pengembangan potensinya. Misalnya guru

mendapatkan kelompok belajar yang anak-anaknya memiliki masalah kesehatan (asma, jantung, paru, dsb.), maka kegiatan bermain harus diperhatikan aktivitas geraknya yang tidak terlalu aktif dan berlangsung lama agar tidak menimbulkan masalah berlebihan pada saat anak bermain.

Hal lainnya yang sangat menjadi permasalahan dalam kegiatan bermain adalah perbedaan jenis kelamin/ gender. Masalah ini tidak begitu nampak pada saat anak dalam usia dini. Pada usia ini, anak-anak lebih cenderung pada eksplorasi keadaannya untuk kegiatan bermain, namun ketika memasuki usia remaja atau dewasa anak-anak lebih enggan dengan lawan jenisnya (sensitif dan protektif). Untuk itu, guru/ fasilitator dapat mengelompokkan kegiatan permainan berdasarkan karakteristik jenis kelamin anak sehingga kegiatan bermain lebih luwes dan dinamis.

3. Pemberdayaan kebudayaan secara optimal

Salah satu prinsip yang dituangkan dalam

pengembangan permainan kecil adalah permberdayaan kebudayan secara optimal. Pada pembahasan sebelumnya (lihat bab 1) intervensi kebudayaan sangat penting dalam menunjang olahraga prestasi (secara konvensional maupun moderen), meskipun tidak digeneralisasi, namun minimal

telah memberikan pengenalan gerak sesuai dengan

kecabangan yang menjadi dominasi kegiatan motorik anak. Guru/ fasilitator hendaknya mengakomodir kebudayaan setempat dalam bentuk permainan yang dimodifikasi untuk

kepentingan pembelajarannya. Selain merujuk pada kentalnya kegiatan fisik anak, namun hal penting lainnya adalah dengan menjaga dan mempertahankan warisan kebudayaan dari derasnya arus globalisasi serta melatih sikap

pluralisme dan mengenalkan kepada anak bahwa

keanekaragaman kebudayaan ini tidak sebagai pemisah atau pembeda malainkan kekayaan yang harus dipertahankan dan dilestarikan untuk menjadikan Indonesia yang utuh dan

bersatu seperti dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Buku ini juga mencoba untuk mencontohkan beberapa permainan dalam nuansa kebudayaan Sumba yang telah dimodifikasi baik medianya maupun peraturan permainannya seperti dalam permainan pelempar jitu versi 3 (pasola). Pada permainan sebenarnya, di mana setiap pemain akan saling beradu kuat, cepat, dan tepat untuk melakukan lemparan (kayu) ke arah lawan di atas tunggangan seekor kuda. Tentu warisan kebudayaan ini harus dipertahankan karena tersirat nilai antropologis dan sosiologis yang tinggi serta dapat digunakan untuk kepentingan ekonomis.

4. Mobilisasi kegiatan fisik yang tinggi

Prinsip dan esensitas dalam pertumbuhan dan perkembangan anak adalah dengan adanya keterlibatan unsur fisik atau gerak. Kegiatan bermain apapun jenisnya, sudah tentu membutuhkan kegiatan fisik, baik itu sifat kegiatannya rendah (permainan bridge atau sapu tangan gembira), menengah (permainan tarik tambang atau tom and jerry),

sampai pada yang tinggi (permainan benteng atau fast and

furious). Meskipun adanya gradual dalam kegiatan fisiknya, seyogianya pada saat berpartisipasi dalam permainan, intensitas fisiknya harus optimal untuk mendukung

pertumbuhan perkembangan motorik dan pemantapan kebugaran jasmani anak.

Untuk meningkatkan kegiatan fisik anak dapat

dilakukan dengan berbagai cara, misalnya model

permainannya di desain dengan menitikberatkan pada gerak manipulatif anak, menggunakan peraturan permainan yang dinamis, atau menggunakan waktu permainan yang relatif

lama. Dicontohkan dalam permainan “tom and jerry versi 3”,

untuk mendapatkan pertolongan (hinggap) dapat dilakukan jika telah melewati barisan enam atau tujuh, sehingga anak lebih tinggi dalam melakukan kegiatan fisiknya (berlari).

Selain itu, dalam permainan “fast and furious” anak

melakukan gerakan fisik yang tinggi dengan berlari

membawa bola secara zig-zag dan melakukan sprint dapat

diperpanjang waktu permainannya untuk kepentingan melatih motor educability dan kebugaran jasmani anak.

5. Peraturan yang praktis, dinamis, dan bermakna

Salah satu karakteristik permainan kecil adalah peraturan permainan yang tidak kaku, monoton, dan mutlak. Artinya, peraturan permainan seyogianya dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan yang lebih menekankan pada perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak. Keluwesan dalam peraturan permainan dibutuhkan untuk tetap menjaga dan meminimalisir berbagai kemungkinan melunturkan semangat kegembiraan anak. Selama peraturan yang digunakan fasilitator terlalu mengikat dan anak tidak mendapatkan kegembiraan, maka peraturan tersebut dapat dimodifikasi kembali karena seyogianya peraturan digunakan bukan untuk menjustifikasi anak, melainkan hanya sebagai pengontrol sehingga permainan menjadi terarah.

Sebagai contoh dalam permainan sapu tangan gembira (lihat bab 5) menggunakan peraturan yang sangat praktis, di mana anak akan melakukan kegiatan gembira (tertawa, bernyanyi, berteriak, berlompat, dsb.) selama sapu tangan beterbangan di udara sebelum menyentuh tanah dan jika telah menyentuh tanah anak diam serta tidak melakukan kegiatan sekecil apapun. Peraturan yang dinamis, misalnya dalam permainan tidak boleh tiga, jika populasinya sangat besar (tidak boleh empat, dst.) atau jika populasinya kecil (tidak boleh dua). Terakhir adalah unsur bermakna dalam permainan (apapun jenis permainannya) misalnya dengan mendiskualifikasi hasil permainan, jika regu yang menang tidak sportif atau berbuat curang, sehingga anggota regu

harus menemukan makna bahwa untuk mencapai

kemenangan atau prestasi harus melalui cara-cara yang bermartabat sebagai anak bangsa yang berkarakter.

6. Media pendukung yang mudah dijangkau

Permainan dalam pembahasan lanjutan (lihat bab 4 dan 5) dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu permainan tidak menggunakan media dan permainan menggunakan media. Media yang adalah perabot kelengkapan permainan tidak saja sebagai model figuarif yang ada dalam kegiatan bermain

anak-anak melainkan adanya unsur “magis” yang mampu

menghipnotis anak-anak untuk berpartisipasi. Jika dijumpai pada anak-anak bayi, lebih aktif dan reaktif untuk melaksanakan permainan jika mata atau konsentrasinya tertuju pada media yang digunakan fasilitator sebagai stimulus dalam lingkungan bermainnya.

Pada saat menyusun permainan menggunakan media, guru hendaknya mempertimbangkan kemampuan dan

kemudahan anak untuk mendapatkannya. Karena tidak semua media ideal dapat dijangkau oleh guru/ fasilitator maupun anak dalam melaksanakan permainannya. Selain terkendala oleh masalah pembiayaan, namun juga untuk pertimbangan

keselamatan anak-anak. Misalnya dalam permainan

“pelempar jitu versi 1” guru dapat menggunakan gardus

untuk dijadikan sebagai sasaran bagi anak untuk melakukan lemparan. Gardus yang sering dijumpai anak-anak di lingkungan sekitar, tidak membutuhkan nilai ekonomis yang tinggi untuk menjangkaunya serta aman bagi anak dalam melakukan lemparan (berlangsungnya permainan). Contoh lainnya adalah dengan menggunakan akar, jika tali nilon dengan ukuran tertentu yang digunakan sebagai media dalam permainan tarik tambang sulit dijangkau (sekolah pedesaan).

E. Periode Perkembangan Gerak Pada Manusia

Gerak memegang peran vital dalam kehidupan manusia. Gerak merupakan keniscayaan dan tergolong kebutuhan dasar seperti halnya makan dan minum. Karena dengan bergerak atau gerakan manusia mampu bertahan hidup dan melalui gerak itulah manusia mencapai perkembangan secara keseluruhan baik fisik, intelektual, mental, sosial, dan emosional (Lutan, dkk., 1991:33; Magill, 2001:3; Nurhasan, dkk., 2005:1; Giriwijoyo & Sidik,

2012:18). Perkembangan gerak merupakan perubahan

berkelanjutan perilaku gerak yang dibawa oleh interaksi antara lingkungan pendukung dan kegiatannya dan dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kondisi individual dalam suatu siklus kehidupan manusia seperti berjalan, melompat, melempar, memanjat, dan menggantung (Williams, 1960:145; Soetjipto, 2010:1). Siklus kehidupan yang dijalani oleh manusia dapat berupa kegiatan-

kegiatan gerak, misalnya berjalan, bermain, bekerja, dsb untuk memperkaya tingkatan gerak sesuai dengan perkembangan periode usia yang dimiliki manusia. Perkembangan gerak manusia

memiliki ciri khas tersendiri di setiap mulai dari periode prenatal

sampai old. Selain dipengaruhi oleh perkembangan usia,

kebutuhan gizi, herediter, dan gerak juga dipengaruhi oleh lingkungan di mana individu itu berada.

Sebagai guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (Penjasorkes) yang sebagian besar ruang lingkup materinya berkaitan dengan gerak, maka harus mengetahui dan memahami perkembangan gerak individu di setiap periode untuk mendapatkan hasil belajar gerak yang maksimal dan bermanfaat. Jika guru memiliki pengetahuan dan pemahaman yang minim tentang perkembangan gerak pada manusia, maka guru pun cenderung untuk melaksanakan praktik pembelajaran yang kurang tepat sehingga berimplikasi pada hasil belajar gerak siswa.

Rahyubi (2012:219-222) dalam bukunya yang berjudul: “Teori-

teori belajar dan aplikasi pembelajaran motorik: deskripsi dan

tinjauan kritis.” telah mendeskripsikan periode perkembangan

gerak pada manusia, mulai dari periode sebelum lahir sampai dengan periode tua. Adapun rincian periode perkembangan gerak pada manusia sebagai berikut:

1. Periode sebelum lahir (prenatal)

Periode sebelum lahir (parental) adalah periode perkembangan selama masih dalam kandungan. Lama kandungan normal adalah sembilan bulan sepuluh hari dan selama dalam kandungan, fetus atau janin mengalami pertumbuhan dengan cepat. Secara umum, perkembangan perilaku janin manusia sebelum lahir dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Perkembangan berlangsung cepat, meningkat, dan berkesinambungan dan variasi kecepatan berbeda antara antara satu individu dengan inidividu lainnya.

b. Perkembangan perilaku meningkat dari kondisi respons

yang lemah, menyebar, dan tidak terorganisir ke arah respons yang kuat, terarah, dan terorganisir.

c. Perkembangan mengikuti arah capalokaudal atau dari

bagian kepala ke arah kaki (atas ke bawah).

d. Perkembangan fungsi-fungsi utama untuk hidup

mengalami proses yang panjang dan berkesinambungan, serta kesempurnaan fungsi tercapai menjelang saat proses kelahiran.

e. Perkembangan terjadi mulai dari perototan besar dan

diikuti perototan halus.

f. Perkembangan gerak anggota badan terjadi dengan

mengikuti arah dari bagian tengah ke bagian jauh (proksimodistal).

Masa sebelum kelahiran dibagi menjadi tiga periode, yaitu ovum, embrio, dan janin. Periode ovum berakhir dalam dua minggu dan tetap merupakan bagian-bagian sel yang sangat banyak. Setelah sperma dan sel telur bertemu, kromosom pecah menjadi dua sel, sel-sel itu terbagi lagi menjadi empat dan terbagi lagi menjadi delapan dan seterusnya. Ovum dekat uterus kira-kira pada minggu kedua dan selama hampir delapan minggu, itu yang dinamakan embrio. Masa embrio adalah salah satu perbedaan sel di mana banyak yang tersusun pada sel yang dibentuk selama masa ovum menjalani perubahan penting (kritis), juga struktur yang dapat dikenali seperti pada kepala, tungkai, lengan, jari- jari tangan, jari-jari kaki, otak, tulang belakang, jantung,

paru-paru, dan organ vital lain beserta sistem-sistemnya. Jantung dalam embrio menjadi aktif kira-kira minggu ketiga, tetapi sebenarnya adalah gerak otot hingga minggu ke delapan setelah pembuahan dan tanda-tanda itu dimulai pada masa janin, masa itu berakhir hingga bayi.

2. Periode bayi (infant)

Periode bayi adalah periode perkembangan pada saat dilahirkan sampai pada berusia satu sampai dengan dua

tahun. Perkembangan bayi merupakan kelanjutan

perkembangan yang terjadi dari janin di dalam kandungan saat menjelang proses kelahiran. Dalam kandungan, semua organ tubuh telah terbentuk dan terwujud sebagai manusia kecil dan siap untuk dilahirkan ke dunia. Setelah lahir, pertumbuhan berlanjut cepat sampai pada usia dua tahun. Pada waktu lahir, sampai dengan usia 18 bulan setelah itu, kepala berukuran relatif besar dibandingkan dengan anggota tubuh lainnya. Perkembangan gerak mengikuti pola gerakan di mana semakin bertambah usia, maka gerakan menjadi kian sempurna dengan koordinasi gerakan yang memerlukan otot- otot besar hinggga otot-otot halus.

Periode ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral, karena dengan mengutamakan kontak visual dan sentuhan bayi akan berusaha semampunya untuk menggapai dan memasukkan media yang dilihatnya di area permainan ke

dalam mulutnya. Selanjutnya Zellawati (2009:165)

menambahkan bahwa hingga bayi berusia sekitar tiga bulan, permainan mereka terdiri atas melihat orang dan benda serta melakukan usaha acak untuk menggapai benda yang

diacungkan kepadanya. Selanjutnya mereka dapat

untuk mengeksplorasi benda-benda. Bayi mengumpulkan informasi melalui sensori dengan memanipulasi objek dan menunjukkan motor tertentu. Dengan demikian selama tahun pertama anak-anak senang mengeksplorasi diri serta lingkungannya, menstimulasi sensorimotor, bermain secara soliter dan paralel serta meniru.

3. Periode anak-anak (childhood)

Periode anak-anak merupakan periode kritis bagi perkembangan psikomotor, karena banyak kemampuan motorik dasar yang terintegrasi dengan kemampuan yang lebih kompleks lainnya. Pengembangan kemampuan pada anak mempengaruhi kemudahan mencapai kinerja yang dapat diterima pada tugas-tugas motorik yang lebih kompleks selama masa remaja dan dewasa (Gomez dalam Rehbein, 2011:38). Periode anak-anak atau masa kanak-kanak adalah periode perkembangan mulai usia satu tahun sampai dengan dua belas tahun. Periode anak-anak diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: a) periode anak kecil (early childhood) antara usia 1-6 tahun dan b) periode anak besar (latter childhood) antara 6-12 tahun. Pada periode anak kecil, ada peningkatan kualitas penguasaan dan variasi pola gerak yang muncul pada masa bayi. Periode ini disebut juga masa pra sekolah. Selama masa pra sekolah anak mengembangkan berbagai keterampilan fisiknya, misalnya berlari, memanjat, dan melompat.

Pada periode anak besar antara usia 6-12 tahun, aspek yang menonjol adalah perkembangan sosial dan intelegensi. Perkembangan kemampuan fisik yang tampak pada masa anak besar atau anak yang berusia 6-12 tahun, selain muncul kekuatan juga mulai menguasai apa yang disebut fleksibilitas

merupakan hasil kerja otot yang berupa kemampuan untuk mengangkat, menjinjit, menahan, mendorong, atau menarik sebuah beban. Semakin besar penampang lintang otot, akan semakin besar pula kekuatan yang dihasilkan dari kerja otot tersebut, begitu pun sebaliknya. Perkembangan gerak pada anak-anak dapat diketahui dengan melakukan tes atau pengukuran kemampuan berlari, melompat, melempar, dan sebagainya untuk mengenal, proses dan penyimpanan informasi yang diterima dan mengalir masuk dalam akal pikiran. Dengan kata yang lebih sederhana, skemata merupakan cara individu berpikir, menyusun ide dan konsep berdasarkan struktur dan periode perkembangan kognitifnya.

4. Periode remaja (adolescence)

Periode remaja adalah periode dari anak menuju dewasa, antara perempuan dan laki-laki dimulai dan diakhiri pada usia yang berbeda. Pada perempuan mulai usia 10 tahun dan diakhiri pada usia 18 tahun, sedangkan pada laki-laki mulai usia 12 tahun dan diakhiri pada umur 20 tahun. Pada rentang usia tersebut, pembelajaran gerak dasar antara anak laki-laki dan anak perempuan bervariatif dan semakin

meningkat dari periode sebelumnya (childhood).

Kemampuan berjalan dan memegang akan semakin baik, kompleks, dan sempurna, selain itu, pada periode usia ini,

individu cenderung untuk dapat melakukan dan

mengembangkan berbagai macam variasi gerakan.

Perkembangan gerak pada periode remaja terus

berkembang pesat. Seiring dengan meningkatnya

antropometri tubuh dan meningkatnya kemampuan fisik, maka secara langsung meningkatkan kemampuan gerak usia

diidentifikasi dalam bentuk-bentuk sebagai berikut: a) Gerakan dapat dilakukan dengan mekanika tubuh yang semakin efisien; b) Gerakan dapat dilakukan dengan semakin lancar dan terkontrol; c) Gerakan yang dilakukan semakin bervariasi; dan d) Gerakan yang dilakukan semakin bertenaga.

5. Periode dewasa (adult)

Periode ini dimulai sejak usia 20 tahun s.d 40 tahun. Pada periode ini, individu semakin matang dalam perkembangan gerak, bahkan sampai pada tingkatan gerak yang sulit dan rumit dengan dominasi otot halus untuk mendapatkan gerakan yang halus, lentur, dan nilai estetika yang tinggi (misalnya gerak senam ritmik, loncat indah, dsb.). Perkembangan gerak usia dewasa merupakan periode penigkatan yang terhenti. Artinya peningkatan kemapuan fisiknya bukan lagi merupakan peningkatan yang ditunjang oleh pertumbuhan dengan bertambahnya usia melainkan kemampuan fisik yang terjadi secara optimal untuk menampilkan suatu gerakan (golden age).

Ditinjau dari aspek perkembangan fisik, pada usia dewasa kemampuan fisik mencapai puncaknya dan sekaligus mengalami masa penurunan. Beberapa gejala penting dari perkembangan fisik yang terjadi selama usia dewasa, di antaranya kesehatan badan, kemampuan sensorik, dan sensivitas perseptual. Pada periode ini Nurhasan, dkk. (2005:13) mengkategorikan dalam tahap laku gerak spesialisasi (lihat tabel 3.2). Gerak spesialisasi ini mengambil perhatian individu untuk mengulangi perhatian dan latihan tentang spesialiasi gerakannya. Lebih lanjut dicontohkan gerakan pada nomor, sepak takraw, lompat jangkit dan tolak

peluru. Ketiga nomor tersebut menjadi gerak yang dispesialisasikan oleh individu dari sekian nomor lainnya. Gerakan tersebut merupakan kombinasi dari kemampuan dasar yang telah berkembang dan efisiensi jasmani untuk penampilan yang optimal.

Gambar 3.4

Gerakan atraktif dalam olahraga senam ritmik (www.google.com)

Akan tetapi untuk mencapai kemampuan gerak secara matang harus juga dilakukan kegiatan-kegiatan gerak secara masiv, sehingga adanya kebiasaan motorik yang sistematis dalam melakukan gerakan tersebut (misalnya dalam olahraga senam, jika sudah dibiasakan dari usia anak dan remaja, maka akan sangat mudah dilakukan). Hal ini senada dengan pernyataan McClenaghan dan Gallehue (Rehbein, 2011:38) bahwa jika orang dewasa yang belum mencapai kematangan dalam kemampuan motorik dasar akan mengalami kesulitan

dalam mencapai keberhasilan pada kegiatan rekreasi dan kompetitif yang membutuhkan kemampuan koordinasi fisik dan motorik yang tinggi.

6. Periode tua (old)

Pada periode ini terjadi jika individu telah berusia di atas 40 tahun. Fungsi-fungsi tubuh individu mulai mengalami penurunan secara drastis terhadap perkembangan gerak dibandingkan pada periode sebelumnya (usia dewasa). Kemampuan mengangkat sisa-sisa produksi dalam tubuh juga mengalami penurunan. Integritas sistem syaraf yang merupakan unsur vital dalam koordinasi respon muscular juga menurun dan berakibat menurunnya kemampuan koordinasi gerakan. Kecepatan reaksi yang meliputi kecepatan merespon terhadap rangsangan, waktu reaksi dan waktu gerak mengalami penurunan, demikian pula persepsi kinestetik yang merupakan rasa gerak untuk mengetahui posisi tubuh dalam gerak juga mengalami penurunan.

Selain penuruan kemampuan fungsi fisiologis dan neurologis, terjadi pula penurunan berbagai kemampuan lain,

seperti: a) Penyesuaian diri terhadap proses recorvery

terhadap kegiatan tertentu (bekerja atau belatih); b) Fleksibilitas persendian; c) Kontrol tubuh, d) Elastisitas otot; e) Sensitivitas auditorialis (pendengaran); f) Sensitivitas visualistik (penglihatan); dan g) Daya ingatan. Bertambahnya usia orang dewasa juga mempengaruhi sistem pernapasan yang mulai berkurang dalam kapasitas vital, volume maksimal, kapasitas maksimal pernapasan dan pengambilan oksigen secara maksimal bekerja. Perubahan-perubahan yang

Dalam dokumen PERMAINAN KECIL TEORI DAN APLIKASI (Halaman 93-115)

Dokumen terkait